5. Menyempurnakan Sifat Kebuddhaan Terbebas dari Tumimbal Lahir — 成全佛性脱六道

Menyempurnakan Sifat Kebuddhaan Terbebas dari Tumimbal Lahir

Seorang praktisi Buddhis jika hari ini tidak menjelek-jelekkan orang lain, bagaimana mungkin orang lain bisa memarahimu? Hari ini orang lain baik terhadapmu, lalu kamu menerimanya, berarti kamu sudah menanam bibit karma ini, maka selanjutnya kamu akan tertimpa masalah. Gadis ini baik terhadapmu, dan kamu menerimanya, berarti kamu sudah menanam bibit karma ini, maka selanjutnya kamu akan mencicipi buah karmanya. Pria muda ini baik pada dirimu gadis ini, dan kamu menerimanya, maka selanjutnya anak muda ini akan terus mengikutimu. Benar tidak? Karena kamu telah menanam bibit karma ini, apakah kamu bisa melarikan diri darinya? Kamu ingin kabur? Mengapa banyak orang ingin memanfaatkan orang lain? Jika kamu memanfaatkan orang lain – mengambil keuntungan dari orang lain, maka itu sama seperti pepatah, “mulut yang makan milik orang lain menjadi lunak, tangan yang mengambil milik orang lain menjadi pendek” –  karena kamu sudah mendapatkan keuntungan dari orang lain, maka dalam segala hal menyangkut orang ini, kamu tidak akan bisa mengambil keputusan secara adil. Jadi setelah kamu memperoleh keuntungan dari orang lain, maka kamu harus membayarnya, kamu tidak bisa berbicara dengan jujur dan berani, kamu pun tidak bisa bersikap tegas, bukankah ini adalah karma? Karena kamu sudah menanam bibit karma ini, maka kamu pasti akan memperoleh buah karma ini. Oleh karena itu, saat sedang menanam bibit karma, tidak peduli dalam melakukan hal apapun, pikiran kita harus jelas dan jernih. Jika saya tidak menanam bibit karma ini, saya tidak akan merasa takut. Kalian sekarang pun sudah begini, orang yang ini baik pada orang yang itu, karena sudah menanam bibit karma ini, maka setelah beberapa waktu lalu bertengkar, hubungan kembali tegang, berarti buah karma muncul lagi. Dalam grup muda-mudi kalian memangnya tidak ada? Hari ini baik pada yang ini, besok baik pada yang itu, saat hubungan sedang baik, apapun dibicarakan, begitu bertengkar, bukankah dirimu sendiri yang memakan buah karmanya? Maka, saya menyuruh kalian menjaga mulut, sebagai praktisi Buddhis, kita harus lebih banyak mendengar dan sedikit berbicara.

 

Oleh karena itu, jika bahkan nidana ini, saya pun sudah tidak ada lagi, ini dinamakan tiada nidana, maka saya tidak akan melahirkan dharma. Apakah dharma di sini? Di dunia ini, balasan karma pun disebut sebagai dharma. Bila hari ini, nidananya sudah tidak ada, ingatlah, jika kamu tidak menciptakan bibit karma ini, maka kamu tidak akan memperoleh buah karma ini, maka kamu ini akan menjadi kosong; bila kamu tidak kosong, berarti dalam pikiranmu masih ada banyak sekali nidana, dan juga buah balasan karma. Kamu sudah menanam nidana ini, maka kamu pasti akan memiliki buah balasan karma yang muncul ini. Bagaimana supaya kosong? Yakni dengan tidak menciptakan bibit karma ini, juga tidak mengikuti jodoh ini, menekuni Dharma sampai pada akhirnya, bahkan nidana pun jangan diinginkan lagi, maka dari mana akan datang buah balasan karmanya? Hari ini saya tidak berbicara padamu, saya tidak mengatakan apapun, saya tidak melakukan apapun, saya hanya mengatur diri sendiri, maka jika ada masalah di kantor, apakah kamu akan dipersalahkan? Terkadang kalian sendiri yang menciptakan dosa, sungguh, di antara murid saya pun sekarang ada yang begitu, suka bicara sembarang, mengira walau sudah bicara namun orang lain tidak akan tahu, pada akhirnya perkataannya sampai ke telinga keluarga sendiri, maka tidak akan aneh, kalau keluarganya tidak bermasalah. Coba saja bicara terus, sepanjang waktu bicara, sudah berapa kali saya memperingatkan kalian, bahwa kalian adalah orang yang membina pikiran dan belajar Dharma. Jika dia terus berceloteh di luar, menyebabkan akibat karmanya ini, maka keluarganya akan terus bermasalah, apakah kamu mengerti? Benar-benar bodoh sekali, saya beritahu kalian, sebagai murid apakah seharusnya melakukan hal seperti ini? Membohongi anak kecil? Bermain game? Kalian tanggung sendiri akibatnya. Sudah belajar mengikuti Master sampai sekarang, masih tidak tahu apa-apa, benar-benar memalukan sekali. Ajaran Buddha Dharma yang begitu bagusnya, Pintu Dharma Guan Shi Yin Pu Sa. Kita membina diri dan belajar Dharma, harus memahami hukum karma. Perkataan yang hari ini kamu ucapkan, tidak akan hilang walaupun kamu tidak mengakuinya, hari ini kamu menanam bibit karma ini, maka kamu pasti akan memperoleh buah karmanya, sudah berapa kali Master memperingatkan kalian, namun kalian terus bicara, terus saja berbicara, tahukah kalian, dalam menekuni Dharma, bicara pun harus diperhatikan, tidak boleh bicara sembarangan, tidak boleh bicara seenaknya, karena di dalam ini semuanya ada jodohnya. Nidana dan buah karma semuanya ditentukan oleh mulut, begitu tidak hati-hati, bisa menciptakan karma buruk; jika sudah menciptakan karma buruk, maka selanjutnya, jodoh buruk akan datang. Hari ini saya tidak akan menyebut namamu, namun dirimu sendiri harus merenungkannya baik-baik.

