Menekuni Dharma, Welas Asih, Toleransi, dan Ketekunan untuk Mencapai Tekad Buddha
Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Sabah - Malaysia, 19 Januari 2015
Menekuni Dharma harus penuh sukacita, harus belajar saling pengertian, baru bisa semakin baik. Tidak boleh membiarkan diri sendiri sombong dan angkuh, setiap orang memiliki kemampuan, hanya saja tidak menyadari kemampuan mereka. Meremehkan orang lain akan memutuskan hubungan jodoh diri sendiri. Banyak orang di luar negeri tidak memiliki siapa pun untuk membantu mereka, menghabiskan hari-hari mereka di rumah memasak dan mengurus rumah tangga. Namun setelah menekuni ajaran Xin Ling Fa Men, mereka menemukan begitu banyak sesama teman se-Dharma yang saling membantu, bukankah ini adalah hubungan baik dengan sesama? Dengan adanya hubungan baik akan menghasilkan sumber daya finansial, dan sumber daya finansial menghasilkan reuni keluarga. Bagaimana hubungan baik itu berasal? Hubungan yang baik bergantung pada jodoh baik. Bagaimana jodoh baik berasal? Kita harus menjalin jodoh baik secara luas.
Hanya dengan menjaga kemurnian spiritual, baru bisa menerima lebih banyak konsep ajaran Buddha Dharma. Ada seorang pejabat yang selalu tidak menyukai atasannya, tetapi di mulutnya ia selalu menunjukkan sikap hormat, tak seorang pun tahu apa yang dipikirkannya. Suatu hari, atasannya sakit, dan ia pergi menjenguknya. Atasannya berbaring di atas ranjang rumah sakit, baru menyadari betapa singkatnya hidup ini. Ia mendesah sedih, “Kita berdua sudah tua, dan saya sering sakit. Siapa di antara kita yang akan meninggalkan dunia ini lebih dulu?” Pejabat itu berkata dengan rendah hati dan penuh hormat, “Tentu saja Anda.” Menekuni Dharma harus memperlakukan orang lain dengan tulus, luar dan dalam harus selaras. Yang palsu pada akhirnya akan terbongkar. Jika ingin mendapatkan lebih banyak dari karakter yang penuh kepalsuan, dan ketika dunia batinmu tanpa sadar terungkap, maka akan membuatmu kalah total. Yang palsu selamanya tetap palsu. Antara suami-istri harus ada ketulusan, demikian juga dengan anak-anak harus tulus. Kepalsuan hanya akan mendatangkan kepalsuan, sedangkan hanya ketulusan yang dapat mendatangkan ketulusan. Banyak orang membawa sedikit uang tetapi ingin membeli tas bermerek asli, mungkinkah bisa didapat? Yang bisa dibeli hanyalah yang palsu, dan ketika dipakai di pundak, tidak lama kemudian akan cepat rusak. Ketulusan mendatangkan ketulusan, sementara kemunafikan mendatangkan kemunafikan. Harus bersikap tulus dan jujur; perasaan palsu dan kemunafikan tidak ada gunanya. Praktisi Buddhis yang ingin naik ke Surga dan menjadi Bodhisattva, tanpa ketulusan, Bodhisattva tidak akan menemui kalian.
Orang yang sering memaafkan diri sendiri tidak akan mendapat pengampunan Bodhisattva. Jika sering mengalami suatu kejadian kecil dan merasa, “Aku telah berbuat kesalahan, tidak masalah, tidak apa-apa,” Bodhisattva tidak akan memaafkanmu. Memahami kesederhanaan adalah nilai sejati dalam kehidupan. Saya sangat sederhana hari ini, jangan terlalu meninggikan diri sendiri. Saya adalah manusia, kamu juga adalah manusia, Bodhisattva juga mencapai Kebuddhaan melalui manusia. Banyak orang yang seumur hidupnya mengejar ketenaran dan kekayaan. Banyak selebritas merasa mereka sangat terkenal di kala itu, tetapi ketika mereka meninggal dunia, segalanya tidak dapat dibawa pergi. Qin Shi Huang membuat setiap Prajurit Terakotanya dengan begitu nyata dan hidup, ia berharap dapat membawa serta setiap prajurit bersamanya, sehingga patung-patung itu dibuat menyesuaikan wajah masing-masing prajurit. Orang-orang selamanya tidak bisa membawa pergi apapun di dunia ini. Kita datang ke dunia ini hanyalah menumpang singgah sejenak untuk menuntaskan perjalanan hidup ini. Semuanya adalah pinjaman: rumah dipinjam, meminjam tubuh dari orang tua, uang, istri, dan anak-anak semuanya dipinjam. Istri dipinjam dan bayar dengan paling cepat. Banyak orang yang begitu bertengkar, istrinya meninggalkan dia dan pergi bersama orang lain. Jangan berpikir bahwa setelah menikahi istrimu, dia akan menjadi milikmu selamanya dan kamu bisa memperlakukannya sesuka hati. Bagaimana kamu memperlakukannya, begitu pula ia akan memperlakukanmu, pada akhirnya kamu tidak dapat apa-apa lagi. Di kala itu Julius Caesar yang menaklukkan Eropa, juga telah menaklukkan Afrika, Asia, dan Eropa, dan namanya menggema di seluruh dunia. Ketika ia meninggal, ia berkata kepada para pengawalnya, “Ketika kalian memasukkanku ke dalam peti mati, letakkanlah kedua tanganku di luar.” Pengawal bertanya mengapa, Julius Caesar menjawab, “Aku ingin menunjukkan kepada seluruh dunia yang mengira dirinya dapat menaklukkan dunia bahwa bahkan Caesar yang agung pada saat mati pun dengan tangan kosong.”
