44. Ketidaktahuan dan Penuaan Serta Kematian, Semuanya Adalah Fenomena Dari Reinkarnasi
Hari ini Master akan membahas tentang kerisauan akan ketidaktahuan. Kerisauan akan ketidaktahuan terbagi menjadi beberapa jenis: Pertama adalah tidak paham, dinamakan ketidaktahuan; yang satu lagi adalah kerisauan yang tidak tahu apa penyebabnya, juga disebut ketidaktahuan; Jika tiba-tiba marah, juga merupakan salah satu jenis ketidaktahuan; ada satu lagi adalah tidak memahami logika atau kebenaran dari suatu hal, saya tidak tidak memahami masalahnya, ini juga disebut kerisauan akan ketidaktahuan. Bagaimana cara melenyapkan dan menuntaskan kerisauan akan ketidaktahuan ini? “Melenyapkan”, jika menggunakan istilah sehari-hari berarti mengakhiri. Kalau begitu bagaimana cara menghilangkan kerisauan seseorang? Bagaimana cara mengakhiri? Menghilangkannya bisa saja, sama seperti seseorang sedang marah, hari ini marah, lalu selang beberapa waktu, kemarahan itu akan hilang, akan tetapi apakah kamu mampu menuntaskannya? Seperti pinggiran hutan di tepi jalan yang sudah terbakar, kamu bisa memadamkan api di wilayah hutan ini, namun jika kamu tidak memadamkan secara total, tidak melenyapkan secara total, selang beberapa waktu, saat angin kembali bertiup, api itu akan menyala lagi. Dengan kata lain, kerisauan seseorang akan muncul tanpa henti, karena dia hanya menghilang untuk sementara, namun tidak secara tuntas. Oleh karena itu, jika hari ini, kerisauan ini sudah hilang, namun kerisauan yang berikutnya akan kembali muncul. Ini juga disebut sebagai reinkarnasi, apakah kalian mengerti? Hari ini ada kerisauan ini, lalu sudah teratasi. Aduh, akhirnya terselesaikan juga. Merasa senang, dan melupakan semuanya. Akan tetapi minggu berikutnya, kerisauan yang lain kembali datang. Karena kamu belum menuntaskannya, kamu belum benar-benar memahami sumber dari kerisauan akan ketidaktahuan ini, kamu tidak tahu bagaimana menghilangkannya, oleh karena itu, kamu tidak bisa melenyapkannya secara tuntas dan bersih. Jika ingin menghilangkan secara tuntas sampai bersih, maka harus dimusnahkan secara total. Coba pikirkan, kerisauan-kerisauan kalian hari ini, kemudian pikirkan lagi kerisauan-kerisauan kalian di masa muda, kalian sudah berhasil melewati kerisauan tersebut satu per satu, mengapa saat ini masih memiliki kerisauan? Ini karena “akar” kalian masih belum bersih, maka baru bisa mengundang masalah. Karena keenam akar indrawi kalian tidak bersih, maka kalian akan terus dilanda masalah. Karena mulut kamu tidak baik, hari ini membicarakan orang lain. Dulu tidak mengerti, namun sekarang telah menekuni Dharma, sudah tahu untuk meminta maaf pada orang lain. “Maaf, saya telah salah bicara, mohon kamu jangan marah.” Sesudahnya, orang lain akan berkata: “Ya sudahlah, tidak apa-apa.” Maka permasalahan ini telah berakhir, permasalahan ini akan lenyap untuk sementara waktu. Akan tetapi apakah mulut kalian sudah berubah? Belum berubah. Ketika kamu bertemu orang yang lain, kamu akan kembali membicarakannya, setelah itu orang tersebut akan menuntutmu, memarahimu, lalu mulai terlahir kerisauan pada dirimu, ini dinamakan belum sepenuhnya dilenyapkan. Apakah kalian mengerti?
