Membangkitkan Sifat Kebuddhaan, Mengamati Diri, dan Menghargai Jiwa Kebijaksanaan, serta Melampaui Keduniawian Menuju Kesucian (Bagian 1)
Seminar Dharma Singapura, 11 April 2015
Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa yang welas asih, serta para Naga Langit dan Pelindung Dharma atas kasih sayang dan perlindungan mereka, yang membuat kita berkesempatan menjalin jodoh kebajikan di Singapura, terbebas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan. Sekali lagi, terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa Yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang, terima kasih kepada Naga Langit dan Pelindung Dharma, yang membuat jodoh duniawi kita menjadi jodoh Kebuddhaan yang agung. Terima kasih kepada para biksu, serta kepada para teman se-Dharma dan relawan dari seluruh dunia atas kerja keras dan pengabdian mereka.
Singapura yang indah, rakyatnya yang welas asih dan baik hati, membuat kita semakin mengenang jasa mantan Perdana Menteri yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya demi kemajuan Singapura, menjadikannya salah satu negara terindah di dunia, juga membuat kita merasakan bahwa hidup ini tidak kekal dan singkat. Semoga di negara yang indah ini, kita dapat menumbuhkan lebih banyak welas asih, memberikan lebih banyak kasih sayang, menjadikan Singapura semakin indah, hati manusia semakin baik, dan dunia menjadi lebih damai.
Pada awal tahun, dalam ceramah di seminar Dharma Sydney, Master berkata bahwa kecelakaan pesawat akan semakin sering terjadi. Dari Malaysia Airlines, AirAsia, hingga Germanwings bulan lalu, semua itu membuat kita merasa takut dan tertekan. Kita bahkan tidak bisa melindungi diri sendiri, bagaimana bisa melindungi keluarga kita? Kita bahkan tidak bisa menjaga kesehatan sendiri, bagaimana bisa merasakan kebahagiaan di dunia ini? Sekarang, keselamatan adalah berkah. Jika di rumah tidak terjadi apa-apa, itu sudah merupakan keberuntungan besar. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2012, jumlah kematian di seluruh dunia mencapai 46 juta orang, ini setara dengan populasi beberapa negara kecil. Karena itu, memiliki keyakinan agama adalah obat yang baik bagi dunia saat ini. Orang yang percaya kepada Buddha akan mendapat perlindungan dari Bodhisattva. Orang yang berbuat baik setiap hari tidak akan melakukan kejahatan, berarti sedang berjalan di jalan Bodhisattva. Menolong orang lain berarti menolong diri sendiri, berarti menjadi orang baik. Hanya orang baiklah yang akan melakukan perbuatan baik. Meneladani welas asih Guan Shi Yin Pu Sa dan memiliki kebijaksanaan Bodhisattva. Orang baik akan hidup damai sepanjang hayatnya.
Di dunia ini, semua orang memiliki banyak kesulitan. Banyak orang ingin mencari jalan yang mudah untuk dilalui. Jika kamu tidak belajar Buddha Dharma, kamu bilang ingin mencari jalan yang mudah di dunia ini, maka jalan yang paling mudah hanyalah jalan menurun. Kita harus mencari jalan untuk melampaui diri sendiri di dunia ini, semuanya adalah jalan yang penuh kesulitan. Penderitaan orang yang belajar Buddha Dharma hanyalah sementara. Setelah tercerahkan, ia tidak akan menderita lagi. Tetapi penderitaan orang yang tidak belajar Buddha Dharma adalah seumur hidup disiksa oleh takdir.
