Welas Asih dan Kebijaksanaan Mewujudkan Tanah Suci di Dunia, Hati dan Kebajikan Buddha Memberi Manfaat Bagi Masyarakat dan Semua Makhluk (Bagian 3) 慈悲智慧成就人间净土 佛心佛德利益社会众生 (下)

Welas Asih dan Kebijaksanaan Mewujudkan Tanah Suci di Dunia, Hati dan Kebajikan Buddha Memberi Manfaat Bagi Masyarakat dan Semua Makhluk (Bagian 3)

Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Hong Kong, 19 Juni 2015

Ada yang diperoleh, pasti ada yang hilang, kehilangan itu sendiri adalah sebuah perolehan.  Ketika seseorang kehilangan sesuatu, ia justru akan mendapatkan sesuatu yang lain. Praktisi Buddhis harus lebih memikirkan orang lain, barulah akan berwelas asih, barulah ada rasa syukur. Belajar Buddha Dharma harus belajar menjadi benar-benar baik. Banyak orang berkata, “Saya sangat baik hati, saya tidak pernah menyakiti siapa pun.” Ini bukan  kebaikan sejati. Kebaikan sejati adalah membantu orang lain; hanya melindungi diri sendiri bukanlah kebaikan, mampu menolong semua makhluk barulah disebut Bodhisattva. Oleh karena itu, harus belajar menjadi benar-benar baik berarti ketika membantu orang lain tidak memiliki sedikit pun tujuan dan kepentingan pribadi, inilah kebaikan yang murni.

Ketika hati dan pikiran kita dalam keadaan alami, maka akan muncul sebuah dunia yang membuat orang terasa indah. Ketika kamu memandang orang lain dengan hati penuh welas asih, kamu akan akan tampak sangat indah.  Orang yang tidak terlalu memperhitungkan untung dan rugi pribadi,  yang hatinya lapang dan tidak masalah, itu barulah orang yang memiliki kebajikan sejati dan keindahan sejati.  Seseorang harus belajar untuk peduli kepada orang lain; barulah akan disukai banyak orang, barulah bisa menjalin jodoh baik secara luas.  Berharap semua orang sungguh-sungguh menekuni Dharma, sungguh-sungguh membina pikiran, berusaha dengan tekun, mengubah diri sendiri, dan membuat hati sendiri selalu bersama Bodhisattva setiap hari. Dalam istilah zaman sekarang, ini berarti “terhubung” dengan Bodhisattva, sehingga setiap hari kita dapat merasakan perhatian dan kasih sayang Bodhisattva kepada kita.

Hari ini, Master bertemu dengan banyak teman se-Dharma dari berbagai negara di seluruh dunia — dari Denmark, Belanda, Finlandia, Jerman, Prancis, Amerika, Belgia, dan lainnya. Ada lebih dari 200 orang yang datang. Hari ini saya bertemu dengan mereka; mereka bahkan belum menyesuaikan diri dengan perbedaan waktu, tetapi mereka sangat mencintai Master. Setelah datang, mereka semua ingin lebih banyak mendengarkan wejangan Master. Saya juga sering mengatakan kepada mereka bahwa kita harus “memiliki hati seluas alam semesta”. Tahukah kalian apa arti “alam semesta”? Itu berarti kekosongan, ruang tanpa batas.  Mengapa ada orang yang permohonannya manjur, sementara ada yang tidak? Karena hatimu adalah Bodhisattva. Jika setiap hari bersama Bodhisattva, mungkinkah permohonanmu tidak terkabulkan? Tetapi jika hatimu setiap hari dipenuhi dengan keegoisan, maka Buddha tidak dapat menerima auramu. Jika kamu adalah seorang “manusia”, maka kamu tidak bisa mendapatkan aura atau medan energi Buddha. Jika perilaku, cara berpikir, dan ucapan kalian di dunia ini dapat seperti Buddha, maka kalian akan mendapatkan respon spiritual dari Buddha.

