Praktisi Buddhis Harus Tersadarkan
Orang bodoh melekat pada kekosongan, melekat pada kehidupan. Yakni orang bodoh melekat pada hal-hal kosong, melekat pada hal-hal yang memiliki kehidupan. Apakah mengerti kalimat ini? Sudah jelas benda ini kosong, orang bodoh mengira benda ini nyata. Misalnya, saya melekat pada uang hari ini, sebenarnya, uang itu datang dan pergi semuanya kosong. Saya harus menggenggam uang ini, maka kamu melekat pada kekosongan. Banyak penipu menipu orang sebanyak 20.000 hingga 30.000 yuan, di saat itu, merasa bahwa jumlahnya sangat besar, setelah dia berhasil menipu orang, lalu melewati beberapa puluh tahun dan memikirkannya kembali, sudah habis digunakan olehnya di jauh hari, selanjutnya dia juga akan ditipu orang lain, ini semua adalah benda yang kosong. Oleh karena itu, orang yang tersesat dan bertolak belakang dengan kebenaran disebut melekat pada kekosongan. Yakni melekat pada benda-benda yang kosong ini. Apakah semuanya mengerti? Melekat pada kehidupan berarti melekat pada benda yang bernyawa. Apa itu benda yang bernyawa? “Oh, saya harus bersikap bagaimana terhadap ayah dan ibu saya”, ayah dan ibu adalah yang bernyawa, namun yang bernyawa pada akhirnya akan berlalu dan hilang, yang bernyawa pada akhirnya akan menjadi tiada.“Oh, anakku sangat hebat.” Sebagian orang berpikir bahwa putra mereka adalah nyawa mereka sendiri, melekat terhadap benda yang bernyawa ini, ketika hidupnya berakhir, diri mereka sendiri akan kehilangan segalanya. Ini disebut orang yang tersesat — orang yang tersesat dan bertolak belakang dengan kebenaran. Tunggu hingga dia punya pacar atau menikah dan punya istri, dia mungkin mengabaikan kamu yang sebagai ibunya ini. Kamu melekat sepanjang hari, pada akhirnya hanya kekosongan, karena kamu melekat pada benda yang kosong. Begitu melekat pada kekosongan, maka pikiran akan timbul kekakuan karena kekosongan, dan otak pun menjadi tidak cerdas.
Barusan mengatakan bahwa “Orang bodoh melekat pada kekosongan, melekat pada kehidupan”, selanjutnya membahas tentang orang yang bijak, yakni orang yang memiliki kebijaksanaan. Orang bijak menemukan sifat dasar, menembus segala rupa dan memiliki inspirasi tanpa hambatan. Yang artinya orang yang memiliki kebijaksanaan, menemukan sifat dasar dirinya, maka akan segera berpikiran terbuka, karena asalkan kamu memiliki kebijaksanaan, maka sifat dasarmu akan tercerahkan. Apa yang disebut sebagai “灵通 – ling tong – memiliki inspirasi tanpa hambatan”? 灵 – ling artinya adalah inspirasi, dengan adanya inspirasi maka akan segera berpikiran terbuka, “Oh, untuk masalah ini, saya seharusnya melakukan demikian.” Dia terinspirasi, memikirkan tentang bagaimana orang tua membesarkannya sejak dia masih kecil, namun di mana orang tuanya sekarang? Bukankah itu kosong? Misalnya kamu memperlakukan anak begini dan begitu, tunggu sampai anak tumbuh dewasa, apakah mereka masih akan mengingatnya? Lalu dirimu sudah berapa kali menangis karena mereka? Jikalau saat kamu membesarkan mereka dengan tidak berhati-hati (jika tidak belajar Buddha Dharma), bisa jadi suatu hari kamu mengkhawatirkan mereka sampai mengalami gangguan jiwa, di saat mereka dewasa malah menertawaimu: Ibu saya mengalami gangguan jiwa, saya tidak mau peduli padanya. Memangnya dulu tidak ada hal demikian? Ayah dan ibu demi menyekolahkan anaknya, mereka mendorong truk sampah, yaitu pekerjaan yang memungut sampah, alhasil, di saat ayah dan ibu mendapatkan uang dan pergi melihat anaknya di sekolah, anak malah berkata mereka adalah tetangga saya. Bukankah ini adalah “melekat pada kekosongan”? Kapan kalian bisa sadar, masih berbuat hal bodoh, membual dan berbohong. Semua ini merupakan hal yang kosong, apa gunanya.
