Banyak Menjalin Jodoh Baik, Menghargai dan Menyempurnakan Jodoh Kebuddhaan, Menyelamatkan Semua Makhluk dan Menciptakan Tanah Suci di Dunia (Bagian 2) 广结善缘珍惜成全佛缘 广度众生成就人间净土 (下)

Banyak Menjalin Jodoh Baik, Menghargai dan Menyempurnakan Jodoh Kebuddhaan, Menyelamatkan Semua Makhluk dan Menciptakan Tanah Suci di Dunia (Bagian 2)

Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Hong Kong, 18 Juni 2015

Master sering mengatakan bahwa kita tidak bisa mengendalikan perkembangan keadaan di dunia. Kita tidak bisa mengendalikannya karena hati kita terikat. Apa yang kamu inginkan, itulah yang akan mengikatmu. Apa yang ingin kamu miliki, itulah yang akan membelenggumu. Orang tua yang ingin anaknya berprestasi dalam belajar, justru bisa “dipegang” oleh anaknya. Anak berkata, “Ayah, Ibu, kalau kalian tidak memberi saya uang, saya tidak akan belajar dengan sungguh-sungguh.” Ini berarti sudah terikat olehnya. Ketika kamu mengejar seseorang, apa pun yang ia minta, kamu harus berikan, kalau tidak, kamu tidak bisa mendapatkannya. Hati dan mentalitas adalah sepasang kembar. Keindahan hati bergantung pada keseimbangan mentalitas, dan keseimbangan mentalitas akan memunculkan keindahan hati. Jika ingin mengatasi kerisauan, harus belajar Buddha Dharma, harus tercerahkan, dan tekun membina diri. Hanya dengan benar-benar memahami ajaran Buddha Dharma, barulah kebijaksanaan Bodhi sejati.

Tahun lalu, setelah acara Dharma yang dihadiri dua puluh ribu orang berakhir, tidak ada seorang pun yang meninggalkan sampah di tempat duduknya. Hal ini menunjukkan bahwa kalian telah membina diri dengan sangat baik.

Harapan kita terhadap orang lain, termasuk terhadap diri sendiri—baik itu harapan yang baik maupun yang buruk akan memengaruhi bagaimana perasaan kita, dan perasaan itu akan menentukan bagaimana kita memperlakukan orang atau hal tersebut. Ketika kamu memiliki prasangka terhadap seseorang, kamu akan berinteraksi dengannya dengan membawa prasangka itu. Sebaliknya, ketika kamu menganggap seseorang sebagai orang baik, kamu akan berinteraksi dengannya dengan mentalitas yang baik. Cara seseorang menaruh harapan seperti ini merupakan cerminan dari perilaku dan kondisi psikologisnya. Jika kamu memandang semua orang sebagai orang baik, maka mentalitasmu akan semakin baik. Namun jika memandang semua orang sebagai orang jahat, maka mentalitasmu akan semakin buruk. Untuk mempraktikkan cita-cita dalam menekuni Dharma, kita harus mampu mengendalikan mentalitas diri sendiri. Sang Buddha berkata, dalam menekuni Dharma dan membina pikiran ada tujuh jenis kekayaan. Kekayaan ini bukan sesuatu yang harus dicari atau diperoleh dari luar, melainkan sudah ada dalam diri kita, dalam semangat dan tubuh kita sudah memilikinya. Tujuh jenis kekayaan adalah:  keyakinan, kita harus memiliki keyakinan kepada Buddha dan kepada segala sesuatu di dunia ini. Kita harus belajar untuk memiliki kejujuran dan menjaga sila. Sila itu seperti hati seseorang. Semakin ketat seseorang menjaga silanya, semakin baik pula pembinaan dirinya, dan semakin dihormati oleh orang lain. Bila seseorang tidak bisa menjaga sila dengan baik, maka meskipun ia memiliki kedudukan tinggi atau harta berlimpah, yang akan datang hanyalah penderitaan dan kesedihan.