Begitu manusia memasuki dunia fana, penderitaan pun dimulai. Sepanjang hidup, kita tidak bisa lepas dari kelahiran, penuaan, sakit, dan kematian — juga tidak bisa lepas dari harta, nafsu, ketenaran, makanan, dan tidur. Kegembiraan tidaklah abadi; kebahagiaan hanya sesaat, kesedihan pun hanya sementara, maka harus bisa melihat kebenaran dan melepaskan.  Kita hidup di dunia yang penuh ilusi. Ketika pejabat hitam dan putih Akhirat datang menjemput, semua kejayaan, ketenaran, dan kekayaan duniawi akan lenyap tanpa jejak. Hari ini kalian masih hidup, tetapi suatu hari nanti, ketika kalian terbaring di rumah sakit, segalanya akan hilang. Cobalah bayangkan, itu akan menumbuhkan kesadaran dalam diri. Sering membayangkan dan sering bertobat akan membuat kalian memperoleh lebih banyak potensi kesadaran. Sering memperhatikan perubahan orang-orang di sekitar dan ketidakkekalan hal-hal di dunia ini; pahamilah bahwa kehidupan ini bagaikan satu jilid besar dari Tripitaka (Kitab Suci Agung).  Di dunia ini, kita tidak boleh melekat. Semakin kita menginginkan sesuatu, semakin banyak pula muncul kebencian dan keserakahan. Segala sesuatu muncul karena jodoh dan akan lenyap pula karena jodoh. Hargailah kenyataan, dan segalanya menyesuaikan jodoh.

Kebajikan, kebenaran, tata krama, kebijaksanaan, dan keyakinan adalah sifat dasar manusia. Namun, orang-orang zaman sekarang sering kali dipenuhi dengan sifat egois, kasar, bodoh, dan tidak dapat dipercaya. Dalam dunia manusia yang penuh ketidakkekalan ini, mereka bertindak semaunya, menuruti hawa nafsu, melanggar sila, dan kehilangan kendali diri. Itulah sebabnya mengapa neraka semakin luas dan semakin dalam.  Ingatlah, jika manusia tidak mampu mengendalikan diri, yang menantinya adalah neraka. Di dunia ini, jika seseorang tidak menjaga perilakunya, yang menantinya adalah penjara. Jika tidak menjaga diri di antara orang-orang yang menekuni Dharma, yang menantinya adalah neraka. Neraka di dunia sesungguhnya adalah mentalitas. Ketika setiap hari kamu tidak bisa lepas dari penderitaan, ketika kamu setiap hari tenggelam dalam rasa penderitaan penyakit kanker, sesungguhnya kamu sudah berada di neraka duniawi. Semoga mulai hari ini, kita semua dapat meninggalkan neraka dan pikiran buruk, setiap hari memikirkan Bodhisattva. Ingatlah bahwa menanggung penderitaan adalah sebuah berkah. Dalam hidup ini, kita harus belajar “menanggung dua hal”: satu adalah menanggung penderitaan, dan satu lagi adalah menanggung kerugian. Hanya dengan begitu, kamu baru dapat hidup dengan baik di dunia ini.

Suatu hari, filsuf besar Tiongkok kuno, Laozi, memanggil murid-muridnya ke sisi tempat tidurnya. Ia membuka mulutnya dan menunjuk ke dalam dengan jarinya, lalu bertanya kepada para murid, “Apa yang kalian lihat?” Tidak ada satu pun murid yang bisa menjawab. Laozi berkata, “Gigi-gigiku sudah tidak ada, tetapi lidahku masih ada.” Apa artinya? Laozi menjelaskan, “Sekarang Aku sudah tua, lihatlah ke dalam mulutku, tidak ada satu pun gigi yang tersisa, semuanya telah tanggal, tetapi lidahku masih tetap ada.” Dengan kata lain, meskipun gigi keras, tetapi tidak berumur panjang; sedangkan lidah lembut, namun memiliki daya hidup yang sangat kuat. Sebagai manusia, jika kita terlalu keras kepala, mudah marah, dan bersikap kaku, itu akan mencelakai jiwa kebijaksanaanmu. Baja yang terlalu keras akan patah, tetapi lidah yang lembut justru dapat menaklukkan baja. Hati manusia harus seperti lidah, banyak mengucapkan kata-kata yang baik, banyak mengatakan kata-kata yang penuh kebaikan dan welas asih. Karena welas asih akan membawakan hal terindah di dunia ini kepadamu, yaitu kehidupan yang abadi.

