8. Membangkitkan Kebijaksanaan Dasar, Menghilangkan Ketidaktahuan dan Kerisauan 开启根本智,破无明烦恼

8. Membangkitkan Kebijaksanaan Dasar, Menghilangkan Ketidaktahuan dan Kerisauan

Membina pikiran dan mempraktikkan Dharma sungguh tidak mudah. Bagaimana cara membina pikiran? Bagaimana cara memperbaiki perilaku diri sendiri? Membina pikiran, berarti memperbaiki kekurangan pada jiwa (pikiran) kita. Membina perilaku, berarti memperbaiki perilaku diri sendiri. Banyak orang di antara kita yang memiliki perilaku yang sangat jahat, juga banyak orang yang memikirkan hal-hal yang sangat kotor di dalam pikiran. Lalu bagaimana cara membina atau memperbaikinya? Pertama-tama, untuk membina pikiran, kita harus memiliki keyakinan, jika seseorang yang membina pikiran sama sekali tidak memiliki keyakinan, maka pembinaan ini tidak akan ada hasilnya. Kamu setiap hari melafalkan paritta, setiap hari memohon kepada Guan Shi Yin Pu Sa, jika kamu masih berpikir: Apakah saya mampu? Apakah akan manjur? Apakah saya akan menghadapi halangan iblis? Apakah saya akan kenapa-kenapa? Master beri tahu kalian, jika begini, maka tidak akan bisa membina diri dengan baik. Banyak orang yang sudah membina diri sampai saat ini masih tidak manjur justru disebabkan oleh ini. Sudah tidak ada yang bisa diragukan lagi. Seseorang yang tidak bisa mengendalikan nafsu keinginan sendiri, juga tidak bisa mengendalikan pemikiran-pemikiran sendiri, sangat sederhana, berarti orang ini tidak membina diri.

Apa itu pembinaan pikiran? Membina pikiran berarti menggali hati diri sendiri secara mendalam untuk menemukan sifat dasar yang paling semula, kemudian menyeka dan membersihkan dengan cermat. Kalian harus memahami satu kebenaran: baik dalam bersikap dan berperilaku maupun dalam mengerjakan sesuatu hal, harus didasari dengan satu kalimat yang sering kita katakan, yakni “mengerjakan segala hal berdasarkan hati nurani”. Lalu, di manakah hati nuranimu? Mengapa ada sebagian orang yang berhati nurani jahat, dan ada juga sebagian orang yang berhati nurani sangat baik? Ini karena hati nuranimu, kesadaranmu, dan sifat dasarmu yang baik sudah dirusakkan oleh kekotoran duniawi. Sifat dasarmu sekarang sudah bukan sifat dasar dirimu yang semula.

Hari ini saya akan membahas tentang “Kebijaksanaan dasar”. Seseorang harus menggali kebijaksanaan dari hal-hal yang mendasar, maka dinamakan kebijaksanaan dasar. Kebijaksanaan dasar adalah kebijaksanaan prajna. Karena hanya dirimu sendiri yang tahu, apakah sudah sepenuhnya menggali kebijaksanaan diri yang paling dalam? Itu adalah kebijaksanaan Bodhisattva, yang bisa membuatmu memutuskan ketidaktahuan dan kerisauan. Apakah kerisauan itu? Bodhisattva mengatakan, “kerisauan adalah bodhi – kebijaksanaan”. Hanya di saat kamu sudah menggunakan kebijaksanaan untuk menguraikan kerisauan, maka kerisauan ini baru bisa menjadi bodhi. Ada banyak orang yang pandai berbicara, dia bisa menjelaskan segala hal dan fenomena di dunia ini, pandai berbicara dalam hal ini dan hal itu, lalu apakah orang ini memiliki kebijaksanaan prajna? Tidak demikian. Ini dinamakan “kebijaksanaan yang diperoleh sesudahnya”. Dengan kata lain, hal-hal ini memang sudah ada, jadi dia baru bisa mengetahui, maka kebijaksanaan ini disebut kebijaksanaan sesudahnya. Kebijaksanaan sesudahnya juga tidak mudah didapatkan. Seperti yang tertulis dalam kisah {Perang Tiga Negara}, Zhu Ge Liang bisa mengetahui hal-hal yang belum terjadi, sedangkan Cao Cao baru bisa menyadarinya setelah kejadian, ini adalah kebijaksanaan yang tidak sama. Yang satu mampu memprediksi, sedangkan yang satu lagi baru bisa menyadari mendekati waktunya. Kebijaksanaan yang diperoleh sesudahnya terlahir dari akar kebijaksanaan, yakni kebijaksanaan yang muncul dari jiwa awal yang baik dan sifat dasar yang paling mendasar dan paling semula.

