Melakukan Kebajikan dan Menjalankan Nidana, Penuh Welas Asih Menyelamatkan Semua Makhluk (Bagian 2)
Seminar Dharma Johor Bahru - Malaysia, 22 Agustus 2015
.
Penderitaan dalam hidup manusia sebenarnya dicari oleh dirinya sendiri. Terlalu memanjakan anak, ketika anak sudah besar malah tidak berbakti kepada orang tua. Terlalu keras terhadap diri sendiri dan terlalu mengejar juga dapat membuat diri mengalami depresi. Jika tidak ingin menderita, maka terlebih dahulu jangan membuat orang lain menderita. Orang yang membuat orang lain menderita, dirinya sendiri pasti akan menderita dan menerima balasan karma.
Potensi kesadaran memiliki kebijaksanaan, welas asih memasuki pintu Dharma. Yang kita miliki adalah sifat Kebuddhaan. Menggunakan sifat Kebuddhaan untuk menjalani hidup, menggunakan welas asih untuk menguraikan segala kerisauan dalam hidup. Terkadang, ketika melihat suami marah-marah di rumah, maafkanlah dia, karena mungkin di tempat kerja dia sudah banyak menahan amarah, tekanan, dan beban. Setelah pulang ke rumah, biarkan dia melampiaskan amarahnya, dia sudah sangat sedih. Pulang ke rumah sang istri masih terus-menerus mengomel seperti senapan mesin, dia tentu tidak akan tahan. Namun perempuan juga sangat kasihan. Setelah menikah denganmu, demi keluarga dia telah banyak menderita dan berkorban: melahirkan anak, membesarkan anak, bekerja, mengurus rumah tangga… seluruh hidupnya diberikan untukmu. Kamu tidak memberinya kemewahan dan kebahagiaan, tetapi masih setiap hari memarahinya dan menyalahkannya, maka sebagai seorang pria juga harus berwelas asih kepadanya. Saling memahami satu sama lain, barulah sebuah keluarga dapat dipertahankan. Orang yang mampu mempertahankan keluarganya adalah orang yang memiliki pembinaan diri.
Janganlah melihat kekurangan orang lain, tetapi lihatlah kelebihan mereka. Ada seorang profesor yang sedang mengajar di kelas. Ia menaruh satu titik hitam di atas selembar kertas putih, lalu bertanya, “Peter, apa yang kamu lihat?” “Saya melihat satu titik hitam.”Profesor itu kemudian bertanya lagi, “Anak-anak, apa yang kalian lihat?”Semua murid menjawab bahwa mereka melihat satu titik hitam. Profesor berkata, “Kelemahan manusia adalah sering melihat kekurangan orang lain, tetapi tidak melihat kelebihan mereka. Selembar kertas putih itu seperti hati seseorang. Orang yang begitu baik hati, mengapa kamu tidak melihat kebaikan dan kelebihannya, tetapi justru terus memegang dan tidak mau melepaskan kekurangannya yang sedikit itu?”Dalam keluarga juga demikian, dalam kehidupan sebagai manusia juga demikian. Kita harus melihat kelebihan orang lain dan melupakan kekurangan mereka, barulah kita bisa memperoleh kehidupan yang lebih sempurna tanpa cela.
Kegagalan di dunia ini ibarat seorang anak kecil yang terjatuh. Setelah jatuh lalu bangkit kembali dan terus berjalan maju, itu bukanlah kegagalan; tetapi jika jatuh dan tidak bisa bangkit lagi, itulah kegagalan yang sesungguhnya. Belajarlah untuk mengendalikan hati sendiri, jangan sampai kehilangan kendali atau menjadi emosional berlebihan. Banyak hal dalam kehidupan ini sebenarnya merupakan akibat dari karma (sebab-akibat) di kehidupan lampau. Mengapa dia menikah denganmu? Mengapa anak terlahir di keluargamu? Semua itu memiliki hubungan sebab-akibat. Kadang-kadang kita merasa, “Mengapa hidupku begitu menderita?” Kamu akan kaget, seperti kita yang tanpa sadar menciptakan karma. Master memberikan contoh: ketika kita menggunakan kartu kredit, kita tidak merasa sedang mengeluarkan uang. Namun saat tagihan datang, kita akan terkejut, “Wah, ternyata saya sudah menghabiskan begitu banyak uang!” Demikian pula manusia, setiap hari melakukan sedikit demi sedikit perbuatan buruk tanpa menyadarinya. Ketika karma buruk itu meledak atau berbuah, barulah menyadari bahwa ternyata diri kita telah melakukan begitu banyak kesalahan. Namun kalian yang duduk di sini tidaklah seburuk itu. Kalian datang untuk belajar Buddha Dharma, pada dasarnya kalian adalah orang-orang yang baik.
