7. Mengendalikan Nafsu Keinginan, Bersabar Menghadapi Segala Hal yang Berada di Luar Batas Kesabaran Orang Biasa
Mengapa kita perlu menjalani pembinaan keras? Karena pembinaan keras bisa meningkatkan kesadaran spiritualmu, membuat tingkat kesadaran spiritualmu semakin meningkat. Kalian sering mengatakan “meningkatkan kesadaran spiritual”, lalu bagaimana cara meningkatkan kesadaran spiritual? Apakah yang disebut sebagai kesadaran spiritual? Kesadaran spiritual tidak terlihat, juga tidak bisa disentuh, seperti sebagian orang yang baru saja datang ke Australia tidak memiliki kesadaran spiritual, seperti mengambil tissue di toilet umum untuk dibawa pulang ke rumah, sudah mengisi bensin lalu pergi tanpa membayar, meludah sembarangan, dan lain sebagainya, ini yang disebut tidak memiliki kesadaran spiritual (kesadaran moral dan etika). Setelah semakin lama tinggal di Australia, dengan sendirinya, kesadaran spiritual mereka semakin meningkat. Sekarang apakah mereka masih mengambil tissue toilet milik orang lain? Kabur tanpa membayar uang bensin? Apakah masih meludah sembarangan? Ini adalah kesadaran spiritual yang tidak terlihat, karena mereka tahu bahwa mencintai dan menjaga kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab setiap orang, oleh karena itu seiring dengan perubahan lingkungan membuat kesadaran spiritual mereka meningkat dengan sendirinya. Tempat yang begitu bersih, tidak ada orang yang meludah sembarangan, tentu saja kamu juga tidak akan meludah sembarangan, ini dinamakan kesadaran spiritual. Karena kalian tahu, sekarang banyak orang yang sedang menderita, kita harus menyelamatkan kesadaran spiritual mereka. Ketika kesadaran spiritualmu sudah meningkat, kamu baru bisa memiliki kesadaran spiritual Bodhisattva. Logikanya sangat sederhana. Akan tetapi kita harus meningkatkan kesadaran spiritual diri sendiri terlebih dahulu. Jangan memedulikan segala kenikmatan materiil. Contoh, hari ini kamu sudah mengendarai mobil bagus, namun masih menginginkan yang lebih bagus; hari ini masih ada makanan, namun masih ingin memiliki lebih banyak; hari ini kamu sudah tidur, namun masih ingin tidur lebih lama. Ada banyak orang yang tidak bisa bangun dari tidurnya, karena dia berpikir alangkah baiknya jika bisa berbaring lebih lama. Semua ini termasuk ketamakan nafsu keinginan.
Waktu yang menyenangkan berlalu dengan cepat, sedangkan waktu-waktu menderita berlalu dengan pelan, inilah mengapa, waktu di Alam Neraka berjalan lambat, sedangkan waktu di Alam Surga berjalan dengan cepat. Sesungguhnya, terdapat “Surga” dan “Neraka” di dunia ini. Orang-orang yang dikurung dalam penjara, setiap hari dilalui terasa seperti setahun lamanya. Sedangkan orang-orang yang setiap hari bergembira, berhura-hura, maka waktu akan berlalu dengan sangat cepat, inilah “Surga” dan “Neraka” di Alam Manusia. Satu poin penting dalam pembinaan keras adalah membatasi dirimu sendiri. Pembinaan keras berarti mengendalikan atau membatasi diri sendiri, agar jiwa atau pikiranmu bisa terpusat atau fokus. Misalnya, hari ini saya adalah seorang murid yang mengerjakan PR di rumah, demi bisa masuk ke Universitas, saya “mengikat” diri sendiri. “Ikatan” ini adalah dengan mengunci pintu, memindahkan TV keluar, mematikan mesin permainan – video game, memutuskan seluruh telepon, tujuannya adalah supaya diri sendiri bisa belajar dengan fokus, konsentrasi bisa terpusat. Master akan memberi tahu