Membangkitkan Sifat Kebuddhaan di Dalam Hati, Membangun Tanah Suci dalam Batin (Bagian 1)
Seminar Dharma Hong Kong, 20 Juni 2015
Sukacita Dharma membawa kebebasan, ajaran Buddha Dharma membuka hati dan pikiran. Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa Yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang. Terima kasih kepada para Dewa Pelindung Dharma, dan para Buddha! Terima kasih kepada para biksu dan para tamu terhormat, serta para teman se-Dharma dan relawan dari berbagai negara di seluruh dunia, serta para relawan dari Korps Penyelamat St. John Hong Kong — terima kasih atas segala pengabdian kalian, jasa kebajikan tiada tara! Berkat belas kasih para Bodhisattva, terselenggaralah seminar Dharma yang begitu agung ini, yang membantu lebih banyak orang terbebas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan, membangun Tanah Suci dalam kemanusiaan dan dalam pikiran. Menutup pintu bagaikan berada di pegunungan sunyi. Bila hati tenang, di mana pun dapat melihat Tanah Suci. Seseorang yang tidak serakah adalah orang yang memiliki potensi kesadaran. Seseorang yang tidak membenci adalah orang yang memahami hukum sebab-akibat. Seseorang yang tidak bodoh adalah orang yang berpuas diri dan selalu bahagia. Hanya dengan meninggalkan nafsu keinginan, barulah seseorang dapat mencapai kebebasan dan pembebasan sejati dalam batin.
Kebudayaan Tiongkok memiliki sejarah yang panjang dan mendalam. Ajaran Buddha Dharma membimbing kehidupan manusia. Pendidikan Konfusianisme melalui ajaran Kongzi dan Mengzi membuat manusia menjadi lebih rasional, mencintai negara dan rakyat, negara makmur dan rakyat hidup damai. Kita harus menggunakan ajaran Buddha Dharma untuk membangun rumah batin yang sehat, menggunakan welas asih untuk menguraikan penderitaan dan kesedihan dunia, serta menggunakan kekuatan tekad untuk mewujudkan dunia batin yang suci dan damai. Kehidupan manusia dijalani melalui berbagai pilihan, dan pilihan itu bergantung pada kebijaksanaan. Banyak orang karena salah memilih dalam hidupnya, akhirnya menyakiti dirinya sendiri, juga menyakiti keluarganya dan orang lain. Hari ini, kita memilih untuk belajar Buddha Dharma, ini dapat mengubah seluruh hidup kita. Kita harus menggunakan kebijaksanaan untuk hidup di dunia yang penuh dengan kerisauan ini, karena kerisauan adalah bodhi. Orang yang mampu menyelesaikan masalah disebut cerdas, sedangkan mereka yang mampu mengatasi kerisauan di dunia adalah Bodhisattva di dunia.
Di dunia ini, segala sesuatu tidaklah kekal. Gempa bumi besar di Nepal menewaskan hampir sepuluh ribu orang. Topan yang menyebabkan kapal tenggelam telah menyeret berapa banyak jiwa ke kota kematian yang sia-sia. Wabah Ebola menewaskan tujuh ribu orang. Kecelakaan lalu lintas di seluruh dunia merenggut 12,4 juta nyawa, dan di antaranya ada 270.000 orang yang meninggal karena kecelakaan pejalan kaki. Keluar rumah saja sudah membuat orang khawatir akan kematian — ini adalah kenyataan. Bencana alam dan bencana ulah manusia terus terjadi, kecelakaan pesawat, setiap hari setiap orang takut dirinya akan terkena kanker, hidup dalam ketakutan. Di dunia ini, rata-rata setiap satu menit ada satu penderita kanker yang meninggal. Setiap menit, 106 orang meninggal di seluruh dunia, dan dalam setahun jumlahnya mencapai 5,5 juta orang, Ditambah lagi dengan ratusan juta orang yang menderita depresi, fobia, gangguan jiwa, dan berbagai penyakit yang membuat mereka tersiksa hingga merasa hidup lebih buruk daripada mati. Kita harus berpikir, manusia sama sekali tidak mampu melindungi dirinya sendiri. Kita bahkan tidak bisa melindungi diri kita sendiri, bagaimana mungkin kita bisa melindungi anak-anak kita, orang tua kita, atau kerabat kita? Penyakit timbul dari hati, kita hidup dalam penderitaan dan kerisauan, maka kita harus belajar membebaskan jiwa. Ada orang bertanya kepada Master, “Apa itu pencerahan?” — Pencerahan adalah bisa berpikiran terbuka “Apa itu pembebasan?” Orang yang bisa berpikiran mengerti, melihat melampaui kebenaran, tidak masalah, tidak serakah, tidak menuntut, berpuas diri dan selalu bahagia, maka akan terbebaskan.