Master ingin kalian mengerti bahwa apa pun yang kalian lakukan, jangan berebut, jangan serakah. Orang lain berlomba-lomba mengejar ketenaran dan kekayaan, mereka adalah orang awam; Kita tidak berebut, tidak bersaing, kita adalah praktisi Buddhis, inilah letaknya perbedaan tingkat kesadaran spiritual. Jika banyak dari kalian yang masih bersaing dan berebut, salin mendorong dan merampas di sini hari ini, kalian pasti tidak akan bisa naik ke Surga. Kita, praktisi Buddha harus benar-benar naik; kita harus memiliki tingkat kesadaran spiritual, tidak boleh turun. Menekuni Dharma adalah menggali kekurangan diri sendiri hingga ke akar. Master terkadang sangat ketat karena kalian setiap orang memiliki akar yang buruk. Berapa banyak kesalahan yang telah kalian lakukan seumur hidup? Menyakiti berapa banyak teman, orang tua, dan berbagai jodoh kalian? Apakah kalian cukup berbakti kepada orang tua? Berapa banyak kesalahan yang telah kalian lakukan? Berapa banyak kebohongan yang telah kalian katakan? Apakah perasaan kalian tulus? Harus menggali dan buang semua keburukan dalam hati. Itulah “kekosongan diri tanpa halangan” yang dijelaskan dalam ajaran Buddha Dharma.
Tidak memaksakan jodoh, tidak memaksa pada hal apapun di dunia ini, tidak apa-apa. Pada dasarnya dunia ini memang hanya untuk kita pinjam pakai. Begitu banyak orang berkumpul di sini hari ini, apakah untuk bertamasya atau menghadiri Seminar Dharma, kalian tidak akan berada di sini selamanya. Apakah kalian merasa perlu mengganti kulkas, mengganti tempat tidur, atau menambah lemari hanya untuk menginap di hotel selama dua hari? Ini hanya sementara.
Harus memahami bahwa untuk terbebas dari segala penderitaan berarti harus tiada keserakahan. Orang yang tidak serakah baru bisa terbebas dari segala penderitaan. Tidak membenci baru bisa jauh dari kebodohan. Bukankah banyak orang yang melakukan hal-hal bodoh karena kebencian? Ada wanita yang meninggalkan pria, pria itu sangat membencinya, memikirkan cara untuk mengundangnya keluar, kemudian merusak wajahnya dengan asam sulfat. “Kamu tidak mau Aku. Aku juga tidak akan memberikanmu kepada siapa pun.” Ini adalah kebodohan, dan pada akhirnya dihukum penjara. Seseorang yang memiliki kebencian pasti akan bodoh. Ingatlah bahwa akar segala keburukan berawal dari tuntutan yang berlebihan. Akar kebencian dan kebodohan bermula dari menuntut terlalu banyak. Berharap mulai hari ini, kalian tidak lagi menuntut apa pun, tidak masalah, menempatkan saya di sini ya saya akan di sini, menempatkan saya di sana ya saya akan di sana. Meminta saya melakukan apa pun, saya akan melakukannya, hanya dengan tidak menuntut baru bisa mendapatkan. Seseorang berkata, “Master Lu, permintaan saya sebenarnya tidak tinggi, saya telah melepaskan segalanya. Satu-satunya permintaan saya adalah, mohon Anda membantu saya melihat apakah saya bisa membeli rumah besar ini?”
