Teguh dalam Membina Diri, Belajar Buddha Dharma dengan Penuh Keuletan
Harus dipahami bahwa hati Buddha dan hati semua makhluk hidup tidaklah berbeda. Kalian semua yang ada di sini hari ini, hati Buddha dan hati semua makhluk hidup adalah setara, tidak ada bedanya. Buddha sedang menyebarkan cahaya terang agung, welas asih agung, dan kasih sayang agung, memberikan manfaat baik bagi dunia fana maupun alam bawah, maka seketika itu juga memancarkan terang cahaya. Dengan kata lain, apa yang disebarkan oleh para Buddha dan Bodhisattva di Alam Manusia adalah hati yang terang. Apa yang dimaksud dengan hati yang terang? Hati terang agung berarti di dalam hatimu terdapat hati yang lapang, luas, dan terang benderang. Oleh karena itu, orang-orang sering berkata bahwa hati orang ini sangat terang, atau hati orang itu sangat gelap. Coba kalian perhatikan sendiri, seseorang yang baik, saat tersenyum akan terlihat sangat cerah dan berseri-seri. Sedangkan orang yang berhati gelap, saat tersenyum yang keluar hanyalah senyum dingin. Praktisi Buddhis tidak boleh seperti itu. Di tempat kita ini ada seorang yang di masa lalunya suka berbuat kebajikan dan mengumpulkan jasa kebajikan. Dia dulu pernah sangat giat, membantu orang lain melakukan banyak hal baik. Namun belakangan ini, hatinya menjadi gelap dan suram. Dia sering membicarakan keburukan orang lain di belakang, melakukan perbuatan buruk, sehingga sisi kegelapannya pun mulai bermunculan dan terlihat jelas, kalian lihat sendiri kan? Karena hati dan pikirannya telah berubah, barulah berubah menjadi gelap. Oleh karena itu, harus dipahami bahwa hati terang agung berarti hati harus terang benderang. Diriku tidak memiliki hal apa pun yang disembunyikan secara gelap, saat merasa gembira tetap seperti ini, dan saat tidak gembira pun tetap seperti ini, terang benderang dan tidak gelap gulita. Di mana ada cahaya terang, di situ pasti tidak akan ada kegelapan; sebaliknya, di tempat yang terdapat kegelapan, di situ pasti tidak akan ada cahaya terang.
Harus memiliki hati welas asih agung, hati welas asih agung berarti berwelas asih kepada orang lain. Harus memiliki hati kasih sayang agung; apa yang disebut dengan kasih sayang agung? Para Buddha dan Bodhisattva berkata, pandanglah semua orang lanjut usia sebagai orang tuamu sendiri, dan pandanglah semua generasi muda sebagai anak-anakmu sendiri. Lalu, apa yang dimaksud dengan kasih sayang kecil? Yakni: “Ini adalah putraku, ini adalah putriku, ini milikku, itu milikku…”
Memberikan manfaat baik bagi dunia fana maupun Alam Bawah, maka seketika itu juga memancarkan cahaya. Apa artinya? Yaitu belajar Buddha Dharma tidak hanya harus membuat orang-orang yang berada di dunia fana mendapatkan manfaat, tetapi juga harus membuat para makhluk di alam bawah mendapatkan manfaat; inilah yang disebut sebagai “memberikan manfaat baik bagi alam bawah maupun dunia fana”. Seketika itu juga memancarkan cahaya, cahaya terang ini menyinari seluruh penjuru dunia, alam semesta, bumi, dan segala isinya, mengertikah? Oleh karena itu, bagi siapa pun yang belajar Buddha Dharma, dia tidak hanya menolong dirinya sendiri, tetapi juga menolong para leluhur dan mendiang kerabatnya yang telah tiada. Kalian yang sekarang sedang melafalkan Xiao Fang Zi, bukankah itu termasuk memberikan manfaat baik bagi alam bawah maupun dunia fana?
Menjadi orang yang jujur dan tulus, maka akan memiliki sebutir keteguhan hati. Seseorang yang bertindak dengan jujur dan tulus, seseorang yang bersikap apa adanya dan nyata, dia pasti akan memiliki keteguhan hati. Coba kalian perhatikan sendiri, orang yang selalu melakukan pekerjaannya dengan tenang, diam-diam, dan jujur, orang seperti ini pasti memiliki keteguhan hati, apakah kalian masih belum bisa merasakannya? Sebaliknya, jika seseorang hanya suka membual dan bicara besar, lalu datang menghampiri dan berkata: “Saya sudah memperkenalkan Dharma kepada berapa banyak orang, saya sudah begini dan begitu, saya sudah banyak berkorban…” Orang seperti ini adalah orang yang tidak memiliki keteguhan hati. Ada beberapa orang yang pada awalnya saat baru datang ke tempat Master, mereka bersujud, bertobat, hingga menangis tersedu-sedu meluapkan penyesalan. Namun pada akhirnya, sosok mereka bahkan sudah tidak kelihatan lagi, lalu apa gunanya? Belajar Buddha Dharma dengan jujur dan tulus , belajar Buddha Dharma dengan hati yang penuh keikhlasan, orang seperti inilah yang baru bisa mendapatkan keteguhan hati. Hanya ketika keteguhan hati menetap selamanya di dalam batin, orang tersebut barulah bisa menekuni Dharma dengan baik.
