21. Menyentuh Sifat Dasar, Membuka Kesadaran Menuju Jalan Kebenaran
Pintu Dharma manapun, jika Pintu Dharma ini tidak memiliki seorang guru pembimbing yang bagus, maka Pintu Dharma tersebut tidak terlalu berkembang. Apabila memiliki seorang guru pembimbing yang bagus, seorang guru yang terkenal dan membina diri dengan baik, dipuja dan dihormati oleh orang-orang, maka Pintu Dharma ini akan berkembang dengan sangat pesat. Master dalam menekuni dan mempraktikkan Dharma sangat berhati-hati, diri sendiri tahu harus bagaimana menjalaninya. Saya (Master) bisa melampaui nafsu keinginan duniawi diri sendiri bagaikan melihat menembus tirai jendela yang tembus pandang, bisa melihat tingkat kesadaran spiritual Bodhisattva yang sesungguhnya. Sedangkan “tirai jendela” kalian pastinya jauh lebih tebal daripada Master, tidak kelihatan ke depan, kalian hanya bisa melihat sedikit ini. Master berharap kalian bisa menghilangkan “tirai jendela” di depan mata kalian, jangan ada apapun, maka pada saat itu kamu sudah membina diri dengan sangat bersih. Master semakin membahas, semakin tidak merelakan kalian, karena melihat kalian benar-benar sangat kasihan, apa yang kalian pahami terlalu sedikit, yang harus kalian pelajari masih sangat banyak, sedangkan kalian sendiri setiap hari masih disibukkan dengan urusan-urusan duniawi, kalian masih belum bisa melepas seperti Master. Master beri tahu kalian: kalian harus lebih banyak memahami prinsip kebenaran, maka akan semakin berkurang kesulitan; Jika kalian lebih banyak membina diri, maka keadaan keluarga kalian akan menjadi lebih damai dan sejahtera; Apabila kamu melafalkan lebih banyak paritta, maka jalan hidupmu akan menjadi jauh lebih mulus. Yang menyedihkan adalah kalian masih belum memahaminya, kalian masih menganggap yang nyata itu palsu, sebaliknya menganggap yang palsu itu nyata. Dunia ini semuanya palsu, kamu mengira itu nyata, masih terus-menerus berkelut di dalam ombak lautan duniawi yang bergemuruh ganas. Jelas-jelas adalah jiwa awal Bodhisattva, jelas-jelas memiliki batin yang dasarnya baik, namun semua hal-hal yang baik ini malah terpupus habis, yang tersisa hanyalah kata-kata yang kasar, aura buruk yang bertambah pekat, ditambah dengan ketamakan, kebencian, kebodohan, dan kesombongan. Di luar sedang tersebar kabar, bahwa Master sekarang memiliki kekuatan Dharma yang tak terbatas. Memiliki kekuatan Dharma yang tak terbatas, berarti ini adalah kebenaran, ini adalah Ajaran Buddha Dharma yang tak berbatas. Master kali ini terlahir kembali ke Alam Manusia membawa misi, kalian juga sudah mendengarnya dalam siaran radio bukan? Sederhana saja, tidak hanya datang untuk menyebarkan Pintu Dharma ini, juga datang untuk berperang melawan iblis. Pertama-tama, mengalahkan iblis di dalam hati para murid, kemudian mengalahkan iblis di dunia luar. Namun Master juga memiliki hati yang welas asih, sembari berperang melawan iblis, sembari masih berwelas asih menasihati mereka, membantu mendoakan mereka, agar mereka ke alam yang lebih tinggi, supaya mereka memperoleh kesadaran spiritual yang lebih tinggi. Master berharap semua orang yang ikut menekuni dan membina diri bisa mendapatkan kekekalan.
