Sifat Alami Tidak Terhalangi, karena Tiada Halangan
Menekuni Dharma benar-benar tidak mudah, yang ada di permukaan dan di dalam hati merupakan materi pembelajaran Dharma dari dalam dan dari luar, jika dari luar terlihat menekuni Dharma dengan cukup baik, namun dari dalam tidak secara total mengubah pandangan pemikiran diri sendiri, tidak menerapkan ajaran Dharma ke dalam kehidupan sendiri, maka ia pasti tidak akan bisa menekuni Dharma dengan baik. Master hari ini akan membahas lebih dalam, semoga kalian bisa mengenyamnya baik-baik. Dimulai dari hari ini, Master akan membahas materi lebih dalam, mohon kalian mendengarkannya baik-baik.
Dalam menekuni Dharma, kita harus membina diri luar dalam, baik sisi dalam dan sisi luar semuanya harus dilatih, maka orang ini baru mampu tercerahkan pikirannya dan melihat sifat dasarnya sendiri, sesungguhnya ini termasuk pembinaan sisi dalam. Mengapa dikatakan pembinaan sisi dalam? Karena pikiran yang memahami segalanya, melihat sifat dasarmu, bukankah itu adalah sisi dalam? Hari ini kamu sudah berpikiran terbuka, karena pikiranmu sudah tidak buntu lagi, hari ini kamu memiliki pikiran Buddha, karena kamu sudah melihat sifat dasarmu, dengan demikian, berarti hati nurani dan sifat dasar orang ini sudah melebur menjadi satu, kalau begitu, orang ini sudah membina sisi dalamnya dengan baik. Banyak orang mengatakan, yang penting adalah membina pikiran dengan baik, maka sudah cukup, namun coba kalian pikirkan, apakah pikiran bisa dibina dengan baik? Ketamakan, kebencian, kebodohan, kecemburuan, semua pikiran ini, merupakan dinamika perasaan yang terlahir berdasarkan pemikiranmu. Dengan kata lain, saat ada perasaan iri hati terhadap orang lain dalam benakmu, maka akan terlahir perasaan cemburu pada orang lain dalam pikiranmu. Ketika pemikiranmu tidak bersih – murni, maka pikiranmu pun menjadi tidak bersih. Sesungguhnya pikiran bagaikan sebuah pusat komando, mendengarkan perintah dari pihak lain lalu secara acak menggerakkan pemikiranmu. Saat kamu berwelas asih pada orang yang kamu lihat, maka kamu akan merasa orang ini sangat kasihan, pada saat ini, pikiranmu akan berubah menjadi welas asih; namun saat kamu sangat cemburu pada orang yang kamu lihat, maka pada saat itu pikiranmu akan berubah menjadi kecemburuan; Kamu sangat membenci orang yang kamu lihat, maka pada saat itu, kebencian akan terlahir dalam pikiranmu, semuanya ini adalah sisi dalam, oleh karena itu, pembinaan sisi dalam jauh lebih sulit daripada pembinaan sisi luar.