Ada orang yang menghabiskan setengah dari hidupnya untuk kerisauan yang tiada akhir. Orang dalam kesibukan hidup yang ekstrem, meskipun telah memperoleh kehormatan, kekayaan, kedudukan, dan berbagai pencapaian yang gemilang, namun semua itu dibayar mahal dengan hilangnya kesehatan, kasih sayang keluarga, persahabatan, dan cinta. Tak seorang pun benar-benar memahami betapa keras dan menyakitkannya kenyataan yang harus ditukar demi mendapatkan ketenaran dan kedudukan itu. Semua ketenaran itu akan segera lenyap seiring berlalunya waktu. Ketika seseorang disiksa oleh penyakit, banyak orang masih keras kepala dan tidak sadar, terus memaksakan diri, mengorbankan hidupnya demi mengejar segala hal duniawi yang ilusi, tanpa berpikir atau merenungkan panggilan sifat Kebuddhaan yang terdalam di dalam hatinya. Orang sama sekali tidak memahami bagaimana menggunakan sifat Kebuddhaan itu untuk membuat batinnya mencapai keadaan yang paling sempurna. Praktisi Buddhis harus menggunakan sifat Kebuddhaan yang paling murni dalam lubuk hatinya untuk hidup. Hanya dengan memahami sifat Kebuddhaan, seseorang dapat merasa puas. Di dunia ini, kita harus meneladani Bodhisattva dan berperilaku seperti Buddha, agar kelak dapat menjadi Buddha atau Bodhisattva di Alam Surga.
Banyak orang dalam hidupnya telah melakukan banyak kesalahan. Banyak pula yang merasa gelisah dan tersiksa karena kesalahan yang pernah mereka perbuat. Masa lalu hanya mewakili masa lalu, ia tidak seharusnya menjadi alasan untuk kehilangan keyakinan terhadap masa depan diri sendiri. Banyak orang sering mengenang, menyesali, dan meratapi kehilangan hanya akan menambah kerisauan mereka. Memandang rendah diri sendiri akan kehilangan sifat dasar.