Sesungguhnya, mengejar kebijaksanaan prajna merupakan suatu bentuk perwujudan dari kebijaksanaan yang sangat tinggi, selain itu setelah memiliki kebijaksanaan prajna, kamu bisa melakukan segala hal, kamu bisa menyelesaikan segala permasalahan. Kata “kebijaksanaan” ini, sesungguhnya adalah ketidaktahuan. Karena yang dikejarnya adalah suatu kebijaksanaan duniawi, yang dinikmati dan diperolehnya adalah kebijaksanaan di Alam Manusia. Karena kebijaksanaan duniawi terbatas, hanya kebijaksanaan yang terlahir dari sifat dasar seseorang baru tidak memiliki batas. Kebijaksanaan duniawi adalah suatu kebijaksaaan yang dikejar orang-orang, banyak orang ingin menjadi pintar, ingin menjadi bijaksana, mereka mengira kebijaksanaan dan kepintaran ini sangat penting bagi dirinya. Apakah kepintaran itu? Apakah kebijaksanaan itu? Master sering mengatakan: “Orang yang cerdas tidak berarti memiliki kebijaksanaan, sedangkan di dalam kebijaksanaan pasti terkandung kecerdasan”. Akan tetapi kebijaksanaan ini masih memiliki tingkatan, dia bukan kesadaran spiritual yang tertinggi, sedangkan kebijaksanaan yang sesungguhnya disebut sebagai kebijaksanaan prajna. Kebijaksanaan duniawi hanyalah kebijaksanaan orang biasa, bukan kebijaksanaan yang tertinggi.

Membina pikiran sama seperti mengejar cahaya mentari, asalkan mengikuti arah yang benar mengejar cahaya mentari, maka seumur hidup ini kamu tidak akan lagi melihat bayangan. Karena yang kamu kejar adalah cahaya mentari, itu adalah cahaya terang, adalah jalan kebenaran. Jika yang kamu kejar adalah bayangan gelap, maka selamanya kamu tidak akan melihat cahaya mentari. Ketika seseorang salah menjalani pembinaan pikiran, menyimpang dalam menekuni dan mempraktikkan Dharma, maka dia selamanya tidak akan bisa melihat hal-hal yang benar dan positif.

Kalian harus sering melihat pikiran sendiri secara mendalam. Kalian harus bisa melihat hati kalian sendiri, yang sesungguhnya adalah melihat cara berpikir diri sendiri. Karena kamu memikirkan, maka baru bisa muncul pemikiran. Contoh, hari ini saya ingin melakukan sesuatu hal, coba kamu lihat, apakah yang kamu pikirkan benar tidak, yang kamu lakukan benar tidak? “Saya sangat membenci orang ini”, maka kamu harus melihat diri sendiri, mengapa membencinya? Mengapa saya bersikap buruk kepadanya? Ini sama dengan menggunakan hati nurani untuk menyetarakannya. Melihat hati sendiri secara mendalam, sama dengan harus melihat sifat dasar dari hatimu, lalu menyadari bahwa segala keajaiban akan terjadi pada dirimu. Jika hanya melihat hatimu dengan biasa, maka tidak akan terjadi keajaiban, namun melihat ke sisi yang dalam, maka akan terjadi keajaiban. Contoh: ketika bertengkar, dia sangat membencinya. Jika tidak melihat hatinya secara mendalam, dan hanya melihat hatinya yang sekarang: “Orang ini menipu uang saya, saya sangat marah, saya sangat membencinya, besok saya akan menuntut dia. Berani-beraninya dia menipu uang saya, berani-beraninya dia menyakiti saya”. Namun jika kamu melihat hatimu lebih mendalam, setelah melihat sifat dasar diri sendiri, kamu akan berpikir: “Sudahlah, hanya ribuan Yuan saja, orang ini juga kasihan sekali. Hari ini dia menipu saya, maka dia akan mendapatkan balasannya di masa mendatang. Selain itu, karena keluarganya sangat miskin, maka dia baru bisa menipu orang. Bagaimana pun, saya masih bisa hidup walau ditipu olehnya, namun jika dia terus begini, maka pada suatu hari nanti pasti akan ditangkap polisi. Sudahlah, orang seperti ini juga cukup kasihan, anggap saja kehilangan uang itu sudah terhindari dari petaka.” Bukankah berarti kamu sudah melihat sifat dasarmu? Bukankah keajaiban sudah muncul? Kamu bisa memaafkan seseorang yang bersikap jahat terhadapmu, Kamu bisa memaafkan orang yang menipu dan menyakitimu, inilah yang disebut sebagai keajaiban. Jika sering melihat hal-hal yang tersimpan di lubuk hatimu yang terdalam, maka kamu akan mengerti, kamu pasti bisa memaafkan orang ini.

