37. Memahami Sifat Kebuddhaan baru bisa Memperoleh Welas Asih — 理解佛性才能得到慈悲

Memahami Sifat Kebuddhaan baru bisa Memperoleh Welas Asih

Hari ini lanjut membicarakan tentang seseorang yang tercerahkan. Banyak orang mengetahui, setelah sekian lama kita menekuni Dharma, pada akhirnya yang ingin didapatkan adalah tercerahkan. Apa yang dimaksud dengan tercerahkan? Yaitu mengerti, jika tidak mengerti dalam melakukan hal apapun, maka orang ini disebut tidak tercerahkan. Apa tujuanmu untuk melakukan ini? Apa tujuanmu untuk membina diri? Apa tujuanmu untuk belajar? Ketika kamu sudah mengerti tujuan ini, maka kamu ini sudah tercerahkan. Mengapa harus kuliah? Mengapa harus belajar? Semuanya adalah demi masa depan, ada orang yang ingin memiliki pengetahuan dan wawasan, ada orang yang demi mencari pekerjaan di masa depan, ada orang yang demi memperoleh gelar untuk diri sendiri, jadi setelah kamu memiliki tujuan ini, maka kamu baru bisa mengerti, setelah kamu mengerti, maka kamu baru bisa tercerahkan. Kalian sekarang mengikuti Master membina diri dan belajar Buddha Dharma, pada dasarnya apa yang kalian mengerti? Jika kalian datang ke sini demi keuntungan pribadi, maka kalian tidak mengerti, tidak tercerahkan. Jika kalian demi ketenaran, maka di sini tidak ada ketenaran, jika kalian demi keuntungan, maka di sini tidak ada keuntungan, jadi tidak boleh menekuni Dharma demi memperoleh ketenaran dan keuntungan. Apabila seseorang menekuni Dharma demi memperoleh ketenaran dan keuntungan, maka orang ini termasuk tidak tercerahkan.

 

Kita menekuni Dharma dan ingin mencapai pencerahan, tidak hanya melalui teori ajaran Buddha dan juga bukan semata-mata melalui praktik saja. Banyak orang mengira bahwa dengan membaca satu buku, maka bisa tercerahkan, saya sudah membaca dan mengerti, saya sudah tercerahkan, ada orang yang mengira bahwa melalui praktik Ajaran Buddha maka bisa tercerahkan. Sebenarnya, kita sebagai praktisi Buddhis harus memadukan teori ajaran Buddha serta praktik dan sungguh-sungguh membinanya, yakni ajaran Buddha Dharma yang kamu pelajari harus tercermin dalam perilaku dan pikiran. Sebanyak apapun buku agama Buddha yang kamu baca hari ini, namun perbuatanmu tidak mencerminkan sikap seorang Bodhisattva, maka semua buku itu sia-sia kamu baca. Jika perilakumu hari ini tidak seperti Buddha, tidak seperti Bodhisattva, itu berarti kamu belum mempraktikkan atau memahami prinsip Buddha dengan baik. Oleh sebab itu, harus meleburkan teori ajaran Buddha serta praktiknya ke dalam hatimu, ketika keduanya sudah masuk ke dalam hatimu, maka dirimu baru bisa tercerahkan.

 

Prinsip Ajaran Buddha merupakan pedoman dalam pembuktian diri. Dengan kata lain, setelah kamu menekuni Dharma, kamu harus menggunakannya ke dalam hatimu. Sebagai contoh sederhana, Master meminta kalian untuk menahan diri dan tekun, kalau hari ini kamu ingin bertengkar, dan kamu bersikeras untuk bertahan, maka kamu telah membuktikan Ajaran Buddha Dharma, Bodhisattva meminta kita untuk menahan diri, hari ini saya telah menahan diri, saya tidak bertengkar, maka bencana dan malapetaka ini pun sudah hilang, konflik di rumah pun sudah hilang, maka di dalam hatimu telah membuktikan apa yang dikatakan oleh Bodhisattva itu adalah benar. Bodhisattva meminta kita untuk menahan diri, semuanya adalah satu keluarga, mengapa harus bertengkar? Inilah yang dinamakan pembuktian. Lalu ketika kamu sudah memiliki pedoman, karena saya telah menekuni Dharma, saya mengerti prinsip Ajaran Buddha. Oleh sebab itu, belajar Buddha Dharma bukan sekedar mengumpulkan pengetahuan tentang Buddha, jika hanya sebatas mengumpulkan pengetahuan, paling-paling orang ini hanyalah seorang ahli Buddhisme, seorang filsuf, atau lulusan institut Buddhis. Itu hanyalah akumulasi pengetahuan Buddhis, tanpa adanya pembuktian melalui tubuh, perilaku, dan praktik nyata. Inilah yang sering dikatakan orang, ‘Sebagus apa pun pemahamanmu tentang ajaran Buddha, jika perilakumu tidak sesuai dengan aturan dan ajaran Dharma, maka itu berarti kamu belum menekuni Dharma dengan baik.’Kalian harus memahami prinsip ini.