“干慧辩者口疲,大智体了心态 – gān huì biàn zhě kǒu pí, dà zhì tǐ liao xīn tài – ketidakmatangan dalam kebijaksanaan kerap melahirkan perdebatan yang berakhir sia-sia, orang yang memiliki kebijaksanaan agung mampu memahami mentalitas diri dan orang lain”. Kamu memiliki ribuan kebijaksanaan, tapi saat berdebat dengan orang lain, yang keluar dari mulutmu justru lemah dan lesu, sebanyak apa pun alasanmu, tetap termasuk berdalih, kamu masih kalah dengan orang yang memilih diam. Sebagai contoh, “Aduh, bukan saya, saya beritahu kamu, hal ini….”, “Sudahlah, jangan bicara lagi”, satu kata dari orang sudah bisa membaca seluruh kepribadianmu, dan akan menghukummu sesuai dengan apa yang pantas kamu terima. Kamu berkata kepada bos, “Bos, maksud saya bukan begini, saya itu orangnya…”, silakan saja kamu bicara, kamu merasa dirimu memiliki seribu macam kebijaksanaan, namun pada akhirnya omonganmu tidak berharga sepeser pun. Coba lihat, saat Master memberi wejangan kepada para muda-mudi di malam hari, saya menegur mereka, mereka semua hanya mengatakan “Maaf”. Oleh sebab itu, orang yang memiliki kebijaksanaan agung mampu memahami mentalitas diri dan orang lain. Artinya, orang yang mempunyai kebijaksanaan agung bisa merasakan dan memahami mentalitas setiap orang, jika saya bisa mengetahui apa yang kamu pikirkan, itu berarti saya bisa memahami sikap dalam hatimu, maka itu adalah orang yang memiliki kebijaksanaan agung. Jika hari ini saya mengatakan beberapa kalimat ini, dan langsung tahu pemikiran apa yang ada di dalam hatimu, maka ini yang disebut memahami dan menyadari keadaan batinmu. Hari ini, kamu adalah orang yang sangat berpikiran sempit, begitu saya mengucapkan keluar perkataan ini, saya akan tahu dirimu pasti akan marah. Jika saya ingin membuatmu marah, maka hanya perlu mengatakan kalimat ini, inilah tandanya saya memahami mentalitas kamu, selanjutnya, tinggal menunggu kamu marah di rumah saja. Jadi, coba kamu perhatikan, saat bertengkar di rumah, kalau suami atau istri itu sifatnya licik, dia di samping mengatakan satu kalimat, lalu kamu langsung naik darah dan ribut setengah hari, dia melontarkan satu kalimat lagi, kamu kembali ribut satu jam, saat kemarahan kamu mulai mereda, dia tambah satu kalimat lagi, dan kamu lanjut marah satu jam, dia mampu membuatmu marah sampai mati, karena dia memahami mentalitasmu. Tentu saja, contoh yang saya berikan tadi adalah contoh yang negatif, jika yang dibicarakan adalah orang yang mempunyai kebijaksanaan, hanya dengan mengucapkan sepatah kata, saya akan tahu mentalitas apa yang dimiliki oleh lawan bicara. Sikap seperti apa yang sebenarnya ada di dalam hati, ini disebut memahami mentalitas diri.
“菩萨见物思空 — Pu Sa jian wu si kong — Bodhisattva melihat semua benda sebagai kosong”. “思 — Si” artinya adalah seperti atau perasaannya. Yaitu, Bodhisattva melihat segala sesuatu, perasaannya seperti kosong, segala benda materi dalam pandangan Bodhisattva itu semuanya adalah kosong. Orang lain memberi saya uang, “Haha, ini adalah kosong”; Orang lain memberi saya makanan, setelah dimakan, kembali menjadi kosong, besok juga harus makan lagi. Ketika sedang sakit, berkata: “Aduh, orang ini sedang sakit”, dua hari kemudian sembuh lagi, orang ini kembali tidak ada masalah. Bodhisattva dapat memandang jauh, mampu melihat dengan jelas terhadap semua benda. Misalnya pergi ke Rumah Sakit melihat seseorang sudah sekarat, jika Bodhisattva yang melihat tidak akan merasa sedih, “Ah, beristirahatlah dengan baik-baik”, karena Bodhisattva tahu meskipun kamu meninggal pun juga meninggal sementara, nantinya kamu juga akan terlahir kembali sebagai seorang anak kecil, ini adalah reinkarnasi, tidak ada yang aneh. Sama seperti jatuh sakit, dua hari kemudian sembuh lagi. Demam tinggi bukannya sama seperti pernah meninggal, panas tinggi hingga pingsan selanjutnya siuman kembali, sama seperti terlahir kembali lagi.
