45. Membahas Tentang Kelahiran Dan Kemunculan Jodoh Dalam Ajaran Buddha Dharma
Jika ada kemunculan jodoh (yakni sumber munculnya jodoh), maka juga ada akhir jodoh (yakni berakhirnya jodoh). Memberi tahu kalian, inilah prinsip kebenaran sesungguhnya yang perlu kalian pahami di masa periode akhir Dharma. Karena ajaran Buddha Dharma bermanfaat di Alam Manusia, ia baru benar-benar dapat menunjukkan kebijaksanaan Buddha dan Bodhisattva. Apabila ajaran Buddha Dharma hanya ada di kelas, maka seperti kebanyakan orang telah mempelajari banyak ilmu pengetahuan di sekolah, namun setelah lulus, tidak bisa mendapatkan pekerjaan, ini tidak berguna. Ada berapa banyak orang setelah tamat kuliah tidak bisa mendapatkan pekerjaan? Karena ilmu yang kamu pelajari belum tentu bisa diterapkan ke dalam kehidupan nyata. Sedangkan ajaran Buddha Dharma yang kita pelajari sekarang, begitu berada di luar bisa segera diterapkan ke dalam kehidupan nyata, inilah ajaran Buddha Dharma yang sesungguhnya di Alam Manusia. Sedangkan ajaran Buddha Dharma di Alam Manusia tidak bisa terlepas dari permasalahan duniawi, meminjam kepalsuan untuk membina yang nyata, membabarkan Dharma untuk membawa kebaikan bagi semua makhluk.
Jika ada kemunculan jodoh (yakni jodoh yang baru saja muncul), maka akan terlahir jodoh (sama seperti jodoh dilahirkan). Hari ini Master bisa jadikan kalian sebagai murid, sesungguhnya karena adanya kemunculan jodoh ini. Apakah makna kemunculan jodoh? Karena kemunculan jodoh ini yaitu kalian bersedia menekuni dan mempraktikkan Dharma, benar tidak? Karena kalian bersedia menekuni Dharma, kemudian terlahir suatu kebijaksanaan pada diri kalian: “Saya menekuni Dharma karena takut tidak memiliki arah yang jelas, tidak memahami kebenaran, maka saya ingin menemukan seorang guru yang baik.” Jadi, terlahirlah jodoh ini. Tunggu sampai Master membina kalian hingga mencapai suatu tingkatan tertentu, sebagian orang belajar dengan sangat baik, namun sebagian lainnya semakin belajar semakin buruk. Sampai akhirnya, yang buruk akan meninggalkan Master, yang baik akan semakin membaik, di masa mendatang bisa naik ke Alam Surga, tiba di Alam Sukhavati atau Empat Alam Brahma. Kemudian, di masa mendatang Master juga akan pergi meninggalkan dunia ini, dengan begitu jodoh akan lenyap. Begitu pula dengan Pintu Dharma lainnya juga sama, berawal dari kemunculan jodoh, lalu kelahiran jodoh, selanjutnya kematangan jodoh (ada kelahiran maka akan ada kematangan), lalu setelah jodoh matang, perlahan-lahan akan dimulai proses kemusnahan jodoh. Pintu Dharma apapun juga merupakan suatu jalan bagimu untuk memasuki ajaran Buddha Dharma, sedangkan jalan ini sampai pada suatu waktu tertentu, setelah kamu berhasil melalui, jodoh tersebut akan lenyap. Mengerti? Seperti jika pada waktu itu tidak ada TV kecil, bagaimana mungkin hari ini bisa ada TV LCD? Juga merupakan keberlangsungan dari suatu proses. Jika tidak ada leluhur kita yang menyebarluaskan kebudayaan Tionghoa yang begitu bagusnya, bagaimana mungkin kebudayaan kita masih diwariskan sampai sekarang? Ini merupakan suatu proses. Jika tidak ada hukum yang dulu, mana mungkin ada pembaruan hukum pada saat ini? Akan tetapi, apakah hukum yang dulu masih berguna? Masih berguna, namun hanya bisa digunakan sebagai bahan referensi untuk dipelajari, apakah masih bisa diterapkan ke dalam masyarakat sekarang ini? Karena perubahan zaman, maka hukum yang dulu sudah tidak dapat diterapkan di masa kini. Sesungguhnya, semua proses ini berawal dari kemunculan jodoh, kelahiran jodoh, kematangan jodoh, sampai kelenyapan jodoh. Maka, harus ingat, memasuki jodoh – nidana sangat penting. Akan tetapi, apakah memasuki jodoh baik atau jodoh buruk? Misalnya, hari ini kalian datang ke tempat Master untuk menekuni ajaran Buddha Dharma, kalian sudah memasuki jodoh, namun setelah kemunculan jodoh ini, apakah kalian bisa mempertahankannya? Apakah