Hati kita harus memiliki cahaya terang, harus tenang, harus tiada upaya, apa maksudnya? Hati kita harus memiliki cahaya yang terang, apakah cahaya terang itu? Itu adalah terang pencerahan. Seseorang tidak bisa berpikiran terbuka karena tidak ada cahaya di hatinya; seseorang sepanjang hari merasa risau, karena hatinya tidak tenang; seseorang sepanjang waktu merasa dirinya sendiri sangat hebat, pada akhirnya juga menjadi tiada upaya. Apa yang dimaksud dengan tiada upaya? Tidak melakukan tindakan apapun, tidak ada upaya, ada namun tidak melakukannya, sampai pada akhirnya menjadi tiada ketidakupayaan, bila dikatakan dengan lebih sederhana, berarti orang ini tidak ada apa-apanya. Oleh karena itu, jika kamu tidak ada apapun, maka kamu akan menjadi tenang; namun karena kamu mengira diri sendiri memiliki suatu peranan tertentu, maka pikiranmu tidak akan bisa tenang. Kamu mengira, hari ini saya harus melakukan satu hal penting, maka pikiranmu akan menjadi tidak tenang. Oleh karena itu, kita harus bisa memandang diri sendiri sebagai, “Saya tidak memiliki peranan apapun, memang siapa saya? Memang kalian itu siapa?” Coba pikirkan, hati – pikiran seseorang harus memiliki cahaya terang, harus tenang, harus tiada upaya, maka orang ini baru bisa memahami sifat dasarnya sendiri, karena sifat dasar manusia pada dasarnya adalah tiada upaya. Apa hebatnya? Apa hebatnya manusia? Kamu merasa dirimu sangat hebat, pada akhirnya hanya tinggal seonggok tulang belulang. Oleh karena itu, kamu harus sering terpikirkan akan cahaya Bodhisattva, pikiran harus bisa tenang, saya ini tidak memiliki peranan apapun, saya hanya menekuni Dharma dan membina pikiran baik-baik, berarti kamu sudah terhubung dengan sifat dasarmu. Oleh karena itu, orang yang sombong tidak akan bisa menekuni Dharma dengan baik; seseorang yang mengira diri sendiri hebat dan memiliki banyak ide-ide bagus, orang seperti ini juga tidak akan bisa menekuni Dharma dengan baik. Oleh karena itu, menekuni Dharma memerlukan ketulusan dan kejujuran, jangan mengira kalau kamu memiliki banyak ide-ide baru, lalu melakukan kecurangan kecil, berarti ia adalah orang yang tidak memahami ajaran Buddha Dharma. Asalkan kita memahami dan sepenuhnya mengerti, bahwa kita seharusnya memiliki kebijaksanaan Bodhisattva untuk mengatasi segala masalah di dunia ini, bukannya mengandalkan “kepintaran” kecil, orang yang memahami hal ini barulah merupakan orang yang memiliki kebijaksanaan benar.
Kalau begitu, banyak orang tidak mengerti, apa yang dimaksud dengan “kepintaran kecil”? Apakah yang dimaksud dengan “kepintaran besar”? Kepintaran kecil maupun kepintaran besar, semuanya adalah kepintaran – kepandaian, namun pintar bukan berarti memiliki kebijaksanaan. Master berkali-kali berkata pada kalian, pintar berarti mampu menyelesaikan beberapa masalah, orang yang mengira dengan mengedipkan mata, atau berbohong, atau membual, mengira orang lain tidak mengetahui kebenaran dari kata-katanya itu, mengira apapun yang dilakukannya, asalkan saya tidak mengatakannya, maka orang lain pasti tidak akan tahu, ini disebut sebagai kepintaran kecil; mengambil keuntungan dari orang lain dengan cara curang, ini adalah kepintaran kecil. Sedangkan orang yang benar-benar pintar, adalah seseorang yang memiliki kebijaksanaan, adalah orang yang mampu memahami prinsip kebenaran. Oleh karena itu, menekuni Dharma harus bisa memahami ajaran Buddha Dharma yang sesungguhnya. Kalian belajar sampai hari ini, apakah kalian mengerti tentang ajaran Buddha Dharma yang sesungguhnya? Orang yang memiliki akar kebijaksanaan yang besar, baru bisa memahami ajaran Buddha Dharma yang sesungguhnya. Apakah yang dimaksud dengan akar kebijaksanaan yang besar, apakah kalian mengerti? Yakni, dia membina diri dengan sangat baik di kehidupan sebelumnya, dan di kehidupan ini dia dapat memiliki kebijaksanaan besar di dunia ini, yang berani untuk merelakan, ini disebut akar kebijaksanaan besar. Dengan kata lain, dia di kehidupan sebelumnya memiliki pembinaan diri yang sangat bagus, kemudian di kehidupan ini kembali menekuni Dharma, ia adalah orang yang memiliki kebijaksanaan besar, ini disebut memiliki akar kebijaksanaan besar, dia baru bisa memahami ajaran Dharma ini. Contoh sederhana, hari ini, kalian orang-orang yang duduk di sini mendengarkan Master memberikan kalian wejangan Dharma, maka sesungguhnya berarti kalian memiliki akar kebijaksaaan yang besar, akan tetapi jangan lupa, ini adalah akar kebijaksanaan besar yang bersifat sebagian, karena kalian mengetahui bahwa kalian duduk di sini bisa mempelajari banyak hal, kalian bisa memahami banyak ajaran Dharma dan pemikiran Bodhisattva, beserta konsep pemikiran filsafat dari Bodhisattva, oleh karena itu, kalian bisa duduk di sini, bisa menikmati kebijaksanaan dan welas asih Bodhisattva untuk mengubah diri sendiri, kalau begitu itu sudah nyata dan terang-terangan termasuk memiliki akar kebijaksanaan yang besar.
