8. Siapakah yang Mengendalikan Takdir 谁在操纵命运

8. Siapakah yang Mengendalikan Takdir

Dari zaman dahulu sampai sekarang, sudah berapa banyak orang yang mengatakan “Saya akan mengendalikan takdirku sendiri”, namun ada berapa banyak orang yang walau sudah berusaha sekuat tenaga, terakhir tetap bertekuk lutut di hadapan takdir, menyerah dalam perjuangannya. Ada seorang teman dari dunia maya yang menulis begini di dalam suratnya: “Setelah membaca {Liao Fan Si Xun 1 – Empat Nasihat Liao Fan} *了凡四训, saya merasa semakin pesimis, jika memang takdir saya sudah ditentukan, apa gunanya saya berusaha? Apa yang akan terjadi pasti tetap terjadi, apa yang tidak akan terjadi walau berusaha juga tidak akan dimiliki.” Hampir semua tragedi yang terjadi di dunia ini pada akhirnya berujung pada “takdir”, sepertinya takdir menjadi sumber berbagai penderitaan yang menimpa manusia di dunia ini. Menghadapi kegagalan karir, patah hati, anak sakit, persengketaan rumah tangga, dan lain sebagainya, kita dengan mudahnya menyalahkan takdir. Nampaknya kita menjadi korban tak bersalah dari permainan takdir, apakah kita memang tidak bertanggung jawab sedikit pun atas kejadian-kejadian yang menimpa kita, apakah kita tidak memiliki kemampuan untuk mengubah semua ini? Sebenarnya kitalah yang “menulis” takdir kita sendiri, dan hanya kita sendiri yang bisa mengubahnya. Takdir adalah satu potongan dari keseluruhan proses reinkarnasi yang sedang berlangsung di kehidupan ini, setiap kita mengalami 1x reinkarnasi, maka kita seperti memulai kembali “drama” di kehidupan yang baru, setelah bertukar peran di dalam lingkungan yang baru, sesuai dengan naskah yang kita tulis sendiri dan melupakan bahwa kitalah yang mengarang semua naskah ini, kita menjadi sebuah robot yang terpaku pada permintaan dalam naskah untuk memerankan tokoh yang sekarang ini.

Aturan Dasar dari Takdir

Takdir adalah sebuah jalan yang terbentuk dari serangkaian buah karma yang akan dialami di kehidupan ini. Baik reinkarnasi, maupun takdir, perputaran keduanya didasari oleh dua aturan dasar, berulang-ulang kembali, tanpa daya semua makhluk tertarik masuk ke dalamnya. Kedua aturan ini adalah dasar utama terjadinya reinkarnasi, di hadapannya, semua makhluk sama rata tidak ada bedanya.

Aturan yang pertama, yang juga menjadi hukum utama di alam semesta ini: hukum karma (hukum sebab-akibat), juga yang sudah sangat kita kenal bahwa “ada sebab ada akibat”, menanam labu – menuai labu, menanam kacang – menuai kacang. Hukum karma adalah hukum utama yang mengikat seluruh kehidupan di dunia dan seluruh alam semesta, tidak ada kekuatan apa pun yang bisa menghalangi dan memutuskan perputaran dari hubungan sebab- akibat ini. Maka bila hari ini kamu menanam bibit karma buruk dengan bersikap buruk kepada ibu mertuamu, maka di kehidupan selanjutnya mungkin kamu akan memiliki hubungan suami istri yang buruk sebagai balasannya; bila di kehidupan sebelumnya kamu banyak membunuh makhluk hidup, maka di kehidupan ini kamu akan sakit-sakitan … Pada saat yang sama, karena kamu sudah menanamkan bibit “sebab”, maka kamu pasti akan menerima buah “akibat”nya, kekuatan sebesar apa pun juga tidak bisa tanpa alasan mendasar langsung menghapus bibit karma buruk yang belum berbuah itu. Oleh karena itu, jika kamu banyak melakukan kejahatan di kehidupan sebelumnya, kamu akan memperoleh penyakit darah sebagai balasannya, dan tidak ada kekuatan apa pun yang bisa mencegahnya. Walaupun kamu mendapatkan belas kasihan dan kekuatan yang luar biasa yang bisa menangkis pembalasan karma buruk di kehidupan ini, namun di kehidupan berikutnya kamu tetap harus membayarnya. Tentu saja, bila ada orang atau kekuatan lainnya yang bersedia menggantikanmu untuk menerima pembalasan ini, maka kembali lagi pada pahala yang Anda miliki, ini adalah buah karma yang lain, walaupun cara menghitungnya sangat rumit, tetapi tetap sesuai dengan hukum karma, bibit karma yang Anda tanamkan serta buah karma yang harus Anda terima pada akhirnya tetap harus diselesaikan.

