9. Penyebab Tidak Adanya Perbaikan Setelah Menekuni Ajaran Buddha Dharma 学佛后还不变好的问题所在

9. Penyebab Tidak Adanya Perbaikan Setelah Menekuni Ajaran Buddha Dharma

Belakangan ini, pada saat merapikan rekaman tanya jawab dari teman-teman se- Dharma, saya sering mendengar keluh kesah dari teman-teman sekalian, dan juga merasakan keraguan di dalam hati mereka, ada yang merasa “Kemampuan saya tidak kalah dari orang lain, namun mengapa dia bisa dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan yang selama ini saya impikan, sedangkan saya sekarang masih saja lontang-lantung (menganggur)? Mengapa saya masih sering sakit-sakitan, meskipun saya sudah banyak melafalkan paritta, tetap saja tidak sembuh-sembuh”, dan masih banyak keluhan-keluhan lainnya. Terutama, pada saat saya membaca email pertanyaan dari salah seorang teman se-Dharma, masalah yang cukup sering dikeluhkan orang-orang adalah: “Saya sudah melakukan pelimpahan jasa secara khusus dan secara umum. Sudah bertahun-tahun saya mengalami ketidaklancaran, padahal saya sudah melafalkan paritta selama bertahun-tahun. Walaupun saya memiliki kemampuan bekerja yang bagus, namun tetap belum mendapatkan pekerjaan. Saya juga sudah sering memohon Pu Sa (Bodhisattva) agar memberkati saya supaya bisa memperoleh pekerjaan. Selama beberapa tahun ini, saya sudah melafalkan ribuan kali {Da Bei Zhou}, ratusan kali {Di Zang Pu Sa Ben Yuan Jing} *地藏菩萨本愿经, dan hampir jutaan kali {Zhun Ti Shen Zhou}. Saya sudah bertemu dengan peramal hebat yang direferensikan teman, namun ramalan dia mengenai saya tidak bisa tepat. Aspek- aspek lainnya juga bermasalah, dalam pekerjaan, setiap kali sehari sebelum wawancara kerja, lilin yang saya nyalakan pasti bermasalah, dan jelas-jelas pekerjaan yang cocok untuk saya, tetapi malah direbut orang lain, begitu juga dengan hal lainnya. Seumur hidup ini, saya tidak pernah mencelakakan orang lain, juga tidak suka bersaing dengan orang lain. Oleh karena itu, saya penasaran sekali, sebenarnya siapa yang begitu membenci saya, mempermainkan saya? Sebenarnya mengapa bisa begitu?” Bisa dikatakan tidak sedikit orang yang memiliki pemikiran dan keraguan seperti ini, dari sini kita bisa melihat dengan jelas kesalahpahaman

dalam konsep berpikir orang-orang pada umumnya, dan pemikiran seperti ini sering dikatakan sebagai halangan atau rintangan iblis – mo zhang * 魔障, hal ini tidak hanya menumbuhkan keraguan pada waktu kita melafalkan paritta, juga membuat hati kita menjadi tidak tulus, pikiran kita menjadi tidak bersih, serta menyebabkan paritta yang kita lafalkan menjadi jauh berkurang hasilnya, pada saat yang sama, orang-orang yang berpikiran seperti ini tanpa disadari akan semakin mencari-cari contoh kejadian nyata di dalam kehidupannya untuk membenarkan pemikirannya yang salah itu, mengakibatkan keyakinannya untuk membina diri dalam Ajaran Buddha Dharma menurun, bahkan pada akhirnya menyerah, dampak buruk yang ditimbulkannya jelas sangat fatal.

