18. Satu Pemahaman Yang Benar Menyempurnakan Kebijaksanaan — 一念知成就智慧

Satu Pemahaman Yang Benar Menyempurnakan Kebijaksanaan

Halangan karma bagaikan rumput dan kebijaksanaan adalah api. Sesungguhnya halangan karma buruk sama seperti rumput, di tubuhmu akan sering tumbuh banyak rumput, jika ada halangan karma buruk pada dirimu, sesungguhnya itu sama seperti rumput liar. Kamu jangan terlalu memedulikannya, setiap orang memiliki halangan karma buruk, ada lagi sesuatu yang seperti api, bukankah api bisa membakar habis rumput? Lalu benda apa yang seperti api ini? Kebijaksanaan adalah api, sedangkan halangan karma buruk bagaikan rumput. Apa yang harus dilakukan jika halangan karma buruk datang? Mengandalkan “api” untuk membakar “rumput”, dengan kata lain, dengan mengandalkan kebijaksanaan untuk menghilangkan dosa karma burukmu, seperti mengandalkan api untuk membakar rumputmu. Oleh karena itu, harus menggunakan api kebijaksanaan untuk menghilangkan rumput liar dan halangan karma buruk di dalam hati.  

 

Selanjutnya adalah masalah yang paling kalian sukai, bagaimana mengetahui bahwa halangan karma buruk sudah hilang atau belum? Banyak orang ingin mengetahuinya, saya sudah menggunakan beberapa obor api, apakah rumputnya sudah habis terbakar? Mengapa rumput semakin tumbuh semakin banyak? Karena pada tubuhmu terdapat kondisi di mana mudah menumbuhkan “rumput liar”, benar tidak? Jika ingin mengetahui apakah halangan karma buruk di dalam hati diri sendiri telah hilang atau belum, maka setiap kali kamu mengerjakan sesuatu, pertama-tama kamu harus memahami, hal yang kamu lakukan ini memiliki karakteristik seperti apa? Misalnya, hari ini saya melakukan perbuatan baik, berarti karakteristiknya adalah baik; dan hari ini saya telah memarahi orang, maka hal ini bersifat buruk. Kamu perlu ketahui apakah halangan karma burukmu lebih banyak yang timbul atau lenyap? Jadi, harus mengetahui pertobatan yang sudah kita lakukan dulu, kamu harus tahu, apakah halangan karma burukmu telah hilang atau belum, untuk mengetahui masih ada berapa banyak halangan karma buruk yang kamu miliki, pertama-tama, kamu harus tahu dulu, terhadap karma-karma lama di masa lalu, saya sudah mempertobatkannya atau belum? Kalian bertanya kepada Master: “Master, apakah halangan karma buruk saya telah terkikis?” Master mau bertanya kepada kalian: “Apakah kalian sudah bertobat?” Selain itu, setelah bertobat, tidak boleh menimbulkannya lagi, tidak boleh kembali melakukan karma yang baru.

 

Harus sering mengamati hal yang dilakukan diri sendiri. “前佛后佛 – Qian Fo hou Fo–Buddha sebelumnya, Buddha sesudahnya”, apa maksudnya? Di depan adalah Buddha, di belakang juga adalah Buddha, sesungguhnya ini seperti yang sering kita bicarakan di dunia ini, menggunakan cara berpikir Buddha untuk memikirkannya baik-baik, mempertimbangkannya sebelum dan sesudahnya, ini disebut sebagai “Buddha sebelumnya, Buddha sesudahnya”, pemikiran sebelum dan sesudahnya semuanya adalah pemikiran Buddha. Sebelum memikirkan hal ini, saya menggunakan  konsep pemikiran Buddha untuk memikirkannya, setelah memikirkan hal ini, saya juga menggunakan cara berpikir Buddha untuk memikirkannya. Hari ini saya mau melakukan sesuatu, maka terlebih dahulu berpikir, apakah Buddha akan berbuat demikian? Jangan tunggu sampai selesai melakukannya, sampai buah balasan karma sudah datang baru memikirkannya, jika Buddha dan Bodhisattva, apakah akan memperoleh hasil seperti ini?