Aturan yang kedua adalah hukum langit – tian li (天理). “Hukum langit terus berputar, pembalasan tidaklah menyenangkan”, ini bukan hanya omong kosong belaka. Hukum langit sebenarnya adalah seperangkat sistem pengaturan, yang menentukan secara terperinci: perbuatan seperti apa akan mendapatkan balasan seperti apa, seberapa banyak bibit karma yang ditanam maka seberapa banyak balasan yang akan diterima dan kapan menerimanya. Hukum langit tidak hanya mengatur karma seseorang, ia juga mengatur karma dari suatu

daerah, suatu dinasti, sebuah negara bahkan seluruh dunia. Bencana alam dan bencana manusia adalah balasan dari buah karma buruk bersama, efek rumah kaca adalah contohnya yang paling cocok. Semua ini sudah diatur di dalam hukum langit.

Oleh karena itu, bila seseorang pada suatu waktu melakukan sebuah kejahatan, muncul benih pikiran buruk, maka menurut hukum langit, benih karma buruk akan segera muncul dalam barisan takdirnya, lalu bibit ini akan berbuah menjadi balasan karma buruk yang akan terjadi di kehidupan berikutnya pada waktu tertentu; sama halnya dengan kebaikan dan jasa kebajikan yang dilakukan seseorang, akan mendapatkan pahala atau balasan buah karma baik pada suatu waktu nanti.

Maka dari itu, apa yang kita pikirkan dan kita inginkan setiap saat, adalah wujud dari menanam bibit karma “sebab”, yang menurut hukum langit akan berubah menjadi buah karma “akibat” yang akan matang pada suatu hari nanti muncul sebagai “balasan karma” di dalam hidup kita, kumpulan buah-buah karma yang tersambung secara berurutan inilah yang akan membentuk satu untaian garis “takdir” di kehidupan selanjutnya. Sering kali, kita tidak melakukan perbuatan yang baik ataupun yang buruk, maka dalam garis takdir kita akan ada banyak tempat yang kosong, inilah mengapa kita selalu merasa dalam hidup ini sebagian besar waktu kita dihabiskan dalam penantian, seperti menunggu mulai sekolah, menunggu ujian, menunggu lulus, menunggu bertemu dengan orang yang disukai, menunggu perbaikan karir, menunggu kesempatan, menunggu kelahiran anak … dan banyak lagi penantian lainnya, yang menghabiskan waktu dan menyia-nyiakan hidup.

Bagaimana karma di kehidupan sebelumnya bisa terbawa ke kehidupan ini?

Kita sering mendengar terutama dalam konsep teologis yang selalu menekankan, bahwa setiap orang terlahir dengan dosa asal, teori ini memang benar adanya. Kalau begitu, mengapa bayi polos yang baru lahir sudah memiliki dosa? Dari manakah dosa itu berasal? Di antara sekian banyak tanya jawab dengan para pendengar, ada banyak kasus di mana para orang tua muda semenjak memiliki anak, dalam waktu 3 tahun tidak pernah bisa tidur nyenyak, atau anaknya terkena penyakit eksim dan sering terbangun tengah malam. Situasi ini adalah penjelasan terbaik dari teori dosa asal. Pada dasarnya, setiap orang yang terlahir di Alam Manusia ini memiliki karma buruk, dan inilah yang dinamakan “dosa”, tanpa karma buruk, dia tidak akan terlahir di Alam Manusia, itulah mengapa dikatakan teori dosa asal adalah benar adanya.

