Hati dan Buddha adalah Satu, Berlindung pada Sifat Dasar Diri Sendiri
Kita harus memahami bahwa “Jika hati manusia bersatu, Gunung Tai pun dapat dipindahkan.” Ketika hubungan antara dua orang semakin baik, maka mereka berdua akan melahirkan kekuatan kekompakan yang harmonis. Demikian pula dalam hubungan suami dan istri, ketika hubungan semakin baik, kekuatan pun muncul dan terciptalah persatuan. Oleh karena itu, kita umat Buddha satu hati, setiap umat Buddha bersatu hati, memberi manfaat kepada semua makhluk. Kita semua belajar Buddha Dharma dan bersama-sama mengikuti Master untuk memperkenalkan Dharma kepada orang lain. Coba pikirkan, betapa besar kekuatan dalam memperkenalkan Dharma atau membimbing orang. Master memperkenalkan Dharma kepada orang dalam Seminar Dharma, tetapi kalian yang berada di pintu masuk bahkan bisa memperkenalkan Dharma lebih cepat daripada Master. Ketika orang mengambil buku, bukankah kalian sudah langsung berbicara dan menjelaskannya kepada mereka? Ketika kalian berusaha menyelamatkan dan menolong orang lain, setiap orang memiliki satu hati yang sama, bukankah itu berarti umat Buddha sehati, memberi manfaat kepada semua makhluk? Oleh karena itu, ketika para umat Buddha bersatu hati, menyeberangkan dan menyelamatkan semua makhluk. Kita semua adalah putra-putri Guan Shi Yin Pu Sa. Menyelamatkan semua makhluk berarti berusaha menolong setiap orang.
Kita harus mengumpulkan berkah dan kebajikan, serta membuka lebar pintu kebaikan. Coba pikirkan, setiap orang memiliki sisi baik dalam hatinya. Namun banyak orang belum membuka pintu kebaikan itu; dia belum membuka pintu hatinya sendiri. Artinya, seseorang sebenarnya mampu berbuat baik, tetapi mengapa ia tidak melakukannya? Karena ia menutup pintu tersebut. Apakah kalian mengerti? Orang ini memiliki kemampuan untuk membantu orang lain, tetapi ia tidak mau membantu, dia telah menutup pintu kebaikannya. Sekarang Master meminta kalian untuk membuka pintu kebaikan itu.
Kita harus memahami arti berlindung pada diri sendiri, bernaung pada diri sendiri. Sesungguhnya, semua ajaran Buddha yang kita pelajari berada di luar diri. Jika kamu tidak membawanya masuk ke dalam hati, ia tidak akan pernah benar-benar masuk ke dalam batinmu, karena yang kita pelajari adalah pendidikan ajaran Buddha, maka berada di luar. Apa yang dimaksud dengan ajaran Buddha? Itu berarti mempelajari kitab-kitab Buddha, berbagai aturan dan tata cara di luar, serta konsep dan prinsip dalam belajar Buddha, semua ini berasal dari luar diri. Namun yang benar-benar dapat menerima manfaat dari ajaran Buddha adalah dirimu sendiri. Jika kamu mampu benar-benar menerapkan semua ajaran dan teori Buddha yang telah kamu pelajari ke dalam dirimu sendiri, bukankah itu berarti kamu sendiri yang telah memperoleh Dharma? Banyak orang belajar Buddha Dharma sepanjang hari selalu bergantung pada orang lain, kamu ingin bergantung pada siapa? Bergantung pada Master pun tidak bisa, bergantung pada Bodhisattva pun tidak bisa, yakni harus bergantung pada dirimu sendiri untuk menekuni Dharma dengan baik, pada akhirnya mencapai tingkat Kebuddhaan, dan yang benar-benar menerima manfaat dari Buddha Dharma adalah dirimu sendiri, bukan orang lain. Jika pada akhirnya kamu mampu membina hingga mencapai Kebuddhaan, maka manfaat yang kamu peroleh dari ajaran Buddha Dharma adalah kemampuan menggunakan ajaran Buddha untuk menyelesaikan semua kesulitan dan persoalan dalam hidupmu, bukan orang lain, melainkan dirimu sendiri. Jika belajar Buddha Dharma membuatmu memperoleh kebijaksanaan, bukankah kamu sendiri yang merasakan manfaatnya? Jika belajar Buddha Dharma membuatmu tidak lagi bertengkar, karena kamu memahami prinsip dan ajaran Buddha Dharma dan memahami jodoh nidana, bukankah kamu sendiri yang merasakan manfaatnya? Jika belajar Buddha Dharma membuatmu mampu menggunakan pemikiran Buddha untuk menolong semua makhluk, dan kelak dapat terlahir di Alam Surga, ke Alam Sukhavati, pikirkanlah bukankah kamu sendiri yang menerima manfaatnya?
