8. Membahas tentang Kapasitas Kejahatan dan Kebaikan, Menguraikan Hukum Karma di Tiga Kehidupan
Dalam lubuk hati diri sendiri harus memiliki pemikiran “menguntungkan orang lain”. Dengan kata lain, dalam lubuk hati diri kita yang terdalam, terhadap permasalahan apapun harus bisa memikirkan orang lain, harus bisa baik terhadap orang lain. Saya ingin membantu orang lain, saya ingin membawa kebaikan bagi semua makhluk, ini yang dinamakan “menguntungkan orang lain”. Memandang orang lain sebagai pihak yang terhormat, dinamakan “memandang orang lain sebagai yang terhormat”. Memikirkan semua makhluk, dalam benak kita harus sering terlintas pikiran: “Dia adalah orang yang terhormat, dia adalah orang yang saya hormati.” Selain itu, di antara para praktisi Buddhis harus saling menghormati dan saling mengasihi – semuanya adalah praktisi Buddhis, semuanya adalah orang-orang yang berhati baik. Baik di antara suami dan istri, maupun kakak dan adik, ataupun generasi yang lebih tua dengan yang lebih muda, begitu juga di antara para praktisi Buddhis, semuanya harus saling menghormati dan saling mengasihi. Akan tetapi sekarang ada berapa orang yang benar-benar bisa melakukannya? Harus saling menghargai, jika tidak menghargainya, maka jodoh pun akan hilang. Contoh sederhana: saat masih berjodoh, bagaikan membeli semangkuk nasi, ketika semangkuk nasi baru saja disajikan, masih panas dengan asap mengepul, ini namanya “berjodoh”. Selagi masih berjodoh, maka makanlah semangkuk nasi ini panas-panas, sangat menyenangkan; namun jika jodoh ini sudah habis, atau semangkuk nasi ini sudah dingin, selain itu sudah disimpan di kulkas, maka saat dikeluarkan untuk dimakan di hari selanjutnya, ia akan menjadi bulir-bulir nasi yang keras, kamu sama sekali tidak bisa menelannya, maka sesungguhnya ini berarti jodoh baik sudah habis. Oleh karena itu, saat masih berjodoh harus menyayanginya, harus menghargainya. Tunggu sampai jodohnya sudah habis, saat kamu ingin kembali memakan nasi ini, maka maaf saja, lambungmu akan menjadi tidak nyaman, kamu tidak bisa menerima nasi ini lagi. Karena dia sudah menjadi dingin, sudah menjadi sangat keras, sudah kering. Walaupun disiram kembali dengan air panas, ia pun hanya akan menjadi semangkuk nasi lembek, selain itu yang panas hanya di bagian atasnya saja, di bawahnya dingin. Apakah kalian bisa memahami logika di dalamnya?
Makna dari menyayangi jodoh adalah harus bisa menghargai jodoh. Hari ini kalian berjodoh dengan Master, maka hargailah baik-baik. Kalian di antara para praktisi Buddhis bisa saling menghargai dan saling mengasihi, itu sangat bagus, jangan tunggu sampai suatu hari nanti, saat semuanya sudah hilang, baru merindukannya, sesungguhnya pada saat itu, sudah tidak berjodoh lagi. Dalam kehidupan kita terdapat banyak penyesalan. Dengan kata lain, saat itu saya tidak menghargainya, saat itu saya tidak baik-baik menghargai berkah pahala saya. Orang tua saya bekerja mati-matian seumur hidup, baik terhadap saya seumur hidup, sedangkan saya tinggal membuka mulut untuk makan, tinggal mengulurkan tangan untuk meminta pakaian, saya tidak merasakan apapun, tunggu sampai saat mereka sudah meninggal, saya baru merasakannya, mengapa saya tidak menghargainya baik-baik?! Tunggu saat penderitaan menghampiri, kita baru menyadari berapa banyak pengorbanan orang tua untuk diri kita. Ketika orang lain memohon untuk kalian, maka milikilah perasaan bersyukur. Seperti saat Master bersujud memohon untuk kalian, maka kalian tahu, bahwa Master benar-benar baik, saya rela bersikap tulus terhadap Master, dalam hal apapun saya selalu memikirkan Master; namun saat keadaan kalian sudah membaik, saat melihat Master pun tidak peduli lagi. Ini namanya tidak menghargai berkah pahala sendiri.
