13.Mempelajari Pemikiran dan Pandangan Buddha, Mempraktikkan Welas Asih 学—佛思佛见,行—慈悲之道

13.Mempelajari Pemikiran dan Pandangan Buddha, Mempraktikkan Welas Asih

Menyelamatkan kesadaran spiritual semua makhluk. Seseorang yang dapat menyelamatkan kesadaran spiritual para makhluk,berarti sudah memiliki kebijaksanaan Buddha, yaitu tidak hanya menolong diri sendiri, juga harus menolong orang lain, ini merupakan kebijaksanaan Buddha yang tercermin pada dirinya, ini berarti semangat Buddha sudah muncul dari dirinya. Menyelamatkan kesadaran spiritual semua makhluk harus memiliki praktik nyata. Meneladani Bodhisattva bhumi ketiga – Prabhākarībhūmi, harus bisa mempraktikkan. Jika kamu belajar untuk menjadi Bodhisattva di dunia ini, maka harus terus mempraktikkan. Harus ingat mempraktikkan adalah menyelamatkan makhluk hidup, dengan praktik baru bisa memiliki pemahaman yang sesungguhnya. Pengetahuan dan hal-hal nyata yang sesungguhnya hanya bisa diperoleh melalui praktik nyata, oleh karena itu harus benar-benar mempraktikkannya. Untuk melatih diri demi mencapai kesadaran spiritual tingkat Bodhisattva, maka kita harus berpikir untuk lebih banyak mempraktikkannya, lebih banyak meneladani Bodhisattva untuk menyelamatkan para makhluk. Hari ini saya menerima penolakan saat menyelamatkan orang lain, namun tidak apa-apa, besok saya akan memikirkan cara lain untuk menolong. Dalam usaha untuk menyadarkannya, kamu baru bisa menyadarkan diri sendiri. Melalui praktik nyata, kamu baru benar-benar bisa menguasai apa yang kamu pelajari, hanya dengan begitu kamu baru bisa menyadarinya secara mendalam, dan mencapai kebebasan total, baru bisa menjadi Bodhisattva, baru bisa menolong kesadaran spiritual orang lain. Ini yang dinamakan menolong diri sendiri dan orang lain.

