Manusia Jangan Terobsesi pada Ilusi
Hari ini kita sudah makan, selesai makan, besok kita harus makan lagi, lusa juga harus makan lagi… Suatu saat di mana kamu tidak makan, apakah kamu dapat bertahan hidup? Bukankah ini adalah salah satu bentuk reinkarnasi? Hari ini kamu harus bekerja, besok tidak perlu; hari ini ada kerisauan, besok tidak ada kerisauan lagi, lusa mulai risau lagi… Bukankah sehari-hari adalah siklus yang berulang-ulang? Oleh sebab itu, manusia terkadang merasa sedih, dikarenakan melekat pada apa yang pernah dimiliki – kemelekatan pada yang telah diperoleh. Apa maksudnya? Terkadang orang-orang akan merasa risau dan sedih, karena sesuatu yang dulu pernah dimiliki. Karena pernah memilikinya, kita menganggap itu milik diri sendiri, maka saya melekat padanya dan merasa sedih karenanya, oleh sebab itu disebut “kemelekatan pada yang telah diperoleh”. Karena kamu melekat pada apa yang pernah kamu miliki sebelumnya, maka kamu baru akan merasa sedih dan derita. Jika kalian mampu membuang apa yang pernah dimiliki sebelumnya, coba lihatlah apakah kamu akan sedih atau tidak. Dulu Tuan Hong pernah mendapat piala dalam bermain bulu tangkis, sekarang dia telah lama membuang bulu tangkis tersebut, dia tidak akan melekat padanya, tidak akan iri hati pada pemain yang baru, karena semua itu adalah masa lalunya. Jika Tuan Hong sekarang masih juara pertama, dan nantinya muncul lagi juara pertama yang baru, maka dia akan melekat dan akan merasa sedih, mengertikah? Singkirkanlah yang harus disingkirkan, jangan lagi melekat, melekat pada apa yang pernah dimiliki sebelumnya adalah sebuah kebiasaan buruk yang sangat besar. Kebiasaan buruk manusia adalah tidak ingin kehilangan apa yang pernah dimilikinya, inilah keserakahan. Sudah memilikinya di rumah, maka selamanya tidak ingin membuangnya. Banyak diantara kalian para ibu tua dan bapak tua yang begitu, kulkas yang sudah digunakan selama belasan tahun di rumah, sudah tidak bisa digunakan lagi, akhirnya mencuci bersih kulkas tersebut dan dijadikan sebagai lemari, bukankah ini adalah suatu kebiasaan buruk?
Jadi, manusia bagaikan terbuai dalam fenomena yang bersifat ilusi. Manusia selamanya akan terbuai di dalam ilusi, di mana dirinya labil, tidak dapat memahami prinsip kebenaran. Apa itu ‘ilusi’? Yakni sesuatu yang pada dasarnya tidak ada, lalu ia muncul sekarang, dan kamu sangat melekat padanya. Contoh sederhana, seseorang datang ke depan pintu rumah Xiao Zhang dan berkata, “Xiao Zhang, ibumu sedang memarahimu di luar.” Sebuah kalimat yang begitu sederhana, kamu menganggapnya benar, “Kenapa ibu memarahi saya? Apakah belakangan ini saya kurang berbakti? Apakah belakangan ini bagaimana dan bagaimana?”Lalu kamu mulai berpikir panjang lebar. Coba pikir, bukankah itu bodoh? Pertama, kamu tidak mendengarnya sendiri, jadi jangan langsung percaya. Kedua, itu hanyalah ilusi, perkataan yang disampaikan orang lain, dia menciptakan kabar angin, dan kamu menganggapnya nyata, itulah yang disebut ilusi. Hal-hal yang berasal dari ilusi, kamu membawanya ke dalam imajinasi kehidupanmu, dan mengira itu adalah nyata. Kamu sudah berada dalam ilusi. Begitu banyak murid dan murid pengikut, coba kalian pikirkan, saat seseorang berkata buruk tentangmu di depanmu, berapa banyak dari kalian yang tidak akan marah? Itu bodoh, sungguh bodoh. Karena bahkan kalian sendiri tidak mengenal diri sendiri dengan baik. Kalau kamu memang orang jahat, lalu orang lain mengkritikmu, kamu masih bisa marah. Namun jika kamu tahu bahwa diri sendiri adalah orang baik, meskipun ada orang yang memberitahumu bahwa ada yang mengatakan dirimu tidak baik, kamu sama sekali tidak perlu marah. Karena tidak ada yang lebih mengenal dirimu selain dirimu sendiri. Benar tidak?
