33. Menjalani Pembinaan Keras dan Ketulusan Hati, Meningkatkan Kesadaran Spiritual Dan Membawa Kebaikan Bagi Semua Makhluk
Hari ini Guan Shi Yin Pu Sa berkata kepada Master, meskipun bencana besar tidak terjadi ataupun datang terlambat, namun sesungguhnya bencana besar yang sebenarnya bagi umat manusia adalah bencana di dalam hati atau pikiran diri sendiri. Apakah yang dimaksud dengan bencana dalam pikiran? Yaitu tidak bisa melepaskan diri sendiri (mempersulit diri sendiri). Contohnya ingin bunuh diri, setiap hari tidak bisa berpikiran terbuka, depresi, merasa risau, merasa sedih. Seseorang yang baik-baik saja, jika tiba-tiba divonis menderita kanker, berarti dirinya sudah tertimpa bencana. Bukan karena banjir belum melanda, atau gempa bumi belum terjadi, lalu boleh merasa senang, namun sesungguhnya kamu tidak mengetahui bahwa bencana pada dirimu sudah datang. Sebenarnya depresi atau halangan psikologis yang kalian derita dalam jangka panjang, sudah merupakan bencana yang datang. Setiap hari Master menerawang totem untuk orang lain, ada seorang anak gadis yang menyayat pergelangan tangannya sebanyak tiga kali, Master pun menolongnya. Oleh karena itu, setiap orang seharusnya berkorban untuk menyelamatkan kesadaran spiritual semua makhluk. Coba kalian renungkan sendiri, berapa banyak yang sudah kalian korbankan? Berapa besar jasa kebajikan kalian? Oleh karena itu, kalian sendiri harus memahami kebenarannya. Coba lihat orang-orang semuanya sedang berusaha keras, sedangkan kita sendiri malah tidak berusaha, ini berarti sudah mengecewakan Guan Shi Yin Pu Sa dan Master. Jika satu hari berlalu, apakah kalian masih akan memilikinya? Sudah tidak ada lagi. Oleh karena itu, Master berharap kalian bisa mawas diri agar bisa terhindar dari malapetaka.
Hari ini akan melanjutkan pembahasan tentang pembinaan diri atau perilaku kepada kalian. Setiap hari membicarakan tentang membina diri, belajar, dan menekuni Dharma, sesungguhnya membina diri adalah suatu kemampuan. Apabila kamu bisa membina diri dengan baik, ini menandakan kalau kamu memiliki kemampuan. Karena seorang praktisi Buddhis tidak akan sering merendahkan orang lain. Ada banyak orang yang merasa dirinya hebat lalu menjadi sombong, merasa masih muda, memiliki gelar pendidikan, punya uang, memiliki rupa yang menawan, semuanya bisa menjadi modal baginya. Karena dia tidak membina diri, maka dia sering memberikan sikap angkuh di hadapan orang lain; Karena dia tidak menekuni Dharma, maka dia sering mengatakan keburukan orang lain. Hanya orang yang benar-benar memahami prinsip kebenaran dalam Ajaran Buddha Dharma yang tidak akan meremehkan orang lain. Oleh karena itu, seorang praktisi Buddhis harus memiliki pandangan mata yang welas asih, bukan pandangan mata yang meremehkan orang lain. Para biksu dan biksuni di kuil bersikap ramah terhadap orang lain. Terhadap kalian, Master sangat berwelas asih namun juga sangat disiplin, karena kalian adalah murid Master, maka harus sangat disiplin. Akan tetapi bagaimana sikap Master terhadap ibu-ibu tua dan paman-paman tua, kalian semua sudah melihatnya. Sikap Master terhadap kalian, seperti pribahasa “Membenci besi tidak bisa menjadi baja yang artinya merasa kesal karena gagal memenuhi harapan.” Sudah membina diri dan mendengarkan wejangan sampai detik ini masih tetap melakukan hal-hal yang tidak baik, mana boleh tidak berubah?