“Ingin mengobati penyakit kerisauan yang diderita semua makhluk yang tak terhitung sampai tuntas”, dengan kata lain, seorang Bodhisattva harus memiliki suatu keyakinan: Saya harus bisa mengobati penyakit kerisauan yang diderita semua makhluk sampai tuntas. Karena di dalam penyakit kejiwaan orang-orang, yang paling sulit dikalahkan adalah penyakit kerisauan. Siapakah orang di dunia ini yang tidak memiliki kerisauan? Semua orang memiliki kerisauan, karena Alam Manusia adalah alam kerisauan. Bodhisattva menyelamatkan kesadaran spiritual orang-orang, harus memiliki keyakinan diri untuk menyembuhkan penyakit kerisauan semua makhluk secara tuntas. Harus bisa menghilangkan segala hal yang bisa menyakiti orang lain dan tidak baik bagi diri sendiri. Seseorang yang tidak mau bertobat, tidak bisa mengendalikan diri sendiri, dan tidak bisa tersadarkan, maka orang tersebut tidak akan bisa dinamakan sebagai manusia yang sesungguhnya. Untuk mengobati penyakit kerisauan semua makhluk secara tuntas, hanya bisa dilakukan dengan menyelamatkan kerisauan diri sendiri terlebih dahulu. Jika kamu ingin menyelamatkan kesadaran spiritual orang lain, maka terlebih dahulu harus menyelamatkan kesadaran spiritual diri sendiri, pertama-tama harus mengobati penyakit pada jiwa diri sendiri. Jika penyakit kejiwaan diri sendiri pun belum terobati, bagaimana mungkin bisa mengobati penyakit kejiwaan orang lain sampai tuntas? Maka harus terlebih dahulu menyelamatkan diri sendiri dari kerisauan, membebaskan raga dan jiwa diri sendiri dari belenggu cinta duniawi, serta kelahiran dan kematian, tubuh dan jiwamu harus bisa melampaui nafsu cinta duniawi, harus bisa membebaskan diri dari seluruh nafsu cinta, harus bisa menaklukkan belenggu kelahiran dan kematian. Karena nafsu cinta yang menyebabkan kamu memiliki kelahiran dan kematian, jika tidak memiliki nafsu cinta, maka tidak akan ada kelahiran dan kematian. Apabila seseorang tidak memiliki nafsu cinta di dunia ini, maka sesungguhnya orang ini sudah terbebas dari kelahiran dan kematian. Apakah hal yang paling kuat membelenggumu di dunia ini? Belenggu paling kuat di dunia ini adalah nafsu cinta. Ingin terlepas dari belenggu ini? Maka pertama, kamu harus bisa menghilangkan nafsu keinginan diri sendiri, melenyapkan nafsu cinta. Segala cinta di dunia ini hanyalah suatu perpaduan sebab-musabab atau nidana (jodoh). Anak yang kamu cintai hari ini, semua orang yang kamu cintai, sesungguhnya adalah jodohmu dari kehidupan sebelumnya yang berkumpul kembali di kehidupan ini. Seperti kamu menyelenggarakan sebuah pesta. Ada teman yang sudah lama tidak berjumpa, ada orang yang sangat kamu sukai, namun apakah kamu bisa terus bersama dengan mereka? Setelah pesta berakhir, maka semua orang akan pergi. Oleh karena itu, harus belajar melepas. Semua ini adalah palsu, apakah dirimu bisa mempertahankan? Begitu pergi langsung pergi, semua hanyalah kekosongan belaka. Segala nafsu keinginan duniawi adalah kepalsuan. Cinta dan derita akan perpisahan adalah sesuatu yang harus kamu rasakan. Jika dijelaskan seperti ini, maka kalian akan lebih mudah mengerti. Semua ini adalah perpaduan jodoh, sebab dan musabab. Maka kita harus belajar membebaskan diri, kita harus bisa menghilangkan seluruh nafsu keinginan diri sendiri. Karena semua itu palsu. Ketika pikiranmu sudah terbuka, maka segala belenggu akan hilang dengan sendirinya.

Jangan merasa diri sendiri sangat hebat, juga jangan merasa diri sendiri sangat tidak berdaya, ini tidak ada apa-apanya. Manusia datang ke dunia ini sesungguhnya hanyalah meminjam “panggung” untuk berjalan satu kali, maka baik-baik jalani seluruh perjalanan ini. Kehidupan ini bagaikan sebuah pesta, yang diselenggarakan dari pagi sampai malam, sedangkan waktu sepanjang hari tersebut adalah seumur hidupmu. Di pagi hari, kamu masih mengenakan setelan jas yang sangat rapi dan sopan, itu adalah rupamu sewaktu muda; ketika sudah sore, kamu sudah merasa sangat lelah, maka itu adalah masa tuamu; setelah malam tiba, kamu sudah tidak mampu bangun lagi, lalu terlelap, maka seumur hidupmu pun berakhir. Semua itu palsu, maka jangan menganggap nyata.