Selanjutnya Master membahas dengan kalian, mengapa mata Bodhisattva melihat semua makhluk hanya terbuka 30 persen dan tertutup 70 persen? Master juga pernah mengatakan kepada kalian, karena di alam manusia semuanya palsu, oleh karena itu mata Bodhisattva tidak mau melihat alam Dharma dunia yang palsu ini. Sesungguhnya di sini masih ada satu alasan lain, coba kalian bayangkan, ketika seseorang sangat berwelas asih, maka matanya tidak akan terbuka lebar, namun matanya juga tidak akan sepenuhnya tertutup. Ketika seseorang sangat berwelas asih, maka sesungguhnya matanya akan tertutup 70 persen dan terbuka 30 persen. Ketika melihat orang ini sangat kasihan, dalam hati berpikir: “Aih, mengapa anak ini begini?” Ini adalah perasaan welas asih yang berasal dari dalam hati, pada saat ini mata tidak akan terbuka sangat lebar, benar tidak? Karena Bodhisattva selalu memandang kita dengan penuh welas asih, maka kelopak mata Bodhisattva selalu ke bawah, akan tetapi juga tidak rela melepaskan kita, maka 30 persen ini menandakan ketidakrelaan untuk melepaskan kita, sedangkan dalam 70 persen ini ada sedikit perasaan menyayangkan mengapa masih banyak orang yang belum tersadarkan. Welas asih, inilah mata Bodhisattva. Begitu Master melihat Guan Shi Yin Pu Sa selalu ingin menangis, melihat Bodhisattva, merasa apa yang saya lakukan terlalu sedikit. Terkadang perasaan seperti ini, sama seperti saat melihat ibu. Betapa baiknya ibu terhadap kita, coba pikirkan betapa sulitnya ibu membesarkan kita, namun anak-anak zaman sekarang malah memukuli dan memarahi serta berteriak pada ibunya (menyiksa ibu). Ibu Master meninggal dengan sangat awal, Guan Shi Yin Pu Sa yang membuat saya sejak kecil sudah mengerti bahwa segala hal yang kamu miliki bisa hilang dalam sekejap; Guan Shi Yin Pu Sa yang membuat Master melihat dengan jelas bahwa segala hal di dunia ini tidak abadi, ini yang dinamakan ketidakkekalan. Semenjak kecil, Guan Shi Yin Pu Sa membuat Master menghadapi satu ujian – “merelakan”. Harus bisa merelakan. Pada saat itu Master berpikir: mengapa hal ini terjadi di keluarga saya? Di keluarga tidak kekurangan apapun, semuanya ada, keadaan finansial begitu bagus, mengapa? Justru karena “mengapa” inilah yang membuat Master menapaki jalan pembabaran Dharma demi menolong para makhluk – saya meneladani Buddha Sakyamuni. Saya meneladani Buddha Sakyamuni yang pada saat itu masih serorang putra mahkota, karena Beliau melihat penderitaan di dunia ini, melihat siklus lahir-tua-sakit-mati yang begitu menyedihkan yang dialami manusia, oleh karena itu, Beliau ingin mencari sebuah jalan. Master juga melihat hidup manusia begitu menderita, oleh karena itu, Master terus berpikir: alangkah baiknya jika saya bisa membuat semua orang berbahagia, membuat semua orang tidak usah mati, membuat semua orang hidup dengan bahagia setiap hari di dunia. Sedangkan kebahagiaan ini hanya bisa kamu peroleh melalui Ajaran Buddha Dharma, jika kamu meninggalkan Ajaran Buddha Dharma, maka kamu selamanya tidak akan bahagia. Inilah perasaan Master. Seumur hidup saya juga mengalami banyak kesusahan, lalu bagaimana Master bisa melaluinya? Yaitu dengan mengandalkan keyakinan yang teguh. Sejak kecil saya sudah menyembah Buddha dan melafalkan paritta, meskipun pada saat itu paritta yang saya lafalkan sangat sedikit, yang terutama adalah melafalkan paritta Xin Jing – Sutra Hati, namun Master terus menyembah Buddha, dalam hati ada satu keyakinan yang mulia: asalkan menyembah Buddha apapun bisa terselesaikan. Baru saja Master mengatakan kepada kalian, setiap orang memiliki berkah pahala, namun karena kamu melakukan