32. Menekuni Dharma Memerlukan Cinta yang Universal — 学佛需有大爱心

Menekuni Dharma Memerlukan Cinta yang Universal

Melakukan kebajikan atau perbuatan baik harus dilakukan sampai menjadi suatu kebiasaan yang dilakukan secara wajar dan alami. Master sering mengatakan kepada kalian, jika di tengah jalan melihat ada satu orang yang hampir terjatuh, ada satu macam orang, dia akan pergi memapahnya, pada saat menghampirinya, dia berpikir, “Hari ini saya ingin membantu dia, karena saya adalah seorang praktisi Buddhis, saya memiliki kesadaran spiritual, saya harus membantunya bangun.” Apakah memiliki kesadaran spiritual? Ada. Apakah termasuk perbuatan baik? Benar. Masih ada satu orang lagi, melihat orang lain sudah hampir jatuh, tanpa berpikir sama sekali, segera berlari menghampirinya dan memapahnya bangun, ini berarti tiada tingkat spiritual, tidak menginginkan apapun, tidak memiliki motif apapun, tidak ada pemikiran apapun, saya hanya melakukan hal ini, maka orang seperti ini saat meninggal nanti akan pergi ke Surga, karena dia sudah mencapai tingkat kesadaran spiritual ini, pencapaian tingkat kesadaran spiritualnya bukan  karena dia berpikir untuk melakukannya, namun pada dasarnya dia sudah memiliki kesadaran spiritual ini. Melakukan perbuatan baik, membina kesadaran spiritual, membina hingga menjadi suatu kebiasaan atau alami, sudah tidak tahu bahwa diri sendiri sedang melakukan perbuatan baik, melakukan jasa kebajikan, itu baru jasa kebajikan yang sesungguhnya. Jika hari ini kalian memiliki tujuan tertentu saat membantu orang lain, berpikir bagaimana caranya supaya diri sendiri bisa melakukan lebih banyak jasa kebajikan, melakukan lebih banyak perbuatan baik, ini berarti masih ada “kondisi yakni dharma terkondisi (samskrta dharma)”, tidak boleh seperti ini. Oleh karena itu, harus memahami bahwa sifat Kebuddhaan adalah kosong, sifat Kebuddhaan yang berada dalam lubuk hati kita yang paling dalam adalah kosong, tiada sifat yang mutlak, tidak ada apa-apa, yang disebut sebagai sifat kekosongan. 

 

Sifat Kebuddhaan sesungguhnya tiada awal dan tiada akhir, itu adalah sifat Kebuddhaan kamu yang paling dasar dan yang paling baik, adalah sesuatu yang tidak berawal juga tidak berakhir, tidak terlahir dan tidak lenyap, tidak bertambah juga tidak berkurang. Menurut kalian, apakah hati nurani kalian bisa bertambah dan berkurang? Hati nurani kalian tidak baik hanya karena terselubungi oleh enam kekotoran duniawi, sudah tertutupi oleh enam nafsu keinginan, membuat kalian tidak bisa melihat sifat dasar sendiri. Misalnya, gadis ini sesungguhnya memiliki hati nurani yang sangat baik, melihat orang lain cedera otot dan tulang, dia bisa merasa takut, melihat darah, dia merasa sedih, merasa orang ini terluka dan begitu menderita. Akan tetapi, jika dia adalah dokter, yang setiap hari melakukan operasi, maka lambat laun, melihat darah pun seperti tidak melihatnya, namun ini tidak berarti kalau dalam sifat dasarnya, dia tidak takut melihat darah, tidak punya welas asih, melainkan karena dia sudah terlalu sering melihatnya jadi sudah terbiasa. Oleh karena itu, hanya dengan meneguhkan sifat Kebuddhaan, kita baru bisa menjadi individu yang universal, bisa meninggalkan ego sendiri. Kita jangan mementingkan diri sendiri, harus memikirkan semua makhluk, memohon demi semua makhluk, melakukan sesuatu demi semua makhluk, kita semua adalah makhluk hidup, dan karena semua makhluk adalah Buddha, dan Buddha adalah semua makhluk, Buddha juga berasal dari semua makhluk, kita harus bisa menjadi orang yang tersadarkan, maka kita adalah Buddha.