Menekuni dan mempraktikkan Dharma harus bisa menyelami intisarinya. Hanya Buddha dan Bodhisattva yang mampu menjelaskan prinsip kebenaran dari alam semesta ini, Ajaran Buddha Dharma sudah membahas awal mula kehidupan. Oleh karena itu, harus bisa membebaskan tubuh dan pikiran dari belenggu nafsu cinta, serta kelahiran dan kematian, kemudian memusatkan pikiran untuk mengejar kebijaksanaan dan kemampuan moral dalam Ajaran Buddha Dharma. Sebenarnya Master bisa membahas setiap kalimat menjadi sangat panjang sekali, namun karena keterbatasan waktu, hanya bisa membahasnya dengan sangat cepat. Dengan kata lain, kita harus memusatkan pikiran untuk mengejar kebijaksanaan dan kemampuan moral dalam Ajaran Buddha Dharma, yakni ketika kamu meneladani Bodhisattva, maka harus memusatkan diri menggunakan kebijaksanaan dan kemampuan moral melihat bagaimana Bodhisattva menyelamatkan kesadaran spiritual para makhluk, harus mengejar kebijaksanaan dan kemampuan moral dari Bodhisattva. Jika dikatakan dengan sederhana, yaitu harus memperhatikan moralitas Buddha dan Bodhisattva, melihat bagaimana mereka menyelamatkan orang-orang, dengan begitu, kamu baru bisa mendapatkan kebijaksanaan welas asih yang tak terhingga. Mengembangkan kebijaksanaan yang welas asih tak terhingga, dengan kata lain meskipun di dimensi ruang ini sudah tidak ada apapun, juga tidak terlihat apapun (Master pernah mengatakan pada kalian, bahwa ini kosong, itu juga kosong), namun di tengah kekosongan yang palsu ini kamu harus membina suatu moralitas. “Kebijaksanaan yang welas asih”, yaitu kamu harus memiliki rasa belas kasihan serta kebijaksanaan. Dengan kata lain, walaupun ini adalah kekosongan yang palsu, namun di tengah kekosongan ini kamu juga harus mencari suatu cara untuk menyelamatkan kebijaksanaan dan welas asih semua makhluk. Master pernah mengatakan, saat yang palsu dianggap asli, maka lama-kelamaan yang asli pun akan menjadi palsu, sebaliknya saat yang asli dianggap palsu, maka lambat laun yang palsu pun menjadi asli. Segalanya berada di antara asli dan palsu, benda yang kosong dan palsu pastinya memiliki kepalsuan di dalamnya. Contoh, dia ingin menipumu, apakah dia akan memberikan barang yang asli kepadamu? Oleh karena itu, kita harus meminjam kepalsuan ini untuk membina yang asli.

 “Mencapai kebijaksanaan besar seluas ruang kosong di angkasa, secara tuntas mengobati penyakit kerisauan semua makhluk yang tak terbatas”. Dengan kata lain, untuk menyembuhkan penyakit kerisauan semua makhluk, karena kamu memiliki rasa belas kasihan dan kebijaksanaan ini, kamu baru bisa menyelamatkan dan mengobati kerisauan semua makhluk yang tak terhingga. Mengandalkan apa untuk mengatasi kerisauan semua makhluk yang tak terbatas ini? Yaitu dengan mengandalkan perasaan welas asih dan belas kasih dari Bodhisattva. Hanya dengan berwelas asih baru bisa menyelamatkan kesadaran spiritual orang-orang, selain itu juga harus memiliki kebijaksanaan. Apakah sekarang Master memiliki kebijaksanaan ketika menyelamatkan orang-orang? Terhadap orang-orang yang memiliki akar sifat dasar yang berbeda, Master akan memberikan wejangan dengan level yang berbeda. Pikiran belas kasihan yang membawa kebaikan tak terhingga bagi semua makhluk, dengan kata lain, dengan welas asih yang luar biasa besar membawa kebaikan bagi semua makhluk. Bodhisattva datang ke dunia ini untuk menyelamatkan kesadaran spiritual semua makhluk, baik untuk menolong satu orang atau seratus orang atau seribu orang, semuanya harus ditolong, tidak bisa karena hanya datang satu orang, lalu saya tidak mau menyelamatkannya. Bukan begitu, seberapa banyak yang dapat diselamatkan maka diselamatkan, itulah kebaikan yang tak terhingga bagi semua makhluk.

