Kebijaksanaan Samadhi
Dharma yang Master sampaikan hari ini sangat mendalam, kalian harus mendengarkannya dengan baik. Membangkitkan hati penuh kasih terhadap semua makhluk yang memiliki perasaan; artinya terhadap semua makhluk yang memiliki perasaan di dunia ini, termasuk manusia, anjing, binatang, dan lain sebagainya, asalkan mereka adalah makhluk yang memiliki perasaan, kita harus membangkitkan sejenis hati yang penuh welas asih kepada mereka. Mengapa sekarang kita tidak boleh membunuh binatang, mengapa hati penuh kasih kita merasa tidak tega? Kita tidak makan ikan, tidak makan makhluk yang hidup, itu semua demi menjaga hati yang penuh welas asih. Bahkan semut pun kita tidak boleh menginjaknya sampai mati, hal itu dikarenakan kamu memiliki hati yang penuh welas asih, oleh sebab itu disebut sebagai Maitri Samadhi. Sesungguhnya samadhi adalah sebuah tingkat kesadaran spiritual, ketika kamu telah menggunakan welas asihmu, maka kamu telah masuk ke dalam Samadhi kamu, yang berarti kamu telah menggunakan sifat dasar dan hati nuranimu. Kalian harus belajar dengan baik, ini semua adalah hal-hal yang dipelajari orang-orang di akademi Buddhis.
Berikutnya, Master akan menjelaskan kepada kalian tentang Animitta Samadhi – samadhi tiada rupa. Yaitu ketika kamu memandang segala hal di dunia ini sebagai hal yang tidak dapat ditembus, tidak terlihat, dan tidak masalah. Kamu merasa bahwa di dunia ini tidak ada benda yang memiliki wujud nyata, karena kamu datang ke dunia ini dengan tangan kosong, dan saat pergi pun juga dengan tangan kosong. Harap diingat, kata “kosong” ini senantiasa menyelimuti kelahiran dan kematianmu, jika demikian, bukankah hal yang kosong adalah hal yang tidak memiliki wujud nyata? Sebagai contoh sederhana, saat kita baru lahir, nenek kita masih sempat melihat kita; ketika kita berusia lima atau enam tahun, kita pun masih bisa melihat nenek kita. Namun, saat kita menginjak usia tujuh atau delapan tahun, nenek telah tiada. Belasan tahun kemudian, dua puluhan tahun kemudian, pada masa itu belum ada foto, apakah kamu masih mengingat wujud wajah nenekmu? Apakah kamu masih bisa mengingat sosok yang dulunya adalah nenekmu ini? Animitta Samadhi, sudah tiada. Dunia yang saya lihat ini seluruhnya adalah kosong; masa lalu artinya sudah tiada, sudah berakhir, bersifat palsu, dan bagaikan mimpi belaka. Oleh karena itu, saya tidak melekat pada animitta samadhi — samadhi tiada rupa.
