1. Dengan Kesetaraan Pikiran, Mengumpulkan Lahan Kebajikan, Menanam Karma Sebab Akibat
Mengenai masalah dunia kiamat: kiamat adalah bencana (halangan) yang besar, dan bencana besar ini pasti akan datang. Kapan tibanya? Tidak tahu. Karena hawa bencana ini masih belum terbentuk. Ini berarti masih ada banyak orang baik, yakni orang-orang yang melakukan perbuatan baik, yang melakukan kebajikan, yang menjalani pembinaan pikiran, yang melafalkan paritta, yang sedang menyelamatkan orang lain. Pernah ada banyak prediksi yang mengatakan bahwa hari kiamat bumi adalah tahun 2000, namun sekarang sudah tahun 2010, setidaknya sudah mundur 10 tahun. Master pernah mengatakan kepada kalian, yang besar adalah musibah, yang kecil adalah bencana kecil. Bencana kecil, bagi seseorang, asalkan dia meninggal di tempat ini, atau dia terjebak dan dipersulit dalam bencana ini, maka bagi dirinya, ini adalah hari kiamat. Seperti sebuah pesawat terbang menjelang detik-detik jatuh ke tanah, bagi seluruh penumpang pesawat tersebut ini adalah hari kiamat. Oleh karena itu, kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk membina pikiran dengan baik, tunggu saat ada halangan atau bencana datang, maka kita, orang-orang yang baik ini, masih tetap bisa hidup. Orang-orang yang meninggal dalam malapetaka atau bencana (atau halangannya), sebagian besar tidak tergolong sebagai orang yang sangat baik atau orang yang menjalani pembinaan spiritual. Contoh: sebagian orang yang (dianggap baik) yang meninggal dalam bencana gempa bumi, mereka paling-paling hanya tergolong sebagai orang-orang yang tidak seharusnya mati (menjadi arwah penasaran), juga tidak terhitung sebagai orang baik, karena orang yang baik tidak akan meninggal di tengah bencana. Contohnya, ketika terjadi gempa bumi, ada 20 lebih orang anak yang pada saat itu tidak pergi ke sekolah, dan mereka terhindar dari bencana. Ketika terjadi kecelakaan pesawat, masih ada satu anak yang bertahan hidup, ini menandakan apa? Ada juga orang yang karena tiba-tiba sakit lalu tidak jadi naik pesawat, dan akhirnya pesawat itu mengalami kecelakaan. Apakah orang ini termasuk orang baik? Setidaknya ini berarti dia adalah orang yang beruntung – memiliki keberuntungan. Pahala besar, toleransi besar, jasa kebajikan besar. Master juga tidak akan terlalu banyak menasihati kalian, disesuaikan saja dengan kemampuan masing-masing, kalian harus berusaha lebih baik, karena sewaktu terjadi bencana, kalian hanya bisa mengandalkan diri sendiri. Master bukan menakut-nakuti kalian, karena walaupun kalian berada di samping Master, namun Master juga belum tentu bisa menolong kalian. Ketika malapetaka datang, kita hanya bisa mengandalkan kekuatan spiritual dan jasa kebajikan diri sendiri. Pada saat itu, Bodhisattva akan menolong orang-orang yang bisa ditolong, namun bagi yang tidak bisa ditolong, maka baik yang pria atau wanita, yang tua atau muda, mereka hanya bisa meninggalkan dunia ini. Coba kalian lihat perilaku dan tindakan kalian, apakah kalian sudah membina perilaku dan pikiran? Sudah sampai di mana tingkat pembinaan kalian? Apa yang masih kalian inginkan? Maka dengan sendirinya kalian akan mengerti. Jika kalian bersujud di sini, namun masih berusaha keras memohon kebaikan bagi keluarga sendiri, atau memohon agar bisa mendapatkan lebih banyak uang, kelancaran dalam karir, bisa menjadi orang kaya, dan lainnya, berarti orang-orang seperti ini hanya membina dirinya sendiri di dunia ini. Selanjutnya Master akan membahas hal ini secara lebih spesifik, yang sekarang kita bahas ini hanya pengantarnya saja.