 

Membina diri dengan sungguh-sungguh, pada dasarnya adalah mendapatkan berkah dari kekuatan Buddha, tercerahkan dengan sendirinya. Apa yang dimaksud dengan membina diri dengan sungguh-sungguh? Yakni sungguh-sungguh membina diri, tidak berpura-pura. Saya datang ke sini hari ini, saya akan sungguh-sungguh, saya tidak membohongi langit dan bumi, saya dapat mempertanggungjawabkannya kepada Bodhisattva dan Master, serta hati nurani saya sendiri. Saya tidak berpura-pura, saya sungguh-sungguh dan tulus dalam membabarkan Dharma, saya benar-benar dengan tulus memperbaiki kesalahan saya, saya melakukannya bukan untuk dilihat orang lain, juga bukan datang ke sini untuk membuat pertunjukkan, harus memahami prinsip kebenaran ini, dengan demikian, kamu akan mendapatkan berkat dari kekuatan Buddha. Buddha dan Bodhisattva memberkatimu dengan kekuatan, maka kamu dengan sendirinya tercerahkan, oleh karena itu, ada banyak biksu yang disebut dengan “Guru yang tercerahkan”, yang artinya saya sendiri telah mengerti dan tercerahkan, telah tersadarkan. Kamu telah tersadarkan, telah memahami prinsip kebenaran ini, telah tercerahkan, sebenarnya kamu telah memperoleh kemajuan, bukankah demikian? Sebelum memahami hal ini, kamu itu bingung, kamu itu tidak memiliki kebijaksanaan, oleh sebab itu, kamu tidak dapat tercerahkan, maka tingkat kesadaran spiritualmu tidak meningkat. Sebelum menekuni Dharma, setiap hari bertengkar, masih merasa bahwa saya memenangkan pertengkaran hari ini, mungkin besok dia akan menang, saya akan mengumpulkan banyak informasi tentang dia, dan lusa akan lanjut bertengkar lagi. Jika setiap hari terus begini, maka tingkat kesadaran spiritualmu selamanya tidak akan meningkat.

 

Master setiap hari mengingatkan kalian: jangan bertengkar, jangan bersaing. Pertikaian tidak akan pernah ada akhirnya, hanya dengan mengurai baru bisa menyelesaikan masalah. Menjalani hidup dengan sungguh-sungguh, tidak berebut dan bertengkar dengan orang, maka kesadaran spiritualmu akan meningkat, karena dengan meningkatnya kesadaran spiritual seseorang akan melahirkan pengertian. Apa itu pengertian? Pengertian adalah hal yang agung, saat kamu memahami pihak lain, maka sifat Kebuddhaan kamu akan senantiasa menyertaimu. Sekarang ada berapa di antara kalian yang saling pengertian? Jika kalian menyimpan kebencian atau merasa tidak bahagia terhadap rekan kerja, teman se-Dharma, atau anggota keluarga kalian sendiri, itu berarti kalian tidak memahami mereka, tidak mengerti mereka. Ketika kalian tidak memahami, itu artinya kalian belum mengenal sifat Kebuddhaan. Dan seseorang yang tidak memahami sifat Kebuddhaan adalah orang yang belum memiliki welas asih. Salah satu elemen yang paling agung dari sifat dasar kita adalah welas asih. Apa yang dimaksud dengan Buddha di dalam hati? Karena Buddha adalah yang paling welas asih, kamu mengatakan Buddha berada di dalam hati, namun semua perbuatan yang kamu lakukan sama sekali tidak menunjukkan welas asih, coba kamu katakan bagaimana kamu bisa memperoleh dan memahami sifat Kebuddhaan? Segala yang kita perbuat hari ini, sebenarnya adalah karena kita tidak mengerti pihak lain, tidak memahami pihak lain. Mengapa setiap kali menghadapi masalah, Xiao huang selalu mencari Master? Sangat mudah, dia tahu Master mampu memahami dia, kalian tidak memahami dia, kalian tidak mampu menyelesaikan masalahnya. Saat terjadi perdebatan di dalam keluarga kalian, saat terjadi pertengkaran, ini karena tidak saling mengerti, tidak saling memahami.

