31. Mengubah Kesadaran Spiritual Diawali dari Kesabaran 由忍辱开始转境界

31. Mengubah Kesadaran Spiritual Diawali dari Kesabaran

Kesabaran terbagi menjadi 3 macam. Yang pertama yaitu harus bisa menerima dan bertahan saat disakiti oleh orang lain secara sengaja. Terhadap isu yang tidak benar, kamu harus bisa bersabar bila disakiti dan dihina oleh orang lain. Saat orang lain menjelek-jelekkanmu, maka kamu harus menahan diri, jangan mempercayai, jangan menanggungnya. Menanggung luka yang disebabkan oleh orang lain terhadapmu, sebenarnya itu bersalah pada diri sendiri. Sudah jelas yang dikatakan orang ini adalah perkataan yang menghinamu, kata-kata yang tidak baik terhadapmu, namun kamu mendengar dan mengingatnya, bukankah berarti kamu sedang menyakiti diri sendiri? Kalian anak-anak muda harus ingat, bagi pasangan suami istri muda jika bertengkar dan saling maki, jangan dimasukkan ke hati. Apa bagusnya didengarkan? Master sudah berkali-kali mengatakan kepada kalian, jika dimasukkan ke hati akan menimbulkan kerisauan. Ajaran Buddha Dharma yang begitu bagus, kata-kata bijaksana yang begitu bagus di dunia, mengapa tidak kalian terapkan ke dalam kehidupan sehari-hari? Jika tidak, maka walau kalian sudah mempelajarinya secara fleksibel, namun tidak akan bisa menerapkannya secara fleksibel.

Setelah mampu bersabar, maka akan memperoleh ketenangan pikiran, lebih mudah memusatkan pikiran. Karena setelah kamu bersabar, maka kamu pasti bisa menenangkan diri. Contoh, saat suami istri bertengkar, jika bisa bersabar, maka akan segera bisa menenangkan diri. Karena kamu tidak bertengkar dengannya, terhadap apapun yang dia katakan, kamu tidak bersuara, berarti pikiranmu sudah terpusat. Sedangkan dia masih marah-marah. Jika tidak bisa bersabar, maka pasti akan meluapkan amarah, setelah marah-marah nanti akan ada akibatnya. Keberhasilan dalam membina tingkat Kebuddhaan mengandalkan kesabaran. Seseorang yang mampu bersabar akan memperoleh berkah pahala yang paling besar. Master menjelaskan berkah pahala kecil pada kalian: di dalam bus yang penuh sesak, seorang pria menginjak kaki seorang wanita, seharusnya dia dimarahi orang lain bukan? Namun si wanita terus memarahi si pria, sedangkan si pria ini terus-menerus bilang: “maaf”, si wanita ini tetap tidak mau memaafkan. Pada saat ini, penumpang lain di sampingnya turut berbicara: “Kamu ini mengapa begini, orang sudah meminta maaf, kamu tetap tidak mau memaafkannya.” Lalu semua orang mengatakan si wanita ini jahat, berarti si pria telah mendapatkan berkah pahala. Sebenarnya dia telah melakukan kesalahan, namun sekarang dia malah mendapatkan berkah pahala. Oleh karena itu, walaupun kita benar, tetap harus bisa mengalah pada orang lain. Orang yang walaupun benar, namun tidak mau mengalah, tidak akan mendapatkan dukungan dari orang-orang. Jadi meskipun benar, tetap harus rendah hati dan mengalah pada orang lain, jika tidak benar, juga harus mengalah pada orang lain.

Yang kedua, dalam bersabar harus bisa bertahan menghadapi perubahan alam. Apa itu perubahan alam? Seperti perubahan iklim, cuaca dingin, cuaca panas, bila tidak bisa bertahan menghadapinya, ini juga petanda belum membina diri dengan baik. Para biksu dan biksuni yang sedang bermeditasi, tidak ada seorang pun yang bangkit dan menambah pakaiannya karena merasa dingin. Apakah kalian sanggup? Selain itu, juga harus bertahan menghadapi rasa haus, mulut kering, dan bencana alam. Ketika bencana alam melanda, lalu kehilangan rumahnya, ada orang yang tidak bisa bertahan lalu bunuh diri. Ada satu orang yang rumahnya bersebrangan dengan pabrik, mesin mulai bekerja dari pukul 8 pagi hingga pukul 5 petang, suara sangat bising sekali, karena tidak mampu bersabar, lalu memilih bunuh diri. Ini adalah akibat dari tidak bisa bertahan. Manusia harus bertahan menghadapi berbagai macam keadaan. Sekarang kalian para murid duduk di sini dengan baik, jujur dan beretika, ini bagus sekali bagi Master. Kalian sedang mendengarkan Ajaran Buddha Dharma. Jika sebentar-sebentar merasa haus, dan ada hal-hal lain, ini berarti tidak bisa bersabar. Tahukah kalian bagaimana seorang biksu melatih kesabarannya? Kalian pernah menonton“Kuil Shaolin – Shao Lin Si”, mereka berlatih dengan berdiri memikul ember air dan tidak boleh bergerak, semua ini merupakan latihan kesabaran terhadap tubuhmu. Masih ada satu lagi adalah latihan kesabaran jiwa. Sesungguhnya, saat para biksu agung atau para biksu memarahimu, mengkritikmu, bukan galak, namun ingin melatih kamu agar bisa menerima suatu perubahan lingkungan di sekitar, ini adalah suatu kondisi yang diciptakan untuk kalian, supaya setelah kamu bisa bersabar, lalu bisa menenangkan diri.