kalian sebuah kisah nyata: ada satu orang demi anaknya bisa masuk ke Universitas terbaik di Sydney, selama 4 tahun, dia tidak pernah menonton TV, hanya membaca koran. Dia menyimpan seluruh TV di rumah, siapapun tidak boleh menonton, ini dinamakan membatasi diri sendiri. Kalian mengikuti Master menekuni dan mempraktikkan Dharma, apakah Master perlu mengendalikan kalian? Jika Master tidak mengendalikan kalian, maka kalian akan sembarangan melihat atau menonton, pemikiran kalian tidak akan bisa fokus, maka kalian tidak akan bisa tekun membina diri pada satu pintu Dharma. Mengendalikan diri sendiri sampai jiwa kita bisa terpusat, baru bisa mencapai ketenangan pikiran, dengan kata lain, seseorang yang mampu mengendalikan diri baru bisa memiliki konsentrasi pikiran. “Saya ingin menekuni Dharma, saya harus mengendalikan diri sendiri, saya tidak boleh sembarangan melihat, tidak boleh sembarangan berpikir, tidak boleh sembarangan bicara, tidak boleh memiliki pemikiran yang mengganggu, mohon Guan Shi Yin Pu Sa membantu saya menghilangkan pemikiran saya yang mengganggu.” Guan Shi Yin Pu Sa pasti akan membantumu. Harus ingat: seseorang yang menjalani pembinaan keras, yakni dengan mengendalikan diri sendiri akan mendapatkan kebijaksanaan Tathagata, yakni memperoleh kebijaksanaan Buddha dan Bodhisattva. Ketika seseorang bisa menenangkan dirinya, baru bisa terlahir kebijaksanaan.
Kita harus bisa mengendalikan diri setiap saat. Kamu adalah Bodhisattva, kamu memiliki rupa, tertawa sekalipun tidak boleh sembarangan. Kamu harus belajar membatasi diri sendiri, itu baru namanya mengendalikan diri, itu baru disebut belajar Buddha Dharma. Setiap orang harus bermartabat, sedangkan pengendalian diri sangat penting, kekuatan konsentrasi akan diperoleh melalui pengendalian diri, tidak sembarangan melakukan perbuatan yang ingin dilakukan, tidak sembarangan mengonsumsi makanan yang ingin dimakan. Mengikuti Master menekuni dan menerapkan Ajaran Dharma, adalah dengan mengendalikan diri sendiri, jika kalian ingin membina diri hingga mencapai kesempurnaan, maka kalian harus mengendalikan diri, membatasi diri sendiri, baru bisa membawa sukacita ke dalam hati. Karena setelah kamu mampu mengendalikan diri, maka sukacita itu akan muncul dari dalam lubuk hatimu, itu bukan suatu kegembiraan yang bisa dilihat dari luar. Misalnya, kamu makan sesuatu, maka kebahagiaan atas hal ini hanya bersifat sementara, karena makanan itu hanya terasa di sepanjang beberapa centimeter rongga tenggorokanmu, setelah ditelan sudah tidak terasa lagi, benar tidak? Kalau hanya demi kenikmatan beberapa centimeter tenggorokan ini, apa artinya kebahagiaan seperti ini? Kebahagiaan di dalam hati, disebut juga sebagai ketenangan yang membahagiakan, karena hati pikiranmu sangat tenang, sangat damai, maka kebahagiaan itu bisa bertahan sepanjang waktu tertentu. Kalian harus belajar hal-hal seperti ini. Master sampai hari ini mampu bertanggung jawab dan tidak mengecewakan Guan Shi Yin Pu Sa. Asalkan semua orang di dunia ini menyebut Master sebagai Bodhisattva, maka apa yang Master lakukan sudah benar, berarti saya tidak mengecewakan Guan Shi Yin Pu Sa. Namun apabila semua orang di dunia ini memarahi atau memaki saya, itu berarti saya sudah melakukan kesalahan. Yang Master korbankan sekarang adalah nyawa Master, sebagai gantinya kalian semua menghormati Bodhisattva, menyayangi Guan Shi Yin Pu Sa, menolong orang-orang.
