Lenyapnya Nidana (Sebab-Musabab), Perolehan dan Kehilangan Menyesuaikan Jodoh, Berlapang Hati dan Terbuka, Merangkul semua makhluk (Bagian 2) 因缘俱灭 得失从缘 心怀坦荡 广纳众生 (2)

Lenyapnya Nidana (Sebab-Musabab), Perolehan dan Kehilangan Menyesuaikan Jodoh, Berlapang Hati dan Terbuka, Merangkul semua makhluk (Bagian 2)

Seminar Dharma Paris - Prancis, 13 September 2015

Merawat tubuh dengan baik berarti merawat hati dan pikiran. Di tengah lima nafsu dan enam kekotoran duniawi, selama kita tidak serakah, kita akan terbebas dari keadaan keserakahan; selama kita tidak membenci orang lain, kita akan meninggalkan keadaan kebencian, dan jiwa kita akan merasa bahagia. Ketika jiwa atau batin kita tidak bahagia, selama kita tidak memikirkannya, perasaan itu akan segera berlalu. Jika kita tidak ingin melakukan hal-hal yang bodoh, maka jangan menimbulkan kerisauan dalam hati. Banyak orang karena ingin memenangkan lotere, sehingga menciptakan kerisauan pada dirinya sendiri. Tidak serakah, tidak membenci, dan tidak melakukan kebodohan berarti telah menjauhi dari tiga racun batin. Dengan demikian, orang akan menjadi semakin bahagia, hatinya akan semakin merasa cukup, keberuntungannya pun akan semakin lancar, dan kehidupannya akan bebas melayang tinggi di bawah kendali diri sendiri. Hati seorang praktisi Buddhis tidak dikendalikan oleh orang lain. Seberapa baiknya dunia luar, sekalipun sangat menguntungkan bagi saya, saya tidak masalah dan tidak menuntut apa pun, saya sudah cukup, saya sudah puas. Kamu tidak akan membawa kesedihan maupun kebahagiaan bagi saya. Inilah yang disebut belajar mengendalikan diri. Inilah budaya Zen dalam tradisi budaya Tiongkok, melalui Zen, maka batin akan tenang.

Master akan menceritakan kepada semua orang  sebuah kisah nyata. Ada seorang pria yang kehilangan istrinya. Di upacara pemakaman, mukanya tersenyum, sehingga membuat para kerabat dan teman merasa sangat canggung. Jika ingin menghiburnya, ia tampak seperti sedang bahagia; tetapi jika tidak dihibur, lalu untuk apa mereka datang? Ada kerabat yang dalam hati merasa marah dan berpikir: apakah istrinya dibunuh olehnya secara diam-diam? Tentu tidak ada yang akan menanyakan hal seperti itu, tetapi orang zaman sekarang sering berpikir sembarangan. Hari pemberangkatan jenazah pun tiba. Orang tua dari pihak istri benar-benar tidak bisa menahan diri lagi, lalu di pemakaman mereka memarahi pria itu dengan keras: “Sudah hidup bersama 20 tahun, istrimu meninggal, kamu masih bisa tersenyum? Kamu ini manusia atau bukan? Apakah kamu punya sesuatu yang tidak boleh ditahu orang?” Namun pria itu tetap tersenyum tanpa menjawab. Setelah dimarahi, semua orang memandangnya, menunggu reaksinya. Ia hanya berkata, “Terima kasih atas nasihat kalian,” sambil tetap tersenyum. Orang tua pihak istri hampir pingsan karena marah, lalu bergegas menghampirinya, menarik kerah bajunya dan memukulnya. Darah mengalir dari sudut mulutnya, tetapi ia masih tetap tersenyum. Orang tua pihak istri tiba-tiba merasa sedikit takut, apakah menantu ini sudah menjadi gila? Akhirnya, urusan pemakaman itu pun berakhir dalam suasana seperti sebuah kekacauan.

