Cahaya Buddha Menerangi Kehidupan Kebijaksanaan, Welas Asih Memiliki Potensi Kesadaran (Bagian 2) 佛光普照慧命 慈悲拥有悟性 (下)

Cahaya Buddha Menerangi Kehidupan Kebijaksanaan, Welas Asih Memiliki Potensi Kesadaran (Bagian 2)

Seminar Dharma Kuala Lumpur - Malaysia, 12 Desember 2015

Jika menolak untuk memberikan kasih sayang, maka orang seperti ini, daripada dikatakan ia masih hidup, lebih tepat dikatakan bahwa kehidupannya telah layu. Orang yang egois tidak akan disukai siapa pun. Orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri adalah orang yang picik. Sebaliknya, orang yang setiap hari tahu memikirkan kepentingan orang lain dan rela mengabdikan diri demi semua makhluk, dialah yang disebut sebagai orang suci. Pikirkanlah, selama beberapa hari ini kalian di Malaysia, begitu banyak relawan yang menyediakan makanan dan melayani kalian. Bukankah kalian merasakan bahwa mereka adalah Bodhisattva, sedang meneladani Bodhisattva? Mentalitas manusia harus belajar dari penjual es krim. Belajar mulai berjualan es krim sejak musim dingin. Karena pada musim dingin jumlah pelanggan sedikit, kamu harus menurunkan modalmu untuk menjual, harus meningkatkan kualitas pelayanan, serta bersikap rendah hati. Mentalitas kita harus mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat ini.

Jika mampu bertahan melewati musim dingin, maka ia tidak akan lagi takut menghadapi persaingan di musim panas. Dalam kehidupan, seseorang harus pernah merasakan penderitaan agar dapat memahami dan menghargai indahnya kehidupan yang baik. Seseorang tidak akan bertumbuh ketika selalu berada dalam keadaan yang lancar. Setiap praktisi Buddhis, bukankah karena dirinya mengalami penderitaan, keluarganya mengalami perubahan, kehidupannya terjadi perubahan, atau kondisi kesehatannya mengalami perubahan, barulah ia terpikir untuk memohon perlindungan dan berkat dari Bodhisattva? Kita harus sehat tubuh dan pikiran, sebelum penderitaan datang kita sudah seharusnya belajar Buddha Dharma dengan sungguh-sungguh dan tekun melafalkan paritta. Bahkan ketika berada dalam keadaan yang sulit, kita pun harus sanggup menanggung berbagai penderitaan di dunia ini, karena ada pepatah yang mengatakan, “Hanya setelah mampu menanggung penderitaan yang paling berat, seseorang dapat menjadi pribadi yang unggul.” Lalu, apa yang berada di atas manusia? Bukankah itu adalah alam surga? Dan apa yang berada di atas surga? Bukankah itu adalah para Bodhisattva dan Buddha? Manusia memiliki jodoh, banyak orang yang menderita seumur hidup, tetapi juga tidak memperoleh kesadaran ini. Namun ada pula orang yang tiba-tiba menyadari kebenaran tersebut; Maka ia pun tercerahkan dan terbebaskan.