Pada saat buah karma buruk yang diatur melalui hukum langit, akan berubah menjadi karma buruk dan masuk ke dalam garis takdir, maka ini seperti sebuah komputer yang merekam semua informasi yang tersembunyi dalam jiwa manusia, bila dilihat pada totem, bentuknya seperti kabut atau bayangan hitam di satu bagian tertentu. Jika terus menerus melakukan perbuatan buruk, maka kabut hitam pada jiwa kita akan ada di mana-mana. Sewaktu kita dilahirkan, kabut hitam ini bersama dengan jiwa kita terlahir di kehidupan ini, dan akan berperan pada suatu hari nanti. Inilah mengapa karma buruk selalu menyertai kita, makanya dikatakan “mengikuti seperti bayangan”. Saat masyarakat pada suatu daerah atau suatu negara tidak berbuat kebajikan dan malah terus melakukan karma buruk, maka sama saja akan membentuk suatu kabut hitam, yang akan mempengaruhi iklim dan keadaan di sekitarnya, yang pada akhirnya menjadi balasan dari karma buruk tersebut.

Di saat karma buruk belum matang, apakah dia akan berpengaruh pada kita? Tidak hanya ada pengaruh, malah berpengaruh besar. Kabut hitam pada jiwa kita seperti cairan beracun yang akan menggerogoti raga kita, menghalangi sirkulasi oksigen, menekan saraf kita, mempengaruhi suasana hati kita. Maka ada sebagian orang sakit disebabkan oleh keberadaan arwah asing, namun ada juga sebagian lagi yang disebabkan karena karma buruknya sendiri. Inilah mengapa Master selalu membedakan penyakit yang disebabkan oleh arwah asing – ling xing bing (灵性病) dan penyakit yang disebabkan oleh karma buruk – ye zhang bing (业障病).

Karma buruk bisa berubah menjadi 2 macam, yang pertama dihapuskan, yang kedua berubah menjadi arwah asing, yang menandakan kalau karma buruk ini sudah matang. Sedangkan arwah asing di tubuh seseorang, mungkin bisa berasal dari perubahan karma buruknya, atau berasal dari luar. Masalahnya, jikalau karma buruk ini adalah buah “akibat” dari karmanya, maka seharusnya tidak dapat dihilangkan, namun mengapa bisa dihapus bersih? Apa yang bisa menghapuskan buah karma buruk ini?

Menekuni Ajaran Buddha Dharma, bersembah sujud (sembahyang) pada Buddha dan Bodhisattva, melafalkan paritta, mengapa hal ini bisa menghapuskan karma buruk?

Karma buruk adalah buah “akibat” yang tidak baik dalam hukum karma, selain itu dia juga adalah balasan yang harus Anda terima atas benih karma buruk yang pernah Anda tanam, selain dengan menggunakan buah karma baik lainnya untuk menetralkannya, maka tidak akan ada kekuatan apa pun yang bisa menyentuhnya. Buah karma baik ini adalah jasa

kebajikan, oleh karena itu jasa kebajikan bisa menghapuskan atau mengikis karma buruk (untuk informasi lebih lanjut, silahkan baca {Bai Hua Fo Fa} – perbedaan antara kebajikan dan jasa kebajikan).

Apa yang dibina dalam Ajaran Buddha Dharma? Yang dibina adalah pikiran, agar menjadi bersih dan tenang, baik, adil, berwelas asih, menghilangkan angan-angan yang tidak nyata, keserakahan, kebencian, kebodohan, dan kemelekatan. Kita semua tahu bahwa niat baik dan jahat muncul dalam waktu sesaat, hanya dengan membina pikiran kita agar menjadi lebih baik, barulah bisa menjamin kita bisa tidak menanamkan bibit karma buruk lagi, sehingga terhindar dari balasan karma buruk, oleh karena itu membina pikiran adalah tugas utama dalam menekuni Ajaran Buddha Dharma.

