Lenyapnya Nidana (Sebab-Musabab), Perolehan dan Kehilangan Menyesuaikan Jodoh, Berlapang Hati dan Terbuka, Merangkul Semua Makhluk (Bagian 1) 因缘俱灭 得失从缘 心怀坦荡 广纳众生 (上)

Lenyapnya Nidana (Sebab-Musabab), Perolehan dan Kehilangan Menyesuaikan Jodoh, Berlapang Hati dan Terbuka, Merangkul Semua Makhluk (Bagian 1)

Seminar Dharma Paris - Prancis, 13 September 2015

Kebaikan hati dapat menguraikan perselisihan. Orang yang welas asih dapat menyingkirkan kerisauan. Orang yang sabar dapat menguraikan hubungan buruk. Orang yang belajar Buddha Dharma dapat melampaui enam alam reinkarnasi. Terima kasih kepada Guan Shi Yin Yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang. Terima kasih kepada Naga Langit Pelindung Dharma. Terima kasih kepada para biksu, tamu undangan, serta para teman se-Dharma dan relawan dari seluruh dunia, terima kasih semuanya.

 

Prancis adalah sebuah negara yang penuh dengan budaya dan seni, dan selalu menjadi salah satu pusat kebudayaan di Eropa bahkan di seluruh dunia. Kebudayaan merupakan landasan batin bagi seorang praktisi Buddhis. Budaya tradisional mengandung kesadaran welas asih yang kuat. Di masa sekarang, ketika bencana alam dan bencana ulah manusia terus terjadi, bagaimana manusia dapat melindungi dirinya sendiri? Oleh karena itu, diperlukan adanya keyakinan. Kepribadian orang yang memiliki keyakinan adalah kepribadian yang meningkat, yang mampu melampaui kerisauan. Saat ini, jumlah penderita depresi di seluruh dunia telah mencapai 350 juta jiwa, dan setiap tahun terdapat 40 juta kasus bunuh diri. Pada bulan April tahun ini, sebuah pesawat di Jerman mengalami kecelakaan; kopilotnya yang berusia 28 tahun menderita depresi berat dan dengan sengaja menabrakkan pesawat tersebut. Tahun ini, serangan teroris terhadap sebuah majalah komik di Paris juga menunjukkan bahwa manusia hidup di dalam dunia yang penuh ketakutan, depresi, dan kerisauan. Kesadaran yang dipenuhi kebencian dapat membuat manusia kehilangan sifat kemanusiaannya. Belajar Buddha Dharma adalah untuk membantu kita menemukan kembali sifat kemanusiaan yang telah hilang, menjadikan kita lebih penuh kasih dan lebih berwelas asih, serta membantu dunia ini menemukan kembali cinta kasih yang penuh welas asih yang telah lama hilang.

 

Membina pikiran adalah suatu bentuk pencerahan. Penderitaan batin jauh lebih banyak daripada penderitaan fisik kita. Rasa bersalah dari hati nurani, kenangan yang menyakitkan, serta kenyataan hidup yang kejam membuat kita mulai menyadari bahwa kehidupan kita ini dimulai dari tangisan saat lahir, membawa kerisauan sepanjang hidup, dan pada akhirnya meninggalkan dunia dengan penuh ketidakberdayaan. Segala sesuatu tidak bisa dibawa saat lahir dan mati pun tidak membawa apa-apa pergi. Hal ini membuat kita praktisi Buddhis memahami bahwa dunia ini tidak kekal. Apa yang dimiliki hari ini bisa hilang esok hari. Hanya dengan menyesuaikan jodoh, barulah dapat benar-benar mencapai pembebasan.