Membina pikiran harus menjalani pembinaan keras. Saat seseorang menderita, dia baru bisa membina pikiran; Jika dia tidak menderita, maka dia tidak akan membina pikiran. Oleh karena itu disebut sebagai pembinaan keras. Seseorang yang mendapatkan jasa kebajikan dari pembinaan keras, akan memiliki hati yang sangat baik, oleh karena itu, dia juga bersikap sangat baik terhadap semua makhluk, dalam hati tidak akan meremehkan orang lain. Seseorang yang sering meremehkan orang lain bukanlah seorang praktisi yang baik. Ada banyak orang di tempat pemujaan Buddha bersikap kurang sopan terhadap orang-orang yang datang bersembahyang, membuat orang-orang ini untuk selanjutnya tidak mau pergi lagi. Orang-orang yang pergi menyembah Buddha semuanya memiliki sebuah hati yang tulus. Jika kalian bersikap buruk terhadap orang-orang yang datang memuja, sembarangan melayani dan membuat mereka pergi, ini tandanya kamu tidak menekuni Dharma, kamu telah mencela Bodhisattva, maka ini akan ada karma buruknya. Kalian setiap orang mewakili Bodhisattva. Baik yang hari ini mengetik, atau menerima telepon, setiap hal yang kalian lakukan harus bisa dipertanggungjawabkan kepada Guan Shi Yin Pu Sa, tidak boleh mengecewakan semua makhluk. Karena kalian adalah praktisi Buddhis. Karena kamu tidak berwelas asih dan meremehkan orang lain, maka kamu baru bisa merasa risau. Apakah pembinaan keras itu? Pembinaan keras berarti harus bisa menekan diri sendiri, harus mampu mengendalikan diri sendiri, itu baru namanya menjalani penderitaan – pembinaan keras. Jika sudah terbiasa, maka tidak akan merasa menderita lagi. Inilah prinsip dari menjadikan penderitaan sebagai kebahagiaan. Karena setiap makhluk memiliki sifat Kebuddhaan, mereka semua adalah Bodhisattva, mereka adalah Buddha. Jika kamu bersikap galak terhadap orang lain, apakah kamu bisa mempertanggungjawabkan sifatmu kepada Bodhisattva? Orang-orang tidak datang untuk dimarahi, melainkan datang untuk berdoa dan memohon kepada Buddha.
Orang biasa sekalipun tidak boleh meremehkan makhluk hidup lain, bahkan seekor anjing pun tidak boleh ditendang, kamu juga tidak boleh memarahinya, apalagi jika seorang praktisi Buddhis? Segelas air yang terus-menerus kamu caci-maki dan marahi, lalu kemudian mendinginkannya di dalam kulkas, maka setelah air membeku menjadi es dan dikeluarkan, bunga es yang terbentuk akan sangat buruk rupanya. Apabila kamu terus-menerus memuji air ini, kemudian menempatkannya ke dalam kulkas dan dikeluarkan setelah menjadi es, maka bunga es yang terbentuk akan sangat indah. Bahkan benda pun memiliki perasaan, oleh karena itu, kalian harus memahami prinsip kebenarannya. Seseorang yang memahami Ajaran Buddha Dharma, harus bersikap nyata (tidak berpura-pura), jika tidak jujur sama dengan memperberat dosa yang dimiliki. Bukan Master tidak suka, namun Bodhisattva pun tidak menyukainya. Karena manusia itu sendiri adalah palsu dan tidak nyata, oleh karena itu, harus lebih banyak melakukan hal-hal nyata. Misalnya hari ini membeli barang dan membawanya pulang, itu adalah hal yang nyata, beberapa hari kemudian rusak dan dibuang, maka benda itu sudah tidak ada lagi. Bukankah ini berarti palsu? Saat pulang ke rumah tidak ingin bertengkar, namun bicara belum berapa kalimat kembali bertengkar lagi. Menurut kamu ini nyata atau palsu? Segala hal di dunia ini palsu, semuanya itu tidak nyata. Seperti makanan yang kamu makan hari ini, ketika kamu menyantapnya dan mengira itu nyata, lalu melahapnya dengan gembira, namun setelah selesai, makanan itu sudah tidak ada lagi, karena dia palsu. Perubahan dari nyata menjadi palsu melewati suatu proses. Manusia sejak dilahirkan adalah bayi kecil, setelah beberapa waktu, tumbuh besar, lalu lewat beberapa waktu sudah berubah menjadi nenek tua, lalu setelah beberapa waktu sudah tidak ada lagi, sudah meninggal dunia, bukankah ini adalah