Menanggung Segala Penderitaan di Dunia, Menyambut Kemurnian Sifat Kebuddhaan dalam Hati (Bagian 1)
Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Paris - Prancis, 12 September 2015
Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa Yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang, Naga Langit Pelindung Dharma, dan para biksu, relawan, serta teman se-Dharma, selamat sore semuanya!
Jodoh yang sangat istimewa mempertemukan kita di Paris. Kasih dalam Buddha melampaui persahabatan, melampaui sifat kemanusiaan biasa. Senantiasa menumbuhkan hati yang penuh sukacita, senantiasa menyingkirkan kebencian. Memahami ajaran Buddha Dharma, segala sesuatu di dunia ini tidak dapat diperoleh. Senantiasa menumbuhkan hati yang belas kasih, mengembangkan welas asih yang besar. Pandanglah kehidupan sebagai sebuah panggung; meminjam kepalsuan untuk membina kenyataan barulah dapat melampaui diri sendiri dan menciptakan sebuah tanah suci di Alam Manusia.
Waktu berlalu dengan sangat cepat, dalam sekejap mata sudah dua tahun lagi. (Terakhir kali) datang ke Prancis adalah dua tahun yang lalu. Bagi praktisi Buddhis, mereka telah mengumpulkan jasa kebajikan melalui belajar Buddha Dharma dan melafalkan paritta. Dengan melakukan hal ini, kita tidak mengecewakan diri sendiri. Sedangkan mereka yang tidak belajar Buddha Dharma atau tidak tekun, mereka telah menyia-nyiakan dua tahun kehidupan lagi. Coba pikirkan, di masa lalu berapa banyak waktu yang telah kita sia-siakan, berapa banyak masa muda yang telah terbuang? Banyak orang sudah menempuh setengah perjalanan hidupnya. Kita harus menghargainya, kita tidak boleh lagi terus menjalani kehidupan seperti itu di dunia ini; kita harus tercerahkan, harus memahami kebenaran.
Sebelum berangkat, seorang teman se-Dharma membantu menanyakan untuk seorang temannya: seorang manajer umum yang sedang berada di puncak kariernya, berusia 32 tahun, tiba-tiba terkena stroke dan tidak sadarkan diri. Ia juga menanyakan tentang seorang gadis cantik berusia 24 tahun yang setelah mengalami kecelakaan mobil terbaring di ICU dalam kondisi kritis. Ia meminta Master untuk melihat “totem” mereka, untuk mengetahui bagaimana kondisi kedua orang tersebut. Master melihat bahwa sisa hidup keduanya tidak lebih dari beberapa bulan saja. Berpikirlah lebih terbuka, dunia ini sebenarnya adalah tempat di mana manusia akhirnya akan dimakamkan. Kita datang ke dunia ini dengan tergesa-gesa, dan pergi pun dengan tergesa-gesa, membawa segala macam ketidakberdayaan di sepanjang hidup, tidak mendapatkan apa pun, dan pada akhirnya meninggalkan dunia ini. Inilah penderitaan dari dunia bagi orang yang tidak belajar Buddha Dharma, tidak dapat menemukan tempat bersandar yang sejati bagi jiwanya. Orang yang memahami ajaran Buddha Dharma harus tahu bagaimana menyingkirkan kerisauan setiap hari. Pada akhirnya, banyak dari kita mengakhiri hidup dalam depresi, ketakutan, dan kesedihan. Mengapa kita tidak bisa membebaskan diri? Karena kita tidak memahami makna sejati dari dunia ini. Betapa banyak orang yang bunuh diri dalam kepedihan, hidup dengan menderita di dunia ini di mana rasanya lebih baik mati daripada hidup. Mereka hidup dalam realitas kehidupan yang semu dan penuh dengan pengandaian. Segala sesuatu yang mereka kejar dapat lenyap dalam sekejap, dan semua yang mereka miliki pada akhirnya hanyalah sesuatu yang tidak nyata. Tembok Besar China masih berdiri, tetapi ke manakah Kaisar Qin Shi Huang pergi? Nenek moyang kita telah menciptakan segalanya bagi kita, tetapi ke manakah mereka sekarang?