Seorang teman se-Dharma bertanya kepada Master:“Saya telah mempelajari banyak agama dan berbagai aliran Dharma, terlalu banyak, sampai saya tidak tahu lagi mana yang terbaik. Master, bisakah Anda memberitahu saya?” Master memberi tahu dia: “Pilihlah ajaran atau pintu Dharma yang paling kamu sukai dan paling sesuai dengan dirimu, itulah pintu Dharma terbaik untukmu.” Teman se-Dharma itu melanjutkan: “Bagaimana agar tidak tersesat dalam belajar Buddha Dharma? Karena kami tidak punya pembimbing, kami hanya tahu memasang dupa dan menyembah Buddha.” Master berkata:“Ikutlah seorang guru yang tulus dan tanpa pamrih, serta membina diri bersama banyak teman se-Dharma yang hanya tahu memberi tanpa memikirkan diri sendiri dan penuh welas asih terhadap semua makhluk — maka kamu selamanya tidak akan tersesat.”
Orang yang dibenci tidak merasakan penderitaan. Misalnya, ketika kamu dibenci oleh orang lain, dirimu sendiri tidak merasakan penderitaan. Namun, orang yang membenci justru penuh luka batin, seumur hidup terperangkap dalam kebencian, hidupnya seperti di neraka setiap hari, makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, dan setiap hari terus menyimpan dendam terhadap orang lain. Kenangan seseorang bagaikan sepotong es di tangan, membuat hati terasa dingin. Tidak peduli seberapa erat kamu menggenggamnya, es itu tetap akan perlahan-lahan mencair dan hilang. Masa lalu seseorang pasti akan berlalu. Jika hati tidak bisa melepaskan diri sendiri, itu berarti tidak memiliki kebijaksanaan. Tidak bisa memaafkan orang lain, itu berarti tidak memiliki welas asih. Lupakan masa lalu, pikirkan masa depan, hidup akan terasa lebih bermakna. Kita memiliki perlindungan dari para Bodhisattva, serta ribuan umat dan teman se-Dharma yang baik hati. Di dunia ini, kita pasti akan hidup dengan semakin baik. Dengan cahaya welas asih Guan Shi Yin Pu Sa yang menyinari, hati kita akan menjadi semakin terang.
Ada seorang ibu dan anak perempuannya. Sang anak baru saja pulang dari Inggris minggu lalu untuk menjenguk keluarga. Ibunya mengajaknya makan di sebuah restoran. Saat seorang pelayan perempuan mengantarkan hidangan, karena gugup, ia tanpa sengaja menumpahkan kuah makanan ke baju sang ibu. Ibu itu sangat marah dan hampir meluapkan emosinya, pelayan tersebut sudah ketakutan dan tidak berani bicara. Anak perempuannya segera berdiri, membantu ibunya membersihkan pakaian, sambil berkata dengan lembut kepada pelayan itu, “Tidak apa-apa, nanti kami cuci di rumah saja. Maaf.” Sang ibu merasa heran dan bertanya, “Dia yang berbuat salah, kenapa sepertinya kamu yang salah? Mengapa kamu memperlakukannya seperti itu?” Anaknya menjawab, “Mama, sebelum saya berangkat kuliah ke luar negeri, saya tidak pernah melakukan pekerjaan apa pun. Tapi setelah di Inggris, saya juga pernah bekerja sebagai pelayan restoran.” Saya juga pernah memecahkan gelas bir dan menumpahkan sup ke tubuh tamu. Saat itu saya sangat panik dan ketakutan, tetapi tamu itu dengan sopan berkata, “Tidak apa-apa.” Pemilik restoran datang, memelukku, dan berkata, “Sayang, tidak apa-apa,” lalu menyuruh karyawan lain membersihkan pecahan kaca tanpa mengucapkan satu kata pun untuk menyalahkan saya. Anak perempuan itu berkata kepada ibunya, “Setiap orang bisa berbuat salah. Jika orang lain bisa memaafkan kesalahan putrimu, mengapa kita tidak bisa memaafkan kesalahan orang lain?” Memaafkan orang lain berarti membebaskan diri sendiri. Orang yang tidak bisa melepaskan diri akan melukai dirinya terlebih dahulu. Praktisi Buddhis harus mundur selangkah agar pandangan menjadi luas seperti lautan dan langit. Memaafkan orang lain berarti memberi diri sendiri jalan untuk mundur.