Seorang anak berusia lima belas tahun sangat nakal, kasar, dan tidak sopan. Di sekolah, ia sering membuat masalah dan berkelahi dengan teman-temannya, sehingga tidak ada seorang pun yang mau bermain dengannya. Ia merasa dirinya sudah tidak bisa tertolong lagi. Namun, ada satu guru bernama Ferra yang berbeda. Suatu hari setelah pulang sekolah, Ferra memanggilnya dan berkata, “Guru sedang menghadapi sebuah pertanyaan sulit. Bisakah kamu membantu guru menemukan jawabannya? Ada tiga kandidat: Yang pertama, agak percaya takhayul, memiliki dua selingkuhan, merokok berat, dan sangat gemar minum alkohol. Yang kedua, suka bermalas-malasan di tempat tidur, biasanya siang hari baru bangun. Ia pernah mengisap opium — candu. Yang ketiga, pernah menjadi pahlawan perang negaranya, tidak merokok, hanya sesekali minum bir, dan semasa mudanya tidak pernah melakukan hal yang melanggar hukum. Nak, jika Tuhan harus memilih satu di antara tiga orang ini untuk menjadi seseorang yang membawa manfaat bagi umat manusia, menurutmu siapa yang akan dipilih-Nya?” Anak itu berkata, “Tentu saja orang ketiga.” Ferra berkata, “Tidak benar. Tahukah kamu siapa orang ketiga itu? Dia adalah Adolf Hitler, kejahatannya dikutuk oleh seluruh orang di dunia.” Anak itu menatap gurunya dengan tatapan kosong, tidak mengerti maksudnya. Guru Ferra kemudian melanjutkan, “Kalau begitu, tahukah kamu siapa dua orang pertama tadi?” Ferra berhenti sejenak, lalu berkata, “Orang pertama bernama Franklin Roosevelt, satu-satunya presiden dalam sejarah Amerika Serikat yang terpilih kembali beberapa kali. Orang kedua adalah Winston Churchill, ia adalah perdana menteri paling terkenal dalam sejarah Inggris.” Ferra mengelus kepala anak itu dan berkata, “Nak, kamu baru saja memulai hidupmu. Kehormatan dan keterpurukan di masa lalu hanya mewakili masa lalu. Jika kamu mau memperbaiki kekuranganmu di masa lalu, segalanya bisa dimulai kembali.” Mata anak itu berlinang air mata, dan ia mengangguk dengan tekad yang kuat. Bertahun-tahun kemudian, nama itu dikenal banyak orang, ia adalah Robert Harrison, finansial muda paling terkenal di Wall Street.
Hati manusia bagaikan sebuah pabrik dosa yang beroperasi 24 jam tanpa henti sepanjang tahun. Setiap hari hidup dalam keserakahan, kebencian, dan kebodohan, terus-menerus menciptakan karma. Di dunia ini tidak ada kesalahan yang terjadi tanpa niat, semua kesalahan berasal dari hati. Orang yang membina pikiran harus mampu mengendalikan hatinya sendiri. Tujuan dari membina diri adalah untuk mengenali hati kita, menemukan kembali diri yang tersesat, dan menyempurnakan kesadaran sejati dalam kehidupan. Seorang praktisi Buddhis sejati menekankan pada pembinaan diri. Membina diri harus membina pikiran; belajar Buddha Dharma berarti membina pikiran dan membina diri. Orang yang terlalu peduli pada dirinya sendiri biasanya memiliki lebih banyak kerisauan. Terlalu peduli pada diri sendiri, kerisauan akan semakin banyak. Sedangkan mereka yang tanpa pamrih dan selalu memikirkan orang lain hidup dengan penuh kebaikan, bebas, dan bahagia. Tidak terikat pada hal apa pun, hati pun tenang tiada halangan. Seseorang yang tidak mampu memaafkan orang lain tidak akan pernah merasakan kedamaian di hati. Kita harus meninggalkan kecerdikan duniawi dan mencari kebijaksanaan sejati yang berasal dari sifat dasar kita. Jika ingin membuat orang lain bahagia, pertama-tama kita sendiri harus bahagia. Harus membuat sifat Kebuddhaan kita tetap abadi, kebajikan Buddha menetap selamanya, semoga kita dapat bertahan sepanjang masa, memberi manfaat dan kebahagiaan bagi semua makhluk.