Kita harus melakukan segala hal didasari dengan hati nurani. Sering mengintip lubuk hati sendiri, maka kamu akan menyadari, banyak keajaiban yang akan terjadi. Sudah jelas dia bersikap jahat terhadap saya, namun saya tetap baik kepadanya. Dia begitu membenci saya, namun saya tetap baik terhadapnya. Seringkali, saat dompet istri dicuri orang lain, jika suaminya adalah orang yang kikir, dia akan terus menggerutu tiada habis. Namun jika kamu menggunakan sifat dasar dan hati nurani dalam memikirkan hal ini: “Uang istri saya dicuri orang lain, dia pasti lebih sedih daripada saya, mana mungkin dia tidak bersedih? Pada saat seperti itu, alangkah baiknya jika saya bisa menghiburnya”. Ini yang seharusnya dilakukan dalam keseharian kita. Jika kamu ingin membuat seseorang sungguh-sungguh baik terhadap kamu, maka kamu harus benar-benar tulus memperlakukan orang lain dengan baik. Mengapa kamu harus membuat orang yang sudah melakukan kesalahan merasa lebih sedih? Seorang praktisi Buddhis jangan membuat orang lain bersedih. Jika membuat orang yang sudah menderita semakin menderita, maka ini bukanlah Bodhisattva.

Hari ini saya memiliki janji temu dengan sepasang suami istri, suami setiap hari memarahi istrinya. Master mengatakan, putrinya sangat kasihan, lalu putrinya menangis. Master memberi tahu suaminya itu, sungguh tidak mudah bagi seorang wanita menikah denganmu. Mengapa bisa muncul perselisihan seperti ini dalam keluarga mereka? Mereka sudah tertimpa kesialan selama dua tahun. Penyebabnya, karena kecelakaan mobil, lalu mereka pergi periksa ke rumah sakit, kemudian dokter mengatakan bisa membantu dia mencari orang lain untuk menuntutnya, bisa meminta ganti rugi sekian besar. Karena satu pemikiran tamak pada dirinya, membuat istrinya hampir menderita depresi. Sekarang pengacara berkata kepadanya, “Baik, karena kamu sekarang sudah menderita depresi, maka bisa minta ganti rugi sekaligus.” Manusia tidak boleh tamak. Master memberi tahu suami itu, punya uang atau tidak, kamu sendiri yang tahu. Istrimu adalah seorang dokter spesialis, dalam waktu dua tahun berapa banyak uang bisa didapatkan? Maka walaupun pada akhirnya kamu memenangkan perkara ini, namun semua uangmu juga akan habis untuk biaya pengadilan. Begitu Master berkata begitu, mereka segera mengerti. Master bertanya, jika kalian tidak menuntut, apakah kalian akan merugi? Mereka berkata, tidak akan ada kerugian apapun. Maka Master meminta mereka, mulai dari hari ini, jangan menuntut lagi. Mulai hari ini sudah terbebaskan, tidak ada lagi kerisauan. Begitulah cara Master menolong orang. Ketika pasangan suami istri itu pergi, mereka merasa senang sekali. Karena saat mereka mengajukan tuntutan hukum, mereka perlu melakukan pemeriksanaan kesehatan, dokter terus-menerus meminta mereka membicarakan proses permasalahan sampai membuat mereka marah, sisi kejiwaan mereka sudah tidak bisa menerima lagi.

Master beri tahu kalian, harus bisa melihat ke depan, hanya dengan menyibak kabut awan, baru bisa melihat langit yang cerah. Ada banyak orang yang terselubungi oleh “kabut”, selamanya tidak bisa melihat langit yang cerah. Mempraktikkan Dharma dalam kehidupan sehari-hari, selamanya harus bisa menyibak kabut yang menyesatkan. Mulut seorang wanita jangan terus-menerus berbicara, jika terlalu banyak berbicara, bagaikan sebuah kapal yang bocor. Orang lain yang berteman denganmu, bagai menaiki kapal, melihat air terus-menerus memasuki kapal, maka kapal itu cepat atau lambat akan tenggelam, dan orang-orang akan melarikan diri. Oleh karena itu, selamanya tidak akan ada orang yang mau berteman baik dengan orang yang cerewet. Ini berlaku bagi pria maupun wanita, jadi jangan banyak berbicara, jika ada waktu, lebih banyak melafalkan paritta. Yang Master bicarakan adalah filsafat yang sangat mendalam, semoga kalian mendengarkannya dengan baik.