Dengan menggunakan ajaran Buddha Dharma untuk menyempurnakan diri, kita harus menggunakan ajaran Buddha untuk menyempurnakan diri kita sendiri, yakni membuat hati Kebuddhaan kita muncul. Sesungguhnya, belajar Buddha Dharma hingga pada akhirnya, jika kamu ingin menyempurnakan diri menjadi Buddha, maka pada akhirnya hati Kebuddhaan dalam dirimu akan muncul. Apa itu hati Kebuddhaan? Yakni Buddha yang paling asli dan paling murni di dalam hatimu. Berlindung berarti berlindung pada sifat Kebuddhaan yang ada dalam dirimu sendiri. Master menjelaskannya dengan bahasa sederhana: Tiga Perlindungan — Buddha, Dharma, dan Sangha, yakni berlindung pada sifat Kebuddhaan dalam diri kalian sendiri.
Dalam praktik pembinaan diri, seseorang tidak boleh membiarkan dirinya lepas tanpa kendali, harus dengan ketat mengawasi perilakunya sendiri. Kalian yang sebagai praktisi Buddhis hari ini, harus menuntut diri dengan standar tingkat kesadaran spiritual para Buddha dan Bodhisattva dalam setiap perkataan dan perbuatan. Setiap niat pikiran dan setiap tindakan harus mencerminkan Buddha. Jika tidak, maka sifat dasar Tiga Perlindungan dalam dirimu sendiri akan hilang. Buddha, Dharma, dan Sangha, Buddha telah pergi, jika kamu tidak lagi bertindak sesuai ajaran dan sila Buddha. Dalam kehidupan duniawi, jika perbuatanmu tidak sesuai aturan dan Dharma, maka Dharma pun hilang. Jika dirimu sendiri tidak berperilaku seperti seorang biksu atau seorang praktisi Buddhis, maka Sangha pun pergi. Oleh karena itu, kita harus dengan ketat menjaga dan mengawasi perilaku diri sendiri.
Dalam menekuni Dharma, kita harus melihat segala sesuatu dari dua sisi. Master menjelaskan sedikit tentang filsafat Buddhis, setelah seseorang belajar Buddha Dharma, ia akan memandang segala sesuatu dengan melihat kedua sisinya, keras dan lembut harus saling melengkapi. Oleh karena itu, orang yang benar-benar belajar Buddha Dharma bersikap tegas ketika perlu tegas, tegas dalam prinsip, semakin lama semakin kuat dan kokoh. Saya teguh dalam keyakinan belajar Buddha Dharma, dan tidak akan berubah. Namun di sisi lain, ia juga lembut — hatinya selembut air. Ketika melihat penderitaan makhluk dan melihat bahwa mereka perlu diselamatkan, muncullah hati welas asih, itulah hati yang lembut. Oleh karena itu, harus mengerti untuk bersikap tegas terhadap disiplin diri sendiri, tegas terhadap keyakinan dalam belajar Buddha Dharma. Namun terhadap kebiasaan dan kelemahan makhluk hidup, kita harus membimbing dan menasihati dengan cara yang bijaksana. Dan selalu ingin melakukan segala kebajikan di dunia ini, harus semakin lembut.
Kita harus memahami untuk memohon Guan Shi Yin Pu Sa untuk memberkati akar yang paling mendasar. Kalian sering berkata, “Mohon Guan Shi Yin Pu Sa memberkati,” tetapi memberkati apa? Sesungguhnya, jika hanya memberkati permohonan yang bersifat permukaan, itu tidak berguna. Ketika kalian bersujud dan berkata, “Mohon Guan Shi Yin Pu Sa memberkati saya menyelesaikan masalah ini,” Bodhisattva memberkatimu, dan masalah itu terselesaikan. Namun setelah itu, masalah berikutnya datang lagi. Yang perlu dimohon adalah agar Guan Shi Yin Pu Sa memberkati akar yang paling mendasar, yaitu memberkati sifat Kebuddhaan di dalam hatimu, agar sifat Kebuddhaan dan cahaya Buddha dalam dirimu terpancar keluar. Dengan demikian, bukankah semua hal buruk tidak lagi muncul? Dengan begini akar persoalan baru benar-benar terselesaikan.
