46. Memberikan Persembahan dengan Kebaikan Hati, Tanpa Penyesalan 善心供养不追悔

Memberikan Persembahan dengan Kebaikan Hati, Tanpa Penyesalan

Melihat orang lain mendapatkan sesuatu, hendaknya seperti saya sendiri yang mendapatkannya. Jika melihat orang lain memperoleh barang ini, harus merasa gembira seperti dirimu sendiri yang memperolehnya. Melihat orang lain kehilangan sesuatu, hendaknya seperti saya sendiri yang kehilangannya. Yaitu ketika melihat orang lain gagal, berbuat salah, atau salah langkah, harus merasa sedih seperti dirimu sendiri yang melakukan kesalahan. Jangan membeberkan kekurangan orang lain, jangan membesar-besarkan masalah atau kesalahan orang lain seolah-olah sangat besar sampai seluruh dunia mengetahuinya. Jangan memamerkan kelebihan diri sendiri, jangan menyombongkan keunggulan diri sendiri. Harus menekan keburukan dan mengembangkan kebaikan, harus mengendalikan kekurangan yang ada pada diri sendiri dan memancarkan hal-hal yang baik. Harus mengerti untuk menolak yang banyak dan mengambil yang sedikit. Dalam kehidupan sehari-hari, saat orang lain memberimu banyak hal, kamu harus menolaknya dan kurangi meminta. Orang-orang zaman sekarang justru setelah ambil masih ingin mengambil lagi, yang ini mau, yang itu juga mau, setelah dirinya sendiri kenyang, tidak terpikir untuk menyisakan sedikit bagi orang lain. Menolak yang banyak, artinya ketika orang lain memberimu terlalu banyak barang, kamu harus menolaknya, diri sendiri harus mengambil lebih sedikit. Ini sebenarnya adalah cara untuk mengendalikan keserakahan, jika seseorang mengurangi apa yang diterimanya, maka akan dapat menghentikan pikiran serakahnya. Harus menerima penghinaan tanpa rasa mengeluh atau dendam. Jika hari ini kamu dihina atau difitnah, kamu jangan merasa kesal atau mendendam. Kamu harus bersyukur karena orang lain telah memberimu kesempatan untuk membuatmu tidak meluapkan amarah dan melatih pengendalian diri. Ketika orang lain mengatakan hal buruk tentang dirimu, itu adalah jodoh pendukung untuk peningkatan diri. Jika tidak demikian, saat dirimu ingin berlatih untuk tidak marah, kamu bahkan tidak memiliki tempat untuk melatihnya. Orang lain memarahimu, itu sebenarnya memberi kamu sebuah kesempatan untuk menahan diri. Suami memarahimu, kendalikan diri, jangan memedulikannya, saya tidak akan membalas ucapannya, benar tidak? Ini yang disebut menerima penghinaan tanpa mengeluh. Siapa yang menyuruh saya menikah dengannya? Ini semua adalah jodoh buruk saya sendiri, di kehidupan ini segeralah melunasi utang karma, tidak perlu berkeluh kesah.

 

Harus merasa terkejut sekaligus sungkan saat mendapat apresiasi atau kebaikan, yaitu ketika orang lain memperlakukanmu dengan sedikit lebih baik, kamu harus benar-benar berterima kasih kepada mereka: “Bagaimana bisa kamu begitu menghargai saya, kamu bahkan memberikan saya barang, bagaimana kamu bisa terpikir tentang saya.” Sekarang ini kalian sudah terbiasa menerima barang yang diberikan orang lain, apakah kalian datang ke sini hanya untuk makan? Begitu melihat makanan belum ada, lalu menunggu, menunggu bibi ini yang mengantarkannya, menunggu bibi itu yang mengantarkannya. Begitu ditunggu dan benar-benar tidak ada, lebih memilih membiarkan diri sendiri lapar, lalu akhirnya hanya makan beberapa keping biskuit untuk mengganjal perut. Kalian anak-anak perempuan tidak boleh malas, jika tidak ada makanan, cari cara sendiri, mau menunggu siapa? Ketika orang lain memberi kalian makanan apa pun untuk dimakan, setelah memakannya kamu tidak boleh pilih-pilih, banyak makanan yang dibuang begitu saja, Master menyuruh mereka agar kelak tidak memberi kalian makan lagi. Dulu ketika orang-orang melakukan jasa kebajikan, mereka semua membawa makanan sendiri-sendiri. Bukankah hanya dengan mengunyah roti saja mereka tetap bisa membalas surat untuk orang lain dan mengumpulkan jasa kebajikan? Kalian sekarang sudah terlalu dimanjakan, sama sekali tidak ada rasa terkejut sekaligus sungkan saat mendapat apresiasi atau kebaikan. Master sekarang memberikan kalian kesempatan untuk menimbun jasa kebajikan, membiarkan kalian berada di sisi Master untuk membantu semua makhluk mengumpulkan jasa kebajikan, tetapi kalian sama sekali tidak memiliki rasa kaget dan bersyukur atas kebaikan ini. Harus memberi kebaikan tanpa meminta balasan. Hari ini saya berdana dan bersyukur, saya berbuat baik kepadamu, saya tidak akan meminta imbalan, imbalan apa yang perlu dicari? Ini adalah hal yang memang seharusnya saya lakukan, hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang praktisi Buddhis, jangan menunggu imbalan dari orang lain. Kalian juga sangat baik kepada saya, seorang praktisi Buddhis harus berpikir seperti ini, saya berbuat baik kepada kalian adalah hal yang seharusnya, untuk apa menunggu imbalan? Jika hari ini saya berbuat baik kepada orang ini, lalu langsung menunggu dan melihat bagaimana dia akan berbuat baik kepada saya besok? Kemarin saya mengambil barang dan membagikannya kepadanya, hari ini dia punya barang bagus mengapa tidak membagikannya kepada saya?

