29. Membina Perilaku, Ucapan, dan Pemikiran dengan Baik — 善修身口意

Membina Perilaku, Ucapan, dan Pemikiran dengan Baik

Apakah kita seumur hidup bisa menjadi orang baik? Kalian orang-orang yang di sini, siapa yang bisa benar-benar murni baik? Siapa yang bisa seumur hidup menjadi orang baik? Apakah kalian tidak pernah menjadi orang jahat?

 

Master beritahu kalian, membina pikiran seperti membangun rumah, fondasinya harus dibangun dengan baik, jika fondasinya tidak kuat, dan apabila dibangun semakin tinggi, ketika runtuh, maka akan menimpa kamu sampai mati. Hati yang baik, memiliki moralitas baik, membina pikiran, menekuni Dharma, semuanya memiliki dasar fondasi yang kuat, seperti rumah yang dibangun semakin tinggi, kita membina diri sampai pada akhirnya baru tidak akan menyimpang. Jika dasar kamu tidak bagus, karena demi mengejar keuntungan tertentu atau demi mencapai suatu tujuan tertentu, kamu baru menekuni Dharma, seperti membangun rumah, saat dibangun dengan sangat tinggi, maka bisa runtuh dan menimpa diri sendiri hingga mati, benar tidak? Dulu waktu masih kecil, kita pernah bermain membangun balok kayu, jika balok kayu tidak kukuh, maka disenggol sedikit, yang di atas semuanya runtuh ke bawah; jika dasar bawah balok kayu sangat kukuh, maka balok kayu bisa dibangun sampai sangat tinggi. Oleh karena itu, orang yang baik hati baru bisa menekuni Dharma, sedangkan orang yang tidak baik hati, orang yang mudah membenci orang lain, sebentar-sebentar mencurigai orang lain, sedikit-sedikit membenci orang lain, orang seperti ini adalah orang yang tidak memiliki fondasi yang baik dan tidak bisa menekuni Dharma dengan baik. Fondasi yang tidak baik akan melukai diri sendiri, akar dasar dalam menekuni Dharma tidak kukuh, maka pada akhirnya akan menyakiti diri sendiri. Oleh karena itu, kita sebagai orang yang membina pikiran dan menekuni Dharma, pertama-tama harus membangun dasar, yakni pertama-tama harus mengikis halangan karma buruk, bukannya terlebih dahulu memohon keuntungan tertentu. Karena pada diri kita ada banyak sekali halangan karma buruk, dengan kata lain, seseorang bila ingin menjadi orang baik, maka pertama-tama harus bisa mengubah kekurangan pada diri sendiri. Contoh sederhana, orang ini berkata, saya ingin menjadi orang baik, namun di sini masih makan dan minum minuman keras, melacur, dan berjudi, akan tetapi juga setiap hari membantu orang lain, menurutmu, apakah orang ini bisa menjadi orang baik? Jika kamu ingin menjadi orang baik, maka pertama-tama harus berhenti merokok, berhenti minum minuman keras, berhenti melakukan kejahatan, maka kemudian kamu baru bisa pelan-pelan melakukan perbuatan baik, perlahan-lahan menjadi orang yang baik.

 

Jika ingin memohon balasan karma langsung – di kehidupan ini, maka semakin memohon semakin tidak bisa mendapatkannya. Jika kamu tidak memohon keuntungan duniawi saat ini, melainkan memohon di masa depan nanti, saya bisa mencapai lebih banyak kesadaran spiritual, bisa pergi ke Alam Surga, atau bagaimana, semakin kamu tidak memohon, maka di kehidupan ini semakin ada balasannya. Ini seperti yang sering Master katakan pada kalian, hanya menanam tanpa memikirkan apa yang dituai. Contoh sederhana, anak ini bersekolah, tidak memohon apapun, hanya belajar dengan baik, supaya di masa depan nanti bisa masuk universitas. Sama seperti kita sekarang, saya tidak meminta apapun, saya hanya memohon kedamaian hati, setelah meninggal nanti bisa pergi ke Surga, jangan menerima hukuman di Alam Akhirat, bukankah prinsipnya sama? Justru karena anak ini saat belajar di sekolah menengah, baik-baik mengejarkan PR setiap mata pelajaran, setiap mata pelajaran dipelajari dengan serius, karena dia ingin masuk universitas, dia tidak memohon, tetapi dia belajar dan membuat tugasnya dengan tekun, karena dia tahu, ujian masuk universitas tidak mudah, maka sekarang saat sedang belajar, setiap kali gurunya memberikan ujian maupun ulangan, dia pun bisa lulus, menurutmu, apakah dia bisa mendapatkan penghargaan? Masih belum memahami logika yang Master sampaikan? Kamu memohon pada tingkat kesadaran spiritual tertinggi diri sendiri, saya nantinya ingin menjadi Bodhisattva, saya tidak mengejar segala hal-hal duniawi”, kemudian dalam menghadapi segala hal di dunia ini, kamu meneladani kesadaran spiritual Bodhisattva, menurutmu, Guan Shi Yin Pu Sa melihatmu begitu baiknya menjadi Bodhisattva dunia, apakah tidak akan membuat keluarga, pekerjaan, dan pelajaran kamu bagus? Bodhisattva sendiri yang akan memberikannya untukmu, bukan kamu yang memohonnya.

