17. Menguasai Prinsip Kebenaran Buddha Dharma, Menyatu dengan Cahaya Buddha dan Segera Tersadarkan
Ingatlah, harus bisa menguasai prinsip kebenaran dari ajaran Buddha Dharma. Terhadap teori-teori dalam agama Buddha, harus bisa membuka pikiran dan memahaminya, harus mengerti prinsip kebenaran Buddha. Terhadap teori agama Buddha, ada sebagian orang mampu memahaminya, bisa menjelaskannya, namun tidak bisa melakukannya; ada juga sebagian orang yang bisa mempraktikkannya, namun tidak bisa menjelaskannya. Kalau sepertinya mengerti, namun juga sepertinya tidak, serta tidak bisa mengutarakannya, itu adalah orang yang tidak berjodoh. Ada banyak orang di dunia ini adalah orang-orang yang tidak berjodoh, benar-benar sangat kasihan, karena tidak bisa ditolong.
Master beritahu kalian, harus bisa menyatu dengan cahaya Buddha dan segera tersadarkan. Menyatu dengan cahaya Buddha dan segera tersadarkan, berarti terhubung dengan cahaya Buddha, yang tandanya kamu menerima sinar cahaya Buddha secara merata, lalu segera terbuka kesadarannya. Harus bisa meniadakan Aku dan meniadakan orang lain, dengan kata lain, seorang praktisi Buddhis harus bisa melupakan dirinya sendiri, tidak ada diriku sendiri, di dalam otakku juga tidak ada orang lain, semuanya sudah kosong. Ketika diri sendiri melakukan kesalahan, saat harga diri atau gengsi sangat kuat, harus teringat: “Apa yang saya punya? Siapa diri saya? Saya melakukan kesalahan, memangnya tidak seharusnya? Lalu apa yang masih perlu saya tegaskan? Masih mau gengsi seperti apa? Saya pada dasarnya sudah memiliki banyak “noda kotoran” baru datang menekuni Dharma, saya bukan orang suci. Kalau bukan orang suci, maka lumrah jika melakukan kesalahan.” Seorang praktisi Buddhis, harus bisa melupakan diri sendiri, saya adalah seorang praktisi Buddhis, saya adalah Bodhisattva, ini dinamakan tiada Aku dan tiada orang-orang. Dengan demikian, sampai menjadi Bodhisattva – karena kamu tidak memiliki keakuan, tingkat kesadaran spiritualmu baru bisa meningkat, kamu baru bisa mencapai kesadaran spiritual setingkat Bodhisattva. Kemudian karaktermu yang sebenarnya tidak boleh berubah, dengan kata lain, sifat dasarmu tidak boleh berubah. Maka banyak orang mengatakan: “Kamu lupa dasar diri”, apa yang dimaksud dengan “lupa dasar diri”? Berarti hati nurani kamu sudah dimakan oleh anjing, sifat dasarmu yang benar-benar baik hati sudah tidak ada, membual, berbohong, menipu, mencuri … semuanya kamu lakukan, berarti kamu adalah orang yang tidak memiliki sifat dasar.
Jangan ada benar salah di hati atau dalam pikiran. Ini adalah hal yang sangat filosofis, apa maksudnya? Tidak boleh ada benar dan tidak benar dalam hati atau pikiran diri sendiri. Apakah kalian bisa melakukannya? Tidak ada benar salah, berarti tiada satu masalah pun yang benar, atau tidak benar, dengan begitu, kamu baru bisa melupakan diri sendiri. Karena kamu merasa dalam masalah ini, kamu benar, maka kamu pasti akan masuk ke dalam “ketamakan, kebencian, kebodohan” ketiga racun ini, kamu selamanya tidak akan berpendapat kalau dirimu sendiri salah. Maka Master sering menasihati murid-murid, terhadap masalah apapun, kalian jangan pertama-tama menggunakan pikiran sendiri untuk mengukur “saya benar dan tidak benar”, karena tidak ada yang benar maupun tidak benar. “Dalam masalah ini, saya ingin begini dan begitu…” walau sudah menjelaskan panjang lebar, tidak ada gunanya. Diri sendiri melakukan kesalahan, “Aduh, dia yang salah, bagaimana dia mengkritik saya…” begitu menjelaskan, kamu kembali salah lagi, ini namanya kamu sudah salah tambah salah. Jika ada dua orang yang merasa tidak senang, kedua orang ini datang dan mengadu ke hadapan Master. Salah satunya berkata, “Master, saya sudah salah”, dan salah seorang lagi berkata, “Master, dia yang salah, saya sama sekali tidak pernah mengatakan apapun tentangnya”, menurutmu, Master akan mengatakan siapa yang tidak benar? Apakah masih perlu saya katakan? Kalian pasti sama seperti Master, mengatakan kalau orang yang tidak bicara dan mengakui kesalahannya itu benar, sedangkan orang yang satu lagi pasti salah, walau sudah jelas masuk akal, juga tetap pasti dia yang salah.
