Pandangan Bijak terhadap Kenyataan
Hari ini memberi tahu kalian, kita umat awam pada umumnya, jika tidak melatih konsentrasi dalam jangka waktu yang lama, maka hati dan pikiran tidak akan bisa tenang. Seandainya seseorang tidak bisa menenangkan hatinya dalam jangka waktu yang lama, maka terlepas dari apa pun masalah yang dihadapinya, hatinya akan selalu merasa tidak tenang dan gelisah. Jika hal ini dibiarkan dalam waktu lama, maka orang tersebut tidak akan bisa sering berada di dalam kondisi konsentrasi batin. Sebagai contoh, rumahmu adalah fondasi dari ketenangan. Orang yang sering berada di rumah adalah orang yang memiliki dasar yang kokoh dan bisa duduk dengan tenang. Jika seseorang tidak bisa menenangkan hatinya dalam jangka waktu yang lama, dengan kata lain orang tersebut tidak bisa duduk dengan tenang dan tidak bisa berdiri dengan tegak; maka orang ini tidak dapat sering berada di dalam kondisi konsentrasi batin, sama halnya seperti orang yang tidak sering berada di dalam rumah. Orang-orang sering mengatakan, anak yang tidak sering berada di rumah adalah anak yang liar. Begitu pula dengan orang yang hatinya tidak bisa tenang, maka hati orang tersebut akan menjadi liar, dan dia tidak akan bisa membina hati dan pikirannya dengan baik. Oleh karena itu, harus memiliki ketenangan batin.
Jika tidak memiliki ketenangan batin, maka dipastikan tidak akan ada kebijaksanaan. Dengan kata lain, jika hati seseorang tidak bisa tenang, maka orang tersebut tidak akan mungkin memiliki kebijaksanaan. Tidak memiliki kebijaksanaan maka tidak akan ada ketenangan batin, apa artinya? Jika kamu adalah orang yang tidak memiliki kebijaksanaan, maka hatimu pasti tidak bisa tenang. Harus memiliki ketenangan batin sekaligus kebijaksanaan. Seseorang harus menenangkan hatinya, barulah kebijaksanaannya akan bertumbuh, dan dengan demikian barulah dapat membuktikan pencapaian nirvana. Apa yang dimaksud dengan membuktikan pencapaian nirvana? Yaitu baru bisa membuktikan bahwa dirimu telah mampu mengendalikan dirimu sendiri, sebenarnya adalah mencapai ketenangan nirvana. Nirvana berarti membuatmu bisa kembali ke dalam sebuah keheningan yang mendalam. Dengan kata lain, orang tersebut mampu mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, serta membuat hatinya menjadi sangat sunyi, tenang, dan mengendap ke bawah.
Harus melatih ketenangan batin diri sendiri menjadi sebuah kebiasaan, yang disebut sebagai mempraktikkan keheningan dalam keseharian. Sebagai contoh sederhana, banyak orang yang suka meluapkan amarah dan bertengkar, itu karena ia telah membentuk suatu kebiasaan, sedikit-sedikit ingin bertengkar. Sebaliknya, mengapa ada sebagian orang yang begitu menghadapi masalah bisa bersikap sangat tenang dan tidak banyak bicara, karena orang-orang seperti ini memiliki sebuah kemampuan. Kemampuan apa? Yaitu dia sendiri mampu menenangkan batinnya sendiri ke dalam keheningan. Dia telah memupuknya menjadi sebuah kebiasaan; terlepas dari apa pun masalah yang dihadapi, dia selalu bisa menenangkan diri. Orang yang telah menanamkan kebiasaan seperti ini disebut sebagai cocok untuk melakukan perenungan batin. Dengan kata lain, orang tersebut sangat cocok dan mampu untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Coba kalian pikirkan baik-baik, bukankah memang demikian kenyataannya? Seseorang yang tidak suka meluapkan amarah akan mampu melihat ke dalam dirinya sendiri. Yang artinya dia mengerti bagaimana cara mengamati segala hal yang ada di sekitarnya, serta mengerti bagaimana cara mengamati diri sendiri dan mengendalikan egonya. Di saat seseorang sedang meluapkan amarah, dia bahkan tidak menyadari apa yang sedang diucapkannya sendiri. Jika seseorang mampu melihat apa yang sedang dilakukannya dan mampu mengendalikan dirinya sendiri, maka dia akan memperoleh pembebasan, orang seperti ini akan sangat mudah untuk mencapai pembebasan.