Pada masa periode akhir Dharma, kalian harus rajin, tekun membina diri selain itu harus cepat, jika tidak rajin memajukan diri, maka adalah mundur. Jangan ada kehilangan, harus bisa mendapatkan – yang didapatkan di sini adalah dari aspek kejiwaan kalian. Terhadap benda-benda yang kalian sukai, harus belajar mengendalikan diri. Tidak melakukan hal-hal yang disukai itu namanya “berpantang”. Jika tidak menyentuhnya, maka pasti tidak akan memikirkannya. Misalnya, orang-orang yang mudah tergoda dengan uang, maka janganlah menyentuh uang; orang-orang yang mudah tergoyahkan dalam asmara, maka janganlah menyentuh hal-hal yang berhubungan dengan asmara. Dalam aspek mana diri kita lemah, maka kita janganlah menyentuh hal-hal yang berhubungan dengan aspek tersebut, ini namanya “berpantang” – mengamalkan sila. Sangat tidak mudah bagi seseorang untuk memperbaiki kekurangannya sendiri! Apabila orang ini terbiasa membenci seseorang, saat kamu memintanya untuk tidak lagi membenci orang itu, menurutmu, apakah dia bisa mengubahnya? Tidak akan bisa, sangat sulit sekali. Contoh yang tidak menyenangkan: seperti ada anak kecil yang suka mengompol, walau sudah besar pun masih mengompol, karena dia sudah terbiasa, jika ingin mengubahnya akan sangat sulit. Logikanya sama saja.
Kita harus melakukan hal-hal yang membawa kebaikan bagi semua makhluk, dengan begitu kita baru bisa terbebas dari tumimbal lahir enam alam, bersama mencapai kesadaran yang paling sempurna, Kesadaran seperti apa? Berarti kamu sudah tersadarkan. Apakah yang dimaksud dengan kesadaran yang paling sempurna? Itu adalah kesadaran yang tertinggi, yang tidak tertandingi oleh yang lain, dengan kata lain tingkat kesadaran ini sudah berada di puncak teratas. Contohnya, ini adalah sebuah gedung berlantai enam, jika kamu berjalan dari lantai satu sampai ke lantai enam, lalu naik lagi ke atas, berarti kamu sudah berada di puncak, sudah tidak ada yang lebih atas lagi, itulah yang disebut sebagai paling sempurna, mengerti? Saat pemikiran liar muncul, dengan segera akan mengetahui bahwa diri sendiri telah melakukan kesalahan, “Saya tidak seharusnya begini”. Namun ketika pemikiran liar tersebut datang, apakah kamu bisa mengendalikannya? Itu sangat sulit dikendalikan, jalan pikiran kita bagaikan seekor kuda liar, berlari ke sana kemari, tidak terkontrol, ini berarti tidak memiliki kekuatan konsentrasi. Tidak ada cara lain, satu-satunya jalan untuk mengendalikannya hanya dengan menjalankan sila. Oleh karena itu, dalam pikiran (hati) kita harus ada sebuah medan pembinaan, medan pembinaan yang seperti apa? Master beri tahu kalian, medan pembinaan bisa berupa sebuah kuil, juga bisa adalah suatu tempat. Seperti Gunung Pu Tuo, seluruh gunung ini merupakan medan pembinaan dari Guan Shi Yin Pu Sa, benar tidak? Maka di dalam hati dan pikiran, seharusnya ada tempat seperti ini sebagai medan pembinaanmu, karena dengan memiliki medan pembinaan ini, Bodhisattva baru bisa mendatangi kita. Umpamanya: Bodhisattva naik pesawat turun menyelamatkan kita, tetapi jika satu bandar udara (landasan pacu) pun kita tidak memilikinya dalam pikiran kita, bagaimana Bodhisattva bisa turun? Kamu harus menyediakan sebuah tempat yang bersih dan tenang, agar Bodhisattva bisa datang ke tubuhmu, masuk ke hatimu, agar Bodhisattva bisa datang ke dalam pikiranmu untuk membantu dan menolongmu. Kamu harus memberikan satu medan bagi Bodhisattva. Apabila pikiranmu tidak bersih, mana mungkin bisa tercipta medan pembinaan? Mengerti? Medan pembinaan ini merupakan kebijaksanaan Buddha. Jika kamu memiliki kebijaksanaan Buddha di dalam hatimu, berarti kamu sudah memiliki medan pembinaan. Apabila kamu hanya memiliki kecerdikan duniawi, maka yang ada di dalam pikiranmu bukan medan pembinaan, karena kepintaranmu hanyalah suatu kemahiran, untuk mendapatkan keuntungan. Contohnya, mencurangi orang lain, kamu merasa dirimu pintar; kamu merasa senang ketika mengambil makanan orang lain tanpa diketahui orang itu; seperti benda-benda yang sebenarnya bukan milikmu, tetapi kamu berusaha keras untuk mendapatkannya, makanya kamu merasa gembira; seperti uang yang tidak seharusnya kamu ambil, namun kamu berhasil mendapatkannya, membuatmu merasa senang. Namun setelah kesenangan ini berlalu, kesedihan sudah menanti di belakangnya; senang dulu, baru sedih.