Apranihita Samadhi – samadhi tanpa keinginan. Saya katakan bahwa hari ini saya sedang menyebarkan Dharma, saya memiliki kekuatan tekad. Bagi orang yang membina pikiran dengan sangat baik, mereka bahkan merasa tidak ada lagi kekuatan tekad, lalu kekuatan tekad yang alami itu akan keluar dengan sendirinya, dan itu merupakan sebuah kealamian yang natural. Mengapa orang-orang di zaman sekarang menyukai segala sesuatu yang asli dan murni? Ada sebagian orang yang memasak sup, mereka tidak menambahkan minyak, tidak menambahkan penyedap rasa, tidak menambahkan apa pun; mereka hanya menggunakan api kecil untuk mengeluarkan rasa asli dari bahan-bahan nabati tersebut secara perlahan-lahan. Oleh karena itu, sebagai praktisi Buddhis harus memahami, hari ini ketika saya berikrar, semua itu dikarenakan ada permohonan; hari ini ketika saya berikrar pun di dalamnya terdapat sebuah keserakahan. Saya harus melafalkan paritta hingga mencapai kondisi tanpa keinginan atau permohonan. Sesungguhnya, di saat kamu berada dalam kondisi tanpa keinginan, di situlah kamu sebenarnya telah memiliki tekad. Kekuatan tekad apa yang saya miliki? Pada dasarnya saya sendiri adalah manusia, saya datang ke dunia ini, maka sudah sepatutnya saya melakukan perbuatan baik. Jika ada sebagian orang yang berikrar bahwa seumur hidup saya tidak akan pernah menerobos lampu merah lagi, tekad semacam apa ini? Kamu sebagai manusia, kamu hidup di Alam Manusia ini, maka kamu wajib mematuhi peraturan lalu lintas. Jika di dalam hatimu masih berpikir, “Saya tidak boleh menerobos lampu merah”, maka tingkat kesadaran spiritualmu sudah sangat rendah. Kamu seharusnya berada dalam kondisi tanpa keinginan, ketika melihat lampu merah, secara alami saya akan menginjak rem; ketika melihat orang lain menderita, secara alami saya akan membantu. Ketika ada seorang ibu tua yang terjatuh, saya berjalan menghampiri dan membantunya berdiri. Jika kamu masih harus berkata, “Bodhisattva, saya memiliki kekuatan tekad, saya ingin membantu semua orang yang menderita”, lalu barulah membantu ibu tua itu berdiri, dengan demikian, tingkat kesadaran spiritualmu sudah bukan pada kondisi tanpa keinginan lagi, mengertikah?
Samadhi adalah kebijaksanaan. Artinya, menjalankan kebijaksanaan tanpa rupa, menjalankan kebijaksanaan tanpa keinginan. Samadhi mengacu pada kesadaran mendalam dan kesadaran bawah sadar yang tersisa serta dimiliki di dalam kesadaran pikiranmu. Saya sering mendengar kalian berkata: “Master, saya rasa orang ini sangat baik, tetapi ternyata orang ini adalah orang jahat.” Ketika saya menikah dengannya, dia adalah orang yang sangat baik — ini adalah kesadaran bawah sadar. Begitu kamu sudah menikah dengannya, lalu kamu merasakan kepahitan hidup darinya, maka kamu akan masuk ke dalam kesadaran mendalammu, sehingga kamu tidak akan pernah melupakannya lagi, setidaknya kamu tidak akan mencari pacar yang seperti ini lagi, apakah mengerti? Akan tetapi, justru kesadaran bawah sadar kalian yang telah mencelakai kalian sendiri.
Harus dipahami, mempelajari Samadhi adalah untuk melihat dengan jelas kondisi dan karakteristik dari kesadaran pikiran semacam ini. Meskipun kesadaran pikiran tidak dapat dilihat, dan kebijaksanaan juga tidak dapat dilihat, namun ketika dipergunakan di dalam kehidupan sehari-hari, hal itu akan dapat terwujud. Mengapa orang lain ketika menghadapi suatu masalah bisa berpikiran terbuka, sedangkan kamu ketika menghadapi masalah justru berpikiran buntu dan tidak bisa merelakannya? Apakah yang dimaksud dengan “kondisi“ itu? Hari ini kamu ingin melakukan suatu hal, kamu berkata bahwa kamu memiliki Samadhi, kamu memiliki kebijaksanaan yang muncul; lalu apakah kebijaksanaan ini memiliki kondisi dan bentuk nyata? Tidak demikian, bahkan wujud rupa sekalipun memiliki cara berpikir di dalamnya.
