Melepaskan Semua Jodoh, Bersyukur, Membina Pikiran dan Perilaku, Mencapai Kebuddhaan
Seminar Dharma Melbourne, 7 Desember 2014
Di Adelaide, Australia, seorang wanita Tionghoa menikah dengan seorang pria Barat dan melahirkan dua anak. Suami istri saling mencintai, anak-anak mereka menerima pendidikan Barat sejak kecil dan juga berbakti. Sang suami meninggal karena kanker paru-paru. Beberapa tahun kemudian, sang istri menikah dengan seorang pria Tionghoa dan melahirkan seorang putri lagi. Kini wanita tua itu berusia hampir tujuh puluh tahun. Putrinya menerima pendidikan budaya tradisional Tiongkok, sementara kedua putranya menerima pendidikan Barat. Suaminya yang Tionghoa meninggal dalam kecelakaan mobil beberapa tahun yang lalu. Kedua putranya dengan tegas berkata, “Bu, Ibu harus tinggal di panti jompo.” Sang ibu tidak punya pilihan selain tinggal di panti jompo, tetapi ia tidak terbiasa. Ia tidak bisa bertemu kerabatnya, merindukan anak-anaknya setiap hari, dan hampir setiap hari menangis. Ia merasa dirinya seperti orang yang menunggu tiga hal – menunggu makan, menunggu tidur, menunggu mati. Ia menderita depresi di panti jompo dan ingin bunuh diri sepanjang hari. Putrinya membawa ibunya pulang, sesuai dengan tradisi Tiongkok, ia membiarkan ibunya melihat rumah yang familiar dan rumah yang ia sukai, menunggu anak-anaknya pulang kerja setiap hari dan memasak untuk mereka, penyakit ibunya segera pulih. Ibu dan putrinya belajar melafalkan paritta dan membina pikiran. Inilah perbedaan antara budaya Tiongkok dan Barat. Kebajikan, kebenaran, tata krama, kebijaksanaan dan keyakinan dari budaya Tiongkok, berbakti kepada orang tua adalah fondasi pertama dalam menekuni Buddha Dharma. Jika kamu ingin memiliki berkah, harus berbakti kepada orang tua. Seseorang yang memahami berbakti kepada orang tua, ia pasti akan memiliki berkah di dunia.
Tidak ada yang sempurna atau tidak sempurna di dunia ini. Jika kamu bisa berpikiran jernih dan terbuka, kamu adalah sempurna. Ada banyak kerisauan di dunia ini, kita praktisi Buddhis seharusnya tidak melarikan diri atau menghindarinya, melainkan harus menghadapinya dan memikul tanggung jawab kita sendiri, kita baru tidak akan takut; baru tidak ada ketakutan, kita tidak takut, yaitu tidak takut melakukan hal-hal tertentu, maka kita tidak akan merasa takut, dan tidak ada rasa takut. Kita tidak khawatir oleh segala hal di dunia ini, kita dapat melepaskan segalanya, sehingga kita akan terbebas dari kekhawatiran. Melepaskan akan menjauhkan kita dari ilusi yang kontradiktif – bertolak belakang, tercerahkan dan terbebaskan, mencapai Nirvana, dan memperoleh pencerahan tertinggi, yaitu Anuttara Samyaksambodhi. Setiap hari melafalkan paritta, tetapi tidak tahu bagaimana menerapkannya dalam kehidupan. Setiap hari menekuni Dharma, namun masih ada keserakahan, kebencian dan kebodohan, mulut melafalkan nama suci Bodhisattva, tetapi perilaku melakukan hal-hal di Alam Asura dan Alam Neraka. Praktisi Buddhis sejati, mulutnya melafalkan Amitabha, dan berperilaku seperti Sang Buddha.