Yang kita bina adalah pembinaan yang bahagia. Apakah pembinaan yang bahagia? Itu adalah membina diri dengan bahagia atau sukacita. Kita harus menggunakan kebahagiaan dalam menjalani pembinaan diri, dalam pembinaan yang bahagia ini, mungkin orang luar melihat kita seperti sedang menjalani pembinaan yang keras, namun sesungguhnya kita sendiri sangat bahagia, maka itu adalah pembinaan yang bahagia. Hari ini ketika dirimu membantu orang lain, apakah kamu merasa senang? Seperti ada orang yang mengatakan: “Master Lu, Anda bervegetarian bertahun-tahun lamanya, Anda sangat menderita ya, bahkan seafood saja, Anda tidak boleh makan, sia-sia saja Anda hidup di dunia ini.” Menurut kalian, hidup saya bahagia atau tidak? Tentu saja bahagia. Orang lain mengatakan bahwa saya kurus, saya malah mengatakan: ini adalah keindahan tubuh sehat, ada orang yang ingin kurus belum tentu bisa kurus. Jika kita hidup dengan bahagia, maka tidak penting bagaimana pandangan orang lain terhadap kita, yang paling penting adalah diri sendiri merasa bahagia, maka itulah kebahagiaan, mengertikah? Menyelamatkan kesadaran spiritual semua makhluk adalah hal yang paling membahagiakan, adalah suatu hal yang mulia. Jika hari ini kita bisa menyelamatkan nyawa seseorang, maka jasa kebajikannya jauh lebih mulia daripada membangun pagoda tujuh tingkat. Harus membuat hidup kita menjadi berarti: semasa hidup dihormati dan dipuja oleh orang lain, setelah meninggal, dikenang oleh orang-orang.
Lima nafsu keinginan di dunia ini harus bisa kita kontrol dan kendalikan, menjalani pembinaan diri secara teratur, maka itu adalah pembinaan yang bahagia. Kalian sudah mengetahui lima macam nafsu keinginan, yang sebelumnya sudah kita bahas. Kita tidak boleh serakah atas ketenaran dan kekayaan, kita harus membatasi dan mengontrolnya. Contoh, sudah jelas saya tidak boleh makan daging, tetapi saya tidak bisa mengendalikan diri, maka saya harus membatasi, mengurangi konsumsinya. Jika masih tidak bisa, maka saya harus kendalikan secara teratur, membatasi secara teratur untuk mengendalikan. Diusahakan untuk bervegetarian setiap tanggal 1 dan tanggal 15 penanggalan lunar, ini adalah pembatasan yang beraturan, mengendalikan diri untuk bervegetarian selama 2 hari ini, kemudian bervegetarian selama 10 hari, lalu bervegetarian selama 1 bulan, terakhir saya bisa bervegetarian penuh. Pembinaan pikiran yang datang secara alami, adalah membina pikiran dengan sendirinya. Saya terima secara alami (naluriah), misalnya bervegetarian, dengan sendirinya saya bisa mengendalikan ketamakan saya, atau nafsu makan saya, ini yang disebut dengan pembinaan diri yang bahagia, perilaku yang bahagia, membina diri dengan bahagia.