Orang lain boleh melanggar hukum karma, orang lain boleh menyakiti atau memfitnah kita, tetapi kita tidak boleh membenci mereka. Begitu kita membencinya, hati kita langsung ternoda dan menghancurkan kejernihan batin kita. Sifat sejati kita yang murni menjadi tercemar karena kebencian terhadap orang lain. Akibat dari perbuatan orang lain akan ditanggung oleh mereka sendiri; kita tidak boleh menggunakan kesalahan orang lain untuk kembali menyakiti hati kita yang sudah terluka. Memaafkan orang lain dan tidak membenci mereka adalah kebijaksanaan, itulah kesabaran (kshanti paramita).
Melafalkan paritta setiap hari, melafalkan Li Fo Da Chan Hui Wen adalah kebiasaan terbaik dalam pembinaan diri, karena setiap hari di dunia ini kita pasti melakukan banyak kesalahan. Kebiasaan berarti mengubah keyakinan menjadi karakter. Jika setiap hari kita percaya bahwa Guan Shi Yin Pu Sa akan menolong kita, dan terus melakukannya setiap hari. Seiring berjalannya waktu akan percaya bahwa Bodhisattva akan datang ke kehidupan kita. Perubahan cara berpikir dan perubahan perilaku adalah sebuah proses. Ketika seseorang memiliki keyakinan, maka ia akan memiliki kekuatan tekad. Seperti seorang ibu yang ingin anaknya masuk sekolah unggulan, ia rela bangun pagi setiap hari, bekerja keras, mencari guru untuk membimbing dan mendorong anaknya belajar dengan sungguh-sungguh. Kita praktisi Buddhis juga demikian. Kita tahu bahwa suatu hari nanti kita akan kembali ke pelukan Guan Shi Yin Pu Sa. Setiap hari memiliki kekuatan tekad, melafalkan paritta, melakukan pelepasan makhluk hidup, dan mencapai jasa kebajikan diri sendiri. Seiring waktu, akan memiliki kekuatan tekad. Dengan kekuatan tekad barulah memiliki ketenangan. Orang yang bisa tenang baru bisa perlahan mengubah dirinya sendiri. Master meminta kalian membentuk kebiasaan yang baik. Pada awalnya kita membentuk kebiasaan, dan kemudian kebiasaan itulah yang membentuk kesuksesan kita. Orang yang memiliki kebiasaan baik akan menumbuhkan kebijaksanaan.
Suatu hari, Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln sedang berjalan sambil menyemir sepatunya. Seorang diplomat yang melihat hal itu dengan niat tidak baik berkata dengan nada menyindir, “Pak Presiden, apakah Anda sering menyemir sepatu sendiri?” Ucapannya mengandung ejekan halus, namun sulit untuk disalahkan secara langsung. Lincoln dengan cerdas menjawab, “Ya, benar. Lalu, Anda sering menyemir sepatu siapa?” Di masyarakat, banyak orang yang merasa pintar dan suka menyerang orang lain. Praktisi Buddhis harus mandiri, menggunakan bahasa yang lembut dan kebijaksanaan yang sempurna untuk melindungi orang lain sekaligus melindungi diri sendiri. Selamanya harus menghormati orang lain, barulah tidak akan melukai diri sendiri. Orang yang belajar Buddha Dharma harus memiliki hati seluas lautan. Ketika tinta dituangkan ke laut, air laut tetap berwarna biru; apa pun jenis air yang masuk, laut tetap jernih. Kita harus seperti lautan yang menaungi ratusan sungai, dengan Buddha di dalam hati, kita pasti menjadi orang yang memiliki kebijaksanaan Buddha. Hati yang lapang barulah hati seorang praktisi Buddhis, barulah hati seorang Bodhisattva.
