1. Mempelajari Kebijaksanaan Sempurna di dalam AjaranBuddha Dharma 学习佛法圆融的智慧

1. Mempelajari Kebijaksanaan Sempurna di dalam Ajaran Buddha Dharma

Pertama-tama, saya (Master) ingin memberi tahu kalian, pembelajaran Dharma bertujuan untuk memulihkan kebijaksanaan dan moralitas yang sudah ada di dalam diri kita.

Kalian harus tahu bahwa membina diri dalam Dharma bukanlah hal yang mudah. Kita harus benar-benar membina pikiran dan perilaku diri kita sendiri, harus belajar untuk menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang ada di dalam diri kita, jangan biarkan kebiasaan buruk ini mengakar di dalam hati dan dunia ini, harus belajar untuk melawan sifat egois kita, menghilangkan nafsu keinginan pribadi dan pikiran-pikiran yang tidak baik, harus membenarkan pemahaman, pikiran, pandangan dan sikap kita yang salah terhadap alam semesta dan kehidupan ini.

Membina pikiran berarti harus menenangkan dan membersihkan pikiran kita, memiliki pikiran yang bersih dan tenang lebih penting dari apa pun juga. Bila pikiran kita bersih dan tenang, maka segala nafsu keinginan, kemelekatan, pengetahuan sesat, dan pemikiran yang jahat akan hilang dengan sendirinya. Pikiran yang bersih dan tenang akan menumbuhkan kebijaksanaan, juga akan membuat tubuh kita menjadi bersih dan tenang. Apabila tubuh dan pikiran seseorang sudah bersih dan tenang, maka keadaan luar orang tersebut juga akan menjadi bersih dan tenang.

Setiap orang itu sama rata: memahami atas dasar apa kesamarataan ini dibangun sangatlah penting.

Tidak ada hal yang benar-benar sama atau adil di dunia ini, kelihatannya, sangat sulit untuk mencapai kesamarataan bagi setiap orang. Sebenarnya, perasaan “sama” ini dibangun di atas pikiran kita yang paling dasar, dan disetarakan oleh pemikiran kita sendiri. Perasaan adil atau sama ini terbentuk karena sudah disesuaikan dan diperbaiki oleh sisi psikologis kita sendiri, yang membuat kita mampu menggunakan kebijaksanaan untuk mengurai masalah dan hambatan dalam hati kita.

Contoh di dalam lingkup luas: di dalam masyarakat, ada sebagian orang sangat beruntung, ada juga sebagian orang yang hidup merana, sengsara dalam kemiskinan.

Contoh di dalam lingkup yang lebih sempit, di dalam satu keluarga, besar kecilnya pengorbanan yang diberikan suami dan istri kepada keluarganya, semua ini sebenarnya adalah ujian terhadap pandangan adil di dalam pikiran kita.

Berbakti kepada orang tua dan hormat kepada guru: mengapa kedua hal ini selalu disatukan? Ada pepatah Tiongkok yang mengatakan: “Guru sehari sama dengan ayah seumur hidup.”
Kalian harus memahami dengan baik makna perkataan ini.

Mengapa menyamakan keluarga dengan guru? Sadarilah, bahwa seorang Master menggunakan segenap pikirannya, mengerahkan segenap jiwa dan pikirannya untuk menjaga kalian, menggunakan aura kekuatannya sendiri untuk mengawasi dan melindungi kalian, ini adalah hal yang sangat sulit. Ada beberapa hal yang bahkan orang tua kita sendiri pun tidak sanggup untuk menyelesaikannya. Memang orang tua kita mendidik dan membesarkan tubuh jasmani kita, akan tetapi Master bisa membimbing kita menapaki jalan kebuddhaan, menyelamatkan jiwa dan kehidupan kita. Banyak orang menderita penyakit rohani (ling xing bing), mungkin orang tuanya sendiri belum tentu bisa menolongnya, namun Master bisa menolongnya, seperti Guan Shi Yin Pu Sa yang menolong semua makhluk.

“Master” di sini tidak hanya mengacu pada saya– Jun Hong Lu, tetapi merujuk pada semua Buddha dan Bodhisattva yang telah membimbing kita menuju ke jalan kebenaran.

Berbakti adalah suatu bentuk perilaku budi pekerti, dan hanya dengan perilaku yang baik barulah kita bisa mengembalikan jati diri kita yang sebenarnya.

