39. Membahas Tentang Toleransi Dan Kemampuan Menoleransi 谈包容与包容量

39. Membahas Tentang Toleransi Dan Kemampuan Menoleransi

Banyak ilmuwan merasa bahwa banyak benda di dunia ini adalah ciptaan mereka, contoh listrik, mikroba, bakteri dan lainnya. Sesungguhnya ilmuwan hanya menemukan benda-benda yang memang sudah ada, kemudian memberitahukan kepada orang-orang. Oleh karena itu, mereka mengira ilmuwan di dunia ini bisa menemukan benda-benda ilmiah yang berwujud beserta konsep pengetahuannya, kemudian berdasarkan konsep pemahaman yang diurutkan sendiri, memberitahukan kepada orang-orang di dunia. Sesungguhnya mereka hanya menggunakan konsep pemahaman sendiri memandang dunia ini. Dia pasti berkata, hari ini saya menemukan ada bakteri-bakteri tertentu di udara. Bukankah ini pandangan yang menyimpang? Dia mengira diri sendiri yang menemukan bakteri ini, namun siapa yang mengetahui terdapat berapa banyak bakteri di udara? Apakah kamu mengetahui berapa banyak jenis bakteri yang menyatu dan berkembang biak menjadi satu jenis kuman baru? Memangnya jika kamu menemukan bakteri-bakteri ini, berarti itu ciptaanmu? Bukankah ini dinamakan pandangan menyimpang?

Sama seperti kebanyakan orang zaman sekarang yang meminum obat. Para ahli gizi mengatakan, dengan mengonsumsi ini bisa menambah kalsium, gigi menjadi bagus. Sedangkan ada orang yang berkata setelah mengonsumsi kalsium bisa merusak lambung. Ada juga orang berkata, yang namanya obat pasti ada efek samping. Sebenarnya setiap benda memiliki suatu keseimbangan, dia pasti memiliki suatu titik keseimbangan. Banyak orang yang tidak mengerti, mengira dengan meminum obat pasti bisa menyembuhkan penyakit ini. Sebenarnya, setelah kamu menghabiskan obat ini, kamu mulai menderita penyakit lain. Hanya meminum obat, obat apa yang bisa menyembuhkan? Ini mengandalkan pada keselarasan tubuh dan pikiranmu, tergantung pada keselarasan kualitas tubuh dan energimu, ditentukan oleh kerangka tubuhmu serta kemampuan dasar daya tahan tubuhmu untuk menjaga keseimbangan antibiotik dalam dirimu. Oleh karena itu, segala pandangan menyimpang akan membawa dampak buruk bagi seseorang. Mengapa Master membahas hal ini dengan kalian? Sesungguhnya yang Master bahas ini, jika dibahas dari pandangan agama Buddha yaitu kalian merasa satu Pintu Dharma yang saya pelajari ini benar, bagai mengira minum obat ini lalu bisa mengobati penyakit, maka penyakit saya sembuh. Sesungguhnya ini adalah pandangan menyimpang. Dalam menekuni dan mempraktikkan Dharma harus bisa seperti lautan yang menaungi ratusan aliran sungai, harus berlapang dada. Seorang praktisi Buddhis harus bisa menanggung penderitaan, bisa bertahan dan bersabar menerima segala akibat dari fitnahan. Di masyarakat sekarang, ada berapa orang berkata, “Saya sejak kecil sampai sekarang tidak pernah difitnah orang lain?” Lalu ada beberapa orang yang berkata, “Seumur hidup ini saya belum pernah dihina dan difitnah orang lain?” Sesungguhnya ini yang dinamakan kemampuan menoleransi. Dalam segi materi, kemampuan menoleransi bagaikan sebuah container (wadah penampung). Wadah sebesar apapun, gudang seluas apapun, berapa banyak yang mampu kamu tampung? Namun batas toleransi seseorang, Master bisa beri tahu kalian, bukanlah sebuah gudang, dia bisa menaungi seluruh benda di alam semesta. Oleh karena itu, batas toleransi seseorang bisa seluas apa? Master menambahkan satu kata di depan, yakni “batas kemampuan toleransi”, berarti kemampuan daya tampung. Dalam segi materi yang dinamakan kapasitas daya tampung, sedangkan bagi kita dalam bersikap dan berperilaku, dalam meneladani Buddha, dinamakan kemampuan untuk menoleransi. Seseorang yang bisa menoleransi kesalahan orang lain, bisa menoleransi hinaan, fitnahan, pemikiran buruk dan caci maki seseorang terhadapmu, sesungguhnya orang ini sudah mampu menaungi segalanya. Ada berapa orang di antara kalian setelah dimarahi orang lain lalu tidak emosi? Setelah dikritik dan dihasut orang lain tidak marah? Hati sangat sempit, kecilnya sama seperti semut. Orang zaman sekarang, sekali dikritik orang lain, segera memerah mukanya, setelah itu jika tidak membalas, itu tidak mungkin. “Saya harus balas dendam, harus membalas. Kamu mengkritik saya satu kalimat, saya akan membalasmu tiga kalimat.” Ini disebut  perilaku binatang, karena naluri dasar binatang setelah diserang maka pasti akan menyerang balik. Karena manusia memiliki rasa toleransi, terutama kita para praktisi Buddhis. Karena orang yang menekuni Dharma pada dasarnya memiliki dasar dan karakter orang suci. Karena dirimu memiliki karakter ini, maka kalian baru bisa menoleransi orang lain.