Kita harus memahami apa yang dimaksud dengan penyelesaian yang benar dan penyelesaian yang salah. Penyelesaian yang benar adalah dengan tepat dan benar mengatasi kebiasaan buruk dan kekurangan pada diri sendiri; penyelesaian yang tidak benar adalah mengatasi kebiasaan buruk dan kekurangan diri sendiri secara tidak tepat. Contohnya, kamu memiliki satu kebiasaan buruk, yakni tidak suka gosok gigi di malam hari. Jika kamu menggunakan penyelesaian yang benar untuk mengatasinya, apabila biasanya kamu tidak menggosok gigi dengan baik di malam hari, maka lambat-laun sisa-sisa kotoran yang terpendam di sela-sela gigi bisa merusak gigi, oleh karena itu baik siang maupun malam hari, kita harus menggosok gigi, maka gigi ini tidak akan rusak, ini yang dinamakan sebagai penyelesaian yang benar “zheng chu”. Apakah penyelesaian yang salah? Penyelesaian yang salah berarti tidak memahami logikanya, juga tidak memahami kebenaran yang terkandung di dalamnya, contohnya kamu sendiri merasa: “Memang apa masalahnya? Di malam hari cukup kumur-kumur saja, untuk apa sikat gigi?” Namun pada akhirnya, gigimu pelan-pelan mulai bermasalah. Begitu juga dalam menekuni Dharma, jika kamu mengira “Saya cukup menyembah Buddha saja, untuk apa melafalkan paritta?” Lalu selanjutnya muncul masalah, ini adalah penyelesaian yang tidak benar “fei chu”. Sedangkan penyelesaian yang benar adalah: Bodhisattva, saya pasti akan melafalkan paritta, saya akan membabarkan Dharma kepada lebih banyak orang, Guan Shi Yin Pu Sa, mohon Anda tolong saya, saya akan mengagungkan Tanah Suci Buddha dengan sungguh-sungguh. Hari ini kalian di Guan Yin Tang, tempat ini sangat agung, ini adalah tanah yang sangat bersih, maka disebut sebagai “mengagungkan Tanah Suci Buddha”.