Kemudian, orang tua dari pihak wanita merasa bahwa tindakan mereka di pagi hari agak berlebihan, jadi mereka diam-diam pergi menjenguk menantu laki-laki mereka. Mereka melihatnya duduk terpaku di ruang tamu sambil memeluk foto almarhum istrinya, tidak bergerak sedikit pun selama berjam-jam, tanpa mengeluarkan suara. Keesokan harinya, ayah dan ibu mertua itu datang lagi untuk melihatnya. Bagaimanapun juga, ia sudah seperti setengah anak mereka selama dua puluh tahun. Ia masih duduk di sana, tidak bergerak, tetap memeluk foto mendiang istrinya. Kali ini, ayah dan ibu mertua menjadi cemas. Mereka ingin masuk untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Pintu tidak terkunci, mereka pun mendorongnya dan masuk. Ia tetap memeluk foto itu. Orang tua wanita itu bertanya, “Ada apa denganmu?” Menantu itu berkata, “Seumur hidup saya sibuk ke sana kemari, mengira bahwa menghasilkan banyak uang, dan merasa bahwa semua itu saya lakukan demi kebaikannya, demi memperjuangkan hidup untuknya. Keluhannya tidak pernah saya hiraukan, dan saya tidak pernah benar-benar mendengarkan sepatah kata pun darinya dengan sungguh-sungguh. Baru ketika ia sakit parah, ia berkata: ‘Maukah kamu mendengarkan satu permintaanku?’ Demi membuatnya senang, saya berkata: ‘Saya pasti akan mendengarkan!’ Ia berkata: ‘Saya tahu kamu mencintaiku, dan saya juga mencintaimu. Jika saya meninggal, kamu pasti akan menangis. Tetapi saya tidak ingin melihat atau mendengar kamu menangis, boleh? Tersenyumlah dan bantulah mengurus semua setelah kepergianku dengan baik. Seumur hidup, kamu belum pernah benar-benar menuruti permintaanku. Kali ini saja, boleh’?”Setelah mengatakan itu, matanya tampak berkaca-kaca, tetapi air matanya tidak jatuh, tetapi mengalir di dalam hatinya, karena ia telah berjanji kepadanya—satu-satunya janji dalam hidupnya: “Aku pasti akan menuruti kata-katamu.”

Kisah ini memberi tahu kita bahwa kemelekatan seseorang, berpikir bahwa itu demi kebaikan orang lain, padahal sebenarnya justru menyakiti mereka. Karena kita tidak mampu sepenuhnya memahami perasaan orang lain, itulah sebabnya dalam keluarga sering terjadi pertengkaran. Kita tidak bisa memahami perasaan orang lain, ini bukan cara berpikir seorang praktisi Buddhis. Praktisi Buddhis harus hidup demi orang lain, memikirkan orang lain, itu barulah hati welas asih kita yang sesungguhnya. Jika kita tidak mampu mengendalikan diri sendiri, pasti akan menyebabkan luka pada orang lain. Praktisi Buddhis harus menuntun orang dengan hati penuh welas asih, tidak boleh menyakiti makhluk hidup. Semua makhluk adalah jalinan jodoh baik yang menemani kita hingga akhir perjalanan hidup. Terkadang kita merasa diri kita benar, sehingga tidak mau mendengarkan orang lain, dan mengira semua yang kita lakukan adalah demi kebaikan mereka, namun justru menyakiti mereka, inilah kemelekatan dalam kehidupan. Kita harus memiliki kebijaksanaan seorang praktisi Buddhis, barulah dapat mengatasi penderitaan-penderitaan ini. Berharap setiap praktisi Buddhis harus memiliki hati yang lapang, selalu memikirkan semua makhluk, hidup demi orang lain, bukan hanya untuk keluarga kecil sendiri, tetapi harus memikirkan semua makhluk. Karena pada akhirnya, yang menemani kamu sampai akhir kehidupan belum tentu adalah keluarga atau teman dekatmu melainkan makhluk yang memiliki jalinan jodoh yang luas denganmu.