Buddha bersama para muridnya. Seorang murid bertanya kepada Buddha: “Sang Buddha, mengapa dunia ini penuh dengan penderitaan?” Sang Buddha menjawab: “Itu karena manusia tidak mengenal dirinya sendiri.” Mengapa dalam hidup ini seseorang sering berbuat salah, disakiti orang lain, atau menyakiti orang lain? Karena ia tidak tahu apa yang sedang ia lakukan, tidak mengenal dirinya sendiri, terbawa arus kehidupan, tidak memahami sifat dasarnya, dan dikuasai oleh keserakahan, sehingga muncul berbagai kerisauan. Orang yang mampu memahami dirinya sendiri, dan juga memahami orang lain, tidak akan memiliki kerisauan. Banyak masalah di dunia ini muncul karena orang tua tidak memahami anaknya, suami tidak memahami istrinya, dan istri tidak memahami suaminya, sehingga akan muncul semakin banyak kerisauan. Tahu untuk menghormati dan memahami orang lain, gunakan kebijaksanaan yang sempurna untuk menoleransi orang lain. Inilah kebijaksanaan Buddha, inilah kebijaksanaan di dunia. Belajarlah dengan sungguh-sungguh.
Banyak orang hidupnya penuh penderitaan dan sering bertanya kepada Master: “Bagaimana cara mengatasi kesulitan hidup? Mengapa hati ini tidak bisa melepaskan? Mengapa hari ini bisa bahagia, tetapi besok tidak bahagia lagi?”Master memberi tahu kalian, hati itu seperti sebuah cermin. Ketika kamu tersenyum padanya, ia akan tersenyum padamu. Ketika kamu menangis padanya, ia pun akan menangis bersamamu. Jika ia memantulkan kebaikan, maka kebaikan akan tersimpan di dalam hatimu. Jika ia melihat kejahatan, maka kejahatan pun akan tinggal di hatimu. Orang yang berhasil dalam hidup adalah mereka yang mampu meningkatkan tingkat kesadaran spiritual diri sendiri, memahami dan menyadari segala hal di dunia ini dengan jernih, melampaui pandangan sempit tentang keuntungan pribadi. Jangan tertipu oleh keuntungan sesaat di depan mata, dan jangan menggunakan segala cara untuk mendapatkannya, karena kenyataannya akan kehilangan lebih banyak. Orang yang masih bisa tersenyum menghadapi kehidupan yang penuh kerisauan adalah orang yang bisa berpikiran terbuka. Seperti kalian yang bisa datang mengikuti seminar Dharma hari ini, kalian masih bisa tersenyum hari ini, masih bisa berpikir jernih, itu tandanya kalian memiliki kebijaksanaan. Banyak orang yang tidak bisa berpikiran terbuka, sehingga hidupnya penuh dengan kerisauan, itu karena mereka belum tercerahkan. Keindahan hidup yang tak terbatas berasal dari hati kita sendiri, begitu pula penderitaan yang mendalam juga berasal dari hatimu. Praktisi Buddhis harus menurunkan nafsu keinginannya serendah mungkin dan memperluas hatinya sebesar mungkin. Semakin besar kebijaksanaan, semakin besar pula welas asihnya.
Kenyataannya, kehidupan manusia dijalani melalui hati yang penuh toleransi dan welas asih. Ketika kita memaafkan orang lain, kita tumbuh sedikit lebih dewasa. Saat kita berbelas kasih dan berterima kasih kepada orang lain, kita akan tumbuh lebih dewasa lagi. Kepribadian yang agung membentuk kehidupan yang agung. Hanya hati seorang Bodhisattva yang mampu melakukan kebaikan demi kebahagiaan semua makhluk.