Di New York, ada sebuah gedung pencakar langit bernama Empire State Building. Di Taipei, ada pula gedung tinggi bernama Starlight Tower. Keduanya menjulang tinggi, tetapi untuk membangun gedung seperti itu, dibutuhkan waktu tiga tahun hanya untuk mengerjakan fondasinya. Setelah fondasi selesai, barulah dalam waktu sekitar satu setengah tahun gedung yang megah itu dapat berdiri. Karena itu, semakin tinggi sebuah bangunan, semakin kokoh pula fondasinya harus dibuat. Seorang praktisi Buddhis yang ingin benar-benar berhasil dalam pembelajaran Dharma, maka kepribadian, sifat dasar, dan karma pribadi harus diperhatikan. Jika fondasi diri tidak kuat, bagaimana mungkin bisa naik ke surga dan berjumpa dengan Guan Shi Yin Pu Sa? Hanya dengan fondasi yang kokoh, barulah seseorang dapat mecapai pembinaan yang tinggi. Banyak orang setiap hari ingin meraih kesuksesan, tetapi mereka tidak mau bersungguh-sungguh. Penulis terkenal Lin Qingxuan sering berkata, “Saya adalah anak seorang petani. Keluarga saya sudah empat generasi bertani. Setiap tahun hanya ada satu kali panen, tetapi kami tetap harus turun ke ladang setiap hari, bekerja dan membajak tanah. Hanya dengan kerja keras setiap hari, pada akhir tahun barulah kami bisa memanen hasilnya.” Setiap kali kita melihat banyak orang mengantre menunggu lift, selalu ada juga orang yang memilih naik tangga. Meskipun naik tangga lebih melelahkan, tetapi malah akan lebih cepat. Ada orang yang sepanjang hari menunggu lift, seperti halnya banyak orang di masyarakat sekarang yang terus menunggu kesempatan. Namun, ada juga orang yang terus menaiki tangga. Ketika mereka sudah sampai di atas dan menyelesaikan urusannya, lalu turun kembali, mereka masih melihat antrean panjang di depan lift, orang-orang itu masih menunggu. Karena terlalu banyak yang menunggu lift, kesempatan bagi mereka justru menjadi semakin sedikit. Logika yang sama, jika kita meninggalkan “lift kehidupan”, kita akan mengerti bahwa tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan. Semuanya mengandalkan kesungguhan hati dalam menekuni Dharma. Praktisi Buddhis tidak ada jalan pintas. Semua harus dimulai dari diri sendiri, melafalkan paritta, melakukan pelepasan makhluk hidup, berikrar, harus tekun, siap menanggung penderitaan, serta kesabaran. Inilah fondasimu, dan inilah awal dari perjalananmu dalam belajar Buddha Dharma.
Ada seorang pemuda dari Hangzhou, pada usia 18 tahun, ia diterima di Universitas Tongji di Shanghai. Ketika berusia 20 tahun, ia dikirim ke Universitas München di Jerman untuk melanjutkan studi. Pada usia 26 tahun, ia meraih gelar doktor dan kemudian bekerja di fakultas kedokteran di Jerman. Delapan bulan kemudian, ia melakukan operasi pertamanya sebagai dokter, sebuah operasi kecil untuk usus buntu. Namun, lima hari setelah operasi, pasien tersebut meninggal dunia. Ia sangat sedih, hasil autopsi menunjukkan bahwa operasi itu tidak bermasalah, bukanlah kesalahannya. Namun, gurunya berkata satu kalimat, “Dia adalah seorang ibu dari empat anak.” Kalimat ini menusuk hatinya seperti sebilah pisau, membuatnya tak pernah ia lupakan seumur hidupnya. Kata-kata itu memengaruhi lebih dari enam puluh tahun perjalanan kariernya sebagai ahli bedah, hingga akhirnya ia menjadi tokoh besar dalam dunia kedokteran Tiongkok—Akademisi Qiu Fazu. Ketika wartawan bertanya kepadanya, “Apa pencapaian terbesar dalam hidup Anda?”, ia berkata karena gurunya mengatakan “Dia adalah seorang ibu dari empat anak.” Kalimat itu membuatnya belajar untuk memperlakukan serta mencintai setiap pasiennya dengan tulus dan sepenuh hati.”
