12. Bersih Berarti Tidak Ternoda, Tenang Berarti Tidak Tergoyahkan 净则无染 定则无颠

Bersih Berarti Tidak Ternoda, Tenang Berarti Tidak Tergoyahkan

Ingatlah, harus memperbesar kelapangan hati kita. Mulai dari sekarang, harus melatih diri sendiri, saat orang lain memarahi saya, tetap tersenyum, tidak apa-apa; orang lain menyindir saya, tidak apa-apa; melihat orang ini sangat menyebalkan, coba pikirkan, dia juga sangat kasihan – ini namanya memiliki kelapangan hati yang besar. Kalau kamu melihat orang lain, ini tidak puas, itu juga tidak senang, pasti ada iblis di dalam hatimu. Seseorang yang selalu merasa tidak suka dengan siapapun yang dilihatnya, pasti ada iblis di hatinya. 

 

Harus bisa menjaga ketenangan batin, kamu baru bisa merasakan kebahagiaan di dunia. Perkataan ini sangat penting, kalau batin atau jiwamu sangat tenang, kamu merasa sangat puas, kamu merasa tercukupi, maka kamu akan bahagia, benar tidak? Saya tidak menginginkan uang, tetapi saya sangat bahagia. Saya menginginkan uang, namun saya tidak bahagia, mengapa? Karena kerisauan datang. Bukankah Master pernah berkata pada kalian, darimana kerisauan seseorang berasal? Karena hatinya tidak lapang, karena batinnya tidak tenang. Dia mau ini dan itu, sudah memiliki yang ini, kembali menginginkan yang itu; sudah memiliki yang itu, mau lagi yang ini. Sudah punya sedikit uang, masih menginginkan lebih banyak; menjadi sedikit terkenal, masih ingin lebih, maka hatinya menjadi tidak tenang, oleh karena itu, dia tidak akan bisa menikmati kebahagiaan di dunia. Kalau kamu bersusah hati, bagaimana mungkin bisa merasakan kebahagiaan di dunia ini?

 

Xiao Ming sudah lulus universitas, namun hatinya tidak tenang; orang lain masih melanjutkan sekolah, mengapa saya tidak bisa melanjutkan sekolah? Menurutmu, sekolah itu susah atau tidak? Jika kamu memiliki mentalitas yang sangat fleksibel, “Kalau bisa sekolah ya sekolah, kalau tidak bisa ya sudah”, maka kamu tidak akan terlalu membebani diri sendiri, “Saya memang sudah lulus universitas, bisa cari kerja, saya juga merasa cukup senang”, kalau begitu bukankah kamu tetap merasakan kebahagiaan? Kalau “Saya harus belajar sampai S3”, hanya akan memperbesar tekanan batin diri sendiri, menurutmu, kalau begitu apakah kamu bahagia? Hari ini kamu memberitahu Master kalau kamu sangat bahagia, maka Master juga akan berbahagia. Apabila kamu mengatakan, kalau sekarang hatimu masih tidak tenang, kamu harus sekolah, kalau begitu setelah kamu menyelesaikan yang ini, masih akan ada yang lain lagi. Maka, kita harus memahami bahwa jangan melekat – keras kepala, jangan menginginkan semuanya.

 

Kita harus senantiasa memiliki pikiran yang tidak terlahir dan tidak lenyap. Dengan kata lain, saya tidak melahirkan pikiran apapun, juga tidak melenyapkan pikiran apapun, saya tidak memikirkan apapun lagi, orang lain membicarakan saya juga tidak ada hubungannya dengan saya. Hari ini saya datang ke dunia ini sama sepertimu. Kamu sehari punya 24 jam, saya sehari juga punya 24 jam; Kamu sehari makan 3 kali, saya sehari juga makan 3 kali. Saya tidak kurang sesuatu apapun darimu, saya setara denganmu. Tidak terlahir pemikiran khusus dalam diri saya, jadi saya juga tidak perlu melenyapkan pikiran apapun. Banyak orang yang melahirkan banyak pemikiran liar, karena dia ingin menjadi direktur, makanya dia sangat menderita. Contoh sederhana, sekarang banyak warga keturunan Tionghoa yang ikut pemilihan anggota dewan, Master mengenal satu anggota dewan, bagaimana dia bisa menjadi anggota? Di daerah pemilihan, dia mengetuk pintu setiap rumah setiap warga, apakah kamu bersedia? Dia benar-benar bekerja keras, dia mengetuk pintu setiap rumah, terakhir baru bisa terpilih menjadi anggota dewan. Mana mungkin ada hal yang mudah dilakukan?