Hargailah masa kini, pahami kehidupan, biarkan semua makhluk hidup dalam kebahagiaan, serta membantu mereka melepaskan diri dari kerisauan dan kesedihan adalah hal yang seharusnya dilakukan oleh kita sebagai orang yang belajar Buddha Dharma. Hari ini kalian semua sudah belajar Buddha Dharma, artinya hidup dalam realitas kehidupan ini, kita harus mengandalkan diri sendiri untuk mengubah nasib. Dalam kehidupan manusia, bergantung pada orang lain untuk mengubah diri kita itu tidaklah bisa. Terkadang menasihati orang lain itu sangat sulit; hanya dengan mengubah diri sendiri barulah kita dapat mengubah orang lain. Berpikiran jernih, mengerti, tercerahkan, melepaskan, tidak mengejar ketenaran dan kekayaan duniawi, serta dengan sepenuh hati belajar Buddha Dharma—itu barulah jalan yang benar, itu barulah jalan menuju pembebasan.
Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, kita harus menggunakan hati yang penuh rasa syukur. Di dunia ini, keluh kesah dan kerisauan apapun yang kita miliki, termasuk kemarahan, pada saat itu kita harus menghadapinya dengan hati yang penuh welas asih dan rasa syukur. Coba pikirkan, ketika kita membenci orang lain, sebenarnya mereka juga berkorban banyak untuk kita. Jadi, kita harus menguraikan segala dendam dan pertikaian. Hati yang bersyukur adalah dasar dari hati yang penuh welas asih. Setiap malam, kita harus tahu untuk berterima kasih dan bersyukur. Bersyukur atas kebahagiaan yang dibawa anak-anak bagi keluarga, bersyukur karena hari ini saya masih memiliki tubuh manusia, Bodhisattva memberkati saya belum menderita penyakit kritis. Segalanya bergantung pada hati yang penuh welas asih dan rasa syukur. Kita perlu melepaskan diri dari kerangka emosi dan kerisauan duniawi. Pikirkanlah bagaimana manusia merasa begitu menderita? Karena diri sendiri yang membuat dirinya menderita. Kita harus melampaui belenggu diri sendiri, jangan sampai terikat oleh diri sendiri. Apa yang dikejar seseorang, itulah yang akan mengikat dirinya. Jika mengejar uang, dengan cepat hati akan terkunci oleh uang, dan hati pun akan naik turun mengikuti kondisi ekonomi. Jika demi asmara, maka akan terikat oleh asmara. Diri sendiri yang menenun sebuah jaring asmara.
Untuk menyempurnakan semua makhluk dan menyempurnakan diri yang lebih besar, kita harus kembali kepada diri yang nyata. Coba pikirkan, hari ini diri saya yang sejati sedang melakukan apa? Bukan dalam mengejar nafsu keinginan, melainkan berada dalam proses melepaskan dan memperoleh kebebasan batin. Di dunia ini, semakin kita mengejar kesempurnaan, justru tekanan hidup akan semakin besar. Ada seorang nelayan yang berhasil menemukan sebuah mutiara yang sangat berharga. Ia sangat gembira, namun sangat disayangkan, pada mutiara itu terdapat sebuah titik hitam kecil. Sang nelayan berpikir, jika saya bisa menemukan cara untuk menghilangkan titik hitam kecil itu, mutiara ini akan menjadi harta yang tak ternilai, dan saya akan menjadi lebih kaya. Jadi, ia mulai mengikis permukaan mutiara itu. Setelah dikikis satu lapisan, titik hitam itu masih ada; ia mengikis lagi satu lapisan, titik hitam itu tetap ada; hingga pada akhirnya, ketika titik hitam itu hilang, mutiaranya pun sudah tidak ada lagi. Manusia mengejar kesempurnaan, malah semakin tidak sempurna. Demikian juga dalam keluarga, jika kamu ingin suami atau istrimu menjadi orang yang sempurna, itu sama saja dengan berpegang pada sesuatu yang bersifat kosong dan ilusi dalam kehidupan. Itu adalah dunia ilusi, malah menjadi semakin tidak sempurna.