Mengapa banyak orang yang setelah bervegetarian, setelah beberapa waktu, lalu tidak lagi bervegetarian? Kalau begitu keadaannya akan menjadi lebih gawat daripada sebelum dia bervegetarian. Saat Master sedang menerawang totem orang lain, melihat banyak orang yang ada beberapa waktu menjadi pimpinan yang sangat hebat dan dihormati orang-orang, namun tiba-tiba karena satu kasus lalu dipenjara, mengapa begitu? Karena di kehidupan sebelumnya dia pernah menjadi biksu di sebuah kuil, oleh karena itu, pada masa-masa itu, dia bisa menjadi pemimpin di dunia ini, dan hidup nyaman; tunggu sampai saat dia dijebloskan ke penjara, maka sesungguhnya adalah di kehidupan sebelumnya dia sudah meninggalkan kuil, malah mencaci-maki biksu di kuil, mengatakan kalau kuil ini begini begitu, biksu ini tidak baik, biksu itu jahat, maka selanjutnya di Alam Manusia ini dia mendapatkan balasannya di kehidupan ini, yakni tidak memiliki jabatan apapun, bahkan uang pun disita, masih mendapat bencana penjara. Balasan karma ini tidak kecil, maka kalian harus bisa memahamimya! Ketahuilah apapun yang dirimu lakukan sendiri! Coba saja kamu tanya orang-orang yang dipenjara itu, tanyakan apa yang telah mereka lakukan sehingga dipenjara, banyak orang yang bahkan tidak tahu bagaimana dirinya bisa dipenjara! Kalau ditanya, mengapa kamu membunuhnya? Dia menjawab: “Saya juga tidak tahu mengapa bisa berpikir untuk membunuhnya.” Mengapa? Karena rohnya tidak ada, karena dia tidak memiliki kekutatan untuk memusatkan pikiran, karena dia tidak pernah menekuni Dharma, maka dia pun tidak tahu bagaimana cara mengatasi masalah-masalah duniawi ini. Oleh karena itu, saat menghadapi masalah, harus bisa mengidentifikasi bagaimana seharusnya mengatasinya dan bagaiamana tidak mengatasinya. Kita harus mengetahui bagaimana melakukan suatu hal baru tidak akan ada balasan karmanya. Saat kalian melakukan sesuatu, apakah kalian pernah berpikir: “Hal yang saya lakukan hari ini, apakah akan ada balasan karmanya?” Saat melakukan kejahatan, apakah pernah terpikir akan ada balasan karmanya? Tunggu saat balasan karmanya tiba baru menyesal, saat itu sudah terlambat. Kalian biasanya di dunia ini hanya melakukan kejahatan kecil dan menerima balasan karma ringan, misalnya secara diam-diam, berbicara buruk tentang orang lain, bermalas-malasan, mengambil keuntungan dari orang lain secara curang, semua ini adalah balasan karma kecil namun apabila semua ini bertumpuk menjadi banyak, akan menjadi balasan karma yang besar, saat balasan karmanya tiba, maka maaf saja, bisa membuat dirimu tumbnag. Maka, kalian harus bisa memahami kebenaran-kebenaran ini. Dari perilaku dan sikap diri sendiri, bisa diketahui mengapa seseorang di kehidupan ini bisa bernasib seperti ini. Karena dari semua yang kamu lakukan sekarang, kamu pun bisa tahu saat ini dan di masa depan nanti, seperti apa nasibmu, apakah kamu masih berani berbuat sembarangan? Karena dari penderitaan yang kamu rasakan di kehidupan ini, kamu sudah mengetahui karma buruk apa yang kamu ciptakan di kehidupan sebelumnya. Kalian para wanita sudah menderita seumur hidup, lalu siapa yang bisa kamu salahkan? Kamu sudah tahu mengapa dirimu merasakan begitu banyak penderitaan, karena di kehidupan sebelumnya, kebaikan yang kamu lakukan kurang banyak, makanya dirimu baru begitu banyak menderita. Jika kamu melahirkan seorang anak yang suka membangkang, itu adalah balasan karmamu, siapa yang kamu salahkan? Jika diumbarkan keluar malah mempermalukan diri sendiri. Maka, kalian harus mengubah diri, membina pikiran, melafalkan paritta, dan bertobat. Jika kamu mendapatkan seorang istri yang sangat jahat, atau mendapatkan suami yang seperti preman, sesungguhnya ini adalah balasan karma buruk dirimu sendiri, siapa yang bisa kamu salahkan? Karena kehidupanmu sebelumnya telah menciptakan jodohmu di kehidupan ini. Tidak peduli jodoh buruk maupun jodoh baik, semuanya kamu yang menciptakannya di kehidupan sebelumnya. Apakah kamu ingin menjadi lebih baik di kehidupan selanjutnya? Maka sekarang mulailah menekuni Dharma dan melafalkan paritta baik-baik, maka kamu akan tahu di kehidupan selanjutnya ke mana dirimu akan pergi dan balasan karma apa yang akan ada.