Ada seorang raja yang sangat gemar berburu. Ia sering menyamar dan melakukan perjalanan bersama perdana menterinya. Sang perdana menteri memiliki sebuah kalimat yang selalu ia ucapkan, yaitu, “Segala sesuatu adalah pengaturan yang terbaik.” Sesungguhnya yang ia maksud adalah jodoh, adalah pengaturan dari Bodhisattva. Suatu hari, raja pergi berburu ke dalam hutan. Dengan satu anak panah, ia berhasil menjatuhkan seekor macan tutul. Ketika raja turun dari kudanya untuk memeriksa macan tutul itu, tidak disangka macan tutul tersebut ternyata belum mati. Dengan sisa tenaganya, macan itu menerkam sang raja dan menggigit hingga ujung jari kelingkingnya putus. Raja kemudian mengundang perdana menterinya untuk minum bersama agar dapat menghibur hatinya. Namun, sang perdana menteri justru tersenyum dan berkata, “Paduka, terimalah dengan lapang dada. Segalanya adalah pengaturan yang terbaik.” Mendengar perkataan itu, raja menjadi sangat marah.“Kalau begitu, bagaimana jika Aku menjebloskanmu ke dalam penjara? Apakah itu juga merupakan pengaturan yang terbaik?” Sang perdana menteri tetap tersenyum dan menjawab,“Jika memang demikian, hamba juga yakin sepenuhnya bahwa itu adalah pengaturan yang terbaik.” Raja pun murka dan memerintahkan,“Pengawal! Tangkap dia dan masukkan ke dalam penjara!” Sebulan kemudian, luka Raja telah sembuh sepenuhnya. Ia pun pergi berkeliling seorang diri. Ia tiba di sebuah hutan pegunungan yang terpencil, tiba-tiba sekelompok penduduk suku asli turun dari gunung, menangkapnya, mengikatnya erat-erat, lalu membawanya kembali ke perkampungan mereka. Suku pedalaman di pegunungan itu memiliki sebuah tradisi. Setiap malam bulan purnama, mereka akan turun gunung untuk mencari seorang korban persembahan kepada Dewi Bulan Purnama. Melihat pakaian Raja yang begitu indah dan mewah, mereka memutuskan untuk membakarnya sebagai persembahan untuk Dewi Bulan Purnama. Saat Raja hampir putus asa, tiba-tiba seorang pendeta suku terkejut. Ia menyadari bahwa jari kelingking Raja kehilangan sebagian ujungnya, adalah korban persembahan yang tidak utuh. Menurut kepercayaan mereka, jika mempersembahkan korban yang tidak sempurna, Dewi Bulan Purnama akan murka. Karena itu, orang suku asli itu pun membebaskan Raja. Raja sangat gembira dan bersyukur. Setelah kembali ke istana, ia segera memerintahkan agar Perdana Menteri dibebaskan. Raja kemudian mengadakan jamuan sebagai ungkapan terima kasih. Sambil mengangkat cawan untuk bersulang, Raja berkata kepada Perdana Menteri,“Rupanya apa yang kamu katakan memang benar. Ternyata segala sesuatu benar-benar merupakan pengaturan yang terbaik! Seandainya dulu bukan digigit macan tutul itu, hari ini nyawaku pasti sudah melayang. Hahaha…”Raja tiba-tiba teringat akan sesuatu, lalu bertanya kepada perdana menteri, “Tetapi kamu dipenjara tanpa alasan selama lebih dari sebulan. Bagaimana kamu menjelaskan hal itu?” Dengan tenang, sang perdana menteri meneguk seteguk arak, lalu berkata, “Seandainya saya tidak berada di penjara, tentu saya yang akan menemani Paduka menyamar dalam perjalanan itu. Ketika suku asli mengetahui bahwa Paduka tidak layak dijadikan persembahan, bukankah giliran saya yang akan dijadikan korban?” Mendengar itu, Raja tidak dapat menahan tawanya dan berkata, “Benar sekali! Ternyata segala sesuatu memang merupakan pengaturan yang terbaik!” Inilah yang disebut jodoh. Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa di dunia ini, jika menghadapi hal yang tidak menyenangkan, jangan mengeluh, jangan mengatakannya. Karena mungkin justru itulah pengaturan terbaik bagi kita. Jangan menyesal, jangan berkecil hati, dan juga jangan hanya melihat keadaan dari sudut pandang sementara. Kami ada seorang teman se-Dharma yang pinggangnya mengalami cedera akibat tertabrak mobil, ia terus melafalkan paritta tanpa mengeluh sedikit pun. Alhasil, ketika ia pergi ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh, dokter menemukan adanya sel kanker pada ginjalnya. Akhirnya, saat menjalani operasi, kanker tersebut sekaligus berhasil diangkat. Musibah yang dialaminya justru berubah menjadi berkah. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini jangan dinilai hanya dengan sudut pandang sendiri. Pikirkan, mungkin semua itu merupakan pengaturan terbaik dari Guan Shi Yin Pu Sa untuk kita. Pandangan kita harus lebih jauh ke depan. Praktisi Buddhis harus belajar untuk tidak bersedih dan mengeluh, terlebih lagi jangan menyalahkan langit ataupun orang lain. Di dunia ini, setiap sebab pasti akan menghasilkan akibat. Segala buah karma yang kita alami hari ini merupakan akibat dari sebab yang telah kita tanam, baik pada kehidupan lampau maupun dalam kehidupan sekarang. Yakinlah selalu pada pengaturan Bodhisattva, dan percayalah pada hukum karma (sebab-akibat). Orang yang memahami hukum karma, mempercayai hukum karma, dan mampu mengubah dirinya adalah orang yang terbebaskan.