“菩萨触物斯照,声闻怕境昧心 – Pú Sà chù wù sī zhào,shēng wén pà jìng mèi xīn – Bodhisattva menyentuh hal-hal duniawi, segera memahami hakikatnya, Sravaka takut tingkat kesadaran membutakan hati”. “斯照 – sī zhào” artinya pernah mengamati dan melihat, melihat berarti mengamati. “声闻怕境昧心 – shēng wén pà jìng mèi xīn”, “声闻 – shēng wén” adalah Alam Sravaka, Alam Pratyeka Buddha, dengan kata lain, meskipun kamu sudah terbebas dari Enam Alam tumimbal lahir, Bodhisattva di tingkat Alam Sravaka dan Pratyeka Buddha juga takut mengandalkan kesadaran spiritual membutakan hati Buddha dalam melakukan banyak hal. Sungguh menakutkan, bahkan para Bodhisattva yang sudah mencapai tingkat yang begitu tinggi di Surga juga masih takut melakukan kesalahan. Master di Alam Manusia bagaikan berjalan di atas lapisan es yang tipis, tidak berani sembarangan berbicara, tulisan artikel juga harus di koreksi berulang kali, menghadapi suatu hal juga harus direnungkan berulang kali, terus dipikirkan berulang-ulang, mengetahui sebab dan mengerti akibatnya.
“Orang yang tersadarkan senantiasa menggunakan kebijaksanaan dalam sehari-hari, orang yang tersesat tidak bisa melihat Buddha meskipun berada di hadapan-Nya.”Orang yang tersadarkan, segala sesuatu yang ia hadapi setiap hari adalah fenomena yang pada dasarnya “tidak dilahirkan”, karena tidak dilahirkan, maka tidak ada penderitaan. Segala sesuatu yang dilakukan oleh orang yang tersadarkan, harus dipahami sebagai tidak dilahirkan (tidak muncul), menembus seluruh kekosongan, menyebar ke seluruh Alam Dharma, tanpa batasan apapun. Contoh sederhana: Apa yang disebut tidak ada batas? Kehidupan yang tak berujung sama dengan tidak memiliki batas, hari ini saya melakukan perbuatan baik, melakukan jasa kebajikan, seberapa banyak jasa kebajikan yang bersedia kamu lakukan, maka dapat dilakukan, bukankah berarti tidak ada batasnya? Selanjutnya membahas tentang “Orang yang tersesat tidak bisa melihat Buddha meskipun berada di hadapan-Nya”, yakni orang yang tersesat dan bertolak belakang dengan kebenaran, orang yang tersesat namun tidak tahu jalan untuk kembali, ketika ia menghadapi suatu keadaan, maka akan menjauhi dari Buddha dan Bodhisattva. Sebagai contoh, kita baru saja memohon kepada Bodhisattva disini “Saya akan sungguh-sungguh melafalkan paritta dan membina diri”, namun begitu melihat uang, langsung melupakan Bodhisattva. “Saya akan mulai bersumpah, apa yang dikatakan oleh Master sangat masuk akal, tidak boleh konsumsi yang hidup”, tapi begitu masuk ke restoran prasmanan, melihat begitu banyak makanan, matanya langsung terpaku pada semua itu (menghadapi godaan). Saat itu juga, dia langsung terpisah dari Buddha, langsung melupakan Bodhisattva, artinya Bodhisattva sudah tidak bersamamu lagi. Langsung bersiap-siap makan lahap, setelah makan kali ini, kedepannya saya juga boleh tidak makan lagi. Saat menghadapi keadaan (godaan), dia tidak sanggup menahannya.