Seorang praktisi Buddhis tidak boleh memiliki benar salah dalam pikirannya, karena hanya ada karma. Oleh karena itu, orang-orang yang tidak mengerti menekuni Dharma sama sekali tidak bisa memahami perkataaan yang penuh filosofi ini, “Jika tidak ada benar salah, kalau begitu kita boleh mengikuti melakukan hal-hal buruk? Meski melihat orang jahat sekalipun, kita juga tidak perlu menghalanginya?” Itu adalah suatu konsep pemahaman yang lain. Karena kamu hidup di dunia ini, karena kamu adalah manusia, maka kamu baru bisa memiliki benar dan salah; sedangkan kita meneladani Buddha dan Bodhisattva, maka kita baru berpendapat kalau di dunia ini tidak ada benar dan salah, hanya ada karma.
Harus menjalankan sila. Harus sungguh-sungguh menjalankan sila, dalam masalah apapun, kita harus sepenuh hati menjalankan sila. Susah, rasanya sulit, sangat suka makan kue, walau sudah menjadi gemuk seperti itu, begitu melihat kue masih ingin makan – harus menahan diri untuk tidak makan. Sudah sampai usia untuk menikah, terus-menerus tidak menikah, melihat pria atau wanita, “Aduh, benar-benar ingin berpacaran dengannya.” – harus menahan diri. Bagaimana saya mengajarkan kalian anak-anak muda ini cara mengendalikan diri? Begitu muncul pemikiran dalam diri kalian, saya segera memutarnya kembali. Bukankah kamu mengatakan kalau kamu akan menaati sila? Bukankah kamu mengatakan kalau seumur hidupmu ingin diberikan kepada Bodhisattva? Asalkan ada sedikit saja, saya segera memutar kamu kembali, apapun tidak boleh ada. Kalau begitu teman se-Dharma yang lain boleh? Datang salah satu pendengar, anak laki-laki, saya baru saja melihatnya di luar. Seorang anak laki-laki masuk, kelihatanya cukup baik, rupanya juga cukup tampan, masih ada 3-4 orang yang berbicara mengelilinginya. Menurutmu, apakah kalian adalah praktisi Buddhis? Kalian anak-anak perempuan ini bukankah akan dipandang remeh oleh orang lain? Tidak boleh lebih dihargai sedikit? Terhadap murid-murid yang lain saya tidak akan berbicara seperti ini, akan tetapi terhadap kalian murid pengikut, saya harus berbicara sedalam ini.
Kalian harus berdisiplin sendiri! Mengetahui hal-hal yang tidak boleh dilakukan, jangan dilakukan; perkataan yang tidak boleh diucapkan, jangan diucapkan. Apabila kamu tidak bisa mengendalikan diri sendiri, maka kamu jangan mengikuti dunia alam, jangan melawan kehendak Surgawi, karena kamu pasti tidak akan menang. Kamu hanya dengan meneladani orang suci, kamu baru bisa melampauinya, kamu baru bisa meninggalkannya. Contoh, setelah kereta api berjalan kemari, walaupun dirimu menggunakan mobil tank yang paling bagus sekalipun, menghadang melintang di depannya, apakah kamu bisa menang melawannya? Dia bergerak dengan kecepatan 180km/jam, sedangkan kamu 60 km/jam. Begitu tertabrak, mobil tank pun akan terbalik, karena dia adalah kereta api, di belakangnya masih ada mesin penggerak. Lalu apa cara satu-satunya? Saat kereta api datang, kendarai mobil dan tinggalkan rel kereta, meninggalkan rel kereta api ini. Dengan kata lain, kita jangan menjalankan hidup seperti manusia biasa di Alam Manusia ini, melainkan kita harus bisa melampaui kesadaran spiritual ini. Kita sudah mencapai tingkat kesadaran spiritual Bodhisattva, kita tidak lagi berseteru dengan manusia, maka kamu baru benar-benar bisa meninggalkan kerisauan di Alam Manusia. Siapa yang Master kritik, dialah yang Master berkati, berbicara tentang siapa, dialah yang diberkati, kalau saya tidak sering membicarakannya, maka dia tidak mendapatkan berkat kekuatan.