Ada seorang pemuda yang sangat malang. Ibunya meninggal dunia saat ia berusia sepuluh tahun. Ayahnya adalah seorang sopir truk jarak jauh. Anak itu hidup dengan mencuci pakaian dan memasak sendiri, tujuh tahun kemudian, ayahnya meninggal dalam kecelakaan mobil. Ia tidak ada sandaran, sangat kasihan. Ia belajar mencari nafkah dan menghidupi dirinya sendiri. Saat berusia 20 tahun, ia kehilangan kaki kirinya dalam kecelakaan mesin. Ia berjalan dengan susah payah menggunakan tongkat. Ia menghabiskan seluruh tabungannya untuk memulai peternakan ikan, satu kebanjiran menyapu bersih tabungan dan harapannya. Ia pergi ke kuil dan berlutut di hadapan Bodhisattva sambil menangis dan berseru: “Sang Buddha, mengapa Anda begitu tidak adil kepadaku?” Sang Buddha berkata dalam mimpinya di malam hari: “Mengapa kamu merasa tidak adil?” Ia menceritakan kemalangannya kepada Sang Buddha. Sang Buddha berkata: “Anak yang malang, mengapa kamu masih mau terus hidup di dunia?” Pemuda itu sangat marah ketika mendengarnya, dan berkata: “Saya tidak akan mati. Saya telah mengalami begitu banyak peristiwa tragis, saya sedang menghapus karma. Suatu hari nanti, saya tidak akan memiliki utang dan saya akan menciptakan kebahagiaan yang lebih baik.” Sang Buddha berkata: “Saya akan membuka pintu neraka, kamu lihatlah” Sang Buddha menunjuk ke seorang hantu dan berkata: “Orang ini beruntung dalam hidupnya, menjalani perjalanan yang mulus, kaya raya. Namun, pada akhirnya, seperti kamu, ia kehilangan semua kekayaannya dalam satu kebanjiran. Perbedaan antara dia dan kamu adalah ia bunuh diri dan menjadi hantu, sedangkan kamu masih hidup dengan kuat.” Kisah ini memberi tahu kita bahwa takdir yang berbeda menciptakan kepribadian yang berbeda. Seseorang harus memahami bahwa menanggung penderitaan adalah mengikis karma. Seseorang yang dapat menerima kenyataan adalah seseorang yang tahu untuk mengubah kenyataan. Bagi kita praktisi Buddhis, menanggung penderitaan adalah sementara, tetapi bagi mereka yang tidak membina diri, penderitaan adalah selamanya.
Sebenarnya, hidup manusia penuh dengan kerisauan Sejak lahir, kita sudah menaiki sebuah kereta kematian, dan tujuan akhirnya adalah kematian. Apa yang harus dilakukan oleh manusia di kereta itu? Apa yang kita inginkan? Meskipun kita memiliki rumah mewah dan banyak uang, pada akhirnya kita juga harus turun dari kereta itu. Manusia bagaikan angin, seumur hidup mengembara tanpa arah; manusia juga bagaikan rumput, sering kali diinjak-injak oleh orang lain, hidup di dunia dan dicaci-maki, dibicarakan, diremehkan, dan diejek orang lain setiap hari. Manusia bagaikan cahaya, hanya berkedip sekejap lalu berlalu. Hari ini menjadi ketua, besok menjadi direktur dan menjadi orang tua di rumah setelah pensiun. Manusia bagaikan hujan, membingungkan dan penuh kesedihan seperti hujan yang turun, jalan hidup pun jadi samar dan membingungkan, tidak bisa membedakan. Praktisi Buddhis harus percaya kepada Buddha tanpa keraguan. Karena kamu percaya kepada Bodhisattva, kamu seharusnya tidak ragu. Seseorang yang ragu pasti tidak akan percaya. Orang yang meragukan ajaran Buddha Dharma pasti tidak akan percaya. Orang bijak membina diri dengan tulus, sedangkan orang bodoh bertindak munafik. Beberapa orang melafalkan paritta ketika melihat semua orang berada di sekitar, tetapi malas dan mengendur ketika tidak ada orang. Dan ada orang yang sambil melafalkan paritta sambil tertidur. Ada banyak orang yang tertidur. Dalam dunia Buddhis dikatakan “memasuki samadhi”, tetapi samadhi yang sesungguhnya adalah berpikir jernih, pikiran sangat jernih dan tidak ada pemikiran.
