Cahaya Buddha Menerangi Kehidupan Kebijaksanaan, Welas Asih Memiliki Potensi Kesadaran (Bagian 1)
Seminar Dharma Kuala Lumpur - Malaysia, 12 Desember 2015
Cahaya Buddha menerangi kehidupan kebijaksanaan yang selalu ada; dalam kehidupan yang penuh kerisauan, kita menyadari kesedihan. Sekali tersadarkan, potensi kesadaran pun terbuka, dan bunga teratai bermekaran satu per satu di Alam Manusia. Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa Yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang. Terima kasih kepada Naga Langit Pelindung Dharma! Kepada para biksu, para tamu, serta para teman se-Dharma dan relawan dari seluruh dunia, terima kasih atas kehadirannya. Dengan jalinan jodoh yang begitu istimewa, kita dapat berkumpul di Malaysia untuk bersama-sama memperoleh manfaat Dharma dan melanjutkan ikatan jalinan jodoh Buddha. Menjadikan dunia ini sebagai tanah suci, menjadikan hati manusia sebagai kebijaksanaan Bodhi Prajna, barulah dapat mentransformasikan dunia ini menjadi alam kebahagiaan, menggantikan hati manusia dengan hati Buddha. Dengan tekad yang bersatu, kita pasti dapat menjadikan dunia ini sebagai rumah kebahagiaan sejati, serta menyelamatkan lebih banyak makhluk yang berjodoh menuju pembebasan.
Tekanan dan rasa takut yang dihadapi manusia pada zaman sekarang membuat kita hidup dalam kegelisahan dan ketidaktenangan. Di seluruh dunia, setiap hari ada orang yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas, penyakit, bunuh diri akibat depresi, berbagai macam penyakit, serta bencana seperti gempa bumi, banjir, peperangan, dan berbagai bencana alam maupun bencana ulah manusia. Menurut statistik, setiap hari sekitar 160.000 orang meninggal dunia. Bahkan diri kita sendiri belum tentu mampu kita lindungi, lalu bagaimana kita dapat melindungi keluarga kita? Jika kesehatan kita sendiri pun tidak dapat kita jaga, bagaimana kita dapat merasakan kebahagiaan di dunia ini? Setiap hari dapat hidup dengan damai dan selamat adalah sebuah berkah; keluarga tidak terjadi musibah adalah kebahagiaan. Oleh karena itu, kita harus belajar berpuas diri dan selalu bahagia. Banyak orang setiap hari menderita karena berbagai kerisauan duniawi. Belajarlah untuk berpuas diri dan memahami untuk melepaskan. Kebahagiaan bergantung pada perasaan dirimu. Jika kamu merasa sudah memiliki semuanya di dunia ini, semuanya sudah cukup, sudah puas, maka sesungguhnya dirimu mulai memiliki potensi kesadaran. Banyak orang yang matanya tidak dapat melihat, banyak orang yang mengalami cacat fisik, banyak orang yang tersiksa oleh penyakit hingga sangat menderita, banyak orang yang merasa hidup ini tidak ada artinya lagi hingga ingin bunuh diri…… kita sebagai praktisi Buddhis, karena telah memahami rasa puas diri, kita masih bisa hidup dengan aman dan tenteram, kita menjalani kehidupan dengan tubuh yang sehat dan bebas dari rasa sakit, serta tanpa kerisauan batin, inilah yang disebut dengan kebahagiaan. Berharap semua orang dapat menghargai berkah dan menghargai jasa kebajikan, harus menaklukkan kerisauan batin dan penyakit di dalam jiwa sendiri, barulah dapat menjalani kehidupan yang disinari oleh pancaran cahaya Buddha dari Bodhisattva. Kehidupan yang pada akhirnya tidak mendapatkan apa pun hanya akan menyambut kedukaan terakhir di Alam Manusia. Belajarlah untuk berpikiran terbuka, biasakan diri untuk selalu berpikiran terbuka, dan pandanglah segala sesuatu yang terjadi di Alam Manusia ini sebagai hal yang wajar. Harus memahami dan membiasakan diri terhadap kehilangan, serta membiasakan diri terhadap perolehan, dengan demikian barulah batinmu dapat merasa tenang, damai, dan tenteram.