“Ajaran Guru” adalah konsep pengajaran dari Sang Buddha, dan untuk menjalaninya harus didasari dengan sifat bakti, tanpa rasa “bakti” maka seseorang tidak akan bisa menerima ajaran yang diberikan oleh sang guru. Oleh karena itu, setiap orang harus berbakti kepada guru dan menghormati ilmu atau ajaran yang diajarkannya, hanya dengan demikian barulah kita bisa mencapai kesuksesan.

Menyamakan pandangan: atau dengan kata lain adalah mencapai kata mufakat. Hubungan antara orang yang satu dengan yang lain harus dijalin dengan perasaan tulus, jangan memiliki maksud terselubung, karena hubungan yang terjalin dengan tujuan tertentu akan berubah dan tidak akan kekal, hanya dengan ketulusan hati, barulah kita bisa menyamakan antara pandangan kita dengan pandangan orang lain, karena di dalam perasaan tulus ini tidak ada pemikiran yang tidak baik. Kita harus belajar untuk melepaskan semua pikiran membeda-bedakan dan rasa kemelekatan yang ada di dalam diri kita.

Contohnya: hari ini ada dua orang murid yang berselisih paham dalam menyelesaikan satu masalah, lalu bagaimana solusi untuk menemukan titik tengahnya? Gunakanlah kebijaksanaan Bodhisattva (Pu Sa) untuk menyelesaikan perbedaan pendapat ini. Karena setiap orang memiliki pandangan yang berbeda, dan memiliki latar belakang yang berbeda pula. Seandainya Anda bisa menguasai cara ini, maka Anda bisa menyelesaikan persengketaan apa pun dan kemana pun Anda pergi. Ini adalah kepandaian yang tidak mudah dikuasai. Sebenarnya, sama dengan mencapai kesepakatan.

Sewaktu Anda menghadapi masalah, dengan adanya sudut pandang yang sama, barulah bisa menyelesaikan masalah secara damai. Di sini perlu ditekankan, bahwa, “penyelesaian” tidak berarti meminta kalian untuk menekan diri Anda sendiri, jangan belajar untuk menahan amarah, akan tetapi belajarlah untuk menguraikannya.

“Mengurai” adalah tahap yang tertinggi, dia tidak sama dengan menahan diri. Dalam Bahasa Mandarin, karakter huruf ” 忍” (baca: ren) yang berarti ”tahan”, yang menekankan bahwa dalam menghadapi segala sesuatu hal harus bisa menahan diri atau bersabar.

Padahal, bersabar hanya bersifat sementara, oleh sebab itu “kesabaran” bukanlah tingkat kesadaran yang tertinggi. Kalian pasti pernah menonton film “Ninja Turtles atau kura-kura ninja”, dia menahan emosi dirinya, sampai pada saat terakhir dia meletakkan pisau di dadanya, yang pada suatu hari nanti, dia pasti akan menggunakan pisau itu untuk menghancurkan hatinya sendiri.

Sewaktu muncul perbedaan pendapat di antara kalian, harus bisa diselesaikan secara baik-baik, setiap orang boleh mengutarakan pendapatnya masing-masing, lalu carilah jalan penyelesaiannya secara bijaksana.

Sekarang saya jelaskan sedikit arti kata ”he” dalam pepatah “he wei gui – keharmonisan adalah yang terpenting”. Kalian semua tahu “he” dari kata “ping he” yang berarti damai.

Makna dari kata “he” di sini, adalah segala hal yang dilakukan harus didasari dengan perdamaian. Banyak orang yang tidak mengerti makna sebenarnya dari kata “he” ini, mereka mengira makna dari kata ini, hanyalah “saya dan kamu menjaga hubungan dengan baik”, atau “berkomunikasi dengan baik”. Oleh karena itu, apabila kamu menyelesaikan suatu permasalahan didasarkan dengan maksud tujuan yang baik, maka segala permasalahan akan terselesaikan dengan sendirinya, maka dari itu dasar pandangan untuk menyelesaikan suatu masalah itu sangat penting. Hanya dengan “perdamaian” ini barulah bisa mendekatkan pandangan dan pemikiran kita dengan cara hidup kita.

Sulit untuk mengenal Ajaran Buddha Dharma: juga bisa dikatakan sulit untuk menemukan dengan guru yang baik, sulit untuk mengenal ajaran yang benar.