Ada seorang pria yang setelah menikah, istrinya setiap hari bertengkar dengannya. Karena tidak tahan, ia pergi ke rumah ibu mertuanya untuk mengeluh, mengatakan bagaimana putrinya selalu menindasnya. Namun ibu mertua itu selalu menanggapinya dengan acuh tak acuh. Suatu hari, ketika ibu mertua sedang dalam suasana hati yang buruk dan tidak bahagia, pria itu kembali datang mengeluh. Ibu mertuanya berkata, “Masalah sekecil ini saja, kamu setiap hari datang ke rumahku. Apakah produk yang sudah dijual, pabrik harus bertanggung jawab seumur hidup?”Menantu itu merasa sedih dan berkata, “Setidaknya harus ada layanan purna jual, bukan?” Seseorang yang tidak mampu menyelesaikan kerisauannya sendiri dan ingin bergantung pada orang lain, berarti kekurangan kebijaksanaan. Urusan sendiri, apakah orang lain bisa menyelesaikannya? Siapa yang membuat masalah, dialah yang harus menyelesaikannya. Hari ini jika kamu menyinggung perasaan istrimu, maka kamu harus meminta maaf kepadanya. Menggunakan hati nurani dan kemampuan batin yang tulus untuk menyelesaikan segala persoalan, itulah yang disebut memiliki kebijaksanaan Bodhi.
Orang-orang yang percaya bahwa dirinya dapat berubah melalui belajar Buddha Dharma, sesungguhnya telah memiliki keyakinan. Asalkan terus tekun bertahan, pasti dapat berubah. Sebaliknya, orang yang tidak percaya bahwa dirinya bisa berhasil, paling hanya bisa mencapai sebatas apa yang ia yakini; ia tidak akan berusaha melampaui batas imajinasinya sendiri. Seorang penderita kanker, setelah belajar Buddha Dharma, setiap hari percaya bahwa Guan Shi Yin Pu Sa pasti akan menolongnya dan keajaiban akan terjadi. Keyakinannya menghasilkan suatu kekuatan, hingga bahkan sumber sel-selnya perlahan dapat dipulihkan. Sedangkan penderita kanker kulit lainnya, setiap hari hanya khawatir apakah kankernya akan menyebar. Setelah belajar Buddha Dharma pun, ia masih khawatir apakah Bodhisattva akan menolongnya atau tidak, dan ternyata sel-sel kankernya benar-benar menyebar dengan sangat cepat. Seseorang yang tidak memiliki tekad, tidak akan memiliki dorongan untuk maju. Kita harus memperbaiki kebiasaan buruk dalam diri sendiri, dan dengan teguh membuat hati kita menjadi semakin baik. Dengan adanya dorongan seperti ini, segera ia akan mendapatkan kasih sayang dan penghormatan dari semua orang.
