Bodhisattva Selalu Menetap di Hati, dengan Welas Asih Merasakan dan Menyadari Pikiran Buddha (Bagian 1)
Seminar Dharma Perth - Australia, 8 Maret 2015
Hari ini bisa datang ke Perth, Australia, pertama-tama terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa Yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang. Terima kasih kepada Naga Langit Pelindung Dharma, serta seluruh teman se-Dharma atas dukungannya. Bisa memiliki jodoh ini, terima kasih semuanya.
Kita melewati puluhan tahun tanpa disadari, dan melewati puluhan tahun lagi dalam penderitaan dan kerisauan, hidup ini tidak kekal, segalanya adalah tidak kekal. Di dunia ini, ada keluarga yang tak bisa kita pertahankan, ada penyakit yang tak bisa kita usir. Hidup manusia sejatinya adalah perjuangan tanpa henti melawan penyakit jasmani dan iblis hati. Jika kita tidak bisa mengusir mereka, maka kita akan menanggung penderitaan. Seorang ibu di Malaysia, setelah melahirkan tiga anak, melihat mereka dengan air mata berlinang, ia meninggalkan dunia ini. Segalanya di dunia ini adalah lahir tidak membawa apa-apa dan mati tidak membawa pergi apa-apa. Orang menginginkan ini dan itu setiap hari, serakah terhadap ketenaran dan kekayaan. Kenyataannya, tidak ada satu pun yang bisa dibawa pergi. Hidup yang penuh kemelekatan adalah hidup yang penuh penyesalan. Semakin banyak yang kita peroleh, semakin banyak warisan yang kita tinggalkan. Seseorang tidak mungkin bisa menikmati semua hal yang dia peroleh seumur hidupnya.
Setiap tahun, terdapat satu juta orang yang bunuh diri karena depresi, autisme, fobia, dan lainnya, justru karena mereka tidak dapat berpikiran terbuka, melekat, dan tidak dapat melepaskannya. Pikirkan, berapa banyak hal yang tidak bisa berpikiran terbuka saat kita masih muda? Apakah kita masih terjebak didalamnya sekarang? Berapa banyak kerisauan dan hal yang tidak bisa pahami hari ini, ketika kita meninggalkan dunia ini, apakah masih tidak bisa berpikiran terbuka? Menekuni Dharma adalah untuk menghilangkan kerisauan dan mengubah takdir. Ajaran Buddha Dharma adalah untuk membantu kita sepenuhnya terbebas dari penderitaan. Jika bersujud tidak berguna, maka ajaran Buddha Dharma di dunia ini pasti tidak ada gunanya. Kita setiap orang melafalkan paritta dan memohon kepada Bodhisattva pasti akan manjur, karena Bodhisattva tidak berbohong.
Tidak memiliki kerisauan, mulailah dengan tidak serakah dan jangan pernah membenci orang lain. Ketika membenci orang lain akan melahirkan rasa takut, akan merasa semakin takut. Jika kamu berbuat jahat kepada orang lain atau terlibat dalam perselisihan hukum, selanjutnya kamu akan takut kalah atau dijebak. Ketakutan ini disebabkan oleh meningkatnya kebencian diri sendiri. Tidak ada penyesalan dimulai dari tidak bersikap bodoh. Membalas dendam kepada orang lain adalah perilaku yang bodoh, membalas dendam kepada orang lain pasti akan membuat diri sendiri semakin bodoh. Balas dendam apa pun hanya akan membuat diri sendiri semakin terluka. Bisa menjalani setiap hari dengan damai sudah merupakan berkah yang besar. Berapa banyak orang yang tidak dapat melihat mentari di esok pagi? Berapa banyak orang yang menjadi cacat? Ketika mata kita masih bisa melihat dan kaki kita masih bisa berjalan, pikirkanlah ada berapa puluhan juta orang cacat di seluruh dunia yang menjalani hidup penuh penderitaan? Berapa banyak orang yang telah didiagnosis kanker? Berapa banyak keluarga yang hancur? Semua itu adalah kenyataan, maka prinsip Bodhisattva adalah berpuas diri dan selalu bahagia, mengajarkan kita untuk memahami agar tidak serakah, karena dunia ini tidak akan pernah menjadi milikmu. Hal-hal yang kamu dapatkan dari serakah tidak perlu khawatir itu tidak akan pernah menjadi milikmu.