Manusia seharusnya belajar berpuas diri di tengah penderitaan, belajar menjadi bijaksana setelah melalui cobaan, dan belajar berwelas asih setelah merasa terharu. Dalam perjalanan hidup, kita boleh mengingat sebab-akibat kehidupan dan masa lalu yang penuh penderitaan, tetapi juga harus melupakan, kita harus belajar bertobat untuk membuat diri sendiri menjadi lebih kuat dan berusaha lebih giat untuk menunaikan tanggung jawab hidup yang kita berikan demi semua makhluk.
Kita seharusnya melepaskan kebahagiaan yang seharusnya kita miliki. Banyak orang berpikir bahwa dirinya seharusnya bahagia. Kita manusia harus melepaskan kebahagiaan yang dianggap wajib dimiliki, melepaskan keberhasilan yang dianggap seharusnya diraih, kamu akan menyadari bahwa hidup tidak lagi terasa begitu berat. Sang Buddha berkata: “Beberapa belenggu adalah kita sendiri yang mencarinya, beberapa penderitaan adalah kita sendiri yang bersedia. Tidak ada kemalangan yang mengikuti kita seperti bayangan, yang ada hanyalah kemelekatan yang enggan kita lepaskan bahkan sampai mati.” Percayalah pada kekuatan dirimu sendiri. Yang membelenggumu adalah dirimu sendiri, dan yang dapat membebaskanmu juga hanyalah dirimu sendiri. Penderitaan manusia terletak pada kemelekatan yang berlebihan terhadap apa yang dimilikinya. Dengan susah payah membesarkan anak, berpikiran bahwa anak pasti akan berbakti kepadamu. Di dunia ini, berpikir bahwa jika berbuat baik kepada orang lain, maka orang lain pasti akan membalas kebaikanmu. Mengira orang yang mencintaimu akan selamanya mencintaimu; mengira keluarga dan orang-orang terdekat akan selalu menemanimu … menaruh semua keinginan dan harapan diri sendiri pada dunia yang setiap harinya berubah dan tidak kekal ini. Jika lebih cepat menyadari bahwa manusia bisa berubah, segala hal di dunia ini akan berubah, bahkan benda-benda pun akan berubah, maka kita tidak akan membuat hidup kita sendiri menjadi sulit, juga tidak akan membuat diri sendiri sedih dan meneteskan lebih banyak air mata. Kehilangan dan memiliki hanyalah keadaan yang normal dalam hidup. Kita praktisi Buddhis memahami hukum karma, tahu Nidana dan balasan karma, maka kita bisa mengatasinya. Ketika jodoh datang, jodoh baik kita bisa melanjutkannya. Jika jodoh buruk datang, kita harus menguraikannya. Tidak peduli jodoh apapun yang datang, karena kita adalah praktisi Buddhis, kita harus belajar menyesuaikan jodoh.
Ketika kita merasa bahwa seharusnya kita bahagia, sebenarnya saat itulah kita harus berwaspada, karena penderitaan akan segera mulai. Mengapa demikian? Karena manusia memiliki satu pemahaman yang salah, selalu merasa bahwa segala sesuatu di dunia ini seharusnya berjalan sesuai keinginannya. Misalnya, “Saham sudah turun begitu lama, saya rasa seharusnya naik kembali,” namun hasilnya malah terjebak rugi. Berpikir, “Bos begitu menghargai saya, seharusnya dia akan menaikkan gaji atau mempromosikan saya,” namun akhirnya kecewa. “Sudah lama berpacaran, dia pasti akan menikah denganku,” akhirnya berpisah. Akhirnya bisa menikah, merasa bahwa memiliki rumah tangga baru pasti akan membawa kebahagiaan, alhasil setiap hari bertengkar. Bertahun-tahun bekerja keras, merasa bahwa dirinya akan sukses, namun akhirnya gagal. Ketika kita menyadari bahwa hal-hal yang menurut kita seharusnya terjadi ternyata tidak terjadi, saat itulah kita akan mulai tidak bahagia. Kita mengeluh Tuhan tidak adil, lambat laun menjadi pikiran buntu, merasa hidup sangat lelah, bahkan merasa tidak sanggup lagi melanjutkan hidup. Hari demi hari, kita pun akan depresi dan jatuh sakit. Praktisi Buddhis asalkan bisa memahami makna sejati dari melepaskan yang dikatakan Sang Buddha. Melepaskan semua kebahagiaan yang kamu anggap harus miliki, barulah bisa memperoleh kebahagiaan sejati dalam hidup ini.