Kita manusia harus tahu bagaimana bersikap dengan tepat — kapan harus maju dan kapan harus mundur. Hari ini, jika orang lain memperlakukan saya dengan baik, saya juga seperti itu, tidak terbawa oleh pujian maupun hinaan. Segala yang dimiliki seseorang dalam hidup ini sesungguhnya hanyalah sementara. Ada seorang kakek yang mabuk di jalan dan tergeletak di pinggir jalan. Seorang polisi datang menghampirinya dan bertanya, “Kakek, di mana rumahmu?”  Kakek itu menjawab, “Aku punya rumah yang sangat indah dan seorang istri yang sangat manis. Ia masih sangat muda dan sedang menungguku pulang ke rumah.”  Polisi lalu bertanya, “Kalau begitu, mengapa kakek duduk di pinggir jalan sambil menangis?”  Kakek itu menjawab, “Karena Aku lupa nomor rumahku.”  Kisah ini memberi tahu semua orang, segala sesuatu yang kita peroleh dalam hidup ini sebenarnya bukanlah milik kita, karena manusia akan menua, ingatan kita akan melemah. Namun, hati kita tidak boleh menua, dan kebijaksanaan kita tidak boleh berkurang. Semoga semua orang, dalam perjalanan belajar Buddha Dharma senantiasa menjaga hati yang murni, membuat mentalitas sendiri menjadi semakin sempurna, suasana hati menjadi semakin bahagia, dan kehidupan kita menjadi semakin indah dan penuh kebahagiaan.

Kemakmuran sebuah negara bergantung pada kebijaksanaan rakyatnya, dan kebijaksanaan rakyat berasal dari kebijaksanaan ajaran Buddha Dharma. Sebuah negara yang penuh kebijaksanaan akan menciptakan lebih banyak keajaiban bagi perdamaian dunia; dan ajaran Buddha Dharma yang bijaksana akan membuat dunia dipenuhi dengan sinar matahari dan kedamaian!  Kalian semua adalah utusan perdamaian. Kalian adalah para penyebar ajaran Buddha Dharma. Semoga kalian berusaha dengan sungguh-sungguh, menaati hukum dan Dharma, mencintai negara dan rakyat, sehingga hati kita semua dipenuhi dengan kebijaksanaan dan welas asih, agar setiap keluarga menjadi semakin baik!

Ketika orang lain bertengkar denganmu, berharap kalian bisa berpikir:  “saya adalah Bodhisattva, saya tidak akan bertengkar denganmu, saya adalah Bodhisattva, kelak saya akan naik ke surga, tingkat kesadaran spiritual saya sangat tinggi.” Begitulah seharusnya. Tidak perlu banyak basa-basi.  Setiap orang membina dirinya sendiri dan memperoleh hasilnya masing-masing.  Daripada menghabiskan waktu untuk berdebat dengan orang lain, lebih baik gunakan waktu itu untuk melafalkan beberapa kali paritta Xin Jing.