 

Jika tidak belajar agama Buddha, tidak mempelajari Dharma, maka kamu tidak akan bisa keluar dari Pintu Dharma ini, berarti tidak akan bisa keluar dari dharma di Alam Manusia ini. Hanya saat setelah kamu menekuni Dharma, jodoh Dharmamu baru bisa terlahir. Apakah yang disebut sebagai jodoh Dharma? Yakni setelah mempelajari ajaran Buddha Dharma, akan terlahir jodoh di antara kamu dengan Buddha, yang bisa menguraikan berbagai jodohmu di dunia ini, termasuk jodoh buruk. Tidak mengakui apa yang telah dikatakan, maka akan menyebabkan buah karma ini muncul keluar, asalkan kamu menekuni Dharma baik-baik, kamu baru bisa memperoleh takdirmu. Takdir seperti apakah ini? Takdir Kebuddhaan, yakni takdir yang diberikan oleh Buddha dan Bodhisattva kepadamu, bukan takdirmu yang semula ada. Takdir yang semula, sesungguhnya melambangkan suatu jumlah tertentu, terkadang itu adalah takdir yang memiliki waktu, sedangkan takdir yang diberikan Bodhisattva kepadamu adalah takdir yang tiada habisnya. Coba pikirkan, jika kamu bisa terbebas dari tumimbal lahir, bukankah berarti kamu bisa berada di Alam Surga sampai tiada akhirnya? Memangnya kamu tidak ingin terbebas dari tumimbal lahir? Maka itu harus membina diri sampai memiliki pahala keberuntungan ini. 

 

Membina diri, diawali dari memiliki Buddha dalam pikiran, bertutur kata dan berperilaku seperti layaknya Buddha, kita baru bisa menjadi Buddha. Kita harus memiliki Buddha dan Bodhisattva di hati, maka selanjutnya, perilaku dan tutur katamu akan sama seperti Bodhisattva, maka kamu ini bisa menjadi Bodhisattva. Setiap kali diri sendiri tidak bisa mengendalikan perilaku dan sikapmu, coba bertanyalah pada diri sendiri, “Apakah saya seperti Bodhisattva? Apakah Bodhisattva akan bersikap seperti saya ini? Apakah Bodhisattva akan seperti saya ini memarahi orang lain? Apakah Bodhisattva akan seperti saya begini bodohnya? Apakah Bodhisattva akan seperti saya begini cemburu pada orang lain? Apakah Bodhisattva akan seperti saya bersedih begini? Bodhisattva selalu berpikiran terbuka, mengapa saya tidak bisa berpikiran terbuka?” Karena kamu bukan Bodhisattva, akan tetapi kamu ingin meneladani Bodhisattva. Banyak orang mengatakan, “Tidak tahu kapan, saya mulai memiliki ketamakan, kebencian, dan kebodohan, saya juga tidak tahu. Tiba-tiba saja, saya bisa menjadi sangat tamak, saya tiba-tiba bisa menjadi sangat marah, tiba-tiba saya bisa menjadi sangat bodoh, bagaimana bisa?” Banyak orang yang menanyakan pertanyaan ini, namun coba kalian jawab saya, bagaimana bisa? Master beritahu kalian, ini adalah masalah yang menyangkut panjang pendeknya waktu pembinaan pikiran seseorang, dan potensi kesadaranmu sendiri setelah menekuni Dharma. Semakin lama waktu pembinaan pikiranmu, maka ketamakan, kebencian, dan kebodohan tidak akan ada; semakin cepat potensi kesadaranmu, maka ketamakan, kebencian, dan kebodohanmu juga tidak akan ada. Mengerti? Oleh karena itu, kalian harus menangkap poin pentingnya, “Harus ada Buddha dalam pikiran – hati” – ini adalah poin pentingnya.