“Manusia tiada penuaan dan kematian”, tiada penuaan dan kematian pada manusia. Setelah tua, lalu meninggal, ini terjadi di setiap kehidupannya. Hari ini dia meninggal, lalu tunggu sampai dia bereinkarnasi lagi, dia akan terlahir kembali, benar tidak? Ini disebut“Penuaan dan kematian yang tiada akhir”, yakni selamanya tidak berakhir. Terlahir kembali dalam tumimbal lahir enam alam, hari ini meninggal, besok kembali hidup. Sama seperti setiap hari kalian beraktivitas dari pagi sampai malam, mana ada satu hari, dari pagi sampai malam, akan terang terus, tiada malam yang gelap? Lalu apakah akan ada satu hari yang sepanjang hari adalah malam yang gelap, tiada pagi yang terang? Inilah siklus reinkarnasi (perputaran kembali), mengerti? Hari ini kalian mencukur kumis, besok akan tumbuh kembali, ini juga merupakan perputaran kembali. Jika sewaktu menderita, kamu mengatakan, “Saya tidak akan melakukan hal ini lagi”, di saat ini kamu sudah melenyapkannya, ini adalah pelenyapan palsu, yakni pelenyapan sementara, hanya berpikiran terbuka untuk sementara waktu. Sama seperti kebanyakan orang yang merokok, kamu meminta dia berubah, hari ini dia tidak merokok, lalu besok kembali merokok, apakah dia bisa berubah secara total? Banyak penjudi yang sampai memotong jarinya sendiri, berkata: “Saya tidak akan berjudi lagi, saya benar-benar membenci diri sendiri.” Namun setelah istrinya memaafkan dia, berselang beberapa waktu, dia kembali berjudi. Ini sama seperti kebanyakan orang yang menggunakan narkoba, sampai memukul diri sendiri, membenci diri sendiri, namun tiada akhir. Penuaan dan kematian juga tiada akhir, yang dikatakan tiada akhir terhadap tua dan mati. “Tiada penderitaan, penyebab penderitaan, lenyapnya penderitaan, dan jalan menuju lenyapnya penderitaan”, penderitaan juga tidak akan pernah habis. Coba kalian pikirkan, sampai kapan seseorang bisa mengatakan bahwa penderitaan saya sudah berakhir? Setelah meninggal sekalipun, masih akan turun ke bawah dan terus menderita. Di dunia ini, siapa yang berani mengatakan“Saya sekarang benar-benar berbahagia, hidup saya damai”? Apakah ada? Kalian orang-orang yang sudah berumur bukankah merasa diri kalian sudah berbahagia? Datang ke Australia untuk menikmati ketenangan hidup. Apakah kalian sekarang masih memiliki kerisauan? Saat terpikir anak sendiri, cucu dalam, cucu luar dan lainnya, coba kalian katakan apakah kalian sudah melepaskan? Masih belum bisa melepas, siapa di antara kalian yang bisa melepaskan? Ini sangatlah sulit. Hari ini sudah paham, lalu besok kembali tidak paham, lusa sudah mengerti, sampai tulat kembali tidak mengerti … begitulah siklus reinkarnasi manusia, berputar-putar dan kembali lagi ke awal, terlahir dan meninggal terus-menerus. Apa yang bisa dimengerti? Oleh karena itu, bahkan penuaan dan kematiaan pun harus dilenyapkan sampai tuntas, dengan kata lain, seseorang sudah tidak akan mengalami kelahiran dan kematian, tidak akan terlahir, juga tidak akan mati, maka orang ini baru bisa benar-benar terbebaskan. Kalau begitu, kalian boleh bertanya pada Master: “Jika saya tidak memiliki kelahiran dan kematian, apakah kelahiran saya bukan suatu hal yang nyata? Saya meninggal pun bukankah merupakan suatu hal yang nyata?” Benar, namun semua itu adalah fenomena palsu, semua itu adalah hal yang palsu, apakah termasuk nyata? Sewaktu kalian masih kecil, ketika masih muda telah melakukan banyak hal, apakah sekarang masih bisa mengingatnya? Sudah tidak ada lagi. Akan tetapi jika kalian tidak bisa meninggalkan pemikiran-pemikiran liar ini, kamu terus memikirkan hal-hal yang tidak menyenangkan di masa kecil, maka kamu akan selamanya “memikul” hal-hal ini, mengerti? Harus bisa melepaskan. Apakah yang disebut “melenyapkan secara tuntas”? Yaitu menyelesaikan secara tuntas, sama sekali tidak akan memikirkannya. Tiada kelahiran, di kehidupan selanjutnya, saya tidak ingin lagi terlahir sebagai manusia, maka tidak akan ada lagi kematian. Benar tidak? Bukankah ini berarti akhir dari penuaan dan kematian? Sudah melenyapkan penuaan dan kematian secara tuntas, segala materi di dunia sudah dilenyapkan maka pasti akan terbebaskan. Orang yang dulu sangat tamak, sekarang sudah tidak tamak lagi, maka kamu sudah berhasil melenyapkan “ketamakan” ini, maka kamu selamanya tidak akan tamak lagi. Karena hari ini merokok hingga merusak paru-parumu, maka mulai dari sekarang kamu berkata: “Saya tidak akan merokok lagi”, bukankah berarti kamu sudah melenyapkan secara tuntas kebiasaan buruk merokok? Setelah kamu bisa menuntaskan kebiasaan buruk ini, apakah paru-paru kamu akan tetap tidak sehat? Kamu sama dengan melenyapkan penyakit paru-paru ini. Karena kamu tidak akan mengalami kelahiran lagi, maka tiada lagi kematian. Segala hal di dunia ini pada akhirnya tidak bisa dibawa pergi, ini dinamakan “tiada apapun yang bisa didapatkan.”
