47. Melihat Kebenaran dari Kemunculan Jodoh, Baru Bisa Memahami Ketidaktahuan dari Alam Dharma
Selanjutnya, Master akan membahas, semua kemunculan jodoh pada awalnya adalah kosong. Hari ini kamu merasakan bahwa jodoh ini datang, kenyataannya, dia bersifat kosong. Banyak orang bertanya pada Master: “Master, kapan saya bisa memiliki jodoh?” Saya menjawab: “Bulan Agustus akan ada satu jodoh.” Alhasil di bulan Agustus, benar ada satu jodoh, lalu dia berpacaran dengan orang itu. Setelah berpacaran 3 bulan, mereka putus, jodoh ini pun sudah lenyap. Oleh karena itu, segala macam jodoh, semuanya bersifat kosong. Seperti sebuah gelembung sabun yang terlihat oleh matamu, jelas-jelas terlihat, kenapa hilang dalam sekejap. Sama seperti sabun, setiap hari digunakan untuk mencuci dan mencuci, akhirnya setelah digunakan akan lenyap. Di saat kamu melihat gelembung sabun yang berwarna-warni di bawah sinar matahari, sangat cantik sekali. Plop! Plop! Plop! Sebentar saja, semuanya lenyap. Hari ini kamu memiliki jalinan perasaan yang baik, dapatkah kamu menjamin ia tidak akan rusak? Jika sudah rusak bukankah pada akhirnya menjadi kosong? Pakaian yang kalian kenakan sangat indah, jika sepanjang waktu tidak mau melepaskan, lama-kelamaan juga akan rusak, kemudian dibuang. Bukankah ini sama seperti melihat kebenaran dan melepaskannya? Jodoh bersifat kosong. Master tidak pernah memikirkan bagaimana orang lain bersikap terhadap saya. Kerja keras saya selama 10 tahun lebih sekarang sudah membuahkan hasil. Kalian lihat, Seminar Dharma di Hong Kong dihadiri oleh begitu banyak orang, saya sama sekali tidak mengenal mereka, tetapi mereka semua mengatakan: “Master Lu, Anda menyelamatkan kami sekeluarga!” Mengapa mereka berkata, bahwa Master telah menolong mereka? Karena Pintu Dharma yang Master ajarkan, dan pada dasarnya saya mengandalkan siaran radio untuk menyebarluaskan ajaran Buddha Dharma. Orang-orang baru bisa mendapatkan Dharma ini, dan menyembuhkan keluarga demi keluarga, oleh karena itu, semua teman-teman se-Dharma memiliki rasa terima kasih! Asalkan kamu terus bekerja keras tanpa memikirkan hasil, maka kamu pasti akan menuai hasil; Jika sembari bekerja, kamu terus memikirkan hasil yang akan dituai, maka kamu tidak akan mendapatkan hasil yang berlimpah. Ini adalah kata-kata Mutiara Buddhis, ini adalah intisarinya. Sekarang Master mengajarkan intisari ajaran Buddha Dharma kepada kalian.
Ingatlah: hanya dengan mencapai kebebasan baru bisa menjadi Buddha. Kita harus memahami pentingnya terbebaskan baru bisa mencapai tingkat Kebuddhaan. Harus bisa melihat kebenaran dari kemunculan jodoh yang bersifat kosong. Jika kamu tidak bisa melihat kebenaran dari sebuah jodoh yang datang bersifat kosong, bahwa sifat dasarnya adalah kosong, maka ini akan menjadi masalah bagimu. Contoh, satu orang yang sangat miskin, menemukan sebuah dompet di jalan, di dalamnya terdapat uang 10 ribu dolar. Kamu harus bisa melihat sifat asli dari hal ini. Orang yang kehilangan uang 10 ribu dolar ini pasti akan melapor polisi, dan polisi pasti akan melakukan penyelidikan. Maka selanjutnya, kamu akan tertimpa masalah, benar tidak? Maka, kamu harus bisa melihat sifat kekosongan dari hal ini dan semua jodoh. Hari ini kamu melihat uang 10 ribu dolar di dalam dompet, “Aduh, jodoh telah tiba! Aduh, saya menjadi kaya!” Namun kamu tidak melihat sifat aslinya. Sifat aslinya yaitu ketika polisi menemukan dirimu, lalu diambil kembali uang tersebut, mungkin saja kamu malah akan dituduh melakukan kejahatan atau pelanggaran tertentu. Harus bisa melihat sesuatu “sampai ke akarnya” – secara menyeluruh. Sedangkan kalian ketika melihat suatu masalah seringkali memiliki pandangan yang terlalu menyimpang, tidak bisa melihat secara menyeluruh. Jadi harus ingat, jika tidak bisa memandang bahwa kemunculan jodoh bersifat kosong, maka akan terjerumus ke dalam “perangkap” kemelekatan – keras kepala. Karena kamu tidak bisa melihat secara menyeluruh, maka kamu akan menjadi sangat keras kepala. Master akan melanjutkan contoh yang tadi: baru saja menemukan uang 10 ribu dolar, lalu dia menjadi melekat – keras kepala. Karena tidak terpikir olehnya bahwa polisi bisa menemukan dirinya, dia tidak melihat bahwa pemiliknya begitu panik, di dalam pikirannya, dia hanya berpikir: “Ini juga bukan hasil curian saya, juga bukan hasil rampasan saya, tentu saja ini milik saya.” Bukankah dia menjadi keras kepala? Tunggu sampai polisi menemukannya, dia masih dengan percaya diri mengatakan: “Mengapa saya tidak boleh mengambilnya? Saya yang menemukan, mengapa tidak boleh diambil?” Lalu berdebat dengan polisi, kemudian dia malah dipenjarakan. Ini karena dia melekat – keras kepala, bersikeras merasa bahwa “Semestinya uang ini menjadi milik saya”, karena dia tidak melihat sifat asli dari hal ini. Mengerti?