Sebagai contoh, jika radiator mobil bocor, lalu kamu memanggil seorang teknisi untuk memperbaikinya dan hanya menambal bagian yang bocor, bukankah itu seperti ia telah “memberkatimu”? Namun lama-kelamaan tetap bocor lagi, karena seluruh radiator sebenarnya sudah rusak di banyak bagian. “Memberkati akar yang paling mendasar” berarti mengganti radiator yang rusak itu secara keseluruhan, jika sudah diganti, apakah masih akan bocor? Menambal sana-sini tidak ada gunanya, harus memberkati akar yang paling mendasar. Oleh karena itu, ketika kita memohon kepada Bodhisattva, kita harus tahu cara permohonan: “Guan Shi Yin Pu Sa, mohon berkati akar saya yang paling mendasar, lindungi dasar akar saya, dan sempurnakan dasar akar saya. Guan Shi Yin Pu Sa, saya pasti akan menjaga akar saya yang paling mendasar itu.”Apa yang dimaksud dengan akar yang paling mendasar? Yaitu sifat Kebuddhaan yang paling asli di dalam dirimu sendiri, begitu mendengarnya, Bodhisattva langsung mengerti. Jika kamu memohon Bodhisattva agar memberkati akar batinmu yang paling mendasar, Bodhisattva mungkin akan bertanya, “Lalu apa yang akan kamu lakukan?” Kamu harus menjawab, “Guan Shi Yin Pu Sa, saya pasti akan menjaga akar saya. Saya akan menjaga sifat dasar saya, tidak membiarkannya berkeliaran, tidak membiarkannya tersesat, dan pada akhirnya menyempurnakan akar itu, menyempurnakan sifat Kebuddhaan saya.” Ketika Guan Shi Yin Pu Sa memberkatimu, dan kamu benar-benar menjaga sifat Kebuddhaan itu, maka pada akhirnya kamu akan berhasil dan menyempurnakan sifat Kebuddhaanmu.
Seorang praktisi Buddhis harus memahami di mana letak pembinaan dirinya, dan harus dengan kesungguhan hati untuk menyadari serta memahami dengan jelas. Harus mengerti, sebenarnya kamu sedang membina apa dalam pikiranmu? Sampai di mana pikiranmu telah dibina? Coba pikirkan, di mana letak pikiranmu hari ini? Kalian duduk di sini sekarang, tetapi berapa banyak di antara kalian yang pikirannya benar-benar berada Guan Yin Tang? Ada yang duduk di sini, tetapi pikirannya sudah melayang ke tempat lain. Kamu telah lama membina pikiran, tetapi di manakah pikiran yang kamu bina itu sekarang? Sebenarnya, itu berarti di manakah kehidupan kebijaksanaanmu? Ke mana jiwamu pergi? Orang yang pernah menonton Perjalanan ke Barat tahu bahwa Sun Wukong pernah berubah menjadi sebuah rumah yang diam di tempat, sementara dirinya terbang pergi. Sebenarnya itu berarti jiwanya meninggalkan tubuhnya. Membina pikiran berarti membina di mana pikiran itu berada, harus menggunakan segenap hati menyadari dan memahami segalanya, barulah kamu dapat melihat hati Buddha. Hati harus memahami prinsip kebenaran. Jika kalian belajar Buddha Dharma begitu lama tetapi tidak memahami kebenaran, bagaimana mungkin kalian dapat menyempurnakan sifat Kebuddhaan?
Harus berlindung pada kesadaran dari sifat diri kita sendiri, dengan kata lain, jangan berlindung pada ini atau pada itu, tetapi berlindunglah pada kesadaran dalam sifat dasar dirimu sendiri. Apa maksudnya? Yaitu hanya ketika kamu sendiri dapat merasakan dan menyadarinya, barulah dapat mencapai pencerahan yang sejati. Jika kamu sendiri pun tidak merasakan apa-apa, bagaimana mungkin kamu bisa mencapai pencerahan? Sekarang kalian mengikuti Master dalam membina pikiran, jika setelah melafalkan paritta dan kalian sendiri merasakan bahwa Bodhisattva sedang menolong kalian, bukankah dirimu sendiri akan tersadarkan? Jika Master berkata bahwa belajar Buddha Dharma dan melafalkan paritta itu sangat manjur, tetapi kalian tidak melafalkannya, tidak merasakannya, maka dari mana datangnya pencerahan itu?
Master menjelaskan Buddha Dharma kepada kalian secara berurutan dan sistematis. Berlindunglah pada Dharma yang benar yang kamu praktikkan. Semakin lurus dan benar praktikmu, semakin mampu kamu melakukan perlindungan pada diri sendiri. Mengapa demikian? Karena di dalam hatimu tidak lagi memikirkan keburukan orang lain, tidak membenci siapa pun, ketika menghadapi suatu persoalan dan kamu telah memutuskannya berdasarkan prinsip yang benar, maka keputusanmu itu tentu selaras dengan kebenaran, benar tidak? Inilah yang disebut perlindungan yang benar, Dharma yang benar, berlindung pada disiplin dan sila dalam dirimu sendiri. Kamu harus berlindung pada sila yang telah kamu tetapkan untuk dirimu sendiri, yaitu senantiasa menaati sila. Hari ini saya tidak boleh melakukan hal ini, hari ini saya tidak boleh melakukan hal itu, jika demikian, berarti kamu sudah menjaga sila dalam dirimu sendiri, menjaga disiplin pribadi.