Master bercerita sebuah lelucon kecil kepada semua orang: Orang-orang zaman sekarang semakin sempit hatinya, mudah marah, tidak menghormati orang lain, sehingga tidak bisa membentuk kepribadian yang sempurna. Rasa dendam mereka juga sangat kuat. Di Sichuan, ada seorang pria yang pergi ke bank untuk mengurus sesuatu. Setelah bertengkar dengan petugas bank, ia sangat marah karena tidak puas dengan sikap pelayanannya. Lalu ia menukar uang seratus yuan menjadi seratus koin satu yuan, dan pergi ke bank untuk menyetorkannya seratus kali. “Aku akan membuatmu lelah, lihat apa yang bisa kamu lakukan terhadapku!” Hati orang-orang zaman sekarang adalah hati yang telah menyimpang, tidak normal, dipenuhi dendam dan kebencian terhadap orang lain, ini membuatmu hidup dalam penderitaan yang tiada henti.
Pada zaman dahulu di Tiongkok, setelah pasukan menumpas Dong Zhuo, Yuan Shao memiliki banyak jenderal hebat dan pasukan besar berjumlah ratusan ribu hingga jutaan orang. Kekuatan militernya jauh melampaui Cao Cao. Namun, karena ia tidak mampu mengenali dan menilai orang dengan tepat, akhirnya ia meninggal dunia dengan muntah darah. Setelah Yuan Shao wafat, Cao Cao datang ke makamnya menangis dan memberikan penghormatan. Bawahan Cao Cao pernah diam-diam menulis surat kepada Yuan Shao untuk menyerah kepadanya. Setelah Cao Cao mengetahui hal itu, ia sama sekali tidak menuntut atau menghukum mereka. Ia membakar semua surat itu. Ada orang berkata, “Jenderal Cao, begitu banyak orang yang ingin berpihak kepada Yuan Shao, mereka ini tidak baik!” Cao Cao berkata, “Ketika Aku kalah dalam pertempuran, Aku juga pernah memiliki niat untuk menyerah. Maafkan saja mereka.” Sebelum kekalahan dalam perang, ada seseorang yang menulis surat kepada Yuan Shao, menjelek-jelekkan Cao Cao dengan kata-kata yang sangat kejam. Setelah orang itu tertangkap, Cao Cao tidak hanya tidak membunuhnya, tetapi malah memuji tulisan artikelnya sangat bagus. Orang itu adalah Chen Lin, salah satu dari “Tujuh Cendekiawan Jian an”. Praktisi Buddhis harus memiliki moral dan kelapangan hati, harus memahami cara berpikir orang lain, menerima kata-kata buruk dari orang lain, sepenuhnya bisa menjadikannya sebagai jodoh pendukung kita. Banyak tokoh besar dalam sejarah bisa berhasil, pertama-tama karena mereka memiliki hati yang luas. Jadi kita di dunia ini menekuni Dharma dan menjadi orang yang baik terlebih dahulu harus belajar memiliki kelapangan hati. Seseorang yang sepanjang hari hidup dalam mata dan mulut orang lain, tidak mampu melepaskan diri, ia adalah orang yang tidak memiliki keluasan hati. Ia tidak akan bisa belajar Buddha Dharma dengan baik dan akan tersesat.
Halaman masa lalu seseorang tidak boleh terlalu sering dibuka. Ketika kita membuka kembali halaman lama, itu akan membawakan banyak debu, mengaburkan pandanganmu. Dalam menekuni Dharma dan bertekun, karena hati yang egois, memikirkan keuntungan diri sendiri, maka akan timbul “kebocoran”. Kebocoran adalah mundur. Kebocoran akan membuat seseorang merosot. Kita harus menjaga pikiran, menjaga perilaku, dan menjaga aura. Pikiran harus benar, tidak peduli menghadapi apa pun, pertama-tama pikirkan hal baik tentang orang lain, maka hati akan menjadi lapang dan cerah. Jagalah perilaku, tidak peduli melakukan hal apapun, pertama-tama pikirkan “Apakah ini perbuatan seorang Bodhisattva?” Karena saya sedang meneladani Bodhisattva; Menjaga aura. Tanyakan pada diri sendiri, “Apakah hari ini saya sedang menyia-nyiakan hidup, menyia-nyiakan energiku?” Kematian seseorang terjadi ketika napas kehidupannya telah habis. Di masa kuno, runtuhnya sebuah negara juga disebut karena “kehabisan energi kehidupan”. Ketika seseorang di rumah sakit menjelang ajal, ia kehilangan kekuatan dan napasnya, itulah yang disebut “terputus napas”. Berharap semua orang dapat menjaga energi qi. Jangan minum alkohol, jangan membual, karena hal-hal itu akan merusak umurmu dan menyakiti fondasimu. Gunakan energi kebaikan untuk melafalkan paritta dengan sungguh-sungguh. Baik-baiklah memperkenalkan Dharma kepada orang lain, dan melakukan perbuatan Bodhisattva. Dengan begitu, barulah kita dapat menumbuhkan energi yang positif di dunia ini.
