19. Balasan Karma Baik Atau Buruk, Semua Disebabkan Oleh Diri Sendiri 善恶果报,唯人自招

19. Balasan Karma Baik Atau Buruk, Semua Disebabkan Oleh Diri Sendiri

Menekuni dan mempraktikkan Dharma, harus semakin belajar semakin tekun; membina pikiran, harus semakin membina semakin paham; dalam bersikap dan berperilaku, harus layaknya seperti manusia; kesadaran spiritual, harus semakin membina semakin menyerupai Bodhisattva. Kalian harus bisa mempraktikkan Dharma mengikuti standar ini, selain itu semakin membina diri, semakin tinggi tingkat kesadaran spiritual. Membina diri sampai suatu tingkat tertentu, berbagai macam keadaan akan muncul, maka kita harus bisa menenangkan diri sendiri, harus bisa mengendalikan diri sendiri, jangan sampai berubah mengikuti perubahan lingkungan, tetap membina diri dengan tekun.

Apa yang dimaksud dengan keberuntungan? Keberuntungan seseorang berasal dari pembinaannya, seseorang harus mengetahui apa itu pahala, harus bisa menghargai pahala. Apa yang dimaksud dengan mengetahui pahala? Sesungguhnya setiap orang pada dasarnya memiliki keberuntungan, namun bagaimana caranya supaya ia bisa terus berlanjut? Sama halnya, pada diri setiap orang juga memiliki keberuntungannya sendiri. Lalu, mengapa kamu bisa memiliki keberuntungan? Sedangkan dia tidak? Keberuntungan setiap orang berdasarkan pada hasil dari pembinaan diri. Sama seperti sebidang tanah, benih apa yang kamu tanam di tanah, maka itulah yang akan tumbuh. Jika kamu menanam bibit karma yang tidak baik, maka ia akan tumbuh menjadi buah yang tidak baik. Apabila yang kamu tanam adalah sebuah benih semangka yang bagus, maka ia akan tumbuh menjadi sebuah tunas semangka yang unggul, dan buah yang akan dipanen di kemudian hari adalah sebuah semangka dengan bibit unggul; Jika yang kamu tanam adalah benih semangka yang tidak bagus, maka di kemudian hari akan membuahkan buah semangka yang tidak bagus. Oleh karena itu, tanah tidak akan berubah, dengan kata lain, keberuntungan seseorang pada dasarnya memang ada. Lalu mengapa ada orang yang memiliki keberuntungan? Dan ada orang yang tidak? Karena halangan karma buruknya terlalu besar, menutupi seluruh keberuntungannya. Mengapa ada sebagian orang yang memiliki keberuntungan? Karena dia terus-menerus melakukan kebajikan, melakukan jasa kebajikan, melakukan perbuatan baik, oleh karena itu keberuntungannya bisa terus berlanjut. Jangan menyalahkan orang lain memiliki keberuntungan atau tidak, karena sesungguhnya berkah dan bencana semuanya diciptakan oleh diri sendiri.

Hari ini Master akan membahas dari beberapa aspek mengenai matangnya bibit kebaikan dan bibit kejahatan. Setiap orang memiliki bibit kebaikan dan bibit kejahatan di dalam hati. Bibit kebaikan dan bibit kejahatan sama seperti sel dalam tubuh manusia, ada yang baik, ada juga yang jahat (sel kanker), keberadaannya dalam tubuh manusia ditentukan oleh titik keseimbangan. Karena kematangan dari bibit kebaikan dan kejahatan akan mempercepat jodohnya. Misalnya kamu terus menyiram dan memupuk bibit kejahatan ini, maka bibit kejahatan ini akan tumbuh dengan sangat cepat. Seperti sel kanker pada tubuhmu, jika kamu sepanjang hari merokok, minum minuman beralkohol, melakukan kejahatan, maka sel kanker pada tubuhmu akan tumbuh lebih cepat dibandingkan orang normal. Apabila kamu terus-menerus menyiram dan memupuk benih kejahatan, maka yang akan kamu dapatkan adalah balasan karma buruk; Jika kamu terus