12. Membahas Tentang “Sebab yang Kosong” dan “Akibat yang Kosong”
Apa itu kosong?
Tahukah kalian, bahwa ada satu teori di dalam Ajaran Buddha Dharma terhadap karakteristik dunia ini yang dikenal sebagai teori “kosong”.
Sekarang kita tidak hanya perlu menekuni Ajaran Dharma, tetapi juga harus melampaui batas ruang dan waktu. Kita harus memahami “kosong” sebagai suatu pandangan atas karakteristik dunia ini, atau dengan kata lain “kosong” itu mutlak.
Namun teori kekosongan ini sendiri terbagi menjadi beberapa jenis, karena pengertian mengenai “kosong” di dalam aliran Theravada dan Mahayana tidak sama. Dalam aliran Roda Dharma Kecil atau Theravada, dikatakan bahwa “kosong” berarti “Aku yang kosong” – wo kong *我空.
apa maksudnya?
Aku itu kosong, di dunia ini tidak ada jiwa yang kekal, atau bisa dikatakan bahwa “Aku” dikendalikan oleh kesadaran jiwa ini, dan di dunia ini tidak akan ada jiwa yang selamanya bisa mengendalikan saya. Inilah pengertian “kosong” dalam aliran Theravada.
Aliran Theravada mengajarkan tentang “akibat yang kosong”, apa maksudnya? Di sini, dijelaskan bahwa seluruh buah karma hasil dari hubungan sebab – akibat seseorang, sebenarnya adalah kosong, bahkan elemen-elemen dasar di dunia ini pun tidak ada yang bisa bertahan selamanya.
“Akibat yang kosong”, berarti semua pikiran saya sendiri sebenarnya adalah kosong. Hal-hal yang mengendalikan pikiran saya selama ini adalah kosong, sebenarnya “mereka” itu tidak nyata.
Contohnya, air terbentuk dari molekul-molekul air, dia adalah suatu unsur. Bila air itu menguap, menurut kalian, apakah air ini masih ada? Pemikiran seseorang bisa muncul dalam hitungan satu atau dua detik, namun bisa hilang total dalam satu atau dua detik berikutnya.
Mengapa teori “kosong” di dalam aliran Theravada yang sebegitu bagusnya, tetap tidak bisa diterima dalam aliran Mahayana? Karena teori ini masih dibangun di atas suatu hal yang sudah ada dan masih ada sebagai dasarnya. “Kosong” yang dikatakan di sini, masih memiliki “keberadaan yang kosong”, maka sebenarnya “dia” belum sepenuhnya “kosong”.
Di dalam aliran Roda Dharma Besar atau Mahayana, mengajarkan “sebab yang kosong” (yin kong *因空), apa itu? Jika semua “sebab” di dalam hubungan sebab – akibat ini saja kosong, maka bagaimana mungkin bisa muncul “akibat” nya?
Contohnya: jika hari ini ada orang yang mengatakan hal buruk tentang kalian, maka jangan kalian dengarkan sama sekali, bila tidak ada faktor “sebab” ini, maka kamu tidak akan merasa marah dan sedih, berarti tidak akan muncul faktor “akibat”nya. Sedangkan menurut teori aliran Theravada, yaitu setelah kamu mendengarkan perkataan orang itu, maka akan muncul faktor “akibat” di dalam hatimu, lalu kamu harus menghapus dan mengurai faktor “sebab” yang ada di awal. “Sebab yang kosong”, berarti sama sekali tidak ada “sebab”, maka “akibat” juga tidak akan muncul di dalam pikiranmu, inilah pandangan Mahayana.
Aliran Mahayana mengatakan bahwa unsur elemen dasar yang membentuk benda-benda di dunia ini juga kosong. Seperti yang dikatakan di dalam aliran Zen *禅, “Benda yang tidak ada, bagaimana bisa terkotori oleh debu”. Mahayana juga menekankan “fa kong *法空”, apa maksudnya? Segala benda yang bisa dilihat oleh mata semuanya adalah kosong, tidak nyata. Oleh karena itu, segala hal yang ada di dunia ini semuanya juga kosong, maka jangan melekat, jangan membenci, dan jangan tersesat.
Aliran Mahayana berpandangan bahwa dunia ini pada mulanya adalah kosong, dengan kata lain, dunia ini sendiri pun sebenarnya kosong, semuanya itu palsu. Semua benda-benda alam yang terdapat di dunia ini pun palsu, tidak nyata. Memang apa yang nyata di dunia ini?
Contohnya: sepasang suami istri amat sangat saling mencintai dan tidak bisa terpisahkan di hari ini, setelah beberapa hari berlalu, bisa saling membenci seperti musuh bebuyutan, bukankah semuanya itu palsu? Maka, seseorang harus memiliki kecerdasan dan kebijaksanaan, dengan demikian dia baru bisa mengalahkan kebodohan di dalam dirinya; bila dia tidak memiliki kecerdasan dan kebijaksanaan, maka selamanya dia tidak akan bisa menang dari kebodohan.
Oleh karena itu, kamu bisa merasakan bahwa semua benda di dunia ini adalah suatu kepalsuan, dan sebenarnya ilusi yang tidak nyata ini adalah keberadaan yang palsu.
Semua yang kalian miliki sekarang ini hanya bersifat sementara, tidak nyata, semuanya adalah keberadaan yang palsu. Apabila semua kita miliki pada hari ini hilang, maka kamu benar-benar tidak memiliki apa-apa lagi. Seperti, begitu orang tua kita meninggal, maka mereka sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Segala yang ada di dunia ini hanyalah keberadaan yang palsu, jangan mengira apa yang kamu miliki bisa dimiliki selamanya.
Semua bisa berubah, dan kita harus bisa memandangnya dengan menggunakan cara berpikir yang objektif dan fleksibel, dengan begitu, kamu tidak akan menangis atau bersedih atau sakit hati. Dalam menilai suatu permasalahan harus menggunakan standar pemikiran yang fleksibel, jangan menilainya dengan pemikiran yang didominasi oleh kemelekatan kita, jika kamu bisa melakukannya, maka hidupmu akan selalu penuh dengan harapan. Pada saat seseorang hidup di dalam harapan, maka dia akan merasa segala hal dunia ini menjadi sangat indah.
Namun, jika pandangan seseorang terhadap hal-hal yang ada di dunia ini tidak bisa diubah, maka dia akan merasa dunia ini sudah hampir kiamat, dan begitu memikirkan hari kiamat yang akan segera tiba, dia akan merasa sedih dan putus asa, bahkan berpikir untuk bunuh diri.
Ingatlah: orang yang bijaksana tidak akan menyakiti dirinya sendiri, orang yang menyakiti dirinya sendiri bukanlah orang yang bijaksana, orang yang tidak terbuka pikirannya akan menyakiti dirinya sendiri.
Kita harus menggunakan pemahaman kita untuk merasakan dan memahami makna kehidupan ini. Membina pikiran adalah suatu bentuk pengendalian diri, juga suatu bentuk pengembangan terhadap tingkat kesadaran diri kita sendiri. Kita akan mengalami penderitaan di dalam proses menjalani pembinaan pikiran, karena itu sering disebut dengan pembinaan keras – “ku xiu xing *苦修行”. Kita harus mengendalikan beraneka ragam nafsu keinginan yang kita miliki, memperbaiki berbagai sisi buruk kita, karena hanya dengan mengubah berbagai kekurangan di dalam diri kita, baru bisa mencapai kesempurnaan.