Berhasil membina diri hingga mencapai kebenaran adalah sebuah hal yang luar biasa. Seseorang yang membina pikiran, hingga pada akhirnya semakin membina batinnya menjadi semakin lurus dan benar, ini tidaklah mudah. Karena membina pikiran sangat mudah menyimpang; ketika seseorang tidak lurus dan benar, maka dia akan condong menyimpang. Hari ini jika dirimu tidak bisa berpikiran jernih, maka kamu pasti sudah menyimpang; Jika kamu merasa semua orang sedang menindasmu, maka kamu sudah tidak lurus dan benar lagi. Karena kamu menganggap orang-orang sedang menindasmu, padahal kenyataannya mereka hanya sedang membicarakan teori dan nalar umum kepadamu, mereka tidak sedang menindasmu. Namun karena dirimu sendiri yang mengira orang lain menindasmu, lalu sebenarnya siapa yang menindas siapa? Dirimu sendirilah yang sedang membohongi dan menindas hatimu sendiri. Meskipun orang lain benar-benar sedang menindasmu, kamu pun tidak seharusnya memandangnya sebagai sebuah penindasan. Mengapa? Karena ini adalah kondisi pendukung yang meningkatkan kemajuan pembinaan saya. Dia tidak membina diri dengan baik, maka dia sendiri yang akan menerima balasan karmanya, lalu mengapa kamu yang harus merasa marah? Prinsip yang begitu sederhana, sebuah kebenaran di dunia yang begitu nyata, mengapa kamu masih tidak bisa berpikiran jernih, masih tidak memahaminya?
Harus mengubah kebiasaan buruk dari ketidaktahuan. Apa yang dimaksud dengan kebiasaan buruk dari ketidaktahuan? Yaitu tidak paham, tetapi masih mengira dirinya paham. Banyak orang yang sok tahu padahal tidak paham, itulah yang disebut sebagai kebiasaan buruk dari ketidaktahuan. Hari ini ada banyak hal yang tidak kalian pahami, tidak pernah kalian dengar, dan tidak pernah kalian alami, bukankah ini adalah ketidaktahuan? Tidak memahami, dan jika ketidakpahaman ini dibiarkan dalam waktu yang lama, maka tabiat dan kebiasaan buruk akan bermunculan. Melihat orang-orang di sekitar semuanya merokok, lalu berpikir: “Ah, saya belum pernah merokok, saya coba-coba merokok ah.” Begitu merokok lalu menjadi kecanduan, bukankah telah berubah menjadi sebuah kebiasaan buruk? Banyak anak sejak kecil sangat bergantung pada ayah dan ibunya, namun ayah dan ibu mereka sangat egois, demi perasaan masing-masing akhirnya mereka bercerai. Hal ini melukai hati anak tersebut, si anak seketika itu juga menjadi linglung: “Mengapa sejak saat itu ibu tidak memedulikan saya lagi? Mengapa saya tiba-tiba tidak memiliki ayah lagi?” Itu terjadi karena kamu belum pernah mengalaminya, oleh sebab itulah kamu terjebak dalam ketidaktahuan. Kamu tidak paham; bukankah ayah dan ibu telah melakukan kesalahan? Bukankah ayah dan ibu telah mencelakai rumah tangga ini hingga hancur berantakan? Jika seseorang tidak memiliki kebijaksanaan, bagaimana mungkin dia bisa menekuni Dharma dengan baik?