Praktisi Buddhis harus memahami bahwa kebahagiaan hari ini, dalam sekejap bisa menjadi penderitaan esok hari; dan penderitaan hari ini mungkin justru membuat kita tidak lagi menderita di masa depan. Penderitaan dan kebahagiaan adalah suatu jodoh. Jika memperlakukannya dengan baik, maka kamu telah menguasai jodoh baik. Suatu hari ketika terbangun, mungkin kita sudah tidak tahu lagi berada di mana. Saya sering berkata kepada banyak orang yang tidak percaya pada ajaran Buddha, di manakah penderitaan yang kamu alami hari ini setelah 50 tahun kemudian? Di manakah saya akan berada setelah 50 tahun? Apakah kerisauan dan penderitaan hari ini masih akan ada? Hidup ini singkat, praktisi Buddhis harus merenungkan bahwa tubuh ini tidak suci, harus tahu bahwa tubuh ini kotor, dan jiwa tidak bersih, harus melihat melampauinya, harus mengamati bahwa hati ini tidak kekal, dan menyadari kebenaran sejati. Segala sesuatu di dunia ini sebenarnya tidak berubah, yang berubah adalah hati kita. Hati kita dapat membuat segala sesuatu di dunia ini ikut berubah. Bersungguh-sungguhlah membina pikiran, jagalah hati nurani dan sifat dasar kita dengan baik, maka pasti dapat membina pikiran menjadi baik dan mengubah kehidupan.

Dalam kehidupan, ketika menghadapi kegagalan dan rintangan, janganlah berkecil hati. Terkadang, rintangan dan kegagalan adalah jebakan yang kita ciptakan sendiri. Saat kita bersikeras dan tidak mau berbalik, akhirnya terjatuh ke dalamnya, serta dengan kehendak sendiri menikmati rasa sedih dan penderitaan, perlahan-lahan membiarkan hati sendiri berubah menjadi energi negatif, inilah bentuk menyakiti hati sendiri. Master sering mengatakan, ketika orang lain memarahi kamu satu kalimat, kamu pulang ke rumah dan marah selama berhari-hari; ketika orang lain mengatakan sesuatu tentang dirimu, kamu terus mengulanginya dalam hati: “Apakah saya egois? Dia bilang saya egois?” Orang lain memarahimu satu kalimat, tetapi kamu pulang ke rumah memarahi dirimu  sepuluh kalimat, membuat diri sendiri sedih. Jangan menyakiti hati sendiri. Sebagai manusia, jangan setiap hari belajar untuk membalas dendam, karena hal itu hanya akan memperparah penderitaan batin, harus melafalkan paritta Li Fo Da Chan Hui Wen, dan senantiasa merasa bersalah dalam hati: Saya telah berbuat salah kepada guru-guru di masa lalu, kepada teman-teman sekelas, kepada anak-anak, dan kepada orang-orang yang pernah menjalin hubungan dengan saya… Dengan sering bertobat, barulah dapat perlahan menghilangkan sifat-sifat buruk dalam diri. Tubuh dan pikiran kita tidak boleh terikat oleh luka yang disebabkan oleh sifat buruk kita sendiri. Hati kita harus menuju ke arah yang luas dan lapang, harus menolak godaan jiwa yang rusak di dunia ini. Apa yang kita dapatkan hari ini, mungkin dengan cepat akan hilang. Mengapa kita harus menggunakan satu-satunya modal di dunia ini — tubuh dan jiwa, untuk mengejar sesuatu yang akan segera hilang? Memahami hukum sebab-akibat barulah dapat mengatasi berbagai buah karma yang datang. Jika orang lain memiliki banyak kesalahpahaman terhadap kamu, maka harus menyadari bahwa itu disebabkan oleh diri sendiri. Jika tidak mampu berperilaku dengan baik, berpikir tidak jernih, dan logika kacau, maka akan menyebabkan luka pada diri sendiri.

Dalam kehidupan suami istri, terkadang kebersamaan juga merupakan hasil dari kecocokan dan saling menyesuaikan. Di antara pasangan, jika mampu memahami hati dan maksud satu sama lain, maka kesalahan dapat dihindari. Master pernah menceritakan sebuah kisah nyata. Ada seorang istri yang sangat baik kepada suaminya, tetapi sang suami selalu merasa bahwa istrinya tidak memperlakukannya dengan baik, sehingga mereka sering bertengkar. Lambung sang suami tidak baik. Sup yang disajikan di meja sudah dingin, namun suami masih sibuk membaca dan belum meminumnya. Sang istri khawatir sup itu menjadi dingin dan tidak baik untuk lambung suaminya, maka ia membawanya kembali ke dapur untuk dipanaskan. Namun, sang suami tidak mengetahui hal itu. Ketika ia mengambil sup tersebut dan meminumnya, ia merasa terlalu panas hingga mulutnya melepuh. Ia pun langsung marah dan berkata, “Kamu mau membuat saya panas sampai mati? Apakah kamu masih belum melupakan pertengkaran kemarin?”Banyak kesalahpahaman justru menjadi awal dari luka dalam hatimu. Memikirkan orang lain dari sisi yang baik, tidak memikirkan sisi buruknya, itulah yang disebut energi positif.