Seorang pakar medis di Eropa pernah mengatakan bahwa setiap hari manusia mengejar impian untuk menjadi miliarder, menginginkan ketenaran dan kekayaan. Menurut dunia kedokteran, biaya transplantasi mata di Eropa sekitar 150 ribu, transplantasi ginjal sekitar 200 ribu, transplantasi hati (liver) sekitar 400 ribu, dan transplantasi jantung sekitar 500 ribu. Jika hari ini kita memiliki tubuh yang sehat, bebas dari penyakit dan bencana, bukankah kita sebenarnya sudah menjadi miliarder? Manusia harus belajar melepaskan dan memahami untuk berpuas diri. Ini adalah mentalitas yang dimiliki oleh orang yang bijaksana. Berapa banyak orang yang hidup dalam ketidakpuasan, dan yang mereka peroleh hanyalah penderitaan. Karena kita manusia terus mengejar hal-hal yang sebenarnya bukan milik kita, sehingga kita begitu menderita. Kita bekerja keras mengejarnya, tetapi sering kali karena mengejar sehingga kehilangan jati diri, dan juga akan mencelakakan orang lain yang tidak bersalah. Bagaikan orang-orang zaman sekarang yang mengejar kenikmatan merokok dan minum minuman beralkohol, bukan hanya merusak paru-paru dan liver sendiri, tetapi juga membahayakan kesehatan anggota keluarga serta anak-anak. Melepaskan adalah hal yang paling penting. Memiliki kebijaksanaan mengandalkan pada hatimu yang welas asih.
Ada dua orang pelajar yang bersama-sama pergi mengikuti ujian negara. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan sebuah rombongan pemakaman. Ketika melihat peti mati yang hitam pekat itu, salah satu dari pelajar itu merasa “deg” di dalam hati, seakan-akan setengah jiwanya menjadi dingin. Ia berpikir, “Selesai sudah, benar-benar sial. Pergi ujian malah bertemu peti mati seperti ini, pasti akan membawa kesialan besar.” Perasaannya langsung jatuh merosot. Saat memasuki ruang ujian, bayangan “peti mati hitam” itu terus terngiang-ngiang di benaknya. Ketika ujian, pikirannya buntu dan akhirnya benar-benar gagal. Sementara itu, pelajar yang lain juga melihat peti mati hitam tersebut. Awalnya hatinya juga “deg” sejenak, tetapi kemudian ia berpikir, “Peti mati — guān cái, di dalamnya ada kata ‘guan — jabatan’ dan ‘cai — rezeki/kekayaan’. Ini pertanda baik! Sepertinya keberuntungan besar akan datang kepadaku, saya pasti akan lulus dengan hasil gemilang.” Hatinya pun menjadi sangat bersemangat dan penuh kegembiraan. Saat memasuki ruang ujian, inspirasinya mengalir deras seperti mata air, dan benar saja, ia berhasil lulus dengan hasil yang sangat baik. Ketika pulang ke rumah, keduanya sama-sama berkata kepada keluarga mereka, “Peti mati– guan cai” itu benar-benar manjur.
Dalam kehidupan nyata, ada orang yang terpuruk dan tidak mampu bangkit kembali hanya karena satu kali mengalami kegagalan. Ada pula yang berkat satu kali keberhasilan, mampu membangun karier dan mencapai kesuksesan besar. Ada orang yang dipenuhi rasa takut karena berbagai kerisauan di dunia. Sebaliknya, ada juga yang karena menantang dirinya sendiri hingga menjadi orang suci di dunia. Dalam menekuni Dharma dan menjadi individu yang baik, kita harus berani memperbaiki kekurangan diri, itu barulah disebut benar-benar merelakan. Terhadap segala sesuatu di dunia ini, kita hendaknya mampu melihat kebenarannya dan tidak melekat padanya, karena di dunia ini tidak ada sesuatu yang mutlak, juga tidak ada benar atau salah. Yang ada hanyalah sikap batin yang negatif atau positif. Apabila cara pandangmu keliru, maka kamu sendiri yang harus menanggung akibatnya sepanjang hidup. Ada orang yang karena memiliki pandangan yang salah terhadap istri atau suaminya, akhirnya menanam sebab yang berbuah pada perceraian.