 

Harus berinteraksi dengan orang lain tanpa penyesalan. Artinya, di dalam berhubungan antara sesama manusia, jangan membiarkan diri sendiri menyesal, selamanya jangan pernah menyesalinya. Baru berbicara beberapa kalimat saja sudah menyinggung orang, lalu langsung berlari menghampirinya dan berkata “Maaf ya, saya tidak bermaksud begitu”, bukankah ini namanya menyesal? “Tadi saya benar-benar tidak seharusnya berbicara seperti itu, kenapa saya begitu bodoh? Saya bakal dipandang rendah oleh dia, saya telah kehilangan muka”, penyesalan yang sudah terlambat. Dalam menangani hubungan antarmanusia, jangan biarkan dirimu memiliki perasaan menyesal, hiduplah dengan baik sebagai manusia. Banyak orang bersikap sangat kejam saat memarahi orang, setelah marah lalu berkata, “Maaf ya, kamu tampar saja saya dua kali,” bukankah ini tidak waras? Mengapa sejak awal kamu tidak memperlakukan orang lain dengan baik? Orang yang bajik akan dihormati oleh semua orang. Jika seseorang adalah orang yang baik hati, setiap orang pasti akan menghormatinya. Jika kamu ingin orang lain menghormatimu, maka kamu harus menjadi orang yang baik. Orang yang baik adalah orang yang tidak melakukan perbuatan jahat. Jika hari ini kamu masih melakukan perbuatan jahat, maka kamu bukanlah orang yang baik. Oleh karena itu, di dalam kitab suci Buddhis dikatakan “putra yang berbudi, putri yang berbudi”, langit dan bumi akan melindungi. Jika kamu adalah orang yang baik hati, selain dihormati oleh semua orang dan setiap orang sangat menghormatimu, langit dan bumi pun akan membantumu; jodoh berkah akan mengikutimu, jodoh yang membawa berkah akan terus mengikutimu; segala kejahatan menjauhimu, banyak hal-hal sesat dan jahat semuanya akan menjauh darimu; langit dan bumi melindungimu, setiap orang akan bersikap sangat baik kepadamu, setiap orang sangat mengasihimu, Para Buddha, Bodhisattva, dan Dewa Pelindung Dharma akan menjagamu. Jika kamu adalah orang yang baik, coba pikirkan, kamu memiliki begitu banyak keuntungan, dan segala yang dikerjakan pasti akan berhasil. Seseorang yang baik akan mendapatkan bantuan serta perlindungan dari semua orang, hal apa yang dilakukannya yang tidak bisa berhasil?

 

Apakah hari ini kalian baik? Berpikiran picik adalah ketidakbaikan. Orang yang berpikiran picik mengira orang lain tidak tahu, padahal sebenarnya di dalam hati orang lain semuanya sudah sangat paham, lalu mereka tidak akan memedulikanmu, memandang rendah dirimu, dan merasa bahwa kamu adalah orang licik. Oleh karena itu, orang seperti ini tidak akan maju, tidak akan mendapatkan bantuan dari orang lain, tidak akan mendapatkan penghormatan dari orang lain, serta langit, bumi, hantu, dan dewa pun tidak akan menghormatimu, lalu siapa yang akan melindungimu? Betapa malangnya orang yang suka berpikiran picik.