 

Kamu melahirkan pikiran ini, maka kamu harus melenyapkannya. Kalau kamu menyulut api, maka kamu masih harus mematikan apinya, kalau kamu bahkan tidak memiliki api ini, maka kamu pun tidak perlu menyiapkan gas pemadam api, benar tidak? Orang yang bertemperamen buruk, harus sering mengingatkan dirinya sendiri untuk meredam temperamennya. Pada masa itu, Lin Zexu di kantornya tergantung tulisan kaligrafi “制怒 – zhi nu”, yang artinya mengendalikan kemarahan diri sendiri, begitu Lin Zexu marah, dia mendongak dan melihat tulisan “zhi nu”, dia bisa segera meredam amarahnya, melelahkan atau tidak? Amarah yang muncul, dipendam dalam hati, bisa mati tertekan. Master sudah dari dulu memberitahu kalian, jangan ada amarah, maka kamu pun tidak perlu mengendalikan kemarahan, memang apa yang perlu dibuat marah?

 

Senang tiada lagi suka dan benci”, jika setelah orang ini merasa senang, dia tidak lagi merasakan suka maupun benci, maka dia akan berbahagia. Jika kita tertimpa suatu masalah: “Aduh, saya ini sial sekali, ini akibat perbuatanku sendiri, bibit karma buruk yang ditanam, sekarang sudah berbuah, ya sudahlah, saya sendiri yang merugi, anggap saja menghabiskan uang menangkal bencana.” Apakah ada kebencian? Tidak ada. Saat hal baik datang, alangkah baiknya, Bodhisattva memberkati. Oleh karena itu, orang yang berbahagia, tidak akan merasa suka maupun benci, dia sudah tidak merasa marah, maupun merasa tidak senang.

 

Apabila kamu sering teringat akan “Aku”, di sini merujuk pada diri sendiri, berarti kamu telah kehilangan kendali, apa maksudnya? Karena dalam segala hal, kamu teringat akan “Aku”, maka kamu tidak akan bisa melakukan apapun dengan baik. Seseorang yang egois dan mengutamakan keuntungan sendiri, tidak akan memperoleh bantuan orang lain. Contoh sederhana, kamu ingin menjadi direktur, kamu lelah atau tidak? Jika kamu berusaha keras hanya demi diri sendiri, maka tidak akan ada orang yang memilih kamu, juga tidak ada orang yang membela dirimu, berarti kamu kehilangan kendali, mengerti? Kamu bagaikan sebuah pohon kecil di sana, tidak ada sandaran, dan mudah tumbang. Oleh karena itu, manusia hidup tidak boleh hanya demi diri sendiri.

 

Setelah seseorang sudah menjadi bersih secara spiritual, berarti saya sudah tidak ternodai. Setelah seseorang sudah bersih, dia tidak akan dikotori oleh debu. Contoh sederhana, orang yang sering mandi, apakah tubuhnya bersih? Orang yang tidak mandi selama seminggu, apakah tubuhnya bersih? Orang yang selama seminggu tidak mengikuti kelas Master, apakah pikirannya bersih? Coba kalian pikirkan, pikiran siapa yang lebih bersih: orang yang setiap hari mendengarkan kelas Master, pikirannya lebih bersih, atau orang yang mendengarkan kelas Master seminggu sekali? Coba kalian lihat murid-murid itu, mereka mendengarkan kelas Master sebulan sekali, apakah mereka bersih? Atau kalian yang setiap minggu sekali mengikuti kelas Master lebih bersih? Ini sama dengan, mereka “mandi” sebulan sekali, dan kalian “mandi” seminggu sekali, benar tidak? Kita harus memiliki kesadaran yang murni, setiap hari membuang seluruh pemikiran liar yang tidak baik sampai tuntas, maka orang ini akan menjadi bersih – suci.