Ada juga banyak orang, yang sudah belajar beberapa waktu, namun tidak dapat melanjutkannya, karena merasa sudah tidak ada yang bisa dipelajari, merasa saya sendiri sudah cukup baik, maka saya juga tidak perlu belajar lagi, semuanya yang seperti ini, yang dipelajari orang yang seperti ini adalah ajaran Buddha Dharma yang masih dangkal, tidak bisa mempelajari sampai ajaran Buddha Dharma yang sesungguhnya. Ajaran Buddha Dharma yang sesungguhnya, adalah kamu bisa masuk menyelami sampai ke dalam ajaran Buddha Dharma itu, memahami prinsip-prinsip kebenaran yang mendalam, beserta bimbingan dan praktiknya dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, Master beritahu kalian, ajaran Buddha Dharma yang sesungguhnya adalah “Dharma terkondisi (Samskritadharma)”. Apakah yang dimaksud dengan “Dharma terkondisi”? Baru saja, saya mengatakannya pada kalian, kita jangan mengira diri kita sendiri memiliki banyak peranan, seharusnya adalah tiada upaya, lalu mengapa sekarang kita kembali mengatakan “Dharma terkondisi atau Dharma dengan upaya”? Coba kalian pikirkan, justru karena kamu tidak memiliki upaya apapun, kamu merasa dirimu sendiri tidak ada hebatnya, maka kamu baru bisa melakukan suatu upaya. Jika kamu tidak memandang diri sendiri terlalu tinggi, maka sesungguhnya kamu sudah cukup tinggi, sebaliknya, jika kamu memandang diri sendiri terlalu tinggi, maka semua orang akan memandangmu rendah, mereka akan meremehkanmu, sesungguhnya, kamu sendiri pun tidak akan meningkat terlalu tinggi. Sebaliknya, saat kamu memandang diri sendiri dengan sangat rendah, dan pada kenyataannya, kamu terus-menerus praktik, belajar, berusaha, menekuni Dharma, memperkenalkan Dharma kepada orang-orang, membimbing orang-orang, maka sesungguhnya yang kamu lakukan adalah Dharma dengan upaya.