 

Kita harus sering menempatkan Buddha dan Bodhisattva dalam pikiran – hati kita, maka dengan sendirinya, kamu akan menjadi tenang dan bersih. Master akan mengatakan sajak tujuh kata: “Ada Buddha di hati dengan sendirinya tenang dan bersih; melihat melampaui lima kekotoran duniawi sembari tersenyum; Guan Shi Yin Pu Sa tinggal di hati, menyempurnakan sifat Kebuddhaan terbebas dari tumimbal lahir.” Ini adalah sajak tujuh kata yang Master berikan kepada kalian. Yang kita tinggali adalah hati Buddha dan Bodhisattva. Kita belajar Xin Ling Fa Men, harus menempatkan Guan Shi Yin Pu Sa di dalam hati, kita baru bisa menyempurnakan jalan Kebuddhaan dan terbebas dari tumimbal lahir. Lima kekotoran duniawi adalah segala hal di dunia ini semuanya sangat jahat, sangat tidak baik, adalah benda-benda yang sangat kotor. Saya beritahu kalian, perkembangan ke arah ini, kalian semua bisa melihatnya, cara baik ini pun kalian bisa melihatnya, oleh karena itu, saya berharap kalian mempelajarinya baik-baik, dan benar-benar menyadarinya. Seseorang yang benar-benar telah tersadarkan adalah seorang bijaksanawan. Jika hanya dengan mudah belajar hal-hal mengenai agama Buddha yang ada di permukaan, maka sesungguhnya orang ini masih belum tersadarkan, seperti contoh sederhana yang Master berikan pada kalian, kalian sesungguhnya ingin bertamasya di Hawaii selama 5 tahun, atau ingin nantinya kembali ke Australia dan terus bekerja dengan baik; kalian merasa lebih bagus bisa bertamasya selama 3 minggu keliling dunia pada saat Natal, atau merasa lebih bagus saya tidak perlu sesenang itu, asalkan saya setiap pagi tidak perlu bekerja dan setiap hari bisa melafalkan paritta dan membina pikiran? Lelah atau tidak? Lelah. Susah atau tidak? Susah. Menafkahi keluarga sangat susah, di atas ada orang tua, di bawah ada anak, susah tidak? Benar-benar sangat susah. Coba pikirkan, apakah ada orang yang tidak melakukan hal ini, mengapa orang itu bisa hidup dengan bebas dan senang? Saya bukannya meminta kalian tidak pergi bekerja, bekerja harus tetap bekerja, hanya saja jangan tekan diri sendiri terlalu ketat, begitu ada kesempatan dan tempat, harus mengatur waktu sendiri, karena waktu bagaikan spons yang bila tidak diperas tidak akan keluar, maka kita harus “memerasnya”. Oleh karena itu, kalian sendiri harus mawas diri.

 

Apabila seseorang menyisihkan waktunya untuk mengikuti kegiatan sosial, lebih banyak menekuni Dharma, maka sesungguhnya, dalam satu minggu dia bekerja 5 hari, lalu masih ada 2 hari, apa yang dia lakukan? Juga di malam hari, apa yang dia lakukan? Jika sebagian besar waktunya dipergunakan dalam ajaran Buddha Dharma, maka dia akan menjadi senang dan bahagia. Dalam grup muda-mudi kita ada banyak teman-teman kecil, mereka setiap malam datang ke Guan Yin Tang, sesungguhnya mereka merasa ini adalah sebuah rumah – keluarga, mereka menjalaninya dengan sangat bahagia, mereka tidak memiliki kerisauan, jika kalian tidak percaya, coba minta mereka pergi ke tempat lain dan lihat apakah mereka akan memiliki kerisauan atau tidak? Apakah mereka akan memiliki kerisauan di rumah? Sekarang mereka juga bekerja, akan tetapi mereka dipenuhi dengan sukacita, inilah logikanya. Karena saat mereka sedang menekuni Dharma atau sedang melakukan karya-karya Buddha, maka cahaya Buddha akan menyinari mereka, maka mereka akan merasa senang. Oleh karena itu, dalam menekuni Dharma harus mempelajari prinsip kebenarannya.