Dalam kehidupan ini, teman, saudara kandung, suami-istri, anak, dan sebagainya, semuanya adalah ilusi palsu. Misalnya, kamu tidak punya anak, tapi beberapa waktu kemudian kamu mengangkat seorang anak angkat. Lalu suatu hari, anak angkat itu mengambil hartamu dan tidak lagi mengakui kamu sebagai ayah angkatnya, bukankah berarti anak itu pun hilang? Bukankah itu hanya ilusi palsu? Benar tidak? Namun, jika dilihat dari sisi lain, itu juga nyata, karena hal ini menciptakan suatu jodoh yang nyata. Artinya, walaupun saudara kandung, istri, anak, teman, dan sebagainya adalah ilusi palsu, namun dalam kehidupan ini mereka menciptakan sebuah jodoh. Meskipun jodoh ini sangat singkat, akan tetapi ia benar berada di dalamnya. Seperti barang yang berlapis emas 18 karat, apakah lapisan emasnya nyata? Ya, nyata. Tetapi setelah beberapa tahun kemudian, lapisan emas ini luntur dan yang tampak hanyalah besi di dalamnya, maka itu tetap adalah palsu. Master selalu mengatakan kepada kalian tentang hal yang nyata dan palsu ini, berharap kalian dapat memahami prinsip kebenaran ini. Oleh sebab itu, ajaran Buddha Dharma mengajarkan kita untuk membina diri berdasarkan jodoh, karena jika kamu membina jodoh baik dengan baik, maka jodohmu ini akan semakin baik.
Harus mengerti bahwa kita tidak boleh menggantikan yang nyata dengan yang palsu. Apa maksudnya? Artinya, tidak boleh membiarkan sesuatu yang palsu untuk menggantikan sesuatu yang nyata di dalam hati kita. Misalnya, seseorang memberitahukan Xiao Zhang, “Ibumu mengatakan keburukanmu,” menggunakan perkataan palsu ini mengguncang rasa kasihmu terhadap ibumu, maka berarti kamu telah membiarkan ‘yang palsu’ mengacaukan ‘yang nyata’ dalam hatimu. Kita juga tidak boleh menganggap benar dan salah itu mutlak. Yang palsu bisa juga benar, dan yang benar bisa juga menjadi palsu. Contohnya, kita semua duduk di sini hari ini, apakah ini nyata? Ya, nyata. Namun seratus tahun kemudian, semua orang yang berada disini sudah tiada, apakah itu adalah palsu? Ya, palsu. Coba kamu katakan apakah kita orang-orang disini adalah palsu? Kita semua benar-benar duduk disini, jadi juga nyata. Maka dikatakan, “Ketika yang nyata menjadi palsu, yang palsu pun menjadi nyata; dan ketika yang palsu menjadi nyata, yang nyata pun menjadi palsu.”Sungguh sulit sekali… filsafat ini sangat rumit. Apa yang Master jelaskan mungkin membuat kalian bingung. Oleh sebab itu, sebenarnya tidaklah tepat jika kita mencoba untuk benar-benar mendefinisikan dan membedakan antara nyata dan palsu, tidak bisa dibedakan dan didefinisikan. Seperti yang tertulis dalam Xin Jing, “Rupa adalah kosong, dan kosong adalah rupa.” Dunia kita ini pada dasarnya kosong. Jika suatu hari nanti bumi benar-benar hancur, bukankah itu menjadi kosong? Di dunia yang berupa ini, bukankah adalah kosong? Tapi, kamu menjadi kosong, bukankah kosong juga adalah rupa? Pada dasarnya adalah kosong, mengapa sekarang bisa muncul bumi ini? Memang beginilah transformasinya.