 

Harus memahami bahwa sifat Kebuddhaan senantiasa berada. Jika kamu tidak percaya kepada Buddha, lalu dimanakah sifat Kebuddhaanmu? Pertama-tama kamu harus percaya akan keberadaan Buddha, begitu kamu percaya kepada Buddha, maka kamu akan memiliki sifat Kebuddhaan. Tetapi, jika di lihat dari sudut pandang lain, kamu telah percaya kepada Buddha, maka sifat Kebuddhaan itu ada; meskipun jika hari ini kamu tidak percaya kepada Buddha, sifat Kebuddhaan juga tetap akan ada, hanya saja kamu tidak melihatnya. Sebagai contoh sederhana, jika hari ini kalian lupa kunci di rumah, saat keluar rumah sama sekali tidak berpikir bahwa kunci itu tertinggal di rumah, melainkan yakin bahwa kuncinya hilang di jalan, coba pikirkan, apakah kunci ini ada di rumahmu? Jika kamu tahu bahwa tertinggal di rumah, kunci memang ada di rumah, tapi kalau kamu tidak tahu dan mengira hilang di jalan, kunci itu tetap ada di rumah, apakah mengerti? Ini adalah sifat dasar dan hati nurani manusia, manusia harus memiliki hati nurani, baru dapat melakukan hal, manusia harus memiliki welas asih, baru dapat menganalisa sesuatu. Ketika seseorang ingin menganalisa suatu masalah, jika dia tidak memiliki welas asih, maka dia tidak akan mampu menganalisa hal apa pun. Oleh sebab itu, ketika kalian sedang membicarakan suatu hal, kalian harus berpikir terlebih dahulu, apakah kamu sudah welas asih? Sifat Kebuddhaan setiap orang selalu ada, tidak peduli kamu percaya atau tidak, ini disebut tiada perolehan dan kehilangan. Kita tidak kehilangan apa pun, pada dasarnya kita memang memilikinya, tidak mendapatkan juga tidak kehilangan, kita tidak mendapatkan dan juga tidak kehilangan apa pun.

 

Akhir dari kehidupan adalah keabadian. Ketika raga orang ini sudah meninggal, sesungguhnya jiwanya tidak mati, ia akan selamanya hidup di dalam hati kita, inilah yang disebut dengan keabadian. Selama seseorang masih sering dikenang oleh banyak orang, maka ia sesungguhnya hidup untuk selamanya. Sebaliknya, meskipun seseorang masih hidup, tetapi jika semua orang membencinya dan melupakannya, maka ia sama saja seperti telah mati. Setiap orang memiliki semangat yang akan hidup abadi di dunia ini. Semangatnya, kehidupannya, dan kehidupan rohaninya adalah abadi, ia tidak mati, seolah-olah masih berada di sisi kita. Hidup adalah keabadian, dan kematian pun adalah keabadian. Ketika seseorang lahir, ia akan terus menerus; dan ketika ia mati, ia pun akan terus menerus. “Terus menerus” yang dikatakan Master adalah terus berlanjut selamanya, bukan berarti menuju ke Alam Bawah. Jikalau hidup adalah abadi, dan mati juga adalah abadi, kalau begitu darimana datangnya hidup dan mati? Dari mana datangnya hidup dan mati? Saat seseorang hidup, terkadang perilakunya seperti orang mati. Namun, banyak orang yang selama hidupnya selalu dicintai dan dihargai oleh orang lain, dan setelah meninggal pun masih dikenang dengan kasih, maka kehidupan orang tersebut terus berlanjut, itulah yang disebut keabadian. Dari sudut pandang lain, sebenarnya hidupnya terus berlanjut, mengapa? Mengapa Konfusius dari 2.500 tahun yang lalu, hari ini masih dipuji oleh orang-orang? Filsafat yang diwariskannya masih banyak dipelajari oleh semua orang? Karena semangatnya selalu hidup di hati orang-orang, oleh sebab itu, hidupnya adalah abadi. Sebenarnya, Konfusius sekarang berada di Surga, Beliau merupakan seorang Bodhisattva yang sangat agung, meskipun beliau sudah mati, tetapi semangat jiwanya hidup selamanya, dia akan selalu hidup di hati kita selamanya. Beliau berada di Surga, Beliau tetap hidup selamanya. Jadi, dari mana datangnya hidup dan mati?