Seseorang yang tidak bisa bersabar baru bisa marah. Ketika orang lain menindasmu, menghinamu, membohongimu, jika sanggup bertahan dan bersabar menghadapi sementara, maka akan memiliki kekuatan konsentrasi pikiran. Namun bila kamu tidak mampu bersabar dan marah, maka begitu diperiksa, tubuhmu akan bermasalah. Ingatlah: bersabar menahan diri, saya harus bisa bersabar menahan perubahan alam baik panas maupun dingin, atau perubahan lingkungan luar, walau kamu memarahi saya, namun saya tetap harus bisa bersabar. Mengapa banyak anak muda yang suka bertengkar di rumah? Karena tidak bisa bersabar. Saat ada orang lain yang memarahi kamu, maka kamu bisa menganggapnya sebagai “orang sakit jiwa” untuk sementara waktu, ini tidak apa-apa. Dengan begitu, kamu tidak akan marah untuk sementara waktu, kemudian gunakan Ajaran Buddha Dharma untuk mengurainya. Maksud Master adalah, jangan membiarkan keadaan di luar masuk ke dalam hati diri sendiri. Tidak peduli siapapun yang kamu hadapi, tetap harus bersikap sama, tidak perlu mengutarakannya. Jika kamu membina diri dengan sepenuh hati, maka kamu pasti bisa melupakan segala kerisauan di dunia. Namun jika kamu menganggap dunia yang palsu ini sebagai sesuatu yang nyata, maka kamu baru tidak bisa melupakan. Apakah kamu bisa mendapatkan kesempurnaan di dunia ini? Semenjak kecil sampai sekarang, hal apa yang bisa sempurna? Di dunia ini, kamu selamanya akan meninggalkan penyesalan.

Pada dasarnya logika di Alam Manusia ini tidak ada satu hal yang sempurna. Mengapa? Contoh: “Konferensi sudah berakhir dengan sempurna”, namun sesungguhnya ini adalah kesempurnaan yang bersifat sementara, untuk keseluruhan hidupmu, tetap saja tidak sempurna. Mengerti? Ada sebagian orang yang berdiri di atas panggung dan melambaikan tangan kepada puluhan ribu orang, yang dikatakan semuanya sangat logis, namun setelah pulang ke rumah malah ditampar istrinya, apakah ini termasuk sempurna? Master beri tahu kalian, dalam hidup ini tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan itu adalah di saat menjelang ajal, ini baru benar-benar yang disebut sempurna. Karena saya sudah membubuhkan “Tanda titik” pada kehidupan di Alam Manusia, lalu saya pergi dan naik ke Alam Surga. Master sudah sering mengatakan pada kalian, Master tidak boleh sering marah. Mengerti? Kalian juga tidak boleh sering marah. Jika sering marah-marah, maka nantinya kalian akan pergi ke alam yang tidak baik.

Master sangat menghargai jalinan perasaan. Terkadang Master mengeluh dan menceritakannya kepada murid-murid. Melihat kalian benar-benar sangat kurang, Master juga merasa penat di hati, setelah semua unek-unek dikeluarkan, maka sudahlah. Master sering berpikir bahwa Master banyak bersalah pada orang-orang, karena Master tidak bisa menolong mereka. Master sering mengenang teman-teman sekolah atau teman-teman Master yang sebelumnya, jelas-jelas mereka memiliki akar Kebuddhaan, namun di saat itu, Master belum memiliki kekuatan spiritual sekuat sekarang ini, belum ada Guan Shi Yin Pu Sa pada diri Master. Jika sekarang mereka bersama Master, maka semua akan berbeda, Master pasti akan menolong mereka. Kita harus memiliki hati nurani yang baik, harus memahami dan menerapkan prinsip kebenaran, harus rela untuk berkorban. Di dunia ini selamanya tidak akan ada perjamuan yang tidak pernah berakhir.