Saat ini, banyak orang hidup di dunia dan lebih mementingkan uang daripada nyawa mereka. Ada seorang pengusaha yang sangat pelit, satu sen pun ia perhitungkan, suatu ketika, ia naik taksi melewati pegunungan yang berliku. Tiba-tiba, ban mobil tergelincir, dan sang sopir ketakutan lalu berteriak: “Aduh! Remnya blong! Bagaimana ini?!” Pengusaha itu berteriak kepadanya, “Cepat matikan argonya, dasar kamu orang yang mementingkan uang daripada nyawa!” Temperamen dan karakter seseorang menentukan hidupnya. Ada orang suka merajuk di rumah. Seorang gadis di stasiun radio kami bercerita kepada saya, dia dan orang tuanya, tiga orang semuanya bertemperamen keras kepala. Ketika mereka bertengkar, mereka bisa saling mengabaikan selama satu hingga tiga bulan. Suatu kali ketika telepon di rumah berdering, ia menghampirinya, dan ketika ia mendengar bahwa telepon itu bukan untuknya, ia pun menutup telepon. Ayahnya mengira panggilan telepon itu untuk ayahnya, jadi ia menghampirinya untuk mendengarkan, dan ternyata telepon itu juga bukan untuknya, dan dia pun meletakkannya, lalu ibunya tahu bahwa telepon itu untuknya.
Ketika orang-orang mengabaikan satu sama lain, mentalitasnya akan tidak baik. Master memberi tahu semua orang sebuah metode sederhana. Jika suami istri bertengkar dan mengabaikan satu sama lain, pertama-tama harus membiarkan pihak lain berbicara terlebih dahulu, maka perang dingin akan berakhir. Ada sebuah lelucon. Suami dan istri sudah lama tidak berbicara. Sang suami berpura-pura mencari sesuatu di lemari dan mengobrak-abriknya. Sang istri melihatnya mengobrak-abrik cukup lama, dia sangat marah, tidak bisa menahan dan bertanya: “Apa yang kamu cari?” Sang suami berkata: “Akhirnya Aku menemukan suaramu!” Sebenarnya, pasangan itu ingin bicara tetapi tidak tahu mulai dari mana, padahal satu kalimat mengakhiri semuanya. Perang dingin terjadi karena tidak ada yang mau bicara duluan, simpan di hati dan merasa sedih. Mereka ingin bicara tetapi tidak ada yang bersedia buka mulut dulu. Dan memiliki satu kebiasaan sangat buruk, setiap kali bertengkar, selalu ingin pihak lain bicara duluan.
Saat ini, banyak orang tidak mau melakukan hal-hal kecil, tetapi mereka tidak mampu melakukan hal-hal besar, pada akhirnya tidak melakukan apa-apa. Menekuni Dharma dan menjadi manusia harus memahami bahwa di dunia ini, baik urusan keluarga, urusan pribadi, maupun urusan negara, semuanya adalah jodoh. Ketika bertemu harus memanfaatkan kesempatan itu dan menghargainya. Kehilangannya juga merupakan kesempatan bagimu untuk melepaskannya. Jika kamu dipecat hari ini, kamu harus dengan tenang merenungkan berbagai kekurangan yang kamu miliki di perusahaan, memperbaiki mentalitas diri, dan mencari pekerjaan yang lebih baik. Ini adalah sebuah peluang.