Di dunia ini tidak ada sesuatu yang benar-benar dapat menjatuhkanmu, kecuali kamu sendiri yang tidak mau bangkit kembali. Orang yang bisa berhasil dan tetap kuat bukanlah mereka yang mampu menghadapi segalanya, melainkan mereka yang mampu mengabaikan semua luka dan gangguan dari luar. Praktisi Buddhis dapat melihat masa depan, dan orang bijaksana mampu melupakan masa lalu. Pikirkan, ketika kita masih muda, kita telah menyakiti banyak orang, dan juga telah membantu banyak orang. Jika seseorang sering mengenang masa lalu, ia tidak akan pernah bisa melihat masa depan. Jika di dalam pikiran seseorang dipenuhi penderitaan, maka di dalam hatinya tidak akan pernah bisa menyimpan kebahagiaan. Untuk melihat masa depan dan meraih kebahagiaan di masa depan, kita harus melepaskan segala luka dan penderitaan, barulah kita bisa melangkah maju dengan berani. Jangan biarkan setiap luka dan rintangan sedikit demi sedikit tersimpan di dalam hati kita. Hati harus bersih, seperti segelas air yang jernih. Hanya dengan mengosongkan seluruh keakuan diri, kita baru bisa merasakan manis dan segarnya sumber air kehidupan.

Suatu hari, seorang guru Zen memetik beberapa bunga krisan dari alam liar dan menanamnya di halaman vihara. Pada musim gugur tahun ketiga, seluruh vihara dipenuhi bunga krisan, bahkan hampir berubah menjadi taman krisan. Harumnya sangat menyenangkan, sampai-sampai desa di kaki gunung pun dapat mencium wanginya. Kemudian, para penduduk desa naik ke gunung untuk menikmati keindahan bunga krisan. Mereka tak henti-hentinya memuji, dan meminta kepada guru Zen apakah mereka boleh memetik beberapa bunga untuk dibawa pulang dan ditanam di halaman rumah mereka sendiri. Setelah mendapat izin dari guru Zen, mereka segera mulai menggali akar bunga tersebut. Orang-orang yang datang meminta bunga terus berdatangan tanpa henti. Setelah waktu yang cukup lama, bunga krisan di vihara pun habis tergali semuanya. Halaman tanpa bunga itu tampak agak sepi. Seorang murid, melihat keadaan yang terasa sunyi dan kosong, menghela napas dan berkata kepada gurunya, “Guru, sangat disayangkan. Seharusnya vihara kita ini penuh dengan harum bunga krisan, tetapi sekarang sudah tidak ada lagi.” Guru Zen itu tersenyum dan berkata, “Muridku, justru ini yang baik. Tiga tahun lagi, seluruh desa kita akan dipenuhi keharuman bunga krisan.”

Kita merusak keegoisan diri dan berbagai pikiran yang mengganggu, itulah yang disebut melepaskan. Kita meluangkan sedikit waktu untuk membuat orang lain bahagia dan sukacita Dharma, agar mereka dapat melafalkan paritta dan memperoleh pembebasan, itulah makna dari “satu bunga yang mekar tidaklah membuat musim semi, seratus bunga yang bermekaran barulah memenuhi taman dengan musim semi”. Kita harus melihat senyum di wajah semua makhluk, karena itu jauh lebih membahagiakan daripada senyum kita sendiri. Orang yang dapat merasa bahagia karena melihat kebahagiaan orang lain, dia adalah Bodhisattva di dunia. Kita seharusnya berbagi hal-hal indah dengan orang lain, agar setiap orang dapat merasakan kebahagiaan. Meskipun kita sendiri tidak memiliki apa-apa, hati kita tetap merasa bahagia dan manis, pada saat itulah kita baru bisa benar-benar memiliki kebahagiaan. Orang yang memahami untuk memberi, barulah benar-benar dapat merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan dari memberi seperti ini tidak akan pernah dapat dirasakan oleh orang yang egois. Apakah itu kebahagiaan? Sebenarnya kebahagiaan ada di dalam hati kita masing-masing. Seberapa luas hati kita, sedalam itulah kebahagiaan kita.

