13. Pikiran Tidak Terpengaruh Keadaan, Jiwa Tidak Berubah Mengikuti Jodoh 心不随境转,灵不随缘转

13. Pikiran Tidak Terpengaruh Keadaan, Jiwa Tidak Berubah Mengikuti Jodoh

Kalian harus ingat, berhasil atau tidaknya sesuatu hal di dunia ini ditentukan oleh jodoh, bukan kemampuan.

Yang paling penting itu jodoh, bukan bisa atau tidaknya hal ini dikerjakan. Jika ingin melakukan sesuatu hal, tidak peduli seberapa besar kerja keras dan kemampuan kamu, tetap tidak bisa menjamin keberhasilan kamu. Karena pahala di dunia ini terbentuk dari banyak jodoh yang tergabung menjadi satu.

Kamu memiliki faktor sebab yang ini, baru bisa menjalin jodoh yang ini. Jika 1 faktor sebab yang positif dan 1 faktor jodoh yang positif bergabung menjadi satu, maka apa yang ingin dikerjakan pasti bisa berhasil.

Jadi ingat, apabila ingin mencapai keberhasilan dalam sesuatu hal, pertama-tama yang harus kamu pikirkan kembali dengan seksama adalah “Apakah jodoh ini sudah matang?”, dan bukan memikirkan “Apakah kamu memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menyukseskan atau menyelesaikan hal ini?”.

Kita harus selalu mengingat bahwa semua tidak abadi. Di dalam pikiran kita, harus sering mengingat bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini, dan semua yang tidak kekal berarti tidak nyata.

Dunia ini sebenarnya penuh dengan ketidakkekalan dan ketidak-akuan, tiada yang abadi, juga tidak ada “Aku”, oleh karena itu jangan melekat.

Sewaktu bencana datang mengampirimu, jangan panik, kamu harus yakin, walaupun musibah ini sudah menjadi “karma tetap”, namun kita tetap bisa mengubahnya.

“Karma tetap” adalah kejadian yang bahkan bisa dilihat oleh para peramal sekalipun, dikenal juga sebagai “takdir”.

Contohnya: peramal mengatakan kalau kamu akan menghadapi halangan di umur tertentu, maka ini termasuk “karma tetap”. Karma tetap ini bisa diubah, tapi kita sendiri harus memiliki kepercayaan diri. Jika banyak melakukan kebajikan, berikrar besar, banyak beramal, melafalkan paritta sebanyak mungkin, maka takdir ini pasti bisa berubah.

Oleh karena itu, karma tetap pun masih bisa diubah, namun harus rajin melafalkan paritta dan menekuni Ajaran Buddha Dharma, jangan memohon kepada para dewa dan bertanya kepada peramal.

Sebagai praktisi Buddhis, sebisa mungkin hindari pergi meramal, jalani pembinaan diri dengan baik, dan percayalah bahwa Pu Sa pasti bisa mengubah kekuatan karma kamu.

Selain itu, kalian sendiri tidak boleh tergoda, ada orang yang mengatakan bahwa dia tidak akan tergoda dengan uang, namun hatinya masih tetap tergoda, berarti apa yang dikatakan dan yang dipikirkan bertolak belakang.

Coba kalian lihat, ada berapa orang yang bisa tidak tergiur bila melihat uang?

Misalnya, sewaktu sedang berjalan, tiba-tiba ada selembar uang terbang menyelip ke depan kakimu, apakah kamu akan mengambilnya? Kamu tergoda tidak? Menghadapi kesempatan yang bisa digunakan untuk mengambil keuntungan, bisakah kamu menahan diri untuk tidak melakukannya? Bila pikiranmu goyah, maka selanjutnya kamu akan menerima buah karmanya.

Kamu boleh tergoda, akan tetapi pada saat balasannya tiba, kamu harus bagaimana? Jika pikiranmu benar-benar sudah tidak tergoyahkan lagi, maka kamu adalah orang yang berakhlak mulia, sudah mencapai tingkatan orang suci, sudah memasuki jalan pencerahan terakhir. Sampai ke tingkat Ba Di Pu Sa *八地菩萨 (Acala-bhumi), baru bisa bebas dari segala rupa (animitta) dan bebas dari segala upaya (an-a^bhoga).

Karena hanya Bai Di Pu Sa yang benar-benar sudah mencapai ketenangan pikiran dan keteguhan hati, dia benar-benar sudah tidak tergoyahkan lagi. Oleh karena itu, seorang Buddha pun berasal dari manusia biasa yang mencapai pencerahan sempurna, proses peningkatan ini semuanya dijalani tahap demi tahap.