Praktisi Buddhis harus tekun, harus memiliki kebijaksanaan, tidak menanam benih kejahatan tetapi menanam benih kebajikan. Terhadap segala sesuatu di dunia ini, hendaknya mampu melihat kebenarannya dan melepaskan. Sesungguhnya, yang benar-benar dapat bangkit bukanlah tubuh kita, melainkan semangat dan jiwa kita. Di dunia ini, harus melepaskan segala kemelekatan yang tidak perlu, serta melepaskan pengejaran yang tiada habisnya terhadap hal-hal duniawi. Dengan demikian, hidup akan terasa jauh lebih ringan. Ketika seseorang terus-menerus mengejar tanpa henti, ia akan merasa sangat lelah. Oleh karena itu, lepaskanlah nafsu keinginan yang berat, melepaskan tuntutan yang berlebihan. Itulah yang disebut pencerahan, itulah yang disebut pembebasan.
Jika seorang praktisi Buddhis ingin semakin sempurna dalam kebijaksanaannya, pertama-tama ia harus memiliki mentalitas yang baik. Mentalitas adalah dasar yang menentukan apakah seseorang akan menjalani kehidupan yang bahagia atau tidak bahagia, karena mentalitas menentukan nasib seseorang. Apabila seseorang tidak mampu mengendalikan mentalitasnya dengan baik, ia akan mudah marah. Kemarahan yang kecil hanyalah sekadar temperamen. Kemarahan yang besar akan melukai energi diri sendiri. Sering marah bisa mengakibatkan putus napas.
Kemarahan sebenarnya sepenuhnya bisa dikendalikan. Ada seseorang yang sedang menerbangkan layang-layang di taman. Karena lelah, ia duduk di bangku taman dan meletakkan layang-layangnya di samping. Tiba-tiba, seseorang datang dan duduk di sebelahnya, tanpa sengaja menduduki layang-layang itu hingga rusak. Orang itu baru saja ingin marah, tetapi ketika ia melihat bahwa orang tersebut adalah seorang tunanetra, ia segera menahan emosinya. Kisah ini memberi tahu kita bahwa orang melampiaskan amarah dan sikap kita terhadap orang lain sebenarnya bisa dikendalikan sepenuhnya. Itu merupakan bentuk cara kita memandang keadaan luar. Jika kamu menganggap itu benar, kamu mungkin tidak akan marah. Namun jika kamu menganggapnya salah, barulah kamu akan marah. Kemarahan adalah bentuk ketidaktahuan, tidak ada manfaatnya, dan juga tidak bisa menanganinya, barulah akan marah. Kurangnya potensi kesadaran, tidak ada kebijaksanaan. Orang yang tidak bisa melepaskan perolehan dan kehilangan, barulah akan marah. Jangan marah, karena marah sampai sakit, tidak ada orang yang bisa menggantikan. Kita harus menggunakan satu-satunya “modal” yang diberikan oleh para Bodhisattva kepada kita di dunia ini—yaitu tubuh kita untuk menolong dan menyelamatkan orang lain dengan sebaik-baiknya. Mengapa harus menyakiti tubuh sendiri? Hal-hal yang tidak perlu, jangan dilakukan. Praktisi Buddhis tidak marah, karena kita memiliki kebijaksanaan.
Seorang biksu senior dan seorang biksu muda pergi bersama turun gunung ke kota untuk membeli kebutuhan pokok. Ada dua jalan menuju kota: satu adalah jalan jauh, harus memutar melewati sebuah gunung besar dan menyeberangi sebuah sungai kecil, perjalanan pulang-pergi hampir memakan waktu sehari; satu lagi adalah jalan dekat, cukup turun ke jalan pegunungan lalu menyeberangi sebuah sungai besar. Namun, di sungai itu hanya ada sebuah jembatan batang kayu yang sudah tua dan rusak, dan tidak ada yang tahu kapan jembatan itu akan putus dan membahayakan nyawa. Tentu saja, biksu senior dan biksu muda memilih jalan yang dekat. Mereka turun gunung dengan ringan dan santai. Saat hendak menyeberangi jembatan, tiba-tiba biksu senior yang teliti melihat bahwa bagian depan jembatan kayu itu sudah banyak retakan. Ia segera menarik biksu muda yang sedang berjalan sambil mendongak, lalu berkata, “Pelan-pelan, jembatan ini sepertinya sudah tidak bisa dilewati. Hari ini kita harus kembali dan mengambil jalan memutar.”Setelah diingatkan oleh biksu senior, biksu muda juga melihat retakan pada jembatan. Namun, ia adalah orang yang sangat keras kepala. Ia berkata, “Kita sudah sampai sejauh ini, masa harus kembali? Setelah menyeberang jembatan, kita sudah sampai di kota.” Biksu senior tahu sifat keras kepala biksu muda, maka ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia maju ke depan, mengambil sebuah batu, lalu melemparkannya ke jembatan. Dengan suara “brak”, jembatan yang sudah lapuk itu langsung runtuh, hancur dan jatuh ke dalam sungai deras di jurang yang dalam. Dalam perjalanan kembali, biksu muda berkata dengan rasa syukur sekaligus heran kepada biksu senior, “Rekan se-Dharma, tadi untung saja kamu melempar batu untuk menguji jalan. Kalau tidak, kita mungkin sudah menjadi santapan ikan di sungai.” Biksu senior menghela napas dan berkata, “Selama kita tahu untuk melepaskan, sebenarnya tidak sulit untuk berbalik.”