 

Misalnya, pada saat mulai melakukan suatu hal, saya begini demi kebaikan dia, maka yang kamu pikirkan ini adalah “Buddha sebelumnya”, berarti sebelum melakukan sesuatu, kamu menggunakan pemikiran Buddha untuk berbicara dengannya. Maka setelah kamu selesai melakukannya, kalau dia tidak memahami niat baikmu, malah sebaliknya bertengkar denganmu, maka selanjutnya kamu harus berpikir “Buddha sesudahnya”, yakni hasil yang didapatkannya hari ini berarti “Buddha sebelumnya” yang saya lakukan bukanlah Buddha. Jika saya benar-benar sepenuhnya sudah menjadi Buddha, maka Buddha saya ini pasti tetap adalah Buddha. Hari ini saya menasihati orang lain, meskipun bersujud padanya, ataupun saya benar-benar berubah, apapun yang kamu katakan tentang saya, saya tetap bisa bersabar, saya bisa menerimanya, maka ini adalah “Buddha sebelumnya”, maka bagaimana mungkin orang lain akan bertengkar denganmu? Hari ini, titik awal kamu adalah “Buddha sebelumnya”, akan tetapi, hasil yang kamu dapatkan adalah “Buddha sesudahnya”, dengan kata lain, maka “Buddha sebelumnya” yang kamu lakukan pastinya tidak sempurna, kamu pasti berbicara sampai akhirnya menjadi tidak sabar, lalu bertengkar dengannya, kata-kata yang kamu ucapkan tidak enak didengar, maka dia baru bisa ribut denganmu, maka jika kamu berpikir dengan “Buddha sesudahnya”, kamu akan tahu kalau kamu bukan Buddha, mengerti?

 

Ketahuilah, bahwa puluhan ribu dharma bersamaan waktunya. Apa maksudnya? Dengan kata lain, semua dharma datang pada waktu yang sama, seluruh dharma-fenomena yang kita lakukan di dunia ini, semuanya datang secara bersamaan. Contoh sederhana, hari ini kalian dalam satu hari ini melakukan pekerjaan yang tidak sama, ini disebut sebagai “wan fa” – puluhan ribu dharma, puluhan ribu hal. Xiao Liu pagi ini bangun tidur, menyetir mobil, pergi bekerja, rutinitasnya semuanya sama, sampai malam hari, kembali bekerja, dengan kata lain, dalam satu hari ini, kamu telah melakukan sepuluh ribu hal, semuanya adalah dharma yang sama. Pemikiranmu juga adalah dharma yang sama, dengan kata lain, hari ini kamu mungkin memikirkan sepuluh ribu hal, semuanya terpikirkan pada saat yang sama, karena semuanya terpikirkan pada satu hari ini, yakni di waktu pada saat terpikirkannya, bukan merujuk pada setiap menit dan detik kamu, melainkan merujuk pada satu hari kamu. Coba kalian pikirkan, dalam setahun bukankah kalian melakukan hal yang sama? Selama setahun bukankah sedang bekerja? Bukankah tidur? Bukankah memasak? Bukankah mencari uang? Pergi bertamasya? Terakhir, merayakan tahun baru? Jika dikatakan berdasarkan tahun, atau bulan, atau hari, sesungguhnya, ini seperti yang Master katakan pada kalian, disebut puluhan ribu dharma bersamaan waktunya.