 

Kita sebagai praktisi Buddhis, hanya dengan memberi atau berkorban, baru merupakan ketekunan yang benar. Hari ini kalian sudah memberikan pengorbanan apa? Berapa banyak yang kalian lakukan untuk orang lain? Apakah kalian sudah melakukan sesuatu untuk orang lain atau membantu orang lain? Semuanya ini termasuk ketekunan yang benar. Pada saat memperkenalkan Dharma kepada orang lain, termasuk ketekunan yang benar, benar tidak? Oleh karena itu, seseorang yang benar-benar memiliki kebijaksanaan, harus memberi atau berkorban, harus membantu orang lain, harus meninggalkan ego sendiri untuk membantu orang lain. Ini adalah ajaran Buddha Dharma Mahayana dalam agama Buddha, menyelamatkan kesadaran spiritual semua makhluk. Karena pada masa periode akhir Dharma, orang-orang yang tidak mau menolong kesadaran spiritual semua makhluk akan sangat sulit menghilangkan kemelekatan akan ego sendiri, mengerti? Orang yang tidak mau menolong orang lain, akan selalu mengira diri sendiri yang paling hebat; Hanya pada saat kamu bisa melebur ke dalam semua makhluk, kamu baru bisa menjadi Buddha yang sesungguhnya. Bukankah Buddha berada di antara semua makhluk? Kita hidup di dunia ini karena sudah lama kehilangan arah, maka hanya dengan diam-diam terus “menanam”, hanya dengan terus melakukan tanpa memikirkan hasilnya, kita baru bisa mendapatkan ajaran Buddha Dharma yang sesungguhnya. 

 

Kita harus hidup demi semua makhluk, sesungguhnya, seseorang yang hidup demi semua makhluk, juga hidup untuk dirinya sendiri, benar tidak? Bodhisattva Ksitigarbha berikrar demi semua makhluk, “Neraka tidak kosong, bersumpah tidak akan menjadi Buddha”, namun bukankah Beliau sudah menjadi Buddha? Bukankah dia hidup demi semua makhluk, dan dia sudah menjadi Buddha? Oleh karena itu, kita harus memiliki tingkat kesadaran spiritual yang tinggi, kita harus hidup demi semua makhluk, menyelamatkan kesadaran spiritual semua makhluk, bukan menyuruhmu hanya hidup begitu saja, namun memintamu untuk menyelamatkan kesadaran spiritual mereka, dengan kasih sayang dan welas asih yang universal untuk menyelamatkan mereka, ini baru namanya welas asih yang maha besar. Hanya dengan begitu, kita baru bisa bersukacita di dalamnya, orang yang menolong orang lain selamanya berbahagia, dia akan merasa bahagia di dalamnya. Oleh karena itu, kita harus menggunakan berbagai macam cara untuk menghilangkan kekuatan halangan karma buruk yang terakumulasi dari berkali-kali reinkarnasi pada diri kita. Coba pikirkan, berapa besar kekuatan karma buruk kita, berapa banyak kesalahan yang telah kita lakukan, kesalahan yang dulu pernah kita lakukan, sekarang kita masih melakukan kesalahan, selama kita masih hidup di alam yang penuh kerisauan ini, maka kita selamanya bisa melakukan kesalahan. Kita tidak bisa terbebaskan, karena kita memiliki kerisauan, seseorang yang memiliki kerisauan adalah orang yang belum tersadarkan; Sedangkan orang yang sudah tersadarkan, maka dia tidak akan merasa risau; Seseorang yang memiliki welas asih, tidak akan memiliki kebencian; Sedangkan seseorang yang memiliki kebencian tidak akan memiliki welas asih, logikanya semua sama.