Mengapa para biksu atau orang yang telah mencapai pencerahan semakin sedikit berbicara? Karena mereka telah tercerahkan, sehingga apa pun yang dibicarakan, ia hanya mengucapkan satu kalimat: “Amitabha.” Kita harus memahami pikiran dan menemukan sifat dasar, barulah kita dapat mengerti segala hal di dunia ini, barulah bisa menjadi Bodhisattva di dunia. Bodhisattva adalah lambang dari welas asih dan kebijaksanaan. Kita belajar kebijaksanaan, belajar untuk berwelas asih. Praktisi Buddhis harus tulus dan jujur — itulah cara terbaik dalam bergaul dan bertindak di dunia. Orang-orang zaman sekarang tidaklah bodoh; jika kamu menipunya, ia tidak mengungkapkannya, tetapi dalam hatinya ia tahu apakah niatmu baik atau hanya ingin mengambil keuntungan darinya. Bersikap tulus dan jujur kepada orang lain adalah membina pikiran dan memupuk karakter. Melakukan segala sesuatu dengan ketulusan. Dengan ketulusan untuk melakukan hal-hal dalam menekuni Dharma dalam hidupmu, berarti kamu telah menemukan “berlian”. Berlian itu adalah harta di dalam hati, yaitu sifat asli dan hati nurani kita.
Manusia harus belajar untuk bertobat, karena pertobatan adalah bagian dari kehidupan jiwa. Pertobatan adalah pembersih jiwa. Kita manusia sangat kotor, setiap hari dipenuhi pikiran buruk, niat yang tidak baik terhadap orang lain, hati kita tidak lagi murni. Sering bertobat akan membuat batin seseorang menjadi kaya dan penuh makna. Ketenangan setelah pertobatan membuat seseorang menjadi lebih dewasa dan percaya diri.“Segala perbuatan jahat yang telah kulakukan di masa lalu, semuanya dikarenakan keserakahan, kebencian, dan kebodohan tanpa awal; dari tubuh, ucapan, dan pikiran timbullah berbagai jenis karma buruk; semua karma buruk ini, kini kusesali sepenuh hati dan selamanya tidak dilakukan lagi.” Praktisi Buddhis harus memiliki pikiran yang benar, membina diri, menata keluarga, mengatur negara, dan mendamaikan dunia. Segalanya diciptakan oleh hati. Bila hati benar, kehidupan pun akan benar. Bila hati tidak benar, kehidupan akan penuh rintangan. Segala hal dalam hidup berawal dari hati. Setiap niat dan pikiran adalah benih dari perbuatanmu. Setiap hari kamu berinteraksi dengan hatimu sendiri, mencari perasaan di dalam hati. Jangan terlalu melekat pada perolehan dan kehilangan di dunia, semua itu hanyalah perasaan dalam hati. Kebahagiaan seseorang adalah sebuah perasaan, penderitaan juga adalah perasaan, akan hilang dengan cepat. Coba pikirkan, sebelum disuntik kita merasa takut akan rasa sakit. Namun ketika jarum sudah masuk dan dicabut, rasa itu pun hilang. Perasaan hanyalah sekejap saja. Perasaan perolehan dan kehilangan dalam hati bukanlah kepemilikan yang nyata. Beri contoh kepada kalian semua, jika uang milik orang lain dititipkan kepadamu, hatimu tidak mengakui bahwa uang itu milikmu, kamu tidak merasa itu adalah uangmu. Meskipun kamu tinggal di rumah ini, tetapi rumah ini kamu yang sewa. Walaupun ini rumahmu, namun hatimu tidak mengakui bahwa itu rumahmu. Ini adalah perasaanmu. Dalam hidup, kebahagiaan dan kesedihan hanyalah sebuah perasaan saja. Coba ingat kembali masa muda kita di sekolah, kita pernah merasa menderita, juga pernah merasa bahagia. Sekarang, di mana perasaan itu? Sudah hilang. Hanya dengan benar-benar memiliki hari ini, baru bisa mendapatkan hari esok yang baik. Orang yang memiliki hari kemarin tidak akan pernah melihat hari esok. Membina pikiran dan menekuni Dharma, yang dibina adalah hati ini, agar hati welas asih diri sendiri dapat memiliki dunia ini.