Harus sepenuh hati menjalankan sila, dalam segala hal, jalankan sila dengan sepenuh hati. Misalnya, dalam minum minuman beralkohol, kelihatannya saya tidak minum, saya mengikat kedua tangan, tidak ada gunanya, karena dalam hati masih ingin minum. Harus berpikir dalam hati, “Saya sudah tidak boleh minum lagi”, itu baru menjalankan sila yang sesungguhnya. Dulu ada seorang anak kecil yang suka menggigit kuku, ayah ibunya tahu kalau di dalam kuku jari tersimpan kuman bakteri, maka mereka mengoleskan cabe di kuku jarinya, namun anak itu tetap saja makan, tidak takut pedas. Saat tangannya diikat, maka dia akan menghalalkan segala cara untuk melepaskan tangannya dan memasukkannya ke dalam mulut, ini bukan namanya menjalankan sila dari hati. Maksud dari menjalankan sila dari hati, adalah dengan sepenuh hati menghentikan hal ini, dengan kata lain, tidak perlu kamu menghentikan diri saya, namun diri saya sendiri tidak akan melakukan hal-hal itu.
Harus memiliki tingkat kesadaran spiritual, maka baru bisa berhasil bertemu dengan jodoh baik. Kamu sudah memiliki kesadaran spiritual ini, maka kamu bisa mencapai jodoh baik ini. Harus bisa terbuka kesadaran, baru bisa memahami dan meningkat kesadaran spiritual. Apa maksudnya? Setelah dirimu tersadarkan, kamu baru bisa mengerti, apa yang dimaksud dengan mulia, apa yang disebut dengan rendah atau vulgar. Kita menekuni Dharma, jika kesadaran spiritualmu bisa mencapai tingkat kesadaran spiritual Bodhisattva, kamu baru bisa melihat betapa kotornya manusia. Sama-sama berada di Alam Manusia, bagaimana kamu bisa melihat betapa kotornya umat manusia? Hanya saat sudah mencapai tingkat kesadaran spiritual Bodhisattva, kamu baru bisa melihat betapa kotornya manusia: saling menipu dan menjahati, setiap hari saling bersengketa, mengadu domba … ingatlah, harus bisa melampaui Alam Manusia, kamu baru bisa melihat Alam Manusia dengan jelas. Oleh karena itu, segala kebaikan dan keburukan di dunia ini tidak boleh mempengaruhi pikiranmu. Di dunia ini, orang lain melakukan kejahatan, juga tidak bisa mempengaruhi kamu; orang lain melakukan banyak perbuatan baik, lalu menjadi sombong, suka membual, menjadi teladan palsu, semuanya tidak ada hubungannya denganmu, tidak boleh mempengaruhi pikiranmu. Hari ini tidak peduli siapapun yang sudah melakukannya, tidak boleh mempengaruhi pikiranmu. Saya mengerjakan semuanya dengan jujur dan benar, saya tidak pusing memikirkan orang lain. Saya lebih baik tidak mengerjakan sama sekali, atau mengerjakannya dengan baik-baik. Maka, harus memahami, bahwa segala kebaikan dan keburukan, jangan sampai mempengaruhi pikiran diri sendiri.
Kita harus belajar kebijaksanaan yang sempurna. Apakah yang dimaksud dengan “sempurna”? Di antara kalian, bahkan ada orang yang tidak mengetahui apa itu kebijaksanaan, bagaimana bisa sempurna? Kalian beritahu saya, apakah yang dimaksud dengan mempelajari kebijaksanaan? Belajar kebijaksanaan, pertama-tama harus mempelajari pengetahuan. Pengetahuan apa? Master setiap hari mengadakan kelas kepada kalian adalah membicarakan pengetahuan ini – yakni pengetahuan tentang Buddha Dharma. Harus mengerti, harus mempelajari pengetahuan terlebih dahulu, kamu baru bisa memahaminya. Karena jika kamu tidak memiliki pengetahuan tentang teori Buddhis, maka kamu sama sekali tidak akan bisa memahami agama Buddha. Yang kedua, harus mempraktikkannya. Setelah kita mempelajari ilmu pengetahuan, setelah kita memahami ajaran Buddha Dharma, kita harus mempraktikkannya, dengan kata lain, harus dijalankan. Kemudian, setelah ada tindakan, ada pemikiran, setelah keduanya baik pemahaman maupun tindakan semuanya sudah benar, kamu baru bisa mengubahnya menjadi kebijaksanaan. Sama seperti menjadi murid Master, pertama-tama kamu harus mengisi formulir, kemudian perilakumu harus sesuai dengan ketentuan, lalu kamu baru bisa memenuhi standar untuk menjadi murid Master. Tidaklah mudah untuk memiliki kebijaksanaan. Seseorang yang memahami prinsip kebenaran dalam pikirannya, baru bisa memiliki kebijaksanaan; seseorang yang memiliki sifat dasar di hatinya, baru bisa memiliki kebijaksanaan.