Coba pikirkan, di kantor, seberapa besarnya kamu membual tentang dirimu, bos kamu bisa tetap menggantimu dalam sekejap, seperti misalnya kamu mengatakan, “Saya tidak masalah”, lalu bekerja dalam diam, lalu menurutmu, di kantor, apakah kamu memiliki peranan – upaya? Tentu ada. Saat suami istri sedang bertengkar, sampai pada akhirnya, si suami berkata pada istrinya, “Apa hebatnya kamu? Bukankah kamu hanya cuci piring, masak, dan merawat anak?” Mohon tanya, kamu sebagai suami, coba pikirkan, apakah kamu bisa merawat anak? Apakah kamu bisa memasak? Si istri berkata, “Apa hebatnya kamu, bukankah kamu hanya pergi bekerja di kantor saja?” Apakah kamu pergi mengantor? Semua ini, justru karena kamu merasa diri sendiri terlalu hebat, kamu merasa diri sendiri bisa melakukan hal-hal hebat, maka kamu baru bisa menjadi tidak berupaya. Kalau kamu merasa diri sendiri tidak memiliki peranan dalam hal apapun, kamu baru benar-benar bisa berupaya. Seseorang yang benar-benar memahami makna dari “Dharma terkondisi”, yakni Dharma dengan upaya, maka sesungguhnya, berarti dia sudah sedikit melihat karakter alaminya sendiri, berarti ia sudah melihat sifat dasarnya. Contoh sederhana, hari ini saya memperkenalkan Dharma kepada satu orang, berarti yang saya gunakan adalah Dharma dengan upaya, karena saya memiliki kemampuan ini, melakukan tindakan – upaya ini, saya bisa menolongmu, maka saya adalah orang yang sudah melihat sifat dasarnya sendiri. Kalau kamu tidak mengatakannya, orang lain juga tidak akan meremehkanmu, namun kalau kamu mengatakannya, orang lain juga belum tentu menjunjung tinggi kamu. Oleh karena itu, seseorang yang benar-benar bisa melihat sifat dasarnya sendiri, harus memiliki karakter alami yang bebas dari hal-hal buruk, dengan kata lain, kamu sendiri harus berpendapat bahwa di dunia ini sudah tidak ada lagi benar dan salah; pikiran sendiri harus bebas dari halangan apapun, dengan kata lain tidak ada lagi yang menghalangi pikiran kita; pikiran sendiri harus bebas dari kekacauan, dengan kata lain, pikiran sendiri tidak pernah lagi berantakan, sifat dasarmu tidak memiliki pandangan benar maupun salah terhadap segala hal di dunia ini, apa yang ingin sifat dasarmu lakukan, maka kamu membiarkannya melakukannya, karena sifat dasar bersifat baik hati, maka yang dilakukannya pun semuanya adalah hal baik, maka, jangan ada halangan.
Misalnya, saya ingin membantu seseorang, akan tetapi, saya memiliki halangan, saya memiliki keegoisan saya sendiri, coba saya pikir, apakah saya mau membantu orang ini? Membantu dia bisa membawa keuntungan apa bagi saya? Ini dinamakan memiliki halangan, sudah ada halangan. Pada dasarnya, sifat dasarmu sangat baik, kamu sepenuhnya bisa membantu orang lain tanpa halangan, akan tetapi karena muncul halangan dalam pikiranmu, kamu merasa tidak ada untungnya, maka berarti “Sifat dasarmu sudah terhalangi”, kemudian menjadi “sifat dasar memiliki kekacauan”. Apakah yang dimaksud dengan sifat dasar menjadi kacau? Karena kamu memiliki halangan, maka kamu jadi tidak bisa mengambil keputusan, hal ini sesungguhnya saya lakukan atau tidak? Dipikir-pikir terus, bukankah kamu akan menjadi kacau? Coba kalian pikirkan, banyak orang sangat pintar, mengerjakan satu hal dengan sangat teguh, saya dengan cepat akan melakukan hal ini, akan tetapi begitu ada halangan di hatinya, apakah saya bisa melakukannya? Apakah saya berbuat demikian cukup baik? Apakah dia bisa memahami saya? Jika saya berbuat demikian, apakah orang lain malah akan merasa kalau saya memiliki permintaan tertentu padanya? Padahal saya tidak memiliki permintaan apapun padanya, karena sudah ada halangan, maka pikiranmu menjadi kacau. Oleh karena itu, pertama-tama, janganlah menciptakan halangan bagi pikiranmu sendiri.