Sekarang Master menjelaskan {Xin Jing} kepada kalian. Kalian sudah menghafal dengan sangat baik, namun juga harus memahami makna dari paritta {Xin Jing}. Mengapa paritta Guan Shi Yin Pu Sa begitu bagus? Mengapa {Xin Jing} bisa membuka kebijaksanaan seseorang? Banyak orang yang jantungnya tidak sehat, sekarang Master memberi tahu kalian, seseorang dengan jantung yang tidak sehat, sesungguhnya karena memiliki tekanan terlalu besar di jantung, sekalipun itu adalah penyakit keturunan yang menyebabkan jantungmu tidak sehat, namun ini juga dikarenakan hatimu kurang lapang. Akan tetapi selain dikarenakan jantung juga tidak sehat sedari kehidupan lampau, jika di kehidupan ini, kamu telah mengkonsumsi banyak makanan berminyak, juga bisa menyulut ledakan “bubuk mesiu” ini – memperburuk kondisi jantung. Mengerti? Tentu saja, ini juga bukan 100 persen penyebabnya. Oleh karena itu, seseorang yang jantungnya tidak sehat, paling baik melafalkan paritta apa? Lafalkan {Xin Jing}. {Xin Jing} bisa menguraikan kerisauan dan ganjalan dalam pikiranmu, {Xin Jing} bisa membuat kamu memahami prinsip kebenaran di kehidupan ini, {Xin Jing} bisa menambah kebijaksanaanmu. Karena setelah seseorang memiliki kebijaksanaan, maka dia tidak akan merasa risau atau merasa sedih lagi. Kamu sudah melenyapkan segala hal buruk dalam pikiranmu, semua sudah sepenuhnya dileyapkan, mana mungkin kamu masih memiliki kerisauan? “Saya bahkan sudah tidak takut lagi akan kelahiran (tanpa sadar telah terlahir ke dunia ini), maka di masa mendatang saya sudah tidak ingin terlahir kembali, saya ingin terbebas dari tumimbal lahir enam alam.” Kalau begitu dari mana datangnya kematian bagi dirimu? Seperti seseorang yang tidak memiliki pasangan, hidup sendirian, pernikahan yang dulu telah menimbulkan penderitaan yang sangat besar bagi dirimu, maka seumur hidup ini sudah tidak ingin mencari pasangan lagi, maka kamu tidak akan didera penderitaan lagi dalam jalinan hubungan asmara. Bisa menjadi suami istri adalah jodoh, kalau bukan jodoh buruk, maka itu adalah jodoh baik. Masalahnya kamu tidak memutuskan pemikiran ini, sehingga kamu mengira dirimu masih harus memiliki pernikahan yang selanjutnya, maka selanjutnya yang sedang menantikan dirimu adalah kerisauan dan halangan karma buruk, kemudian pertengkaran akan dimulai kembali. Kami memiliki salah satu pendengar, suaminya sudah pergi meninggalkan dia, seharusnya ini merupakan suatu hal yang menggembirakan – karena jalinan jodoh buruk ini sudah meninggalkannya. Namun ia berpendapat tidak boleh begitu, saya akan melafalkan paritta supaya dia kembali pulang. Baiklah, setelah kembali pulang, kembali bertengkar, berdebat, kembali melahirkan kerisauan. Bukankah inilah dinamakan siklus reinkarnasi (perputaran kembali)? Apakah mengerti? Coba kalian setiap orang dengarkan baik-baik, yang saya katakan di sini adalah diri kalian setiap orang. Seperti dalam kehidupan ini, jelas-jelas masalah ini sudah tidak ada, namun terus mengungkit kembali, lalu melahirkan kerisauan. Hanya orang yang tidak waras baru akan membahas hal-hal yang sudah berlalu sampai pada saat ini, terus-menerus diungkit, ini adalah gejala awal penyakit kejiwaan, mengerti? Menekuni Dharma bisa membuat seseorang tersadarkan, yakni dengan melenyapkan hal-hal buruk pada diri sendiri, semua harus dilenyapkan secara tuntas. Bagaimana cara melenyapkan sampai tuntas? Banyak orang-orang yang sudah lanjut usia mengapa bisa sakit? Karena begitu mereka teringat kenangan buruk di masa lalu, maka selanjutnya penyakit mereka akan kambuh.