Kita hidup di dunia ini sering kali tidak rela untuk melepaskan. Dalam hidup, demi memiliki rumah, demi tinggal di rumah yang bagus, kita berutang dan sepanjang hidup bekerja keras seperti sapi dan kuda demi melunasi pinjaman, hingga akhirnya menjadi “budak rumah”. Demi perasaan asmara, kita bisa menderita sampai hidup terasa tidak berarti, demi perasaan asmara banyak orang bunuh diri, demi menjaga gengsi, kita tidak segan melukai diri sendiri dan juga melukai perasaan orang lain. Demi kehidupan yang singkat ini, kita mengorbankan seluruh hidup kita. Kita harus melepaskan nafsu keinginan, dan melihat harapan. Memahami untuk melepaskan berarti memiliki kebijaksanaan prajna. Hal-hal yang dulu kita kejar mati-matian saat muda, sekarang di mana semuanya itu? Dulu ketika muda, kita juga pernah melepaskan hal-hal yang bukan milik kita, lalu di mana sekarang ketenaran dan kekayaan yang telah kita lepaskan itu? Praktisi Buddhis harus menyesuaikan jodoh. Hanya dengan melepaskan keakuan, kita baru bisa memahami hati orang lain. Hanya dengan melepaskan kerisauan di dalam hati, kita baru bisa memiliki kebahagiaan. Orang yang bijaksana adalah mampu melepaskan. Melepaskan berarti merelakan (memberi); dengan merelakan (memberi) barulah kita bisa memperoleh. Merelakan dan memperoleh adalah suatu jodoh dan karma. Orang yang hidup dalam penderitaan adalah karena tidak rela melepaskan, sehingga ia akan semakin jauh dari kebahagiaan. Sedangkan kita orang yang bisa merelakan, kebahagiaan akan semakin mendekat. Kita hidup di dunia ini harus memiliki cara yang bijak; Banyak hal jika hanya mengikuti arus belum tentu berhasil, tetapi dengan cara yang bijaksana dapat menyelesaikannya.
Ada seorang pria lansia yang telah pensiun kembali ke sebuah kota kecil. Ia membeli sebuah rumah kecil dan menetap di sana, berharap dapat menjalani masa tuanya dengan tenang sambil menulis kenangan hidupnya. Pada beberapa minggu pertama, semuanya berjalan dengan baik. Namun suatu hari, tiga anak laki-laki datang ke sana sepulang sekolah untuk bermain. Mereka sangat nakal, menendang-nendang tong sampah di depan rumah sambil bermain dengan riang. Lansia itu tidak tahan dengan kebisingan tersebut, lalu keluar untuk bernegosiasi dengan mereka. Ia berkata, “Anak-anak, saya sebenarnya suka melihat kalian bermain menendang tong itu. Kalau kalian datang setiap hari untuk bermain, saya akan sangat senang, dan saya akan memberi kalian masing-masing satu dolar setiap hari.”Ketiga anak itu sangat gembira dan bermain dengan lebih semangat lagi. Setelah tiga hari, lansia itu berkata dengan wajah sedih, “Anak-anak, karena inflasi, pendapatan saya berkurang setengah. Mulai besok, saya hanya bisa memberi kalian 50 sen.” Anak-anak itu merasa tidak senang, tetapi masih setuju. Setiap hari sepulang sekolah, mereka tetap datang untuk bermain menendang tong di depan rumahnya. Seminggu kemudian, lansia itu kembali berkata dengan wajah muram, “Anak-anak, belakangan ini saya belum menerima kiriman uang pensiun. Maaf, sekarang saya hanya bisa memberi kalian 20 sen per hari.”“20 sen?” Wajah anak-anak itu langsung berubah kesal, “Kami tidak akan membuang waktu berharga kami hanya demi 20 sen untuk bermain demi Anda! Kami tidak mau lagi!” Sejak saat itu, lansia tersebut kembali menikmati kehidupan yang tenang.
