Melampaui Dunia Fana, Membangkitkan Kebijaksanaan Dasar (Bagian 1) 超越人间凡尘 启发根本智慧 (上)

Melampaui Dunia Fana, Membangkitkan Kebijaksanaan Dasar (Bagian 1)

Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Hong Kong, 21 Juni 2015

Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang; Terima kasih kepada Naga Langit dan para Bodhisattva Pelindung Dharma, para biksu serta para umat Buddhis di seluruh dunia atas bantuan dan dukungannya. Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan. Di alam surga bertambah lagi 1.200 bunga teratai, penuh sukacita Dharma.

Ajaran Buddha Dharma memang benar dan nyata. Welas asih adalah dasar praktisi Buddhis. Ketekunan adalah kebijaksanaan praktisi Buddhis. Jika hari ini kamu sudah tercerahkan, kamu tidak akan bersedih karena masa lalu kamu. Dalam ajaran Buddha Dharma dikatakan: saat menghadapi penderitaan, janganlah gelisah dan bersedih. Kita harus memahami bahwa saya adalah orang yang tercerahkan; terhadap segala perolehan dan kehilangan di dunia ini, saya menyesuaikan jodoh. Baik kehilangan maupun perolehan, semuanya adalah jodoh saya.

Hari ini, bila kita masih bisa hidup dengan baik, berarti kita adalah makhluk yang berjodoh. Hari ini, jika suami-istri berpisah, berarti tidak ada lagi jodoh sebagai pasangan. Hari ini, jika kita dapat hidup dengan aman dan selamat, itu menandakan masih ada jodoh yang baik. Hari ini, jika kita bertengkar hebat dengan anak, itu adalah jodoh buruk. Segala perasaan dan kerisauan di dunia ini semuanya adalah jodoh. Hargailah jodoh yang masih kita miliki hari ini, barulah kita tidak akan kehilangan satu-satunya jodoh baik yang tersisa. Hari ini kita memiliki jodoh dengan Buddha, barulah ada pertemuan dan kebersamaan umat Buddhis sedunia seperti hari ini. Hari ini kita harus memperluas dalam menjalin jodoh yang baik, barulah kita dapat memiliki jodoh dengan Bodhisattva dan Buddha. Hargailah orang tua, saudara-saudari, serta teman se-Dharma yang memberi kita jodoh baik, barulah kita dapat terbebas dari ketidaktahuan, terbebas dari keakuan, dan memperoleh jodoh Kebuddhaan sejati.

Spring book adalah nama sebuah padang rumput di Australia. Di sana rumputnya tumbuh sangat subur, dan kawanan dombanya semakin lama semakin besar. Domba-domba yang berada di barisan depan selalu bisa memakan rumput, sedangkan yang di belakang selalu hanya kebagian yang sisa. Maka terjadilah sebuah fenomena yang aneh: demi berebut makanan, seluruh kawanan domba mati-matian berlari ke depan. Semua hanya peduli untuk maju; saling berebut dan terus berlari kencang tanpa henti. Tidak ada satu pun yang menyadari bahwa ujung padang rumput Spring book adalah sebuah tebing. Ketika kawanan domba berlari sampai ke tepi tebing pun tidak memperhatikannya. Pada akhirnya domba-domba itu melompat jatuh ke bawah tebing, berkelompok demi berkelompok. Kisah ini menunjukkan bahwa manusia, demi mencapai tujuan, sering mengabaikan etika dan moral, mengabaikan hukum, dan melupakan hukum karma. Bagaimana seharusnya kita menyesuaikan jodoh? Setiap orang sedang berlari kencang demi hati yang egois dan nafsu batin yang tersembunyi. Setiap orang mengabaikan nilai kehidupan; demi sedikit uang dan sedikit keuntungan, mereka justru mengorbankan hidupnya sendiri. Inilah tragedi yang sesungguhnya di dunia ini.

Orang-orang zaman sekarang tidak mau menerima nasihat atau teguran orang lain; yang dipikirkan hanyalah sedikit keuntungan yang di depan mata. Akibatnya, mereka melepaskan kemurnian jiwa mereka, oleh karena itu, manusia harus mampu melihat jauh ke depan. Bill Gates berkata, “Saya selalu melihat dunia dengan teleskop,” maka kesuksesannya bukanlah kebetulan. Belasan tahun yang lalu ia sudah mengatakan, “Setiap keluarga akan memiliki komputer,” dan sekarang memang terbukti demikian. Jika demi keuntungan sesaat dan memohon kepada Buddha, itu hanyalah permohonan untuk diri sendiri. Jangan lupa bahwa Bodhisattva itu tidak mementingkan diri. Karena itu, bila seseorang memohon kepada Bodhisattva demi kepentingan sendiri dan demi memuaskan nafsu keinginannya sendiri, Bodhisattva akan sulit memberi respon spiritual kepada kalian. Lagipula tidak mau berkorban; begitu permohonan untuk keuntungan di depan mata terasa tidak terkabul, ia langsung mundur. Ini seperti seorang anak yang tidak mau belajar dengan sungguh-sungguh, tetapi ingin gurunya memberinya nilai bagus; begitu nilainya tidak memuaskan, ia langsung tidak mau sekolah lagi. Praktisi Buddhis harus memahami bahwa setiap hari belajar dan berlatih adalah “benih sebab”; ketika berkah datang, itulah “buah akibat”.