Kekeliruan paling utama dan yang terpenting dalam konsep pemikiran ini adalah: “Selama ini saya tidak pernah menyakiti orang lain, mengapa hidup saya begitu susah?” atau “Mengapa keadaan saya lebih buruk dari si XXX yang kemampuannya lebih rendah daripada saya?” Sebenarnya ini berkaitan dengan kualitas “takdir” seseorang, yaitu atas dasar apakah takdir seseorang ditentukan. Takdir adalah hal yang sudah digariskan begitu seseorang dilahirkan, terbentuk dari gabungan pahala, buah karma baik, dan buah karma buruk orang tersebut di kehidupan sebelumnya, sama seperti irama dari sebuah lagu, kaya–miskin atau tinggi rendahnya irama kehidupan setiap orang berbeda-beda, dan tidak bisa diubah di kehidupan ini (tidak mutlak). Sewaktu Master menerawang totem seseorang, hal ini bisa terlihat dengan jelas, contohnya orang yang sama-sama shio naga, namun ada naga yang lincah (bergerak ke sana kemari), ada juga naga yang mematung seperti ukiran kayu (kurang memiliki energi kehidupan); selain itu lingkungan di sekitar si naga juga berbeda, ada yang melesat tinggi ke langit (terbang jauh), ada yang terjebak di kubangan lumpur (sulit sekali untuk bergerak). Ada shio macan yang tinggalnya di atas gunung (berada di tempat yang sesuai), ada juga yang terperangkap di dataran rendah (sulit untuk sukses). Faktor-faktor seperti ini, ditentukan oleh balasan karma baik dan karma buruk Anda yang terkumpul dari beberapa kehidupan sebelumnya. Ini juga mengapa ada orang yang terlahir di pinggiran desa (lahir di tempat terpencil, balasan dari buah karma buruk), setelah melalui berbagai macam kesulitan dan berusaha keras baru bisa masuk ke universitas dan tinggal di kota, namun ada juga orang yang terlahir di kota besar, menikmati kehidupan masyarakat kota yang berbudaya dan fasilitas lengkap. Orang yang sama-sama terlahir di kota, ada yang terlahir di keluarga kaya, ada juga yang terlahir di keluarga miskin, dan lain-lain, perbedaan yang cukup signifikan ini masih mudah dipahami oleh kalian. Masih ada perbedaan lain yang lebih kecil,

contohnya sama-sama murid satu sekolah dan sekelas, ada yang jenius sekali, ada yang luar biasa lambat, tetapi orang yang luar biasa pintar ini setelah lulus malah tidak bisa mendapat pekerjaan impian, karirnya biasa-biasa saja, namun orang yang kemampuannya biasa-biasa saja, malah memperoleh kelancaran dalam berbagai hal dan kesuksesan dalam karir. Ini semua disebabkan oleh karma dari kehidupan sebelumnya yang membuahkan hasil di kehidupan ini. Inilah jawaban untuk teman kita ini, walapun di kehidupan ini, Anda adalah orang baik yang tidak pernah mencelakakan orang lain, namun di kehidupan sebelumnya, Anda telah melakukan banyak kejahatan, maka dari itu di kehidupan ini, takdir Anda berada di titik yang rendah, dan menerima balasan dari karma buruk terdahulu. Kita semua tidak hanya harus memahami logika ini, tapi juga harus bisa menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus mengenali keadaan kita dengan baik, semua yang terjadi bukan dikarenakan “moralitas masyarakat yang tidak adil”, melainkan karena moralitas masyarakat itu adil, dan tidak akan ada yang bisa luput dari balasan karma itu, kalkulasi keseluruhan karma yang diperbuat di kehidupan lampau inilah yang membentuk fenomena “ketidakadilan” yang Anda lihat sekarang. Maka, semua hutang yang Anda lakukan pada hari ini akan terus dicatat, dan akan terus diperhitungkan di kehidupan mendatang.