Praktisi Buddhis harus memahami bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki dua sisi; tidak ada satu pun hal yang berdiri sendiri secara terpisah. Pria lansia yang kembali ke kampung halamannya dengan harapan bisa hidup tenang dan menulis kenangan hidupnya. Namun, ketenangan itu terganggu oleh suara anak-anak yang nakal. Dengan memanfaatkan psikologi kebalikan, orang tua tersebut dengan cerdik berhasil mencapai tujuannya. Ada seorang teman se-Dharma yang suaminya tidak percaya pada ajaran Buddha maupun pada Xin Ling Fa Men. Teman se-Dharma ini setiap hari membaca “Bai Hua Fo Fa” dengan sangat serius, dan sengaja memberi tanda pada halaman yang dibacanya. Saat ia keluar membeli sayur, ia ingin melihat apakah suaminya akan membacanya. Sang suami, karena menjaga gengsi, diam-diam membuka dan membaca buku tersebut ketika istrinya tidak ada, lalu mengembalikannya seperti semula. Ketika sang istri melihat tanda itu telah berpindah. Saat memasak, ia sengaja memutar rekaman “Bai Hua Fo Fa” dengan suara keras agar suaminya bisa melihat dan mendengarnya. Beberapa minggu kemudian, sikap suaminya tiba-tiba menjadi lebih baik. Setelah sebulan, ia mulai melafalkan paritta. Inilah yang disebut sebagai metode yang bijaksana. Guan Shi Yin Pu Sa menampakkan tiga puluh dua wujud untuk menyelamatkan semua makhluk. Kita harus meneladani welas asih Guan Shi Yin Pu Sa dalam menolong orang lain. Ingin menyelamatkan orang adalah orang baik; sedang menyelamatkan orang adalah orang suci; telah menyelamatkan orang adalah Bodhisattva; menjalin jodoh baik secara luas, menyelamatkan makhluk yang berjodoh secara luas adalah Buddha.
Kita dalam menekuni Dharma dan menjadi manusia harus menjadikan kehidupan ini dipenuhi dengan ajaran Buddha Dharma. Dalam setiap hal yang kita lakukan setiap hari, kita harus merenung: “Apakah saya hidup dalam kehidupan nyata ini seperti seorang Bodhisattva?”Di masyarakat modern, untuk membimbing dan menyelamatkan orang lain harus menggunakan cara-cara yang bijaksana dan tepat. Dalam menjalani kehidupan sebagai manusia, kita harus menggunakan ajaran Buddha Dharma. Berhasil menjadi individu yang baik berarti berhasil menjadi manusia artinya berhasil mencapai Kebuddhaan.
Dalam menjalani kehidupan di dunia, ada sepuluh rahasia penting. Jika kita menguasai sepuluh rahasia ini, kita akan memahami bagaimana menjalani hidup dengan lancar tanpa hambatan di dunia ini, serta menjadikan diri sebagai seorang Bodhisattva yang menjaga sila di dunia ini. Pertama, bekerja dengan rajin tetapi tidak gegabah, yaitu menjalani hidup dan melakukan segala sesuatu dengan penuh ketekunan. Kedua, tegas tetapi tidak sewenang-wenang, artinya menyelesaikan masalah dengan bijaksana. Ketiga, berani tetapi tidak ceroboh, dalam melakukan segala hal harus sangat teliti, harus fokus pada satu tujuan dengan tekun. Keempat, rasional tetapi tidak bodoh, berhati-hati dalam bertindak dan tidak menjadi sangat bodoh. Kelima, berani berbicara tetapi tidak asal bicara, menjaga karma ucapan dan selalu berkata benar. Keenam, memiliki keyakinan tetapi tidak serakah, tidak ada nafsu keinginan namun harus melihat harapan. Ketujuh, memiliki kepribadian tetapi tidak keras kepala, mengembangkan karakter yang baik, harus menyingkirkan keakuan dan keserakahan. Kedelapan, memiliki cita-cita tetapi tidak berkhayal kosong. Banyak orang memiliki impian tetapi hanya angan-angan; kita tidak boleh mengkhayal kosong, yaitu harus memiliki kekuatan tekad, tetapi harus benar-benar berusaha dengan keras. Kesembilan, tahu untuk mengalah tetapi tidak menuruti secara membabi buta, memiliki hati welas asih namun harus menghilangkan “sifat iblis” dalam hati sendiri. Kesepuluh, manusia harus belajar untuk kuat dan tangguh tetapi tidak keras kepala, tidak sombong atau angkuh, namun hati harus tetap teguh dan kuat. Inilah sepuluh rahasia menjalani kehidupan yang diberikan oleh Master kepada kalian.
