Pikiran adalah Akar dari Sebab dan Akibat
Master menjelaskan kepada semua orang bahwa di dunia ini tidak ada “benar” dan “salah” yang bersifat mutlak. Hukum sebab-akibat dan benar-salah memiliki banyak makna yang mendalam. Di dunia ini, hal-hal yang kamu rasakan sebagai “benar”, namun dibicarakan dalam segi hukum sebab-akibat, ini merupakan akibat dari perbuatanmu di kehidupan lampau. Sesungguhnya, banyak hal di dunia ini yang pada saat itu kamu anggap benar, namun setelah beberapa waktu berlalu, bisa saja terbukti bahwa hal itu sebenarnya salah. Oleh karena itu, harus benar-benar memahami bahwa kita di dunia ini hanya ada hukum sebab-akibat, hanya ada utang dan bayar utang. Kita datang dan pergi di dunia ini, datang dengan tangan kosong, pergi pun tanpa membawa apa-apa, datang dan pergi semuanya kosong belaka. Pada akhirnya, kita tidak mendapatkan apa pun, tidak membawa apa pun, dan akhirnya kita pun meninggalkan dunia ini. Apa pun yang kamu anggap ada di dunia ini, belum tentu benar-benar ada. Dan hal-hal yang kamu pikir seharusnya tidak ada, bisa saja justru muncul. Semua ini hanyalah ilusi, bukan sesuatu yang benar-benar kamu miliki. Kepemilikan yang bersifat sementara, bukanlah benar-benar milikmu. Kamu dapat memiliki masa muda yang jangka pendek, tapi kini telah menjadi seorang wanita tua; Kalian pernah memiliki sedikit uang, tapi sekarang semuanya sudah habis; Kalian pernah memiliki anak-anak, tapi mereka sudah tumbuh dewasa dan pergi meninggalkan kalian….. semua ini pada akhirnya hanyalah kehampaan. Datang dan pergi, sejatinya tidak pernah benar-benar datang ataupun pergi, semua itu hanyalah perasaanmu, persepsimu. Benar dan salah, tampak benar tapi juga tampak salah, di dunia ini tidak pernah ada benar dan salah yang mutlak. Dulu, sesuatu yang dikatakan baik, tapi sekarang dikatakan buruk. Seperti seorang ilmuwan yang menguji sebuah masalah, misalnya dia menemukan suatu hal pada saat itu, tetapi beberapa tahun kemudian dia bisa saja membantah penemuannya sendiri. Oleh karena itu, melihat kebenaran dengan jelas adalah hal yang paling penting. Apa itu melihat kebenaran dengan jelas? Yakni ketika kamu berada di Alam Manusia dan sedang melakukan sesuatu, kamu tidak bisa melihat kebenaran dengan jelas. Dengan kata lain, dua orang yang sedang bertengkar, mereka sendiri tidak bisa melihat siapa yang benar dan siapa yang salah. Hanya orang di sampingnya lah yang bisa melihat dengan jelas siapa yang benar dan siapa yang salah. Kalian hidup di dunia ini, karena kalian bukan Bodhisattva, kalian tidak bisa melihat dengan jelas benar atau salah terhadap apa yang kalian lakukan. Hanya terlepas dari dunia ini, barulah bisa melihat dengan jelas benar dan salah dari perbuatanmu.
