34. Tiada Pikiran adalah Kebajikan 无念即有德

Tiada Pikiran adalah Kebajikan

“Suatu hal jika tidak dialami sendiri, maka tidak akan tahu betapa sulitnya; sesuatu jika belum pernah dicicipi, maka tidak akan tahu rasanya.”Artinya, bila suatu masalah tidak benar-benar kamu alami sendiri, kamu tidak akan menyadari betapa sulitnya menjalani kehidupan di dunia ini; jika kamu belum pernah mencicipi makanan ini, bagaimana kamu bisa tahu rasanya? Kita hidup di dunia yang bagaikan mimpi dan ilusi ini, telah mengalami begitu banyak penderitaan. Bahkan, kita sampai membuat diri kita sendiri menjadi sangat menderita dan menyedihkan, ini adalah saatnya kita harus tersadarkan. Kita tidak boleh lagi hidup dalam kebingungan, kita harus bangkit dan menjadi sadar. Kita telah mencelakakan diri sendiri, mencelakakan orang lain, dan mencelakakan begitu banyak makhluk hidup.


Master memberi tahu kalian semua, tubuh dan hati kita harus terbebas dari pikiran, itulah kebajikan. Hati dan tubuh kita harus menyingkirkan segala pikiran kacau, barulah kita akan memiliki moralitas dan kebajikan. Ketahuilah bahwa setelah hatimu terlepas dari pikiran, barulah kamu akan mencapai sifat kekosongan, maka kamu tidak akan membiarkan kekotoran duniawi yang buruk menodai dan masuk ke dalam tubuh diri sendiri. Bagaimana caranya agar tidak memiliki pikiran? Tiada pikiran, artinya adalah tidak ada lagi pikiran-pikiran kacau yang timbul. Jika saya tidak memikirkannya, maka masalah tersebut tidak akan ada lagi; namun begitu saya memikirkannya, maka timbullah pikiran itu. Semakin saya memikirkannya, semakin tidak bisa menemui jalan keluarnya, maka pikiran tersebut telah masuk ke dalam kesadaranmu. Di saat saya memikirkan masalah ini berulang kali dan tidak bisa menemui jalan keluarnya, maka pada saat itu kamu sudah menjadi seorang penderita penyakit mental tahap awal. Kita harus melepaskan diri dari pikiran-pikiran tersebut, karena segala pikiran yang tidak nyata itu akan senantiasa menjerat dan menyulitkan kamu setiap saat.


Segala jodoh baik yang ada di dunia saat ini, sebenarnya merupakan perwujudan dari Sifat Kebuddhaan. Dengan kata lain, apa pun yang baik maupun buruk yang kamu alami hari ini, apa pun yang lancar maupun tidak lancar hari ini, semuanya adalah perwujudan dari Sifat Kebuddhaan; jodoh adalah hubungan hukum sebab-akibat. Mengapa dia datang ke keluarga saya dan menjadi anak saya? Mengapa hari ini kita berdua bisa berjalan bersama? Mengapa hari ini saya bisa belajar Buddha Dharma? Segalanya adalah hukum sebab-akibat. Mengapa hari ini saya bisa berhubungan baik dengannya, lalu besok tidak baik? Beberapa hari kemudian bisa baik kembali, lalu tidak baik lagi? Semuanya adalah hukum sebab-akibat, segala sesuatu tidak terlepas dari hukum sebab-akibat.


Kita harus mengerti untuk menganggap “ada pikiran” sebagai “tiada pikiran”. Artinya, hari ini ketika sebuah pikiran muncul, saya harus menganggapnya sebagai tiada pikiran, apa hubungannya? Saya tidak lagi memikirkannya, maka tidak ada lagi pikiran itu. Ketika muncul kerisauan, anggaplah seolah-olah tidak ada kerisauan. Hari ini saya merasa tidak senang, saya merasa risau, namun saya menganggapnya tidak ada kerisauan, maka setelah beberapa hari kemudian semuanya akan membaik. Dengan demikian, kebajikanmu akan muncul, berarti kamu telah terlepas dari pikiran, yaitu telah meninggalkan pikiran tersebut. Semakin kamu tidak bisa berpikiran terbuka, itu berarti kamu semakin belum terlepas dari pikiran tersebut; semakin kamu merasa risau, itu menunjukkan bahwa kamu semakin tidak memiliki kebijaksanaan. Oleh karena itu, tidak merasa risau dan bisa berpikir jernih adalah kebajikan. Dengan memiliki kebajikan, barulah Sifat Kebuddhaan akan muncul. Kita harus mengerti untuk melakukan segala sesuatu di atas landasan sifat Kebuddhaan, barulah bisa dihitung sebagai jasa kebajikan, jika tidak, itu hanyalah balasan berkah.