Di masa periode akhir Dharma, banyak orang pergi ke mana-mana untuk menyembah Pu Sa (Bodhisattva), bersembahyang atau berguru. Tahukah Anda, ada berapa banyak orang yang menganut agama Buddha di dunia? Namun ada berapa banyak orang yang benar-benar mengerti cara melafalkan paritta? Tahukah kalian, banyak orang mengatakan bahwa mereka menyembah dan percaya pada Pu Sa.

Kalian dulu pernah mendengar Master mengatakan hal ini, kalau hanya menyembah Pu Sa tetapi tidak melafalkan paritta, itu sama saja dengan tidak menyembah Pu Sa. Orang yang bahkan nama Pu Sa saja tidak tahu, tidak mengerti apa-apa,

bagaimana bisa mendapatkan bantuan dari Pu Sa? Saya sering memberikan sebuah contoh: Saya menyukai dan mengagumi universitas ini, tapi saya tidak mau belajar dan sekolah, bagaimana mungkin saya bisa masuk universitas tersebut? Ini logikanya sama saja.

Sulit untuk mengenal Ajaran Buddha Dharma: pada periode akhir Dharma. Jika kamu ingin memahami inti dari ajaran Pu Sa (Bodhisattva), bisa mendapatkan berkat perlindungan dari Pu Sa, maka Anda seharusnya bisa menemukan inti dari Ajaran Buddha Dharma yang sesungguhnya.

Sekarang ini tidak mudah untuk meneladani Pu Sa, lebih sulit lagi untuk menjadi Buddha. Pu Sa atau Bodhisattva adalah suatu kesadaran, suatu kebijaksanaan, sedangkan Buddha adalah kesadaran total, penerangan sempurna. Jika Anda sudah benar-benar tersadarkan, mendapatkan kebijaksanaan sempurna, maka Anda sudah menjadi seorang Bodhisattva (Pu Sa).

Untuk menjadi seorang Buddha, Anda harus mencapai tingkat kesadaran tertinggi (anuttara-samyak-sambodhi) – penerangan sempurna.

Banyak orang yang mengira cukup dengan bersembah sujud, membaca sedikit buku berarti sudah memahami Ajaran Buddha Dharma. Pertanyaannya, buku seperti apakah yang kamu baca? Ajaran apa yang sudah kamu kenali? Anda harus memahami makna yang terkandung di dalamnya.

Saya sering menceritakan, dahulu ketika Buddha Sakyamuni sedang membabarkan Ajaran Dharma di India, Beliau sering membawa murid-muridnya, setiap murid membawa sebuah mangkuk (patta), dan mengetuk pintu setiap rumah untuk meminta makanan, hal ini dilakukan untuk membina hati kebuddhaan murid-muridnya.

Alasannya: pertama, agar orang-orang di setiap rumah bisa berkesempatan untuk melakukan kebajikan, menumbuhkan perasaan welas asih mereka. Saat melihat ada biksu yang datang, “Wah! Ada biksu datang, Amituofo”, lalu memberikan makanan kepada mereka, ini berarti membina pikiran untuk berdana.

Kedua, banyak biksu yang berasal dari kalangan keluarga kerajaan, bangsawan, atau saudagar kaya. Setelah mereka tersadarkan, mencukur rambutnya dan mengenakan jubah biksu (menjalani Upasampada – upacara pentahbisan biksu), Sang Buddha ingin membina perasaan welas asih mereka, agar mereka bisa meletakkan martabat dan kesombongan dirinya sendiri, dan menyadari bahwa mereka ini hanyalah orang biasa, yang sama dengan semua makhluk lainnya.

Sekarang, apakah Anda masih bisa melihat para biksu keluar bersama untuk meminta-minta di jalan? Jangan berpikir karena di masa lalu ada seorang guru besar yang melatih diri dengan cara begini, atau seorang praktisi Dharma yang terkenal melatih diri dengan cara begitu, lalu kita harus mengikuti cara-cara mereka.

Sebenarnya inti dari membina diri di dalam Ajaran Buddha Dharma adalah menemukan kembali jati diri kita dan sifat kebuddhaan yang ada dalam diri kita masing-masing.

Pembinaan pikiran pada masa sekarang ini harus ada perubahan, kita harus memahami bahwa yang berubah itu bukan Ajaran Dharma-nya tetapi cara yang digunakan, membina diri di dunia ini harus dilakukan dengan sepenuh hati.