Hari ini ada seorang gadis kecil yang datang. Ia tahu bahwa dirinya telah melakukan banyak kesalahan, terus-menerus bertobat dan menangis, tubuhnya sampai gemetar. Master memberinya sedikit berkat, dan banyak karma buruknya pun terhapus, karena ia benar-benar memahami dan menyadari. Oleh sebab itu, ia mampu memperbaiki dirinya. Buddha Dharma, dari beberapa kalimat sebelumnya, sebenarnya mengantarkan kita sampai ke titik ini. Buddha Dharma hanyalah sebuah pengantar; pada akhirnya, yang paling penting adalah kesadaran. Setelah benar-benar merasakannya dan menyadarinya, barulah dirimu akan mengetahui apa yang benar dan apa yang menyimpang. Setelah mengetahui apa yang benar, seseorang akan menjadi bersih. Yang saya lakukan semuanya adalah hal yang benar, bukankah orang ini menjadi bersih? Dalam ajaran Buddha Dharma ini disebut “Kesadaran, kebenaran, kesucian”. Master dapat menganalisis setiap kalimat untuk kalian, agar kalian memahami bagaimana sebagai manusia kita seharusnya mencapai kesadaran yang sejati, hati yang lurus, dan jiwa yang bersih.
Kita setiap hari ingin pergi ke Alam Sukhavati. Tetapi dengan keadaan kalian sekarang ini, apakah bisa naik ke sana? Tidak sadar, tidak lurus, bahkan menyimpang, dan batin pun tidak bersih. bagaimana bisa pergi ke Alam Sukhavati? Untuk mencapai buah Kebuddhaan dan terbebas dari enam alam, bergantung pada siapa? Banyak orang berkata bergantung pada Bodhisattva, sebenarnya bergantung pada diri kalian sendiri. Jika kalian ingin mencapai buah Kebuddhaan dan keluar dari enam alam, dasar diri kalian sendiri adalah Buddha. Jika tidak bergantung pada diri sendiri, mau bergantung pada siapa? Apakah Master bisa menyelamatkan kalian? Master bisa menyelamatkan berapa orang?
Dulu Master memiliki seorang murid. Guru dari murid itu pada masa lalu juga memiliki kekuatan spiritual yang besar, tetapi hanya mempunyai enam orang murid. Setiap hari guru tersebut pergi membantu murid-muridnya mengusir roh, hari ini bertarung dengan satu roh ini, terkadang dirinya jatuh sakit parah, lalu setelah beberapa hari melafalkan paritta dan pulih, ia kembali membantu murid-muridnya mengusir roh. Para murid sangat mencintai guru itu dan memperlakukannya dengan baik. Namun pada akhirnya, sang guru meninggal dengan cepat.
Hari ini Master mengajarkan kalian untuk menggunakan sifat Kebuddhaan dalam diri kalian sendiri untuk menyempurnakan Buddha yang kalian cari. Inilah yang disebut Buddha selaras dengan Buddha. Belajar Buddha Dharma hingga mencapai tingkat kesempurnaan, apa yang dimaksud dengan tingkat kesempurnaan? Kesempurnaan berarti sampai pada pemahaman yang sepenuhnya, benar-benar mengerti bahwa segala sesuatu pada akhirnya kembali kepada diri sendiri. Hari ini ada seorang murid menelepon Master dan berkata, “Master, saya merasa bahwa semua kerisauan itu sebenarnya saya sendiri yang mencarinya.”Kalau begitu, mengapa kamu harus mencari-cari kerisauan? Maka, belajar Buddha Dharma hingga mencapai tingkat kesempurnaan berarti benar-benar memahami bahwa segala sesuatu kembali pada diri sendiri, kembali pada hakikat asal. Apa yang dimaksud dengan hakikat asal? Yakni sifat dasar yang pada awalnya, akar yang paling mendasar dan paling awal. Inilah yang disebut berlindung pada Buddha dalam diri sendiri.
Kita tidak perlu berbicara tentang berlindung pada Buddha di luar diri. Tidak perlu mengatakan berlindung pada Bodhisattva ini atau pada Master itu. Kamu cukup berlindung pada Buddha dalam dirimu sendiri dengan sungguh-sungguh. Sifat dasar Buddha ada di dalam dirimu, apakah kamu masih perlu berlindung pada orang lain?