Pikirkan pesawat yang kita tumpangi hari ini, jika baru saja terbang empat detik lalu tiba-tiba semua mesinnya mati dan pesawat jatuh, apa akibatnya?  Ada seorang teman se-Dharma kita yang pernah ikut dalam sebuah rombongan wisata. Secara mendadak, penerbangan mereka diubah dan terus-menerus ditunda. Banyak orang di sana marah dan mengeluh, tetapi dia dengan penuh sukacita Dharma berkata kepada Master:  “Saya sama sekali tidak merasa kesal. Saya justru memanfaatkan kesempatan ini untuk melafalkan tujuh lembar Xiao Fang Zi”  Apa yang perlu disesali? Apa yang tidak bisa dilepaskan?  Hal yang tidak bisa dilepaskan pun pada akhirnya harus dilepaskan. Daripada harus melepaskannya suatu hari, lebih baik melepaskannya hari ini.

Terima kasih kepada para relawan yang telah berkorban untuk acara besar kali ini. Makanan dan minuman bagi begitu banyak orang setiap hari semuanya disumbangkan oleh mereka. Terima kasih kepada mereka! Setiap hari harus hidup dalam rasa syukur, maka kalian akan hidup semakin bahagia. Setiap hari hidup dalam kebencian dan amarah, kalian akan hidup semakin menderita. Daripada hidup dalam penderitaan, lebih baik hidup bahagia. Berharap semua orang hidup di dalam lautan kebahagiaan Buddha.

Berusahalah dengan sungguh-sungguh. Dalam beberapa hari ini, perbanyaklah melafalkan paritta, belajar Buddha Dharma, dan melafalkan lebih banyak paritta Li Fo Da Chan Hui Wen, agar karma buruk di tubuh kita dapat disingkirkan lebih awal. Dalam hati, kita harus bisa berpikir terbuka, jika memang tidak ada jalan keluar, tidak apa-apa. Masalah yang tidak bisa kita selesaikan sekarang, bisa diselesaikan nanti. Tidak ada rintangan yang tidak bisa kita lewati. Ketika kita masih muda, ada begitu banyak hal yang membuat kita khawatir, sedih, dan sulit melepaskan. Tetapi bukankah sekarang semuanya sudah berlalu? Ketika saatnya kita harus pergi dari dunia ini, apakah kerisauan saat ini masih bisa menyakiti kita? Berpikiran terbuka dan mengerti, semuanya menyesuaikan jodoh, tidak masalah, apa pun bisa dilepaskan, melihat segala sesuatu dengan jernih dan kosong, itulah pencerahan!

Segala sesuatu di dunia ini tidak dapat dimiliki. Kita tidak membawa apa pun ketika datang ke dunia, dan kita pun tidak dapat membawa apa pun ketika pergi. Semoga semua orang jangan berpikir untuk membawa sesuatu pergi dari dunia ini. Setelah kita menekuni Dharma di dunia, kita harus memahami bahwa kita telah banyak kehilangan. Kehilangan kerisauan, kehilangan kekhawatiran, kehilangan mentalitas yang buruk. Kita harus mengikuti Bodhisattva, menjaga suatu mentalitas yang baik, agar setiap orang di dunia ini bisa mencapai Kebuddhaan. Maka itu, Master Tai Xu mengatakan: berhasil menjadi orang berarti berhasil menjadi Buddha. Kalian adalah Buddha di masa depan.

Semakin banyak orang yang mencapai Kebuddhaan, alam semesta ini akan menjadi semakin murni dan bersih. Semakin banyak orang yang welas asih, dunia ini akan menjadi semakin indah. Jangan lagi membenci orang lain, jangan lagi menyalahkan orang lain. Jagalah baik-baik hati yang jernih ini, barulah bisa mencapai Tanah Suci yang sejati.