“Mengendalikan tubuh dan pikiran di tengah keadaan yang hening dan tenang”, dengan kata lain di tengah lingkungan yang dirimu rasa sangat tenang, sangat hening, mengendalikan enam akar indrawi milikmu. Ketenangan di sini bukan berarti kamu harus ke tempat yang tidak ada kebisingan, namun bagaimana agar bisa menenangkan pikiran diri sendiri. Mengapa ada sebagian orang yang walaupun berada di tempat yang ramai, masih tetap bisa melafalkan paritta? Lalu mengapa ada sebagian orang yang hanya mendengar sedikit suara saja, bisa membuat hati tidak tenang? Ketenangan yang dimaksud di sini adalah pikiranmu yang tenang, keheningan di sini juga pikiranmu yang hening, mengerti? Ada satu perkataan yang berbunyi: “Ketika pikiran tenang, akan terasa sejuk dengan sendirinya.”

“Memikirkan Buddha Dharma”, dengan kata lain, di dalam pikiran kita hanya ada Buddha dan Bodhisattva, menjalankan segalanya sesuai ajaran, menjalani pembinaan diri sesuai dengan ajaran Master, sesuai dengan Ajaran Buddha Dharma. Dengan menggunakan kesabaran, ketegaran, dan keteguhan, ketiga kekuatan ini untuk memusatkan kekuatan pikiran. Kalian harus bisa menguasai kesadaran spiritual Bodhisattva secara menyeluruh. Jika kamu ingin menjadi Bodhisattva, sekarang sudah ada tujuan, maka gunakan kesabaran, ketegaran, dan keteguhan untuk memusatkan kekuatan pikiran. Ketika seseorang dimarahi orang lain, dia mampu tidak membantah, ini adalah kesabaran. Orang lain mengatakan kamu tidak baik, maka kamu harus menjadi baik; mengatakan kamu tidak sanggup, maka kamu harus bisa, ini adalah keteguhan. “Melampaui batas alam peralihan dari penghuni Alam Kamaloka”, karena kamu memiliki kesabaran, ketegaran, juga keteguhan; karena kamu memikirkan Buddha Dharma dan mempraktikkan ajaran; karena kamu mengendalikan tubuh dan pikiran, di tengah ketenangan memiliki welas asih yang tiada tara; karena kamu memiliki kebijaksanaan yang welas asih, kamu mampu mengobati kerisauan seluas alam semesta di dunia ini, kamu sudah membebaskan diri dari belenggu nafsu cinta, kelahiran dan kematian. Setelah meninggalkan belenggu-belenggu ini, maka kamu akan meninggalkan Alam Kamaloka, memasuki kesadaran tingkat Empat Alam Brahma. Mengerti? Ketika berada di dunia ini sudah bisa memasuki kesadaran spiritual Empat Alam Brahma. Kalian harus mempelajari kesadaran spiritual Buddha dan Bodhisattva.

Master memberikan nama lain untuk dunia ini, yakni “dunia yang menunjukkan rupa”, yaitu rupa jodoh. Orang-orang sering mengatakan: “perlihatkan wujud aslinya”, dengan kata lain menunjukkan rupa yang semula. Mengapa dinamakan dunia yang menunjukkan rupa? Karena segala hal yang kamu lakukan di kehidupan sebelumnya, dan di dunia ini akan menunjukkan rupa dasarmu. Maka, kita harus memiliki hati seluas alam semesta – hati seluas alam semesta adalah pikiran Bodhisattva, yakni hati yang lapang bagai laut yang mampu menaungi ratusan aliran sungai. Gunakan hati seluas alam semesta ini untuk menjalani setiap menit dan setiap detik kehidupan di dunia yang menunjukkan rupa ini.