menyiram dan memupuk benih kebaikan, maka kamu akan mendapatkan balasan yang baik. Benar tidak? Bibit kejahatan dan bibit kebaikan tergantung dari orang yang menebar benih. Apabila kamu tidak melakukan kejahatan, maka bibit kejahatan kamu akan bergeming, sama seperti sedang hibernasi. Contoh sederhana: jika saya paling tidak bisa menahan dengan godaan uang, maka saya tidak akan melihat dan menyentuh hal-hal yang berhubungan dengan uang, maka dia akan hibernasi, dan bibit kejahatanmu tidak akan bertunas. Apabila orang ini paling suka bernafsu seksual, maka jangan melihat wanita (atau pria), sebisa mungkin jangan melihat dan berhubungan dengan lawan jenis, jika melihat lalu tergoyahkan hatinya, maka itu sama dengan menyiram dan memupuk bibit kejahatan ini. Apakah kalian mengerti? Kalian harus menghilangkan kebiasaan buruk pada diri sendiri, dengan kata lain jangan mengembangkan jodoh buruk, lebih banyak menebarkan benih jodoh baik. Hal ini sangat penting. Mengapa biksu pergi membina diri di atas gunung? Demi menghindari kerisauan-kerisauan duniawi, supaya tidak melihat orang-orang awam di dunia ini. Oleh karena itu, banyak kuil, menyebut orang-orang awam “凡人fan ren” sebagai orang-orang yang merisaukan – “烦人 fan ren”. Coba kalian pikirkan, di sebuah kuil yang bagus, setiap hari orang-orang membina pikiran dan melafalkan paritta, menjalani kehidupan biksu, namun karena orang-orang awam setelah tiba di kuil menyebarkan berita-berita yang tidak benar dan gosip, hari ini berkata bahwa biksu ini mengatakan apa-apa, besok berkata bahwa biksu itu mengatakan apa-apa, kabar tersebar ke sana kemari membuat suasana kuil menjadi tidak keruan. Sesungguhnya ini merupakan suatu halangan karma buruk. Mengapa mereka pergi membina pikiran di atas gunung? Karena mereka takut orang-orang yang merisaukan ini datang merisaukan mereka, membuat risau dari pagi sampai malam, setelah larut malam baru merasakan sedikit ketenangan, ketika tidur di ranjang baru merasakan Bodhisattva ada di sisi. Oleh karena itu, ingatlah: bibit yang berjodoh harus menunggu sampai jodohnya tiba baru bisa bertunas. Jika itu bibit yang baik, maka tunggu jodohnya tiba, dia baru bisa matang. Contoh sederhana: kamu semenjak kecil suka mencuri, sekarang kamu terus menghindarinya, mengendalikan diri untuk tidak mencuri. Walaupun bibit yang buruk ini berada dalam dirimu, namun dia tidak akan bertunas dan tumbuh besar, sama seperti tidak ada. Namun jika kamu terus berkumpul dengan teman-teman yang jahat, mereka pada suka mencuri, maka kebiasaan buruk semasa kecilmu akan tersambung dengan medan aura mereka, dan membuat jodoh buruk menjadi matang, dan kamu akan pergi mencuri bersama mereka. Oleh karena itu, kita jangan melakukan kejahatan, jangan menyentuh jodoh-jodoh yang tidak baik, seperti ketamakan, kebencian, kebodohan, mencuri, merampas, dan lain-lain. Apabila kita bisa mengendalikannya, maka ada satu lagi kelebihan yang sangat bagus, yakni mempercepat matangnya jodoh baik. Karena kalian tidak memiliki jodoh buruk, maka jodoh baikmu akan semakin cepat matang. Mengapa ada orang yang ketika memohon kepada Guan Shi Yin Pu Sa tidak dikabulkan? Karena di tubuhnya terdapat sangat banyak jodoh buruk yang belum dilenyapkan, oleh karena itu, permohonannya tidak terwujud; Jika jodoh buruknya semakin sedikit, maka begitu dia bersembah sujud di hadapan Guan Shi Yin Pu Sa, permohonannya akan terwujud. Ini petanda, dia