Pada tahun 1960-an, sejumlah sepeda sitaan dilelang oleh Bea Cukai Amerika Serikat. Setiap kali lelang, seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun akan menawar lima dolar. Kemudian, semua orang akan menawar lebih tinggi. Anak laki-laki itu setiap kali melihat orang lain membeli sepeda tersebut seharga tiga puluh atau empat puluh dolar. Saat jeda lelang, juru lelang bertanya, “Anak kecil, kenapa kamu tidak bisa menawar lebih tinggi?” Anak laki-laki itu berkata, “Paman, saya tidak punya uang. Saya hanya punya lima dolar, tapi saya sangat menginginkan sepeda.” Lelang berlanjut, dan anak laki-laki itu selalu menjadi yang pertama mengangkat tangan dan menawar lima dolar, tetapi pada akhirnya, semua sepeda dibeli oleh orang lain. Banyak orang memperhatikan anak laki-laki itu. Sepeda terakhir, sepeda itu tampak baru, dengan beberapa gigi dan lampu berkedip di malam hari. Juru lelang bertanya, “Ada yang menawar?” Semua orang tidak bersuara, berharap anak laki-laki itu akan mengangkat tangan dan menawar lima dolar. Pada akhirnya, tidak ada yang mengangkat tangan, tidak ada yang menawar, dan anak laki-laki itu juga tidak berbicara. Akhirnya, juru lelang berkata, “Sepeda terakhir ini akan dijual kepada anak laki-laki kecil bersepatu putih!” Semua orang bertepuk tangan. Anak laki-laki itu mengeluarkan uang lima dolar yang dia miliki, sangat terharu, tersenyum cerah di sela-sela air mata.
Hidup bukan sepenuhnya diperoleh dari persaingan, mengalahkan orang lain terkadang tidak perlu persaingan, melampaui orang lain adalah suatu keteguhan hati, orang yang tidak mau menyerah menunjukkan sebuah tekad, kita harus bisa menyentuh hati semua makhluk. Banyak orang terus berusaha menyelamatkan orang lain, pantang menyerah, dan akhirnya mereka berhasil menyelamatkan anggota keluarganya sendiri. Dalam kisah ini, kita melihat begitu banyak orang baik yang tidak mau menawar harga telah melakukan hal yang menyentuh hati semua makhluk. Kita praktisi Buddhis harus bisa menyentuh hati orang lain, dan orang lain akan memberkatimu, membuatmu mencapai pencerahan sejati. Inilah sebabnya mengapa para Buddha tidak dapat dipisahkan dari makhluk hidup. Kalian semua adalah anak-anak Bodhisattva, harus banyak membantu orang lain. Ada begitu banyak makhluk hidup yang membutuhkan bantuan! Seseorang berkata, “Penyanyi wanita berusia 33 tahun yang baru saja meninggal itu, jika dia tahu Xin Ling Fa Men, mungkin dia tidak akan meninggal” Seorang teman se-Dharma kita juga mengalami kekambuhan kanker payudara. Dia aktif melafalkan paritta, melepaskan makhluk hidup, dan berikrar. Hanya dalam dua minggu, sel-sel kankernya hilang sepenuhnya.
Jangan tercemar oleh kekotoran duniawi, inilah yang disebut kemurnian, orang lain egois kamu juga egois, orang lain melakukan perbuatan buruk kamu juga melakukan perbuatan buruk, maka kamu pasti akan tercemar oleh kekotoran duniawi, dan tidak bersih lagi. Tidak tergerak oleh hal-hal luar adalah ketenangan, tidak peduli bagaimana dengan lingkungan luar, saya tetap tidak berubah dalam menghadapi perubahan, ini adalah ketenangan. Budaya tradisional Tiongkok mengajarkan bahwa amarah pantang besar, amarah seseorang jangan terlalu berlebihan, amarah tidak boleh terlalu besar. Hati pantang penuh, tidak boleh merasa diri sendiri memiliki semuanya. Kekayaan pantang pamer, bakat dan kekayaan tidak boleh dipamerkan. Setiap kali orang Indonesia memberontak terhadap orang Tionghoa, mereka merampok orang kaya. Beberapa orang, meskipun punya uang, mereka akan menyembunyikannya. Penampilannya masih memakai pakaian compang-camping. Orang lain mengira dia sangat miskin, jadi tidak merampoknya. Kekayaan bersifat Yin, jangan diperlihatkan. Beberapa orang, ketika membayar tagihan di depan umum, mengeluarkan segenggam uang, begitu dia keluar dari pintu, dia dirampok dan uangnya hilang.