 

Oleh karena itu, kita tidak boleh ternodai sedikit pun, kita tidak boleh memiliki kotoran sekecil apapun pada diri kita. Ketahuilah, hanya sedikit kotoran sekalipun, bisa mengacaukan pikiranmu, benar tidak? Hari ini ada orang yang datang menjahati kamu, lalu kamu tidak bisa menerimanya dan berpikiran buntu, maka selanjutnya kamu akan membalasnya, lalu hatimu menjadi gelisah dan tidak tenang. Ada sebagian orang di antara kalian saat memperkenalkan Dharma juga harus diperhatikan, tidak boleh lepas kendali, sekalipun demi Bodhisattva maupun demi kebaikan orang itu, kamu tetap tidak boleh bersikap galak padanya. Coba kalian renungkan, sekalipun Master mengkritik kalian para murid pengikut, juga harus ada lingkupnya.

 

Oleh karena itu, kita tidak boleh tidak bersih, tidak boleh ada noda kotoran, begitu ternodai, pikiran akan menjadi kacau dan sedih, kemudian begitu marah-marah, pikiran tidak akan bisa berpikiran benar, karena berpikiran buntu. Ada tidak? Bukankah ada sebagian orang yang seperti ini? Sudah sibuk seharian, sampai pada akhirnya, karena Master mengkritik dia, lalu dia merasa tidak senang, memangnya kamu melakukan jasa kebajikan ini demi siapa? Kamu demi Master, atau demi Guan Shi Yin Pu Sa, atau demi dirimu sendiri? Coba lihat, menjadi kacau dan tidak terkendali bukan? Jangan pernah begini, harus bersih. Saat masalah muncul, segera berpikir, apakah Bodhisattva bisa berbuat seperti ini? Tidak akan. Jika Bodhisattva menghadapi masalah seperti ini, akan bagaimana? Saya jamin Bodhisattva pasti berkata, tidak apa-apa, bersabar dan tetap tekun, benar tidak? Dirugikan orang lain, memangnya kenapa? Kamu terkenal sedikit juga bisa bagaimana? Kamu melakukannya, lalu bagaimana? Bukankah katanya kamu demi Master? Membabarkan Dharma memangnya masih perlu membuat batasan? Master sedang membantu meningkatkan kesadaran spiritual kalian. Kesadaran ini adalah suatu keadaan, saat kamu berada di tengah keadaan ini, misalnya, kamu sampai di Australia, kamu hidup selama belasan tahun, kamu tidak akan sembarangan meludah, ini namanya kesadaran spiritual.

 

Master sangat disiplin terhadap kalian, pikiran  tidak boleh berantakan, pikiran tidak boleh memutarbalikkan kebenaran, pikiran harus bersih tiada noda, maka kamu tidak akan memiliki kerisauan. Setelah kamu tidak merasakan kerisauan, kamu tidak akan ada lagi pikiran benar salah, maka kamu bisa mencapai tingkat kesadaran spiritual “chang le wo jing” – keabadian, kebahagiaan, diri sejati, kesucian. Pembahasan Master dengan kalian sama sekali tidak menyimpang dari topik, kita kembali ke awal lagi, kamu harus berbahagia, dirimu sendiri harus bersih, kamu baru bisa memiliki tingkat kesadaran spiritual ini; apabila kamu memiliki pemikiran buruk, kalau kamu tidak bersih, bagaimana mungkin kamu bisa tidak kacau-balau? Kamu memikirkan orang lain, kamu baru bisa bersih; kalau kamu tidak memikirkan orang lain, kamu akan menjadi sangat kotor. Seseorang yang hanya memikirkan dirinya sendiri, orang yang egois dan mementingkan keuntungannya sendiri, bukankah akan diremehkan oleh orang lain? Master sudah dari dulu memberitahu kalian, orang yang egois akan dipandang rendah oleh siapapun, oleh karena itu, kita harus benar-benar mencapai tingkat kesadaran “chang le wo jing — keabadian, kebahagiaan, diri sejati, kesucian” dari Buddha dan Bodhisattva – yakni tingkat kesadaran spiritual di mana kita senantiasa berbahagia, dan diri sendiri sangat bersih, di tengah Alam Manusia yang penuh hiruk-pikuk dan kekotoran duniawi, kita harus senantiasa menjaga kebahagiaan. Seorang praktisi Buddhis harus berbahagia, tidak boleh menunjukkan muka yang tidak senang, harus lebih ceria, tidak ada orang yang berhutang pada kalian, di dunia ini sudah penuh dengan gejolak kekotoran duniawi, apa yang dimaksud dengan “gejolak” di sini? Seperti air panas mendidih yang bisa menyeduh kamu, gelombang debu duniawi yang bisa menenggelamkan kamu. Debu kotoran, saat seekor kuda berlari lewat, debu-debunya bisa mengotori kamu. Dirimu sudah berada di tempat yang kotor, kalau kamu masih merasa tidak bahagia, bukankah kamu akan menjadi lebih menderita?