 

Harus benar-benar memahami teori Buddha, bukan memahaminya secara pura-pura. Apa itu teori Buddha? Harus mengerti untuk tidak melakukan segala kejahatan, dan senantiasa mengamalkan segala kebaikan. Terlebih lagi, setelah mempelajari teori Buddha, juga harus mengerti bahwa pembinaan diri secara sungguh-sungguh adalah landasan. Artinya, kamu harus benar-benar membina diri, bukan membina diri demi suatu tujuan tertentu pada hari ini. Jika kamu tidak membina diri dengan sungguh-sungguh, maka kamu tidak akan mendapatkan respon spiritual. Kalian begitu banyak orang yang duduk di bawah sana, ada berapa banyak yang keluarganya baik-baik saja, tidak ada masalah, tidak ada kendala, lalu datang ke sini untuk membina diri? Semuanya karena ada masalah di dalam keluarga barulah datang untuk membina diri, maka itu bukanlah pembinaan diri yang sungguh-sungguh. Jika kamu sungguh-sungguh membina diri, maka kamu akan mendapatkan hasil dari mempelajari ajaran Buddha Dharma beserta efek dari penerapannya. Apa itu ajaran Buddha? Yaitu memahami teori Buddha dan memahami manfaat nyata dari belajar Buddha Dharma. Oleh karena itu, hasilnya pun akan muncul, setelah hasilnya muncul, kamu akan dapat membuktikan tingkat pembinaan dirimu.

                                                                 

Teori jika dibicarakan memang mudah, tetapi sangat sulit untuk diterapkan dalam kehidupan nyata. Hari ini setelah Master selesai menyampaikan kelas, kalian sudah bisa langsung menerapkannya. Sebagai contoh, sebentar lagi saat orang lain membawakan nasi dan lauk-pauk untuk kalian, kalian harus berterima kasih kepada mereka. Ketika orang lain mengambilkan kursi atau menuangkan segelas air untukmu, kamu sangat berterima kasih kepada mereka, maka di dalam hati akan terasa sangat nyaman. Setelah teori Buddha diterapkan, efek praktisnya pun akan langsung muncul, kamu akan merasa: Mengapa saya menjadi begitu ramah? Mengapa saya bisa begitu berterima kasih kepada orang lain? Ini karena kamu sudah mendapatkan hasilnya.

 

Harus berterima kasih kepada orang lain, ketika orang lain membantumu sedikit saja, kamu bahkan merasa seolah-olah ingin memberikan barang-barang di rumahmu untuk mereka. Guan Shi Yin Pu Sa telah membantu kita dalam banyak hal, baik hal kecil maupun hal besar, kita semua harus selalu menyimpan rasa bersyukur di dalam hati. Jangan menganggap remeh suatu kebajikan kecil lalu tidak melakukannya, artinya jangan mengira perbuatan baik yang dilakukan itu sangat kecil lalu kamu tidak mau melakukannya. Ketika orang lain diam-diam memedulikanmu, terutama kalian yang sedang berpacaran harus lebih memperhatikan, perhatian kecil dari mereka itu membuktikan bahwa hati mereka dicurahkan kepadamu. Kalian harus berterima kasih kepada mereka, jangan pura-pura tidak melihat, jangan sampai tidak memiliki perasaan. Orang yang tidak memiliki kepekaan tidak akan mudah untuk tersadarkan dan tercerahkan,  yang berarti harus ada kesadaran terlebih dahulu, barulah kemudian mendapatkan pencerahan.

 

Selalu berterima kasih kepada orang lain, maka perlahan-lahan kamu akan tahu apakah pembinaan dirimu sudah baik atau belum; selalu belajar Buddha Dharma, maka perlahan-lahan kamu akan merasakan di mana tingkat kesadaran spiritual diri sendiri berada. Bodhisattva berbicara dan bertindak seperti ini, dan kamu pun melakukannya dengan cara yang sama, maka kamu pasti sedang menapaki jalan Bodhisattva. Jika kamu menganggap orang lain tidak penting dan bersikap tidak peduli, maka kamu berada di alam manusia. Jika orang lain sudah bersikap baik kepadamu, tetapi kamu masih memarahi mereka, maka kamu adalah binatang. Jika orang lain sudah berbuat baik kepadamu, tetapi kamu malah diam-diam mencelakai mereka di belakang secara licik, maka kamu adalah hantu. Bukankah sudah bisa tahu diri sendiri berada di alam yang mana?