Master beri tahu kalian semua, seseorang yang terlalu keras kepala (terlalu melekat) selamanya tidak akan bisa meninggalkan halangan karma buruknya. Jika seseorang tidak bisa berpikiran terbuka terhadap permasalahan apapun, berarti halangan karma buruk orang tersebut sangat berat. Apakah itu kemelekatan (keras kepala)? Yaitu seseorang yang terus-menerus beranggapan bahwa diri sendiri benar terhadap masalah tersebut, selalu menganggap apa yang dilakukan benar, yang dikatakan benar, yang dipikirkan juga benar, padahal kenyataannya, jelas-jelas bahwa dirinya salah, namun masih mengira dirinya benar, inilah keras kepala – melekat. Kalau begitu, saat tidak mengetahui diri sendiri benar atau salah, kamu juga tidak boleh keras kepala. Jika diri sendiri tidak bisa memutuskan apakah hal ini boleh dilakukan atau tidak, berarti kamu tidak boleh lakukan. Keliru jika mengira diri sendiri benar, juga merupakan bentuk kemelekatan; Keliru jika mengira diri sendiri selamanya salah, juga merupakan suatu kemelekatan. Yang paling gawat yaitu satu kata di depan itu, “keliru”. Jika ada kekeliruan, akan membuat kamu menjadi keras kepala. Karena kamu tidak bisa melihat permasalahan dengan jelas, tidak bisa berpikir jernih, perilakumu tidak jelas, ketidakjelasan dalam 3 aspek ini dinamakan kemelekatan. Maka baru bisa terjebak ke dalam kemelekatan ini dan tidak bisa keluar. Seperti kebanyakan orang, ketika kamu berkata padanya: “Kamu jangan seperti ini lagi.” “Saya memang seperti ini.” “Kamu jangan begini, mereka tidak bermaksud begitu terhadap dirimu, semua demi kebaikanmu.” “Tidak bisa, justru dengan begitu mereka mencelakai saya.” Ini dinamakan sudah terjebak ke dalam kemelekatan dan tidak bisa keluar. Tidak bisa berpikiran terbuka, berarti sudah melekat. Karena kamu terjebak ke dalam kemelekatan, kamu tidak bisa membebaskan diri dari nasibmu sebagai manusia. Kenyataannya, nasib manusia terlalu “keras”. Ini karena kemelekatan – keras kepala! Contoh, dulu ada berapa banyak orang yang saat dicelakai orang lain, mereka terlalu keras kepala, “Saya memang begini”. Ya sudah, kemudian dipukul sampai mati. Benar tidak? Jadi orang tidak boleh keras kepala, harus bisa pasrah. Ada banyak hal yang harus bisa dipasrahkan. Contoh, bos mengatakan saya salah, maka saya pasrah dan mengakuinya. Memangnya ada alasan apa yang bisa dikatakan?