Kekeliruan yang kedua adalah: “Sekarang saya menekuni Ajaran Buddha Dharma, maka seharusnya keadaan saya akan membaik dengan cepat”. Apakah dengan menekuni Ajaran Buddha Dharma bisa mengubah takdir ini? Apakah bisa mengubah “kunci dasar” iramanya? Macan yang terjebak di dataran luas bisakah menjadi macan di atas gunung? Bisakah naga yang terjerumus di dalam kubangan lumpur terbang ke langit? Bisakah tikus yang tenggelam di dalam air muncul ke permukaan? Semua ini adalah hal-hal yang menjadi perhatian semua orang, untuk menjelaskannya lebih jauh, maka harus dibarengi dengan pembahasan tentang perubahan dari “peruntungan” kita. Peruntungan (hoki) atau yun *运, adalah jalan yang terhampar di hadapan setiap totem, meskipun dia adalah naga yang terbang di langit, namun jalan yang ditempuhnya juga terkadang tinggi dan terkadang rendah, terkadang juga berlubang-lubang; macan yang terjebak di daratan rendah juga ada kalanya memasuki masa tenang. Dengan menekuni Ajaran Buddha Dharma, dan bila Anda menekuninya dengan baik, maka bisa membuat jalanan yang tidak mulus menjadi lebih rata, masa-masa tenang juga bisa menjadi lebih panjang, ini membuat peruntungan seseorang menjadi lebih baik dan lancar, berarti sama saja dengan membuat kesialan dalam hidup kita menjadi lebih kecil bahkan hilang, dan waktu untuk mengalami peruntungan yang baik menjadi lebih lama dan panjang, dan membuat keuntungan yang diperoleh menjadi lebih maksimal.

Hal ini bisa diwujudkan dengan menekuni Ajaran Buddha Dharma. Setelah peruntungan berubah, maka dia bisa mempengaruhi akar dari takdir seseorang, namun ini adalah proses perubahan dalam jangka waktu yang panjang, tidak bisa dicapai dalam sekejap mata. Dengan menekuni Ajaran Buddha Dharma dalam waktu yang lama, bisa membuat macan di dasar jurang naik ke atas gunung, membuat naga di dalam kubangan lumpur naik di tepi danau, akan tetapi semuanya ada batasannya, seperti murid kelas 2 SD yang setelah belajar dengan giat bisa menyelesaikan pelajaran kelas 5 SD, namun tetap saja sulit untuk menjadi murid SMA atau mahasiswa, bahkan tidak mungkin bisa menjadi profesor. Bila Anda ingin menjadi “profesor”, maka Anda harus memiliki jasa kebajikan yang sangat besar atau sudah mengumpulkan banyak jasa kebajikan dari berkali-kali kehidupan baru bisa mencapai tingkatan ini. Oleh karena itu, kita semua harus memahami bahwa setiap orang memiliki perbedaan, bila ingin memiliki hidup yang baik di kelahiran mendatang, maka di kehidupan ini harus membina diri dengan baik, melakukan kebajikan dan menanam karma baik, jika ingin menjalani hidup yang baik di kehidupan yang sekarang, maka lebih wajib lagi untuk membina diri sebaik-baiknya.

Kalau begitu, bila memang dengan menekuni Ajaran Buddha Dharma bisa mengubah seseorang menjadi lebih baik, lalu mengapa teman kita ini masih merasakan kesulitan yang besar? Banyak teman se-Dharma yang memiliki pertanyaan yang sama. Kita semua sama- sama membina diri, tetapi mengapa walau sudah membina diri selama bertahun-tahun, melafalkan paritta sebanyak ini, saya masih mengalami ketidaklancaran? Kalau begitu, Sang Buddha memperkenalkan 84 ribu Pintu Dharma (aliran) pada kita, apakah supaya kita mengalami penderitaan yang lebih banyak lagi? Apakah ini demi membuat kita berulang kali merasakan perasaan: “Mengapa saya tidak bisa?” Jawabannya tidak, 84 ribu Pintu Dharma diperkenalkan kepada kita agar kita semua bisa mendapatkan kemudahan dalam membina diri dengan lebih baik. Jika setelah kamu membina diri dalam Ajaran Buddha Dharma selama bertahun-tahun, Anda tetap tidak bisa merasakan keajaiban dan kewelas-asihan dari Buddha dan Bodhisattva, maka pertama-tama, bertanyalah pada diri Anda sendiri, apakah Anda benar-benar mengerti bagaimana cara membina diri dalam Ajaran Buddha Dharma?