 

Sepanjang hidup, hal yang paling sulit kita lepaskan adalah anak-anak kita. Sebenarnya, hubungan antara kita dan anak-anak juga adalah jodoh, termasuk jodoh baik maupun jodoh buruk. Ketenaran dan kekayaan yang dikejar manusia seumur hidup sebenarnya hanyalah bayangan dari kesadaran diri. Saat terbangun dari mimpi, seolah-olah seluruh dunia adalah milikmu; namun ketika tertidur setiap malam, siapakah kamu? Ketika kamu meninggalkan dunia ini, pada dasarnya manusia berada di antara setengah sadar dan setengah bermimpi. Keuntungan dan ketenaran yang kita peroleh di masa muda, sekarang berada di mana? Semua yang berlalu telah menjadi masa lalu. Apa yang kamu miliki hari ini hanyalah ilusi yang bersifat sementara, sedangkan masa depan belum kita dapatkan. Karena itu, kita hidup di dunia ilusi tidak nyata. Jodoh dalam keluarga pun hanyalah pertemuan sementara; setelah masing-masing melunasi hutang karma, akhirnya akan berpisah dan berjalan di jalannya masing-masing.

 

Kehidupan manusia bagaikan sebuah mimpi. Dalam mimpi, tidak peduli seberapa bahagia atau gembira, ataupun seberapa takut, pada akhirnya tetap akan ada saat di mana semuanya berakhir, baik miskin maupun kaya, semuanya akan berakhir. Kebahagiaan sampai puncaknya pun pada akhirnya tidak memiliki apa-apa. Kerisauan hingga akhirnya juga adalah kosong. Seperti embun di atas rumput atau embun beku di atas genting, semuanya tidak bertahan lama. Segala fenomena di dunia ini dikendalikan oleh ketidakkekalan, karena segalanya tidak akan berjalan sepenuhnya sesuai dengan kehendakmu. Di dunia ini sebenarnya tidak ada yang benar-benar disebut kesepian atau sendirian. Banyak orang merasakan sakit hati, kesedihan, perpisahan dan pertemuan, perolehan dan kehilangan, semuanya bagaikan rangkaian ilusi besar dan kecil, seakan ada namun juga tidak ada, seakan nyata namun juga palsu. Di dalam kereta api kehidupan ini, tidak ada seorang pun yang akan menemanimu sampai titik akhir. Orang-orang yang naik turun pada kereta api itu adalah jodohmu. Menghormati orang lain berarti menghormati diri sendiri. Menghargai jodoh berarti memiliki hubungan baik dengan sesama, dan akan mendapatkan jodoh penolong.

Kita sebagai manusia sering merasa cemas terhadap banyak hal di masa depan yang belum terjadi, namun justru tidak menghargai kebahagiaan yang saat ini kita miliki. Kita hidup di dunia ini setiap hari menyesali hal-hal yang pernah kita lakukan, tetapi tidak berusaha mencari cara untuk menghindarinya, agar di kemudian hari kita tidak lagi melakukan hal-hal yang akan disesali.

 

Ada seorang praktisi Buddhis bernama Yu Tao. Ia bekerja sebagai manajer departemen di sebuah perusahaan. Karena bakat dan kemampuannya yang menonjol, dewan direksi baru saja berencana memberinya tanggung jawab yang lebih besar dan memindahkannya ke posisi penting. Namun, seseorang menggunakan namanya untuk melaporkan ketua perusahaan atas tuduhan korupsi. Akibatnya, ia dimaki dan disalahkan oleh seluruh perusahaan. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan meninggalkan tempat yang penuh dengan konflik itu, lalu pergi ke berbagai belahan dunia untuk membabarkan Dharma. Setelah ia kembali, pihak berwenang memberi tahu bahwa penyelidikan telah selesai, dan terbukti bahwa pelakunya bukan dirinya. Nama baiknya dipulihkan, dan perusahaan mengundangnya kembali untuk bekerja. Namun saat itu, ia sudah menerima tawaran dari perusahaan lain. Rekan kerjanya bertanya: “Kenapa kamu mengundurkan diri? Sebenarnya kamu bisa membela diri. Kamu terlalu marah.”Ia menjawab: “Kalau saya tidak didesak keluar, bagaimana saya bisa punya waktu untuk keluar membabarkan Dharma? Berkat  perlindungan Bodhisattva, saya malah menemukan perusahaan yang lebih baik.” Rekan itu berkata: “Saya beri tahu siapa yang telah memfitnahmu.” Ia menjawab: “Jangan beri tahu saya.” “Kenapa?”“Karena kalau saya tahu siapa yang memfitnah saya, saya akan menimbulkan kebencian. Tetapi kalau saya tidak tahu, saya tidak akan menyimpan hati yang penuh kebencian.” Semakin sedikit kebencian yang disimpan di dalam hati seseorang, semakin banyak ruang untuk berwelas asih dan bahagia. Dalam kehidupan ini, kita sering menghadapi banyak kerisauan dan bahkan difitnah orang lain. Namun kita tidak boleh membiarkan diri kita dipenuhi kebencian. Kita harus belajar melepaskan rasa iri, melepaskan kerisauan, dan melepaskan dendam. Dengan demikian, hati kita baru dapat dipenuhi kebahagiaan. Tanpa melalui angin dan hujan, bagaimana kita bisa melihat pelangi?