Pada masa pemerintahan Kaisar Tang Taizong, ada seorang pejabat yang bertugas mengangkut bahan pangan. Saat menjalankan tugasnya, ia menghadapi badai angin dan hujan yang sangat kuat. Kapal yang ditumpanginya bergoyang ke kiri dan ke kanan. Apa pun yang ia lakukan tidak mampu mencegah kapal itu terbalik. Pada akhirnya, kapal tersebut pun tenggelam sepenuhnya. Ketika tiba waktu penilaian akhir tahun, seorang pejabat penilai bernama Lu Chengqing diperintahkan untuk menilai kinerja para pejabat bawahannya. Penilaian ini sangat berpengaruh terhadap karier dan kenaikan jabatan setiap pejabat, sehingga semua orang merasa sangat tegang. Karena insiden tenggelamnya kapal pengangkut bahan pangan tersebut, Lu Chengqing memberikan penilaian “tingkat menengah ke bawah” kepada pejabat itu. Namun, pejabat pengangkut bahan pangan tersebut tidak menunjukkan sedikit pun tanda ketidakpuasan. Kemudian, setelah mempertimbangkan berbagai faktor, Lu Chengqing mengubah penilaiannya menjadi “tingkat menengah”. Pejabat tersebut juga tetap tidak menunjukkan sedikit pun rasa senang. Apa pun tingkat penilaian yang diberikan kepadanya, pejabat itu selalu menerimanya dengan tenang dan lapang dada, serta tetap menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh seperti biasa. Lu Chengqing pun memujinya dengan berkata, “Tidak kaget terhadap kejayaan dan keterpurukan, sungguh sangat langka.” Ia kemudian kembali menaikkan penilaiannya menjadi “tingkat menengah ke atas”. Pejabat pengangkut bahan pangan ini telah memberikan kita sebuah pelajaran yang sangat cemerlang—sebuah pelajaran psikologis yang unggul: dalam belajar Buddha Dharma dan menjadi individu yang baik, kita harus tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh pujian maupun hinaan. Demikian pula ketika kita mendapatkan sesuatu hari ini, kita bersikap demikian; ketika kehilangan sesuatu, kita juga bersikap demikian. Karena kehidupan di dunia ini adalah menderita, kosong, dan tidak kekal; segalanya tidak dibawa datang saat lahir dan tidak dapat dibawa pergi saat meninggal.
Dalam kehidupan manusia, setiap orang memiliki tujuan dan pengejarannya masing-masing. Ada orang yang sepanjang hidup hanya mengejar ketenaran dan reputasi, ada yang mengejar kekayaan, ada yang mengejar kekuasaan, dan ada pula yang mengejar keluarga. Namun, di manakah sebenarnya nilai sejati dari kehidupan? Praktisi Buddhis harus memahami bahwa nilai sejati kehidupan hanya dapat terwujud ketika seseorang tidak terpengaruh oleh ketenaran, kekayaan, pujian, maupun penghinaan, serta mampu memberikan kontribusi untuk menyelamatkan dan menolong makhluk hidup, inilah kekuatan dari sifat Kebuddhaan. Nilai kehidupan terletak pada pengabdian, pada hidup untuk masyarakat dan orang lain, bukan hidup secara egois. Ketika seseorang dengan sepenuh hati melayani masyarakat dan membantu sesama, maka nilai hidupnya pun akan terwujud. Karena itu, kehidupan hanyalah sebuah perjalanan. Dalam kehidupan yang terbatas ini, ada orang yang berusaha mati-matian untuk menikmati kesenangan. Seorang pangeran Arab, yang baru berusia 33 tahun, telah meninggalkan dunia ini. Ia memiliki kekayaan yang tak terhitung, menikmati keindahan wanita tanpa batas, memiliki segalanya di dunia, namun ia kehilangan nyawa yang paling penting dalam hidup. Kita sebagai praktisi Buddhis tidak memiliki semua yang ia miliki, tetapi kita justru memiliki nyawa dan kehidupan kita sendiri, inilah berkah, inilah jodoh.