Seekor tonggeret di atas pohon setiap hari bernyanyi: “Zhi liao, zhi liao, sudah tahu, sudah tahu.” Kakek pohon berkata kepada tonggeret: “Kamu harus bersembunyi, anginnya terlalu kencang, kamu bisa jatuh dan mati.” Tonggeret menjawab kepada kakek pohon: “Zhi liao, zhi liao, sudah tahu, sudah tahu.”Akhirnya, ketika angin bertiup kencang, tonggeret itu jatuh dari pohon dan mati. Dalam kehidupan nyata, banyak orang terhadap segala hal selalu berkata, “Saya sudah mengerti, saya sudah tahu, saya sudah bisa,” tetapi kemudian malah gagal dan membuat semuanya berantakan. Awalnya mereka menyanyikan “sudah tahu, sudah tahu,” tetapi akhirnya berubah menjadi “sudah terlambat, sudah terlambat.” Masa lalu tak bisa dikenang kembali. Kita mengira diri sendiri sudah mengetahui segalanya. Coba renungkan perjalanan hidup kalian, berapa banyak kesalahan yang telah kalian lakukan? Pada saat itu kalian merasa sudah tahu semuanya, tetapi sekarang semuanya sudah terlambat.

Tidak mau belajar, tidak mau mendengar, maka pasti akan terlambat. Henry Ford dari perusahaan General Motors Amerika pernah mengatakan sebuah kalimat: siapa pun yang berhenti belajar, dia sudah memasuki masa tua, tidak peduli dia berusia dua puluh tahun atau delapan puluh tahun. Orang yang mampu terus belajar akan selalu menjaga keremajaan dirinya. Karena dalam ajaran Buddha Dharma dikatakan bahwa banyak orang masih diselimuti oleh kebiasaan buruk ketidaktahuan. Karena kita tidak mengerti  sehingga melakukan begitu banyak kesalahan. Dulu kita mengira diri sendiri sudah mengerti segalanya, sehingga melakukan begitu banyak kesalahan. Ketidaktahuan membuat kita menjadi sempit hati dan dangkal pandangan, membuat kita puas dengan keadaan saat ini dan menutup diri dari perkembangan, membuat kita sombong dan angkuh, mengira diri sendiri mampu melakukan segalanya. Coba pikirkan, banyak orang yang mengalami masalah justru karena merasa dirinya sudah memahami segalanya dan tidak akan terjadi masalah. Kemalasan, kekenduran dan kelalaian membuat kita kehilangan sesuatu yang paling berharga, yaitu semangat dan daya kreativitas dalam sifat kemanusiaan kita.

Orang yang berpikiran negatif akan selalu menafsirkan segala sesuatu secara negatif. Orang yang sering memberi penjelasan menunjukkan bahwa hatinya bersalah. Praktisi Buddhis jangan memiliki hati nurasi yang bersalah, dan tidak perlu terlalu banyak menjelaskan. Semakin banyak menjelaskan, semakin tidak jelas, karena dunia ini sendiri adalah dunia yang kacau dan memang tidak ada yang perlu diargumentasikan; yang ada hanyalah hukum sebab dan akibat. Praktisi Buddhis harus mampu menemukan makna positif dari cara berpikirnya dan menyimpan energi positif. Banyak orang sering bertanya kepada Master: “Master, mengapa saya tidak berhasil membimbing orang lain?” Master memberitahu kalian, itu karena dia sendiri belum membina dirinya dengan baik. Jika kamu ingin membimbing suamimu, maka terlebih dahulu ubahlah dirimu hingga benar-benar seperti seorang Bodhisattva; dengan demikian, dia pasti akan mengikuti Bodhisattva dan membina diri. Manusia sering mencari-cari kesalahan, mencari kesalahan dalam masyarakat, mencari berbagai alasan untuk menutupi kurangnya ketekunan diri sendiri. Ketika ditanya, “Mengapa kamu tidak melafal paritta?” “Karena akhir-akhir ini ada arwah asing.” Justru harus lebih giat melafalkan paritta! “Mengapa bangun begitu siang?” “Karena pagi hari tulang terasa sakit dan tidak bisa bangun.”