terlalu banyak kejahatan, maka kejahatanmu menutupi pahalamu, membuat pahalamu pergi meninggalkanmu. Akan tetapi kita mengikuti Guan Shi Yin Pu Sa dengan baik-baik membina pikiran dan perilaku, melafalkan paritta, maka yang kita peroleh adalah berkah pahala yang paling besar. Asalkan kamu percaya kepada Guan Shi Yin Pu Sa sehari, maka kamu bisa menarik berkah pahala tersebut ke sisimu selama satu hari. Apakah kalian mengerti? Membina diri bukan menjadikan Buddha sebagai idola untuk dipuja. Banyak orang mengira, kita membina pikiran dan perilaku berarti menjadikan Bodhisattva sebagai idola, setiap hari bersembah sujud kepada Bodhisattva: “Bodhisattva engkau sangat mulia, mohon selamatkanlah saya.” Ini adalah pemahaman yang salah. Baik memuja Guan Shi Yin Pu Sa atau Buddha dan Bodhisattva lainnya, adalah demi membuat kalian menyembah Buddha, membina pikiran, dan melafalkan paritta, supaya kesadaran spiritual kalian bisa terbuka, agar kalian menyembah sifat Kebuddhaan dalam diri sendiri, supaya kalian berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Sangha. Master pernah mengatakan kepada kalian: Buddha ada di dalam hati, berlindung kepada sifat Kebuddhaan diri sendiri; Dharma ada di dalam perilaku, berarti apa yang kamu lakukan adalah senantiasa melindungi Ajaran Buddha Dharma. Kepada siapa kamu berlindung? Sesungguhnya kamu bernaung kepada dirimu sendiri, karena sifat dasarmu adalah Buddha. Sangha dalam menjalani sila, seseorang yang memahami sila, sesungguhnya dia adalah seorang biksu. Karena biksu memiliki banyak sila, jika dalam bersikap dan berperilaku kita bisa menjalankan sila dengan baik, maka sesungguhnya kita adalah seorang biksu yang baik.
Selanjutnya Master membahas dengan kalian, harus menggunakan hatimu untuk menyentuh sifat dasar dan hati nurani diri sendiri. Apa yang dimaksud dengan menyentuh? Kamu merasakan hati nuranimu terlebih dahulu baru berbicara, merasakan sifat dasarmu terlebih dahulu baru melakukan segala hal. Apakah kamu dapat bertanggung jawab dengan hati nuranimu? Apakah segala hal yang kalian lakukan bisa dipertanggung jawabkan kepada Bodhisattva? Apakah kejahatan yang kalian lakukan hari ini bisa dipertanggung jawabkan kepada orang tua kalian? Oleh karena itu, dalam menekuni Dharma, kita harus memiliki pemikiran yang bersih. Apakah yang dimaksud pemikiran yang bersih – jing nian? “Jing” berarti bersih atau suci, “nian” adalah pemikiran. Harus dengan pemikiran yang sangat bersih, dirimu baru bisa memperoleh Dharma yang benar; Jika pemikiranmu tidak bersih, maka Pintu Dharma yang kamu tekuni pasti bukan Dharma yang benar. Apabila Pintu Dharma ini mengajarkanmu hal-hal yang tidak bersih, maka kamu harus mempertanyakan kebenarannya. Mengerti? Master tidak pernah berkomentar terhadap Pintu Dharma manapun, juga tidak pernah mengatakan kebaikan dan kejelekan Pintu Dharma manapun, akan tetapi Master bisa mengatakan prinsip kebenarannya kepada kalian, biar kalian sendiri yang menyelami dan menilainya. Jika sebuah Pintu Dharma mengajarkan kalian ketamakan, kebencian, dan kebodohan, menurut kalian Pintu Dharma seperti apa ini? Jika sebuah Pintu Dharma mengajarkan kalian bagaimana cara berjudi, melafalkan paritta apa supaya bisa mendapatkan uang, apakah kalian berani menekuninya? Apakah kalian mengerti? Master tidak ingin membicarakan hal ini dengan terlalu jelas, kalian sendiri yang harus menyadarinya, mana yang benar dan mana yang menyimpang. Oleh karena itu Master terus mengatakan, pemikiran yang benar perlu disertai dengan waktu yang tepat, kamu baru bisa mendapatkan pemikiran benar yang sesungguhnya. Apa