orang yang sangat bersih, begitu Bodhisattva melihatnya, maka akan membantunya, benar tidak? Sebaliknya, jika jodoh baikmu sangat sedikit, tidak melakukan banyak perbuatan baik, kebajikan, tidak melakukan jasa kebajikan, bukankah ini akan mempercepat terbentuknya jodoh buruk? Seperti dokter meminta kamu untuk tidur lebih awal, lalu di pagi hari dan siang hari harus bagaiman dan bagaimana, namun kamu tidak mendengarkan nasihat dokter, dan tidur sangat larut, bukankah kebiasaan burukmu lambat laun akan mempercepat rusaknya kesehatan tubuhmu? Meskipun Master tidak memahami ilmu kedokteran, namun Master sedang memberi tahu kalian logika yang benar. Seperti ada beberapa produk yang bisa mengaktivasi sel-sel pada tubuhmu, membangunkan sel-sel yang paling awal pada tubuhmu, sedangkan sel-sel ini seharusnya dipergunakan saat dirimu membutuhkan, dengan kata yang tidak enak didengar, ini seperti simpanan dan tabungan cadangan dalam gudang penyimpanan, seharusnya belum tiba waktu digunakan, namun kamu menggunakannya lebih awal, terkadang malah akan memberikan efek yang bertolak belakang. Contoh sederhana: sama dengan menghisap opium. Mengapa orang-orang setelah menghisap opium, lalu bisa bersemangat luar biasa saat berada di panggung? Mengapa mereka bisa bernyanyi dan menari sekuat tenaga seperti kehilangan akal? Karena mereka khawatir tidak bisa menarik antusiasme penonton ketika sendirian di panggung, maka mereka harus bertingkah luar biasa bersemangat seperti kehilangan akal baru bisa membangkitkan antusiasme begitu banyak orang, lalu juga membuat begitu banyak orang ikut bersemangat atau kehilangan akal seperti dirinya, ini dinamakan kekuatan penularan, dia mengandalkan narkoba untuk membuat dia bersemangat, namun setelah efek obat berlalu, orangnya akan langsung tepar. Karena dia sudah menggunakan seluruh energi diri dan simpanannya. Seperti Master saat berada di seminar Dharma, sewaktu Master memberikan wejangan untuk semua orang merasa sangat senang dan bersemangat, namun begitu seminar berakhir, langsung merasa ingin duduk beristirahat. Mengapa demikian? Karena ketika pemikiranmu terpusat, maka sesungguhnya kamu telah menggunakan tabungan dirimu. Apakah kalian bisa memahami arti dari perkataan Master ini? Karena setiap orang memiliki bibit yang baik maupun bibit yang buruk, kamu harus melenyapkan bibit yang buruk, jangan menyentuhnya; Lalu terus-menerus menyiram bibit yang baik, kamu baru bisa membuat bibit baik tumbuh semakin besar, baru bisa mengendalikan kebiasaan buruk dan bibit buruk diri sendiri. Ketika hal-hal baik dalam pikiran kita semakin banyak, maka pemikiran buruk berkurang. Sama halnya, semakin banyak pemikiran buruk dalam pikiran kita, maka hal-hal baik menjadi semakin sedikit. Ada sebagian suplemen yang bisa menstimulus bagian tertentu di tubuhmu, membangkitkan, namun dia bisa membangkitkan beberapa sel baik, juga bisa membangkitkan beberapa sel buruk, dengan begitu malah membuat kondisi tubuhmu menjadi tidak stabil, bisa menimbulkan berbagai macam penyakit aneh. Oleh karena itu, yang paling penting adalah menyelaraskan keseimbangan diri sendiri. Yang terpenting adalah harus memiliki titik keseimbangan psikologis, sedangkan titik keseimbangan ini berada dalam pikiranmu. Menekuni Dharma adalah mempelajari keseimbangan. Berpikiran terbuka merupakan suatu keseimbangan, jika pikiranmu buntu, berarti di dalam hati tidak seimbang, benar tidak?