Harapan yang terlalu tinggi justru akan membuang lebih banyak waktu; menurunkan tuntutan akan membuat kita lebih cepat memperoleh banyak hal. Jika kita bersikeras mengejar sesuatu yang sulit kita dapatkan, maka kita harus membayar dengan pengorbanan yang lebih besar. Jadi, kehidupan yang tidak mendapatkan apa-apa akan berujung pada kesedihan. Hidup ini singkat, kehidupan adalah proses mengakui bahwa diri kita tidak sempurna, mengakui kesalahan yang telah kita perbuat, lalu perlahan-lahan menerima dan mengakuinya. Kemampuan untuk menanggung penderitaan berasal dari pertobatan dalam diri sendiri. Ketika seseorang kehilangan banyak hal, jika ia tidak menyadari bahwa seharusnya ia berhenti meminta dan mengejar, maka semakin banyak yang didapat, semakin besar pula penderitaan saat kehilangannya. Hanya pertobatan barulah dapat memperbaiki kekurangan dalam diri sendiri. Praktisi Buddhis pada akhirnya harus mampu berpikir terbuka dan memahami segalanya, serta membiasakan diri untuk berpikir dengan jernih. Anggaplah semua yang terjadi di dunia ini sebagai sesuatu yang wajar dan alami, hari ini saya mengalami kesialan, itu wajar; hari ini saya baik-baik saja, itu juga wajar. Kita harus perlahan membentuk sebuah kebiasaan—hari ini sial, itu sangat normal, karena masih ada hari esok; hari ini bahagia dan memperoleh sesuatu, maka harus melepaskan diri sendiri, karena esok hari kita mungkin akan menghadapi banyak penderitaan. Kita harus terbiasa kehilangan dan terbiasa mendapatkan, menjalani hidup dengan tenang dan alami, melepaskan kemelekatan pada ego diri, serta menggunakan hati yang tulus untuk memperlakukan orang lain.
Pada zaman Dinasti Tang, ada seorang biksu bernama Master Tian Ji, ia pernah meresepkan sebuah “obat” untuk menyembuhkan penyakit batin manusia yang tidak bisa berpikiran terbuka: satu batang hati yang baik, satu lembar hati yang welas asih, 25 gram kelembutan, tiga bagian pengertian akan prinsip kebenaran, kepercayaan diri yang paling penting, penuh dengan berbakti, satu kejujuran, keseimbangan yin dan yang yang digunakan dengan baik, memudahkan orang lain tanpa membatasi jumlahnya. Cara meracik obat ini, ditumis dalam kuali hati yang lapang, jangan sampai hangus, jangan tergesa-gesa, kurangi api emosi hingga sepertiganya. Dalam menggunakan resep ini, tidak boleh merugikan orang lain demi keuntungan diri sendiri, tidak boleh menyimpan niat jahat dalam hati atau menyembunyikan pisau di balik senyuman; jika tidak, dari keadaan yang tenang pun bisa timbul masalah. Ramuan obat ini tertulis di sebuah kuil di Yunnan, dan telah menyembuhkan penyakit batin tak terhitung banyaknya orang.
Sekarang ini, manusia lebih mudah percaya pada tipu daya daripada mendengarkan nasihat. Di antara sadar dan tidak sadar, manusia lebih percaya yang palsu daripada yang benar. Banyak orang, begitu mendengar orang lain menipunya, langsung percaya; tetapi ketika orang lain mengatakan kebenaran, ia justru tidak percaya. Di Gold Coast, Australia, tidak ada industri maupun pertanian, hanya ada pariwisata. Banyak rumah dibangun tetapi tidak terjual. Mereka datang ke Sydney untuk memasarkan rumah-rumah tersebut dengan mengadakan seminar. Cara mereka mengatakan kepada semua orang adalah: “Anda hanya perlu membayar lima puluh dolar setiap minggu, maka Anda akan memiliki sebuah rumah besar.” Banyak orang langsung menandatangani saat itu juga. Mereka juga berkata: “Jika Anda memiliki rumah besar ini, kami akan membantu menyewakannya dan mengelolanya untuk Anda. Setiap minggu Anda akan mendapatkan penghasilan lebih dari seribu dolar.” Banyak orang mempercayainya. Namun pada akhirnya, rumah tersebut tidak bisa disewakan, juga tidak bisa dijual. Masih harus membayar biaya pengelolaan, biaya sampah, dan berbagai biaya lainnya. Setiap minggu yang harus dibayar bukan lagi lima puluh dolar, melainkan lima hingga enam ratus dolar. Ingatlah, orang yang ingin menjadi kaya, akan menjadi kaya sejak awal; sedangkan orang yang duduk di bawah mendengarkan seminar itu, belum menjadi kaya.