Orang-orang terlalu peduli dengan pikiran dan pendapat orang lain. Terkadang orang hidup di mata dan mulut orang lain. Begitu orang lain mengatakan sesuatu, maka ia tidak berani melakukannya, karena takut akan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya. Dengan demikian akan kehilangan sifat dasar diri sendiri. Seseorang seharusnya jangan terlalu peduli pada pandangan orang lain, harus memiliki sifat dasar diri sendiri, sehingga tidak akan menderita dan bersedih karena takut akan perolehan dan kehilangan. Betapa pelitnya orang-orang sekarang? Sebuah bus umum hampir tiba di terminal, banyak orang berjalan menuju pintu. Ada dua orang yang berdiri lama tetapi tidak mendapatkan tempat duduk. Ketika mereka melihat orang lain berdiri, salah satunya berkata: “Ayo kita cari tempat duduk dan duduk sebentar.” Temannya berkata, “Kita segera akan sampai, untuk apa duduk lagi?” Pria itu berkata, “Kan belum sampai, sayang sekali kalau tidak duduk.” Sambil berbicara, ia berjalan menuju kursi kosong di belakang. Padahal orang yang berdiri di sebelah tempat kosong tersebut sudah berdiri, tetapi ketika melihat seseorang datang untuk duduk di kursinya, ia langsung duduk kembali. Orang-orang yang berdiri di samping juga ikut duduk ketika emua orang langsung berdesakan menuju pintu, menghalangi pintu dan membuat kekacauan. Membuat kondektur sangat marah dan berteriak, “Apa yang kalian lakukan tadi?” Seringkali, alasan orang menjadi bodoh adalah karena mereka terlalu takut dirugikan. Mereka selalu merasa akan menderita kerugian, sehingga kerugian akan semakin besar. Pemikiran seperti ini membuat perilaku diri menjadi bodoh.
Jika seorang praktisi Buddhis selalu memikirkan dirinya sendiri dan membina dirinya, tidak memedulikan pembinaan diri orang lain, takut kehilangan ini dan itu, ia akan kehilangan lebih banyak kebijaksanaan. Orang yang tidak bisa merelakan selamanya tidak akan mendapatkan apa pun. Orang yang bisa merelakan akan mendapatkan lebih banyak. Jika seorang ibu tahu bagaimana mengorbankan dirinya dan membesarkan lima atau enam anak, anak-anaknya akan sangat berbakti kepadanya. Bukankah mengorbankan satu dan memperoleh lebih banyak? Demikian pula, jika kita membantu lebih banyak orang hari ini, kita akan mendapatkan lebih banyak bantuan dari orang lain. Ada orang yang mengatakan bahwa dia tidak memiliki jodoh penolong. Apa itu jodoh penolong? Jodoh penolong ada di sekitarmu. Ketika kamu membantu orang lain, jodoh itu sudah ada. Jika kamu terus membantu orang lain, kamu akan mendapatkan lebih banyak bantuan dari orang lain.
Menekuni Dharma dan menjadi manusia adalah suatu pikiran melampaui, melampaui alam manusia. Para Buddha dan Bodhisattva memberi tahu kita apa yang baik dan apa yang jahat, tetapi tidak memberi tahu kita pilihan yang baik dan yang jahat. Bodhisattva memberi tahu kita bahwa ini baik dan ini jahat, tetapi banyak orang memilih yang jahat dan meninggalkan yang baik. Pilihannya tetap bergantung pada diri sendiri, hidup harus dikendalikan oleh diri sendiri. Menekuni Dharma adalah bentuk tanggung jawab terhadap hati nurani sendiri, bukan untuk dilihat orang lain. Membina pikiran tidak boleh selalu mendengarkan gosip. Orang yang sering mendengarkan gosip tidak dapat membina pikirannya dengan baik. Berharap semua orang dapat memahami sifat dasar hati nuraninya dengan baik.
Ada seorang pria Barat berusia 21 tahun bernama Mike di Melbourne. Ia mengalami kecelakaan mobil yang serius pada tahun 2013. Setelah siuman, secara mendadak ia fasih berbahasa Mandarin. Ia memberi tahu kepada wartawan bahwa banyak kosakata Mandarin muncul di benaknya. Mike hanya belajar sedikit bahasa Mandarin di SMA dan sekarang bekerja sebagai pemandu wisata Tionghoa di Melbourne. Kejadian ini menunjukkan bahwa jiwa dan raga manusia beroperasi di ruang yang berbeda.