Segala ketidaktahuan dan penuaan serta kematian, semua adalah fenomena perputaran kembali. Sesungguhnya ketidakpahaman kamu hanya bersifat sementara. Banyak orang ketika kamu menasihatinya untuk meyakini Buddha dan melafalkan paritta, namun ia tidak percaya, benar tidak? Akan tetapi tunggu sampai saat dia menjelang ajal, arwah asing mendatanginya, dia baru percaya, ternyata memang benar ada roh. Tunggu sampai saat dia ditarik pergi, “Aih, jika bisa percaya lebih awal akan lebih baik.” Sesungguhnya ketidaktahuan dia hanya bersifat sementara, kerisauannya juga hanya bersifat sementara. Kerisauan seseorang hanya bersifat sementara, segala hal yang dimiliki seseorang juga hanya bersifat sementara. Oleh karena itu, bagi dirinya, ini hanyalah raga yang bersifat sementara, lalu apa yang harus dirisaukan? Yang dimiliki hari ini, mungkin akan hilang di hari esok. Coba renungkan, ada berapa banyak hal di masa muda kalian yang tidak terlupakan? Melakukan kesalahan di tempat kerja dan dipecat oleh atasan. Muncul masalah besar, dan kewalahan, merasa tidak sanggup hidup lagi. Coba pikirkan sekarang, bukankah semuanya sudah dilewati? Hari ini diperiksa oleh orang, muncul masalah besar, bukankah semuanya akan terselesaikan beberapa hari kemudian? Benar tidak? Maka, pahamilah bahwa semua ini adalah fenomena palsu, adalah fenomena reinkarnasi (perputaran kembali). Apakah maksud dari fenomena reinkarnasi (perputaran kembali)? Keberadaan dari segala hal, bisa hilang, setelah hilang, bisa kembali muncul. Jika hari ini kamu memiliki pacar pria, maka ini berarti pada suatu hari nanti mungkin bisa menjadi tidak memiliki; Hari ini kamu tidak memiliki pacar pria, juga berarti pada suatu hari nanti kamu akan memiliki. Hari ini saat kamu makan dengan sangat kenyang, menandakan mungkin kamu akan kelaparan; tunggu ketika kamu lapar, menandakan kamu akan makan dengan kenyang. Bukankah ini adalah perputaran kembali? Oleh karena itu, ini semua adalah suatu asal usul. Apa yang dimaksud dengan asal usul? Yakni jodoh. Hari ini memiliki, maka itu adalah jodoh; Besok tidak memiliki, ini juga secara alami tidak berjodoh lagi. Hari ini saya memiliki makanan, saya memiliki jodoh ini; Besok saya memiliki makanan, maka saya tidak memiliki jodoh ini lagi. Semua reinkarnasi (perputaran kembali) adalah suatu jodoh. Hari ini saya terlahir sebagai manusia, juga merupakan sebuah jodoh; besok meninggal, juga juga merupakan sebuah jodoh. Lusa ditangkap polisi, juga juga merupakan sebuah jodoh; Tidak bisa berpikiran terbuka, juga merupakan sebuah jodoh. Ada berapa banyak orang yang mencari masalah untuk dirinya, ini namanya mencari jodoh untuk diri sendiri. Akan tetapi masalahnya yaitu lupa menambahkan satu kata, yaitu diri sendiri mencari jodoh “buruk” atau jodoh “baik”? Mengapa para biksu dan biksuni tidak ingin menikah? Mengapa mereka tidak menginginkan jodoh ini? Karena mereka sudah memahami, mereka sudah menekuni Dharma, mereka sudah memahami prinsip kebenaran, maka semua ini sudah tidak bermakna lagi bagi mereka. Mereka berpendapat bahwa penyatuan satu orang dengan orang yang lain pada dasarnya adalah suatu jodoh, jika bukan jodoh buruk, maka adalah jodoh baik, setelah jodoh berakhir, maka akan lenyap, maka lebih baik tidak usah saja. Mengapa mereka bisa berpikiran terbuka? Karena mereka mengetahui bahwa di dunia ini pada dasarnya ada kelahiran maka akan ada kematian, di mana ada kelahiran pasti akan ada kematian.