Ada orang berkata, “Dunia ini menghancurkan hatiku. Aku akan meninggalkan dunia ini.” Kalian tidak perlu berkata meninggalkan dunia ini ketika menghadapi masalah. Karena segala sesuatu di dunia ini hanya bisa digunakan olehmu, dan tidak dapat kamu miliki. Kita datang ke dunia ini tidak membawa apa pun, mengapa ingin membawa pergi sesuatu dari dunia ini? Orang tua kita bekerja keras seumur hidup demi kita, namun pada akhirnya mereka juga tidak membawa pergi apapun ketika mereka meninggal dunia. Praktisi Buddhis harus memahami bahwa kita tidak boleh menganggap segala sesuatu terlalu serius. Menganggapnya terlalu serius hanya akan sangat menyakiti diri sendiri. Kita harus belajar memandang segala hal dengan lebih ringan, ini hanyalah sebuah proses di dunia. Hidup di dunia ini, segalanya hanyalah sebuah proses. Hidup bersama untuk sementara waktu sebelum perceraian, ini adalah sebuah proses; setelah memiliki anak dan tinggal bersama mereka untuk sementara waktu juga merupakan sebuah proses. Ketika usia sudah tua dan anak-anak tidak menghiraukan saya, saya menemukan pasangan lagi; itu juga hanyalah sebuah perjalanan. Memandang segalanya dengan lebih ringan.
Dalam masyarakat modern, hati manusia sangat kacau. Setiap orang hidup dengan egois, jadi keluarga menjadi semakin egois, ruang untuk hidup berdampingan secara harmonis semakin kecil, detiap keluarga dirundung pertengkaran. Di dunia modern, ada banyak dokter terkenal, tetapi yang baik sulit ditemukan. Kita harus menggunakan semangat agama Buddha untuk menginspirasi hati nurani kita, harus menggunakan hati nurani untuk membangkitkan kemampuan yang baik. Hanya pembinaan diri yang sungguh-sungguh barulah bisa menyelamatkan semua makhluk.
Banyak orang merasa dirinya sangat berbakat tetapi tidak mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya, memiliki bakat alami tetapi tidak berguna, merasa sangat tertekan dan sedih. Ada seorang pemuda yang merasa dirinya sangat berbakat tetapi tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya, ia sangat tertekan. Karena alasan ini, ia melakukan perjalanan khusus ke tempat yang jauh untuk meminta nasihat orang bijak. Akhirnya ia bertemu dengan orang bijak dan bertanya: “Master, mengapa takdir begitu tidak adil kepadaku? Aku begitu berbakat, mengapa aku tidak mendapatkan kepercayaan?” Orang bijak itu tidak menjawabnya secara langsung. Sebaliknya, ia mengambil sebuah batu dari lereng bukit, melemparkannya ke tumpukan batu di kejauhan, dan berkata kepada pemuda itu: “Kamu pergi cari batu yang baru saja kulempar.” Pemuda itu mencari batu itu cukup lama, tetapi tidak menemukannya. Ia tidak tahu batu mana yang dilempar orang bijak itu karena semua batu tampak sama. Ia kembali kepada orang bijak itu dan berkata, “Aku tidak menemukannya.” Pada saat itu, orang bijak itu kemudian melepas cincin emasnya dan melemparkannya kembali ke tumpukan batu, meminta pemuda itu untuk mengambilnya. Kali ini, pemuda itu dengan mudah menemukan cincin yang berkilauan itu. Orang bijak itu tidak berkata apa-apa lagi, tetapi pemuda itu tiba-tiba tersadarkan: Ia tahu, jika dirinya hanyalah sebuah batu kecil dan bukan emas, ia seharusnya tidak menyalahkan takdir tidak adil pada dirinya. Takdir setiap orang ada di tangannya sendiri. Agar takdirnya bersinar terang dan hangat, bermanfaat bagi masyarakat, dan berkontribusi bagi dunia, bukanlah mengkhawatirkan hal-hal yang mungkin tak akan pernah terjadi atau menyalahkan orang lain, sebaliknya, ia harus membiarkan hatinya bersinar seperti emas. Hanya dengan begitu ia dapat belajar dengan baik. Menekuni Dharma adalah mengubah diri sendiri menjadi tubuh yang bersih dan pikiran yang cemerlang.