Selanjutnya akan menjelaskan sedikit tentang ajaran Zen kepada kalian, sekaligus sebagai penutup kelas hari ini. Karena Master adalah menyebarluaskan Budaya Zen dari Xin Ling Fa Men, Master memberi tahu kalian bahwa ajaran Zen itu sungguh sangat penuh dengan kebijaksanaan. Ajaran Zen mengatakan: “Sekali tebas, semua tertebas; sekali noda, semua ternoda” . “Sekali tebas, semua tertebas” , artinya menebas kerisauan dan segalanya dalam sekali ayunan pisau, memotong semuanya hingga putus tanpa sisa. Lalu, apa arti dari “sekali noda, semua ternoda?” Sebagai contoh, hari ini kamu mengenakan sehelai kemeja putih bersih, meskipun kemeja itu terkena noda kotor sedikit saja, namun seluruh pakaian tersebut akan dianggap kotor dan sudah tidak layak lagi untuk dikenakan. Oleh karena itu, di dalam hati kalian sekarang tidak boleh tercemar sedikitpun, tidak boleh ada hal buruk sedikit pun. Meskipun, memiliki hal buruk sedikit saja, maka kamu sudah bukan lagi seseorang yang baik, karena kamu telah memiliki noda hitam. Hari ini saya memiliki sedikit kekurangan, memiliki sedikit tabiat buruk, saya akan menebasnya dalam sekali ayunan pisau dan sejak saat itu saya tidak akan pernah melakukannya lagi, dengan begitu kamu baru menjadi orang baik. Jika kamu membiarkan sedikit saja hal kotor melekat di tubuhmu, bukankah itu berarti kamu adalah orang yang kotor? Sebagai contoh sederhana, ada banyak anak yang baru saja selesai mandi, tetapi mereka mandi tanpa membasuh muka, sehingga masih ada kotoran mata yang menempel keluar. Menurutmu, apakah anak seperti ini kotor atau tidak? Hanya ketika semuanya telah dibersihkan secara menyeluruh, barulah menjadi seorang yang berhati nurani baik. Harus dipahami, belajar Buddha Dharma itu sungguh tidak mudah. Kerisauan yang sangat rumit dan kacau itu harus dipotong dalam sekali tebas. Mengapa harus merasa berat hati untuk melepaskan dan terus terpikat pada hal-hal yang kotor seperti itu? Begitu sudah tidak ada, maka hal itu sudah lenyap. Di masa lalu dia pernah mencelakai saya, sekarang saya sudah tidak mau mendengarnya lagi, saya sudah tidak mau mengenangnya lagi. Sejak saat ini dan seterusnya, begitu melupakannya, maka hal itu sudah sirna. Mengapa saya harus terus menyimpan hal-hal buruk dari masa lalu di dalam lubuk hatiku, dan masih terus-menerus mengenangnya kembali? Itu adalah tindakan yang bodoh.
“Satu adalah banyak, banyak adalah satu” . Apa artinya? Sebuah “Satu”, sebenarnya adalah “Banyak”, apakah kalian bisa memahaminya? Hari ini saya telah menguasai satu pintu Dharma, sebenarnya saya telah menguasai seluruh pintu Dharma yang ada. “Banyak”— sebanyak apa pun pintu Dharma yang ada, pada akhir perjalanan belajarmu, sepuluh ribu ajaran akan kembali ke dalam “yang satu”; inilah yang disebut sebagai “Satu adalah banyak, banyak adalah satu.” Oleh karena itu, Master meminta kalian untuk menekuni satu pintu Dharma secara mendalam, maka kamu akan dapat mempelajari sepuluh ribu Dharma. Sama halnya ketika kamu berhasil lulus masuk ke universitas; di dalam universitas, kamu tidak hanya mempelajari satu mata kuliah saja, melainkan ada banyak mata kuliah yang sedang kamu pelajari, benar tidak? Namun jika kamu tidak lulus masuk ke universitas, maka kamu tidak akan bisa mempelajari apa pun.
Master memberi tahu kalian, menekuni satu pintu Dharma secara mendalam maka kamu akan mempelajari sepuluh ribu Dharma. Namun, sepuluh ribu Dharma itu tidak berujung pangkal, karena sepuluh ribu Dharma tidak memiliki ujung benang yang jelas. Jika kamu mempelajari ini sedikit, mempelajari itu sedikit, dan menguasai setiap Dharma hanya separuh-separuh; pada akhirnya, dari delapan belas jenis keahlian bela diri, semuanya akan menjadi serba tanggung dan rapuh. Tidak ada satu pun keahlian yang benar-benar kamu kuasai secara mendalam. Oleh karena itu dikatakan, sepuluh ribu Dharma yang tidak berujung pangkal, bagaimana mungkin bisa menandingi kehebatan dari satu Dharma? Orang yang bisa segala jenis ilmu bela diri, biasanya tidak memiliki satu pun keahlian yang benar-benar bisa diandalkan. Coba kalian perhatikan baik-baik, di dunia persilatan masa lalu, ada orang yang bisa memainkan golok, tombak, pedang, hingga tongkat, semuanya dia bisa. Saat menari pedang tampaknya sangat meyakinkan, namun begitu datang seseorang yang ahli khusus dalam bermain pedang, hanya dengan dua-tiga gerakan “prak-prak”, dia sudah langsung dikalahkan. Kemudian dia berganti menggunakan tongkat tiga bagian miliknya, sebelum bertarung, bunyinya sudah sangat meriah dan bising sekali. Namun hasilnya, begitu berhadapan dengan orang yang memang spesialis dalam bermain tongkat, hanya dengan dua ketukan dia sudah langsung dijatuhkan. Tidak ada satu pun jurusmu yang benar-benar bisa diandalkan. Hanya jika kamu menekuni satu pintu Dharma secara mendalam; “Saya hanya belajar Xin Ling Fa Men.” Saya telah memahami dan menguasai seluruh esensi Xin Ling Fa Men, sehingga saya bisa menjelaskan teori-teori di dalamnya dengan sangat logis dan sistematis, dan saya pun menjadi paham akan segala hal. Bukankah dengan demikian kamu telah mempelajari jauh lebih banyak? Memangnya di dalam Xin Ling Fa Men milik Master ini tidak mengandung intisari dari pintu Dharma lainnya? Ini adalah hasil dari menyerap dan merangkum segala kelebihan dari berbagai ajaran yang luas. Pada hakikatnya, Dharma dari Buddha dan Bodhisattva itu semuanya berasal dari jalur dan sumber yang sama.