Master membahas dengan kalian, kematangan bibit kebaikan dan bibit kejahatan masih berada dalam lingkup karma – sebab dan akibat. Karena jika ada bibit karma, maka pasti ada hukum karma (sebab akibat), dengan kata lain ada bibit karma buruk dan bibit karma baik dalam dirimu, dan juga ada penyebab karma buruk dan penyebab karma baik. Apakah bisa dimengerti? Apabila bibit baik mendapatkan banyak kadar air dan nutrisi, maka bibit baik ini akan tumbuh dengan cepat. Jika kamu memberikan banyak air dan nutrisi kepada bibit buruk, maka bibit buruk akan tumbuh semakin besar, setelah menjadi semakin besar, dia akan berubah menjadi malapetaka. Karena balasan karma buruk setelah tumbuh sampai suatu waktu tertentu, dia pasti akan membentuk suatu bencana. Contoh, pada mulanya kamu hanya marah, setelah marah, hatimu menjadi tidak stabil, dan akan terlahir kebencian, setelah terlahir kebencian lambat laun akan berubah menjadi dendam, setelah menjadi dendam, pelan-pelan dia akan menjadi balas dendam, setelah menjadi balas dendam, maka harus dilakukan melalui perbuatan, maka pada saat itu, dia akan menjadi bencana bagimu. Inilah mengapa ada begitu banyak negara di dunia ini yang setiap hari berperang, selamanya berperang, karena bibit kebencian terus tertanam di negaranya itu, anak-anak mereka semenjak lahir sudah mengenal kebencian. Kita menekuni dan mempraktikkan Dharma supaya tidak mengaktivasi bibit karma buruk, biarkan dia terus diam seperti itu, dengan begitu tingkat bahaya terhadap tubuh manusia akan menjadi sangat kecil. Apabila pada tubuh seseorang sama sekali tidak ada sedikit pun sel yang tidak baik, maka orang ini tidak akan memiliki daya tahan tubuh. Seperti kita yang  sudah tinggal cukup lama di Australia, maka ketika pergi bertamasya ke negara lain, kita mudah masuk angin dan terkena flu. Kalau begitu, seperti negara-negara Afrika yang memiliki standar kebersihan yang buruk, setelah hidup dalam waktu lama, mengapa mereka menjadi tidak mudah sakit? Karena kita terlalu bersih, maka memiliki daya tahan tubuh, oleh karena itu dalam tubuh seseorang bisa terlahir beberapa sel-sel buruk, ini adalah bibit karma buruk (asalkan kamu manusia, maka pasti memilikinya), akan tetapi kamu harus bisa membuat bibit karma baik menutupi bibit karma buruk, dengan begitu baru bisa terlahir titik keseimbangan yang sesungguhnya. Contoh sederhana: kalian semua bisa memasak, jika kalian memasak sayur asam manis, kalau tidak ditambahkan garam, maka rasa manisnya akan menjadi aneh. Saat kalian memasak sayur asam manis, harus ditambahkan garam, kemudian baru memasukkan gula dan cuka, maka pada saat itu, rasanya tidak akan sama seperti jika kalian hanya memasukkan gula dan cuka. Seperti lengan seseorang, setelah diulurkan keluar harus ditarik kembali. Kamu menariknya kembali dengan tujuan untuk diulurkan lagi keluar, kalau tidak ditarik kembali maka kamu tidak akan bisa mengulurkannya lagi, benar tidak? Apabila hari ini kamu memiliki bibit yang buruk, lalu kamu bisa mengendalikannya, maka kebaikan dari dirimu akan keluar; Jika kamu tidak menarik hal-hal buruk, maka hal-hal yang benar tidak akan keluar. Hal-hal yang buruk harus dikendalikan dan diperbaiki, bukan meminta kalian membuatnya menjadi semakin besar, juga bukan meminta kalian menyirami dan memupuk, melainkan harus mengontrolnya, mengendalikannya. Bibit yang buruk mendatangkan buah karma buruk, bibit yang baik mendatangkan buah karma baik, oleh karena itu buah karma baik dan buruk berarti berkah dan bencana bukanlah takdir. Dari mana asal berkah dan bencana? Karena dirimu sendiri yang menciptakannya. Bencana datang karena kamu yang mendatangkannya, keberuntungan juga dirimu yang mendatangkannya. Ketidaklancaran dirimu hari ini dikarenakan kamu yang menyebabkannya, kebaikan kamu hari ini juga karena pembinaan dirimu. Hari ini kamu menderita karena bibit karma buruk yang kamu tanam sendiri dalam waktu lama. Keadaan tidak baik dirimu dalam jangka panjang, dan kebencian dirimu terhadap orang lain dalam jangka panjang telah menyebabkan jantung bermasalah, dan pada akhirnya menyebabkan kematianmu. Oleh karena itu, kita menekuni Dharma harus memahami hukum karma. “Hukum karma” dua kata ini Master membahasnya seumur hidup pun tidak akan selesai untuk kalian. Hukum karma adalah pelajaran terbesar dalam kehidupan, juga merupakan tanggung jawab terbesar yang diberikan oleh Buddha dan Bodhisattva kepada kita. Karena kamu berada di dunia, kamu harus membuat setiap orang memahami  hukum karma. Sekarang Master membabarkan Dharma ke mana-mana, sesungguhnya adalah demi memberi tahu semua orang tentang “Hukum Karma”dua kata.