 

Kita harus berada dalam dasar kekuatan sendiri, dengan kata lain adalah mengandalkan pada kekuatan diri kita sendiri sebagai dasarnya, juga harus mengandalkan kekuatan Buddha, juga mengandalkan kekuatan pelafalan paritta, mengandalkan kekuatan Bodhisattva, mendapatkan berkat yang berkali lipat dari Bodhisattva kepada diri sendiri. Betapa sulitnya kita mengandalkan diri sendiri, meskipun kita melafalkan paritta, namun terkadang di malam hari masih bisa bermimpi, saat ada setan kecil yang mendatangi, apa yang bisa kamu lakukan untuk mencegahnya membuatmu bermimpi buruk? Kamu tidak punya kemampuan ini, juga tidak memiliki kekuatan, oleh karena itu, kamu hanya bisa mengandalkan kemampuan diri sendiri, yakni kekuatan-kekuatan yang memang sudah kamu miliki dari kehidupan sebelumnya, ditambah dengan kekuatan dari banyak perbuatan baik yang kamu lakukan di kehidupan ini dan kekuatan jasa kebajikanmu untuk memberkati kamu, membuat dirimu memperoleh kekuatan Buddha, maka kamu bisa mendapatkan kekuatan Buddha untuk melunasi hutang karma pada para penagih hutang karmamu. Hidup kita penuh dengan gejolak, bibit karma buruk dari berkali-kali kehidupan sebelumnya, kita setiap hari sedang menaburkan bibit karma setiap hari. Coba pikirkan, kalau kita di kehidupan sebelumnya suami istri ini adalah musuh bebuyutan, lalu di kehidupan ini kembali menjadi suami istri, bukankah berarti kamu membawa kekuatan karma dari kehidupan sebelumnya dan kembali menaburkan benih di kehidupan ini? Kalian kembali bertengkar dan kembali berkelahi. Anakmu di kehidupan sebelumnya adalah musuh kamu, lalu terlahir di keluargamu, bukankah berarti kamu dan anak ini kembali menciptakan karma yang baru? Bukankah berarti kamu sedang menaburkan bibit karma baru? Kamu sedang menggunakan halangan karma burukmu yang lalu, yang sebelumnya, dari berkali-kali reinkarnasi kamu, lalu sekarang menciptakan kekuatan karma yang baru. Ini adalah masalah yang sangat besar, karena begitu bibitmu ini tertanam, maka kamu pasti akan menuai bibit karma buruk, tunggu sampai tiba saatnya menuai bibit karma buruk, kamu baru memohon pada Buddha dan bersembahyang juga sudah tidak ada gunanya.

 