Kalian harus tahu, bahwa di tengah apa yang dimiliki, hanya “kepuasan hati” yang dinilai paling baik dan paling bagus oleh Buddha dan Bodhisattva. Contohnya, memiliki dunia ini, memiliki kehidupan ini, memiliki harta kekayaan, memiliki segala hal, hanya dengan memiliki “kepuasan hati” yang dianggap paling baik dan paling bagus oleh Buddha dan Bodhisattva. Dengan kata lain, dari segala harta kekayaan yang kita miliki di dunia ini, hanya kepuasan hati yang merupakan suatu benda yang paling bagus, mengerti? Yang dikatakan oleh Buddha dan Bodhisattva adalah Ajaran Buddha Dharma di Alam Manusia. Setelah memiliki kepuasan hati, maka yang kamu peroleh adalah kepemilikan. Ketika seseorang sudah merasa puas, dia baru bisa benar-benar memiliki. Karena kamu sudah merasa puas, maka kamu akan mencintai dan menjaganya, kemudian merasa gembira. Hari ini kamu memiliki suamimu, jika kamu merasa puas, maka kamu akan merasa suamimu benar-benar baik, kamu akan memikirkan segalanya untuk di. Karena merasa puas, maka kamu akan memilikinya. Jika tidak merasa puas, maka kamu akan merasa dia ini sangat menyebalkan, terhadap segala yang dia lakukan kamu tidak akan merasa puas, dan terakhir kamu akan kehilangan dirinya. Oleh karena itu, hanya dengan memiliki kepuasan hati, kita baru benar-benar bisa memiliki. Ini adalah kata-kata mutiara Buddhis dari Master. Kalian harus mempelajari dengan baik, semua ini adalah prinsip dasar untuk menjadi manusia yang benar dan baik. Hanya dengan memiliki kepuasan hati, baru bisa merasa bahagia, baru bisa senantiasa merasa senang; dengan berpuas diri, kita baru bisa benar-benar memiliki. Walaupun kamu tidak kaya raya, namun kamu memiliki pusaka Dharma, sedangkan pusaka Dharma ini adalah apa yang sering orang-orang katakan sebagai “sesuai keinginan”. Apa maksudnya “Sesuai keinginan”? Jika berteriak di hadapan “sesuai keinginan”, maka kamu akan mendapatkan apapun yang kamu inginkan. Sewaktu kamu sudah merasa puas, maka kamu bisa berkata pada diri sendiri: “Saya sudah puas, saya sudah puas, saya sudah puas.” Katakan sebanyak 3 kali, contoh, rumah saya ini, saya sudah puas, saya sudah puas, saya sudah puas. Maka kerisauanmu akan hilang, dan kamu akan memiliki rumah ini. Karena kamu merasa tidak perlu mengganti rumah ini, karena kamu sudah merasa puas dengan memiliki rumah ini, maka saat berada di rumah, kamu akan merasa sangat senang, merasa segalanya adalah milikmu, maka kamu akan memilikinya. Jika tidak puas terhadap bangunan rumah ini, lalu menjualnya, maka rumah ini sudah bukan lagi milikmu, dan kamu akan kehilangan rumah ini.

Sama saja, ketika kematian menghampiri, yang akan kamu hadapi adalah seluruh beban dari kejahatan yang dilakukan seumur hidup. Dengan kata lain, menjelang ajal, seluruh kejahatanmu seumur hidup akan muncul. Seperti pepatah, “Karat besi tercipta dari besi dan akan menggerogoti besi.” Karena karat pada besi, tercipta dari besi itu sendiri dan akan menggerogoti besi tersebut. Kejahatan terlahir dari manusia dan “menggerogoti” manusia. Sama halnya keburukan seseorang muncul dari dalam dirinya, menggerogoti dan menghalangi diri sendiri. Seperti orang yang suka merokok, kebiasaan ini diciptakan oleh diri sendiri, kemudian sakit paru-paru, ini berarti seluruh keburukan pada diri seseorang semua diciptakan oleh diri sendiri, kemudian kembali menyakiti diri sendiri.