Sebuah tiang kecil dan seutas rantai yang tipis ternyata bisa mengikat seekor gajah yang beratnya seribu pon. Bukankah ini terdengar tidak masuk akal? Gajah memiliki kekuatan yang luar biasa, bagaimana mungkin seutas rantai kecil bisa mengikatnya? Namun pemandangan yang tampak tidak masuk akal ini justru sering terlihat di India dan Thailand. Para pelatih gajah, sejak gajah masih kecil, sudah mengikatnya dengan rantai besi pada tiang semen atau tiang baja yang tipis. Tidak peduli seberapa keras anak gajah itu berjuang, ia tetap tidak bisa melepaskan diri. Lama-kelamaan, anak gajah itu terbiasa untuk tidak berusaha lagi. Hingga ia  tumbuh menjadi gajah dewasa yang sebenarnya mampu dengan mudah melepaskan rantai dan tiang tersebut, ia tetap tidak berjuang. Ada seorang pelatih harimau yang awalnya melakukan hal serupa seperti pelatih gajah. Ia membuat anak harimau makan makanan vegetarian sejak kecil. Hingga harimau itu tumbuh besar, karena harimau itu tidak pernah mengenal rasa daging, ia secara alami tidak akan memakan manusia. Namun kesalahan fatal pelatih itu terjadi suatu hari ketika ia terjatuh, dan tanpa sengaja harimau tersebut menjilat darah segar yang mengalir di tanah. Sekali menjilat, ia tidak bisa berhenti, dan akhirnya harimau itu pun memakan pelatihnya. Anak gajah diikat oleh rantai, sedangkan gajah dewasa diikat oleh kebiasaan. Harimau pernah terikat oleh kebiasaan, tetapi pelatih harimau justru mati karena kebiasaan (ia sudah terbiasa menganggap harimaunya tidak akan memakan manusia).

Kisah ini memberi tahu semua orang bahwa kita manusia karena kebiasaaan bisa mengikat seluruh hidupnya. “Saya sudah terbiasa merokok, saya tidak bisa berubah,” jadi dia pun tidak ingin mengubahnya. Ikatan seperti ini sering kali terjadi tanpa disadari. Ketika kamu tanpa sengaja melukai dirimu sendiri satu kali saja, mungkin akibatnya dapat membuatmu kehilangan kehidupanmu. Praktisi Buddhis harus memahami bahwa kemalangan dalam takdir terkadang kita masih memiliki kemungkinan untuk menghindarinya. Namun, kemalangan yang ditambahkan manusia kepada dirinya sendiri, malah tidak memiliki jalan untuk diselamatkan.

Kelemahan manusia adalah sering kali menciptakan masalah bagi dirinya sendiri. Karena tidak memahami bahwa antar manusia bisa saling berbuat keburukan, maka sering kali juga ikut berbuat buruk terhadap orang lain. Mencari-cari masalah itu sendiri merupakan rintangan karma. Mampu menyingkirkan kerisauan adalah Prajna. Hanya dengan memahami Dharma dan prinsip ajaran Buddha, barulah dapat berpikir jernih. Melepaskan kebutuhan duniawi yang bersifat sementara akan membawa seseorang memiliki lambang kebijaksanaan yang lebih mendalam dan berjangka panjang di dalam hati.

Jika dua orang memiliki pertentangan pendapat, maka pasti kedua belah pihak sama-sama memiliki kekurangan. Ibarat angka nol dikalikan dengan angka berapa pun, hasilnya tetap nol. Dua orang yang saling bertentangan pendapat bagaikan dua buah nol yang bernilai negatif, dijumlahkan bersama pun tetap menjadi nol. Belajar Buddha Dharma dan tercerahkan adalah melihat kekurangan diri sendiri melalui diri orang lain. Dengan demikian, barulah kita dapat memperbaiki kekurangan pada diri sendiri. Inilah yang disebut membina hati dan pikiran.

Di dunia ini tidak ada hal yang sulit, yang ada hanyalah orang biasa yang menyusahkan dirinya sendiri. Sebenarnya, banyak hal justru kita ciptakan sendiri. Ada seseorang yang menemukan setumpuk sampah di depan pintu rumahnya. Ia membayangkan bahwa tetangga di seberang yang sengaja menaruhnya di depan pintunya. Ia pura-pura tidak melihat, dan ketika bertemu tetangganya, ia bahkan tidak mau menatapnya, dalam hati membencinya. Tetangganya berkata kepadanya, “Apa kabar? Bagaimana anakmu? Bagaimana sekolahnya?” Ia berpikir, “Pura-pura baik sekali, tapi diam-diam menjahati saya?” Di dalam hatinya ia sendiri menciptakan penghalang, matanya pun tidak mau melihatnya. Ia hanya menjawab, “Baik-baik saja,” lalu pergi. Tetangganya merasa bingung tanpa alasan. Pada malam hari, tetangga dari lantai atas datang mengetuk pintu dan berkata, “Maaf, hari ini saya terburu-buru berangkat kerja, lupa membuang sampah, jadi sementara saya letakkan di depan pintu rumahmu. Sekarang sudah saya buang.”Barulah saat itu ia sadar bahwa dirinya telah salah menyalahi tetangga di seberangnya.