Saya ingin menjelaskan kalimat yang diucapkan Sang Buddha ini: “Rentang hidup manusia bukan ditentukan oleh usia tahun, melainkan oleh seberapa panjang jodoh kita di dunia, maka sepanjang itulah kehidupan kita.” Perkataan Sang Buddha benar-benar filosofis, kelak kalian tidak akan takut pada kematian lagi. Selama dalam hidup kamu masih memiliki jodoh dengan orang lain, selama kamu hidup demi semua makhluk, banyak menjalin jodoh baik, maka hidupmu tidak akan cepat berakhir. Banyak orang yang sudah meninggal cenderung pelit, tidak mau berteman dengan orang lain, menutup diri di rumah, atau sangat kikir, tidak mau berdana, tidak mau memberi atau berkorban. Orang-orang seperti ini, sekalipun memiliki usia hidup, namun juga akan cepat habis. Sedangkan kita praktisi Buddhis dengan hati yang penuh welas asih dan kebaikan, kita memiliki banyak jodoh untuk menolong dan menyelamatkan makhluk hidup; karena itu usia kita tidak terbatas. Jika ingin hidup lebih panjang, maka hati harus lapang. Jika ingin hidup lebih panjang, harus memahami ketidakkekalan. Jika ingin hidup lebih panjang, harus belajar meneladani Bodhisattva dan belajar Buddha Dharma. Dengan begitu, barulah bisa benar-benar menjadi makhluk yang berjodoh di dunia ini.

Pikiran dan niat dalam hati manusia berubah di tengah nafsu keserakahan. Orang baik tidak akan setiap hari serakah pada uang, ketenaran, dan kekayaan. Demi ketenaran dan kekayaan, hati bisa berubah. Orang yang selalu ingin ini dan itu bagaikan seekor ular berbisa yang sedikit demi sedikit menyusup ke dalam hatimu, membuatmu serakah tanpa pernah merasa cukup. Saat akhirnya tersadar, sifat manusia sudah berubah menjadi jahat; perbuatan buruk pun terus berubah, dan benih yang terbentuk itu sudah berakar dan mulai bertunas. Mengapa begitu sulit membuat orang yang sudah dijatuhi hukuman menjadi baik? Apakah sejak lahir dia memang orang yang sangat jahat dan tak terampuni? Karena niat jahat dan perbuatan jahatnya, setitik demi setitik, sudah berakar dan bertunas di dalam hati. Pada akhirnya, sekalipun menyesal, semuanya sudah terlambat. Inilah yang disebut menanam sebab lalu menuai akibat. Beri contoh, seperti sebuah kartu kredit. Kartu kredit adalah produk konsumsi yang diciptakan berdasarkan keserakahan manusia, banyak ahli psikologi memahaminya seperti itu. Keserakahan manusia, ketika tidak melihat uang, ia merasa seolah-olah belum menghabiskan uangnya yang nyata; saat tagihan datang, ia baru kaget. Begitu pula dengan manusia, setiap hari melakukan sedikit kejahatan, setiap hari menggerakkan sedikit niat buruk. Ketika bencana besar datang dan buah karma muncul di hadapan, barulah merasa, “Ternyata saya sudah melakukan begitu banyak kesalahan; saya harus bertobat.” Namun pada saat itu sudah terlambat. Semoga semua orang benar-benar waspada terhadap hati ini: setiap hari kumpulkan niat-niat baik dan singkirkan niat-niat buruk, barulah kita sungguh memahami prinsip Buddhis bahwa hidup ini tidak kekal.

Seseorang harus belajar untuk mengalah. Mengalah adalah salah satu bentuk perubahan dalam hidup. Banyak orang ketika berjalan di suatu jalan yang sudah tidak bisa ditembus, ia masih tetap saja melangkah maju; sedangkan banyak orang lain karena memahami bahwa jalan itu buntu, segera beralih arah. Sebenarnya, mengalah adalah cara untuk membebaskan diri. Seseorang yang tidak mau menerima pendapat orang lain dan menolak untuk mengalah, itu berarti menolak harapan. Jika sering merasa bahwa diri sendiri ada kesalahan, maka tidak akan sering berbuat salah. Orang yang bisa bersabar  barulah bisa maju dengan tekun. Banyak keberhasilan orang dicapai karena kesabaran. Banyak orang baru bisa memiliki keluarga yang utuh sampai hari ini karena mereka mampu bersabar. Ada orang yang tidak bisa bersabar, sehingga keluarganya cepat retak, dan anak pun kehilangan ayah atau ibunya. Jika tidak bisa bersabar terhadap kerabat dan teman, lalu bertengkar dengan mereka, kita akan kehilangan bantuan dari kerabat dan teman. Jika tidak tahan melihat cara kerja rekan, tidak memahami sikap atasan, akhirnya kehilangan pekerjaan. Orang yang tidak bisa bersabar akan kehilangan keluarga, anak, dan pekerjaan. Bahkan tidak mampu menahan godaan minum alkohol pun bisa menimbulkan masalah. Banyak orang begitu melihat alkohol langsung ingin minum; pada akhirnya mengemudi dalam keadaan mabuk, mengalami kecelakaan hingga meninggal, dan kehilangan nyawa. Coba pikirkan, kematian akibat kecelakaan lalu lintas di seluruh dunia setiap tahun mencapai lebih dari dua juta orang. Budaya tradisional Tiongkok mengajarkan kita: “Bersabarlah atas hal-hal yang paling sulit untuk ditahan; barulah dapat meraih pencapaian yang sulit diraih orang biasa.” Keberhasilan bergantung pada keteguhan hati; membina pikiran bergantung pada kesabaran; menjadi Bodhisattva bergantung pada kebijaksanaan; dan ingin menjadi Buddha bergantung pada pencerahan dan tingkat kesadaran spiritual.