Kalian semua pernah mendengar “konsentrasi Zen”. Konsentrasi Zen adalah suatu cara pembinaan diri tingkat tinggi yang sangat sulit. Dalam Ajaran Buddha Dharma dikatakan, konsentrasi Zen disebut sebagai awan terang samadhi utama. Apakah yang dimaksud dengan awan terang? Adalah lapisan awan yang terang dan bersinar, sesungguhnya ini menandakan tingkat pembinaan seseorang yang sudah mencapai Alam Surga. Bersemedi bisa membuat jiwa diri sendiri sampai ke Alam Surga, namun Alam Surga di sini masih belum keluar dari tiga alam. Samadhi adalah Bahasa Sansekerta, yang juga disebut sebagai penerimaan yang benar. Yakni segala hal yang kamu terima dan tanggung di dunia ini harus didasari dengan pemikiran yang benar, konsep pemikiran yang benar, dan cara yang benar, ini yang disebut sebagai samadhi. Konsentrasi Zen adalah suatu cara dalam pembinaan diri, namun jika kamu tidak memiliki kekuatan spiritual tertentu, maka akan sangat mudah terjadi penyimpangan. Ketika kamu sedang bersemedi, ketika kamu memasuki ketenangan Zen, kamu pun tidak tahu di mana kamu harus memusatkan pikiran. Bagi wanita, memusatkan pikiran di titik “tan zhong”, bagi pria memusatkan pikiran di titik “dan tian”. Titik tan zhong berada di tengah-tengah dada, ketika bersemedi, harus memusatkan pikiran di titik ini. Sedangkan titik dan tian berada tiga jari di bawah pusar. Master tidak menyarankan kalian untuk belajar bersemedi (konsentrasi Zen), namun kalian harus mengerti dan memahaminya. Tingkat konsentrasi Zen yang tertinggi dinamakan “satu hati yang terpusat”. Banyak orang yang duduk bersemedi di sana, namun pikiran lebih kacau daripada biasanya. Orang-orang yang suka tidur atau bermalas-malasan, bukanlah seorang praktisi yang baik. Seorang praktisi yang sesungguhnya tidak boleh tidur lebih dari 8 jam, biksu di kuil sebagian besar tidak boleh tidur lebih dari 6 jam. Kebijaksanaan seseorang lambat laun akan terkikis habis di dalam tidur. Orang yang suka tidur (tidak mau bangun) tidak memiliki kebijaksanaan. Orang yang gemuk juga kurang memiliki kebijaksanaan. “Kecerdikan” duniawi itu tidak ada gunanya. Samadhi adalah titik penyambung yang penting antara pembinaan pikiran dengan pembinaan perilaku.

Dalam menekuni dan mempraktikkan Dharma kita harus menaati sila, karena sila bisa memutuskan kerisauan seseorang. Karena lebih banyak mendengar dan melihat, akan menimbulkan lebih banyak kerisauan. Jika tidak mendengar, tidak melihat, tidak berbicara, maka tidak ada lagi kerisauan. Mempraktikkan Dharma dan membina pikiran harus disesuaikan dengan keadaan masing-masing. Pintu Dharma mana yang cocok dengan dirimu, maka itulah Pintu Dharma yang harus kamu bina baik-baik. Ini adalah hal yang ingin Master bahas dengan kalian selanjutnya. Pertama, semua Pintu Dharma setara. 84.000 Pintu Dharma semua setara, ini yang Master katakan kepada kalian, sesungguhnya adalah Bodhisattva yang mengatakan. Yang kedua, cara yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama, tidak ada tinggi dan rendah. 84.000 Pintu Dharma semuanya bertujuan untuk naik ke Alam Surga, untuk mencapai pencerahan sempurna, hanya saja, Pintu Dharma mana yang lebih cepat? Pintu Dharma mana yang cocok bagimu? Pintu Dharma mana yang bisa menolongmu, Pintu Dharma mana yang bisa segera digunakan? Pintu Dharma mana yang tidak bisa membina diri ke atas? Kamu kira setiap Pintu Dharma bisa membina diri ke Alam Surga? Kamu mengira setiap dokter bisa menyembuhkan penyakit? Jangan membanding-bandingkan Pintu Dharma yang satu dengan yang lain di antara 84 ribu Pintu Dharma ini. Seperti pemilihan kecantikan, setiap orang memiliki kelebihannya masing-masing, ada yang manis, ada yang fleksibel, ada yang cantik, selain itu poin kecantikan yang dinilai juga tidak sama. Penilaian kecantikan akan berubah mengikuti perubahan zaman, seperti penampakan luar sebuah mobil, terus-menerus berubah. 