Pertama, Master akan membahas tentang “Banyak keinginan adalah penderitaan”. Semakin banyak nafsu keinginan yang dimiliki seseorang, akan membuat dirinya semakin menderita. Hari ini saya mau yang ini, namun tidak bisa mendapatkannya; besok saya ingin yang itu, namun tidak bisa memperolehnya. Contoh, apa keinginan Master? Saya ingin menyelamatkan lebih banyak orang, jika saya tidak bisa menyelamatkan mereka, maka saya akan merasa sangat sedih. Apakah keinginan kalian? Mendapatkan pekerjaan di kantor yang lebih baik, jangan sampai dipecat. Sesungguhnya, setelah seseorang memiliki keinginan seperti ini, maka dia akan merasa semakin menderita. Apabila seseorang bisa menghilangkan nafsu keinginannya, maka dia tidak akan begitu menderita. Kehidupan ini bisa disebut sebagai “hidup dan mati yang melelahkan”, dengan kata lain, hidup juga lelah, mati pun juga lelah. Ketika seseorang meninggal, dia akan merasa sangat menderita dan sangat sedih. Sewaktu seseorang menyongsong ajalnya, dia akan merasa habis sudah seumur hidup ini, rasanya sangat melelahkan. Di dalam banyak buku komik dan film, ada suatu deskripsi seperti ini: seseorang yang pada akhir hayatnya terbaring di atas ranjang: “Saya sudah sangat lelah hidup di dunia ini, saya sudah mau pergi.”
Di sisi lain, “sedikit nafsu keingingan dan tidak terkondisi”. Dengan kata lain, seseorang harus mengurangi nafsu keinginannya menjadi lebih sedikit, menganggap segala sesuatu yang dilakukannya (atau dicapainya) seperti sesuatu yang tidak dilakukannya, tidak lagi memiliki keinginan apapun, maka tubuh dan pikirannya akan menjadi bebas dan leluasa. Jangan biarkan diri kita dipusingkan dengan banyak masalah-masalah kecil setiap harinya, ini yang dinamakan “tiada kepuasan di hatinya”. Dengan kata lain, hati seseorang selamanya tidak akan pernah merasa puas, juga tidak akan selamanya membenci kepuasan diri. Apakah dirimu akan membenci sesuatu yang kamu dapatkan? Coba kalian lihat, seorang pedagang yang sibuk sekali saat stok barangnya tiba, sampai tidak tertangani, masih tetap akan berusaha keras untuk menanganinya, tunggu sewaktu barang dagangannya kosong, maka dia akan memohon untuk mendapatkannya lagi setiap hari – “sering memohon demi mendapatkan”. Seseorang yang banyak memohon untuk kepentingan pribadinya, akan menumbuhkan keburukan pada dirinya. Ketika seseorang ingin memohon tentang keinginan pribadinya, maka keburukan dalam jiwa dirinya akan muncul keluar. Dan keburukan ini adalah “ketamakan”, Begitu seseorang memiliki ketamakan dan kebencian, maka dia akan menghalalkan segala cara. Kalian semua harus menghormati guru dan menaati ajaran, yakni menghormati Master dan mengutamakan ajaran Dharma dengan melatih diri dengan baik.
Tahukah kalian, darimanakah jasa kebajikan seseorang berasal? Contoh: Asalkan ada satu orang yang posting satu artikel di blog Master, lalu ada orang yang membacanya, maka orang yang menulis artikel dan posting ke blog itu akan mendapatkan jasa kebajikan. Tuan Liang Xiao menulis dua buah buku {Satu Takdir, Dua Peruntungan, Tiga Feng Shui} dan {Langit, Bumi, dan Manusia}, besarnya jasa kebajikan yang diperolehnya tidak terkira. Asalkan ada orang yang membaca buku Tuan Liang Xiao, maka jasa kebajikan dan pahalanya otomatis akan meningkat. Asalkan ada orang yang memperkenalkan Dharma kepada orang lain, menulis dan menyebarkan kisah pengalamannya, maka pahalanya akan meningkat dengan sendirinya. Ini adalah sebab-musabab dari pahala. Berkah pahala ini juga ditentukan oleh apa yang kamu tanam sendiri dalam keseharianmu. Jika kamu menulis pengalaman dirimu tentang melafalkan paritta dan menolong orang lain, ini seperti memasang sebuah plang penunjuk jalan di tengah persimpangan jalan yang padat, bisa menunjukkan arah bagi orang-orang yang tersesat, dengan begitu kamu akan memperoleh berkah pahala. Pada saat yang sama, orang-orang yang melihat dan membaca kisah pengalamanmu, akan menjalin satu ikatan jodoh denganmu. Membaca buku Master, berarti menjalin jodoh dengan Master; membaca kisah pengalaman yang kalian tulis, berarti menjalin jodoh dengan kalian.