Sebagai praktisi Buddhis, kita harus memiliki pandangan bijak terhadap kenyataan. Apa yang dimaksud dengan pandangan bijak terhadap kenyataan? Artinya adalah, terhadap hal-hal nyata yang kamu lihat di depan mata sekalipun, kamu tidak boleh menganggapnya sebagai sesuatu yang nyata dan kekal. Kamu harus melihat masalah-masalah ini dengan cara yang bijaksana, karena segala sesuatu masih bisa berubah. Kamu lihat orang itu, bukankah baru saja dia melompat-lompat dan meluapkan amarahnya? Namun, beberapa saat kemudian, dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Kamu lihat lagi orang itu, baru saja dia begitu gembira dan bersikap seperti sahabat baik denganmu, tetapi tiba-tiba dalam sekejap dia langsung marah. Jadi, apakah apa yang kamu lihat itu benar-benar nyata? Inilah yang disebut dengan pandangan bijak terhadap kenyataan. Harus bisa melihat masa depannya dengan mengamati kondisi lingkungan yang sedang dia alami saat ini—sekarang dia memang sedang meluapkan amarah, namun sebentar lagi juga akan mereda, dengan demikian kamu akan berpikir bahwa dia tidak akan terus-menerus marah, harus memiliki pandangan bijak terhadap kenyataan. Baru saja orang ini sangat baik, saya berteman dengannya dan menceritakan segala hal kepadanya; pada saat seperti ini, kamu harus sangat berhati-hati, karena dia bisa saja tiba-tiba berbalik arah dan tidak mau mengakui hubungan pertemanan itu lagi, bahkan meruntuhkan semua keakraban serta kedekatan yang terjalin saat kalian makan bersama tadi. Oleh karena itu, dalam memandang suatu masalah harus menggunakan pandangan bijak, yaitu mampu melihatnya dengan cara yang bijaksana dan cerdas.
Sebagai praktisi Buddhis, kita harus memiliki pandangan menyelaraskan kondisi. Artinya, dalam memandang suatu masalah, kita harus mengikuti jalinan jodoh dan menyelaraskan diri dengan jalannya situasi. “Oh, kamu hari ini tidak bisa ya?” “Tidak ada waktu.” “Oh, kamu hari ini sudah berjanji dengan saya, dan saya sudah lama menunggumu.” Lalu dia menelepon dan mengatakan bahwa dia tidak bisa datang, “Tidak apa-apa, lain kali saja kita bicarakan lagi.”Inilah yang disebut dengan pandangan menyelaraskan kondisi. Meskipun kamu mengikuti dan menyelaraskan diri dengannya, tetapi kamu telah melihat esensi dari dirinya, orang ini tidak menepati ucapannya, maka lain kali kamu tidak perlu menghiraukannya lagi. Jika pada saat itu juga kamu langsung bertengkar dengannya, itu tidak boleh dan tidak ada gunanya. Tidak peduli seberapa keras kamu bertengkar dengannya saat itu, dia tetap saja tidak akan datang, dan kamu pun tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya. Oleh karena itu, bukankah lebih baik tidak perlu bertengkar? Lain kali cukup tidak membuat janji dengannya lagi, benar tidak? Selain itu, ada juga yang disebut dengan pandangan mengikuti jalinan jodoh. Dalam memandang suatu masalah harus mengikuti jalinan jodoh; jika hari ini berhasil, kita ikuti arah keberhasilan itu untuk melihatnya. Jika hari ini tidak bisa berhasil, kita ikuti arah ketidakberhasilan itu untuk melihatnya. Hari ini orang ini memiliki hubungan perasaan yang sangat baik dengan saya, maka saya pun akan memperlakukannya dengan sangat baik. Hari