Hanya keadilan yang akan melahirkan pikiran yang penuh pengertian. Kejujuran akan melahirkan sahabat, kecemburuan akan melahirkan kebencian, kebencian akan melahirkan ketakutan. Pikiran jahat akan melahirkan kesalahan, dan akan menyebabkan kesalahan besar dalam hidup. Kesalahan akan melahirkan penyesalan, dan pada saat itu harus melafalkan paritta Li Fo Da Chan Hui Wen.
Dunia ini adalah Alam Manusia. Para makhluk hidup dalam kebingungan. Jadi, mereka akan melakukan banyak tindakan bodoh, yang membuat mereka sangat menderita. Praktisi Buddhis tidak boleh karena kebodohan orang lain dan menyebabkan kerisauan bagi dirinya. Dia memarahi kamu, dia melakukan kesalahan, dan kamu membencinya, bukankah kamu mendatangkan kerisauan untuk dirimu sendiri? Karena kebodohan orang lain sehingga menyebabkan kerisauan bagi diri sendiri, apakah itu layak? Kamu tahu dia bersikap bodoh, mengapa kamu masih mau risau? Jika membawa kalian mengunjungi rumah sakit jiwa dan seorang pasien gangguan jiwa datang, menunjuk-nunjuk, dan memarahi kamu, apakah kamu akan bertengkar dengannya? Jadi, cobalah ini di rumah. Orang yang bertengkar itu memiliki masalah pikiran. Orang yang tidak bertengkar memiliki pikiran yang jernih. Orang yang memiliki masalah pikiran berarti memiliki masalah mental. Banyak orang tidak dapat mengendalikan dirinya saat bertengkar, “Saya kesal, saya harus bertengkar” Bertengkar boleh saja, tetapi satu orang bising, yang lain tidak boleh bising. Ketika dia bising, kamu harus mengalah. Kamu harus tahu menggunakan cara apa untuk menangani kebakaran di rumah. Setiap kali terjadi pertengkaran di rumah, langkah pertama adalah segera meninggalkan tempat kebakaran. Langkah kedua adalah pikirkan cara untuk memadamkannya.
Ketika kamu tahu kamu bingung, kamu tidak menyedihkan. Ketika kamu tidak tahu kamu bingung, kamu pasti akan bertolak belakang dengan kebenaran, dan melakukan kesalahan, ini yang paling menyedihkan. Kita harus tahu apa yang kita lakukan, orang yang tidak tahu apa yang dirinya lakukan adalah orang yang paling menyedihkan di dunia ini.
Pada zaman kuno, Kaisar membawa enam orang pengikutnya menuju Gunung Beici untuk menemui Da Gui, namun di tengah perjalanan mereka tersesat. Mereka bertemu dengan seorang pengembala kerbau. Kaisar mendekat dan bertanya, “Nak, tahukah kamu jalan menuju Gunung Beici?” Pengembala itu menjawab, “Tahu!” dan menunjuk ke suatu arah. Kaisar kemudian bertanya, “Tahukah kamu di mana Da Gui itu?” Dia berkata, “Tahu!” Kaisar terkejut, lalu bertanya dengan santai, “Kamu masih sangat muda, tetapi tahu segalanya. Tahukah kamu bagaimana memerintah suatu negara dan membawa perdamaian ke dunia?” Pengembala itu berkata, “Tahu!” Kaisar berkata, “Ceritakan padaku.” Pengembala itu berkata: “Memerintah negara dan mendamaikan dunia itu seperti menggembala. Asalkan menyingkirkan kebiasaan buruk kerbau, semuanya akan damai! Jika seseorang menginginkan keluarga yang damai, ia hanya perlu menyingkirkan sifat akar buruknya. Jika ingin anak baik, maka harus menyingkirkan kebiasaan buruknya, demikian juga dalam memerintah negara dan mendamaikan dunia.” Kaisar sangat terkesan dan berkata: “Generasi muda patut ditakuti.” Awalnya berpikir dia tidak mengerti, tetapi prinsip hidup dengan memerintah negara, dan mendamaikan dunia itu serupa. Jika hati penuh dengan pendapat dan pemikiran sendiri, kamu selamanya tidak akan mendengar kata-kata jujur orang lain. Jika ingin mendengar kata jujur dari orang lain, kamu harus melepaskan semua pemikiranmu yang berbeda. Sebelum menekuni Dharma, kamu mungkin tidak menyukai semua orang, tetapi setelah menekuni Dharma, semua orang tampak menyenangkan. Jika kamu masih tidak menyukai orang lain, itu berarti kamu belum menekuni Dharma dengan baik, dan diri sendiri yang menderita, sepanjang hari membuat diri sendiri tidak bahagia. Praktisi Buddhis tidak perlu berdebat dengan hukum karma. Hulum karma tidak pernah salah, hukum karma adalah hukum yang pasti. Menanam labu pasti akan mendapatkan labu, menanam kacang pasti mendapatkan kacang, menanam jodoh baik pasti akan mendapatkan balasan karma baik.