Oleh karena itu, kita setiap hari bertengkar melawan para penagih hutang karma kita, anak adalah penagih hutang karma kita dari kehidupan sebelumnya, orang tua kita juga adalah penagih hutang karma kita dari kehidupan sebelumnya, lalu setiap hari kita menciptakan karma yang baru, dan juga sedang membayar karma lama kita, sampai kapan kita baru bisa terbebaskan dari hal-hal ini? Kita sangat kasihan sekali, karena tidak mengetahui bibit karma yang kita tanam di kehidupan sebelumnya, karena banyak orang tidak percaya, karena mereka tidak bisa melihatnya, maka di kehidupan ini mereka kembali menciptakan karma; Sedangkan seorang praktisi Buddhis sejati, orang-orang yang sudah tersadarkan, karena dia memiliki potensi kesadaran, dia tahu bahwa para penagih hutang karma setiap hari datang menagih hutang, dan hanya dengan melunasi hutang-hutangnya itu, dia baru bisa menjadi individu yang baru. Maka harus mengandalkan kekuatan Buddha dari Buddha dan Bodhisattva untuk menghilangkan halangan karma buruk kita dan menghapuskan halangan diri kita. Kita harus memahami ketidakkekalan di dunia ini, coba kalian pikirkan, dunia ini kekal atau tidak? Berapa orang bukankah sudah meninggal? Berapa yang yang meninggal secara mendadak? Hari ini Master beritahu kalian, bencana kekeringan di Korea Utara sudah menyebabkan 20.000 orang meninggal, pada awalnya, Master mengatakannya menjadi Korea, tetapi murid di pinggir saya segera mengatakan, kalau keadaan Negara Korea bagus, lalu Master berkata, salah bicara, bukan Korea, tetapi Korea Utara, murid itu segera berkata: “Oh, Korea Utara, kalau Korea Utara begitu miskin dan terbelakang dan lain sebagainya.” Ini berarti dia belum membina diri dengan baik, memangnya orang Korea Utara bukan manusia? Bahkan binatang pun memiliki nyawa, semuanya adalah makhluk di Alam Roh. Mengapa bahkan binatang sekalipun kita harus menyayanginya, bukankah kita juga adalah semua makhluk, memangnya orang Korea Utara bukan manusia? Coba pikirkan, 20.000 orang mati kelaparan, kasihan sekali, memangnya kita sama sekali tidak memiliki perasaan welas asih? Setidaknya kamu harus memiliki pikiran seperti ini, kamu baru bisa memahami sifat Kebuddhaan ini.

 

Welas asih merupakan kunci untuk mengetuk dan membuka pintu besar ajaran Buddha Dharma. Seseorang yang perasaan welas asih pun tidak ada, bagaimana mungkin bisa memasuki Pintu Kebuddhaan? Sang Buddha mengatakan, welas asih adalah dasarnya, apakah dasar itu? Adalah akar dasar, sifat Kebuddhaan seseorang adalah akar dasarnya, oleh karena itu seorang praktisi Buddhis, apakah kalian memiliki rasa kasihan terhadap orang lain? Pertama-tama, kamu harus bisa mengasihani siapapun, kamu harus bisa melihat kalau diri sendiri lebih kasihan, maka kamu akan memiliki perasaan welas asih. Kalau kamu memandang remeh yang ini, merendahkan yang itu, kamu merasa dirimu selalu lebih baik daripada orang lain, bagaimana kamu bisa menghargai orang lain? Bagaimana kamu bisa memiliki welas asih? Guan Shi Yin Pu Sa tidak pernah memandang rendah kita, maka Beliau datang ke dunia ini untuk menyelamatkan kita; Buddha Ji Gong tidak pernah merendahkan kita, maka Beliau datang ke dunia untuk menyelamatkan kita; Sang Buddha tidak memandang rendah kita, maka Beliau terlahir ke dunia ini dan menjalani begitu banyak penderitaan, melepaskan kedudukannya sebagai putra mahkota dan pergi menyelamatkan kesadaran spiritual orang-orang. Semua ini didasari dengan welas asih. Seorang praktisi Buddhis sejati, dia harus didasari dengan kekuatannya sendiri, menggunakan ajaran Buddha Dharma yang dipelajarinya di dunia ini, ditambah dengan kekuatan Buddha yang dimilikinya, dia baru benar-benar bisa menyelamatkan semua makhluk. Seseorang yang sangat baik hati, berarti dia memiliki sifat dasar yang sangat baik, memiliki hati-pikiran Buddha, akan tetapi, kalau dia tidak membina diri, maka dia tidak akan memiliki kekuatan berkat. Seseorang ketika sedang memohon pada Buddha akan mendapatkan berkat dari Buddha, akan tetapi sifat dasarnya terlalu kotor, sudah tidak bisa menunjukkan sifat Kebuddhaannya, maka orang ini juga tidak akan bisa mencapai Kebuddhaan.