Setiap hari tidur sampai terbangun dengan sendirinya, sangat nyaman bukan? Jika kita tidur dan tidak bangun secara alami, begitu alarm berbunyi, kamu akan merasa sedih bukan? Dalam membina pikiran, kita harus membina sesuatu yang sangat alami. Begitu juga terhadap orang lain, harus bersikap alami. Begitu pula dalam bervegetarian, harus dijalani secara alami. Saya dengan sendirinya tidak tamak akan uang. Saya dengan sendirinya tidak tidur terus-menerus. Itulah yang disebut dengan membina pikiran dan sifat kepribadian. Orang-orang yang tidak tahu pasti akan mengira, Master sedang membahas tentang cara menjaga kesehatan, sesungguhnya membina pikiran sama seperti membina kesehatan. Seseorang yang membina pikiran akan hidup lebih lama, hidup lebih lama di sini merujuk pada hidup di alam “yang jian” (di dunia / Alam Manusia). Jika kamu tidak terjerumus ke dalam lima nafsu keinginan dan enam kekotoran duniawi, maka kamu akan panjang umur. Orang-orang sering mengatakan: “Sehabis makan, jalan seratus langkah, bisa hidup sampai umur 99 tahun.” Ini adalah cara menjaga kesehatan. “Tidak marah ketika menghadapi masalah”, ini juga merupakan cara menjaga kesehatan. Oleh karena itu, kita harus mengejar kebahagiaan rohani, bukan kesenangan jasmani. Kesenangan jasmani akan berakhir dengan cepat, sedangkan kebahagiaan rohani bersifat abadi. Yang kita inginkan adalah cinta secara psikologis, bukan secara fisik, bukan sesuatu yang bersifat sementara di dunia ini, terlebih lagi bukan cinta yang disertai dengan penderitaan. Di manakah kebahagiaan yang sesungguhnya? Pahamilah bahwa, kebahagiaan yang sesungguhnya berada dalam jiwa seseorang, karena kamu sudah terpuaskan secara psikologis, maka kamu akan merasa bahagia. Sedangkan semua penderitaan yang kamu miliki justru disebabkan oleh ketidakpuasanmu secara psikologis, baru bisa mendatangkan penderitaan. Kebahagiaan harus terlahir secara alami, ketika seseorang memiliki energi “qi” yang kuat, maka akan terlahir perasaan bahagia atau sukacita. Saya memiliki energi “qi” yang kuat, karena saya sangat bersih, karena saya sangat bahagia, maka energi “qi” saya menjadi kuat. Ketika seseorang memiliki energi “qi” yang kuat, maka dia tidak akan sakit, dia akan merasa sangat bahagia. Coba saja kalian lihat dan dengarkan, suara orang-orang yang sakit semuanya lemah dan tak bertenaga, karena energi “qi” nya tidak mencukupi. Mengapa energi “qi” bisa lemah? Karena menderita, tidak bisa berpikiran terbuka, maka energi “qi” jadi berkurang. Oleh karena itu, seorang praktisi Buddhis harus memahami pentingnya memiliki energi “qi” yang kuat. Energi “qi” yang kuat akan membawa kebahagiaan secara psikologis, yakni perasaan senang dan semangat. Karena energi “qi” yang kuat merupakan suatu pertanda dari dalam. Master beri tahu kalian: pertanda dari dalam ini adalah ketenangan yang ringan – passaddhi. Baru saja Master membahas tentang ketenangan yang membahagiakan, sekarang Master kembali membahas tentang ketenangan yang ringan atau kerileksan, yang berarti ketika seseorang merasa sangat gembira, dia akan memiliki perasaan rileks, tidak merasa tegang, tanpa kerisauan, maka akan merasa santai. Mengapa seseorang bisa bernyanyi-nyanyi? Karena dia tidak memiliki kerisauan, dia merasa senang.
Tidak apa-apa jika seseorang buta huruf, namun harus bisa memahami prinsip kebenaran dan berperilaku benar, jika tidak, maka orang tersebut hidup dengan sia-sia. Oleh karena itu, kebahagiaan orang awam tercapai dari jalinan relasi, sedangkan kebahagiaan seorang praktisi Buddhis berasal dari kepuasan dalam hati. Sebagai praktisi Buddhis, jika hati kita merasa puas, maka kita akan segera merasa bahagia; Jika hati kita tidak puas, maka kita akan merasa sedih dan menderita.