yang disebut dengan pemikiran yang benar? Pemikiran yang benar juga memerlukan waktu. Contohnya, apa yang kamu lakukan ini dianggap benar di masa lalu, kamu merasa ini benar, namun jika kamu melakukannya di masa kini, sudah jelas ini dianggap salah, akan tetapi kamu masih bersikeras terhadap masa lalu, mengatakan kalau hal yang sudah benar, sesungguhnya kamu sudah salah. Bukankah banyak orangtua yang seperti itu? Yang mengira dulu dia begitu hebat atau semasa muda bagaimana bagaimana, namun sekarang dia sudah tidak punya pekerjaan, juga tidak punya uang, sudah tidak punya apa-apa, dan pergi ke rumah menantunya masih suka memerintah dan mengkritik sana sini. Menurut kalian, apa yang dilakukan orang tua ini benar atau tidak? Begitu juga dalam menekuni dan mempraktikkan Dharma, pada saat ini harus menggunakan pemahaman masa kini dalam menyebarkan Ajaran Buddha Dharma, kamu tidak boleh menggunakan hal-hal yang lalu untuk mengomentari yang sekarang, juga tidak bisa membandingkan yang sekarang dengan yang dulu, itu baru yang disebut benar-benar terbuka kebijaksanaan. Benar tidak yang Master katakan? Tidak salah bukan? Memangnya bisa dibandingkan? Waktu alam terus berputar, bagaimana mungkin kamu terus membandingkan yang dulu dengan yang sekarang? Sewaktu kalian masih gadis bisa memilih-milih pasangan, siapapun mau denganmu, namun sekarang, apakah masih banyak yang mau denganmu? Waktu tidak menunggumu, waktu sudah berbeda. Begitu juga dengan Pintu Dharma. Waktu alam saat ini, karena konsep pemahaman orang-orang terus-menerus berubah dan bertransformasi, Master tidak pernah mengatakan bahwa Ajaran Buddha Dharma sedang berubah, melainkan cara penerapannya yang sedang berubah dan bertransformasi. Seperti kuliah di sebuah universitas, apakah metode pengajaran yang dulu dan sekarang tetap sama? Namun ini tidak melambangkan tujuan pembelajaran berbeda.
“Menghormati guru dan menaati ajaran, menerapkan sesuai yang diajarkan”, yang ditekankan adalah mengikuti guru pembimbingmu, mengikuti prinsip yang ditentukan Ajaran Buddha Dharma untuk membina pikiran. Prinsip tidak boleh berubah, yang berubah hanya caranya saja. Apa prinsipnya? Bersama-sama menghilangkan ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Apa yang dibina? Membina kesadaran spiritual, membina diri mencapai Alam Sukhavati, Empat Alam Brahma, mencapai Kebuddhaan, mencapai pencerahan sempurna. Apa yang dipelajari? Mempelajari Dharma mendalam. Jika hanya ada satu Pintu Dharma, lalu mengapa dalam kitab suci Buddha, Bodhisattva menyebut ada 84.000 Pintu Dharma? Lalu mengapa dikatakan sebagai “Pintu Dharma yang tiada duanya”? Ini merujuk pada, jika dirimu sudah mempelajari satu Pintu Dharma tertentu, maka jangan “melirik” ke kanan kiri lagi, ini yang disebut dengan tidak menduakan Pintu Dharma. Ini bukan berarti hanya ada satu Pintu Dharma dalam Ajaran Buddha Dharma atau agama Buddha. Mengerti? Contoh, hari ini kamu naik kereta api pergi ke Beijing, maka naiki kereta api dengan baik. Jika hari ini kamu naik kereta kuda ke Beijing, maka baik-baiklah pergi dengan kereta kuda. Jika hari ini kamu sudah naik pesawat, maka jangan mengatakan kalau saya ingin naik kereta api, lalu sampai di Tianjin, kamu ganti naik kereta api. Ada banyak orang yang merasa lelah melakukan perjalanan dengan kereta api, “Aduh, tahu begini, lebih baik saya naik pesawat saja.” Kalau begitu masalahnya menjadi lebih rumit. Sesungguhnya tujuannya sama, pergi ke Beijing, hanya saja cara untuk perginya tidak sama. Inilah mengapa dikatakan dalam menekuni Ajaran Buddha Dharma harus fokus dan diperlukan satu cara yang tepat.