sesuatu yang palsu? Benda apakah di dunia ini yang nyata? Apa yang bisa ditemukan? Master sudah berkali-kali mengatakan pada kalian, semuanya itu kosong, tunggu sampai kalian meninggal, maka semuanya juga sudah tidak ada lagi. Banyak orang yang tidak ingin meninggal, jika kamu tidak meninggal di dunia ini, berarti telah menjadi siluman. Apabila seorang nenek tua hidup sampai usia 130 tahun, coba bayangkan seperti apa rupanya. Ini adalah aturan tetap. Alam Manusia bagaikan sebuah hotel, sesungguhnya ia itu hanya ilusi palsu. Tubuh kita adalah benda palsu yang tidak nyata, kesadaran kita juga palsu. Seperti jika hari ini muncul satu pemikiran dalam dirimu, lalu besok bisa segera muncul pemikiran lain. Dengan cepat, kamu akan membantah pemikiran yang di depan itu. Hari ini kamu baru saja mengatakan, “Saya akan bagaimana dan bagaimana”, mungkin saja karena ada orang yang membisikkan sesuatu di telingamu, lalu dalam sekejap, mungkin saja seluruh pemikiranmu akan berubah. Bukankah itu adalah sesuatu yang palsu? Master lihat kalian, ketika kalian sedang bersujud, Master pun merasa kalau kalian itu palsu. Hari ini kamu bisa bersujud, lalu setelah beberapa hari, kamu tidak bisa berpikiran terbuka, mungkin saja kamu sudah tidak memiliki kesempatan untuk bersujud. Kalian bersujud kepada Master, tidak akan membawa kebaikan apapun bagi Master, hanya akan menambah beban tanggung jawab Master, memperberat halangan karma buruk Master. Karena hati dan tubuh kalian tidak bersih. Oleh karena itu, kalian harus membina diri baik-baik, mengikis halangan karma buruk.
Manusia sesungguhnya adalah ilusi palsu yang tidak nyata, begitu pula dalam bicara. Pada mulanya bicaranya sangat bagus, kemudian berubah. Oleh karena itu, kita harus membuat perwujudan sifat Kebuddhaan kita menjadi lebih nyata. Meskipun kamu itu palsu, akan tetapi perilaku yang kamu tunjukkan bisa lebih nyata. Dengan kata lain, hari ini kamu bisa berubah, namun berusahalah untuk jangan membiarkannya berubah. Karena seorang praktisi Buddhis yang sesungguhnya itu rendah hati, sama seperti menjadi murid Master. Siapa yang menjadi guru kalian, maka kalian akan mengikutinya mempelajari Pintu Dharma itu. Jika kamu menjadi murid guru lain, maka kamu akan mempelajari Pintu Dharma lain. Semuanya sama. Oleh karena itu, kamu tidak boleh memandang rendah Pintu Dharma lain, atau mengira yang kamu pelajari adalah yang paling bagus. Dengan kata lain, sewaktu kamu menekuni Dharma, jika kamu sudah menjadi murid guru ini, belajar Pintu Dharma ini, maka sebaiknya kamu jangan meremehkannya. Sebaiknya kamu mempelajari Pintu Dharma yang kamu anggap paling bagus, jangan pernah menjelek-jelekkan Pintu Dharma lain. Ini juga merupakan sifat nyata.
Sekali lagi Master memberi tahu kalian: baik pengikut Master, murid Master, maupun siswa/i pendengar, jangan pernah menjelek-jelekkan Pintu Dharma mana pun, semua Pintu Dharma itu baik adanya. Jika Master adalah seorang dokter, akan tetapi dokter-dokter lain juga harus dihormati. Jangan sampai karena gurumu adalah seorang dokter terkenal, lalu boleh menjelek-jelekkan dokter lain. Itu selamanya tidak boleh dilakukan. Selain itu jangan sombong dan merasa diri sendiri hebat. Sekalipun kamu adalah murid Master, jika di luar ada orang yang mengatakan: “Kamu adalah murid Master Lu, hebat sekali.” Lalu kamu segera merasa sombong. Memangnya apa yang perlu disombongkan? Orang lain membina diri lebih baik daripada kalian. Walaupun kalian duduk di sini, namun kalian belum tentu terlihat seperti murid Master. Tidak ada gunanya. Coba kalian lihat banyak teman-teman se-Dharma yang jauh di ujung dunia sana, mereka melepaskan makhluk hidup untuk Master, berusaha keras melakukan jasa kebajikan. Sekarang Pintu Dharma Master tersebar di mana-mana, di seluruh dunia terdapat medan pembinaan Master. Ini adalah welas asih Guan Shi Yin Pu Sa.
