40. Menghormati Guru dan Menjunjung Tinggi Ajaran — 尊师重道

Menghormati Guru dan Menjunjung Tinggi Ajaran

Master memberitahukan kepada semua orang, banyak orang mengatakan, ‘Saya merasa sangat kesepian, saya sangat sedih’. Coba pikirkan, saat seseorang lahir ke dunia, memang sendirian.  Bukankah seseorang lahir ke dunia ini sendirian? Apakah kesepian atau tidak? Tidak tahu apa-apa, tidak mengenal siapa-siapa, lalu menangis ‘wa’ saat lahir, dan tiba di dunia ini, datang sendirian, apakah itu kesepian? Saat meninggal, apakah juga kesepian? Siapa yang akan menemanimu untuk mati? Bukankah dirimu yang mati sendirian? Jadi, kehidupan seseorang dari awal sampai akhir memang adalah kesepian. Kalau memang sejak awal sudah kesepian, lalu mengapa masih membicarakan soal kesepian? Bukankah begitu? Jadi, karena manusia memang ditakdirkan untuk kesepian, bagaimana mungkin tidak merasa kehilangan? Tapi jangan larut dalam kesedihan. Kita datang ke dunia ini untuk menjalani satu perjalanan, datang dengan baik, pergi pun dengan baik, jalani hidup ini dengan hati nurani yang bersih. Dan kelak, ke mana kita akan pergi, asalkan tahu tujuan, berjuanglah maju dengan semangat, dan diri sendiri dapat melangkah menuju ke dunia lain yang bersih dan terang. Sebenarnya, ini adalah hal-hal yang seharusnya Master sampaikan kepada para biksu dan biksuni. Justru para biksu telah berpikiran terbuka dan memahami kebenaran, sehingga mereka tahu bahwa hidup ini tidaklah sepi. Ke mana pun saya pergi, saya selalu punya teman. Hari ini  saya datang ke dunia ini sendirian, ini memang wajar. Saat pergi nanti juga akan sendirian. Jika kamu tidak ingin merasa kesepian, yang bisa kamu dapatkan hanyalah ketidaksepian yang sementara. Kamu bisa mencari orang lain untuk diajak bicara, bahkan ngobrol sebentar saja dengan pemilik warung kecil pun sudah cukup untuk membuatmu merasa tidak kesepian, bukan? Ada begitu banyak teman se-Dharma, begitu banyak sahabat yang baik, seharusnya kamu tidak merasa kesepian. Ketika kamu datang ke Stasiun Radio Dongfang, meskipun kamu tidak berbicara, orang lain tetap akan datang untuk mengajakmu bicara, apakah kamu masih akan merasa kesepian? Inilah yang disebut filsafat hidup, kesepian itu sebenarnya berasal dari dalam hati. Praktisi Buddhis tidak akan merasa kesepian. Apakah kalian semua mengerti? Datang terburu-buru, pergi pun terburu-buru.

 

Harus diketahui bahwa semua makhluk hidup yang tak terhingga di Alam Semesta ini adalah Buddha. Lalu, apa yang kamu sebut sebagai kesepian? Di dalam jiwamu, ada Bodhisattva yang menemanimu. Di dalam kesadaranmu, ada para Dewa dan Buddha dari langit yang menyertaimu. Di Alam Manusia, ada begitu banyak umat Buddhis dan teman se-Dharma yang bersamamu. Lalu, kesepian apalagi yang dibicarakan? Jadi, karena semua makhluk hidup tak terhingga di Alam Semesta ini adalah Buddha, maka di sekelilingmu pun semuanya adalah Buddha, bukankah berarti kamu bersama para Buddha? Lalu, mengapa masih menyebut diri kesepian? Bagi orang yang telah membina diri dengan baik, saat meninggal dunia, Bodhisattva akan turun menjemputmu menuju Alam Sukhavati, lalu, apa yang disebut kesepian? Masalahnya adalah kalian harus memiliki kemampuan itu, membina diri hingga pada saat ajal tiba, Bodhisattva datang menjemput kalian, dan jika bisa membina diri hingga Bodhisattva bersemayam di dalam hatimu, maka kamu tidak akan merasa kesepian lagi. Apakah para biksu dan biksuni di kuil merasa kesepian? Tidak, mereka tidak kesepian, karena di dalam hati mereka terdapat sepuluh triliun Buddha. Coba lihat kalian, mengapa kalian merasa kesepian? Karena hati kalian dipenuhi dengan keegoisan dan kepentingan diri sendiri. Kalian hanya memikirkan diri sendiri, tidak memikirkan semua makhluk hidup.