ini orang ini memiliki hubungan perasaan yang tidak baik dengan saya, maka saya juga akan mengikuti jalinan jodoh tersebut. Saya tidak akan memandangnya sebagai orang yang pada mulanya adalah sahabat baik saya; karena hubungan dia dengan saya saat ini sudah tidak baik, saya hanya bisa mengikuti kedatangan jalinan jodoh buruk ini, dan saya akan berjalan mengikuti jalinan jodoh itu dengan menggunakan pandangan mengikuti jalinan jodoh. Inilah yang disebut sebagai orang yang bijaksana. Jika kamu terus berpikir: “Ah, dia dulu bersikap sangat baik kepada saya, dulu saya juga memperlakukannya dengan begitu baik, mengapa sekarang dia memperlakukan saya seperti ini?” Maka ini tidak dapat disebut sebagai pandangan mengikuti jalinan jodoh. Ketika jalinan jodoh baik datang, kamu harus mengamatinya dengan menyelaraskan diri pada jalinan jodoh baik tersebut. Jika jalinan jodoh buruk yang datang, kamu harus mengamatinya dengan mengikuti jalinan jodoh buruk tersebut.
Harus dipahami, dalam membina diri kita harus membina berdasarkan kesadaran pikiran kita. Seorang praktisi spiritual harus mengikuti kesadaran pikirannya dalam membina diri. Apa yang dimaksud dengan kesadaran pikiran? Yaitu apa yang sedang dipikirkan oleh otakmu saat ini. Misalnya hari ini ada seorang ibu tua yang berkata: “Saya membina diri karena ingin memperpanjang usia,” maka binalah dirimu dengan mengikuti kesadaran pikiran tersebut, saya memperbanyak pelafalan paritta, saya memperbanyak pelepasan makhluk hidup, maka usia saya akan diperpanjang. Kemudian kamu pun perlahan-lahan membina diri; sebenarnya, ini adalah membina diri dengan mengikuti kesadaran pikiranmu. Hari ini, mengapa banyak dari kalian yang datang untuk membina diri? Bukankah demi memohon suatu hal? Siapa di antara kalian yang tidak memiliki masalah? Di dalam keluarga ada masalah keluarga, yang memiliki anak ada masalah anak, yang suami istri ada masalah suami istri, benar tidak? Bahkan jika kamu berniat untuk membabarkan Dharma sekalipun, kamu juga memiliki suatu tujuan tertentu. Contohnya: setidaknya kelak saya tidak ingin terlahir kembali menjadi manusia lagi, saya ingin menjadi Bodhisattva; hal itu pun dinamakan sebagai kesadaran pikiran. Akan tetapi, kesadaran pikiran bukanlah suatu hal yang buruk, benar tidak? Membina diri dengan mengikuti kesadaran pikiran justru akan membuat seseorang menjadi lebih mudah untuk masuk ke dalam kondisi ketenangan batin.
Ketika kamu telah masuk ke dalam kondisi ketenangan batin, maka kebijaksanaan dari hasil perenunganmu akan matang. Apa yang dimaksud dengan masuk ke dalam kondisi ketenangan batin? Yaitu sudah tidak meluapkan amarah lagi, sudah bisa berpikiran terbuka, sudah paham dan mengerti, serta sudah stabil. Ketika kamu telah masuk ke dalam kondisi ketenangan batin, kamu harus mengamati kebijaksanaan dirimu sendiri. Sebenarnya, di saat kamu mampu menenangkan batin, maka kebijaksanaanmu pun akan menjadi lebih matang. Harus dipahami bahwa setelah masuk ke dalam kondisi ketenangan batin, kebijaksanaan dari hasil perenungan akan matang; artinya kebijaksanaan tersebut secara perlahan akan menjadi matang, dengan demikian barulah kamu dapat mencapai Samadhi, Samyaksambodhi.