Penderitaan terbesar manusia diciptakan oleh dirinya sendiri – ini adalah informasi terbaru yang diberikan Guan Shi Yin Pu Sa kepada Master. Guan Shi Yin Pu Sa mengatakan: “Bencana manusia sesungguhnya berasal dari dirinya sendiri.” Dalam skala besar, yakni merusak alam lingkungan kehidupan di seluruh dunia, dalam skala kecil, yakni merusak lingkungan hidup diri sendiri. Banyak orang yang sangat galak, bukankah ini berarti dia merusak lingkungan kehidupan diri sendiri? Banyak orang yang tidak makan dengan baik, tidak tidur dengan baik, depresi dan risau, bukankah ini sama dengan merusak lingkungan diri sendiri? Maka itu, mereka baru bisa sakit dan menderita kanker. Manusia karena terus-menerus merusak lingkungan kehidupannya sendiri dan menyebabkannya berubah menjadi malapetaka.
Master beritahu kalian, mengapa manusia bisa sombong? Karena dia sering memikirkan dirinya sendiri. Mengapa seseorang bisa merasa dirinya sendiri hebat? Karena dia sering berpikir untuk dirinya sendiri: “Saya itu siapa, saya seharusnya bagaimana, saya akan bagaimana.” Setiap orang mengira bahwa dirinya yang paling penting. Saat pergi mengikuti rapat juga sebaiknya berjalan di karpet merah, lalu ada mobil polisi membuka jalan, di panggung tempat duduk pimpinan juga sebaiknya ada tempat duduknya; Jika tidak ada tempat duduk baginya, maka wajahnya akan segera berubah masam, lalu langsung berdiri dan pergi. Dulu ada seorang perwakilan komunitas Tionghoa yang begini, selalu mengira dirinya yang terhebat. Jika hari ini kalian menekuni Dharma, maka cepat atau lambat kalian harus melepaskannya. Pada akhirnya, ketika terbaring di atas ranjang dan masih mengatakan tidak ingin meninggal. Bila akhirnya memang harus melepas, lalu mengapa kamu tidak melepaskan lebih awal? Jika sudah melepas dari awal maka mungkin saja kamu akan meninggal lebih lambat. Mengapa tidak bisa melepas? Jiwa yang kotor, tubuh yang kotor, karma buruk yang kotor, semuanya berada pada dirimu, membuat otakmu menjadi kacau balau. Ada banyak sekali orang yang mementingkan gengsi dan mempersulit hidupnya di dunia ini. Orang-orang hidup demi gengsinya, namun pada akhirnya malah hidup menderita. Sudah tidak memiliki apapun, masih menginginkan gengsi, terakhir malah bunuh diri. Gengsi bisa mencelakakan seseorang. Gengsi tidak akan menyelesaikan masalah apapun.
Jika benar-benar ingin menyelesaikan masalah, maka harus bisa melepaskan ego sendiri. Saya tidak memiliki ego sendiri, saya tidak memiliki gengsi apapun, yang saya inginkan adalah hidup yang bermakna, yang saya mau adalah masa depan sendiri, saya menginginkan pencapaian pembinaan sendiri, saya mau kesadaran spiritual sendiri, yang saya inginkan sekarang dan di masa depan nanti adalah bisa pergi ke Alam Sukhavati atau terlahir di Empat Alam Brahma. Inilah kesadaran spiritual yang sesungguhnya. Itu barulah kesadaran spiritual yang sesungguhnya. Yang diinginkan adalah hal-hal yang benar-benar berada dalam jiwamu, bukanlah ketenaran dan kekayaan, perabotan rumah atau uang. Oleh karena itu, harus bisa mengurangi ego diri sendiri atas ketenaran dan kekayaan, serta kedudukan, menghilangkan ego diri sendiri. Yaitu semakin merendahkan diri sendiri. Memangnya berapa harganya dirimu? Siapa dirimu? Apa hebatnya kamu? Meminta kamu mengucapkan maaf saja tidak mau, memangnya siapa dirimu? Sekarang kalian tahu mengapa Master sering mengkritik kalian? Karena Master sedang “Memburamkan” ego kalian. Master mengkritik kalian di depan begitu banyak orang, lalu kalian mau mengatakan “Maaf”, berarti kesadaran spiritual kalian sedang meningkat, bukan malah membuat kesadaran kalian menurun. Orang yang semakin rendah hati dan semakin tahu sopan santun adalah orang yang mulia, adalah orang yang memiliki kesadaran spiritual, baru bisa dihargai orang lain. Sedangkan orang-orang yang bergengsi tinggi dan tidak mau mengakui kesalahannya, akan direndahkan orang lain. Saat dijelekkan orang lain di belakang, diri sendiri malah berpikir tidak apa-apa asal saya tidak mendengarnya, ini seperti pribahasa mencuri lonceng dengan menutupi kedua telinga sendiri – membohongi diri sendiri. Jika kamu mengatakan, “Maaf, saya pasti akan mengubahnya.” Orang lain malah akan menghormatimu.