Dari pertanyaan teman se-Dharma kita di atas, bisa kita ketahui bahwa, setidaknya dia merasa, bahwa selama ini dia sudah membina diri dengan cukup baik, namun tidak ada hasilnya, dari totemnya juga menggambarkan hal ini. Lalu di mana akar permasalahanya?

Ada 2 penyebabnya: yang pertama, Pintu Dharma atau aliran yang dipelajarinya kurang sesuai untuknya. Mengapa Sang Buddha bersabda, “Pintu Dharma bagaikan sebuah rakit, yang pada akhirnya pun akan direlakan, apalagi yang bukan?” Karena cara pembinaan diri dan Pintu Dharma memiliki “masa berlaku”, mereka akan berubah seiring dengan perubahan zaman. Bukti yang paling sederhana adalah, Ajaran Buddha pada zaman dahulu menyarankan orang-orang agar membina diri ke atas gunung dengan menjadi Biksu, merelakan (meninggalkan) keluarganya sendiri untuk membantu orang banyak – she xiao jia wei da jia *舍小家为大家, namun yang sekarang terjadi adalah membina diri di dalam kehidupan sehari-hari

ru shi xiu xing *入世修行, membina diri agar bisa membina keluarga sendiri menjadi baik lalu membantu semua orang. Oleh karena itu dikatakan, Pintu Dharma juga sedang mengalami perubahan. Pelimpahan jasa bukanlah cara pembinaan diri yang bisa digunakan oleh orang biasa pada umumnya. Paritta yang kita lafalkan itu seperti uang yang kita gunakan sekarang, dan pelimpahan jasa adalah donasi untuk organisasi sosial, terutama saat melimpahkan jasa kepada penagih hutang karma dari berkali-kali kehidupan sebelumnya, maka ini seperti berdana kepada seluruh orang di dunia. Memangnya berapa banyak “uang” yang Anda miliki? Apakah Anda sendiri sudah berkecukupan? Lagipula, “uang” yang Anda amalkan dibagi dengan jumlah orang di dunia ini berarti akan sangat kecil nilainya, dan setiap orang mungkin hanya akan memperoleh beberapa sen saja, memang ada gunanya? Oleh karena itu, dalam melafalkan paritta dan menekuni Ajaran Buddha Dharma, langkah pertama yang harus diambil adalah membina diri sendiri, lunasi dahulu hutang karma sendiri, setelah diri Anda sendiri sudah cukup kuat, barulah peruntungan Anda bisa membaik. Sewaktu semua hutang karma Anda sudah terlunasi, dan totem Anda sudah tidak terlihat terlalu kotor lagi, lalu Anda terus melanjutkan pembinaan diri, maka peruntungan Anda baru bisa membaik. Jika Anda mengatakan, “Saya masih belum bisa melunasinya, bisakah mengubah keadaan saya menjadi lebih baik dulu, barulah saya membayarnya hutang ini”, masalahnya arwah asing yang berada di tubuh Anda tidak akan menyetujuinya, pada saat karma buruk Anda berbuah, masih tetap Anda yang harus membayarnya, dan tidak akan bisa luput dari pembalasan ini. Maka, jangan sembarangan melakukan pelimpahan jasa, sewaktu kita sendiri masih belum mampu menyelesaikan masalah “lapar atau kenyang”, maka Anda tidak hanya perlu mendoakan arwah asing yang ada di tubuh Anda, namun juga harus menghapuskan karma buruk Anda sendiri, inilah hal yang paling penting. Jadi, hanya dengan menemukan “cara” yang sesuai, meskipun peruntungan Anda belum membaik, asalkan Anda tetap tekun membina diri, maka perubahan itu akan tetap ada; semakin dini Anda membina diri, maka semakin cepat terjadi perbaikan, dengan membina diri sendiri, Anda sendiri juga yang akan mendapatkan manfaatnya; jika tidak membina diri, maka Anda tidak akan memperoleh apa pun, ini seperti memasak air, walaupun airnya belum mendidih, tapi suhu air tetap meninggi, hanya saja ada orang yang menggunakan api besar, dan bisa dengan cepat mendidihkan satu ceret air, ada juga orang yang mendidihkannya lebih lambat. Bedanya, walaupun orang kedua menggunakan api kecil (kekuatannya tidak besar), asalkan tetap konsisten, maka air di dalam ceret pada akhirnya akan mendidih juga.