Kita adalah orang-orang yang bersusah payah dalam mencari jalan Kebuddhaan, pencari jalan Kebuddhaan memang sangatlah sulit; jika tidak melalui penderitaan, bagaimana mungkin kita bisa menjadi seorang pencari jalan Kebuddhaan? Setiap hari dengan susah payah mengamati kebenaran dunia ini, setiap hari kita merenung dengan penuh kesungguhan, namun tetap tidak dapat memahaminya, “Mengapa saya harus mengalami begitu banyak penderitaan? Mengapa keluarga orang lain begitu baik? Mengapa keluarga saya baik, sedangkan keluarga yang itu malah tidak baik?”Berpikir ke sana kemari, tetap tidak memahaminya, “Mengapa hari ini saya datang ke Australia? Mengapa saya menikah dengannya? Mengapa saya harus menikah dua kali?”Dengan susah payah kita mengamati dunia ini, terus mencari dan mencari, ingin menemukan sebuah kebenaran mutlak, apakah bisa menemukannya? Sangatlah sulit untuk menemukan kebenaran sejati di Alam Manusia. Alam Manusia ini pada dasarnya hanyalah sebuah tempat bagimu untuk sekadar lewat, pada dasarnya hanya tempat bagimu untuk melakukan sebuah perjalanan singkat. Sangat singkat, datang dengan sangat cepat, dan pergi pun dengan sangat cepat. Lihatlah para orang tua kita, pikirkanlah generasi muda kita, dan lihatlah dirimu sendiri, maka kamu akan menyadari bahwa waktu berlalu dengan sangat cepat, sekarang kamu sudah berusia berapa tahun? Benar tidak?
Semakin dalam tingkat pembinaan diri seseorang, semakin harus waspada dalam bertindak, serta harus semakin rendah hati. Master memiliki dua buah moto hidup: yang pertama adalah “Tiada keinginan, maka hati akan setenang air”, jangan memiliki keinginan nafsu, maka pikiranmu akan menjadi tenang dan damai. Dan yang satu lagi adalah “Bagaikan berjalan di atas lapisan es tipis”, belajar Buddha Dharma itu ibarat sedang berjalan di atas lapisan es yang sangat tipis; jika kamu sedikit saja lengah atau tidak berhati-hati, kamu akan terperosok jatuh ke dalam jurang yang tak berdasar.
Bagaimana iblis bisa tercipta? Yaitu karena tidak menekuni Dharma dengan baik, barulah seseorang bisa berubah menjadi iblis. Sebagai praktisi Buddhis, tidak boleh mengatakan orang lain adalah iblis; jika mengatakan orang lain adalah iblis, maka dirimu sendiri adalah iblis. Seseorang yang memaki orang lain, maka dirinya sendiri adalah orang yang jahat. Harus memahami, Master melihat kalian semua sangatlah kasihan. Harus memahami tentang prinsip, “mengetahui mimpi, maka mendapatkan mimpi”, kamu tahu bahwa Alam Manusia ini adalah sebuah mimpi, dan kita harus meminjam kepalsuan untuk membina kebenaran sejati di Alam Manusia ini. Dengan demikian, kita baru bisa mendapatkan esensi dari mimpi ini, dan membiarkannya berada di sisi kita secara nyata. Ketika terbangun di suatu hari, dan melihat diri sendiri telah hidup secara nyata dan bermakna selama satu hari itu, maka itulah yang dinamakan “mengetahui mimpi, maka mendapatkan mimpi”.
Hari ini sampai disini dulu penjelasannya. Semoga kebijaksanaan kalian menjadi semakin sempurna, serta lebih tekun dan maju dalam menekuni Dharma.