 

Buddha dan Bodhisattva memberitahu kita, dalam sutra Buddha ada tertulis, “satu pemahaman”, yakni satu pemikiran, asalkan kamu sudah memahaminya, mengetahuinya, maka “semua dharma adalah medan pembinaan, yang menyempurnakan segala kebijaksanaan”. Apa maksudnya? Ketika dalam pikiranmu sedang memikirkan kegiatanmu setiap hari, maka pada suatu hari, kamu tiba-tiba mengerti dan mengetahuinya, ini disebut sebagai “satu pemahaman”. Semua dharma-fenomena adalah medan pembinaan, “Oh, ternyata setiap hari saya pergi-pulang kerja, tidur, dan lainnya, ternyata hanyalah sebuah medan pembinaan.” Apakah yang dimaksud dengan medan pembinaan? Yakni suatu cara dalam kehidupanmu, hari ini Guan Yin Tang di Dong Fang Tai adalah sebuah medan pembinaan, sedangkan medan pembinaan adalah sebuah tempat kamu bersembahyang dalam hidupmu, adalah sebuah kesempatan, hanyalah suatu tempat yang dipersiapkan untukmu. Ketika kamu sudah memahami kehidupan ini, “Oh, bukankah saya hanya menikah, punya anak, memasak, lalu saya mencari uang, pada akhirnya meninggal.” Ini adalah medan pembinaan kamu di Alam Manusia ini, yakni sebuah medan pembinaan di mana kamu menjalani seumur hidupmu di dunia ini sampai selesai, kalian di Guan Yin Tang dari bersembah sujud, melafalkan paritta, sampai selesai juga adalah sebuah medan pembinaan. Apakah kalian mengerti?

 

Ucapan Bodhisattva adalah kebijaksanaan besar, bukan sesuatu yang bisa dipahami oleh orang-orang biasa. Bodhisattva mengatakan, “satu pemahaman”, saat satu pemikiranmu membuatmu mengerti, “semua dharma adalah medan pembinaan, yang menyempurnakan semua kebijaksanaan”, dengan kata lain, medan pembinaan ini hanyalah suatu medan untuk menyempurnakan dirimu, yakni agar kamu bisa memperoleh suatu kebijaksanaan dalam kehidupanmu. Makna dari medan pembinaan adalah, hari ini kamu datang bersembah sujud di Guan Yin Tang, hanyalah supaya setelah kamu selesai menyembah Buddha, bisa membuatmu mengetahui lebih banyak hal, penyempurnaan kebijaksanaanmu diperoleh dari bersembah sujud di Guan Yin Tang. Hari ini kamu memiliki kehidupan ini, maka pelan-pelan dari pengalamanmu, membuat kamu memiliki kebijaksanaan, ini adalah medan pembinaaan. Medan pembinaan sama seperti satu Pintu Dharma, adalah sesuatu yang sekejap, adalah sebuah jalan, setelah selesai dijalani, maka jalan ini bagimu sudah tidak berguna lagi, benar tidak? Kita sebagai praktisi Buddhis harus memahami, bahwa di dalam pikiran harus ada medan pembinaan. Mengapa harus ada medan pembinaan dalam pikiran kita? Karena pikiranmu adalah jalan, dan jalan ada dalam pikiran, maka disebut sebagai “jalan pikiran”.

Kita harus belajar Dharma yang benar. Satu masalah yang di depan, barusan Master sudah menjawabnya, selanjutnya, Master akan membahas masalah kedua, kita harus mempelajari Dharma yang benar, bagaimana kamu mengetahui mana yang benar dan mana yang sesat? Pertama-tama, seseorang yang sepanjang hari mengejar Dharma yang benar, berarti dia sudah menyimpang ke arah yang sesat. Mengerti? Ini adalah sesuatu yang memiliki makna filsafat mendalam. Seseorang yang selalu beranggapan kalau Dharma orang lain tidak benar, selalu merasa diri sendiri benar, menurutmu, apakah orang seperti ini bisa benar? Begitu juga dalam bersikap dan berperilaku, seseorang yang selamanya beranggapan kalau dirinya sendiri benar, apakah kata-kata yang diucapkannya bisa benar? Seseorang yang selalu berpendapat kalau Pintu Dharma orang lain semuanya adalah sesat, selamanya mengejar yang benar, berarti dia sudah menyimpang ke arah yang sesat, benar tidak? Luar biasa bukan? Dua kalimat, kebijaksanaan Bodhisattva adalah penerangan tertinggi yang paling sempurna, bukan sesuatu yang bisa dipahami kita orang-orang awam, perkataan Bodhisattva seperti ini bisa didengar di mana?  