Banyak wanita yang sangat galak di kehidupan ini, seperti harimau, maka orang-orang menyebutnya sebagai “macan betina”. Mengapa? Karena dia tidak mau kalah, dia merasa dirinya tidak seharusnya begitu banyak menderita, karena dia tidak percaya dirinya sendiri di kehidupan sebelumnya telah melakukan banyak kejahatan, makanya di kehidupan ini, ketika jodoh buruk datang, dia pun terus memeranginya, bukannya tidak melunasi jodoh hubungan buruk dari kehidupan sebelumnya, malah menambah hubungan buruk yang baru, inilah mengapa dia menjadi semakin menderita di dunia ini, inilah mengapa setelah dia meninggal akan masuk ke jurang yang mendalam. Karena hutang karmanya di kehidupan sebelumnya belum terlunasi, lalu dia kembali menciptakan dosa buruk yang baru di kehidupan ini. Inilah yang Master menjelaskan kepada kalian, mengapa angka perceraian menjadi semakin tinggi sekarang ini. Apabila sampai sudah berganti abad, maka benar-benar tidak ada orang lagi yang menikah, tahukah mengapa? Karena orang-orang pada mulanya, jodoh di antara orang yang satu dengan yang lain sangat baik. Di dalam jodoh baik, seiring dengan berjalannya waktu, perubahan lingkungan dan manusia, dirimu dan dia pun memiliki jodoh buruk. Ketika jodoh buruk kalian datang, misalnya di kehidupan ini kamu menjahatinya, maka di kehidupan selanjutnya, kamu akan berubah menjadi istrinya, lalu dia balas menjahatimu. Masalahnya, saat kamu menjahatinya, dia tidak mau terima, dia merasa mengapa kamu menjahati saya? Karena dia tidak tahu bahwa di kehidupan sebelumnya, dia pernah menjahatimu. Kedua orang ini menjadi sering bertengkar, kembali menjalin hubungan buruk yang lebih mendalam, tunggu saat kehidupan selanjutnya tiba, maka keduanya pada awalnya saling mencintai, kemudian baru bertengkar. Mengapa pada awalnya sangat mencintai. Karena setiap orang sebelum menikah semuanya adalah jodoh baik, sedangkan jodoh baik ini juga kalian sendiri yang menciptakannya. Karena setiap orang sebelum menikah saling mencintai, memberikan hadiah, mentraktir makan, pada saat ini tunggu saat dia menerima balasan di kehidupan selanjutnya, masih tetap sama begitu baik sebelum menikah. Tunggu sampai setelah menikah, karena di kehidupan sebelumnya kamu berbuat jahat, dia juga berbuat jahat, keduanya saling menyakiti, maka di kehidupan ini kedua orang ini akan berlanjut saling menyakiti. Sedangkan orang yang saling menjahati di kehidupan ini, juga tidak memahami bahwa ada tiga kehidupan, dia merasa mengapa kamu menjahati saya, demi anak, demi keluarga ini saya sudah mengorbankan hidup saya, mengapa kamu bersikap begitu? Pada akhirnya karena benar-benar berpikiran buntu, ia pun membunuh suaminya, setelah membunuhnya, berarti kamu kembali menciptakan sebuah jodoh buruk. Di kehidupan selanjutnya, setelah kamu terlahir, setelah menikah tidak lama, suamimu setiap hari akan mulai memukul kamu, menjahatimu, memukul hingga hutang jodoh buruk ini sudah hampir terlunasi, si wanita akan mengatakan: Baiklah, kamu sudah menyiksa saya seumur hidup. Kemudian dia kembali membunuh suaminya ini. Sesungguhnya, ini adalah membayar hutang jodoh buruk di kehidupan sebelumnya. Inilah pembalasan dendam yang tiada akhirnya. Inilah mengapa pria dan wanita sekarang semakin sulit untuk menjalin relasi yang baik, semakin tidak bisa berteman. Coba kalian lihat, beberapa abad kemudian, yang pria menjadi pria sendiri, yang wanita menjadi wanita sendiri. Tidak ada cara lain, karena manusia sudah tidak bisa bersama lagi, karena jodoh baik di antara manusia yang satu dengan yang lain sudah hampir tidak ada lagi, hanya tinggal jodoh buruk. Lalu demikianlah terus terbalaskan di setiap generasi, tentu saja ini adalah siklus perputaran jodoh buruk, yang dibalaskan semakin banyak, mengerti? Sekarang, jika