Di zaman akhir Dharma ini, kita harus mencontoh semangat Mahayana (Roda Dharma Besar) – menyelamatkan orang lain. Sewaktu Anda menolong orang lain, barulah Anda bisa mendapatkan kebijaksanaan sejati, baru bisa mendapatkan kekuatan yang sesungguhnya. Mengapa setelah Master dibukakan mata langitnya, bisa menolong sebegitu banyak orang dalam waktu yang singkat? Bisa memperoleh kekuatan yang luar biasa? Semua ini karena pembinaan diri yang dijalani, semuanya adalah berkat pemberian Pu Sa.

Asalkan Anda membabarkan Dharma menyelamatkan orang dengan sepenuh hati, memperkenalkan Pintu Dharma ini dan menyebarkan Ajaran Buddha Dharma ini pada orang-orang, maka Pu Sa pasti akan memberi Anda kekuatan, kalian harus tahu ini. Di masa periode akhir Dharma ini, Guan Shi Yin Pu Sa akan menjelma menjadi berbagai macam orang untuk menyelamatkan kalian semua, sekarang pun Master juga sedang menyelamatkan para penonton, agar semua orang di sini mau melafalkan paritta, membuat semua keluarga lebih harmonis, menyelamatkan dan memberikan kebaikan bagi semua orang dengan membabarkan Ajaran Buddha Dharma.

Kesadaran atau penerangan sempurna (anuttara-samyak-sambodhi): adalah Buddha dan Bodhisattva (Pu Sa).

Master sekarang mengajari kalian Pintu Dharma ini, adalah untuk mempelajari bagaimana mencapai kesadaran total, yang diwariskan dari Sang Buddha, sebagai tingkat pelatihan tertinggi. Guan Shi Yin Pu Sa sering berbicara pada saya dan mengajari saya bagaimana cara menolong orang-orang melalui radio. Kalian tahu bahwa sekarang banyak aliran yang menyebarkan ajarannya secara diam-diam.

Sekarang saya ingin membuka kebijaksanaan kalian, sehingga kalian tahu bagaimana cara Pu Sa menyelamatkan orang-orang di dunia ini.

Contohnya, ada sebuah pulau dilanda banjir, pesawat berdatangan, kapal induk juga datang, apakah mereka hanya menyelamatkan beberapa orang saja? Atau menyelamatkan semua orang? Akan tetapi, selama proses penyelamatan yang berlangsung, ada banyak masalah yang akan bermunculan,
misalnya akan ada beberapa orang tua dan orang-orang sakit, yang sewaktu menaiki kapal induk tidak hati-hati jatuh ke air, dan mungkin ada beberapa pasien yang tiba-tiba terkena serangan jantung, dan lain-lain, mereka semua termasuk dalam kelompok orang-orang yang menyedihkan, yang tidak berjodoh, sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Ajaran Buddha Dharma. Bila ingin benar-benar menyelamatkan orang lain, maka harus disesuaikan dengan kebutuhan orang tersebut, bila ingin menyelamatkan orang lain harus menggunakan pengetahuan, pandangan, dan pembinaan dalam Ajaran Buddha Dharma.

Coba kalian lihat, apakah para guru dan biksu besar lainnya bukankah mereka juga sedang menyelamatkan orang? Mereka sedang menyelamatkan banyak orang secara terang-terangan. Oleh sebab itulah, kalian harus ingat apa itu ” 正 – benar”? Huruf ” 正” (baca: zheng) terbentuk dari perpaduan dari energi yin dan yang serta kelima unsur elemen.

Sekarang saya akan menjabarkan huruf “ 正” ini , guratan mendatar pertama paling atas mewakili unsur logam (emas), guratan mendatar yang terbawah adalah unsur air, sedangkan guratan tegak lurus di tengah adalah unsur kayu; guratan vertikal di sebelah kiri adalah unsur api, sedangkan guratan mendatar di sebelah kanannya mewakili unsur tanah.

Maka yang dimaksud dengan mencapai tingkat kesadaran total atau benar-benar memiliki kebijaksanaan sempurna, adalah mengajarkan Anda bagaimana caranya untuk menemukan jalan kebenaran yang sesungguhnya.

Ingatlah di periode akhir Dharma, semua hal yang “benar” pasti tahan uji dalam berbagai macam aspek dan tidak akan lapuk oleh waktu, maka dari itu, kita harus membabarkan Ajaran Buddha Dharma. Jika Anda memiliki kekuatan yang cukup untuk menerima Ajaran Dharma, maka kamu pasti bisa memahaminya, sebaliknya jika tidak memiliki kekuatan, maka tidak akan bisa mengerti Ajaran Dharma, apalagi bila disampaikan kepada Anda secara sembunyi-sembunyi, lebih tidak bermanfaat.