Orang-orang sebenarnya sangat bodoh, mengira diri sendiri sangat pintar. Ada pepatah yang mengatakan, “Rencana manusia kalah dengan rencana langit”. Kita mempelajari Buddha Dharma adalah untuk mengubah takdir kita sendiri. Kita memiliki pikiran yang benar, baru akan melakukan hal yang benar. Kenikmatan fisik tidak dapat mendatangkan kebahagiaan spiritual. Merokok dan minum alkohol memang menyenangkan, tetapi setelahnya, kamu akan batuk dan sakit liver, sangat menderita. Sebab di kehidupan sebelumnya akan menghasilkan akibat di kehidupan ini. Menanam sebab di kehidupan ini, akan menuai akibatnya di kehidupan selanjutnya. Hukum karma tidak akan keliru atau merugikan kita. Semua orang harus mempelajari sebuah konsep yang sangat baik. Tidak ada yang tidak bisa berpikiran terbuka di dunia ini, semuanya adalah sebab dan akibat. Jika saya menderita hari ini, itu pasti karena saya tidak bersikap dan berbuat baik di kehidupan sebelumnya. Berharap semua orang memahami, jangan mencari kerisauan sendiri. Jangan menggunakan perkataan dan perbuatan orang lain yang salah untuk menghukum atau merisaukan diri sendiri.
Budaya tradisional Tiongkok mengatakan, “Hal yang bisa dilakukan, namun tidak melakukannya, maka adalah pengecut. Hal yang tidak boleh dilakukan, namun memaksakan diri untuk melakukannya, maka adalah bodoh.” Suatu hal yang boleh dilakukan, namun kamu tidak berani melakukannya, maka kamu adalah seorang pengecut. Kita harus belajar menjadi orang baik dan membantu orang lain, tetapi kita tidak membantu orang lain dan tidak melakukan perbuatan baik, maka adalah pengecut. Jika hal yang tidak boleh dilakukan, namun bersikeras melakukannya, jelas-jelas itu bukan milikmu, tetapi kamu harus meraihnya, kamu pasti adalah orang bodoh. Ini sejalan dengan ajaran Buddha Dharma, “menyesuaikan jodoh tetapi tidak memaksa jodoh”. Kita tidak boleh serakah terhadap ketenaran dan kekayaan di dunia, karena itu bukan milik kita, jangan mati-matian mengejarnya, bisakah kita mengejar semua ketenaran, bisakah kita menghabiskan kekayaan? Orang yang hidup dalam kehidupan materi dan ketenaran adalah orang yang susah dan menderita. Semua materi di dunia tidak memiliki sifat diri, tidak ada hal yang paling semula, yaitu hal yang tidak bertahan lama. Apa yang abadi di dunia ini?
Jangan mengejar ketenaran dan kekayaan. Orang yang mengejar ketenaran dan kekayaan hanya peduli pada keuntungan dan kerugian di depan mata. Kita harus memahami bahwa ada banyak peristiwa besar di dunia ini yang tidak dapat kita kendalikan atau pengaruhi, seperti perang dunia yang kacau, kehidupan yang berbahaya, takdir yang tak terduga, dan kehidupan yang rumit. Manakah yang bisa dikendalikan? Sepasang kekasih yang baik tiba-tiba berselisih. Mereka sepakat untuk menikah pada tanggal tertentu, tetapi sang pengantin pria melarikan diri di hari pernikahan karena seorang teman prianya berkata: “Istrimu dulu berselingkuh denganku, dan sekarang dia masih berhubungan denganku.” Hati manusia tidak terduga. Bagaimana kita bisa menempatkan diri pada posisi yang memungkinkan kita melihat dengan jelas terhadap ketenaran dan kekayaan di dunia ini? Kita harus menyadari dengan jelas bahwa dunia ini adalah palsu dan kosong pada hakikatnya. Kita harus mengatasi kerisauan dan nafsu keinginan diri sendiri, barulah menjalani kehidupan yang nyata di dunia. Hanya ketika kita murni, kita dapat terbebas dari kekhawatiran. Berharap semua orang tidak serakah, harus selalu belajar satu kalimat “cukup, sudah cukup”.
Banyak pebisnis yang sangat cerdik. Psikolog memberi tahu mereka: Jika kamu berbisnis dengan seseorang dan ingin tahu apakah dia serakah atau tidak, ada satu cara, kamu bisa mengajaknya makan ke restoran prasmanan. Ketika dia makan prasmanan, jika dia terus mengambil makanan, satu piring demi satu piring, tanpa henti, maka besar kemungkinan dia juga akan serakah saat berbisnis denganmu. Jika seseorang sering berkata, “Saya sudah cukup, saya sudah siap, saya sudah punya,” kamu bisa berteman dengannya. Kalian perempuan juga harus berhati-hati saat mencari pacar. Jika seorang pria sering pergi keluar denganmu dan berkata, “Saya tidak apa-apa, kamu jaga diri; saya sudah cukup, saya sudah kenyang, kamu makan lebih banyak,” pria seperti ini layak untuk dijadikan suami. Jika dia hanya memikirkan dirinya sendiri saat makan tanpa peduli orang lain, pria seperti itu sangat berbahaya.