Menekuni Dharma adalah berkahmu, welas asih adalah akarmu, toleransi adalah pencerahanmu, kesabaran adalah kebajikanmu, ketekunan adalah hatimu, dan mencapai Kebuddhaan adalah tekadmu. Manusia berencana, langit yang menentukan. Langit melihat apa yang kita lakukan, selama kita menabur benih, pasti akan ada balasannya. Pikiran itu seperti memori komputer; perbuatan baik dan buruk yang telah kita lakukan akan tersimpan dan terakumulasi di dalam komputer, beberapa hal tidak dapat dihapus setelah memasuki kesadaran kedelapan. Asalkan memasuki kesadaran terdalam, maka benih sebab akan tertanam. Begitu tersentuh, reaksi bawah sadar akan terjadi. Jika kamu melakukan sesuatu yang sangat jahat, begitu kamu memikirkannya, hal itu akan langsung terlintas di benakmu. Ketika kamu meninggal dunia, Raja Yama berkata, “Apa yang telah kamu lakukan?” Semua ini akan langsung muncul. Oleh karena itu, begitu memasuki kesadaran terdalam, itu tidak dapat dihapus.
Seseorang di pengadilan dituduh melakukan pembunuhan. Semua bukti sudah cukup untuk menjatuhkan hukuman mati kepadanya, tetapi karena mayat korban tidak ditemukan, pengacara pun membantu terdakwa untuk berkelit, “Yang Mulia, dan para juri, kejadian berikut ini akan mengejutkan kalian, korban akan segera memasuki ruang sidang.” Hakim dan semua juri mempercayainya dan menoleh ke arah pintu. Namun semenit kemudian, mereka tidak melihat apa pun. Pengacara berkata, “Yang Mulia dan para juri, apakah kalian melihatnya? Sebenarnya, saya hanya mengarang, tetapi semua juri menatap ke arah pintu dengan penuh harapan. Ini berarti kalian semua punya sikap ragu apakah terdakwa melakukan pembunuhan atau tidak. Saya bersikeras untuk menyatakan dia tidak bersalah.” Setelah musyawarah, juri dengan suara bulat menyatakan dia bersalah. Pengacara itu bingung, “Saya menggunakan taktik ini, mengapa masih menyatakan dia bersalah?” Juri menjawab, “Ketika semua juri dan hakim melihat ke arah pintu, hanya terdakwa yang tidak melihat. Ini berarti terdakwa tahu orang itu sudah mati dan tidak mungkin memasuki ruang sidang. Jadi, dia dinyatakan bersalah.” Di dunia, orang seringkali menyamarkan diri dengan sangat baik, tetapi dia tidak mampu menyembunyikan kebenaran batinnya. Pikiran batin akan memasuki kesadaran terdalam, itu tidak dapat tertutup. Seperti pepatah, “Dibutuhkan sepuluh kebohongan untuk menutupi satu kebohongan.” Bahkan penipuan yang paling hati-hati sekalipun pada akhirnya akan terbongkar. Praktisi Buddha tidak berbohong, rajin bertobat, kurangi membela diri, dan menjalankan lima sila, ini barulah seorang praktisi Buddhis sejati.
Kehidupan ini hanyalah sebuah sandiwara, kita harus bermain peran dengan serius, tidak boleh ceroboh, tetapi kita juga tidak boleh menganggapnya terlalu serius. Hidup ini bagaikan sebuah sekolah; kita harus belajar dengan sungguh-sungguh, hanya dengan meraih hasil yang baik barulah kita bisa lulus. Harus memandang dunia ini sebagai ilusi, tetapi harus menemukan jati diri kita di dalamnya, meminjam kepalsuan untuk membina kebenaran, barulah kita dapat mengatasi kerisauan dalam hidup ini. Waktu kecil, kita menonton film dan terkadang sangat takut, ibu kita berkata, “Jangan takut, Nak. Semua film itu palsu,” dan kita pun tidak takut lagi. Setelah memahami kebenaran dari segala hal, kita baru bisa melepaskan dan tidak takut lagi. Kita praktisi Buddhis tahu bahwa dunia ini adalah ilusi dan tidak nyata, dan kita tidak bisa hidup di sini selamanya. Kita tidak lagi takut karena kita akan kembali ke rumah sejati kita, yaitu Alam Surga.