Selanjutnya, Master akan menjelaskan kepada kalian bahwa Bodhisattva memandang semua makhluk sebagai Buddha, yaitu Bodhisattva memandang semua makhluk hidup sebagai sesama makhluk. Kadang-kadang kita mengira diri sendiri sangat hebat, dan berpikir bahwa kita bisa melakukan banyak hal. Master akan menceritakan sebuah kisah kepada kalian. Semut-semut itu kecil sekali, mereka berkumpul berkelompok-kelompok. Tahukah kalian mereka memiliki sebuah negara? Namanya adalah Kerajaan Semut, juga disebut Negara Semut Kecil. Ada ahli biologi yang khusus meneliti semut. Semut-semut itu berkumpul dalam kelompok-kelompok, dan mereka memiliki satu pemimpin — yaitu Raja Semut. Semut-semut yang lain berlarian ke sana kemari mengumpulkan sedikit demi sedikit makanan untuk “Raja”mereka. Ada “Raja”yang memiliki hati yang lapang dan besar, memerintahkan semut-semutnya: “Makanan kita disini berlimpah, bawalah sebagian untuk semut di negara lain agar mereka juga bisa makan.” Ketika perintah Raja Semut itu turun, para semut pun berseru, “Hidup Raja Semut!” Karena ada “Raja”yang begitu welas asih, hingga rela membagikan makanan yang mereka kumpulkan dari hasil kerja keras untuk kerajaan semut lain. Perbuatan itu sangat berjasa dan penuh kebajikan, memiliki jasa kebajikan yang besar. Coba bayangkan, jasa kebajikan apa dari perbuatannya itu? Ia harus menunggu jutaan kalpa untuk bisa bereinkarnasi sebagai manusia, jutaan kalpa — bahkan lebih dari jutaan kalpa. Ia hanya melakukan sedikit hal seperti itu, tapi saat masih menjadi seekor semut, ia merasa dirinya sangat hebat. Kita manusia sekarang juga seperti itu, memberi sedikit sedekah, berbuat sedikit kebaikan kepada orang lain, lalu merasa hebat, merasa sudah seperti raja, merasa sudah melakukan banyak jasa kebajikan. Kalian tahu, Bodhisattva memandang manusia sama seperti kita memandang semut. Seperti Kerajaan Semut yang dibangun oleh semut-semut, saat ada angin badai yang hebat (yang sebenarnya adalah sapu jalanan), dengan air dan anginnya, kerajaan ini pun lenyap. Dahulu, Kaisar Qin Shi Huang menaklukkan enam negara, betapa hebatnya dia! Semua orang berseru, ‘Hidup Kaisar!’ Setiap orang menganggap dia adalah seorang kaisar yang luar biasa. Dia sangat berjasa; dia telah memberikan jasa besar bagi negara dan rakyatnya, dan jasa kebajikannya tak terhingga. Coba tanyakan, di manakah sekarang jasa-jasa yang telah dia lakukan? Apakah negara Qin masih ada? Berapa banyak orang yang dulu berjuang dan berkorban untuk negara Qin, apakah mereka masih ada sekarang? Master memberi contoh ini untuk kalian adalah supaya belajar Buddha Dharma dapat melepaskan keakuan dan tidak merasa diri sendiri sangat hebat. Sebenarnya diri sendiri sangatlah kecil seperti seekor semut, malah mengira bahwa dirinya memiliki jasa kebajikan yang tiada tara. Dari mana datangnya jasa kebajikan itu? Kalian hanya melakukan sedikit hal di dunia ini, dari mana jasa kebajikan? Lihatlah para selebritas, hari ini mendapat penghargaan Golden Rooster, besok mendapat Silver Rooster, lalu sekarang ke mana semua penghargaan itu? Orang-orangnya sudah tiada, semua ini hanyalah sesaat saja. Manusia hidup di dunia ini hanyalah sesaat.
Orang yang tidak bisa berpikiran terbuka berarti tidak memiliki kebijaksanaan, dan orang yang mampu membuka kebijaksanaan dan ingin terbebas dari enam alam adalah pencerahan sejati. Dalam memikirkan suatu hal, harus berdiri di ketinggian dan melihat jauh ke depan, dengan demikian, pemikiranmu baru bernilai. Jika kamu adalah seekor semut, kamu tidak akan pernah bisa melepaskan pola pikir semut; jika kamu adalah manusia, kamu tidak akan pernah bisa melepaskan pola pikir seorang manusia; hanya jika kamu seorang Bodhisattva, kamu baru bisa mengetahui apa yang dipikirkan oleh manusia. Kita adalah manusia, maka kita bisa tahu apa yang dipikirkan oleh semut, apakah mereka kasihan atau tidak. Kita melihat semut sibuk setiap hari, membawa sebatang korek api seperti mengangkat tiang besar, puluhan semut mengangkatnya bersama-sama dengan teratur. Namun akhirnya, ketika diinjak manusia, mereka merasa seperti sebuah gunung yang hancur, seolah bencana besar telah datang. Bukankah kita juga demikian? Lihatlah rumah-rumah yang berada di tepi pantai, saat tsunami datang, rumah-rumah itu hilang seperti kotak korek api. Bukankah itu sama seperti perasaan semut?