Ada banyak hal yang harus dipelajari dalam hidup. Terkadang, melakukan sesuatu dengan niat yang salah akan memengaruhi kehidupan normal diri sendiri. Jika seseorang sering berbuat jahat dan tidak berbuat baik, seiring waktu berjalan ia akan menjadi orang jahat; Jika seseorang sering berbuat sedikit kebaikan dan tidak berbuat jahat, selama 365 hari, ia adalah orang baik. Apa yang sering dilakukan seseorang akan muncul dalam kesadaran kedelapannya. Ada seorang guru yang sangat suka bermain mahjong dan sering bermain semalaman. Suatu pagi saat mengajar, ia melihat papan tulis belum dibersihkan. Ia sangat marah dan bertanya: “Siapa yang menjadi bandar hari ini? Mengapa tidak membersihkan papan tulis?”.
Setiap orang harus memahami satu kebenaran. Dalam kehidupan nyata, kita tidak boleh merasa tidak senang dengan ini, tidak senang dengan yang itu, tidak puas dengan ini, tidak mau melakukan itu. Kamu akan banyak mengeluh, selalu merasa orang lain berutang kepadamu, masyarakat berutang kepadamu, tidak pernah merasakan apa yang telah dilakukan orang lain dan masyarakat terhadap kehidupanmu. Selalu timbul dendam di hatimu, tidak ada rasa terima kasih. Tragedi dan kemalangan terbesar di dunia adalah sering mendengar orang berkata, “Tidak ada yang memberi saya apa pun, orang tua saya tidak pernah baik kepada saya.” Orang seperti ini hanya memiliki saya, hanya ada keakuan. Ia akan menderita dan risau seumur hidupnya.
Seseorang harus menemukan kekurangan diri sendiri baru bisa memperbaikinya, harus memiliki mentalitas yang benar. Pola pikir yang seimbang baru bisa memahami esensi dunia. Mentalitas yang berbeda menentukan pandangan hidup, nilai-nilai, dan takdir yang berbeda. Praktisi Buddhis memandang kehidupan dengan metode yang baik, segalanya adalah ilusi. Harus memandang dunia ini dengan pikiran yang optimis. Baik saya menjalani hidup dengan penderitaan di hari ini maupun hidup dengan penuh sukacita dan gembira, tetap saja harus menjalaninya, semua ini hanya terletak pada pola pikir saja. Melihat hal yang sama dengan pola pikir yang berbeda akan menghasilkan perspektif yang berbeda pula. Dua orang berkunjung ke rumah orang lain sebagai tamu. Mereka datang terlambat dan semua hidangan telah habis. Satu orang berjalan menghampiri dan sangat sedih, “Kenapa kalian menghabiskan semua makanan? Hanya sisa sepotong roti.” Satu orang lagi menghampiri dan berkata, “Bagus sekali, tidak menghabiskan semuanya, masih ada satu potong roti!” Suasana hati yang sama menentukan kehidupan yang sama. Kalian masih hidup hari ini, masih bisa bernapas, kalian jauh lebih baik daripada mereka yang memasang oksigen di rumah sakit. Kalian masih punya mata untuk membaca koran dan menonton TV hari ini, kalian jauh lebih baik daripada ratusan ribu orang tunanetra. Hargai masa kini, syukuri masa lalu, dan menekuni Dharma dengan baik, jangan menyia-nyiakan waktu. Menjadi orang baik adalah realitas hidup yang sesungguhnya.
Berharap setiap orang harus menekuni Dharma dan membina pikirannya dengan baik, baik-baiklah berperilaku layaknya manusia, menjadi pribadi yang baik, barulah bisa menjadi orang baik.