Seorang tukang kayu sangat ahli membuat pintu. Ia membuat sebuah pintu untuk rumahnya sendiri. Menurutnya, pintu itu menggunakan bahan yang kokoh dan pengerjaannya sangat baik, sehingga pasti tahan lama. Setelah beberapa waktu, paku pada pintu berkarat, lalu sebuah papan terlepas. Tukang kayu itu mencari sebuah paku untuk memperbaikinya. Dari luar, pintu itu tampak utuh seperti semula. Tidak lama kemudian, ada lagi papan yang terlepas, lalu ia memasang papan baru. Setelah itu, gerendel pintu rusak, maka ia mengganti gerendel yang baru… Beberapa tahun kemudian, meskipun pintu itu telah berkali-kali rusak, karena diperbaiki dengan teliti oleh sang tukang kayu, pintu itu tetap kokoh dan masih bisa digunakan. Tukang kayu itu berkata, “Saya sangat bangga. Untung saya memiliki keahlian ini, sehingga pintu rumah kami rusak pun masih bisa dipakai lagi.”Namun suatu hari, tetangganya berkata kepadanya, “Kamu seorang tukang kayu, coba lihat pintu rumahmu itu!” Tukang kayu itu pun melihat dengan seksama. Barulah ia menyadari bahwa pintu-pintu rumah tetangganya memiliki model yang baru dan indah, kualitasnya juga sangat baik, sedangkan pintu rumahnya sendiri sudah tua, rusak, dan penuh tambalan. Tukang kayu itu baru mengerti bahwa keahliannya itu telah menghambat perkembangan “pintu” rumahnya sendiri.
Kisah ini memberi tahu kita bahwa sebagai praktisi Buddhis, meskipun kita sering belajar Buddha Dharma dan kadang terus-menerus berganti aliran pintu Dharma, tetapi Master berharap kalian bisa mengubah cara berpikir. Terkadang kebijaksanaan kita juga seperti sebuah pintu, kita akan mengurung diri di dalamnya. Kita mengira pintu itu akan memberi manfaat bagi kita seumur hidup, namun di periode akhir Dharma, meskipun dasar ajaran Buddha yang kita pelajari tidak berubah, tetapi caranya harus menyesuaikan dengan kondisi lingkungan. Bill Gates pernah berkata: “Kesuksesan saya adalah karena saya selalu melihat dunia dengan teleskop.” Belasan tahun yang lalu ia sudah mengatakan bahwa setiap keluarga akan memiliki sebuah komputer, dan ia pun berhasil membuktikannya. Orang yang mampu melihat jauh ke depan akan memperoleh manfaat. Di periode akhir Dharma ini, kita perlu meningkatkan cara belajar Buddha Dharma, harus memiliki dasar ajaran Buddha, menemukan pintu Dharma yang lebih sesuai dengan diri kita. Dengan demikian, barulah kita bisa menembus “pintu lama” kita sendiri dan melihat dunia luar yang indah—yakni Alam Sukhavati.
Seseorang yang terus hidup dalam menuntut keinginan, ia tidak akan pernah mendapatkan kepuasan batin. Jika kita menurunkan standar keinginan kita sedikit saja dan mudah merasa cukup“saya punya makanan seperti ini sudah cukup,” “punya uang segini sudah puas,”maka kita akan selalu bahagia. Banyak orang terus merasa tidak puas, ia akan terus mengejar dan menuntut. Ketika keinginan itu tidak tercapai, ia akan melupakan sifat dasar dan hati nuraninya, karena ia ingin terus mengejar. Ketenaran dan kekayaan seseorang sebenarnya tidaklah nyata. Dulu banyak orang yang memiliki ketenaran tetapi sekarang, berapa banyak yang masih mengingat mereka?
Manusia hidup dalam kepemilikan yang sementara, namun mengira dirinya sangat bahagia, dan tidak pernah memikirkan bahwa hidup ini singkat. Coba pikirkan, ketika kita datang ke dunia ini, apa yang kita bawa? Tidak membawa apa-apa, bahkan nama pun belum ada. Tetapi saat akan pergi, kita seakan-akan ingin membawa semuanya—rumah, istri, mobil… Namun, apakah semua itu bisa dibawa pergi? Saat meninggal, kita juga tidak membawa apa-apa. Kebakaran hutan di Australia, dalam sekejap waktu membakar habis seluruh jerih payah seorang pengusaha kehutanan yang memiliki setengah gunung. Hidup ini tidak kekal, segala sesuatu bisa hilang kapan saja. Ketika manusia kehilangan, hatinya akan sangat sakit. Jika tidak ingin merasakan penderitaan karena kehilangan, maka jangan hidup hanya demi mengejar untuk memiliki. Semakin banyak yang dimiliki, semakin banyak pula yang akan hilang; semakin sedikit nafsu keinginan, semakin sedikit penderitaan. Tidak masalah terhadap segalanya, tidak menuntut dan tidak serakah, maka hidup akan terjamin damai dan selamat.