Orang-orang sering mengatakan bahwa di dalam hati terdapat Samadhi. Lalu, apa yang dimaksud dengan Samadhi? Samadhi adalah suatu kondisi di mana kebijaksanaan telah matang; Samadhi merupakan kristalisasi dari kebijaksanaan. Artinya, di saat kebijaksanaan seseorang telah mencapai puncaknya, kebijaksanaan tersebut akan berubah menjadi sebuah kristal. Pada saat inilah, kamu akan mampu memandang bahwa segala dharma atau fenomena adalah kosong. Yaitu melihat segala sesuatu yang ada di Alam Manusia, yakni Alam Dharma ini pada hakikatnya adalah kosong. Hubungan perasaan antarmanusia adalah kosong, benar tidak? Bukankah hubungan perasaan kalian di masa lalu semuanya sangat baik? Namun sekarang, ada orang tua dari sebagian orang yang telah tiada; ada pula hubungan perasaan antara suami dan istri yang telah retak lalu berpisah. Lalu, ke mana perginya hubungan perasaan itu? Sudah tidak ada lagi. Oleh karena itu, disebut sebagai mengamati bahwa segala dharma atau fenomena adalah kosong; segala sesuatu yang kamu lihat, seluruhnya adalah kosong. Di masa lalu, sebelum kalian bervegetarian, kalian merasa makan hidangan hewani itu rasanya sangat lezat. Namun sekarang, jika kalian diminta untuk memakannya, tidak akan ada satu orang pun yang mau memakannya lagi. Oleh karena itu, segala sesuatu pada dasarnya adalah kosong. Setelah selesai memarahi orang, semuanya pun berakhir; setelah selesai membicarakan orang lain, semuanya pun berakhir; pertikaian dan perebutan antarmanusia, semuanya juga berakhir. Saya dulu pernah pergi berwisata ke suatu tempat; perasaan dan kesan yang ada pada saat itu, sekarang telah berakhir dan tidak dapat ditemukan lagi. Ketika kalian pergi bersenang-senang, betapa gembiranya kalian saat itu, tetapi apakah sekarang kalian masih memiliki perasaan seperti itu? Bahkan jika ingin menariknya kembali dari ingatan pun tidak seberapa yang dapat ditarik.
Master memberi tahu kalian, dari sudut pandang psikologi, perasaan langsung yang dirasakan seseorang atas hal-hal yang telah dilakukannya di masa lalu, setelah melewati waktu satu tahun, hanya akan tersisa 20% dari perasaan yang dirasakannya saat itu. Dengan kata lain, ketika kamu merasa sangat bersemangat terhadap suatu hal pada saat itu dan berpikir: “Saya pasti akan melakukannya”, lalu saat melakukannya kamu merasa luar biasa gembira; Master memberi tahu kamu, satu tahun kemudian, rasa semangat yang tersisa di dalam dirimu hanya tinggal 20% saja, dan kesadaran akan rasa semangat tersebut pada dasarnya sudah tidak ada lagi di dalamnya. Sama halnya seperti Bibi Zhou yang sekarang sudah berusia 82 tahun; sejak berusia 10 tahun, dia telah melewati begitu banyak hal yang membahagiakan dan melewati begitu banyak hal yang tidak membahagiakan. Sekarang, hal-hal yang membahagiakan hanya tersisa 20% di dalam otaknya. Namun, hasil penelitian para ahli psikologi menunjukkan bahwa proporsi hal-hal yang tidak membahagiakan yang menetap di dalam hati adalah sebesar 50%. Oleh karena itu, ketika seseorang menginjak usia senja, mereka tidak akan bisa melupakan hal-hal yang tidak membahagiakan, sedangkan hal-hal yang membahagiakan seluruhnya telah terlupakan. Kalian sekarang bahkan belum meninggal dunia pun keadaannya sudah seperti ini, apakah kalian paham? Oleh karena itu, harus memahami sebuah kebenaran, kurangi melakukan hal-hal yang tidak membahagiakan, dan perbanyaklah melakukan hal-hal yang membahagiakan. Perbanyaklah yang 20% itu dan kurangilah yang 50% itu, maka kehidupan di usia senjamu akan menjadi sangat bahagia.