Ada sebuah humor kecil yang bercerita bahwa manusia tidak hanya pandai mencari masalah untuk dirinya sendiri, tetapi juga suka menimbulkan masalah bagi orang lain. Ada seorang wanita sering marah dan menderita sakit kepala. Selama bertahun-tahun, dokter tidak bisa menyembuhkan penyakitnya. Akhirnya, seorang dokter menyarankannya untuk segera menikah. Setahun kemudian, dokter itu bertemu kembali dengan wanita tersebut dan bertanya, “Bagaimana? Apakah sekarang kamu masih sering sakit kepala?” Wanita itu menjawab, “Terima kasih, Dokter. Sekarang saya sudah tidak sakit kepala lagi. Tetapi suami saya bilang, sejak menikah dengan saya, dia malah setiap hari sakit kepala.” Kita tidak boleh memaksakan atau menularkan kegelisahan dan masalahnya kepada orang lain. Kita harus belajar menyelesaikan kerisauan diri sendiri. Mengapa kita manusia bisa hidup di dunia ini? Karena kita memahami hukum sebab dan akibat, benih apa yang kita tanam, itulah yang buah akan kita tuai. Sebagai praktisi Buddhis, kita harus memahami untuk mencintai semua makhluk dan mencintai sesama. Kita tidak hanya hidup untuk diri sendiri, tetapi untuk semua makhluk hidup. Dengan demikian, tingkat kesadaran spiritual kita akan meningkat, perasaan akan menjadi murni, dan kebijaksanaan akan muncul. Dengan begitu barulah bisa mencapai “Berhasil menjadi manusia akan berhasil menjadi Buddha.”
Pada masa itu, seseorang bertanya kepada Sang Buddha, “Dengan membina pikiran, apa sebenarnya yang telah Anda peroleh?” Buddha menjawab, “Aku tidak memperoleh apa pun.” Orang itu bertanya lagi, “Kalau begitu, mengapa Anda masih membina pikiran?” Sang Buddha tersenyum dan berkata“Tetapi Aku dapat memberitahumu apa yang telah Aku kehilangan. Aku telah kehilangan kemarahan, kekhawatiran, pesimisme, keputusasaan, dan kegelisahan. Aku telah kehilangan tiga racun keserakahan, kebencian, dan kebodohan yang bersumber dari keegoisan. Aku telah kehilangan segala kebodohan, kebiasaan buruk, dan karma buruk yang mengikat manusia biasa. Aku juga telah kehilangan rasa takut terhadap penuaan dan kematian.” Sang Buddha berkata bahwa orang yang tahu bersyukur akan selalu berbahagia. Namun manusia sering membicarakan tentang, “Beberapa tahun lagi Aku harus menjadi apa, bagaimana karierku nanti, bagaimana keuanganku, bagaimana cara Aku menghasilkan lebih banyak uang…” Manusia itu pelupa. Mereka lupa bahwa hidupnya itu terbatas dan tidak kekal, sementara uang itu tak terbatas, sebanyak apa pun uang yang diperoleh, tetap akan habis digunakan juga tidak habis digunakan. Nafsu keinginan manusia tidak akan pernah terpuaskan. Dengan hidup yang terbatas, kita mengejar kekayaan yang tidak terbatas, berharap dapat memuaskan nafsu yang tiada akhir, namun akhirnya justru seumur hidup tersiksa oleh keinginan akan harta kekayaan.