Apakah kalian yang duduk di sini bisa menoleransi orang lain? Kalian sudah mendengarkan begitu banyak pelajaran dari Master, apakah kalian mengira setiap orang di sini sudah belajar dengan baik? Ketika dikritik dan dimarahi orang lain, refleks sebagian orang yaitu ingin segera membalas; Ada sebagian orang yang memendam di hati, jika ada kesempatan pasti membalas; Masih ada sebagian orang menggunakan berbagai macam perkataan yang berbeda untuk menangkis dan mencari-cari alasan. Semua ini termasuk berhati sempit. Jika dikritik orang lain, tidak bereaksi, itu baru hebat. Tidak menunjukkan raut wajah apapun, tetap tersenyum, lalu di dalam hati dengan tulus memaafkan dia, tidak menyimpan perbuatan yang tidak baik ini di dalam hati, itu baru dinamakan orang suci. Ada orang yang dikritik orang lain segera naik pitam, memukul meja, dan segera bertengkar; Ada orang yang begitu dimarahi orang lain segera merah mukanya menahan emosi, tidak bisa berkata apapun, dalam hati sangat kesal; Ada juga orang yang di saat itu tersenyum, lalu segera membalas dengan kata-kata dingin; Ada juga orang yang pada saat itu tidak bisa menjawab, mengingatnya di hati, menunggu kesempatan untuk membalasmu; Ada juga orang yang tidak bisa berbuat apa-apa saat difitnah dan dimarahi orang lain, hanya bisa tersenyum dan berkata: “Saya tidak berkata begitu”, terus mencari-cari alasan. Semua ini dikarenakan tidak cukup berlapang dada.

Jika kalian mengkritik Bodhisattva, apakah Bodhisattva akan memedulikan kalian? Apakah orang yang berhati sempit bisa menekuni Dharma dengan baik? Master bukannya ingin mengkritik kalian, jika mengkritik kalian lalu kalian tidak mau datang lagi, kalian bahkan tidak bisa menoleransi Master, bahkan tidak bisa menoleransi keluarga sendiri, kamu bisa menoleransi siapa lagi? Untuk apa masih meneladani Buddha? Jika tidak bisa menoleransi kritikan dari ibu sendiri, tidak bisa menoleransi anak yang salah berucap, lalu apakah kamu masih bisa menoleransi teman se-Dharma? Menekuni dan mempraktikkan Dharma benar-benar tidak mudah. Oleh karena itu Bodhisattva mengatakan satu kalimat: Kita menekuni Dharma, lebih sulit bersabar memajukan diri daripada menjalani pembinaan keras, jasa kebajikan juga lebih besar. Meskipun kamu sudah melakukan banyak jasa kebajikan, masih kalah daripada bersabar memajukan diri, karena bersabar menghadapi kesulitan itu yang paling sulit. Mudah memajukan diri, namun bersabar menghadapi hinaan itu sangat sulit. Kamu harus bisa tidak marah saat dikritik orang lain. Dulu di antara murid Master, begitu Master melihat dia melakukan kesalahan, segera menguji dia, segera mengambil alih pekerjaan yang dia lakukan, lalu dia segera berbuat kekacauan, langsung tidak mau bekerja sama. Kalian kira Master tidak mengetahui? Sesungguhnya ini adalah ujian baginya. Jika kamu tetap membina dan memajukan diri dengan baik, Master akan segera mengizinkan kamu melakukan lebih banyak jasa kebajikan. Tentu saja ada banyak orang yang tidak bisa mengendalikan diri sendiri. Karena kamu telah mengambil alih jabatan ini, kamu tidak membiarkan saya bertanggung jawab terhadap suatu pekerjaan, saya merasa sangat sedih, maka saya akan mempersulit dirimu. Maka maaf, akhirnya tidak akan dipersulit lagi, saya suruh kamu keluar dari sini.