Ketiga, membina pikiran dan membina Kebuddhaan, juga memerlukan kesabaran. Kapan pun keberhasilan diraih, tidak akan pernah terlambat, asalkan mau membina diri baik-baik. Bukankah kalian sedang duduk mendengarkan di sini? Apakah kalian merasa sedih? Ingin berdiri dan menggerakkan badan, namun tidak bisa bergerak, bukankah ini merupakan suatu kesabaran? Setelah duduk cukup lama, apakah ingin minum air? Terkadang mendengar Master berbicara, lalu sendiri tidak bisa menahan, bukankah diri sendiri juga ingin berbicara? Master juga pernah salah mengkritik murid, namun lihat saja apakah mereka akan marah. Walaupun Master salah bicara, lalu kamu memberi hormat membungkukkan badan, meskipun dalam hati tidak ada kejadian ini, namun juga harus berpikir: “Benar, saya harus hati-hati.” Ini baru namanya memiliki pembinaan diri. Jika sedikit-sedikit berdebat dengan orang lain, sebentar-sebentar membantah, lalu mengatakan bahwa orang lain telah salah, ini berarti tidak membina diri. Kalian membina diri adalah harus menghilangkan tabiat buruk diri sendiri. Memangnya apa yang perlu dijelaskan? Dunia ini semuanya palsu dan kosong, ini merupakan perwujudan dari energi “yin dan yang” dan kelima unsur yang sementara, semuanya bisa dilalui. Walaupun Master hari ini telah salah mengkritik kamu, kamu belajar untuk bersabar. Apakah Master akan mengkritik semua pendengar di radio? Master tidak akan mengkritik juga tidak bersedia mengkritik mereka, karena banyak di antara mereka yang belum membina diri.

Kalian semua datang berarti ingin membina diri baik-baik, setelah membina diri sampai suatu tahap tertentu, bisa membuat keadaan keluargamu membaik, setelah keluarga membaik, bukankah berarti keadaan dirimu akan membaik juga? Membina pikiran meskipun menderita, juga harus bersabar. Banyak suami mengatakan, “Kamu jangan pergi lagi, mendengarkan apa? Memang apa gunanya?” Dia sudah menciptakan karma ucapan, bukankah kamu harus bersabar? Bersabar dan bertahan adalah harus menerima penghinaan dari berbagai macam aspek. Misalnya, menghadapi kesulitan dalam membina diri, orang lain mengkritikmu, memarahimu… mengatakan hal buruk tentang dirimu, kamu harus bisa bersabar. Kamu tahu dalam hati bahwa dirimu benar, ada Guan Shi Yin Pu Sa yang menolong saya,  saya sudah mendapatkan manfaat, saya sudah menjadi baik. Walau orang lain mengatakan hal buruk tentang kamu, namun kamu juga tidak perlu melawannya, kamu harus bisa bersabar. Ada sebagian orang di antara kalian, misalnya suami masih belum terbuka kesadarannya atau istri masih belum tersadarkan, ini yang dinamakan buah karma. Karena bibit karma yang kalian tanam tidak bagus, karena ucapan dan perilaku kalian tidak seperti seorang praktisi Buddhis, maka ini membuat dia tidak percaya bahwa kalian bisa membina diri dengan baik. Orang lain bisa melihatnya dalam diri kalian, ternyata menekuni Dharma seperti ini. Banyak orang ketika bertengkar mengatakan: “Kamu ini seorang praktisi Buddhis, masih melafalkan paritta pula, namun sepanjang hari memarahi saya.” Banyak pria yang membina pikiran, lalu istrinya akan berkata, “Kamu jangan begini, kamu itu orang yang membina pikiran.” Begitu suaminya mendengar, benar juga, saya tidak boleh begini, karena saya adalah seorang praktisi Buddhis.

Manusia harus bisa mendisiplinkan diri, harus bisa membina diri dengan baik. Membina pikiran harus bersabar. Sebelum kamu memperoleh sukacita Dharma, kamu akan merasa kebingungan, kamu akan merasa sangat menderita. Apakah yang dimaksud dengan sukacita Dharma? Misalnya, kamu memohon tentang suatu hal, lalu tubuhmu menjadi sehat, semangatmu menjadi bagus, dan kamu mendapatkan pekerjaan, ini dinamakan sukacita Dharma. Seperti kamu mengendarai mobil, hari ini saya ingin pergi ke Canberra, namun saya tidak bisa menemukan arah. Begitu juga di saat membina pikiran, mengapa paritta yang saya lafalkan tidak manjur? Karena pembinaan pikiran masih belum tepat, seperti tidak bisa menemukan arah. Akan tetapi jika kamu bisa bersabar, lalu bisa menemukan jalan ini, yakni jalan tol menuju Canberra, lalu apakah kamu masih akan memiliki halangan? Sebelum bisa menemukan jalan besar ini, itu adalah masa-masa yang paling menderita. Oleh karena itu, saat kalian baru mulai membina pikiran, kalian tidak memiliki keyakinan diri, juga tidak tahu bisa atau tidak, dicoba dulu, berarti masih belum bisa menemukan “Jalannya”. Jika setelah melafalkan paritta atau bersembahyang masih tidak manjur, itu karena kamu tidak memiliki keyakinan, maka kamu selamanya tidak akan bisa menemukan jalan yang benar ini, berarti kamu selamanya tidak akan bisa mengikuti jalan yang benar tanpa halangan ini dan melaju ke depan. Perumpamaan yang Master katakan ini semuanya logis. Membina pikiran memang begini, “Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian”. Harus bisa berkorban. Seseorang yang bisa bersabar baru bisa mencapai keberhasilan dalam menekuni Dharma. Sedangkan orang yang tidak bisa bersabar, tidak akan bisa tekun.