Penyebab kedua adalah pemilihan paritta yang tidak tepat. Ada beberapa paritta yang tidak bisa dilafalkan oleh semua orang, ini seperti setiap paritta memiliki “khasiat pengobatan” yang berbeda, oleh karena itu setiap orang harus memilih paritta yang tepat untuk dilafalkan sesuai dengan kondisinya masing-masing. Paritta juga bisa diumpamakan sebagai jurusan di dalam universitas, bila seseorang memilih terlalu banyak jurusan, maka dia tidak akan bisa berhasil. Meskipun masih dalam satu fakultas, namun mahasiswa tingkat satu tetap tidak bisa mengambil mata kuliah mahasiswa tingkat tiga. Memilih paritta yang dilafalkan sama halnya dengan memilih jalan yang akan dijalani, ada paritta yang termasuk dalam paritta dasar, ada juga paritta yang baru boleh dilafalkan setelah kekuatan atau energi seseorang sudah mencapai tingkatan tertentu. Tidak semua paritta boleh dilafalkan. Asalkan kalian semua bisa mempertimbangkan dengan cermat kedua hal ini, yakni memilih Pintu Dharma yang tepat untuk melunasi hutang karma Anda, dan juga memilih paritta yang sesuai untuk dilafalkan demi memperkuat diri sendiri, maka dalam waktu singkat Anda akan merasakan perbedaan yang signifikan.

Berikut ini adalah sebuah pemahaman umum yang keliru, yaitu: “Kita seharusnya melakukan pelimpahan jasa, atau dengan kata lain menolong orang lain, tidak seharusnya hanya memikirkan diri sendiri dulu.” Sebenarnya ini adalah pemahaman sepihak saja terhadap Ajaran Buddha Dharma. Memang, salah satu tujuan kita membina diri dalam Ajaran Buddha Dharma adalah demi menyelamatkan dan menolong orang lain, tolak ukur yang sangat penting di sini adalah seberapa besar perasaan welas asih kita. Namun jangan lupa, untuk menolong semua makhluk harus memiliki kekuatan, ini seperti kita menolong orang pada waktu banjir, pertama-tama kita harus memiliki kekuatan, perahu yang kita miliki haruslah kokoh. Para Biksu sering mengatakan “lepaskanlah” – fang xia *放下, memang benar, dengan “melepaskan” (merelakan), hati kita barulah bisa tenang dan bersih, namun bagaimana agar kita bisa merelakan segalanya? Meskipun saya tidak tamak, tetapi “Saya perlu menghidupi keluarga saya”. Inilah yang dimaksud oleh Master, setiap orang harus menolong dirinya sendiri, membina diri dan keluarga dengan baik, setelah Anda sekeluarga sudah membina diri dengan baik, sudah memperkuat dan memperluas “perahu” Anda, kita baru bisa menyelamatkan dan menolong orang lain, bila “perahu” kita sendiri masih bocor di mana- mana, belum sempat menyelamatkan satu orang, kita sendiri dulu yang akan terseret ke bawah. Selain itu, Anda sendiri juga bagian dari “semua makhluk”, demikian juga keluarga Anda, menolong diri sendiri dan keluarga, juga berarti menyelamatkan semua makhluk.