Kita harus sering menumbuhkan rasa malu dan penyesalan dalam hati. Di dunia ini, kita tidak banyak membawa manfaat bagi orang lain, tidak memberikan lebih banyak kenikmatan kepada orang tua, dan tidak memberi lebih banyak berkah kepada anak-anak kita. Dalam kehidupan ini, kita telah melakukan terlalu banyak kesalahan. Dunia ini pada dasarnya tidaklah sempurna. Ingin mencari kesempurnaan di dalam dunia yang tidak sempurna ini adalah hal yang mustahil. Sering memiliki rasa malu dan penyesalan akan memunculkan ketekunan. Berharap semua orang sering mendengarkan ajaran  yang benar, mendengarkan Dharma, mendengarkan hal-hal yang baik, dan jangan mendengarkan gosip atau perkataan buruk orang lain. Ada sebagian orang yang justru senang mendengar hal-hal negatif, sedangkan hal-hal yang baik ia tidak mau mendengarkan.

Manusia harus mendengarkan hal-hal yang baik, karena setelah mendengarnya, ia akan memahami untuk memberi (berdana). Manusia harus belajar untuk berdana. Hari ini kalian datang ke sini melakukan dana Dharma, dana materi, dan dana tanpa rasa takut, membantu banyak orang yang belajar Buddha Dharma, serta menuntun banyak orang lain untuk belajar Buddha Dharma. Bukankah semua itu adalah perbuatan Bodhisattva? Bodhisattva harus menolong semua makhluk yang berjodoh. Hari ini kalian bisa meneladani para biksu dan biksuni, sebagai umat awam yang menuntun orang untuk belajar Dharma menuju — ini sungguh patut disyukuri dan dipuji. Mengapa Bodhisattva di Surga turun ke dunia? Karena di dunia ini ada begitu banyak Bodhisattva. Namun, kalian semua masih merupakan Bodhisattva sementara, sesaat, dan singkat di dunia ini. Kalian baru saja melakukan sedikit perbuatan baik, sebentar kemudian pikiran buruk sudah mulai muncul kembali.

Kita harus memahami hui — kebijaksanaan, hui dari kata zhi hui, yang merupakan jenis terakhir kekayaan dari tujuh jenis kekayaan yang diajarkan oleh Sang Buddha kepada kita.  Sejak kecil, kita sering mendengar kisah tentang biksu kecil Jepang bernama Ikkyū yang sangat cerdas. Pada masa itu, di kuil Jepang kuno, memiliki satu botol madu adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Guru Ikkyū memiliki sebotol madu segar, sangat ia sukai. Karena takut Ikkyū akan diam-diam memakannya, sang guru menyembunyikan madu itu di tempat yang tinggi. Setiap pagi, ia akan memanjat dengan bangku kecil, mengambil botol itu, lalu menyendok sedikit madu untuk dirinya sendiri. Ia menikmatinya dengan sangat gembira setiap hari. Ikkyū sangat ingin mencicipi madu itu, tetapi ia tidak bisa menjangkaunya. Suatu hari, gurunya hendak pergi keluar dan berkata kepada Ikkyū:  “Jangan sentuh yang di atas itu, itu racun.” Setelah biksu tua pergi, Ikkyu memakan madu itu sedikit demi sedikit sampai habis. Setelah selesai, ia merasa bingung bagaimana harus menjelaskannya, lalu ia memecahkan vas bunga milik biksu tua.  Ketika biksu tua kembali, Ikkyu menangis keras-keras. Gurunya bertanya, “Kenapa kamu menangis?”  Ikkyu menjawab, “Guru, saya tidak sengaja memecahkan vas bunga kesayanganmu.”  Biksu tua berkata, “Aduh, kenapa kamu begitu ceroboh sampai memecahkan vas bungaku?”  Ikkyu berkata, “Guru, saya tahu saya telah membuat kesalahan besar, jadi saya tidak ingin hidup lagi. Saya sudah meminum racun yang ada di botolmu itu.”

Kamu ingin mencari alasan di dunia ini, ada puluhan juta macam. Ketika suami istri bertengkar, kamu bisa mengatakan bahwa kamu yang benar, atau dia yang benar. Namun pada dasarnya manusia sendiri adalah sebuah jodoh dan sebuah bentuk pengorbanan, dari mana datangnya benar atau salah? Dalam hidup seseorang, banyak hal yang dulu saat kecil dianggap salah, kini jika dipikir-pikir ternyata benar; dan hal-hal yang dulu dianggap benar, sekarang justru terasa salah. Ada sepasang suami istri yang bertengkar. Seorang tetangga yang merasa tidak tega membela sang istri dan menyarankannya untuk melapor ke pengadilan, yang akhirnya membuat pernikahan mereka berakhir. Sungguh tidak seharusnya begitu! Setiap orang memiliki jodohnya sendiri. Tidak ikut campur dalam Karma (sebab-akibat) orang lain, itulah kebijaksanaan.