Di Australia, ada seorang mahasiswi yang sedang menempuh studi. Ibunya, demi membiayai pendidikan anaknya di Australia, bekerja menjadi pembantu di rumah orang lain, memberi les tambahan, bekerja di siang hari, dan malam sepulang kerja masih harus mengurus pekerjaan rumah. Dengan cara itulah ia mempertahankan biaya hidup dan pendidikan anaknya di Australia. Namun ketika sang putri akhirnya lulus dan mengundang ibunya datang ke Australia untuk menghadiri upacara wisuda, sang ibu sudah terbaring di rumah sakit karena menderita kanker usus, dan tidak lagi mampu datang. Manusia sering bermain dengan nyawanya sendiri, mengorbankan segalanya demi sedikit harta duniawi. Satu-satunya modal sejati yang dimiliki manusia dalam hidup ini adalah tubuhnya. Ketika seseorang tidak memiliki tubuhnya lagi, maka hilanglah modal untuk bertahan hidup di dunia. Kita tidak boleh menukar kesehatan dan tubuh kita, modal yang paling berharga, demi mengejar kenikmatan dan kemewahan palsu yang hanya memuaskan kesombongan hati kita di dunia ini. Sesungguhnya, tempat hidup kita yang sejati adalah di alam surga, karena di Surga ada kerabat dan ibu yang menanti kita. Semoga kita dapat menjalani kehidupan di dunia ini dengan baik, mengurangi penderitaan, menuntaskan kehidupan dengan sempurna, dan akhirnya naik ke surga, kembali ke pelukan ibu.
Di pinggiran kota Paris, Prancis, ada sebuah restoran bernama “Rasa dalam Kegelapan”. Restoran ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari restoran lainnya, hanya saja ada satu perbedaan, saat beroperasi, restoran ini tidak menggunakan penerangan, suasananya sangat redup hingga hampir tidak terlihat apa pun. Para pelayannya adalah orang-orang tunanetra yang telah menjalani pelatihan khusus. Di restoran “Rasa dalam Kegelapan” ini, pernah terjadi banyak kisah menarik. Ada sepasang suami istri yang hubungannya sedang retak dan berada di ambang perceraian. Sebelum bercerai, mereka sepakat untuk makan bersama untuk terakhir kalinya. Untuk menghindari rasa canggung, mereka memilih restoran “Rasa dalam Kegelapan” ini. Namun, saat sedang makan, sang istri tanpa sengaja terluka di jarinya karena pecahan botol anggur. Sambil menenangkan istrinya, sang suami meraba-raba dalam gelap dengan tergesa-gesa membalut luka istrinya yang akan segera berpisah dengannya. Ketika mereka berdua berjalan keluar dari restoran, sang istri baru menyadari bahwa salah satu jari suaminya mengalirkan darah. Ternyata, ketika tadi ia terburu-buru membalut luka istrinya, jarinya sendiri terkena pecahan kaca. Tidak tahu mengapa, sang istri meneteskan air mata dan memeluk suaminya erat-erat. Ketika seorang wartawan mewawancarai pemilik restoran tentang alasan membuka tempat seperti itu, sang pemilik berkata, “Manusia hanya setelah merasakan kegelapan, barulah benar-benar dapat memahami betapa berharganya sinar matahari.”
Seseorang yang tidak tahu menghargai akan kehilangan. Jika kita tidak menghargai perhiasan yang kita miliki, suatu hari akan kehilangannya. Jika kita tidak menghargai orang tua kita, mereka akan meninggalkan kita. Jika kita tidak menghargai anak-anak kita, mereka pun akan menjauh dari kita. Jika kita tidak menghargai ajaran Buddha Dharma, maka ajaran Buddha Dharma juga akan meninggalkan kita. Orang yang tahu menghargai adalah orang yang bijaksana. Kita harus belajar untuk menghargai, segala sesuatu di dunia ini adalah jodoh kita. Memiliki jodoh akan bertemu walau jarak ribuan mil jauhnya.