Bagaimana kita bisa tahu, Pintu Dharma mana yang cocok bagi diri sendiri? Pertama, nyaman digunakan. Kedua, bisa memiliki hasil. Ketiga, bisa dipergunakan dengan leluasa. Keempat, bisa digunakan dengan lancar. Kalau begitu, kamu bisa fokus menekuninya, ini adalah Pintu Dharma yang perlu kamu pelajari. Sekarang ada banyak pendengar, jika pada suatu hari tidak melafalkan paritta, maka mereka akan merasa seperti kurang sesuatu, akan merasa tidak nyaman. Itu karena mereka sudah terbiasa melafalkan paritta, merasa leluasa dan ada hasil, yakni: keluarga sudah harmonis, karir sudah lancar, anak-anak sudah menurut. 

Selanjutnya, kita akan membahas tentang menyadarkan kesadaran spiritual semua makhluk. Apa yang dimaksud dengan membangkitkan kesadaran spiritual semua makhluk? Setelah dirimu membina pikiran, bagaimana kamu menyadarkan orang lain, bagaimana kamu membuat orang-orang tersadarkan secara spiritual. Membangkitkan kesadaran spiritual orang lain adalah misi menekuni Aliran Mahayana, ini adalah berdana dengan Dharma. Sangatlah penting untuk membangkitkan kesadaran spiritual para makhluk. Seseorang harus bisa membangkitkan kesadaran spiritual para makhluk hidup. Membangkitkan kesadaran spiritual para makhluk hidup itu ada syaratnya: pertama, orang yang membangkitkan kesadaran spiritual para makhluk hidup harus memutuskan kerisauan. Kemudian, menghilangkan ketamakan. Yang ketiga, memiliki tekad welas asih. Yang keempat, mencapai penerangan sempurna.

Baru-baru ini, ada seorang pendengar yang memberi tahu Master, dia bermimpi dunia kiamat, sama seperti yang ada di dalam film. Ada angin puting beliung, gunung longsor dan tanah yang retak, semua orang ditelan ke dalam, tidak ada satupun yang selamat. Dia juga terjerumus masuk ke dalam, setelah masuk, dia masih teringat dengan Master, lalu dia menyebut “Master Lu”, lalu Master Lu muncul dan berbicara banyak kepadanya, kemudian menolongnya. Sewaktu bangun, dia masih ingat dengan jelas apa yang Master katakan kepadanya. Namun sewaktu Master bertanya kepadanya, dia sudah lupa. Pada zaman periode akhir Dharma, saat banyak bencana sering terjadi, maka memang sudah seharusnya kita menghilangkan kerisauan. Bertekad menghilangkan kerisauan yang tiada habisnya. Asalkan seorang manusia, maka kerisauan tidak akan pernah ada habisnya, selamanya akan memiliki kerisauan. Seorang praktisi Buddhis harus bisa menghilangkan kerisauan. Setelah mampu menghilangkan kerisauan, maka bisa membina dan menekuni sila – konsentrasi – kebijaksanaan. Menghilangkan kerisauan adalah dasar dari membina sila – konsentrasi – kebijaksanaan. Kerisauan itu disebabkan oleh diri sendiri, menekuni dan mempraktikkan Dharma adalah untuk mempelajari kebijaksanaan.  

Tidak ada satupun jodoh di dunia ini yang tidak bertujuan untuk membangkitkan kesadaran kita. Jangan takut akan masalah, ketika permasalahan muncul, maka kamu harus hadapi dengan berani, dan kamu akan lebih tersadarkan. Oleh karena itu, ketika kamu bertemu dengan banyak jodoh yang muncul di dunia ini, jangan takut. Akan tetapi, lebih baik bertemu dengan jodoh baik, dan kurangi bertemu dengan jodoh buruk, karena jodoh buruk bisa menyakitimu. Maka, Master sering mengatakan, jangan menyentuh hal-hal yang tidak seharusnya kamu sentuh, jangan melihat hal-hal yang tidak seharusnya kamu lihat, jangan mendengar hal-hal yang tidak seharusnya kamu dengar, jangan melakukan hal-hal yang tidak seharusnya kamu lakukan. Jika kamu melakukan hal yang tidak seharusnya kamu lakukan, maka kerisauan akan muncul, dan permasalahan akan mendatangimu. Seseorang hidup di dunia ini harus mengandalkan dirinya sendiri, tidak bisa mengandalkan orang lain, karena orang lain tidak bisa diandalkan, sama halnya dalam membina pikiran.