Banyak orang yang mendambakan “penolong“ untuk membantunya. Master beritahu kalian, bagaimana datangnya “penolong” ini? Penolong akan datang dari berdana. Ketika seseorang sedang berdana atau memberi, berarti dia sedang menanam bibit “jodoh penolong”. Ketika seseorang sedang membantu orang lain, mungkin tidak akan terpikir olehnya pada suatu hari nanti, orang itu juga akan membantumu. Semakin banyak seseorang membantu orang lain, maka pada saat yang sama, bantuan yang diterimanya juga akan menjadi semakin banyak. Tunggu sampai kamu mendapatkan bantuan orang lain, bukankah berarti kamu sudah bertemu dengan penolongmu? Datangnya penolong ditentukan dari bagaimana kamu bersikap dan berperilaku. Saya pernah mengenal satu orang tidak bisa membuat paspor sewaktu akan pergi ke luar negeri, namun tidak disangka ada seorang teman muda yang pernah dibantunya, pada saat itu bekerja di bagian manajemen bea cukai, akhirnya dia yang membantunya, ini adalah jodoh penolong, benar-benar tidak terduga. Master beritahu kalian, jangan pernah meremehkan siapapun, siapa tahu pada suatu hari nanti, orang itu menjadi siapa-siapa. Kita tidak boleh berpandangan angkuh (hanya memandang orang-orang yang kaya dan berkuasa), kita harus baik terhadap siapapun. Coba menurut kalian, apakah ini adalah Dharma? Ini juga merupakan Ajaran Buddha Dharma. Ini adalah jodoh, bagaimana cara untuk memiliki jodoh penolong.
Berikutnya, Master akan membahas tentang, apakah pahala yang diperoleh dengan memberikan persembahan kepada Buddha dan dengan memberikan persembahan (sedekah) kepada orang miskin sama besarnya? Ada orang yang mengatakan, itu tidak sama, ada juga yang mengatakan kalau itu sama. Sesungguhnya, ini karena kalian tidak memandang hal ini secara berbeda. Apabila kamu memiliki pikiran Buddha dan ucapan Buddha, sewaktu pembinaan pikiranmu sudah mencapai tingkat kesadaran spiritual tertentu, maka memberikan persembahan kepada Buddha maupun memberikan sedekah kepada orang miskin memiliki pahala yang sama. Perwujudan dari prinsip kesetaraan terlihat di sini. Kamu memiliki pikiran yang setara ketika membeli buah persembahan untuk Guan Shi Yin Pu Sa pada hari ini, maupun sewaktu membeli buah untuk diberikan kepada orang miskin. Dalam menekuni dan mempraktikkan Dharma di dunia ini, sangat penting bagi kita untuk memiliki kesetaraan pikiran. Mengapa banyak orang yang menyebut anak kecil sebagai Bodhisattva kecil? Lalu menyebut orang yang lanjut usia sebagai Bodhisattva tua? Karena kamu tidak akan pernah tahu, mungkin pada suatu hari nanti, mereka akan menjadi Bodhisattva. Memangnya kamu boleh memperlakukan mereka dengan tidak baik sebelum mereka menjadi Bodhisattva? Oleh karena itu, dengan menggunakan pemikiran yang benar dalam menyikapi segala hal, akan membuat kamu memperoleh pahala yang tiada taranya. Memberikan persembahan kepada Buddha dan Bodhisattva, atau menyokong orang yang baik, akan memperoleh pahala yang sangat besar.
Ada sebagian orang yang hanya membina kebijaksanaan, namun tidak membina pahala. Membina kebijaksanaan, seperti melafalkan paritta, namun tidak mau mewujudkan kebaikan melalui tindakan. Seseorang yang setiap hari hanya melafalkan paritta, namun tidak mau pergi membantu orang lain, maka ia hanya bisa mencapai tingkat kesadaran Arahat, ini berarti dia hanya membina dirinya sendiri. Saya melihat ada banyak orang di antara kalian yang begitu, sendirinya mampu melafalkan paritta dengan sangat baik, namun tidak mau memperkenalkan Dharma kepada orang lain. Sewaktu ada pendengar yang menelepon dan bertanya, maka ini adalah kesempatan terbaik untuk melakukan jasa kebajikan dengan membangkitkan kesadaran spiritual mereka. Dengan mengenggam satu kesempatan baik, akan memperoleh satu poin jasa kebajikan. Kalian harus memahami pentingnya menanam lahan kebajikan, dengan kata lain menanam keberuntungan diri sendiri di dalam lahan hatimu. Seseorang yang tidak menanam lahan kebajikannya sendiri, tidak akan memiliki keberuntungan, hatinya akan terasa sangat kosong. Seseorang yang tidak bersedia melakukan perbuatan baik, tidak mau membantu orang lain, hanya mau melafalkan paritta, bagaikan orang yang membina diri di atas gunung, hanya menginginkan ketenangan, ingin melarikan diri dari kerisauan duniawi, tidak ingin berhubungan dengan orang-orang awam. Oleh karena itu, seorang Arahat memiliki jodoh yang sangat tipis dengan semua makhluk, maka kalian tidak boleh hanya membina diri sendiri. Jenis yang lainnya, adalah berusaha keras menyebarkan Dharma kepada orang-orang, namun tidak membina kebijaksanaannya sendiri. Seperti ada banyak Pintu Dharma yang terus berusaha keras melakukan perbuatan baik, namun tidak memiliki kebijaksanaan, karena mereka tidak tahu demi apa mereka melakukan semua ini. Tidak bisa begitu juga.