ingin mencari seorang pria yang baik pun sangat sulit; ingin mencari wanita yang baik juga sangat sulit. Wanita zaman sekarang sangatlah licik, maka dijuluki sebagai “siluman rubah”, sedangkan pria zaman sekarang jahatnya seperti serigala dan harimau, semuanya menjadi berhubungan dengan binatang, mana ada lagi kemanusiaan? Yang Master bahas dengan kalian semuanya adalah hal-hal dalam keseharian kita, semuanya adalah masalah yang tersimpan dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, banyak orang yang setelah menikah 2-3 kali kemudian tidak lagi berani menikah. Menikah apa lagi? Setiap hari bagai hidup bersama binatang. Ketamakan, kebencian, dan kebodohan, membuat mereka melakukan apapun semaunya, bukankah seperti hidup bersama binatang? Jika bertemu dengan seorang pria yang sangat genit, setiap hari ingin melakukan hal-hal tidak senonoh seperti itu, bukankah kamu sama seperti tersiksa bagai binatang? Jika bertemu dengan wanita, yang setiap hari suka bertengkar, mulutnya tidak pernah berhenti bicara, bukankah kamu bagaikan memperistri seekor burung, yang selamanya berkicau di sisimu? Banyak pria yang seringkali berkata: “Diamlah sejenak”, namun dia tetap tidak mau diam. Itu namanya jalinan jodoh buruk. Kebencian ini sampai kapan bisa berhenti? Sampai pada akhirnya siklus buruk ini membuat keluarga menjadi seperti bukan keluarga. Maka banyak orang yang bahkan tidak ingin punya anak, juga tidak ingin menikah, yang tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan semakin banyak. Setelah hidup bersama beberapa waktu, merasa tidak cocok, lalu kembali berpisah. Ini benar-benar masa pembalasan dendam yang tiada akhirnya, terus dibalaskan.
Master mengajarkan kalian untuk memahami suatu kapasitas pembalasan karma di tiga kehidupan. Membahas tentang kapasitas ini, bisa berubah saat kualitasnya berubah. Karma di tiga kehidupan sesungguhnya terus berputar berdasarkan suatu kapasitas. Apa yang dimaksud dengan kapasitas di sini? Misalnya di kehidupan sebelumnya, kebaikan kamu terhadap istrimu lebih besar daripada kejahatanmu, atau kejahatanmu lebih besar daripada kebaikanmu, ini yang dimaksud sebagai suatu kapasitas. Jika di kehidupan sebelumnya, kamu sangat baik terhadap suamimu, akan tetapi ada beberapa halangan karma buruk, maka yang kamu dapatkan pun adalah balasan yang baik, di kehidupan ini kamu akan menerima balasan yang baik; jika di kehidupan sebelumnya, perlakuan burukmu terhadap istri lebih besar daripada perlakukan baik, maka di kehidupan selanjutnya kamu akan diperlakukan buruk oleh istrimu, dengan kata lain, setelah kapasitas kejahatan melampaui kapasitas kebaikan, maka yang kamu terima adalah balasan karma buruk. Jika kapasitas baik yang kamu terima banyak, sedangkan kapasitas buruk yang kamu terima sedikit, maka sesungguhnya yang kamu terima adalah balasan karma baik. Misalnya, seperti suami istri bertengkar, setelah dipikir-pikir, dia pun cukup baik terhadap saya, walaupun dalam hal ini, yang dilakukannya sangat buruk, keluar mencari wanita lain, namun ya sudahlah, maafkan saja dia, seumur hidup ini, dia pun cukup baik terhadap saya. Itu karena dulu dia telah melakukan banyak perbuatan baik, dia baik terhadapmu, maka kamu pun mau memaafkannya. Jika seumur hidup ini, dari menikah sampai sekarang dia tidak pernah memperlakukanmu dengan baik, lalu kamu menemukan hal ini, maka selanjutnya, kamu akan mengusirnya keluar, kemudian kalian akan bercerai. Itu berarti kapasitas kejahatan lebih besar daripada kapasitas kebaikan. Yang Master bahas dengan kalian adalah ajaran Buddha Dharma di Alam Manusia, ini sangat luar biasa. Dalam belajar Dharma, kita membahas prinsip-prinsip kebenaran ini, tentu saja disukai banyak orang, karena mudah dimengerti.