Karena semua fenomena pada dasarnya memiliki sifat alami yang kosong. Sifat dasarnya adalah kekosongan, maka segala sesuatu pun bersifat kosong. Sifat dasar, jika ditelusuri secara mendalam berarti akar fondasi adalah kosong. 200 tahun kemudian, bangunan ini pasti akan runtuh, karena akar fondasinya adalah kosong, maka ia harus hancur dan lenyap. Tubuh manusia hanya bisa bertahan sekitar 100 tahun; setelah itu tubuh tak lagi mampu menopang hidup, maka kematian pun datang. Inilah yang disebut sebagai sifat dasar, akar fondasi. Jadi, sifat dasar adalah kosong, segala sesuatu adalah kosong. Saat masih kecil, seorang anak jika mengalami hal kecil saja akan panik luar biasa, merasa itu masalah besar. Tapi saat orang tuanya mendengarnya, mereka hanya berkata, “ini cuma hal sepele,” benar tidak? Karena dia adalah anak kecil, di dalam dunianya, ia hanya bisa menampung hal-hal kecil. Sekarang, kita belajar Buddha Dharma, kita harus menampung segala sesuatu yang ada di Alam Semesta ini. Maka hatimu baru bisa lapang, baru bisa menjadi yang agung.
Jadi, di dunia ini tidak akan pernah ada yang abadi. Teman bisa berubah menjadi bukan teman; kerabat bisa berubah menjadi musuh; di kehidupan ini adalah suami-istri, di kehidupan berikutnya bisa jadi tidak lagi menjadi suami-istri; hari ini bukan teman, besok bisa menjadi teman; uang yang cari dengan susah payah, malamnya bisa dicuri orang; apa yang dimiliki di kehidupan ini, di kehidupan berikutnya akan hilang; dan apa yang tidak kamu miliki sekarang, mungkin di kehidupan berikutnya justru akan diberikan kepadamu… Semua ini terus berubah — inilah yang disebut kesadaran Alam Semesta, karena Alam Semesta ini sendiri memang selalu berubah. Coba pikirkan, apakah bumi tempat kita tinggal ini berubah? Berubah, pagi menjadi malam, malam menjadi pagi lagi. Hari ini cuaca cerah, besok cuaca buruk — bukankah itu berubah juga? Jadi, banyak orang berkata, “Saya ingin selamanya begini,” bisakah kamu melakukannya? Adakah yang abadi di dunia ini? Bahkan di hadapan hukum pun tidak ada yang abadi, apakah hukum pada tahun 1965 sama dengan hukum pada tahun 2010? Pikirkanlah, bahkan lautan pun tidak akan kering, batu pun tidak akan busuk, lalu bagaimana mungkin hatimu tidak berubah? Hanya yang bodoh yang akan percaya itu. Harus mengerti bahwa kesadaran Alam Semesta adalah harus memahami untuk menerima segala bentuk perubahan.