bisa menekuni Buddha Dharma dengan baik? Lalu selanjutnya akan terlahir suatu jodoh, perlahan jodoh mulai akan terlahir. “Oh, saya menyukai Guan Shi Yin Pu Sa. Oh, setelah menekuni Dharma dan melafalkan paritta, keadaan saya menjadi jauh lebih baik dan lain-lain.” Keadaanmu semakin membaik, semakin maju dalam menekuni Dharma, kesadaran spiritual meningkat, maka jodoh akan semakin matang, jalinan perasaan dengan Master juga semakin mendalam, bersedia melakukan lebih banyak jasa kebajikan, maka kesadaran spiritualmu perlahan-lahan mencapai Alam Surga. Terakhir adalah kelenyapan jodoh, berarti jodoh ini akan lenyap. Begitu pula terhadap anak sendiri. Dari kelahiran anak, lalu setiap hari digendong dengan penuh kegembiraan; setelah anak tumbuh dewasa, menikah dan berumah tangga, maka perasaan tersebut perlahan-lahan akan memudar; terakhir setelah kamu pergi meninggalkan dunia ini, maka jodoh ini pun lenyap, jodohmu dengan anak ini sudah tidak ada lagi. Begitulah kehidupan ini, “manis datang setelah kepahitan berakhir”, begitu kebahagiaan tiba, maka kepahitan akan kembali datang, dari pahit sampai manis sampai menjadi pahit lagi, begitulah jodoh yang lahir dan lenyap, terus berputar tiada habis. Oleh karena itu, di saat seseorang menderita, harus berpikir saat-saat ketika menikmati kebahagiaan. Ada sebagian teori yang dikatakan oleh kebanyakan pemimpin sangat menyerupai teori dalam ajaran Buddha Dharma. Contoh, saat berada di tengah kesusahan, harus bisa melihat cahaya pengharapan dan masa depan. Saat menjelang ajal, harus berpikir bahwa di kehidupan selanjutnya bisa terlahir menjadi orang yang lebih baik, karena di kehidupan ini kamu tidak melakukan kejahatan. Sewaktu kamu masih hidup, harus bisa terpikir saat-saat menjelang ajal, prinsip yang sama, maka diperlukan kebijaksanaan dalam menekuni dan mempraktikkan ajaran Buddha Dharma.
Jodoh terlahir, maka ketidaktahuan akan lenyap. Ketika proses terlahirnya jodoh kamu semakin cepat, maka kebiasaan burukmu juga akan lenyap dengan cepat. Karena kamu sudah memahami, sudah melihat, sudah memikirkan, maka kemudian akan melenyapkan sangat banyak ketidaktahuan pada dirimu. Apakah ketidaktahuan ini? Yaitu ketidakpahaman. Contoh, kamu terus merasa akan ada satu orang yang datang ke sisimu, pada saat itu, kamu masih berada dalam ketidaktahuan, saat ini kamu masih tidak tahu. Tidak memahami. Tunggu sampai ketika orang tersebut sudah berada di sisimu, sudah menjadi nyata, maka kamu akan memahami, “Oh, saya sudah mengerti.” Jika tidak mengerti berarti ketidaktahuan, bahkan perasaan pun merupakan suatu jenis ketidaktahuan. Mengerti? Di saat jodoh memasuki ladang pikiranmu, memasuki kehidupanmu, sesungguhnya ini merupakan ketidaktahuan. Maka harus mengenal segala kebenaran, segala kebenaran adalah segala Dharma (semua yang ada di dunia). Lahir dan lenyap adalah sifat alami dari kemunculan jodoh, sesungguhnya lahir dan lenyap, lalu sampai lahir kembali, semua ini merupakan langkah awal dari jodoh nidana kamu, sifat alamimu. Bagaimana jodohmu bisa datang? Ia datang karena kelahiran dan kelenyapan. Apakah kalian mengerti? Dari mana asal jodoh itu? Dari lahir dan lenyap. Hari ini ada, besok lenyap. Hari ini berjodoh, sangat akrab dengannya; setelah beberapa hari kemudian, lalu bertengkar, dan jodoh ini pun lenyap. Sama seperti sebagian orang, di saat hubungan kedua orang sedang baik, luar biasa akrab, ini adalah kemunculan jodoh. Namun setelah beberapa waktu berlalu, perlahan-lahan mereka bertengkar hebat, sampai sudah tidak ingin berhubungan lagi, ini adalah kelenyapan jodoh. Ini adalah wujud nyata dari kelahiran dan kelenyapan pada dirimu. Dalam kisah {Tiga Negara}, pada kalimat pertama sudah dikatakan: “Yang lama terpisah pasti akan menyatu; yang telah lama menyatu pasti akan berpisah.” Oleh karena itu harus pahami, sudah melebihi batas, maka akan melahirkan kerenggangan.