Ada satu cara membina diri yang sangat bagus sekali, namanya “mengetahui buah karma dari bibit karmanya”, dengan kata lain, dengan melihat bibit karmamu untuk mengetahui buah karmamu, yakni sebelum melakukan sesuatu hal, kita harus memikirkan dulu apa buah karma yang akan diterima. Contoh, hari ini saya bersikap baik terhadap kalian, saya bisa mengetahui buah karma dari kalian terhadap saya. Ada satu perkataan yang berbunyi, “Bodhisattva takut akan bibit karma, sedangkan semua makhluk takut akan buah karma”. Bodhisattva takut menanam bibit karma yang tidak baik. Karena sesungguhnya, Bodhisattva sudah mengetahui dari awal, apa buah karma dari hal ini. Sedangkan manusia, bertindak terlebih dahulu, lalu saat buah karma buruk muncul, baru merasa kaget dan ketakutan. Saat kamu percaya kepada Buddha, maka dalam melakukan perbuatan baik maupun jasa kebajikan apapun, kamu harus terlebih dahulu memikirkan buah karmanya, kemudian baru mempertimbangkan, apakah kamu akan menanam bibit karma tersebut. Ini adalah sebuah cara yang baik. Karena jika sewaktu menanam bibit karma, kamu tidak tahu seperti apa buah karmanya, akan berbeda jauh dengan menanam bibit karma setelah kamu mengetahui apa buah karma yang akan diperoleh nanti. Contoh, setiap hari kamu dimarahi oleh suami, berarti dia sudah menanam bibit karma ini, maka pada suatu hari nanti, kamu akan berbalik memarahinya atau melawannya. Coba pikirkan, jika kamu setiap hari memarahinya, terus memarahinya, maka pada suatu hari mungkin dia akan mengepak barang-barangnya dan pergi meninggalkanmu. Begitu terpikirkan bahwa mungkin akan ada buah karma seperti ini, bukankah kamu tidak akan memarahinya lagi? Maka kamu tidak akan menanam bibit karma ini. Hari ini, ketika saya membicarakan kejelekannya, maka pahamilah, tunggu sampai dia mengetahuinya, saya akan mendapatkan buah karma seperti apa, dengan begitu, kamu tidak akan mengatakan kejelekannya lagi.
Master pernah mengatakan kepada kalian, perbedaan dari perbuatan baik dan jasa kebajikan. Pada hari ini, Master beritahu kalian, “Melihat sifat dasar adalah jasa, kesetaraan adalah kebajikan (moral).” Lakukan segalanya dengan didasari sifat dasarmu, maka segala yang kamu lakukan merupakan jasa kebajikan. Melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati adalah jasa kebajikan. Dalam menekuni dan mempraktikkan Dharma harus didasari dengan kesetaraan, kesetaraan di sini tidak hanya kesetaraan duniawi, namun yang paling penting adalah kesetaraan di dalam pikiran kita. Kita harus memperlakukan orang lain dengan pikiran yang setara. Apabila karena hari ini yang menelepon Master bersuara merdu, lalu Master berbicara lebih banyak; namun jika yang menelepon adalah nenek tua, lalu Master berbicara lebih sedikit, ini namanya tidak adil. Jika yang menelepon adalah ibu tua, yang bicara saja tidak jelas, maka Master tetap harus membantunya dengan baik. Terhadap setiap orang atau segala hal, kalian semua harus menyikapinya dengan kesetaraan pikiran yang tulus, ini baru namanya memiliki moral etiket yang baik.