Ada berapa banyak hal yang membuat orang-orang bersedih, terhalangi hatinya, inilah bermacam-macam penderitaan di Alam Manusia. Ada banyak orang ketika menghadapi masalah, merasa sakit hati, terlalu banyak halangan dalam pikirannya, kemudian juga merasa ketakutan dan khawatir, di saat yang sama juga memiliki halangan batin, semua ini adalah kelemahan orang-orang di dunia ini. Kita hidup di dunia ini, tahukah berapa banyak penderitaan yang disebabkan oleh dirimu sendiri? Oleh karena itu Guan Shi Yin Pu Sa dalam Sutra Hati – {Xin Jing} mengatakan, “tiada halangan dalam pikiran”, meminta kalian jangan memiliki halangan batin atau kekhawatiran. Kalian sekarang setiap hari memiliki halangan dalam pikiran, seperti mengkhawatirkan anak saya, memikirkan pacar saya yang berada di jauh sana, khawatir apakah tubuh putra saya bisa menjadi lebih baik, bisa lebih bertenaga… semua ini adalah halangan (batin). Memangnya dunia ini ada apa? Memangnya siapa kamu? Sebelum dilahirkan, siapakah dirimu? Setelah dilahirkan, siapakah lagi dirimu? Nama seseorang bisa diubah sesuka hati. Tunggu sampai ajal menanti, siapa pula dirimu? Kamu pun tidak tahu akan pergi ke mana? Di dalam kehidupan sehari-hari, saat orang lain mengkritik dirimu, kamu tidak bisa menerimanya, “Wah ini keterlaluan, sudah hilang gengsi diri saya”, oleh karena itu setelah menekuni Ajaran Buddha Dharma, kita harus bisa menghilangkan halangan-halangan ini.
Penderitaan di dunia ini harus diuraikan dengan kebijaksanaan dari jasa kebajikan yang sempurna. Karena ada banyak penderitaan di dunia ini, oleh karena itu harus diatasi dengan kebijaksanaan. Dengan kata lain, berpikiran terbuka, berpikiran jernih dan mampu memahami semuanya, kesadaran kita harus terbuka. Karena untuk bisa berpikiran terbuka juga mengandalkan kebijaksanaan yang sempurna. Ada banyak orang yang karena tidak menekuni Dharma, maka seumur hidup tidak bisa terbuka pikirannya, masih terikat dan tidak bisa terbebaskan dari kecemburuan duniawi. Apabila seseorang sampai saat ini masih iri terhadap orang lain, berarti dia masih belum bisa membebaskan dirinya sendiri. Oleh karena itu, saya pernah mengatakan hal ini pada banyak pemuda pemudi, ingatlah selalu: jangan pernah iri terhadap orang lain, kita hanya perlu fokus bekerja keras tanpa perlu mengharapkan hasil yang akan dituai. Terhadap pahala kebajikan yang dimiliki orang lain, atau kenyamanan yang dimilikinya, itu adalah urusan mereka, kita tidak boleh iri terhadap mereka. Karena perasaan iri hati (kecemburuan) sesungguhnya adalah suatu bakteri (penyakit), yang bisa membuatmu masuk angin, atau terjangkit flu, maupun membuatmu sakit keras. Ada banyak penyakit serius yang berawal dari masuk angin dan influenza. Seperti seseorang yang memang kondisi tubuhnya sangat lemah, ditambah dengan infeksi virus dan bakteri, maka akan mengundang serangan dari bakteri-bakteri lain, yang akan berkembang menjadi penyakit serius.
Kita harus bisa terbebaskan dari perselisihan. Dengan kata lain, kita harus bisa memahami dan menjauhi perselisihan di antara kita. Bagaimana cara menguraikan perselisihan? Yakni dengan menyesuaikan jodoh, dengan menjalani hidup ini sesuai jodoh. Sebagai manusia, kita harus bisa menyesuaikan jodoh: jika hari ini ada berarti ada, jika besok sudah tidak ada, berarti ya tidak ada. Sama halnya ketika kita membangkitkan kesadaran spiritual orang-orang: jika hari ini kita bisa menolongnya, ya kita tolong, jika tidak bisa tertolong, ya sudah. Harus menyatu dengan cahaya dan segera tersadarkan, dengan kata lain, kita harus sering menerima cahaya Buddha dari Bodhisattva, jika selalu diterangi dengan cahaya Buddha, maka kamu akan menjadi sangat mudah berbaur dan bisa segera terbuka kesadaran.