Oleh karena itu, tujuan menekuni Dharma dan membina pikiran untuk membuat seseorang memiliki pemahaman pikiran yang jelas, supaya orang-orang memahami bahwa segala dharma (fenomena) tidaklah kekal. Dengan kata lain, segala dharma tidak ada yang abadi, semua orang tidak kekal, semua benda tidak kekal, barang sebagus apapun setalah digunakan dalam jangka waktu panjang juga akan rusak. Coba kalian beri tahu saya, benda apa yang setelah dibeli dan digunakan tidak akan rusak? Apakah ada benda di dunia ini yang tidak akan rusak? Misalnya barang dari baja anti karat, setelah digunakan dalam jangka waktu lama, pada akhirnya bukankah akan berkarat juga? Bukankah otak kalian juga bisa “berkarat”? Hari ini kamu bisa berpikiran terbuka, beberapa hari kemudian, kembali tidak bisa berpikiran terbuka, benar tidak? Di saat berpikiran terbuka, merasa sangat senang sekali, akan tetapi di saat tidak berpikiran terbuka, maka merasa sangat risau sekali, menurut kamu, menyedihkan tidak? Coba kalian katakan, kalian sudah melakukan begitu banyak kebaikan tetapi mengapa tidak mendapatkan balasan baik? Kalian sudah melafalkan begitu banyak paritta, terkadang mengapa masih mengalami sangat banyak kesulitan? Master menyelamatkan kesadaran spiritual semua makhluk sampai seperti ini, selain itu Guan Shi Yin Pu Sa juga berada di tubuh Master, lalu mengapa Master masih harus mengalami begitu banyak penderitaan? Masih ada orang yang menjelek-jelekkan Master? Sangat sederhana. “Karena mengalami yang tidak baik, baru bisa menonjolkan banyak kebaikan.” Jika kamu berpikir demikian, bukankah pikiranmu akan terbuka? Jika menurutmu semuanya baik, maka kamu tidak membandingkan lagi, lalu bagaimana bisa membedakan yang baik dan yang buruk? Jika semua orang tidak meludah secara sembarangan, maka karakter baikmu yang tidak meludah secara sembarangan juga tidak akan terlihat. Jika kamu pergi ke perdesaan di mana semua orang meludah secara sembarangan, maka kamu pun tidak akan mengetahui meludah secara sembarangan itu baik atau tidak. Sama seperti ada orang yang sudah melakukan banyak hal, lalu mengapa begitu dipergunjingkan oleh orang lain, segera muncul kerisauan di hati? Ini berarti tidak memiliki “timbangan” di dalam hatinya, membuat dirimu tidak bisa menimbang mana yang baik dan yang buruk, kamu tidak bisa menimbang bobot. Dalam menekuni Dharma, kita harus memiliki sebuah “bendera” di hati. Apa yang dimaksud dengan “bendera yang jelas” – berpandangan tegas? Dan “bendera yang tidak tumbang” – berpendirian teguh? Dengan kata lain, “Tidak peduli apapun yang kamu lakukan, tidak bisa mempengaruhi saya, memangnya bisa apa? Saya bisa bagaimana? Memangnya kamu bisa memperlakukan saya bagaimana?” Pada akhirnya, semua juga tidak bisa apa-apa. Begitulah manusia, benar tidak? Menghadapi sedikit masalah, lalu suasana hati terpengaruh, lahir kerisauan, berarti “bendera” kamu sudah tumbang, maka pikiranmu akan berubah mengikuti keadaan luar. Harus bisa membuat keadaan berubah mengikuti pikiran kita. Sedangkan pikiran kalian berubah mengikuti keadaan. Bagaimana kerisauan kalian berasal? Karena orang-orang di luar sana menjelek-jelekkan kamu, atau karena orang-orang di luar tidak memahamimu, maka pikiranmu mulai berubah mengikuti keadaan di luar, lalu kamu merasa tidak senang, merasa tidak nyaman, suasana hati memburuk. Bukankah berarti kamu terpengaruh mengikuti keadaan orang lain? Jika Master, semakin kalian menjelekkan saya, maka saya harus semakin baik, semakin kalian mengatai saya bagaimana, maka saya semakin tidak begitu. Apakah saya adalah tipe orang yang bisa dipergunjingan melalui perkataan orang lain? Jika bisa dipergunjingan melalui perkataan orang lain, bagaimana mungkin Master bisa membabarkan ajaran Buddha Dharma ke seluruh dunia? Tidak takut terhadap apapun ketika