Perbedaan kekuatan yang dimiliki saat ini dan tinggi rendahnya tingkat pembinaan diri seseorang di kehidupan yang sebelumnya, akan menyebabkan kemampuan dan pemahaman yang berbeda-beda pada setiap individu. Kita perlu menemukan sebuah jalan yang benar dan realistis, serta bisa membantu kita dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.

Bila saat sekarang ini, masih ada orang tidak bersedia dilindungi dan diselamatkan oleh Pu Sa, masih tidak mau berusaha untuk memperbaiki nasibnya sendiri, maka kita hanya bisa mengatakan, orang ini adalah orang patut dikasihani. Memiliki kebijaksanaan sempurna, berarti tidak memiliki keraguan dan bisa memahami dengan jelas kebenaran tentang segala hal di alam semesta ini.

Singkatnya, jika kita bisa berpikir dan mengamati dengan tenang, kemudian bisa menyelesaikan masalah dengan sempurna, itu berarti Anda sudah memiliki kebijaksanaan sempurna yang sesungguhnya. Jika tingkat kebijaksanaan Anda kurang sempurna, maka persentase keberhasilan Anda hanya ada setengah, namun bila Anda sudah memiliki kebijaksanaan yang sempurna, maka segala hal yang Anda lakukan pasti akan berhasil.

Ingatlah, baik terhadap anak-anak, maupun terhadap orang yang lebih tua, jikalau Anda berbakti pada orang tua, menghormati yang lebih tua dan mengasihi yang lebih muda, maka anak Anda juga nantinya akan berbakti kepada Anda, ini namanya balasan karma. Atau disebut juga dengan buah karma di dunia, ada banyak orang beranggapan pembalasan karma hanya akan diterima setelah seseorang meninggal, namun sebenarnya pembalasan karma sudah mulai berbuah ketika kita masih hidup, inilah yang dinamakan karma langsung.

Coba kalian lihat orang-orang yang berbaring dan mengemis makanan di pinggir jalan, tubuhnya sangat kotor, bukankah itu karma langsung? Bukankah ini yang dinamakan pembalasan karma? Kalian harus tahu sekarang bahwa pembalasan dari karma langsung ini sangatlah cepat. Seperti bayangan yang mengikuti kita, segala hal yang dilakukan secara berlebihan, maka karma balasan akan langsung muncul di depan Anda. Bila perbuatan buruk yang dilakukan masih di dalam batas kewajaran, maka karma buruk baru akan dituai pada reinkarnasi berikutnya, namun apabila perbuatan buruk yang dilakukan sudah melampaui batas, maka balasannya akan segera diterima.

Oleh karena itu, dalam melakukan segala hal jangan sampai melampaui batas kewajaran, kalau tidak pasti akan tertimpa malapetaka.

Ada sebagian orang yang membina pikiran, hatinya sangat tulus, mereka juga memiliki hati nurani sangat baik, mereka pergi ke kuil-kuil manapun untuk memberikan penghormatan kepada Pu Sa (Bodhisattva). Jika di dalam kehidupan ini, orang itu tidak bisa bertemu dengan seorang guru yang baik, tidak bisa menentukan tujuan, maka dia hanya bisa dikatakan sebagai penganut Buddhis (orang yang beragama Buddha).

Contohnya: setiap hari Anda sembahyang pada Guan Shi Yin Pu Sa, tetapi Anda tidak memahami dengan jelas siapa itu Guan Shi Yin Pu Sa, maka bagaimana Anda bisa meneladani kebijaksanaan dari Guan Shi Yin Pu Sa, bagaimana Anda dapat menyambungkan aura sendiri dengan Pu Sa untuk meningkatkan pembinaan diri Anda; sedangkan Anda sendiri masih tidak mengerti mengapa Anda tetap hidup menderita di dunia ini.

Banyak orang yang baru datang menyembah dan meminta perlindungan dari Sang Buddha setelah bencana datang menghampiri. Jika kita tidak menemukan guru yang baik dan memiliki tujuan hidup yang benar, bagaimana mungkin kita bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi di dunia ini?

Melatih atau membina diri, harus dijalankan dengan mengumpulkan pahala sekaligus meningkatkan kebijaksanaan. Melakukan kebajikan atau perbuatan baik sama dengan mengumpulkan pahala, sedangkan kebijaksanaan yang dimaksud di sini adalah kecerdasan spiritual, memang tidak mudah bagi orang biasa untuk meningkatkan aspek ini, ini hal yang terpenting, jika kita memiliki kebijaksanaan maka kita bisa menyelesaikan segala masalah.