 

Kita harus senantiasa menjaga kebahagiaan diri sendiri, meskipun sangat sulit, akan tetapi, tetap harus berbahagia, bukan hanya berupa ucapan saja. Hari ini Master akan mengajari kalian, sering tersenyum bisa mengatasi banyak masalah, saat bertemu orang lain harus lebih banyak tersenyum. Coba lihat orang zaman sekarang, pada masa periode akhir Dharma ada berapa orang yang mau tersenyum? Jika Master sekarang sama seperti kalian, siapapun terlihat menyebalkan, apakah Master bisa tersenyum? Pada tubuh setiap orang ada halangan karma buruk, serta banyak arwah asing, apakah Master bisa tersenyum? Namun, harus mengeksplorasi dari kehidupan di Alam Manusia, belajar untuk melepaskan, dan harus bisa melepas, terhadap hal apapun, kita harus bisa melepaskannya, tidak boleh disimpan di hati. Apabila menyimpan semua permasalahan dalam hati, maka dia tidak akan bisa melepas, dengan melepaskan baru bisa dipindahkan, kalau diletakkan di atas, tidak akan bisa diambil. Contoh sederhana, ada banyak barang yang diletakkan di lantai atas Gedung Dong Fang Tai, jika kamu bahkan tidak bisa mengingat barang-barang apa saja yang diletakkan di sana, maka menurutmu, bagaimana mungkin kamu bisa memindahkannya pergi? Jika matamu sudah melihat benda ini, kamu bisa berkata untuk menyingkirkan atau membuang benda ini atau memberikannya kepada orang lain, dan sebagainya. Akan tetapi jika matamu tidak bisa melihat, bagaimana kamu membuangnya? Jadi jika kamu menyimpan hal-hal kotor dan tidak menyenangkan ini ke dalam pikiranmu, dan kamu tidak bisa melepaskannya, maka kamu tidak akan bisa membuangnya.

 

Master memberitahu kalian, kita harus menyadari sendiri dan memahami sendiri, kita harus memahami kehidupan. Apa yang dimaksud dengan menyadari sendiri? Berarti kamu harus merasakannya sendiri, kamu baru bisa tersadarkan, saya sudah pernah melakukan hal ini. Kita harus memahami hidup: Oh, ternyata ayah ibu saya seumur hidupnya juga hanya begini, diri kita sendiri juga sedang menapaki jalan mereka. Oleh karena itu, saya akan merasakan sendiri mengapa saya bisa begini. Karena kita tidak mendapatkan apapun, karena kita datang ke dunia ini tanpa membawa apapun, saat meninggal dunia juga tidak membawa apapun, kita tidak mendapatkan apapun. Oleh sebab itu, tiada yang kita dapatkan dan tiada keterikatan. Apa yang bisa didapatkan? Mengapa para biksu dan biksuni tidak menetap di satu kuil? Justru untuk membina mereka bahwa tiada yang didapatkan dan tiada keterikatan. Semuanya adalah kosong, hanya membawa satu tas pergi berkelana, sampai di kuil mana pun, mereka bisa menginap, dan tinggal di sana, ini untuk melatih mereka agar bisa menghilangkan keterikatan terhadap keluarga, tidak ada rumah.

 

Kita datang ke Alam Manusia ini memang tidak memiliki rumah. Kalian punya rumah di mana? Kalian dulu rumahnya di Tiongkok bukan? Ada orang yang juga rumahnya di Taiwan? Mengapa kalian sekarang datang ke Australia? Tahukah kalian kalau beberapa tahun kemudian tiba-tiba terjadi suatu bencana, semua orang bermigrasi besar-besaran, maka rumahmu di Australia juga hilang lagi, bencana kebakaran hutan kali ini di Australia kembali melalap habis rumah puluhan ribu warga. Pikiran bebas tidak terikat, jangan biarkan pikiran kita tinggal di dalamnya, kamu datang ke dunia ini satu kali, kamu tidak mendapatkan apapun, lalu mengapa masih membiarkan pikiran terikat di dalamnya? Tiada yang didapatkan, tiada keterikatan.