Jika kalian benar-benar bisa memahami kebenaran, siapa di antara kalian yang masih mau terjebak dalam ikatan karma? Hari ini kamu baik padanya, besok dia baik padamu, semua ini hanyalah ikatan karma. Hari ini kamu bisa bersahabat dengannya, tapi besok kamu bisa menjadi musuhnya. Kalian mengertikah? Inilah yang disebut terjebak dalam ikatan karma, kalian tidak bisa keluar darinya. Bukankah ayah dan ibu juga terus-menerus berputar dalam ikatan karma? Dan generasi kalian berikutnya, sejak awal pun sudah terjebak dalam karma. Lalu, kapankah kalian bisa melepaskan diri sendiri dan keluar dari pusaran ini? Oleh karena itu, Master mengatakan kepada kalian, manusia hidup di dunia ini, bagaikan sedang menenun sebuah jaring dengan segala cara. Tahukah kalian bagaimana laba-laba menenun jaringnya? Dan banyak laba-laba pada akhirnya justru mati di dalam jaringnya, karena setelah jaring itu selesai ditenun, mereka tidak bisa keluar darinya. Kita manusia sebenarnya sedang menenun jaring kehidupan diri sendiri. Namun pada kenyataannya, jaring yang kita tenun itu justru mencelakakan diri kita sendiri. Coba pikirkan, bukankah banyak kebiasaan buruk kita telah merusak tubuh kita sendiri? Dan bukankah pikiran-pikiran buruk kita telah merusak seluruh hidup kita? Saat kita tidak bisa berpikiran terbukan, bukankah itu berarti kita telah mencelakakan seluruh hidup kita sendiri? Mengapa kita menangis, bersedih, menderita, dan merasa kehilangan arah? Itu semua karena kita sudah dibuat bingung oleh jaring kehidupan yang rumit dan aneh yang kita tenun sendiri. Jaring kehidupan yang kita tenun itu adalah kumpulan dari perbuatan buruk kita, kemarahan dan ketidakbahagiaan..… Kita sering secara bodoh mengira bahwa hal ini adalah benar, dan hal itu salah, padahal sebenarnya tidak ada benar atau salah, semua ini hanyalah konsep pikiranmu sendiri. Contohnya, hal-hal yang dulu saat kecil kita anggap salah, mungkin sekarang ternyata bukan salah. Dan hal-hal yang dulu kita yakini benar, lalu kembali dipikirkan sekarang, apakah masih benar?
Karena itulah Bodhisattva meminta kita untuk menenangkan pikiran, yakni harus menenangkan diri dan berpikir dengan jernih, menimbang segala sesuatu sendiri. Inilah pemikiran, kita harus menjaga pikiran dan alur berpikir kita dengan baik. Jangan sampai ketika ajal tiba, semuanya hanyalah mimpi yang telah berlalu, yang artinya, jangan sampai kita meninggal dalam keadaan tidak tahu apa-apa, tidak memahami apa-apa, tidak memiliki apa-apa, dan baru sadar semuanya hanyalah mimpi, setelah itu kita tidak tahu lagi kemana arah kita pergi. Mungkin suatu hari saat kita “terbangun”, kita bahkan tidak tahu apakah kita masih hidup atau sudah mati — bangun dari tidur, roh dan jiwa sudah tidak ada, dan kita pun tak tahu lagi ke mana diri ini telah pergi.
Oleh karena itu, orang yang benar-benar memahami pentingnya membina diri adalah orang yang sungguh-sungguh tahu bagaimana menanam kebaikan dan kebajikan. Seseorang yang mampu menyadari bahwa dirinya perlu membina diri, berarti ia sudah mulai menanam kebaikan, yang artinya, saya memahami bahwa diri saya harus menjadi orang yang baik. Menimbun kebajikan berarti saya harus menambah lebih banyak jasa kebaikan di dunia ini. Orang-orang seperti inilah yang benar-benar mengerti cara membina diri. Dan orang yang selalu berbuat kebaikan adalah orang yang memiliki berkah. Coba pikirkan, jika seseorang sering melakukan perbuatan baik, apakah mungkin ia tidak memiliki berkah? Generasi muda hari ini adalah para lansia di masa depan, dan kebahagiaan sebenarnya bisa hilang dalam sekejap. Tataplah kerutan yang menghiasi wajah kalian, lalu kenanglah masa muda yang pernah kalian miliki, semuanya berlalu begitu cepat, bagaikan gelombang listrik atau percikan api yang sesaat menyala. Kebahagiaan yang ada di depan mata itu seperti percikan api baterai yang menyala sekejap, lalu padam. Masa muda yang cerah — menyala sebentar, lalu hilang. Ketika masih muda, jika tidak berusaha dengan sungguh-sungguh, sekejap saja kamu akan menghadapi penderitaan di hari esok. Setiap orang mengalami hal yang sama, jika kita tidak menghargai diri sendiri, itu berarti kita telah menyerah pada diri sendiri; Jika kita tidak menghargai hari esok kita, maka sebenarnya kita sedang merugikan hari ini.