Selanjutnya, saya akan membahas tentang kata “tong” – kelancaran atau ketiadaan halangan, kita sering mengatakan, harus bisa “xiang de tong” – berpikiran terbuka, apakah yang dimaksud dengan berpikiran terbuka? Apa itu berpikiran buntu? Berpikiran terbuka semua bergantung dari pikiranmu, semua berasal dari apa yang kamu pikirkan, yang pada akhirnya baru bisa menjadi “tong” – lancar atau terbuka. Coba kamu pikirkan, jika tidak ada kata akhir keterbukaan ini, maka semua selamanya hanya menjadi apa yang kamu pikirkan, pemikiranmu. Dengan kata “kelancaran”, berarti pikiranmu sudah terbuka. Apa maksud terbuka di sini? Kelancaran aliran energi. Otakmu terbuka, hatimu terbuka, seluruh tubuhmu menjadi lancar, maka peruntunganmu juga akan menjadi baik. Seseorang yang mampu berpikiran terbuka, dia tidak akan sakit, karena peredaran seluruh energi “qi” dalam tubuhnya menjadi lancar tiada halangan (semua terbuka).
Saya mengingatkan kalian untuk mengenal diri sendiri secara menyeluruh. Kita harus bisa mengenal diri sendiri secara total. Ada banyak orang yang tidak mengenal dirinya sendiri, malah masih merasa bahwa dirinya hebat, luar biasa, “Saya memang begini”, memangnya kamu siapa? Maka kita harus mengenali diri sendiri secara menyeluruh, sesungguhnya ini sama dengan mengenal Buddha dan Bodhisattva. Ketika kamu sudah benar-benar memahami sifat dasar diri sendiri, memahami akar dirimu yang paling semula, maka berarti kamu sudah mengenal Buddha dan Bodhisattva.
Seseorang yang sering menyalahkan dirinya sendiri, biasanya akan mendapatkan pengertian dari orang lain. “Aduh, saya salah, mohon maaf.” Lalu orang lain akan memaafkanmu. “Saya tidak salah, saya memang begini.” Lalu siapa yang akan memaafkanmu? Jika tidak mengenal diri sendiri, kemudian sering menyalahkan orang lain, pada akhirnya akan membuat diri sendiri sangat menderita, bahkan diri sendiri tidak tahu apakah yang dilakukan itu benar atau tidak. Jika sering mengatakan yang ini tidak baik, yang itu tidak baik, pada akhirnya semua orang akan mengkritikmu, membuat diri sendiri menjadi menderita. Maka jangan mengkritik orang lain, jika mengkritik orang lain akan berbalik pada diri sendiri, pada akhirnya akan membuat diri sendiri menderita. Mengapa dirimu bisa dikritik orang lain? Karena mulutmu telah mengkritik orang lain, maka orang lain baru bisa mengkritikmu. Ini adalah logika yang paling umum di dunia ini, yang juga merupakan kebenaran Dharma. Jika seseorang benar-benar mampu sering menyalahkan diri sendiri dan memaafkan orang lain, maka orang ini adalah Bodhisattva.
Bersabar menghadapi segala hal yang berada di luar batas kesabaran orang biasa, melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan orang-orang pada umumnya, ini dalam Ajaran Buddha Dharma dikenal dengan nama “Mahavira” – pahlawan yang hebat. Apa yang tidak bisa orang lain lakukan, saya melakukannya; orang lain mengkritik saya, yang awalnya saya tidak bisa bersabar, maka saya harus bersabar dan menahan diri. Di banyak kuil terdapat “Da Xiong Bao Dian” – Aula Besar Mahavira, di dalam terdapat banyak Buddha dan Bodhisattva, apakah ciri khas yang paling dasar dari Buddha dan Bodhisattva? Yakni mampu bersabar menghadapi hal-hal yang berada di luar batas kesabaran orang biasa, dan melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan orang-orang pada umumnya. Seseorang setelah menekuni dan mempraktikkan Dharma, jika kamu mampu meninggalkan kebiasaan buruk, tidak melakukan kejahatan, tidak memikirkan ide-ide buruk, maka kamu akan semakin dekat dengan kebahagiaan. Apakah kamu ingin bahagia? Apakah kamu ingin menjadi semakin baik? Maka ubahlah kebiasaan buruk pada dirimu, dan kamu akan berbahagia.