Musik juga memiliki wujud rupa. Sebagai contoh, ketika orang jahat muncul, ada musik pengiring untuk orang jahat. Coba kamu lihat, di dalam film begitu musik untuk orang jahat berkumandang, si orang jahat pun akan segera muncul. Begitu mendengar musik jenis itu, meskipun kamu belum melihat orangnya, tetapi kamu bisa langsung merasakan bahwa orang jahat akan segera keluar; inilah yang disebut sebagai wujud rupa musik. Mengapa kamu menyukai lagu ini? Karena lagu tersebut kebetulan sangat cocok dengan apa yang sedang dipikirkan di dalam hatimu. Sesungguhnya, lagu itu sendiri merupakan sejenis pelepasan dari dalam lubuk hati, ia memiliki bentuk nyata. Apakah kalian tahu seperti apa bentuk dari kebaikan hati? Master memberi tahu kalian, bentuk dari kebaikan hati adalah tanpa wujud; sesuatu yang memiliki wujud, itu sudah bukan lagi kebaikan hati. Master jelaskan secara lebih spesifik kepada kalian, orang-orang sering berkata bahwa orang ini memiliki raut wajah yang jahat dan gerak-gerik yang buruk, benar tidak? Sesuatu yang bentuk rupanya sudah menonjol keluar, itu sudah tidak begitu normal lagi; kealamian itulah yang indah. Betapa indahnya udara yang alami; hembusan angin yang bertiup terasa sangat alami. Jika kamu memasang pendingin ruangan (AC), hal itu justru akan merusak tubuh. Orang-orang menyebut hal ini sebagai wujud buruk, dingin, dinginnya sudah berlebihan, dan itu bukan lagi batasan yang dapat disesuaikan oleh tubuhmu, apakah mengerti?
Harus dipahami, karakteristik dan kondisi dari kebijaksanaan adalah dicari dan diselesaikan di dalam perubahan yang tanpa wujud nyata, dengan begitu, dalam dirimu akan memunculkan sejenis karakteristik yang lain. Sebagai contoh, orang ini berkata: “Bagaimana ini?” Lalu saya memberi tahu kamu apa yang harus dilakukan, perkataan yang diucapkan dan metode yang diberikan oleh orang tersebut, itulah yang dinamakan sebagai sebuah karakteristik. Saya menabrak orang ini hingga terluka, bagaimana ini? Karakteristiknya langsung menonjol keluar, bukan? Bagaimana ini? Apakah melarikan diri, ataukah berhenti, atau harus bagaimana? Hal ini merupakan karakteristik dari kondisi psikologis batinmu. Kalian semua harus belajar dengan baik; Master perlu menggali masalah dan tabiat buruk kalian secara mendalam, demi memperbaiki kekurangan kalian.
Harus meredakan dan menghentikan rasa benci di dalam hati; harus meredakan segala rasa benci yang terpendam di dalam hatimu. Dengan kata lain, di dalam hatimu tidak boleh ada kualitas batin yang membenci orang lain, harus menghentikannya, harus meredakan kemarahan, dan tidak boleh membenci orang lain. Kalian yang duduk di bawah sini, apakah ada yang membenci orang lain? Ada, terkadang bahkan terhadap orang yang paling dekat pun kamu bisa merasa benci. Suami ini terasa sangat menyebalkan, istri ini terasa sangat menyebalkan, anak pun terasa sangat menyebalkan. Rasa benci ini bagaikan kobaran api, hati yang penuh kebencian adalah api, ia akan membakar habis batin dan organ dalammu hingga rusak. Oleh karena itu, rasa benci tersebut wajib diredakan dan dihentikan. Hal ini sama saja dengan kamu menggunakan kebijaksanaan untuk memusnahkan seluruh musuhmu. Di saat kamu berhenti membenci orang lain, sesungguhnya itu setara dengan kamu telah memusnahkan semua musuhmu, terlebih lagi pemusnahan semacam ini sama sekali tidak memerlukan kamu untuk menguras tenaga. Pada awalnya saya sangat membenci seseorang, namun tiba-tiba saya tidak membencinya lagi, saya berhenti membencinya, bukankah dengan begitu saya telah memusnahkan musuh ini? Karena saya tidak membencinya lagi, maka dia bukan lagi musuh saya. Jika kamu membencinya, bukankah dia adalah musuhmu? Tetapi jika saya tidak membencinya, dari mana datangnya musuh bagi saya, benar tidak? Jika tidak, maka di dalam hatimu akan selamanya ada rasa benci, dan api itu akan terus membakar jantung serta paru-parumu. Oleh karena itu, kita tidak perlu menaklukkan musuh kita di dunia luar dengan membenci yang ini atau membenci yang itu: “Saya ingin bertengkar dengannya, saya ingin begini begitu…” Melainkan, di dalam batin kita harus menerima dan memberikan pemakluman kepada orang lain. Hal itu dikarenakan hati nurani manusia pada dasarnya sangat baik; orang yang bisa sering memaafkan orang lain, maka dia adalah seorang praktisi Buddhis.