Raja Wei Wen bertanya kepada tabib terkenal Bian Que: “Kalian tiga bersaudara sama-sama mahir dalam ilmu pengobatan. Sebenarnya siapa yang paling hebat?”Bian Que menjawab:“Yang Mulia, kakak tertua saya yang paling hebat, kakak kedua di urutan berikutnya, dan saya yang paling kurang.” Raja Wen bertanya lagi:“Kalau begitu, mengapa kamu yang paling terkenal?” Bian Que menjawab:“Kakak tertua saya mengobati penyakit sebelum penyakit itu benar-benar muncul. Karena orang biasa tidak mengetahui bahwa ia mampu melenyapkan penyebab penyakit sejak awal, maka namanya tidak tersebar. Kakak kedua saya mengobati penyakit saat baru mulai muncul. Orang-orang mengira ia hanya mampu menangani penyakit ringan, sehingga namanya hanya dikenal di kampungnya saja. Sedangkan saya mengobati penyakit ketika sudah parah. Orang-orang melihat saya menusukkan jarum pada pembuluh, mengeluarkan darah, atau mengoleskan obat pada kulit, jadi mereka mengira kemampuan saya sangat tinggi, sehingga nama saya pun terkenal di seluruh negeri.”
Ketika manusia menghadapi masalah, mereka biasanya hanya memikirkan hasil akhirnya, tetapi tidak memikirkan mengapa hari ini saya bisa sial, atau mengapa bisa berhasil. Karena itu, jika “mengobati penyakit sebelum muncul,” maka akar penyebabnya bisa dihilangkan. Master sering membantu semua orang melihat lebih awal, ketika melihat ada masalah pada diri kalian, saya akan memberitahukanmu lebih cepat, sehingga kamu bisa segera memperbaiki dan menyembuhkannya. Dua minggu yang lalu, ada seorang teman se-Dharma dari Indonesia. Master melihat bahwa ia akan segera terkena stroke. Ia pun pergi ke rumah sakit untuk diperiksa, dan ternyata benar, ada dua hingga tiga pembuluh darah otak yang tersumbat. Dokter mengatakan bahwa serangan itu bisa terjadi dalam waktu dekat. Karena itu, mengobati penyakit harus dilakukan sejak tahap awal. Membantu orang lain juga harus sejak awal, sehingga mereka akan berterima kasih kepadamu. Jangan menunggu sampai sesuatu benar-benar terjadi baru mau melakukannya, kamu pasti akan menyesal.