membabarkan Dharma dan membawa kebaikan bagi semua makhluk, bisa melihat semua dengan jelas, mampu merelakan segalanya, lalu apa yang perlu ditakutkan? Sedangkan kalian, begitu menghadapi sedikit masalah segera merasa seluruh langit runtuh. Sebagai contoh sederhana: sewaktu awan hitam datang, apakah kalian bisa melihat cakrawala biru? Seluruh langit akan menjadi gelap, lalu bagaimana saya bisa hidup? Bagaimana saya bisa menjemur besok? Akan tetapi, awan hitam akan berlalu dalam sekejap, matahari kembali muncul. Senang bukan? Ternyata tidak terjadi masalah apapun? Kerisauan terbesar kalian saat ini justru karena kalian melihat awan hitam, kalian tidak melihat sinar matahari. Tunggu hingga awan hitam menghilang, kemudian sinar matahari kembali muncul, kalian akan kembali senang. Kalau begitu, kalian sebentar senang, sebentar tidak senang, di saat kalian sedang tidak senang, maka saraf kalian menjadi semrawut, berarti muncul masalah, karena kalian mengira matahari dan bulan sudah lenyap, kalian hanya melihat awan hitam. Tunggu hingga awan hitam menghilang, lalu kalian sudah melihat matahari, maka kesadaran kalian kembali normal. Bukankah ini dinamakan sakit jiwa? Seperti minum obat saja. Oleh karena itu, kelahiran dan kelenyapan segala dharma, semuanya tidak kekal. Dengan kata lain, segala dharma, hari ini ada dan menghilang di hari esok, semuanya tidak abadi, ingatlah ini adalah sifat alami.
Selanjutnya, Master akan membahas tentang kelahiran dan kematian dari jodoh. Jodoh lahir, dharma lahir. Misalnya, saya mulai bersikap baik dengan dirimu, selanjutnya dharma ini akan terlahir. Apakah dharma itu? Dunia manusia semua disebut sebagai dharma, manusia juga dinamakan dharma, benda juga dinamakan dharma. Contoh, bukankah Master memiliki tubuh Dharma? Dengan begitu objek ini, pusaka ini, Bodhisattva menyebut segala hal di dunia ini sebagai dharma. Maka, jika kamu ingin bersikap baik terhadap orang ini, akan terlahir suatu jodoh, dan jodoh ini akan melahirkan suatu benda. Sebagai contoh sederhana: Kamu berpikir ingin memasak telur orak-arik. Bukankah telur ini akan ditumis, benar tidak? Karena dalam otakmu sedang berpikir: “Saya ingin melahirkan jodoh ini, memasak telur orak-arik untuk dikonsumsi semua orang.” Lalu kamu akan mengambil dan menumis telur ini. Di saat kamu menumis, maka akan terlahir jodoh ini, setelah selesai ditumis, maka jodoh ini pun telah berhasil, lalu telur orak-arik yang berhasil ditumis ini akan menjadi suatu benda dharma, yakni benda yang benar-benar berwujud nyata. Oleh karena itu, jodoh ini akan melahirkan dharma bagimu, maka dinamakan, “Begitu jodoh terlahir, dharma pun terlahir.” Mengerti? Jodoh lenyap, dharma pun lenyap. Contoh, kalian pasangan suami istri memiliki hubungan yang sangat baik sekali, lalu apa wujud dharma di dunia ini? Yakni jalinan cinta yang harmonis, keduanya tidak dapat terpisahkan. Tunggu hingga salah satu di antara kedua orang ini meninggal, maka dharma ini pun lenyap. Mengapa? Dharma adalah benda atau objek yang bisa kamu lihat. Benda yang terlihat pada dasarnya adalah kedua orang ini, sekarang menjadi satu orang, berarti jodoh sudah lenyap. Maka dikatakan, jodoh lenyap, dharma pun lenyap. Seperti hal yang hari ini kamu pikirkan, maka jodoh ini terlahir, sesuatu yang kita pikirkan dalam otak disebut sebagai dharma. Di dalam otak berpikir, “Jika besok saya bisa memenangkan lotere, alangkah baiknya”, terus dipikirkan … Lalu lusa pagi, kamu akan pergi membeli lotere. Berarti jodoh ini terlahir, hal ini menjadi nyata. Tunggu ketika mengetahui diri sendiri tidak memenangkan lotere, maka dharma ini akan lenyap, yakni jodoh kamu untuk memenangkan lotere ini juga lenyap. Mengerti? Maka jodoh dharma akan lenyap. Sesungguhnya, manusia juga terbentuk dari perpaduan jodoh sebab musabab (nidana).