Ketidaktahuan di dalam Dharma, sama dengan tiada habisnya. Dengan kata lain, dalam kehidupan nyata kita sekarang ini di dunia, karena dunia ini adalah kosong, karena semua orang tidak memahami, karena setiap orang di dunia ini sedang mengejar nafsu keinginannya, setiap orang melekat, setiap orang menjalani hari-hari tanpa tujuan yang jelas, setiap orang mengorbankan segalanya hanya demi uang, bahkan harga dirinya sekalipun, jadi semua orang bisa berbuat seperti itu, semua ketidaktahuan terpenuhi di alam Dharma ini, semua orang hidup tanpa arah yang jelas. Mengerti? Sama seperti beberapa negara yang suka berperang, setiap orang di sana suka berperang. Mengapa? Karena setiap orang di sana merasa benci, setiap orang memiliki ketidaktahuan. Ketidakpahaman, tidak memahami segalanya. Jika mereka mampu memahami kebenaran, bisa berpikiran jernih terhadap segala hal, apakah mereka akan berperang? Apakah mereka memahami bahwa peperangan pada akhirnya akan mencelakai generasi penerus mereka? Andaikan mereka bisa memikirkan kebaikan bagi generasi penerus: berperang hingga sekolah pun menjadi tidak ada, membuat anak-anak tidak bisa sekolah, tidak bisa memperoleh pendidikan yang baik; Jika orang tua mati terbunuh, membuat anak-anak menjadi yatim piatu; Jika anak dipukul hingga mati, apakah akan merasa bersalah terhadap anak? Apabila bisa berpikir demikian, apakah mereka masih akan berperang? Justru karena mereka tidak berpikir demikian, maka ini yang disebut ketidaktahuan. Jika dikatakan, seseorang memiliki ketidaktahuan, atau dua orang memiliki ketidaktahuan, itu masih tidak apa-apa, akan tetapi semua orang di satu negara memiliki ketidaktahuan, maka ini tergolong negara yang dipenuhi dengan ketidaktahuan. Oleh karena itu, harus bisa melihat kebenaran dari segala hal dan mampu melepas. Karena ketidaktahuan tiada habisnya, jika suatu masalah yang tidak akan ada habisnya, maka jangan lakukan lagi. Mengerti? Suatu hal yang akan berakhir, adalah terbebas dari tumimbal lahir enam alam. Sesuatu hal yang tiada habisnya, berarti selamanya tidak akan pernah berakhir, lalu apakah ada manfaat jika kamu mengejarnya? Hari ini sepertinya sudah berakhir, namun besok kembali lagi dan kamu belum bisa mengakhiri, lusa sepertinya belum berakhir, lalu tulat sepertinya sudah berakhir. Sama seperti pertengkaran kebanyakan pasangan suami istri, sebentar hubungan menjadi sangat akrab, namun tidak lama kemudian, kembali bertengkar. Jodoh buruk juga tergantung dari frekuensinya, benar tidak? Jika ada arwah asing pada dirimu, setelah bertengkar ya sudah. Namun jika memang berasal dari watak kedua orang ini, temperamental, maka mereka akan bertengkar setiap hari, sampai akhirnya menjadi ketidaktahuan yang tiada habisnya, tidak akan pernah berakhir; Bertengkar sampai tua dan mati, sampai tiada lagi penuaan dan kematian; Di kehidupan selanjutnya kembali menjadi pasangan suami istri, kemudian bertengkar; Seusai bertengkar, di kehidupan selanjutnya kembali menjadi suami istri lagi, lalu bertengkar lagi … apakah akan berakhir? Tiada berakhir. Apakah kalian mengerti? Kelas Dharma kita juga “tiada berakhirnya ketidaktahuan”, karena kelas kita setiap hari Rabu. Jika Rabu minggu ini tidak datang, maka Rabu minggu depan datang lagi. Benar tidak? Inilah prinsip kebenaran yang disampaikan untuk kalian, kalian harus bisa memahaminya, harus meneladani Buddha dan menekuni ajaran Buddha Dharma dengan baik.
Master beri tahu kalian semua, harus membabarkan ajaran Buddha Dharma, membawa kebaikan bagi semua makhluk tidaklah mudah. Apapun yang orang lain katakan, kamu harus tetap berpegang teguh pada konsep pemikiranmu, tidak peduli apa yang dikatakan, setelah didengar maka dilupakan saja. Jika kamu mendengarkan dan mempercayai apapun yang dikatakan orang lain, maka kerisauanmu akan muncul. Sesungguhnya kamu telah menerima hawa negatif dari orang lain. Jika suamimu sengaja mencari-cari masalah denganmu di rumah, membuat kamu menjadi pusing dan tidak bisa berpikir jernih, lalu segera terlahir kerisauan, maka berarti kamu tidak memiliki kekuatan konsentrasi. Bila istrimu setiap hari mencari-cari masalah denganmu di rumah, sampai akhirnya membuat kamu kebingungan sendiri, pikiran jadi kacau balau, berarti kamu juga disebut tidak memiliki kebijaksanaan. Benar tidak? Menurut kalian, siapa yang bisa mengacaukan Master hingga bingung? Saya akan mendengarkan perkataan siapa? Saya mendengarkan perkataan Bodhisattva, saya mendengarkan perkataan Guan Shi Yin Pu Sa. Jika kamu ingin melakukan suatu hal, jika Master tidak menerima, kalian bisa memohon kepada Guan Shi Yin Pu Sa, supaya Guan Shi Yin Pu Sa mengubah pandangan saya, maka kamu akan berhasil. Yang memiliki tekad, akan mencapai keberhasilan. Memahami ketidaktahuan di alam Dharma, berarti memahami satu prinsip kebenaran. Dalam alam Dharma, dengan menggunakan cara berpikir manusia biasa, akan sangat sulit untuk mengubah kenyataan. Bila dikatakan secara gamblang, berada ditingkatan apa maka akan melakukan hal-hal seperti itu pula. Terbebas dari kerisauan Alam Manusia, adalah peningkatan level dan tingkat kebijaksanaan seseorang. Hanya dengan naik ke atas, berdiri di tempat yang tinggi, baru bisa melihat jauh ke depan. Dengan menggunakan kesadaran spiritual tingkat tinggi, baru bisa terbebas dari gangguan pikiran dan kerisauan tingkat rendah. Sekian pembahasan pada hari ini.