Terakhir, Master ingin menjelaskan kepada kalian semua mengenai sifat Kebuddhaan. Buddha adalah sosok yang paling bersahaja di dunia ini, karena Beliau telah memulihkan kondisi asal manusia yang sesungguhnya. Dengan kata lain, para Buddha dan Bodhisattva adalah yang paling bersahaja, karena Mereka membimbing setiap orang untuk memulihkan sifat dasar mereka kembali. Di awal ceramah hari ini, Master telah menyampaikan bahwa anak kecil berusia tiga tahun pun mengerti kebenaran, tetapi mengapa orang tua yang telah berusia delapan puluh tahun malah tidak sanggup melaksanakannya? Master Zen Niaoke menjawab Bai Juyi, bahwa prinsip kebenaran yang sesungguhnya dalam belajar Buddha Dharma sebenarnya sangatlah sederhana, yaitu hanya terdiri dari delapan kata: Tidak melakukan segala kejahatan,  mengamalkan segala perbuatan baik. Orang-orang zaman sekarang setiap hari melakukan perbuatan buruk, perbuatan baik sama sekali tidak dilakukan, mungkinkah orang seperti ini bisa menjadi Bodhisattva atau menjadi Buddha? Hari ini, Bodhisattva meminta kita untuk setiap hari melakukan perbuatan baik dan tidak melakukan kejahatan; ini adalah hal yang seharusnya sudah kita mengerti sejak kecil. Bukankah saat kita masih kecil dulu, guru berkata kepada kita: “Jangan melakukan perbuatan buruk,” lalu kita menjawab: “Kami tidak akan melakukan perbuatan buruk”; guru berkata: “Harus berbuat baik,” lalu kita menjawab: “Guru, kami akan berbuat baik setiap hari”. Ini adalah prinsip kebenaran yang paling sederhana, namun orang-orang zaman sekarang justru tidak melakukan perbuatan baik dan malah melakukan keburukan setiap hari. Setelah seseorang belajar Buddha Dharma, dia memulihkan kembali apa yang telah dipelajari saat masih kecil: tidak melakukan perbuatan buruk, tidak mengadu domba, tidak melakukan kejahatan, harus mengerti cara menghormati orang lain, dan harus mengerti bahwa segala bentuk kebajikan harus dilakukan. Bukankah ini berarti memulihkan kembali sifat dasar kita sebagai manusia? Inilah sifat dasar kita sewaktu kecil dulu. Namun sekarang, sifat dasar manusia telah meninggalkan tubuh kita, membiarkan berbagai kebiasaan buruk yang busuk dan kotor, serta pikiran luar dan kekotoran duniawi masuk ke dalam tubuh kita, sehingga membuat kita tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Semuanya, janganlah kalian merasa bingung dan tersesat.


Master saat memberikan wejangan kepada rekan-rekan se-Dharma di Amerika Utara menyampaikan bahwa belajar Buddha Dharma tidak boleh “Pertama—jelas, kedua—keruh, ketiga —menghilang”—— artinya saat baru mulai menekuni Dharma, kamu sangat jelas dan mengerti bagaimana harus belajar dan mempraktikkannya, namun seiring berjalannya waktu, perlahan-lahan pikiran menjadi keruh dan tidak lagi jernih, hingga pada akhirnya, bahkan Dharma pun menghilang, dan sosok Buddha pun menghilang. Master berharap kalian semua bisa menekuni Dharma dengan sungguh-sungguh, membina pikiran dengan baik, memahami persoalan duniawi, mengerti kebenaran, serta memahami bagaimana seharusnya menekuni Dharma dan membina pikiran sesuai dengan aturan dan Dharma, demi menemukan kembali sifat dasar kita, serta menemukan kembali kepribadian kita yang penuh kebaikan.


Apakah Master memiliki kerisauan? Ada. Apakah kalian memiliki kerisauan? Juga ada. Maka, selama masih berada di Alam Manusia ini, siapa pun pasti memiliki kerisauan. Setelah kerisauan itu berlalu, lupakanlah ia, maka kebijaksanaanmu akan tumbuh. Apa yang seharusnya dilakukan, lakukanlah; apa yang tidak seharusnya dilakukan, janganlah dilakukan. Seseorang harus percaya kepada Bodhisattva, barulah di dalam hatinya akan memiliki sandaran; seseorang harus percaya akan keberadaan Buddha, barulah dia akan merasakan betapa indahnya dunia ini. Berharap kalian semua setiap hari senantiasa menempatkan Bodhisattva di dalam hati, harus percaya kepada Guan Shi Yin Pu Sa. Master dalam banyak hal pun selalu memohon kepada Guan Shi Yin Pu Sa. Berharap kalian semua mengerti untuk membina diri dengan sungguh-sungguh dan nyata, lupakanlah kerisauan diri sendiri, lupakanlah kesedihan diri sendiri, serta lupakanlah noda kotor masa lalu diri sendiri. Dengan demikian, barulah bisa mendapatkan harapan untuk selamanya.