Kamu harus menerima ketidaksempurnaan orang lain. Master jelaskan kepada kalian semua, ketika orang lain bertindak kurang baik, ketika orang lain bertindak tidak sempurna, sebenarnya kamu harus menerimanya. Setelah kamu menerima ketidaksempurnaannya, barulah kamu akan dapat melatih kesabaran. Sebagai contoh, suami paling suka melakukan hal yang buruk; setiap kali melihat dia melakukan hal yang buruk, kamu benar-benar merasa sangat benci, dan setiap kali melihat dia bermalas-malasan, kamu juga merasa sangat benci. Namun, jika kamu menerimanya: “Dia orangnya memang sudah seperti ini, tidak ada cara lain. Anggap saja ini adalah utang saya kepadanya, maka saya lakukan saja sedikit lebih banyak, lagipula hal ini tidak akan membuat saya lelah sampai mati. Bagaimanapun juga, dia dalam aspek tertentu telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi keluarga.” Begitu kamu berpikir demikian, kamu telah menerima ketidaksempurnaannya, dengan begitu kamu akan dapat melatih kesabaran, dan kamu tidak akan membencinya lagi; jika tidak, kamu akan langsung memaki dirinya.
Di saat memaki orang lain, itu tandanya api sedang membakar dirimu sendiri, barulah kamu akan memaki orang. Sebagai contoh sederhana, cerek yang digunakan untuk memasak air, kapankah ia akan mengeluarkan suara? Itu karena ketika api di bagian bawahnya menyala dengan berkobar-kobar, cerek tersebut akan mengeluarkan suara uap air yang mendesis. Ketika energi amarah di dalam hati seseorang sudah penuh dan dia ingin memarahi orang, api di dalam hatinya akan membakar dengan semakin berkobar-kobar, sama seperti corong mulut cerek yang sedang berbunyi nyaring; karena sudah tidak bisa ditahan lagi, maka dia pun mulai memarahi orang. Jika demikian, bukankah di saat memarahi orang lain, kamu sebenarnya sedang membakar dirimu sendiri? Terasa menderita atau tidak? Di masa lalu ada sejenis cerek yang memiliki peluit pada bagian corong mulutnya. Begitu uap airnya keluar, ia akan berbunyi dengan sangat nyaring. Sesungguhnya, mulut manusia itu persis seperti corong mulut cerek tersebut; orang Shanghai di masa lalu menyebutnya sebagai “tong diao — cerek tembaga”. Apa maknanya? Ketika energi amarah seseorang sudah penuh, maka mulutnya akan memarahi orang; sedangkan orang yang tidak menyimpan amarah, mulutnya tidak akan memarahi orang. Mengapa bisa timbul amarah? Itu karena api tersebut terus-menerus membakar dirinya, membakar di dalam lubuk hatinya. Coba kalian lihat secerek air itu, di saat belum mendidih sepenuhnya dan uap air mulai keluar dari corong mulut cerek, kondisi di dalam cerek tersebut sudah sangat panas mendidih. Di saat seseorang sedang marah, apakah organ dalammu sanggup menahan cobaan dari pembakaran yang seperti ini?
Apa yang Master sampaikan kepada kalian ini benar-benar adalah Wejangan Bai Hua Fo Fa (Dharma dalam bahasa sehari-hari), saya berharap kalian semua dapat belajar dengan sebaik-baiknya.