 

Praktisi Buddhis tidak memiliki alasan untuk tidak berbahagia, karena kita adalah orang yang memahami hukum sebab dan akibat. Dalam budaya tradisional Tiongkok diajarkan bahwa ketika berada dalam keadaan sulit, gunakan cara melepaskan dan melapangkan hati; ketika berada dalam keadaan baik, gunakan cara menahan diri dan menjaga kesederhanaan. Saat berada dalam kesulitan, belajarlah untuk membebaskan hati sendiri. Saat berada dalam keadaan yang baik, harus mengerti untuk berpuas diri dan tahu membatasi diri. Banyak berwelas asih, banyak kebahagiaan; banyak kebencian, banyak kerisauan. Orang yang dipenuhi kebencian akan melahirkan kebodohan; dan kebodohan akan menghalangi munculnya kebijaksanaan. Kita harus hidup dengan menggunakan kebijaksanaan, harus menyesuaikan jodoh. Ajaran Buddha Dharma mengajarkan toleransi dan welas asih, orang zaman sekarang mengatakan tentang memahami. Gunakan hati yang seimbang untuk memaafkan orang lain. Memaafkan orang lain sesungguhnya adalah memaafkan diri sendiri. Memberi ruang kepada orang lain berarti tidak memutuskan jalan bagi diri sendiri.

 

Di Anhui ada sebuah tempat yang bernama “Liu Chi Xiang–Gang Enam Kaki”. Pada masa pemerintahan Kaisar Kangxi dari Dinasti Qing, keluarga Zhang Ying, yang menjabat sebagai Menteri Ritus (jika disamakan dengan jabatan sekarang adalah Menteri Pendidikan). Keluarga Zhang Ying berselisih dengan tetangga karena masalah batas tanah rumah. Keluarganya mengandalkan kedudukan Zhang Ying sebagai pejabat tinggi, lalu menulis surat kepadanya dengan harapan ia menggunakan pengaruhnya agar mendapat perlindungan dari pejabat setempat. Setelah membaca surat itu, Zhang Ying hanya tersenyum tenang lalu membalas dengan sebuah syair:“Mengirim surat dari ribuan mil hanya demi tembok, mengalah tiga kaki lalu apa salahnya? Tembok Besar ribuan mil masih berdiri hingga kini, tetapi Kaisar Qin Shi Huang yang dahulu telah tiada.” Setelah menerima surat balasan itu, keluarganya merasa sangat malu dan secara sukarela mundur tiga kaki dari batas tanah mereka. Tetangga mereka juga sangat tersentuh, lalu ikut mundur tiga kaki dan membangun halaman rumahnya. Akhirnya, di antara kedua rumah itu terbentuk sebuah gang selebar enam kaki, yang kemudian dinamakan “Liu Chi Xiang–Gang Enam Kaki”. Sikap saling menghormati dan saling mengalah dari kedua keluarga tersebut pun diwariskan dari generasi ke generasi sebagai sebuah kisah teladan yang indah.

Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, memiliki dan kehilangan adalah hal yang wajar. Jika ada kehilangan, pasti ada perolehan; jika ada perolehan, pasti ada kehilangan. Begitu seseorang memperoleh sesuatu, ia juga harus membayar harga berupa kehilangan sesuatu yang lain. Walaupun kehilangan adalah sebuah penderitaan, tetapi juga merupakan sebuah kesadaran, karena setelah kehilangan barulah kita memahami bahwa memperoleh sesuatu itu tidak mudah. Siapa pun, saat mendapatkan sesuatu, pada saat yang sama juga sedang kehilangan lebih banyak hal lainnya. Kita harus menjaga mentalitas yang seimbang, melepaskan kemelekatan terhadap perolehan dan kehilangan, jauh dari kerisauan hidup, barulah kita dapat hidup dalam sifat kebuddhaan. Perolehan dan kehilangan bagaikan sepasang saudara kembar. Ketika memperoleh sesuatu, kekecewaan pun bisa ikut datang. Ketika seseorang merasa bahagia, sering kali penderitaan juga segera menyusul. Saat kita memperoleh masa muda, kita kehilangan masa kecil yang bebas tanpa beban. Saat kita memperoleh kehidupan, pada saat yang sama setiap detik kita juga sedang kehilangan sebagian dari hidup kita. Saat kita masuk ke dalam masyarakat dan bersosialisasi. kita mungkin kehilangan kepolosan dan ketulusan yang dahulu kita miliki. Saat kita serakah terhadap harta, nafsu, ketenaran, dan kekayaan, kita kehilangan integritas, moralitas, dan ketenangan hati sebagai manusia.

 

Jika dalam kehidupan seseorang semua yang diperoleh dianggap sebagai angka positif, dan semua yang hilang dianggap sebagai angka negatif, lalu angka positif dan negatif itu dijumlahkan, karena segala sesuatu yang diperoleh pada akhirnya akan hilang, maka hasil akhirnya adalah nol. Memperoleh berarti juga akan kehilangan, inilah prinsip keseimbangan dari segala sesuatu di dunia ini. Jangan terlalu banyak menuntut, maka penderitaan karena kehilangan juga akan berkurang. Saat kamu ingin memperoleh sesuatu, harus ingat penderitaan dari kehilangannya.

Ada seorang pemuda naik kapal untuk pergi ke daerah lain. Tiba-tiba, angin besar bertiup di tengah laut, dan kapal itu perlahan-lahan tenggelam diterjang ombak. Untungnya, ia terseret oleh ombak hingga sampai di sebuah pulau terpencil. Ia merasa sangat kesepian dan setiap hari berharap ada kapal yang datang menyelamatkannya. Beberapa hari berlalu, tetapi tidak ada kapal yang datang. Pemuda itu sadar bahwa jika ia terus menunggu tanpa melakukan apa pun, itu sama saja dengan mengakhiri hidupnya sendiri. Jadi, ia mulai membangun sebuah tempat tinggal sederhana di pulau itu. Ia membuat beberapa perabot dari kayu dan menjalani hari-harinya di sana, sambil tetap berharap suatu saat ada kapal yang datang menyelamatkannya. Suatu hari, ketika ia pergi keluar mencari makanan, ia lupa memadamkan sumber api. Akibatnya, terjadi kebakaran besar yang melalap habis rumah satu-satunya yang telah ia bangun dengan susah payah. Ketika kembali dan melihat hanya tersisa tanah hangus, hatinya dipenuhi kesedihan, kemarahan, ia sangat putus asa. Ia merasa sudah tidak sanggup lagi untuk terus hidup. Namun keesokan harinya, sebuah kapal datang ke pulau itu dan menyelamatkannya. Ia bertanya kepada kapten kapal: “Sudah lama ini tidak ada yang menemukan saya. Bagaimana kalian bisa tahu saya ada di sini?” Kapten kapal menjawab: “Kami melihat asap dan api yang membumbung dari pulau ini, jadi kami mengarahkan kapal ke arah sana.” Pemuda itu sangat terkejut. Ia tidak pernah menyangka bahwa kebakaran besar ini justru menjadi sumber yang menyelamatkan nyawanya.