Di dunia ini, sebagai manusia kita harus melakukan segala sesuatu demi orang lain, barulah kita dapat menolong dan menyelamatkan makhluk hidup. Ibarat di dalam keluarga, orang tua melakukan segalanya demi anak dan rumah tangga. Keluarga kita harus hidup dengan ramah, rukun, dan harmonis, seperti sebuah negara harus mengabdi sepenuhnya kepada rakyat serta menjunjung konsep perdamaian dunia agar dapat menyatu dengan dunia. Kita harus selalu memikirkan orang lain, itulah Bodhisattva, barulah masalah dapat diselesaikan. Jika kedua pihak yang bertengkar hanya memikirkan diri sendiri, masing-masing merasa dirinya benar, maka konflik tidak akan pernah terselesaikan. Dalam pertengkaran suami istri pun demikian: suami merasa dirinya benar, istri juga merasa dirinya benar, sehingga pertengkaran tidak ada habisnya. Jika salah satu mau berkata, “Mungkin saya yang salah,” maka pertengkaran pun tidak akan terjadi. Manusia tidak boleh berbuat jahat. Bertengkar, memarahi orang, dan melakukan perbuatan buruk, semua itu adalah kejahatan. Memiliki kemampuan untuk berbuat jahat tetapi tidak melakukannya, itulah kebajikan. Semua orang melakukan perbuatan buruk, namun kamu tidak ikut melakukannya, itu berarti melakukan kebajikan. Sebaliknya, memiliki kemampuan untuk berbuat baik tetapi tidak melakukannya adalah kejahatan; Memiliki kemampuan untuk membantu orang lain tetapi tidak membantu, berarti di dalam hati masih ada kejahatan. Memahami prinsip ini barulah membuat kita mengerti mengapa kita harus menjadi orang yang baik.
Dalam membina pikiran tidak ada keajaiban; mengumpulkan jasa kebajikan sedikit demi sedikit—itulah yang disebut membina pikiran. Hari ini, jika kamu bisa tidak melakukan perbuatan buruk selama satu hari penuh, maka kamu sudah menjadi orang baik. Namun jika hari ini kamu timbul pikiran jahat, maka kamu bukanlah orang yang baik. Dahulu ada seorang pejabat yang tidak mengetahui berapa banyak pikiran jahat dan pikiran baik yang dimilikinya. Ia kemudian mengambil sebuah mangkuk. Setiap kali muncul satu pikiran jahat, ia memasukkan satu kacang hitam; setiap kali muncul satu pikiran baik, ia memasukkan satu kacang kuning. Setelah satu hari, kacang kuning hanya beberapa butir, sedangkan kacang hitam memenuhi satu mangkuk. Ia pun menyadari bahwa hatinya tidak baik, lalu ia bertekad menahan pikiran-pikiran jahatnya. Keesokan harinya, kacang hitam setengah mangkuk dan kacang kuning setengah mangkuk. Ia tahu dirinya berada di antara baik dan tidak baik. Ia berpikir, “Saya harus menjadi orang yang baik, saya tidak boleh memiliki pikiran jahat.”Pada hari ketiga, ia berhasil mengendalikan pikiran jahatnya; kacang kuning memenuhi satu mangkuk, sedangkan kacang hitam hanya tinggal beberapa butir.
Kita harus memahami bahwa hati kita sendiri adalah niat atau tekad. Sedikit saja ketidakmurnian, dapat memengaruhi seluruh hati kita. Apa itu membina pikiran? Membina pikiran berarti menyelamatkan diri sendiri. Membina pikiran adalah proses berulang kali berjuang melawan kerisauan dan penderitaan diri sendiri dalam berbagai kesulitan, sehingga kita memperoleh kemampuan untuk mengendalikan dan menguasai diri. Banyak penderitaan manusia terjadi karena di dalam keluarga mereka tidak mampu mengendalikan emosi sendiri: “Saya sudah tidak bisa menahan lagi, saya harus melampiaskan kemarahan, harus bertengkar dengannya, bahkan harus sampai menggugat ke pengadilan…”Pada akhirnya, yang menderita tetaplah diri sendiri.“Es yang membeku setebal tiga kaki bukan terjadi dalam satu hari.” Banyak keretakan keluarga terjadi karena ketidakmampuan mengendalikan diri. Keluarga mana yang tidak pernah bertengkar? Silakan angkat tangan. Tidak ada satu pun yang mengangkat tangan. Jika ada yang mengangkat tangan dan berkata, “Keluargaku tidak pernah bertengkar”— itu palsu. Belajar Buddha Dharma harus hidup dalam kenyataan. Kita harus menahan dan memperbaiki kekurangan diri, memperbaiki “penyakit batin” yang buruk dalam hati, serta mengendalikan perilaku buruk dalam pikiran maupun tindakan tubuh. Itulah yang disebut membina pikiran dan membina diri.