Melafalkan paritta dan sembahyang (memberikan penghormatan pada Buddha dan Bodhisattva), bukan berarti Pu Sa langsung bisa menghapus karma buruk Anda, tetapi karena melafalkan paritta dan sembahyang itu sendiri adalah suatu jasa kebajikan, “mendatangkan buah karma yang luar biasa”, “menjadi jasa kebajikan yang tiada duanya.” Pada umumnya, jasa kebajikan yang didapat akan diatur oleh hukum langit dan masuk ke dalam barisan takdir, dia tidak akan bisa langsung menghapus salah satu karma buruk kita. Namun pada saat Anda memohon pada Pu Sa untuk berwelas asih memberkati kelancaran dalam karir Anda, keharmonisan dalam percintaan dan lain sebagainya, maka Pu Sa bisa dengan menggunakan kekuatannya, mengambil jasa kebajikan Anda untuk menghapuskan karma buruk yang menjadi halangan dalam karir atau percintaan Anda, sehingga segalanya akan menjadi lebih lancar. Jasa kebajikan Anda dan kekuatan welas asih dari Pu Sa, keduanya sama-sama penting, namun landasan utamanya adalah jasa kebajikan Anda sendiri, dengan satu buah karma yang baik untuk menghilangkan satu buah karma yang buruk. Apabila seseorang hanya terus memohon pada Pu Sa tanpa melakukan jasa kebajikan, juga tidak melafalkan paritta, maka Pu Sa juga tidak bisa menolong Anda. Jika karma buruk seseorang sangat berat, sedangkan jasa kebajikannya terlalu sedikit, tetap saja permohonannya tidak akan bisa terwujud.

Bagaimana cara menerapkannya di dalam kehidupan kita?

Setelah memahami semua ini, maka kita seharusnya mengerti betapa pentingnya untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, gunakan setiap saat untuk membina pikiran Anda dan mengumpulkan jasa kebajikan. Pada saat yang sama juga, kita harus memahami hubungan yang mendalam antara jasa kebajikan dan karma buruk, dan sesuai dengan banyaknya karma buruk setiap orang, lalu menentukan target pembinaan diri dalam jangka pendek. Seseorang yang memiliki karma buruk yang berat, biasanya akan mengalami banyak ketidaklancaran di dalam hidupnya, apabila setelah memohon pada Pu Sa dan banyak melafalkan paritta tetap saja tidak ada perbaikan, ini berarti karma buruk yang membebani orang itu terlalu besar, sehingga menghalangi peruntungannya sendiri, dia harus memusatkan pikiran untuk menghapuskan karma buruknya sendiri, dan lebih banyak melafalkan Xiao Fang Zi. Bila karma buruk seseorang tidak terlalu berat, maka begitu melafalkan paritta, dia akan langsung merasakan perubahannya, permohonannya pada Pu Sa juga pasti terkabul, jika demikian berarti Anda sendiri sudah memiliki jasa kebajikan dan sudah pernah melakukan pembinaan diri, maka seharusnya Anda meningkatkan standar pembinaan diri Anda, dan yang terpenting adalah membina pikiran serta mengumpulkan jasa kebajikan.

Setelah memahami teori-teori ini, diharapkan kita semua bisa memahami dengan jelas bagaimana takdir kita terbentuk, jangan mengeluh dan lari dari tanggung jawab, akan tetapi lepaskan beban pikiran, memusatkan pikiran dalam pembinaan diri, dan manfaatkan semua waktu penantian itu untuk melafalkan paritta dan mengumpulkan jasa kebajikan, maka walaupun kita masih akan terlahir di Alam Manusia pada kehidupan mendatang, kita tetap akan selalu menerima buah karma baik setiap hari, seperti hidup di surga.