 

Kehidupan ini memang dijalani di tengah kehilangan dan perolehan; hanya dengan kehilangan, seseorang dapat memperoleh. Kadang-kadang saat Bodhisattva sedang menolongmu, kamu merasa tidak mengerti, bahkan merasakan penderitaan, tetapi pada akhirnya hasilnya justru adalah memperoleh keselamatan dan pertolongan. Jika kamu tidak memahami kesedihan, maka kamu juga tidak akan memahami kebahagiaan yang sejati. Ketika kamu bisa melihat dan menyadari kesedihan, itulah awal dari titik balik dalam kehidupanmu.”

 

Orang yang ingin menjadi Buddha dan memperoleh buah Kebuddhaan, terlebih dahulu harus menjalin jalinan jodoh baik, karena hanya dengan kebaikan baru bisa memperoleh jodoh. Karena jodoh Kebuddhaan diperoleh melalui perbuatan baik, dan buah Kebuddhaan diperoleh melalui jasa kebajikan. Belajarlah untuk menjalani hidup dengan hati yang tulus dan sejati, yaitu hakikat asli dalam sifat kemanusiaan. Dalam ajaran Buddha, ini disebut sifat dasar Tathata. Kehidupan seorang praktisi Buddhis tidak seharusnya dibangun di atas pujian maupun celaan dari orang lain. Orang dirugikan sedikit bukanlah kerugian yang sesungguhnya; kehilangan kehidupan itu barulah kerugian yang besar. Menanggung sedikit penderitaan bukanlah penderitaan yang sesungguhnya; masuk ke alam neraka itulah penderitaan yang nyata. Dalam kehidupan yang singkat ini, dapat mendengar dan mengenal ajaran Buddha di periode akhir Dharma adalah orang yang memiliki keberuntungan besar dan kebijaksanaan yang agung.

 

Sebelum Master datang ke Prancis, saat menjawab pertanyaan di sekretariat pada hari Senin, ada seorang umat yang baru mulai belajar Buddha Dharma, putranya yang berusia 18 tahun telah membunuh kakak perempuannya sendiri, dan sekarang putranya yang berusia 18 tahun itu juga menghadapi hukuman mati. Ia sangat menderita dan putus asa, lalu menulis surat kepada Master untuk bertanya berapa banyak paritta yang harus dilafalkan agar hukuman putranya dapat diringankan. Jika hubungan buruk tidak diuraikan, pada akhirnya akan menghasilkan akibat buruk. Semakin awal belajar Buddha Dharma, semakin awal pula dapat menguraikan hubungan buruk. Memahami hukum sebab-akibat, barulah seseorang dapat melepaskan diri dari belenggu sebab-akibat. Terkadang, kedamaian dan keselamatan setiap hari adalah hasil dari permohonanmu sendiri. Hari ini kita masih bisa duduk di sini, masih bisa hidup dengan baik, maka kita harus berpuas diri dan selalu bahagia. Jika kita tidak serakah dan tidak mengejar, maka kita dapat menciptakan keluarga yang damai dan hati yang damai. Jangan terus mengejar, jangan mengejar lagi, itulah dasar kita sebagai praktisi Buddhis.