Praktisi Buddhis harus memahami untuk mencari akibat dari sebabnya. Hari ini kamu pulang ke rumah dan melihat istrimu tidak bahagia, kamu harus memahami mengapa hal itu terjadi. Orang-orang sekarang sering tidak memperhatikan sebab, dan hanya tahu bagaimana memperbaiki keadaan setelah sesuatu terjadi. Praktisi Buddhis sejati harus menanam sebab yang baik agar memperoleh akibat yang baik. Dengan melihat kehidupanmu sekarang, kamu bisa mengetahui kehidupan masa lalumu; dan jika ingin tahu apakah kehidupan mendatang akan baik atau tidak, maka kamu harus menghargai kehidupan saat ini. Dalam pembinaan diri, yang paling penting adalah membuat saat ini menjadi baik, mulailah dari sekarang, jangan menunggu lagi. Jika kamu ingin menjadi orang baik, mulailah menjadi baik dari sekarang, dan kamu akan segera menjadi orang yang berbudi baik. Jika kamu berkata akan menjadi orang baik di kemudian hari, maka di masa depan kamu tetap saja akan menjadi orang yang tidak baik. Sebab musabab (nidana) adalah suatu keseimbangan, suatu proses memperoleh dan melepaskan. Pernikahan banyak orang mengapa tidak berjalan baik? Itu karena mereka tidak memahami karma dan jodoh. Seorang istri menikah denganmu, itu adalah jodoh. Seorang anak lahir dalam keluargamu juga datang untuk “menagih” atau “membayar” hutang karma. Mengapa sering dikatakan bahwa anak laki-laki lebih banyak “menagih hutang”, sedangkan anak perempuan lebih banyak “membayar hutang”? Anak laki-laki adalah ayah dan ibu berutang padanya di kehidupan lampau, sehingga mereka punya alasan datang untuk menagih utang. Sedangkan anak perempuan umumnya lebih lembut, mereka datang untuk membayar hutang, sehingga setelah menikah pun mereka sering memperhatikan dan membantu keluarga asalnya. Karena itu orang berkata anak perempuan seperti sweater wol—hangat dan dekat di hati; sedangkan anak laki-laki seperti mantel—begitu dilepas, tidak ada lagi. Oleh sebab itu, perempuan tidak boleh diperlakukan dengan kasar atau ditindas. Dalam masyarakat modern pun, perempuan dan anak-anak sangat dihargai dan dilindungi. Di Australia juga dikenal prinsip “ladies first” (wanita didahulukan). Orang yang suka bersaing atau berdebat dengan perempuan seharusnya belajar untuk berubah. Dalam menekuni Dharma, hal pertama yang harus dilakukan adalah menghormati sesama teman se-Dharma dan juga anak-anak kita.
Ketika seseorang tidak bisa berpikiran jernih, ia akan melakukan banyak hal yang tidak perlu. Ada seorang gadis yang menangis di taman. Seseorang menghampirinya dan bertanya mengapa ia menangis begitu sedih. Gadis itu berkata, “Pacar saya meninggalkan saya. Saya begitu baik kepadanya, tetapi dia malah memutuskan saya…” Orang itu berkata, “Kamu sangat bodoh!” Gadis itu menjadi marah karena dimarahi, lalu berkata, “Saya sudah sangat sedih, kenapa kamu masih memarahi saya bodoh?” Orang itu berkata, “Sebenarnya kamu tidak memahami kebenaran. Kamu tidak perlu bersedih. Yang seharusnya bersedih adalah mantan pacarmu. Mengapa? Karena kamu kehilangan seseorang yang sebenarnya tidak mencintaimu, sedangkan dia kehilangan seseorang yang sangat mencintainya. Jadi, seharusnya dialah yang sedih.”
Takdir bisa berubah, tetapi manusia tidak dapat melihatnya. Hakikat persoalannya adalah bahwa hal buruk bisa berubah menjadi hal baik. Bagi orang yang membina hati dan pikiran, menderita itu adalah hal yang baik. Tanpa kepahitan, dari mana datangnya manis? Banyak orang yang mulai belajar Buddha Dharma karena menghadapi kesulitan dan kegagalan. Banyak orang baru menemukan Bodhisattva setelah mengalami penderitaan, dan baru teringat untuk belajar Dharma ketika kerisauan bertambah banyak. Aturlah mentalitas diri dengan baik. Jangan terlalu menganggap serius perasaan duniawi, uang, dan materi, karena semua itu akan berlalu, segalanya bukanlah milikmu; kamu hanya memilikinya untuk sementara waktu. Seorang praktisi Buddhis, di dalam hatinya harus ada tujuan besar dalam belajar Buddha Dharma. Dengan tujuan itu, penderitaan di dunia pun berani dihadapi. Namun jika di dalam hati tidak ada jalan Bodhisattva, maka bahkan sehelai rumput kecil pun bisa membuatmu terbungkuk. Kita dalam menekuni Dharma, yang pertama harus dipelajari adalah memperoleh jalan pembinaan yang benar, yaitu harus menjaga sila: yang tidak seharusnya dilakukan, jangan dilakukan; yang tidak seharusnya dilihat, jangan dilihat; yang bukan milik kita, jangan diambil. Inilah yang disebut sebagai seorang praktisi Buddhis.