Ada seorang pemuda bernama Xiao Wang. Ia memiliki sedikit inspirasi dan sangat menyukai menulis. Namun, ia selalu mengeluh bahwa saat menulis tidak memiliki lingkungan yang baik dan waktu yang tepat. Ketika di tempat kerja orang lain bercanda dan berbicara, ia takut terganggu oleh kebisingan, juga takut orang lain menertawakannya sebagai kutu buku. Di kamar sewaan di rumah, ia mengeluh kamar terlalu kecil dan gelap, membuat orang merasa tertekan. Ia berkata, “Kalau saja saya bisa memiliki lingkungan yang bersih dan tenang, saya pasti bisa menulis karya yang bagus.”Tidak lama kemudian, ia pindah rumah. Lingkungannya sudah memuaskan dalam segala hal, tetapi tetap saja tidak sesuai harapannya. Ia berkata, “Karena terlalu tenang, saya malah tidak punya inspirasi.” Praktisi Buddhis harus memahami untuk tidak mengeluh tentang kondisi lingkungan luar. Hari ini kita belajar Buddha Dharma, siapa yang tidak memiliki penderitaan? Siapa yang tidak memiliki kesulitan? Justru karena mengatasi kesulitan itulah kita belajar Buddha Dharma, jangan sampai berubah karena pengaruh kondisi luar. Di dunia ini, semua orang serakah, tetapi saya tidak serakah. Semua orang membenci orang lain, tetapi saya tidak membenci. Semua orang melakukan hal-hal bodoh, tetapi saya tidak bodoh, inilah kebijaksanaan. Mengatasi mentalitas diri sendiri, berusahalah dengan baik, tidak risau, tiada kerisauan, barulah dapat memiliki kebijaksanaan bodhi dan mengakhiri kesedihan di dunia ini.

Orang yang membina pikiran harus setiap saat memahami bahwa hal itu seperti memegang surat izin mengemudi miliknya sendiri. Orang yang mengemudi tidak boleh tanpa SIM, karena hanya dengan memiliki SIM barulah bisa mengemudi. Praktisi Buddhis harus senantiasa menjaga sila barulah bisa membina pikiran. Seseorang yang tidak mampu menjaga sila pasti tidak akan berhasil membina pikirannya dengan baik. Hari ini, bahkan jika seseorang tidak mampu menjalankan pola makan vegetarian, itu berarti ia sedang menjalin jodoh buruk dengan binatang. Jika jodoh buruk ini berlangsung lama, perlahan-lahan ia akan kehilangan hal terindah di dunia ini—yaitu kehidupan kebijaksanaan. Orang yang sering makan vegetarian akan memiliki kebijaksanaan, sedangkan orang yang sering makan daging akan melenyapkan benih welas asihnya, sehingga kehidupan kebijaksanaan pun perlahan menghilang. Sering makan vegetarian barulah akan sehat. Dengan memiliki kehidupan kebijaksanaan dan welas asih, barulah seseorang dapat memperoleh berkat dan respon spiritual dari Buddha.

Kita jangan pernah menyerah dalam belajar Buddha Dharma. Tidak peduli bagaimana orang lain menjadi malas atau mengendur, orang lain menyerah, kita harus tetap berusaha dengan tekun. Jika tidak dapat melihat cahaya, kita akan kehilangan harapan. Terus berusaha, percaya pada cahaya dan harapan, inilah yang disebut ketekunan. Ketekunan merupakan salah satu kunci keberhasilan para ilmuwan dan penemu, karena orang yang tekun selalu disertai dengan harapan. Ketekunan praktisi Buddhis selamanya dapat melihat cahaya Buddha, dapat melihat Bodhisattva. Kita harus tetap teguh, belajar Buddha Dharma dengan sungguh-sungguh, dan tekun melafalkan paritta. Percaya Guan Shi Yin Pu Sa akan berwelas asih kepada kita. Kita manusia hidup di dunia ini tidak dapat terlepas dari perlindungan Bodhisattva, juga tidak dapat terlepas dari hati yang baik dan penuh welas asih dalam diri kita. Belajarlah Buddha Dharma dengan sungguh-sungguh, tekunlah melafalkan paritta, maka kita pasti akan menjadi Bodhisatva di dunia. Terima kasih semuanya!