 

Ada makhluk yang mendapatkan barang bagus, dia memancarkan hati welas asih yang agung dan berterima kasih kepada orang lain, itu berarti tidak memiliki pikiran diskriminasi. Jika seseorang mendapatkan suatu keuntungan, dia memancarkan hati welas asih dan merasa keuntungan ini harus dibagikan bersama kepada semua orang, tidak memiliki pikiran diskriminasi, memperlakukan siapa pun dengan sama baiknya, serta di dalam hati sama sekali tidak mengharapkan imbalan apa pun. Hari ini saya mendapatkan barang bagus, “Ayo mari, kita makan bersama-sama,” kamu tidak berpikir untuk mendapatkan imbalan dari orang lain, maka sebenarnya hati welas asih yang agung milikmu ini telah berhasil. Saat merayakan hari ulang tahun, mengapa kamu mau membagikan kue yang diberikan orang lain kepadamu untuk dimakan bersama-sama dengan semua orang? Itu adalah welas asih yang agung, kesetaraan hati, berbagi bersama semua makhluk. Namun, apakah ada orang yang langsung membawa pulang kue tersebut dan hanya memberikan kepada orang rumahnya sendiri untuk dimakan? Ada, orang seperti ini adalah orang yang tidak memiliki welas asih. Harus mengerti untuk berbagi bersama semua orang ketika memiliki barang bagus, melatih kesetaraan hati diri sendiri, tidak memiliki pikiran diskriminasi. Terlebih lagi, hati welas asihmu yang agung ini bahkan bisa digunakan untuk memperlakukan pengemis di jalanan secara setara. Kepada pengemis yang ada di jalanan, kamu bahkan harus berjongkok untuk memberikan uang kepadanya, maka kamu adalah orang yang tidak memiliki pikiran diskriminasi lagi.

 

Master memberi tahu kalian semua, hati yang memberikan persembahan kepada Tathagata ini, artinya hari ini kita berada di hadapan Guan Shi Yin Pu Sa, kita memberikan persembahan kepada Guan Shi Yin Pu Sa, dan kita memberikan dana kepada pengemis di jalanan, pikiranmu harus sama-sama merasa bahwa semua orang di dunia ini adalah setara, orang-orang begitu malang, orang-orang begitu welas asih. Dengan begitu, kamu baru bisa memiliki ketulusan yang sepenuhnya sama. Banyak orang ketika memberikan uang beberapa sen atau beberapa perak kepada orang lain, mereka melemparkan uang tersebut, tetapi saat memberikan persembahan kepada Buddha dan Bodhisattva, dia akan menaruhnya dengan kedua tangan beranjali. Sebenarnya, orang seperti ini tidak memiliki kesetaraan hati. Ketika kalian menerima telepon, sikapnya seperti ini: “Halo! Dong Fang Tai. Oh—ternyata Master ya, apa kabar Master.” Biasanya saat menerima telepon dari orang lain, nadanya langsung berubah: “Kamu cari siapa?” Sikap kalian yang seperti ini dinamakan tidak memiliki kesetaraan hati, jika memiliki kebaikan hati, maka sudah sepatutnya ketika menerima setiap panggilan telepon, kalian menganggap pihak lain sama seperti Master. Coba lihat sendiri, kekurangan kalian sudah terlihat kan?

 

Jika kamu tidak bisa sepenuhnya tulus, maka kamu tidak akan mendapatkan berdana dalam Dharma yang sempurna. Apakah kamu sedang berdana? Benar, tetapi tidak sempurna. Apakah kamu sedang melafalkan paritta? Benar, tetapi kamu melafalkannya dengan kurang baik, tidak sempurna. Oleh karena itu, semua berdana dalam Dharma dan berdana tanpa rasa takut yang kita lakukan haruslah sempurna, harus berusaha dilakukan dengan sebaik mungkin. Contoh sederhana, sebuah kue dipotong kecil-kecil agar sebisa mungkin setiap orang bisa mendapatkan bagian untuk dimakan, itulah yang dinamakan sempurna. Apa itu tidak sempurna? Yaitu setiap potongan kue dipotong terlalu besar, hingga akhirnya masih ada tiga orang yang tidak kebagian makan. Walaupun orang lain berkata “tidak apa-apa”, tetapi di dalam hati sendiri selalu merasa berutang kepada mereka, merasa tidak sempurna. Di antara kesempurnaan dan ketidaksempurnaan, dalam hati diri sendiri harus sempurna terlebih dahulu, baru kemudian kamu bisa membuat orang lain mendapatkan kesempurnaan. Untuk hal-hal yang bahkan hati nuranimu sendiri saja merasa tidak tenang, bagaimana kamu bisa membuat orang lain mendapatkan kesempurnaan?