Kerisauan manusia pada dasarnya diciptakan oleh dirinya sendiri. Kita harus memahami bagaimana membebaskan diri dari “penjara” kerisauan itu. Pertama-tama, harus mencapai keadaan “hati tanpa sesuatu”, yaitu hati yang lapang dan terbuka—tidak ada niat mencelakai orang lain, tidak curiga terhadap orang lain, dan tidak iri terhadap orang lain, barulah kita tidak akan merasakan penderitaan. Lepaskan semua pikiran yang mengganggu di dalam hati. Apa penyebab penderitaan di dunia ini? Penyebabnya adalah karena kamu memiliki terlalu banyak waktu untuk mengkhawatirkan apakah dirimu akan bahagia atau tidak.

Segala perasaan di dunia ini yang membuat orang bersedih maupun bergembira, sesungguhnya bagaikan hembusan angin dan sebuah jaring, kitalah yang merasakan keberadaannya sendiri, dan kitalah yang menenun jaring demi jaring itu sendiri. Banyak gadis muda jatuh cinta pada bintang film. Ketika sang bintang hanya meliriknya sekilas, ia mengira bahwa dirinya dicintai, dan sejak saat itu ia tidak bisa tidur di malam hari. Diri sendiri yang merasakan keberadaannya, sehingga akan menderita. Segala kesedihan dan kebahagiaan kita berasal dari hati kita sendiri. Dalam ajaran Buddha dikatakan “tiada hati”, agar kita memahami untuk hidup leluasa. Mengapa anak-anak begitu bahagia? Karena mereka “tiada hati”. Apa pun yang dikatakan oleh orang tua, paman, atau bibi, ia merasa itu bukan ditujukan kepada dirinya. Ia tidak menyimpannya dalam hati, sehingga ia bahagia. Karena memiliki “hati”, sehingga membuatmu tidak bebas, membuatmu kehilangan keseimbangan batin. Ketidakseimbangan dalam hati akan membawa penderitaan. Jika kita mampu menyeimbangkan diri, maka kita akan memperoleh kebahagiaan. Segala hubungan di dunia ini, baik antara saudara, suami istri, maupun orang tua dan anak, semuanya dikarenakan jodoh dan karma sehingga bertemu. Semua perasaan di dunia ini muncul karena jodoh dan karma, dan pada waktunya akan lenyap mengikuti jodoh dan karma tersebut. Inilah yang disebut dalam ajaran Buddha sebagai jodoh karma. Satu-satunya yang dapat menemani kita keluar dari jodoh dan karma ini adalah kita praktisi Buddhis, adalah jodoh baik yang akan selalu menyertai kita selamanya.

Master menceritakan sebuah lelucon kepada semua orang. Di sebuah rumah sakit jiwa, suatu hari tiba-tiba turun hujan deras. Semua pasien gangguan jiwa membawa baskom, sabun, dan handuk, lalu berlari ke luar untuk mandi di bawah hujan. Hanya satu orang pasien yang tidak ikut; ia berdiri di balkon sambil menatap langit. Ketika dokter melihatnya, ia sangat senang dan berpikir akhirnya ada satu pasien yang agak membaik, lalu bertanya, “Mengapa kamu tidak ikut mereka mandi?” Pasien itu menjawab, “Saya menunggu airnya panas dulu baru turun.”Kisah ini memberi tahu semua orang bahwa ketika kita berbuat salah namun mengira diri kita benar, maka baru akan muncul kemelekatan. Terhadap suatu hal atau terhadap cara seseorang, jika kita terus tidak bisa memahami mengapa dia berbuat demikian dan menyimpan prasangka, lama-kelamaan akan timbul sikap keras kepala. Orang yang memiliki opini dan pendapat cenderung akan melekat; sedangkan orang yang bisa berpikiran terbuka, berpikir jernih dan mengerti akan menjauh dari kemelekatan. Kita harus benar-benar menyingkirkan “keakuan”, barulah dapat memperoleh hati yang murni, seimbang, serta penuh kebaikan dan welas asih.