Manusia yang hidup di dunia ini seharusnya memiliki lebih banyak energi positif. Energi positif berawal dari keyakinan dan pikiran yang benar. Terhadap hal apa pun, jika kita memandang orang lain dari sisi yang baik, maka akan memiliki energi positif. Terhadap hal apa pun, jika memandang orang lain dari sisi yang buruk, maka akan semakin membenci, semakin sedih, semakin takut, ini berarti memiliki energi negatif. Mengapa sebagian orang hidup di dunia ini sangat bahagia? Sedangkan sebagian orang sangat tidak bahagia? Ini karena hubungan antar energi positif dan energi negatif.
Kita menyerap konsep moral kebajikan, kebenaran, tata krama, kebijaksanaan, dan keyakinan, yang berkaitan dengan berperilaku, hidup, dan menekuni ajaran Buddha Dharma. Organ limpa dan lambung manusia berhubungan dengan kejujuran; orang yang memegang teguh kepercayaan dan menepati janji biasanya memiliki kondisi limpa dan pencernaan yang baik. Karena tidak menepati janji dan tidak bisa dipercaya, ia menjadi penuh rasa curiga. Karena dirinya sendiri sering tidak jujur, ia pun selalu mencurigai bahwa orang lain akan menipunya. Akibat dari rasa curiga yang berlebihan itu, limpa dan lambungnya pun menjadi lemah dan bermasalah. Orang yang terlalu suka memperhitungkan segala hal biasanya tubuhnya lemah, pencernaannya tidak sehat, dan jantungnya pun tidak kuat. Ketika kecil, tubuh kita bertumbuh dan hidup dengan sehat, Sekarang, tubuh kita memang sudah tumbuh dengan sempurna, tetapi yang bertumbuh justru adalah pikiran sempit. Setiap hari mencurigai orang lain, takut pada orang lain, dan tidak percaya pada orang lain, hidup dalam ketakutan setiap hari. Seseorang yang terlalu dikuasai oleh nafsu birahinya akan merusak fungsi ginjal. Hal ini juga sejalan dengan pandangan pengobatan Tionghoa tradisional. Di zaman modern, banyak orang menganggap menjaga kesehatan berarti menambah asupan dan suplemen. Master memberi tahu semua orang bahwa suplemen apa pun tidak lebih baik daripada menyehatkan hati. Bila hati lapang dan pikiran terbuka, kita tidak akan sering mengalami berbagai masalah dan ganjalan dalam hidup. Seseorang dapat membayangkan hatinya sebesar tak terhingga, juga bisa membuatnya sangat kecil. Seseorang yang tidak tahan mendengar sepatah kata pun, dia tidak dapat melepaskan satu hal pun.
Masyarakat modern sebenarnya memiliki beberapa kesalahpahaman tentang pemeliharaan kesehatan. Para praktisi pengobatan Tiongkok kuno mengatakan, “Orang yang baik hati berumur panjang.” Orang yang baik hati akan berumur panjang. Seseorang yang terus-menerus tidak bahagia, benci, dan tidak mau memaafkan akan berumur pendek. Sebuah survei yang dilakukan oleh Surat Kabar Survei Sosial mengungkapkan bahwa orang di atas 75 tahun umumnya tidak perhitungan dengan perolehan dan kehilangan sendiri. Orang yang berpikiran luas berumur panjang, sedangkan orang yang berpikiran sempit justru akan jatuh sakit. Beberapa orang sering berkata, “Saya sangat marah, saya sangat kesal, saya tidak bisa makan dan tidur dengan baik.” Ini sungguh bodoh, jika marah sampai sakit tidak ada orang yang akan menggantikan. Jenderal Zhou Yu dimaki sampai mati oleh Zhuge Liang. Praktisi Buddhis harus berlapang hati, tidak peduli apa pun yang orang lain katakan atau lakukan kepadamu, pertama-tama memikirkan orang lain ke sisi yang baik. Kedua, harus berpikir “Dia juga tidak mudah”, ini adalah welas asih, bisa menguraikan rintangan apapun.