Master berharap kalian harus memahami bahwa agar tidak mendatangkan bencana bagi diri sendiri, kalian harus belajar menggunakan dengan baik tujuh jenis kekayaan. Berkah kebajikan kita berasal dari kekuatan daya tarik batin kita. “Daya tarik batin” adalah istilah modern, namun sesungguhnya itu adalah kekuatan tekad. Kekuatan tekad seseorang berasal dari ketaatan pada sila. Dengan memegang sila, barulah muncul ketenangan batin, dan dari ketenangan itu lahirlah kebijaksanaan. Sila, konsentrasi, dan kebijaksanaan barulah bisa melahirkan kebijaksanaan di dunia ini. Kita harus memahami pentingnya memiliki keyakinan dan menjalankan sila, serta memiliki rasa malu dan penyesalan atas kesalahan. Kita harus mendengarkan ajaran Buddha, berdana, dan memiliki kebijaksanaan. Kita harus percaya pada keberadaan sejati dari ajaran Buddha Dharma, dan dengan menjalankannya tanpa goyah, barulah kita benar-benar dapat memperolehnya. Coba pikirkan, orang yang benar-benar belajar Buddha Dharma, berapa banyak orang yang telah mencapai Alam Sukhavati dan menampakkan diri dalam mimpi setelah meninggal dunia? Minggu lalu, Master melihat di blog bahwa ada seorang kakek, ketika hendak meninggal, tiba-tiba berkata, “Terima kasih, Amitabha telah datang menjemputku. Aku telah menemukan jalan hidupku.” Setelah mengucapkan itu, beliau pun berpulang meninggal. Itulah yang disebut naik ke alam surga. Ia telah menemukan Tanah Suci Kebahagiaan di Barat. 

Kali ini, Master menghadiri perayaan Hari Waisak PBB di Thailand — satu-satunya perayaan yang diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memperingati Sang Buddha yang agung. Di sana, bertemu dengan para biksu dan tokoh besar dari 86 negara, termasuk dari Sri Lanka, Nepal, Prancis, Eropa Timur, Eropa Barat, serta berbagai negara di Asia. Semua berkumpul dalam satu tempat untuk bersama-sama mengenang dan menghormati Sang Buddha yang mulia. Pada saat itu, Master teringat sebuah kalimat: Agama kita, Buddha kita, telah membuat begitu banyak makhluk berjodoh di dunia ini mencapai pencerahan, sungguh jasa kebajikan yang tiada tara. Tanggung jawab di masa depan, itu juga yang harus kita berikan, yaitu menggunakan ajaran Buddha untuk menjadikan dunia lebih damai, keluarga lebih harmonis, dan rakyat lebih sehat.

Jika kita menghabiskan energi untuk mencemaskan hal-hal yang telah terjadi kemarin dan hal-hal yang akan terjadi besok, maka kita akan merasa takut untuk hidup di dunia ini. Sekarang, banyak orang yang hidup tidak tenang karena pernah berbuat dosa, setiap hari diliputi rasa takut akan terjadi sesuatu. Jika kita tidak melakukan kesalahan, maka kita tidak akan merasa takut ataupun cemas. Melewatkan waktu paling indah dalam hidup — ajaran Buddha Dharma, itu adalah penyesalan terbesar dalam hidup. Hari ini, semua teman se-Dharma yang hadir di sini, bersama jutaan umat dan teman se-Dharma di seluruh dunia, telah membuktikan kebenaran sabda Sang Buddha: “Sulit memperoleh tubuh manusia, namun kini kita telah mendapatkannya; sulit untuk mengenal Dharma, namun kini kita telah mengenalnya.”  Sang Buddha bersabda bahwa kita harus hidup dengan bahagia di saat ini. Namun, bukan berarti kita hanya berhenti pada saat ini dan tidak berbuat apa-apa. Kita memutuskan untuk berhenti, tidak mengejar berkah duniawi, tidak lagi mengejar pada baik dan buruk duniawi. Kita tercerahkan, kita terbebaskan, kita sudah pulang ke rumah. 