 

Karena Dharma tiada sesat dan benar. Karena Dharma adalah sebuah jalan, yakni sebuah cara, menurutmu, mana ada satu cara yang benar-benar sempurna? Menurutmu, jika hari ini saya terpikirkan akan satu cara, mobil saya tidak bisa dikendarai, maka saya naik kereta saja, benar tidak? Lebih baik naik kereta atau naik mobil? Menurutmu, naik kereta benar, atau naik mobil benar? Dia hanyalah suatu cara, tidak ada benar salah. 84.000 Pintu Dharma, Pintu Dharma mana yang bagus, dan Pintu Dharma mana yang salah? Pintu Dharma yang diciptakan Bodhisattva, tidak ada sesat dan benar.

 

Bagaimana cara menekuni Dharma dan mencapai Kebuddhaan? Banyak orang mengatakan, menekuni Dharma terlalu sulit, mencapai Kebuddhaan lebih sulit. Akan tetapi, kalian harus ingat, kalau kamu tidak menekuni Dharma, bagaimana kamu bisa menjadi Buddha? Kalau kamu tidak kuliah, bagaimana kamu bisa menjadi mahasiswa? Kalau kamu tidak menekuni Dharma, bagaimana mungkin ada kesempatan untuk menjadi Buddha? Maka, kamu harus belajar Dharma, kamu baru bisa mencapai Kebuddhaan. Kalau kamu menekuni Dharma dengan baik, kamu baru bisa menjadi Buddha, kalau kamu  tidak belajar dengan baik, kamu mengatakan kalau ini terlalu sulit, maka maaf saja, kamu tidak akan bisa menjadi Buddha, benar tidak? Master mengajarkan kalian, bagaimana caranya menekuni Dharma dengan baik. Yakni, tidak boleh melepaskan pikiran semua makhluk, selamanya jangan melepaskan pikiran semua makhluk, dengan kata lain, dalam menekuni Dharma, selamanya jangan memisahkan diri sendiri dengan semua makhluk, seperti jangan pernah memisahkan ikan dengan air, selamanya jangan membatasi manusia dengan udara. Menurutmu, di dunia ini, siapa yang tidak memiliki udara? Akan tetapi, apakah kalian pernah mendengarnya, ada orang yang tidur di mobil, ketiduran, dan terakhir mati karena kehabisan udara, karena udaranya terbatas. Kalau begitu menurutmu, siapa yang tidak membutuhkan udara? Benar tidak? Kalau begitu, apakah kita bisa meninggalkan semua makhluk? Sebagai seorang murid atau pengikut, kita para praktisi Buddhis apakah bisa meninggalkan semua makhluk? Jika kita hari ini menekuni Dharma, kita mengatakan, di rumah belajar baik-baik, namun saya tidak memperkenalkan Dharma kepada orang-orang, saya tidak mempersatukan orang-orang, menurutmu, apakah kamu bisa menjadi Buddha? Kita tidak boleh melepaskan semua makhluk! Kita tidak bisa berhubungan baik dengan orang lain, ini berarti kita sedang melepaskan semua makhluk, benar tidak? Tidak hanya sedang melepaskan semua makhluk, selain itu, kita juga sedang mencampakan pikiran semua makhluk, menyakiti hati orang lain, oleh karena itu, seorang praktisi Buddhis, tidak melepaskan pikiran semua makhluk, maksudnya di sini adalah, selamanya jangan menyakiti hati semua makhluk.