Belajar Buddha Dharma pada akhirnya adalah sebuah tingkat kesadaran spiritual. Banyak orang menghabiskan hidupnya dengan memaki, membenci, dan iri kepada orang lain, sehingga menimbulkan penderitaan tanpa batas bagi dirinya sendiri. Praktisi Buddhis harus menjadikan kemurnian sebagai jodoh, menjadikan hati yang murni dan kebaikan sebagai sahabat. Kita semua adalah praktisi Buddhis yang berhati baik, kita tidak akan menyakiti orang lain. Namun, di zaman yang dipenuhi nafsu duniawi ini, kemurnian dan kebaikan sering dianggap bodoh oleh orang-orang duniawi. Tetapi justru karena “kebodohan” inilah, kita rela berkorban demi semua makhluk. Sedangkan mereka yang disebut “licik dan pandai menyesuaikan diri”pada akhirnya akan terlihat oleh orang lain dan dibenci oleh orang-orang di dunia. Bodoh tapi menggemaskan. Kita rela menjadi “bodoh” demi perdamaian dunia, demi kebahagiaan manusia, dan demi membantu semua makhluk mencapai Kebuddhaan, kita rela melakukan hal yang bodoh.
Ada tiga orang pekerja yang sedang memasang batu bata di sebuah lokasi pembangunan. Seseorang bertanya kepada mereka sedang melakukan apa? Pekerja pertama menjawab dengan nada kesal, “Tidak lihat, ya? Sedang memasang tembok!”Pekerja kedua mengangkat kepala sambil tersenyum dan berkata, “Kami sedang membangun sebuah gedung besar”Pekerja ketiga sambil bekerja dan bersenandung berkata, “Kami sedang membangun sebuah kota baru.” Sepuluh tahun kemudian, pekerja pertama masih memasang batu bata di lokasi lain; pekerja kedua sudah duduk di kantor menggambar rancangan, ia menjadi seorang insinyur; sedangkan pekerja ketiga menjadi atasan dari dua orang sebelumnya, ia telah berhasil. Pekerjaan yang sederhana juga membutuhkan keberanian dan kebijaksanaan. Semakin tekun seseorang belajar Buddha Dharma dan melafalkan paritta akan semakin bahagia. Seorang praktisi Buddhis yang sederhana selalu menyimpan keyakinan di hatinya: “Kita memiliki jalan untuk kembali ke Surga, kita memiliki rumah.” Orang yang ingin melampaui enam alam reinkarnasi, baru bisa benar-benar melepaskan. Setiap kali melafalkan paritta, setiap perbuatan baik, setiap pengorbanan yang sederhana, semuanya adalah demi membangun sebuah jalan agung welas asih di dalam hati, jalan kembali ke surga, kembali ke tepian pencerahan dan bertemu dengan Ibu kita, Guan Shi Yin Pu Sa.