 

Di dunia ini, kesepian, kesedihan, kecemasan, suka dan duka, pertemuan dan perpisahan serta perolehan dan kehilangan, semuanya bagaikan gelembung-gelembung yang dalam sekejap saja pecah. Seperti sebuah gelembung, serangkaian kesepian, kesedihan, dan duka itu juga seperti gelembung-gelembung yang dalam sekejap lenyap, duka pun hilang, kesepian pun sirna, benar tidak? Setelah meninggal dan pergi ke Surga, apakah akan kesepian? Begitu banyak Bodhisattva menyambutmu, apakah kamu akan merasa kesepian? Ketika kamu baru saja lahir ke dunia ini, kamu juga sangat kesepian, tapi begitu banyak anggota keluarga yang menyambutmu, yang pertama menyambutmu adalah bidan, juga keluargamu sendiri. Apakah kamu merasa kesepian? Tidak. Jadi, harus bisa melihat semua ini dengan lebih jernih, ilusi-ilusi ini seperti gelembung yang akan cepat hilang. Sebenarnya, suka dan duka, pertemuan dan perpisahan, juga akan lenyap. Kekhawatiran, kesedihan, dan kesepian juga akan hilang, karena semuanya itu adalah gelembung. Setelah kamu memahami kebenaran ini, hanya dengan kebijaksanaan yang sempurna, kamu baru bisa mengatasi semua masalah ini. Ketika kamu sudah memiliki kebijaksanaan, maka kamu akan mencapai kesempurnaan dan menyadari bahwa semua kegelisahan, kesedihan, dan duka itu akan segera berlalu. Master sekarang akan memberitahukan kalian kebijaksanaan sempurna ini, agar kalian bisa melihat dengan jelas wajah asli dunia ini. Karena sudah datang ke Alam Manusia ini, maka tidak ada cara lain,  walaupun tidak ingin mati, tetap harus mati. Walaupun tidak ingin terlahir, namun telah dilahirkan. Dirimu pun tidak tahu bagaimana sebenarnya kamu dilahirkan. Ketika mencapai usia satu tahun, kalian baru mulai sedikit demi sedikit mengerti bahwa ini adalah rumahmu. Ketika kamu datang ke dunia ini, bahkan belum punya nama, siapa sebenarnya kamu? Harus mengerti prinsip kebenaran ini.

 

Master selanjutnya akan memberitahu kalian, harus menghilangkan keangkuhan dan keakuan. Jangan mengira bahwa diri sendiri sangat berjasa, merasa sombong, dan sangat melekat pada keakuan, ‘Saya merasa  saya ini bagaimana dan bagaimana.’ Banyak orang yang sudah sukses, misalnya bintang film, penyanyi, mereka mengira diri mereka sangat hebat, padahal apa hebatnya? Kita harus merendahkan diri dan melepaskan segala pujian atas jasa kita sendiri. Ketika orang mengatakan, “Wah, kamu punya jasa kebajikan, jasa kebajikanmu tak terhingga,” kamu harus melihat dirimu sendiri sebagai “Saya tidak punya jasa kebajikan apa-apa,”maka barulah kamu benar-benar punya jasa kebajikan. Ketika kamu mengatakan bahwa dirimu baik, orang lain tidak akan mengatakan kamu baik. Saat orang mengatakan bahwa kebaikan-kebaikan ini adalah hasil perbuatanmu, kamu berkata, “Saya tidak melakukan apa-apa.” Maka orang-orang pasti akan bilang, ‘Kamu telah melakukan perbuatan baik, kamu  adalah orang baik, rendah hati dan waspada.” Sebenarnya, jasa kebajikan tidak akan bertambah atau berkurang karena orang lain mengatakan kamu punya jasa kebajikan atau tidak. Oleh sebab itu, jadikanlah pikiran semua makhluk sebagai pikiranmu sendiri. Apa yang orang lain pikirkan, maka kamu lakukan; apa yang orang lain pikirkan, kamu juga ikut memikirkannya. Dengan menjadikan pikiran orang lain sebagai pikiranmu sendiri, kamu baru bisa memperoleh keuntungan bagi dirimu sendiri sekaligus menguntungkan orang lain. Dengan begitu, kamu akan mendapatkan bantuan untuk dirimu sendiri dan juga dapat membantu orang lain.

 