Kehidupan dan kematian di dunia ini memiliki proses muncul dan lenyap, masa puncak dan masa surut. Dalam dimensi alam manusia, baik kenikmatan maupun penderitaan hanyalah persoalan konsep dan cara pandang. Ketika seorang ibu melahirkan anak, dokter merasa ia sangat menderita, tetapi sang ibu justru merasa sangat bahagia. Kebahagiaan dan penderitaan sesungguhnya hanyalah perbedaan dalam konsep dan pandangan saja.  Kita harus memahami makna tanpa rasa takut. Kita bilang berdana materi, berdana Dharma, dan berdana tanpa rasa takut. Tanpa rasa takut berarti tidak takut terhadap apa pun, yaitu tidak masalah, hati tenang dan memiliki rasa bahagia. Seseorang yang tidak terikat pada berkah duniawi atau pahala dan kebahagiaan semu yang cepat berlalu itu, maka ia akan hidup di saat ini. Jadi, Master ingin kalian memahami bahwa ombak sebenarnya bukanlah sesuatu yang bergelora dan mengguncang. Hakikat sejati dari ombak itu sangat tenang, tanpa awal dan tanpa akhir. Tanpa angin, dari mana datangnya ombak? Selama di dalam hati kita tidak ada angin, maka tidak akan ada ombak. Mengapa manusia hidup dalam pertentangan antara benar dan salah? Karena dalam konsep pikiranmu sudah ada “benar”, maka setelah sesuatu masuk melalui telinga dan mata, akan muncul “salah”. Jika di dalam hatimu tidak ada “benar”, dari mana datangnya “salah”? Benar dan salah itu sesungguhnya berasal dari benar dan salah di dalam hatimu sendiri. Kita praktisi Buddhis melihat menembus segala hal di dunia ini, tidak ada benar dan salah. Dengan begitu, hati kita tidak akan terhalang oleh apa pun, kita baru bisa tercerahkan dan terbebaskan. Banyak orang bertanya kepada Master apa itu “pencerahan”? Pencerahan adalah melepaskan. Pencerahan adalah meninggalkan. Pencerahan adalah tidak terikat pada apa pun. Itulah pembebasan sejati, itulah Nirwana yang sesungguhnya.

Kita harus belajar membiarkan badai berlalu, membiarkan penderitaan berlalu, itulah awal dari kehidupan baru kita. Kita tidak boleh terus menyimpan perasaan benci kepada orang lain, rasa iri terhadap orang lain, atau kenangan tentang bagaimana orang lain pernah memperlakukan kita dengan buruk. Jika kita terus mengingatnya, hati kita akan dipenuhi kesedihan dan sakit hati. Karena itu, biarkanlah penderitaan berlalu, jangan sakiti hati sendiri.  Ketika seseorang membenci, ketika seseorang bodoh, atau ketika seseorang dipenuhi keserakahan, itu sama saja seperti memelihara seekor ular di dalam hati. Saat kamu tidak serakah, ular itu tidak akan melukai hatimu; tetapi begitu kamu mulai serakah, hati terasa sakit. Saat kita membenci orang lain, hati akan terasa sakit lagi. Dan ketika kamu bersikap bodoh, kamu akan sangat menderita. Buddha tidak menjauhi manusia, tetapi manusialah yang menjauh dari Buddha. Buddha berasal dari hati; hati dan Buddha harus bersatu. Kalian yang duduk di sini hari ini harus seperti seorang Bodhisattva. Karena kalian telah menekuni Dharma dan menyembah Buddha, maka harus jadikan Buddha sebagai teladan, tidak boleh mudah marah, tidak boleh membenci orang lain, tidak boleh memukul atau memaki.  Segala sesuatu yang tidak dilakukan oleh para Buddha dan Bodhisattva, jangan kalian lakukan, harus membina pikiran dan perilaku dengan sungguh-sungguh, ubahlah pikiran dan perilaku diri sendiri.  Hanya dengan begitu hati akan menjadi murni dan tingkat kesadaran spiritual akan meningkat, barulah dapat benar-benar mencapai kebijaksanaan prajna Bodhisattva.