Untuk membuka kebijaksanaan hati kita hanya bisa diperoleh dengan cara melafalkan paritta dan melakukan kebajikan. Hanya dengan menjalankan sila barulah seseorang bisa memiliki ketenangan pikiran, setelah itu barulah terbuka pikirannya dan mendapatkan kebijaksanaan, oleh karena itu kita harus tenang baik secara fisik maupun mental. Maka dikatakan: “Seseorang yang berpegang pada sila akan memiliki ketenangan pikiran, dengan ketenangan pikiran maka kebijaksanaan akan muncul”.

Lima sila dalam agama Buddha adalah: jangan membunuh, jangan mencuri, jangan berbuat asusila, jangan berkata-kata tidak benar, jangan minum minuman keras.

Jangan Anda kira bahwa kelima sila ini hanya perlu ditaati oleh para praktisi Buddhis, sebenarnya orang awam pun tidak boleh membunuh sembarangan, melakukan perbuatan tidak senonoh, mencuri atau merampok, dan sebagainya. Saya harap kalian bisa memahami dengan baik sila-sila tersebut.

Mengapa Sang Buddha tidak menganjurkan kita untuk minum minuman keras? Karena minum minuman keras (minuman beralkohol) membawa pengaruh buruk pada manusia, karena bisa membuat orang kehilangan akal sehat, menumpulkan kesadaran seseorang, dan melumpuhkan semangat orang tersebut.

Banyak instansi pemerintah yang memasang peringatan: kecelakaan yang disebabkan karena minum minuman keras (mabuk) adalah tindakan kriminal. Ini membuktikan bahwa Ajaran Buddha Dharma adalah ajaran yang benar. Mengapa Ajaran Dharma bisa diterima dan dipahami oleh banyak orang, karena kebenaran yang terkandung di dalam ajaran ini membuatnya dihormati dan dilindungi khalayak luas.

Terbebas dari ketersesatan dan tersadarkan: apa saja “ketersesatan” di sini? Ketenaran, keuntungan, minuman keras, penampilan luar, uang dan harta benda (material), amarah, ketamakan/keserakahan, kebencian, kebodohan.

Jika seseorang serakah atau tamak, maka dia tidak akan pernah merasa puas, dan pada akhirnya dia terlahir ke Alam Peta (hantu kelaparan) setelah meninggal.

Keserakahan dalam cinta adalah sumber dari segala kejahatan. Bila tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan maka akan lahir perasaan benci, munculah kerisauan, dan pada akhirnya dia akan jatuh ke Alam Neraka. Jika seseorang yang bodoh hanya tahu mencari uang atau mencelakakan orang lain, tanpa pernah mau membantu orang lain, maka pada reinkarnasi berikutnya dia akan terlahir sebagai binatang. Binatang melekat pada rupa atau wujudnya sendiri, oleh karena itulah dia akan terus berinkarnasi di dalam Alam Binatang.

Bodoh berarti tidak memiliki kebijaksanaan. Yang saya ajarkan kepada kalian adalah ajaran yang benar, jalan yang benar, kepercayaan yang benar, pikiran yang benar, dan waktu yang benar, agar kalian bisa terlepas dari kemelekatan dan tersadarkan, bebas dari penderitaan, dan menemukan kebahagiaan.

Kata-kata dari lubuk hati saya yang terdalam sebagai murid: guru yang baik sulit untuk ditemukan, saat ini kita bisa mengenal Master Jun Hong Lu adalah pahala terbesar kita di kehidupan ini, dan juga buah karma baik dari beberapa kehidupan sebelumnya yang sudah matang, ini adalah suatu jodoh yang amat langka.

Kita harus menghargai jodoh ini baik-baik, dengan membina atau melatih diri secara sungguh-sungguh, mencontoh sifat welas asih Master yang luar biasa besarnya, menghapus kerisauan dalam hati kita, bertekad untuk menjadi Buddha, terbebas dari segala ketidaktahuan, mendapatkan tubuh Dharma, bersama Master membabarkan Ajaran Buddha Dharma, menyelamatkan semua makhluk, agar setiap manusia bisa bersukacita dalam Dharma, dan bisa mendapatkan keberhasilan yang sesungguhnya, memperoleh jasa kebajikan yang sempurna.