Menjadi orang yang baik dan menekuni Dharma tidak semudah itu! Jika semudah itu, maka kita semua sudah berada di Alam Surga. Jika semudah itu, kalian tidak akan mengalami begitu banyak mimpi buruk. Jika semudah itu, maka leluhur dan sanak saudara kalian yang sudah meninggal tidak akan mencari kalian. Jika kalian memang hebat, maka binalah diri sampai bersih. Ada berapa banyak orang yang bermimpi ketika dirinya meninggal dan terbang ke langit, lalu melihat dirinya tidak bisa melayang ke atas, dalam kesadaran dia dengan sangat jelas, dia berkata, “Tubuh saya terlalu berat”. Sesungguhnya tubuh yang dikatakan dia ini adalah jiwa yang tanpa raga, sedangkan jiwa ini sesungguhnya memiliki bobot. Dalam jiwamu semakin banyak buah karma buruk dan arwah asing, akan semakin banyak jeratan, maka kamu semakin sulit melayang ke atas. Kalian semua pernah melihat apolo yang meluncur ke bulan? Bukankah manusia yang berjalan di atas bulan itu melayang-layang? Inilah mengapa semakin tinggi Alam Surga yang dicapai seseorang, semakin kehilangan bobot. Sesungguhnya inilah perasaan saat melayang-layang di Alam Surga. Sudah dimuat di surat kabar, sebuah pesawat khusus Amerika yang diperuntukkan khusus sebagai tempat kerja presidan Amerika di atas langit pada saat hari kiamat. Dengan kata lain, ilmuwan Amerika dan banyak ilmuwan lainnya sudah membuktikan bahwa dunia ini pasti akan menghadapi bencana besar. Akan tetapi mereka tidak boleh mengatakannya. Seperti sekarang Master mengetahui banyak hal, namun Master tidak boleh mengatakannya, hanya bisa ikut panik saja. Master melihat kalian satu per satu tidak tekun, Master benar-benar sangat sedih! Karena tiba waktunya, yang menderita adalah kalian, bukan Master. Sama seperti orang tua yang berbicara dengan anaknya, meminta kalian jangan begini dan begitu, namun si anak tidak mendengarkan, sampai akhirnya yang menderita juga dirinya sendiri. Dari dulu sampai sekarang ada berapa banyak anak gadis saat berpacaran, ayah ibunya berpendapat pacarnya tidak baik, namun anak perempuan ini bersikeras untuk menikah dengannya. Setelah menikah, lalu bagaimana akhirnya? Yaitu menangis pulang ke rumah, masih membawa anak. Kamu lebih bisa menilai orang, atau orang tua yang lebih bisa menilai orang? Kemampuan intelektual kamu saat berpacaran sangat rendah bahkan nihil, apakah kalian mengetahui apa itu masa depan? Apa itu kehidupan? Kamu tidak tahu apapun lalu sembarangan menikah, sampai akhirnya mencelakakan diri sendiri, bukan mencelakakan orang tua kalian. Inilah mengapa sekarang angka perceraian di dunia ini bisa begitu tinggi. Coba pikirkan, hubungan antar sesama saat ini benar-benar merupakan balasan jodoh buruk dan saling membalas.  Hubungan suami istri seperti ini sama sekali bukan jalinan jodoh baik, sesungguhnya ini dikarenakan di kehidupan sebelumnya, kamu berhutang pada saya, dan saya berhutang pada dia, kemudian terus-menerus dibayar di kehidupan ini.

Kita harus menghilangkan pandangan menyimpang, tidak boleh mengira bahwa pada dasarnya di dunia ini bermula dari tiada menjadi ada. Karena dunia ini sesungguhnya sudah memiliki segala hal yang kita ketahui dan miliki, kita hanya menemukannya saja. Segala hal ada di dunia ini, hanya  saja kamu menemukan lebih awal atau lebih lambat. Hari ini para ilmuwan menemukan pengobatan untuk mengobati diabetes dan kanker, lalu apakah di era 60 an ketika belum ditemukan, obat-obatan ini tidak ada? Ada. Karena belum ditemukan, maka tidak bisa menyembuhkan penyakitmu. Sekarang ada Pintu Dharma yang begitu bagus hadir di depan pintu rumahmu, jika kamu tidak menghargai, masih berkata, “Saya belum menemukan keberadaan Pintu Dharma yang begitu bagus di periode akhir Dharma”, maka bukankah ini sama seperti pandangan menyimpang yang dikatakan para ilmuwan kalau “Sesuatu yang belum ditemukan, berarti tidak ada keberadaanya”? Mengapa para ilmuwan selalu membantah bukti-bukti ilmiah yang pernah ditemukan sendiri? Terlebih dahulu dia berkata telah menemukan hal ini, lalu mengatakan betapa baiknya, setelah beberapa saat kemudian, dia kembali membantah pandangannya, lalu mengemukakan perkiraan yang lain? Karena dunia material ini pada dasarnya memiliki keseimbangan.