Hidup ini seolah sedang bermain petak umpet dengan kita. Kadang-kadang kita tidak bisa menangkap atau mengendalikan seluruh hidup kita sendiri; kadang kita bahkan tidak bisa mengendalikan nasib kita. Jelas-jelas hal ini sudah direncanakan dengan sangat baik, tapi akhirnya tetap gagal, bukankah itu seperti bermain petak umpet? Setiap hari kita harus memprediksi, apakah wajah orang ini bersahabat dengan saya? Apakah bisnis ini akan berhasil? Apakah pekerjaan ini bisa bertahan lama? Apakah istri ini akan setia lama? Apakah anak ini kelak akan meninggalkan kita? Semua yang kamu alami berada dalam ketidakpastian, seperti bermain petak umpet dalam hidup. Kamu tidak bisa menangkap sifat dasarmu, kamu tidak bisa menemukan sesuatu yang benar-benar abadi. Maka itu, harus mencari yang sejati, dan melepaskan yang palsu. Apa itu yang sejati? Itu adalah sifat dasar kita yang sebenarnya — sifat dasar yang akan kita bina hingga naik ke Surga nantinya, itu adalah yang sejati atau nyata. Harus melepaskan semua kemewahan, kekayaan dan ketenaran. Apa gunanya terkenal? Apa gunanya mendapatkan keuntungan? Apa gunanya memiliki uang? Uang datang dan pergi, nama datang dan pergi, lalu apa gunanya semua ini? Kalau kamu tidak menjadi presiden, mungkin hidupmu lebih tenang. Tapi kalau kamu jadi presiden, saat kamu turun, bukankah itu memalukan? Dahulu, orang Tiongkok sangat hebat, “Saya sudah menjadi kaisar, bukankah saya tidak akan turun takhta?” Kamu tidak mau turun, akibatnya lebih parah, kamu akan mati. Banyak kaisar yang sebenarnya bisa hidup lebih lama, tapi karena orang lain tahu kamu tidak mau turun, mereka merebut kekuasaan dan akhirnya membunuhmu. Kamu malah mati lebih tragis. Mengertikah? Semakin kamu ingin mempertahankan sesuatu yang abadi, semakin cepat kamu akan kehilangannya.
Banyak orang ingin mempertahankan ketenaran dan keuntungan ini, pada akhirnya justru semakin cepat kehilangannya. Oleh sebab itu, kita harus memahami bahwa segala sesuatu di dunia ini, yang palsu, yang ilusi, hanyalah seperti mimpi. Ketika kita mendapatkannya, kita merasa gembira; ketika kehilangan, kita merasa kecewa. Karena kamu menggunakan mentalitas seperti ini, maka di dunia ini kamu akan merasa kecewa saat kehilangannya, dan merasa gembira saat mendapatkannya. Namun berharap kalian selalu ingat: Saat kamu mendapatkannya hari ini dan merasa gembira, kamu juga harus sadar — kamu tidak tahu kapan akan merasa kecewa. Master memberitahukan kalian, harus menggunakan mentalitas yang sama dalam memperhatikan perolehan dan kehilangan. Ketika mendapatkannya, katakan pada diri sendiri, “Jangan serakah, ini tidak akan abadi.” Ketika kehilangannya, pikirkan, “Jangan bersedih, nanti saya akan mendapatkannya lagi,” benar tidak? Kalau tidak, bagaimana mungkin ada orang bercerai lalu menikah lagi? Bagaimana bisa setelah kehilangan satu anak, lalu melahirkan satu lagi? Saat gempa Sichuan, ada orang tua yang kehilangan anaknya, menangis hingga merasa hidup tidak ada artinya lagi. Tapi setelah dibimbing oleh psikolog, mereka diyakinkan bahwa mereka masih bisa memiliki anak lagi. Dan ternyata, ketika mereka akhirnya punya anak kembali, seiring waktu berjalan, mereka perlahan melupakan anak yang telah tiada itu. Bukankah ini dinamakan “kehilangan lalu mendapat kembali?”Segala sesuatu di dunia ini berada dalam siklus perolehan dan kehilangan — kadang dapat, kadang hilang; kadang hilang, lalu dapat lagi. Bukankah ini sangat wajar? Jangan bersedih karena kehilangan hari ini, dan jangan terlalu senang karena akan mendapatkan sesuatu besok. Master berkata, “Kehilangan dan perolehan itu tidak kekal, hadapilah segala sesuatu dengan tenang sesuai keadaan.”