Ada satu kalimat yang harus diingat,  ‘Menghormati guru bagaikan menghormati Buddha.’ Kalian harus memandang guru kalian seperti Buddha. Karena Master memandang kalian semua sebagai Buddha masa depan, kalian juga harus memandang Master sebagai Buddha. Setelah kalian memandang Master sebagai Buddha, maka kalian akan memperoleh kekuatan berkah dari Tri Ratna, dan cepat mencapai pencerahan Buddha. Karena ketika kalian memandang orang lain sebagai Buddha, maka hati kalian baru akan ada Buddha, dan kalian pun akan memperoleh kekuatan berkah dari Buddha. Contoh sederhana, jika kalian sering memikirkan citra Guan Shi Yin Pu Sa dalam hati kalian, maka dalam hati kalian ada Buddha. Jika kalian sering memikirkan wujud Master dalam pikiran kalian, bukankah itu berarti dalam hati kalian juga ada Master? Prinsipnya sama saja. Diri sendiri harus sering merenungkan, “Memikirkan kebajikan Master,” kamu harus sering mengingat kebajikan Master. Karena ketika kamu memandang Master sebagai Buddha dan Bodhisattva, maka di hatimu akan ada Buddha dan Bodhisattva, dan itu akan meningkatkan keyakinanmu dalam belajar Buddha Dharma, ‘Guru saya adalah Buddha dan Bodhisattva,’ tentu saja murid akan berusaha dengan giat, bukan? Sebaliknya, banyak orang meremehkan guru, disebut sebagai “Memandang guru sebagai orang awam,” merasa guru ini tidak penting. Orang yang tidak menghormati gurunya, sebenarnya akan merugikan dirinya sendiri, karena dia pasti akan mencari-cari kesalahan guru. Jika kamu tidak memandang guru ini sebagai Bodhisattva, kamu akan terus mencari kesalahan guru, dan dikarenakan ini kamu telah meremehkan ajaran Buddha Dharma. Karena kamu menganggap gurumu tidak penting, tidak memandangnya sebagai Bodhisattva, dan menganggap dia sebagai orang yang sering melakukan kesalahan, sebenarnya kamu telah meremehkan ajaran Buddha Dharma ini. Karena Master adalah orang yang membabarkan Dharma, maka selanjutnya dalam belajar Buddha Dharma, kamu akan “Menghalangi pencapaian diri sendiri.” Kamu sendiri yang menjadi hambatan bagi kemajuanmu.

 

Contoh sederhana, orang yang menghormati guru akan berusaha dengan sungguh-sungguh. Ketika Master masuk dan keluar, mereka sangat tahu aturan, bangkit berdiri, sangat sopan, beranjali, memandang Master sebagai Bodhisattva, sangat menghormati Master. Dengan begitu, mereka juga menghormati diri mereka sendiri, sehingga orang lain yang melihat akan berkata, ‘Pemuda ini, umat Buddhis ini, gadis kecil ini, betapa mereka sangat menghormati Buddha Dharma,’ benar tidak? Kalau kamu tidak menganggap Master penting, apakah kamu dapat mengikuti Master menekuni Dharma dengan baik? Jika kamu hanya mencari-cari kesalahan Master, kamu akan berpikir, ‘Master saja seperti ini, apa ada yang baik dari ajaran Buddha ini?’ Dengan begitu, kamu telah menghalangi akar dasar dirimu dalam menekuni Dharma.  Oleh sebab itu, seseorang yang belajar Buddha Dharma dengan sungguh-sungguh, pertama-tama harus menghormati guru dan menjunjung tinggi ajaran. Kalau kamu saja tidak menghormati gurumu, bagaimana kamu bisa menghormati jalan Kebuddhaan? Bagaimana kamu bisa menghormati ajaran Buddha Dharma? Dengan sering memikirkan jasa kebajikan Master, maka kalian sendiri juga akan mendapatkan jasa kebajikan. Contoh sederhana, jika kalian sering memikirkan bagaimana orang yang berbuat baik melakukan kebaikan, apakah dalam hatimu akan ada niat baik? Jika hatimu penuh dengan kebaikan, bukankah kamu telah menanam karma baik untuk dirimu sendiri? Telah menanam akar kebaikan? Sekarang, Master dengan begitu berani menyelamatkan makhluk tanpa memikirkan nyawa Master, kamu harus sering memikirkan betapa welas asihnya Master. Coba pikirkan, apakah hatimu penuh dengan welas asih? Apakah orang yang tidak berwelas asih dapat memikirkan welas asihnya Master? Jadi, jika kalian sering memikirkan jasa kebajikan Master, maka kalian juga akan memiliki jasa kebajikan, inilah yang disebut dengan prinsip kebenaran.

 

Banyak orang yang diampuni oleh guru, mereka melafalkan {Da Bei Zhou} untuk Master, sebenarnya Master tidak selalu meminta mereka untuk melafalkannya. Setiap orang memiliki aura energi yang berbeda-beda, kenapa? Karena ketika mereka melafalkan {Da Bei Zhou} untuk Master, sesungguhnya mereka mendapatkan energi dari {Da Bei Zhou} yang ada pada Master, mengertikah? Kalian setiap hari berlutut dan melafalkan paritta kepada Guan Shi Yin Pu Sa, kalian kira bahwa kalian sedang melafalkan untuk Guan Shi Yin Pu Sa? Sebenarnya, kalian mendapatkan energi dari Guan Shi Yin Pu Sa. Jadi, jika kalian memikirkan jasa kebajikan orang lain, maka akan memperoleh jasa kebajikan; jika memikirkan kebaikan orang lain, maka akan mendapatkan bagian dari kebaikan itu. Kalau kamu memikirkan sisi jahat orang lain, apakah hatimu akan menjadi jahat juga? Inilah yang disebut dengan filosofi sejati dalam ajaran Buddha Dharma, inilah yang disebut memahami kebenaran. Jika Master tidak mengatakan filosofi ini, mungkin kalian tidak akan terpikirkan.