 

Guru di sekolah menengah terus-menerus memberikan penghargaan kepada anak ini, karena anak ini tidak memiliki keinginan apapun, dia hanya ingin bisa masuk universitas, dia sangat rajin dan serius mengerjakan tugas sekolahnya, maka dia setiap tahun dan setiap semester bisa memperoleh sebuah penghargaan, dan penghargaan ini bukan karena diminta, melainkan datang dengan sendirinya. Kalian jangan memohon, asalkan kalian membina diri baik-baik, saya ingin membina diri sampai mencapai kesadaran spiritual Bodhisattva, maka pertikaian, kesulitan, keraguan dalam keluarga, akan seperti ujian tengah semester, guru akan memberimu penghargaan, akan memperhatikanmu, karena kamu adalah anak baik. Kamu setiap hari di rumah mengerjakan PR, nilai rapormu terus meningkat, memangnya guru tidak akan memberimu penghargaan? Apakah Bodhisattva dan Dewa Pelindung Dharma tidak akan membuat keadaan keluargamu menjadi baik? Mengertikah? Sederhana bukan? Ini adalah prinsip Dharma yang begitu sederhana. Jangan memohon, Master berkali-kali mengatakan pada kalian, yang datang melalui permohonan semuanya adalah palsu, namun yang diperoleh melalui pembinaan baru benar-benar nyata. Oleh karena itu, kita tidak memohon keuntungan pada kehidupan ini, malah akan memperoleh keuntungan sekarang; namun jika kamu terus-menerus memohon keuntungan di kehidupan ini, maka seperti mengambil air dengan keranjang bambu – hanya kekosongan belaka.

Misalnya, keranjang ini sesungguhnya bukan terbuat dari bambu, tetapi karena kamu memiliki kekurangan di sini, lalu lubang di sini, seperti kamu punya sebuah tas di sana, ada bolong di sini, kamu memiliki begitu banyak kekurangan, begitu banyak dosa karma buruk, begitu banyak arwah asing di dalam tas ini, maka tas ini sudah banyak sekali kerusakannya, kemudian kamu kembali melakukan jasa kebajikan, begitu keranjang bambu digunakan untuk mengambil air, maka airnya akan bocor keluar semua, dari mana jasa kebajikanmu? Semuanya sudah kamu bocorkan sendiri. Banyak yang begitu, sudah bekerja banyak sekali, terakhir pimpinan datang, “Pekerjaanmu bagus.” “Sekretaris Zhang, saya tidak main-main lho, jika bukan saya yang sibuk setahunan di sini, memang perusahaan bisa memperoleh begitu banyak kemajuan?” Menurutmu, apakah dia masih memiliki prestasi? Karena besok Sekretaris Zhang akan mengganti dia, sudah sia-sia dia bekerja. Jangan ada kebocoran, biarkan orang lain yang mengatakan bagus, jangan katakan diri sendiri bagus, biarkan orang lain yang menilainya, jangan menilainya sendiri, jika menggunakan pikiran sendiri yang kotor untuk memohon pada Buddha, maka bisa menodai pikiran Buddha dan Bodhisattva yang bersih, inilah mengapa di Guan Yin Tang, kita tidak membiarkan orang-orang yang tidak baik datang. Jika kamu menggunakan hatimu yang kotor untuk datang menyembah Bodhisattva di sini, maka kamu akan mencemari medan aura Bodhisattva. Contoh sederhana, hari ini Master adalah orang baik, jika Master sendirian berada di pinggir jalan, polisi juga tidak akan melirik Master, namun jika tiba-tiba ada 5-6 orang yang berpakaian seperti preman lalu heboh berbicara dengan Master, maka polisi akan segera datang. Mengerti? Kalian harus memahami prinsipnya, jangan biarkan jiwa kita sendiri yang kotor menodai kebersihan dan kemurnian kesadaran Bodhisattva, hanya dengan menghilangkan halangan karma buruk, pembinaan dirimu dengan sendirinya akan membuahkan hasil.