Apa pemikiran kalian? Jika melakukan kesalahan malah membantah, atau menghindar, ingin tidak mengakui lalu tidak mau mengaku. Apakah ini yang dinamakan menekuni dan mempraktikkan Dharma? Oleh karena itu, kita harus bisa “memburamkan” ego sendiri. Hari ini Master mengkritik kalian supaya kalian bisa melepas ego sendiri. Memangnya apa yang kalian miliki seumur hidup? Seumur hidup kalian akan berakhir dalam sejekap. “Seumur hidup ini saya tidak memiliki apapun, mau uang, tidak punya uang, ingin ketenaran, juga tidak ada.” Kalau begitu kamu akan hidup dengan bebas. Karena kamu sudah melepaskan nafsu keinginan diri sendiri, kamu sudah tidak memiliki ego sendiri, walau orang lain memarahimu, juga tidak akan sampai padamu, ingin memukulmu, juga tidak akan kesampaian, itu baru namanya hidup bebas. Kita harus seperti gandum, yang tumbuh semakin subur semakin merunduk rendah pucuknya. Mengapa banyak orang bisa meninggal? Mengapa orang-orang sakit atau marah? Karena dia merasa betapa hebatnya dia dulu, dia tidak mau melepaskan masa lalunya. Akan tetapi yang lalu sudah berlalu, sekarang itu sekarang. Oleh karena itu, Bodhisattva memberi tahu kita: “Yang lalu tidak bisa dimiliki , yang sekarang tidak bisa dimiliki, yang masa depan tidak bisa dimiliki.” Sesungguhnya semuanya adalah satu kalimat, yakni tidak ada apapun yang bisa dimiliki, semuanya adalah kosong.
Harus bisa merendahkan diri sendiri, meremehkan orang lain sama dengan meremehkan diri sendiri. Meskipun orang itu adalah petugas kebersihan, kita tetap harus menghargai mereka. Mereka tidak mencuri, juga tidak merampas, kerja benar-benar, mencari uang untuk menafkahi keluarga, mereka adalah orang yang paling mulia. Sedangkan para “parasit”, yakni orang-orang korup yang hanya ada uang di matanya tanpa memedulikan orang lain, lebih buruk daripada petugas kebersihan, mereka tidak akan dihargai orang-orang. Yang Master katakan adalah kata-kata Buddhis yang terbaik, yang paling bijaksana di dunia ini, saya harap kalian bisa mempelajarinya dengan baik. Jangan karena melakukan kesalahan lalu berarti kamu menjadi lebih rendah daripada orang lain, tidak begitu. Karena kalian adalah manusia, sedangkan manusia selamanya bisa melakukan kesalahan, sekalipun saat menjelang ajalnya pun bisa melakukan kesalahan. Akan tetapi asalkan bisa mengubah masa lalu, tersadarkan dan keluar dari ketersesatan, maka itu adalah putra putri Buddhis yang baik. Harus bisa melihat semua makhluk! Semua makhluk berada di sekitarmu. Penderitaan semua makhluk adalah penderitaan kita. Oleh karena itu, menekuni Dharma pertama-tama harus bisa melepaskan ego sendiri, harus mau hidup susah. Karena hidup dalam kesulitan (penderitaan), sama dengan mengikis halangan karma buruk.