Apa yang kita bina dalam Dharma? Biasanya, sebagian besar totem yang diterawang, karena adanya arwah asing atau hutang karma, akan memiliki noda atau kabut hitam, seperti umat yang sakit bertahun-tahun lamanya, maka kabut hitam ini akan menyelubungi sebagian besar totemnya. Sedangkan orang yang peruntungannya tidak lancar, maka kabut hitam tidak hanya akan ada pada totemnya, namun juga ada di sekeliling totemnya. Kabut hitam ini adalah “halangan”, yang disebabkan oleh hutang karma yang dimiliki seseorang, ini seperti lampu lalu lintas yang berfungsi untuk mengatur lalu lintas, dia mengendalikan peruntungan seseorang. Baik sedang beruntung atau pun sedang sial, tetap saja mungkin memiliki kondisi seperti ini, maka biasanya di balik setiap peruntungan baik akan tersembunyi akar dari peruntungan buruk. Ini juga mengapa pepatah mengatakan, “Setiap keluarga memiliki kesulitannya masing-masing”. Walaupun orang ini memiliki peruntungan yang baik, tetap saja ada hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginannya, setelah membina diri dalam Dharma, maka akan terjadi 2 perubahan: totemnya sendiri akan menjadi bersih dan terang, kabut hitam di sekelilingnya akan memudar bahkan akan dikelilingi awan putih. Kedua perubahan ini akan membuat peruntungan orang tersebut berubah. Dia sendiri akan menjadi terang, atau dengan kata lain energi di dalam dirinya menjadi semakin kuat, kekebalan tubuhnya juga semakin tinggi, selain itu karma buruknya juga hilang, hutang karma kepada arwah asing di tubuhnya juga sudah terlunasi. Sejak saat itu, bila menghadapi peruntungan yang buruk, dia bisa dengan mudah melewati “jurang” ini, sewaktu peruntungannya baik, dia bisa maju dengan pesat. Dengan memudarnya atau hilangnya kabut hitam di sekitar totem, maka orang itu akan memperoleh kelancaran dalam segala hal, dan memiliki masa depan yang cerah. Oleh karena itu dikatakan langkah pertama membina diri dalam Ajaran Buddha Dharma adalah mewujudkan kedua hal ini.

Di awal kita memulai pembinaan diri, bagaikan meraba-raba di tengah kegelapan, kita tidak tahu mana jalan yang benar, tidak tahu apakah kita mengambil langkah yang tepat, juga

sering bertanya dengan ragu, “Tingkatan apa yang sudah saya capai?” Master dan kita semua berjalan di satu jalan yang sama, namun (saya – Master) bisa melihat lebih jauh dan lebih banyak, maka (saya) bersedia menjadi pelita bagi kalian semua di dalam kegelapan ini, menerangi jalan dan halangan di depan kita; dan bersedia menjadi tolak ukur kemajuan kita, setiap saat selalu mengingatkan kita akan tingkat dan arah pembinaan diri kita. Master tidak melarang kalian untuk bertanya tentang masa depan atau jodoh dan pernikahan, namun lebih berharap kalian semua lebih banyak menelaah tentang bagaimana caranya agar bisa membina diri dengan lebih baik, bagaimana caranya agar kita bisa menjadi lebih maju, inilah hal yang seharusnya lebih kita perhatikan. Semoga pembahasan di dalam bab ini bisa menjawab sebagian keraguan dalam pembinaan diri yang ada dalam pikiran besar teman-teman se- Dharma kita, membuat pikiran kita menjadi lebih bersih dan tenang, agar bisa membina diri dengan lebih baik.-