Segala sesuatu di dunia ini, semua materi, adalah sesuatu yang bisa membuat orang bahagia maupun sedih. Namun, semua kebahagiaan dan kesedihan itu hanyalah kosong belaka. Segala perasaan di dunia ini bagaikan sebuah jaring. Hubungan perasaan manusia seperti jaring, hubungan perasaan antara ayah dan ibu, antara suami istri, anak, juga antara teman sekelas, sahabat, guru, bahkan termasuk perasaan antara Master dengan kalian, sama seperti sebuah jaring. Dan kita sendirilah yang menenun jaring ini. Setiap hari kita sedang menenun jaring asmara ini. Apa arti jaring? Jaring adalah sesuatu yang membelenggu diri kita, karena setelah terperangkap dalam jaring ini, kita akan merasakan suka dan duka karenanya. Jaring yang kita tenun sendiri pada akhirnya justru membuat kita sedih, bukankah begitu? Bukankah saat kalian jatuh cinta, kalian sedang menenun jaring ini? Dan ketika akhirnya bertengkar hingga pisah, bukankah itu seperti merobek hati diri sendiri? Bukankah itu sama saja dengan menciptakan kesedihan untuk diri sendiri? Kalian harus tahu bahwa cinta, persahabatan, kasih antara saudara, kasih orang tua, kasih antara ibu dan anak, semua bentuk perasaan ini, selama memiliki nidana (jodoh sebab dan akibat), pasti akan saling bertemu. Apakah kalian kemarin sudah melihat blog Master? Di internet, begitu banyak orang-orang di kehidupan masa lampau yang ditemukan kembali mukanya di kehidupan sekarang oleh kekuatan supernatural, kalian lihat saja, maka akan tahu, semuanya berada dalam satu sistem dan tidak bisa lepas dari jaring ini. Utang kehidupan lalu akan berlanjut di kehidupan ini, bisakah kamu melarikan diri darinya? Oleh sebab itu, selama jaring ini bertemu dengan perasaanmu, itu pasti karena daya tarik dari kekuatan karma. Daya tarik kekuatan karma berarti ketika kamu berbuat dosa, maka kekuatan karmamu akan menarik semuanya untuk berkumpul bersama. Mengerti? Mengapa bisa ada hubungan karma? Mengapa bisa ada jodoh seperti ini? Lagipula ini adalah jodoh yang diciptakan oleh karmamu sendiri, akibat dari keterikatan dan balasan yang saling membelit selama banyak kehidupan. Contoh sederhana: di dunia ini, mengapa kamu bisa bertengkar dengan tetanggamu? Karena di masa lalu kalian terus-menerus terlibat dalam perselisihan kecil yang tak ada habisnya, seperti menaruh sepatu di depan pintu rumah orang lain, meletakkan sapu atau barang kotor di depan pintu mereka, dan lain sebagainya. Justru karena hal-hal kecil yang berbelit inilah menyebabkan hubungan kalian sekarang menjadi semakin buruk. Jadi, kehidupan kalian sekarang ini ibarat mengulang kembali cerita dari kehidupan sebelumnya, seperti menonton film yang diputar ulang. Hanya saja tokoh-tokohnya yang berganti, sebenarnya ceritanya tetap sama. Cobalah lihat cerita asmara dalam film-film tahun 1950-an, tidak jauh berbeda dengan sekarang. Hanya saja film-film tahun 1950-an belum ada ponsel atau komputer. Hanya saja di tahun 1950-an tokohnya adalah dia, tahun 1980-an adalah dia, tidak banyak berubah. Selamanya hidup dan mati terus berputar, berulang-ulang. Coba lihat hubungan mertua dan menantu yang berantakan selama puluhan tahun, apakah sampai sekarang bisa beres? Hubungan mertua dan menantu masih tetap tidak baik. Coba lihat film-film lama seperti ‘Raise the Red Lantern’ (大红灯笼高高挂 – da hong deng long gao gao gua), ‘Musim Semi Keluarga’ (家春秋 – jia chun qiu), ‘Mimpi di Paviliun Merah’ (红楼梦 – hong lou meng)… Perselisihan keluarga yang itu-itu saja, bukankah sampai sekarang masih tetap begitu? Kamu mungkin bahkan tidak tahu peran apa yang kamu mainkan di ‘Mimpi di Paviliun Merah’ waktu itu, dan hari ini kamu hanya ganti tokoh saja, masalahnya tetap sama. Kalian sekarang berbuat dosa di kehidupan ini, ini adalah jodoh karma, dan jodoh karma ini masih terus berlanjut. Apakah kalian mengerti? Jika pada kehidupan sebelumnya kalian hidup di dua negara yang berbeda, Master memberitahu kalian bahwa pada kehidupan sekarang kalian pasti tidak akan hidup di negara yang sama. Jadi banyak orang berpikir, saya lahir di China pada kehidupan ini, apakah saya akan lahir di tempat lain pada kehidupan berikutnya? Tidak. Pada kehidupan berikutnya kalian tidak akan bertemu lagi, semua ini ada jodoh dan karmanya. Tidak peduli hubungan asmara antar siapa dengan siapa diantara kalian, semuanya adalah kelanjutan dari hubungan asmara di kehidupan sebelumnya, dan kalian tidak dapat melihat hubungan asmara di kehidupan lalu, sebenarnya adalah kelanjutan dari hubungan asmara dan daya tarik dari jodoh karma. Jika kalian tahu bahwa nanti kalian akan bertengkar, berkelahi, atau berkonflik, kalian harus menerimanya, karena kalian sudah mengikuti jalan karma ini. Lagipula, orang yang bukan dari negara yang sama pasti tidak akan lahir bersama dan pasti tidak akan memiliki hubungan asmara. Jadi kalian yang bisa bersama hari ini adalah karena jodoh dan karma. Oleh karena itu, Buddha dan Bodhisattva mengajarkan kita untuk menghargai jodoh dan karma. Baiklah, sampai di sini dulu hari ini.