Semoga semua orang benar-benar dapat membina diri dengan sungguh-sungguh. Saya melihat malam ini banyak orang yang datang semuanya mengalami penyakit dan penderitaan. Saya juga melihat banyak yang masih membawa kerisauan keluarga. Saya percaya, sekarang kalian sudah mulai banyak berpikir terbuka.  Jika suamimu masih memarahimu, ingatlah, ini adalah tingkat kesadaran spiritual. Inilah tingkat kesadaran spiritualmu, ia justru akan memberimu jodoh pendukung yang baik. Semakin ia memarahimu, semakin baik pembinaan dirimu. Kamu terus tekun melafalkan paritta, pada akhirnya kamu akan mencapai Kebuddhaan, sementara dia akan jatuh ke alam bawah.  Namun, kita tidak boleh membiarkannya jatuh. Kita harus melafalkan paritta bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuknya. Tariklah dia bersama-sama untuk naik ke atas. Ketika kita berhasil terbebas dari enam alam samsara, paling tidak, jika dia melepaskan genggaman tanganmu, ia akan terlahir di Alam Kammaloka, mungkin juga di alam Asura. Dengan begitu, kamu pun sudah memenuhi tanggung jawabmu terhadapnya.

Saya beritahu kalian, mulai sekarang kalau ingin bersujud dan memohon sesuatu, pertama-tama harus dengan sungguh-sungguh melafalkan paritta. Kosongkan pikiran, jangan memohon apa pun, jangan memikirkan apa pun. Bersujud terlebih dahulu dan melafalkan paritta, tiga kali {Da Bei Zhou} dan tiga kali {Xin Jing}. Setelah selesai melafalkan dan merasa sangat baik, itu tandanya Bodhisattva telah datang. Setelah itu barulah ketika memohon, kalian bisa menyampaikan penderitaan dan kesulitan kalian kepada Bodhisattva.  Banyak orang tidak mengerti apa-apa, langsung datang ke altar dan berkata, “Bodhisattva, tolong berkati saya,” tidak tahu berbicara dengan benar, tidak melafalkan paritta, padahal Bodhisattva belum datang. Saya beritahu kalian, ketika Bodhisattva turun dari langit, memang membutuhkan sedikit waktu. Sekarang para ilmuwan telah menemukan bahwa zaman cahaya dan foton telah melampaui zaman atom, jadi sekarang adalah zaman cahaya. Kalian semua tahu, cahaya bergerak sangat cepat, Bodhisattva turun dalam wujud cahaya, tetapi tetap membutuhkan sedikit waktu.  Oleh karena itu, kalian harus membuat Bodhisattva “hadir di tempat”. Dengan kata lain, setelah Bodhisattva sudah hadir, barulah kalian memohon. Saat itu, apa pun yang kalian mohon akan dikabulkan Bodhisattva. Jangan menangis keras, karena tangisan keras terlalu berisik. Saat memohon kepada Bodhisattva, kalian boleh meneteskan air mata di dalam hati, tapi jangan menangis keras. Ada orang yang menangis keras, dan para Dewa Pelindung Dharma tidak akan menolongmu. Ketika kamu menangis, getaran dari mulutmu yang melafalkan paritta akan mengguncang Alam Surga. Setelah itu, Alam Surga akan memeriksa catatan kamu — yang sekarang disebut “arsip”, namun sebenarnya itu adalah “Buku Surga”, yaitu catatan tentang jasa kebajikanmu, apakah kamu dulu telah berbuat baik sebagai manusia, dan apakah perbuatanmu selama ini baik atau tidak. Jika seseorang yang telah membina diri dengan baik menangis, ketika Buku Surga dibuka dan terlihat bahwa orang ini baik, Bodhisattva akan segera menolongnya, artinya Dewa Pelindung Dharma akan langsung membantu menyelesaikan masalahnya, tangisannya itu bermanfaat. Tetapi ada orang yang perilakunya sangat buruk, melakukan banyak perbuatan jahat, lalu menghadapi masalah, ketika Dewa Pelindung Dharma membuka Buku Surga dan melihat bahwa orang ini jahat, menutupnya.