Seorang peraih Hadiah Nobel Sastra di Amerika adalah orang Rusia. Ia tidak pernah kuliah, tetapi berhasil meraih penghargaan Nobel Sastra. Suatu hari, ketika diwawancarai wartawan, ia ditanya, “Boleh kami tahu, Anda lulusan universitas mana hingga bisa mendapatkan penghargaan sebesar ini?” Ia menjawab, “Saya tidak pernah kuliah, saya hanya pernah belajar di sekolah menengah dan sekolah menengah atas.” Banyak orang merasa heran, lalu bertanya lagi, “Mohon bertanya, sekolah mana yang paling berkesan bagi Anda?” Ia menjawab, “Yang paling berkesan bagi saya adalah taman kanak-kanak dan tempat penitipan anak. Di sanalah saya belajar hal-hal yang sekarang sulit dipelajari—kalau menemukan barang harus dikembalikan, kalau ada hal baik harus dibagi dengan orang lain, merusak fasilitas umum harus mengganti rugi, dan dalam segala hal harus terlebih dahulu bersikap baik kepada orang lain baru memikirkan diri sendiri.”Ketika kita masih kecil, kita semua memahami kebajikan, kebenaran, tata krama, kebijaksanaan, dan keyakinan. Namun setelah dewasa, kita justru melupakan semua itu, dan hanya tahu hidup dengan mementingkan diri sendiri. Karena itu, kita harus kembali ke asal, menemukan kembali hati awal yang murni. Seorang praktisi Buddhis harus memiliki tujuan dan menjaga sila, barulah dapat mencapai penerangan sempurna.
Banyak orang bahkan tidak percaya bahwa dirinya sendiri mampu mencapai sesuatu; mereka hanya percaya pada orang lain. Bahkan jika orang lain salah, mereka tetap mempercayainya. Ada sebuah lelucon: Seorang pria mengalami kecelakaan mobil dan dibawa ke rumah sakit untuk diselamatkan. Istrinya bertanya, “Dokter, apakah suami saya terluka parah?” Dokter menjawab, “Kemungkinan dia sudah meninggal.”Begitu mendengar itu, pria tersebut berjuang dan berkata, “Saya belum mati… saya masih hidup…”Namun istrinya segera menghentikannya dan berkata, “Diam! Dokter lebih tahu daripada kamu. Kalau sudah mati ya mati saja, untuk apa kamu pura-pura hidup?”
Kita sering mempercayai kecurigaan dan rasa iri hati orang lain, tetapi tidak percaya pada kemampuan diri sendiri dan kenyataan yang sebenarnya. Apa pun yang orang lain katakan, kita langsung percaya, dikendalikan oleh mereka. Ada orang yang mendengar peramal berkata, “Kamu akhir-akhir ini punya keberuntungan rezeki, bisa menang lotere,” dia ikut antre membeli, lalu datang dan bertanya, “Master, saya harus melafalkan paritta apa supaya bisa berhasil?” Saya beri tahu dia, “Lafalkan paritta Zhun Ti Shen Zhou.” Saya tidak tahu kalau dia pergi membeli lotere, dan saat menggosok tiketnya dia sambil melafalkan paritta. Menjadi kaya itu sudah ada dalam takdir. Sebagian orang tidak memiliki rezeki, seberapa banyak pun dia menggosok, tetap tidak akan mendapatkannya. Banyak orang, ketika baru mengenal pacar, sang pacar berkata, “Saya akan baik padamu, akan merawatmu dan mencintaimu seumur hidup,” dia langsung percaya. Namun dia tidak percaya bahwa istrinya di rumah sudah melayaninya selama puluhan tahun. Praktisi Buddhis harus menghadapi kenyataan, hidup di saat ini, dan menyelesaikan masalah, itulah kehidupan yang penuh kebijaksanaan.