 

Kita harus bisa menguraikan jalinan buruk dan kebencian, yakni menguraikan jalinan hubungan buruk, melepaskan hubungan buruk dengan orang lain. Kita harus menambah berkah pahala duniawi dan surgawi, ketahuilah bahwa berkah pahala duniawi dan surgawi kita tidak cukup, ada berapa orang di antara  kalian yang memiliki keberuntungan? Harus memiliki pengetahuan benar dan pandangan benar, harus membuat cahaya Buddha menyinari dunia, menunjukkan cahaya prajna, apa maksudnya? Dengan berpengetahuan benar dan berpandangan benar, kita baru bisa memiliki kebijaksanaan, memandang hal ini sebagai sesuatu yang positif, jika pandangan dan pemikiran saya benar, baru bisa terlahir kebijaksanaan dalam dirimu. Cahaya Buddha menyinari Alam Manusia, menghadirkan cahaya prajna, itu adalah cahaya dengan kebijaksanaan yang tiada taranya. Terakhir Master ingin menyampaikan pada kalian, kita hidup di dunia ini, harus belajar untuk introspeksi diri, karena introspeksi diri sama dengan membina diri. Setiap hari sebelum tidur, direnungkan, kesalahan apa yang telah saya lakukan hari ini? Apakah hari ini saya sudah menjalankan lima sila atau belum? Apakah saya sudah mengatakan kebohongan? Hari ini saya sudah mengatakan berapa kebohongan? Apakah hari ini saya mencuri barang milik orang lain? Apakah saya telah menciptakan kebohongan tentang orang lain? Apakah hari ini saya membunuh makhluk hidup? Apakah hari ini saya sudah minum minuman keras? Apakah hari ini saya memiliki pemikiran kotor? Renungkan sendiri setiap hari, jika ada, maka harus bertobat; jika tidak ada, maka kamu bisa tidur dengan tenang. Jika ada, hatimu tidak akan tentang, tidak bisa tidur, akan tetapi setelah kamu bertobat, berarti kamu menyerahkannya pada Bodhisattva, maka kamu bisa tidur dengan tenang. Oleh karena itu, kita harus bisa bertobat, akan tetapi jangan sepanjang hari sampai malam menambah kerisauan untuk Bodhisattva.

 

Hari ini telah melakukan kejahatan, lalu bertobat, dan besok kembali melakukan kejahatan lagi. Pahamilah, kita sebagai praktisi Buddhis, segala perilaku kita harus sesuai dengan sila. Apakah hari ini saya sudah menjalankan sila? Apakah hari ini saya membicarakan keburukan orang lain? Apakah hari ini saya memiliki pemikiran jahat ketika melihat cewek? Apakah hari ini saya mencuri barang milik orang lain? Tidak mencuri, bagus. Melihat barang milik orang lain, apakah pernah berpikir untuk mencurinya? Pernah, harus bertobat. Tidak mudah, tidak dilakukan melalui perilaku, mulut juga tidak mengatakannya, sudah cukup baik bukan? Akan tetapi dalam hati sudah memikirkannya, berarti sudah melakukan pelanggaran. Cobalah, betapa susahnya membina diri. Contoh sederhana, kalian sekarang bisa menggunakan laptop, dan di internet, ada judul yang menarik perhatian orang-orang, XXX bagaimana, YYY bagaimana, coba pikirkan, apakah kamu ingin masuk membuka dan melihatnya? Asalkan kamu mengklik masuk, dan memikirkannya, maka maaf, berarti kamu sudah melanggar sila. Master bisa menjamin 80%, kamu Xiao Lv melihatnya, karena kamu adalah orang yang suka membaca novel, asalkan ada judul yang menarik, kamu pasti akan masuk membacanya, karena kamu tidak berpikir dengan baik.  Pahamilah, jika ingin tidur nyenyak, maka yang dilakukan harus sesuai dengan sila, mengintrospeksi diri adalah suatu bentuk ketekunan, bertobat juga adalah ketekunan, membina diri berarti memperbaiki perilaku diri sendiri, harus lebih banyak belajar tentang kebijaksanaan. Dengan lebih banyak belajar tentang kebijaksanaan, maka akan lebih memahami prinsip kebenaran, oleh sebab itu, ada sebuah ungkapan yang populer di masyarakat, yaitu “kurang bijak maka akan kurang logis,”karena orang yang tidak memiliki kebijaksanaan, dia tidak akan berpikiran logis, dan dia tidak akan bertindak rasional. Lihatlah orang-orang yang bertengkar di pinggir jalan, apakah mereka memiliki kebijaksanaan? Pasti tidak ada, apakah dia akan berpegang pada logika? Dia tidak akan berpegang pada prinsip logika apapun, menghadapi orang begini, apakah kamu masih perlu berdebat logika kepadanya? Apakah kamu bisa berbicara jelas dengannya? Tidak ada kebijaksanaan, tidak ada yang diperoleh.