Di dunia ini, ada hal-hal yang membuat kita sedih dan juga yang membuat kita bahagia. Perasaan manusia bagaikan sebuah jaring yang kita tenun sendiri. Yang membuat kita gembira maupun sedih di dunia ini sebenarnya adalah diri kita sendiri. Segala hubungan di dunia ini — orang tua, saudara, dan lainnya, semuanya adalah karma dan jodoh kita. Pertemuan adalah buah dari karma tetap, yaitu jodoh karma. Berharap semua orang dapat mengubah jodoh buruk menjadi jodoh baik, harus banyak menjalin jodoh baik. Dengan memiliki jodoh baik barulah akan memiliki rezeki. Dengan adanya rezeki akan tercipta kebersamaan. Dengan kebersamaan akan muncul jodoh Kebuddhaan. Dengan memiliki jodoh Kebuddhaan, barulah bisa memiliki keharmonisan sejati di dunia ini, harus sempurna. Hati kita harus mampu menampung segala sesuatu. Hati kita harus penuh kasih seperti hati seorang Bodhisattva. Hati harus menoleransi seperti seorang Bodhisattva. Setiap hari  memikirkan Bodhisattva, dan melakukan hal-hal yang dilakukan Bodhisattva. Kelak setelah meninggal nanti, kita pasti dapat menjadi Bodhisattva, menjadi Buddha. Master menantikan kalian, binalah diri dengan sungguh-sungguh.

Master sangat merindukan kalian semua. Hari ini, melihat kalian semua, Master merasa sangat bahagia. Melihat begitu banyak biksu, juga merasa sukacita Dharma. Para biksu juga datang untuk melindungi Dharma, dan kalian pun datang untuk melindungi Dharma. Berharap seminar Dharma kali ini dapat terlaksana dengan sempurna, sehingga semakin banyak teman se-Dharma memperoleh pencerahan, memahami pentingnya mencintai negara dan rakyat, menaati peraturan dan hukum, serta menenangkan hati diri sendiri. Hanya ketika negara aman, keluarga dapat hidup damai. Ketika keluarga damai, barulah individu dapat hidup tenteram; dan hanya dengan tercapainya perdamaian dunia, barulah bisa memperoleh kedamaian di dunia ini.

Orang yang bahagia akan melihat segala sesuatu dengan bahagia.  Seorang yang belajar Buddha Dharma adalah Buddha yang bahagia. Orang yang tahu melindungi dan menyayangi orang lain berarti melindungi dan menyayangi dirinya sendiri. Memberi jalan bagi orang lain berarti memberi jalan keluar bagi diri sendiri. Jangan pernah memaksa orang lain sampai ke sudut tanpa jalan keluar, maka dirimu pun tidak akan menemui jalan buntu. Praktisi Buddhis harus berhati lapang, mampu menampung segala hal di dunia. Kelak, ketika kalian melihat Buddha Maitreya di Surga, kalian berkata,  “Buddha Maitreya, saya selalu belajar darimu, belajar kelapangan hatimu.” Mulai sekarang, tersenyumlah dengan gembira setiap hari, rasakan kebahagiaan Dharma, akan menambah lebih banyak kebahagiaan di dunia ini. Berharap semua orang dapat memandang orang-orang di sekitarnya sebagai Bodhisattva, dan menganggap setiap orang yang bersikap welas asih kepadamu sebagai Buddha. Orang tua adalah Buddha bagi kita, dan anak-anak pun datang untuk menyempurnakan kita. Marilah kita melihat dunia ini dengan jernih dan menyadari kebenaran sejati kehidupan — penderitaan, kekosongan, dan tidak kekal. Dalam dunia yang penuh ketidakkekalan ini, kita harus mampu mengendalikan diri di dalamnya. Kita harus menggunakan ajaran Buddha Dharma untuk membebaskan hati dan pikiran kita, agar dunia ini menjadi lebih indah, dan hati kita pun menjadi lebih indah.

Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa dan Naga Langit Pelindung Dharma. Terima kasih semuanya.

Kita kembali berkumpul di Xiangjiang (Hong Kong). Dalam beberapa hari ini, Master pasti akan membuat kalian semua berada dalam samudra Buddha, membuat kalian setiap hari merasa seolah hidup di dunia yang harmonis, hidup di tanah suci di dunia.