Di dunia ini tidak ada satu pun hal yang benar-benar sempurna. Dunia ini masih menyisakan banyak kekurangan. Orang yang ingin mengejar kesempurnaan di dunia ini, pasti di dalam hatinya juga memiliki kekurangan. Ada seorang pengusaha terkenal yang sedang memberikan ceramah. Seorang pendengar bertanya, “Anda telah meraih kesuksesan besar dalam karier Anda. Apa yang paling penting bagi Anda?” Pengusaha itu tidak langsung menjawab. Ia mengambil kapur dan menggambar sebuah lingkaran di papan tulis, tetapi tidak menutupnya sepenuhnya, meninggalkan sebuah celah. Ia bertanya, “Ini apa?” Ada yang menjawab nol, lingkaran, usaha yang belum selesai, kesuksesan, dan berbagai jawaban lainnya. Ia tidak langsung membenarkan ataupun menyangkal jawaban-jawaban tersebut, lalu berkata, “Sebenarnya ini hanyalah sebuah tanda titik yang belum selesai digambar. Kalian bertanya mengapa saya bisa mencapai prestasi gemilang. Alasannya sangat sederhana: saya tidak pernah akan menyelesaikan segala sesuatu dengan sempurna. Seperti menggambar tanda titik, saya pasti akan menyisakan celah agar bawahan saya dapat mengisinya.” Kisah ini memberi tahu kita bahwa kita tidak boleh, hanya karena merasa diri kita sangat mampu, lalu tidak memberi ruang bagi orang lain untuk berkembang. Ini adalah kebijaksanaan dalam manajemen, juga merupakan kebijaksanaan dalam belajar Buddha Dharma dan berperilaku. Memberi ruang bagi orang lain berarti juga memberi jalan bagi diri sendiri di masa depan. Berikan seekor monyet sebuah pohon agar ia terus memanjat; berikan seekor harimau sebuah gunung agar ia dapat bebas menjelajah; dan berikan kepada kita setiap orang sebidang tanah yang bersih dan bebas di dalam hati, agar ia dapat terus berkembang menuju tingkat tertinggi kehidupan manusia.

Master ingin memberi tahu kepada semuanya beberapa hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang praktisi Buddhis: Hal yang bisa dilakukan hari ini, jangan ditunda sampai besok. Hal yang bisa dilakukan sendiri, jangan merepotkan orang lain. Jangan menggunakan uang yang bukan milikmu, jangan mengambil keuntungan dari orang lain, dan jangan membeli barang yang tidak dibutuhkan. Ketika marah, bacalah paritta Jie Jie Zhou, lalu bacalah paritta Xin Jing, untuk menguraikan kebencian di dalam hati, serta membangun energi kebenaran dan kelurusan dalam batin. Pandanglah orang lain sebagai orang baik, maka hati kita akan dipenuhi kebaikan dan niat yang baik. Tetapi jika kita memandang semua orang sebagai orang jahat, maka hati kita akan dipenuhi perbuatan buruk, ucapan buruk, dan pikiran buruk. Cara kita memandang orang lain sebenarnya adalah cerminan dari hati kita sendiri. Gunakan hati yang murni dan penuh kebaikan untuk menghadapi dunia saat ini dan keluarga kita sendiri, maka kita akan memperoleh sukacita Dharma yang sangat sempurna serta hati yang penuh kebajikan dan welas asih.

Melihat jumlah orang yang datang hari ini jauh lebih banyak dibandingkan sebelumnya, Master sangat bahagia dan dipenuhi sukacita Dharma. Saya juga sangat senang dapat menjalin jodoh baik dengan semuanya. Berharap ke depannya semakin banyak orang yang datang. Di sini, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh teman se-Dharma yang hari ini telah hadir di tempat ini.

Kita harus menggunakan welas asih dan kepedulian untuk membuat hati kita dipenuhi dengan cinta kasih dan dipenuhi dengan kedamaian. Terima kasih semuanya!