 

Orang yang terlalu banyak melakukan perbuatan binatang, dia pasti akan terjatuh ke Alam Binatang. Setiap hari yang dilakukannya adalah perbuatan binatang, coba kalian pikirkan, anak muda sekarang, setiap hari melakukan perbuatan binatang, sama seperti anjing, setiap hari dua ekor anjing bersama-sama, tidak mengenakan pakaian, bukankah sama seperti binatang? Kamu sendiri harus mengerti, jika di Alam Manusia melakukan terlalu banyak perbuatan binatang, mencuri-curi di belakang, maka nantinya bukankah kamu akan terlahir di Alam Binatang? Oleh karena itu, Sang Buddha mengatakan, karmanya sudah selesai baru bisa memperoleh tubuh manusia, dengan kata lain, ketika karmanya menjadi binatang sudah habis selesai, di kehidupan selanjutnya baru bisa terlahir sebagai manusia. Master sudah mengatakan, ketika karma menjadi manusia sudah selesai, seseorang baru bisa menjadi Buddha dan Bodhisattva. Kalau karma buruk manusianya belum terlunasi, halangan karma buruknya belum habis terbayarkan, bagaimana mungkin kamu bisa menjadi seorang Bodhisattva, bisa menjadi seorang Buddha? Maka saat halangan karma buruk binatang sudah tidak ada lagi, baru bisa kembali menjadi manusia. Sama saja, saat halangan karma buruk manusia sudah tidak ada lagi, dia baru bisa pergi ke Surga.

 

Memiliki sedikit jodoh Kebuddhaan, janganlah kita mencampakkannya. Meskipun dikatakan, yang tidak berjodoh tidak ditolong, namun bukan berarti dia tidak berjodoh di masa depan nanti; sekarang tidak berjodoh, bukan berarti dia selamanya tidak berjodoh. Oleh karena itu, jika ada sedikit jodoh dengan Buddha, kita seharusnya menolongnya, membantunya, jangan meninggalkannya. Pertama-tama, kita harus menjaga jodoh kita sendiri, baru kemudian bisa membantu jodoh baik orang lain. Jika kita sendiri bahkan tidak bisa menjaga jodoh sendiri, bagaimana mungkin kita bisa membantu jodoh baik orang lain? Dengan kata lain, dirimu sendiri adalah orang baik, kamu baru bisa membantu orang lain. Kalau dirimu sendiri bukan orang baik, bagaimana mungkin kamu bisa membantu orang lain?

 

Master sangat senang, anak-anak ini mendengar dan mencatat dengan sangat serius. Di pintu masuk ada banyak anak-anak muda, kita semua adalah muda-mudi, karena kita baru saja menekuni Dharma, kita baru saja memahami prinsip kebenaran, kita semua adalah anak muda. Mengapa biksu mengatakan, 1 Mei saat Seminar Dharma di HongKong, baru merupakan hari dia menjadi biksu? Karena dia benar-benar memahami mengapa dia menjadi biksu. Kita baru saja memahami mengapa kita hendak menekuni Dharma, karena menekuni Dharma bukan demi diri sendiri, namun demi semua makhluk, menjadi orang baik bukan agar diri kita bisa menjadi orang baik, akan tetapi demi membawa kebaikan bagi semua makhluk. Demi menolong banyak orang dari penderitaan, bukankah sama dengan seperti melayani masyarakat? Bukan demi diri sendiri, melainkan demi semua makhluk, itu adalah seorang Bodhisattva yang baik; bukan demi diri sendiri, melainkan demi masyarakat, itu adalah seorang pejabat yang baik, prinsipnya sama saja. Semoga kalian baik-baik belajar, tidak hanya untuk menolong diri sendiri, akan tetapi kita harus menolong diri sendiri terlebih dahulu, baru bisa menolong semua makhluk. Setiap orang saat mendengarkan pelajaran Master, akan merasa kalau Master sedang membicarakan dirinya, namun sesungguhnya Master benar-benar tidak pernah membicarakan siapapun. Yang Master bahas di sini semuanya adalah ajaran dan teori Buddha Dharma, jika kalian merasa kalau Master sedang membicarakan kalian, maka maaf saja, berarti kalian sudah “sakit”, jiwa kalian sudah sakit, mulut kalian dan perilaku kalian sudah sakit. Hanya dengan baik-baik memperbaikinya, hanya dengan pelan-pelan memahaminya, baru bisa maju dan berkembang. Master tidak meminta kalian untuk memperbaikinya dengan cepat, akan tetapi harus berdasarkan kemampuan dan usaha keras sendiri untuk mengatasi kekurangan pada diri sendiri. Sekian pembahasan pada hari ini.