Sering bertobat dapat menyembuhkan berbagai penyakit mental dan fisik. Banyak orang yang justru tidak mau berkata, “Aku salah,” sebenarnya sangat bodoh. “Aku salah” adalah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah. Ketika suami istri bertengkar, asalkan berkata “Aku salah” selesai, ada apa salahnya? Namun, banyak orang Tiongkok justru tidak sudi berkata, “Aku salah.” Orang Barat cukup berpikiran terbuka dalam hal ini, sering kali mengatakan “sorry”, sangat sederhana, sementara orang Tiongkok akan berkata, “Apakah kamu salah? Katakan padaku!” Apakah merasa sedih? Memendamnya dalam hati dan perang dingin. Terkadang suami istri bertengkar, satu atau dua bulan tidak berbicara. Master menceritakan sebuah lelucon dalam sebuah ceramah di Jepang. Suami istri perang dingin selama sebulan dan saling tidak bicara. Mereka berdua ingin berkomunikasi, tetapi tak satu pun bersedia berbicara lebih dulu. Sang suami memikirkan sebuah ide, aa sengaja membalik-balikkan pakaian di lemari di depan istrinya, seolah-olah sedang mencari sesuatu. Sang istri tak bisa menahannya lagi dan bertanya, “Apa yang kamu cari?” Sang suami menjawab, “Aku sedang mencari suaramu, dan akhirnya kutemukan!”
Sebagai manusia, jika kita ingin panjang umur, kita harus berpikiran terbuka. Jika ingin tubuh sehat, maka harus mampu melepaskan. Banyak penyakit disebabkan oleh amarah. Jika bisa berpikiran terbuka dan mengerti maka tidak ada masalah lagi. Bagaimana mungkin kita masih membawa hal-hal yang tidak bisa kita lepaskan sejak masa kecil hingga hari ini? Seperti lirik dalam lagu yang berkata: “Sebuah tiket kapal yang sudah lama, bagaimana bisa digunakan untuk naik ke kapalmu yang sekarang?” Banyak hal yang berlalu sudahlah berlalu, sudah tidak ada lagi ya tidak ada lagi. Jangan terus mengingat masa lalu di dalam hati. Orang yang tidak bisa melupakan masa lalu tidak akan bisa melihat masa depan. Bill Gates pernah berkata, “Alasan saya sukses adalah karena saya memandang dunia dengan teleskop.” Jadi, ia selalu melihat ke jauh. Kita praktisi Buddhis harus melihat masa depan, bukan sedikit keuntungan di depan mata sekarang.
Sebagai manusia, jika pikiran kita kacau, jiwa kita akan muncul banyak penyakit. Pasien gangguan jiwa itu karena mereka tidak bisa berpikiran terbuka sehingga menjadi sakit jiwa. Tidak apa-apa jika memiliki kekurangan; harus menyayangi pola pikir diri sendiri. Manusia hidup di dunia ini harus memiliki lebih banyak welas asih, memaafkan orang lain, tidak boleh membenci orang lain. Ada perolehan maka ada kehilangan. Kehilangan adalah perolehan. Ingin memiliki lebih banyak pasti akan kehilangan lebih banyak. Jangan selalu merasa harus mendapatkan.
Praktisi Buddhis harus banyak memikirkan orang lain, barulah bisa memiliki hati yang baik. Kita harus menggunakan hati Buddha untuk berwelas asih dan berterima kasih kepada semua makhluk, menggunakan prinsip Buddha untuk memahami hal-hal di dunia. Kita harus mengenali akar hubungan buruk, dan menumbuhkan ketenangan untuk mencapai tujuan yang jauh. Ajaran Zen Tiongkok mengatakan “menenangkan diri” — duduk dengan tenang. Jika bisa tenang, kebijaksanaan akan muncul. Ketika seseorang tidak bisa tenang, orang lain akan berkata, “Tenang, tenang.” Orang Barat berkata, “cool down — tenanglah.” Menenangkan diri akan semakin baik, jika tidak bisa menenangkan diri akan banyak kehilangan. Ketika seseorang sedang gelisah, emosional dan sangat marah, jangan pernah mengambil keputusan apa pun. Jika tidak, kamu pasti akan menyesalinya.
Kita harus memahami bahwa dunia ini ilusi dan tidak nyata. Apa yang kita miliki hari ini mungkin akan hilang besok, dan apa yang kita miliki lusa mungkin akan hilang lusa esoknya lagi. Pikirkan: kita memiliki gigi yang indah sejak kecil, tetapi gigi itu rontok seiring bertambahnya usia; kita memiliki banyak harta, tetapi pada akhirnya kita kehilangannya. Sebelum berimigrasi ke Australia, kita memiliki rumah, teman, dan keluarga di Tiongkok, tetapi sekarang tidak ada lagi… Semuanya adalah tidak kekal. Jika kamu memilikinya hari ini, jangan melekat “Saya tidak bisa hidup tanpanya, saya harus memilikinya.” Jika tidak, kamu pasti akan kehilangan banyak hal.