 

Master sering memberi tahu kepada semua orang bahwa nasib berada di tangan diri sendiri. Jika menghadapi lingkungan yang tidak dapat diubah, maka kita harus mengubah diri sendiri agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut. Di dalam perubahan itulah kita akan memperoleh kebahagiaan. Ada seorang guru besar yang memiliki kekuatan luar biasa. Sejak kecil ia bercita-cita melatih kemampuan untuk memindahkan gunung. Puluhan tahun berlalu, konon ia akhirnya berhasil menguasai ilmu memindahkan gunung. Banyak orang datang kepadanya dan berkata: “Bisakah Anda memperlihatkan kepada kami bagaimana Anda memindahkan gunung ini?” Guru besar itu menjawab: “Baiklah, saya akan memindahkan gunung ini untuk kalian lihat.”Lalu sang guru duduk beberapa saat di sisi berlawanan dari sebuah gunung. Satu jam berlalu, tetapi gunung itu tidak bergerak sama sekali. Kemudian sang guru bangkit dan berjalan ke sisi lain gunung tersebut. Banyak orang menertawakannya, tetapi ada juga beberapa orang yang penasaran dan mengikuti langkahnya. Guru besar itu menoleh dan berkata kepada mereka: “Di dunia ini sebenarnya tidak ada ilmu memindahkan gunung. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah—jika gunung tidak datang kepadaku, maka Aku yang pergi menuju gunung.” Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa apapun yang kita lakukan di dunia ini, kita harus belajar mengubah cara berpikir dan sudut pandang. Jika kita tidak dapat mengubah hal ini,  maka ubahlah diri sendiri. Ingin mengubah dunia itu adalah tidak mungkin. Hanya dengan mengubah diri sendirilah kita dapat mengubah dunia ini.“Jika gunung tidak datang kepadaku, maka Aku yang pergi menuju gunung” mencerminkan sebuah kebijaksanaan dalam cara manusia bertahan dan menjalani kehidupan.

 

Dalam kehidupan ini, kapan pun kita harus belajar mengendalikan diri. Praktisi Buddhis harus memiliki martabat, agar orang lain menghormatimu, karena kamu memiliki martabat, dalam membina pikiran dan menekuni Dharma akan memperoleh martabat Buddha. Hal yang paling sulit bagi manusia adalah mengendalikan dan menahan dirinya sendiri. Sebagai contoh, saat kalian makan di rumah, biasanya kalian tidak akan makan sampai terlalu kenyang. Tetapi jika ada orang yang mentraktir kalian makan prasmanan, kalian pasti akan makan sampai sangat kenyang baru pulang, inilah mentalitas. Padahal sudah makan sangat kenyang, tetapi ketika berjalan ke pintu keluar masih melihat ada buah dan kue, lalu mengambil lagi sepotong, lalu tambah lagi satu porsi. Manusia sangat sulit menahan nafsu keinginannya sendiri. Kita harus memahami bahwa membina diri harus: tidak mengatakan yang tidak seharusnya dikatakan, tidak mendengar yang tidak seharusnya didengar, tidak melakukan yang tidak seharusnya dilakukan. Yang bukan milik kamu jangan berusaha memilikinya, yang tidak seharusnya kamu lihat jangan dilihat. Membina diri dengan teratur berarti harus mengendalikan diri sendiri — yaitu memelihara hati dan pikiran. Dalam Kitab Pengobatan Kaisar–Huang Di Nei Jing dikatakan bahwa memelihara hati dan pikiran berarti mengendalikan dan menyelaraskan mentalitas diri sendiri. Hari ini saya tidak bahagia, maka saya berusaha membuat diri lebih bahagia. Hari ini saya sedih, maka saya berusaha agar diri tidak terlalu larut dalam kesedihan. Setiap orang sebenarnya bisa menemukan banyak alasan untuk membuat dirinya sendiri risau dan marah. Ada seorang anak perempuan kecil berkata, “Bu, hari ini Ibu cantik sekali.” Ibunya bertanya, “Nak, kenapa?” Anak itu menjawab, “Karena hari ini Ibu seharian tidak marah.” Ternyata marah bisa membuat diri sendiri terlihat jelek. Untuk memperbaiki kebiasaan marah itu sangatlah mudah.