Master akan menceritakan sebuah kisah kecil kepada semua orang. Suatu kali saat mengikuti pelajaran ekonomi, guru bertanya, “Anak-anak, apa perbedaan antara investasi dan spekulasi?” Seorang murid yang merasa dirinya pintar menjawab, “Yang satu diucapkan dalam bahasa Mandarin, yang satu lagi adalah orang Guangdong yang berbicara Mandarin.” Karena orang Guangdong melafalkan kata “investasi” (投资 tou zi) terdengar mirip dengan “spekulasi” (投机 tou ji). Di dunia ini, pemahaman setiap orang terhadap suatu hal berbeda-beda, dan itu akan menghasilkan efek kehidupan yang berbeda. Kita sama-sama menjalani satu kehidupan: menjalani hidup dengan gembira adalah satu kehidupan, menjalani hidup dengan sedih juga satu kehidupan. Jadi, mengapa kita tidak memandang hidup dengan sikap yang optimis? Hari ini, anak tidak lulus ujian bukan berarti lain kali juga tidak akan lulus. Dengan begitu, kita akan dipenuhi harapan terhadap hidup. Kita hidup di dunia ini, meskipun sangat menderita, kita masih punya hari esok; kita bisa mengubahnya, mengubah kerisauan hari ini. Memiliki kerisauan hari ini tidak berarti besok akan ada lebih banyak kerisauan. Betapa banyak kerisauan di masa kecil sekarang sudah lenyap tanpa bekas. Jika memandang dunia ini dengan sikap pesimis, kita tidak akan mampu bertahan hidup di dunia ini. Mengapa banyak orang bunuh diri? Karena mereka tidak bisa berpikiran jernih, merasa seluruh dunia memusuhinya. Itu masalah mentalitasnya, mereka bertengkar dan berkonflik ke mana-mana, sehingga menambah rasa takut, depresi, kerisauan, masalah, dan kesedihan. Saat inilah kehidupan yang nyata. Penuh harapan adalah mentalitas dan tingkat kesadaran spiritual Buddha yang harus dimiliki oleh seorang praktisi Buddhis.

Segala jodoh di dunia ini seharusnya kita pandang sebagai sesuatu yang membangkitkan kesadaran batin kita. Orang yang belajar Buddha Dharma tidak perlu takut pada masalah. Kita tidak takut masalah, juga tidak mencari masalah. Namun ketika masalah datang, kita harus menghadapinya dengan bijaksana dan berani. Karena saat menghadapi kerisauan dalam hidup, kamu akan lahir banyak pengalaman dan kebijaksanaan. Mengapa Sang Buddha sering mengatakan bahwa kerisauan adalah Bodhi? Inilah alasannya. Kita hidup di dunia ini memiliki banyak jodoh; kita manusia bertahan hidup di dunia ini bergantung pada jodoh-jodoh tersebut. Jika jodoh dalam keluarga sudah tidak ada, kita masih punya jodoh dalam pekerjaan. Jika jodoh dalam pekerjaan pun tidak ada, kita masih punya jodoh dengan teman. Semua jodoh itu harus kita ubah menjadi jodoh yang baik, jangan  mengubahnya menjadi jodoh buruk, karena jodoh buruk akan melukai kita. Yang tidak seharusnya disentuh, jangan disentuh. Yang tidak seharusnya dilihat, jangan dilihat. Yang tidak seharusnya didengar, jangan didengar. Yang tidak seharusnya dilakukan, harus dengan tegas jangan dilakukan. Semuanya menyesuaikan jodoh. Kerisauan muncul karena kamu melihat, mendengar, dan memikirkannya, barulah bisa melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan. Seperti yang dikatakan Konfusius: “tidak mengatakan yang tidak pantas dikatakan, tidak melihat yang tidak pantas dilihat dan tidak melakukan yang tidak patut dilakukan”.  Semoga kita para praktisi Buddhis dapat menenangkan hati dengan baik, sungguh-sungguh belajar Buddha Dharma dan melafalkan paritta, tidak ternoda oleh lima nafsu dan enam kekotoran duniawi dari luar, sehingga kita dapat memperoleh hati yang jernih, hati yang damai, dan hati yang penuh welas asih.