Saya beritahu kalian, jika dalam mimpi kalian melihat sosok berwarna hitam di samping kalian, tetapi wajahnya tidak terlihat, itu adalah Hei Wuchang — Pejabat Hitam Akhirat. Jika yang kalian lihat adalah sosok berwarna putih di sisi kalian, itu adalah Bai Wuchang — Pejabat Putih Akhirat. Hei Wuchang bertugas mengurus alam bawah. Jika kamu tidak bermoral di dunia ini, dia yang mengawasimu. Dia akan menarikmu. Bai Wuchang mengurus orang-orang yang di dunia ini kekurangan moralitas dan banyak berbuat jahat. Ini Bai Wuchang yang mengawasimu. Seseorang yang di dunia ini memarahi atau memukul orang lain, Bai Wuchang datang, kamu paling akan terluka atau menerima sedikit balasan karma, tidak akan meninggal. Jika kamu di dunia ini tampak seperti orang yang bermoral dan terhormat, tetapi sebenarnya kamu telah sering memfitnah dan menjebak orang lain, maka pada saat itu Hei Wuchang datang, Dia akan membuat tubuhmu tumbuh sesuatu, atau menimbulkan penyakit yin. Penyakit yin adalah penyakit yang tersembunyi, penyakit yang tidak bisa dilihat atau diraba oleh dokter. Jika suatu hari Hei Wuchang dan Bai Wuchang datang bersamaan, mereka akan saling mencocokkan catatanmu. Bila di dunia manusia (alam yang) dosa-dosamu sudah menumpuk, dan di alam yin juga penuh dengan kesalahan, maka ketika keduanya mencocokkan catatan itu, mereka akan memutuskan untuk memanggilmu pergi saat itu juga. Karena itulah banyak orang yang tiba-tiba mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat.  Jadi saya beritahu kalian adalah agar kalian mengerti, jangan kekurangan kebajikan yin, dan jangan pula berbuat banyak kesalahan di dunia. Jika tidak, hidup kita akan berakhir. Jika ingin hidup panjang umur, maka harus tahu untuk menghargai jiwa kebijaksanaan diri sendiri. Jangan berbuat jahat, tekunlah berbuat baik. Mengamalkan semua kebaikan, dan menjauhi segala kejahatan! 

Terakhir, berharap kalian semua dipenuhi dengan sukacita Dharma. Saat ada waktu dan merasa tidak bahagia — lafalkanlah paritta. Saat ada waktu dan ingin bertengkar — lafalkanlah paritta. Saat ada waktu dan tidak bisa tidur — lafalkanlah paritta. Kita harus terus melafalkan, melafalkan, dan melafalkan, hingga mencapai keadaan “melafalkan tanpa pemikiran”, satu pikiran langsung menuju surga!  Mengapa para biksu di kuil melafalkan paritta dari pagi hingga malam? Melafalkan paritta adalah membuka kebijaksanaan. Lafalkanlah dengan sungguh-sungguh, dengan melafalkan paritta, kalian bisa membuat suami menjadi lebih baik, keluarga menjadi harmonis, masyarakat menjadi damai, dan mentalitas menjadi baik, semua itu bergantung pada melafalkan paritta.  Melafalkan paritta itu seperti belajar. Jika nilai kalian baik, itu karena kalian rajin belajar. Mulailah bersungguh-sungguh sekarang, barulah kita bisa “lulus”. Penguji kita adalah Buddha Amitabha dan Guan Shi Yin Pu Sa. Ketika nilai ujian kalian sempurna, kepala sekolah akan turun menjemput kalian menuju “kampus Sukhavati”, Tanah Suci Barat yang penuh kebahagiaan!

Jangan bersedih lagi, jangan ada kerisauan lagi. Siapa pun yang masih tidak bahagia dalam beberapa hari ini berarti belum mencapai pencerahan. Memaafkan orang lain, kamu akan bahagia. Menyesali kesalahan diri sendiri akan membuatmu bahagia. Banyak menanam kebaikan dan menjalin jodoh baik, maka kamu akan penuh sukacita Dharma.