Di sebuah restoran ada sebuah kuali besar. Dari kuali ini, dimasak ribuan macam hidangan. Karena itu, kuali tersebut mulai menjadi sombong, selalu merasa dirinya berjasa besar dan seharusnya diperlakukan secara istimewa. Namun para koki tidak memperlakukannya seperti barang berharga yang dibersihkan dengan baik lalu disimpan rapi di lemari, melainkan tidak terlalu menghormatinya dan hanya meletakkannya begitu saja di atas tungku. Kuali besar itu menjadi sangat tidak senang, sedikit marah. Ia melampiaskan emosinya saat digunakan untuk memasak, kadang serpihan karat dari permukaannya jatuh ke dalam makanan, kadang masakan menjadi gosong, membuat para koki kesulitan memasak dan tidak lagi nyaman menggunakannya. Ia ingin menggunakan cara ini untuk menarik perhatian koki terhadap dirinya dan menemukan keseimbangan batinnya. Seperti yang diharapkan, para koki pun mulai memperhatikannya. Dulu digunakan dengan sangat baik dan terasa begitu cocok, sekarang mengapa jadi tidak nyaman digunakan?” Sering menggosok dan membersihkannya; setiap kali selesai dipakai, mereka selalu mengelapnya dengan saksama. Namun kuali itu tetap tidak puas, “Kamu sudah membersihkanku begitu bersih, tetapi mengapa masih melemparku begitu saja di atas tungku tanpa memedulikanku?”Untuk mendapatkan perlakuan yang lebih baik, kuali itu semakin menjadi-jadi dalam kenakalannya, membuat masakan yang dimasak oleh para koki selalu tidak sempurna. Sementara itu, api tungku pernah menasihatinya agar tahu batas, tetapi kuali itu tidak mau mendengar karena ia merasa dirinya terlalu penting. Akhirnya, setelah koki mendapat keluhan dari pelanggan, ia mengangkat kuali itu dan membantingnya keras ke lantai. Kuali itu pun hancur menjadi tumpukan besi tua, selamanya tidak lagi memiliki kegunaan.
Kisah ini memberi tahu kita semua bahwa manusia tidak boleh memandang diri sendiri terlalu hebat. Kita harus mampu menahan apa yang tidak mampu ditahan oleh orang lain, dan melakukan apa yang tidak mampu dilakukan oleh orang lain—dalam ajaran Buddha hal ini disebut “Da Xiong”. Mengapa di kuil terdapat Aula Mahavira — Daxiong Baodian? Bodhisattva yang mampu bersabar memiliki tekad besar dalam hatinya; makna “Da Xiong” yang disebut di aula tersebut adalah hal ini. Orang yang berhati sempit memiliki banyak kerisauan; orang yang berjiwa sempit memiliki banyak penderitaan. Semakin sempit hati seseorang, semakin banyak kerisauannya; semakin lapang hatinya, semakin sedikit kerisauannya.
Para Bodhisattva sering memberitahu kita untuk secara aktif berbuat kebajikan dan tidak melakukan kejahatan. Bukankah dengan demikian dunia ini akan menjadi tanah suci? Hari ini kalian duduk di bawah dengan bersih dan tenang, di dalam pikiran tidak ada niat mencelakai orang lain, tidak ada niat mengambil keuntungan dari orang lain, bukankah itu berarti kalian adalah orang baik? Tanpa pertikaian, tanpa iri hati, tanpa kebencian antar manusia, tempat ini adalah sebuah tanah suci kecil. Kalian yang duduk di bawah, bukankah kalian adalah Bodhisattva kecil? Oleh karena itu, kejahatan dalam hati setiap orang harus sepenuhnya disingkirkan. Kita harus dipenuhi dengan cinta kasih dan kebahagiaan. Orang yang duduk di bawah hari ini yang masih tidak bisa tersenyum, itu berarti di dalam hatinya masih ada kebencian, masih ada iri hati, masih ada kesedihan dan kerisauan. Orang yang bisa bertepuk tangan, pasti tidak memiliki kerisauan.