Buddha dan Bodhisattva adalah makhluk yang sudah mencapai kesadaran sempurna. Karena dirimu – makhluk ini, setelah mencapai pencerahan sempurna, maka kamu akan menjadi Buddha dan Bodhisattva, sedangkan semua makhluk adalah Bodhisattva yang belum tersadarkan. Apakah kalian adalah makhluk hidup? Apakah ada Buddha di dalam hati kalian? Apakah ada Bodhisattva di dalam hati kalian? Namun kalian masih belum mencapai kesadaran sempurna, maka kalian tidak bisa disebut sebagai Bodhisattva, kalian hanyalah manusia biasa.
Seseorang yang berhati sempit akan memiliki banyak kerisauan. Semakin kecil toleransi seseorang, maka semakin banyak kerisauan yang dia miliki. Seseorang yang berhati lapang pasti kaya akan kebijaksanaan. Dengan kata lain, ketika seseorang memiliki toleransi yang besar, maka orang ini sangat bijaksana. Ada sebagian orang yang suka bertengkar, sedangkan lawan bicaranya tidak ingin bertengkar, maka orang ini adalah orang yang memiliki kebijaksanaan, dia berhati lapang. Jika lawan bicara ikut bertengkar, maka orang ini adalah orang “picik” – orang yang berhati licik. Jika sepasang suami istri saling bertengkar, maka keduanya sama-sama orang yang picik.
Buddha dan Bodhisattva mengatakan: “Tidak melakukan segala kejahatan, mengamalkan semua kebajikan, menyucikan hati dan pikiran diri sendiri.” Seluruh kebajikan, saya akan melakukannya; segala kejahatan, saya tidak akan lakukan; harus mengubah seluruh pemikiran diri sendiri menjadi pemikiran yang bersih, inilah Bodhisattva. Jika setiap orang bisa melakukan perbuatan baik dengan aktif, tidak melakukan perbuatan buruk, mana mungkin ada kejahatan di dunia ini? Jika demikian, dunia ini akan dipenuhi dengan cinta kasih dan sukacita.
Orang yang bodoh selalu menginginkan orang lain untuk memahami dirinya. Ini adalah orang yang bodoh. “Tahukah kamu? Saya sangat baik, dulu saya begini begitu…”, hanya orang yang bodoh yang akan berbuat dan berbicara seperti ini. Orang yang bodoh selalu ingin membuat orang lain memahami dirinya; sedangkan orang yang bijaksana selalu berusaha untuk memahami dirinya sendiri. Seseorang yang sering memahami dirinya sendiri barulah orang yang bijaksana, karena ketika dia memahami dirinya sendiri, maka dia akan mengetahui apa yang seharusnya dilakukan, dia juga bisa mengetahui apakah semua yang dilakukannya itu benar atau salah, maka ini adalah orang yang memiliki kebijaksanaan. Sedangkan orang yang tidak memiliki kebijaksanaan, suka melakukan hal-hal bodoh, selalu ingin supaya orang lain memahaminya. Jika memang hebat, dia seharusnya memahami dengan jelas dirinya sendiri. Karena mengira dirinya sangat pintar, dia akan sering dan terus berbicara tanpa henti dengan orang lain di luar sana. Di dunia ini, tidak ada seorang pun yang lebih bodoh dari kamu, namun karena kamu telah mengatakannya, maka kamu adalah orang yang paling bodoh di dunia ini, Bodhisattva tidak akan menerima orang-orang yang tidak mau mengakui kesalahannya sendiri dan menciptakan karma. Karma harus diterima dan ditanggung, oleh karena itu, yang harus dipelajari dalam menekuni dan mempraktikkan Dharma adalah inti dan semangatnya.