 

Dalam perjalanan menekuni Dharma dan membina pikiran, Bodhisattva setiap hari berkata pada kita, harus percaya, harus memiliki tekad, harus ada praktik. Kalian tahu, banyak orang yang membina pikirannya, memiliki tekad, akan tetapi dia tidak ada praktiknya, dia tidak melakukannya; Juga ada banyak orang, dia sudah melakukannya, dia setiap hari menolong orang, akan tetapi dia tidak memiliki kebijaksanaan, dia tidak punya tekad, maka dia juga tidak bisa menjadi Buddha; Juga ada banyak orang yang memiliki tekad, juga ada praktiknya, akan tetapi dia tidak sepenuhnya percaya. Mengapa setiap tahun ada begitu banyak orang yang percaya, namun setiap tahun ada juga begitu banyak orang yang mulai tidak percaya? Mengapa ada banyak orang yang menjadi biksu/ni, namun juga ada banyak yang melepaskan kehidupan selibatnya dan kembali ke kehidupan awam? Master belakangan ini melihat ada seorang biksu yang menikah dengan bos wanita berusia 26 tahun, padahal dia adalah ketua kuil, itu karena dia tidak yakin – percaya. Sesungguhnya, yang dikatakan Bodhisattva “percaya – tekad – praktik”, tiga kata ini, tekad berasal dari keyakinan – kepercayaan, kalau kamu tidak percaya, darimana datangnya kekuatan tekadmu? Oleh karena itu, jika kamu tidak benar-benar percaya, maka kekuatan tekadmu ini pun palsu, perbuatan yang kamu lakukan juga adalah palsu. Hanya dengan benar-benar percaya, dan kekuatan tekadmu ini muncul keluar, inilah sinar, kekuatan, dan energi besar yang sebenarnya.

 

Master beritahu kalian semua, membina diri dalam Dharma adalah membina pikiran, melatih diri menjadi Buddha juga adalah membina pikiran. Kamu berlatih Dharma duniawi, maka sesungguhnya yang kamu latih adalah pikiran luar, sedangkan kalau kamu membina ajaran Buddha Dharma berarti yang kamu bina adalah pikiran dalam, hanya dengan membina sisi dalam pikiran kita dengan baik, baru bisa mempengaruhi pikiran luar kamu. Pikiran luar kamu tersusun dari banyak sekali pikiran-pikiran, ada kecemburuan, ada kebencian, ada ketamakan, ada kebodohan, semua pikiran-pikiran luar ini membentuk menjadi satu pikiranmu yang sesungguhnya, sedangkan pikiranmu yang sebenarnya ini sudah tertutupi oleh kekotoran duniawi dari luar, jadi sudah tidak terlihat lagi hati nurani dan sifat dasarmu. Hanya dengan mengubahnya menjadi welas asih, kebaikan hati, dan pikiran untuk berdana, kamu mengubah semua pikiran luar menjadi suatu siklus yang positif, maka pikiran dalam kamu baru bisa menjadi sifat Kebuddhaan yang sesungguhnya. Jangan menganggap remeh pikiran luar kita sendiri, semua kondisi ini bisa menjadi faktor luar yang menyebabkan kamu tidak bisa membina diri dengan baik. Mengapa ada begitu banyak orang yang tidak bisa membina diri dengan baik? Karena ketekunan dan keteguhannya kurang kuat, maka dia akan meninggalkan ajaran Buddha Dharma dan membuang sifat Kebuddhaannya di tengah jalan, inilah mengapa Buddha dan Bodhisattva mengatakan, di dunia ini membina Kebuddhaan dan membina pikiran adalah sebuah jalan yang sangat sulit. Belajar Dharma yang benar dan jalan yang benar adalah pilihan yang luhur. Dikritik orang lain, dimarahi orang lain, mengapa para biksu/ni bisa menerimanya dan bertahan menghadapinya, tidak takut dibicarakan dan ditertawakan orang lain, mampu berpendirian teguh, juga mengandalkan suatu keyakinan.