Seperti orang yang tadinya sangat kikir, sekarang sudah tidak kikir lagi. Yang tadinya tidak mau berdana pada orang lain, sekarang mau berdana. Dengan berdana, kita memerangi ketamakan di dalam kita sendiri. Karena “merelakan” adalah obat terbaik untuk mengobati keserakahan dalam diri kita, orang yang bisa memberi tidak akan tamak, orang yang tamak tidak rela untuk berdana. Inilah yang dimaksud dengan menggunakan cara yang tepat untuk menghilangkan kekurangan dan sifat buruk di dalam diri sendiri.

Tidak peduli seberapa besar perubahan lingkungan di sekitar kita, pikiran kita tidak boleh ikut terpengaruh. Perubahan ini, berarti saat ada hal buruk yang terjadi pada tubuh kita atau perubahan yang tidak baik pada lingkungan di sekitar kita.

Lalu, bagaimana cara menghapuskan pikiran yang mengganggu dan menjaga agar tetap tidak tergoda?

Yang pertama, harus memiliki pandangan yang bijaksana. Memandang segala hal secara bijaksana, yaitu menyadari bahwa segala hal hanya bersifat sementara, tidak abadi. Dengan kebijaksanaan dalam menilai suatu permasalahan, maka kamu akan memperoleh kebijaksanaan.

Yang kedua, mengingat penderitaan di Alam Neraka. Sewaktu kamu akan atau ingin melakukan perbuatan yang tidak baik, maka ingatlah pada saat hari pembalasan tiba maka kamu akan masuk Neraka, oleh karena itu, kamu harus bisa mengendalikan diri sendiri. Contohnya: jika kamu menipu orang lain, bersikap buruk kepada orang lain, lalu selanjutnya kamu harus mengingat-ingat kembali hukuman apa yang akan diterima di Neraka nanti.

Yang ketiga, mengingat penderitaan para peta. Peta atau setan kelaparan adalah para arwah yang sangat kasihan, makhluk yang terlahir di Alam Setan, bermulut sangat kecil, berperut besar, dan sangat kelaparan.

Yang keempat, melafalkan paritta dan menyesali perbuatan buruk, dikategorikan juga sebagai melafalkan paritta. Sewaktu pikiran kita kacau dan hati kita merasa gusar, maka lafalkanlah paritta dan sesali kesalahan kita dengan sungguh-sungguh, lama kelamaan kerisauan ini bisa menghilang dengan sendirinya. Hanya dengan melafalkan paritta dengan sepenuh hati, kamu baru bisa meninggalkan karma buruk, meninggalkan iblis, meninggalkan semua hal yang membebani pikiranmu. Pada waktu melafalkan paritta harus berkonsentrasi, kalau tidak maka pelafalannya tidak akan ada hasilnya. Bila saat melafalkan paritta, pikiran kita kacau, sebentar teringat hal ini, tak lama kemudian teringat hal itu, maka paritta yang dilafalkan juga akan berantakan, pikiran kita juga terpecah. Oleh karena itu, paritta harus dilafalkan dengan sepenuh hati.

Pelafalan paritta yang tidak membuahkan hasil, selain karena tidak dilafalkan dengan tulus, penyebab lainnya adalah gangguan dari luar, seperti makan daging dan bawang- bawangan, orang yang mengkonsumsi lima bawang-bawangan jika melafalkan paritta, maka Dewa Pelindung Dharma tidak akan datang.

Kelima bawang-bawangan ini adalah: bawang bombai, bawang putih, lokio atau kucai (chinese allium), bawang merah dan asafetida (asafoetida atau hing).

Mengapa tidak boleh mengkonsumsi makanan yang berbau tajam? Karena semua makanan yang beraroma dan memiliki rasa yang tajam, bisa merangsang sel otak besar, memicu munculnya nafsu makan dan nafsu seksual. Jika para Dewa Pelindung Dharma mencium bau yang menyengat ini, maka si pelafal paritta tidak akan bisa memperoleh hasil pelafalan yang baik.

Beberapa faktor yang harus diperhatikan sewaktu melafalkan paritta agar memperoleh hasil pelafalan yang baik:

  • Menyatukan pikiran dengan aliran energi. Saat melafalkan paritta, pikiran dan aliran energimu harus
  • Menyatukan suara dengan medan Suara pelafalan kamu dan medan aura menjadi satu.
  • Menyatukan tubuh, pikiran, dan medan Tubuh, pikiran, dan medan aura kamu harus menyatu.

Sewaktu melafalkan paritta, menggabungkan ketiga faktor ini.